Ditemukan 34511 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
A. Rachmad Djati Winarno ... [et al.]
JEI Vol.2, Ed.1
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 1998
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Perubahan iklim & perilaku kesehatan masyarakat : kasus demam berdarah dengue (DBD) di kota semarang
Augustina Situmorang, Widiyatun, Sri Sunarti Purwaningsih, Yuly Astuti, Sari, Seftiani, Zainal Fatoni; editor: Budi Haryanto, Didik Sri Hastopo
551.5 SIT p
Jakarta : LIPI, 2013
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widya Ratna Wulan' Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Evi Martha, Hadi Pratomo, Tita Srihayati, Maya Raiyan
Abstrak:
Kehamilan tidak diinginkan dan pelecehan seksual pada remaja tunagrahita akibatperilaku seksual berisiko dilaporkan masih terjadi di Kabupaten Semarang sebesar55,6%. Sekitar 25% penduduk Kabupaten Semarang adalah remaja usia 10-24 tahundengan jenis ketunaan terbesar adalah tunagrahita sehingga mempengaruhi risikotingginya perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita.
Tujuan penelitian ini adalahmengetahui determinan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita di SekolahLuar Biasa Kabupaten Semarang Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitiankuantitatif dengan desain cross sectiona lyang dilakukan di Kabupaten Semarang. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner pada 82 siswa-siswiremaja tunagrahita di 5 sekolah luar biasa tunagrahita. Data dianalisis menggunakan ujiregresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menemukan43,9% siswa-siswi memiliki perilaku seksual berisiko tinggi dengan nilai median 80,0(skala 100). Variabel pengetahuan (p=0,001), peran guru (p=0,001), dan self-efficacy(p=0,017) dengan p-value <0,05 dinyatakan berhubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Peran guru menjadi variabel dominan yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Perilaku seksual berisiko seperti berciuman bibir sebesar 31,7% serta memasukkan alat kelamin padapasangan masih ditemukan dalam penelitian ini. Peran aktif guru, orangtua, dan instansiterkait dapat meningkatkan pengetahuan dan self-efficay sehingga meminimalisir dampak perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita.
Kata Kunci: Perilaku Seksual Berisiko, Remaja, Tunagrahita
The sexual behavior that leads to unwanted pregnancy and sexual abuse amongintellectual disability adolescents occured in Semarang Regency of 55.6% due to lack ofsexual health knowledge and information. Approximately 25% of Semarang Regency population is adolescents aged 10-24 years with the largest intellectual disability so thataffect the high risk sexual behavior among intellectual disability adolescents.
This study aimed to determine the determinant of sexual behavior among intellectual disability adolescents in Special School Semarang Regency 2018. This study was a quantitative study with cross sectional design conducted in Semarang regency. Data were collectedby interview using questionnaires on 82 intellectual disability adolescent students in 5special schools. Data were analyzed using simple logistic regression and multiplelogistic regression test.
The results found 43.9% of students who had high-risk sexualbehavior with a median value of 80.0 (scale 100). The analysis result proved thatknowledge (p = 0,001), teacher role (p = 0,001), and self-efficacy (p = 0,017) yieldingp-value <0,05 were significant relation with sexual behavior among intellectual disability adolescents. The teachers role was the dominant factor that influences sexualbehavior among intellectual disability adolescents. Sexual behavior such as kissing lipsby 31.7% and inserting genitals in couples are still found in this study results. The teachers and parents role, as well as the relevant agencies policies improve knowledge and self-efficacy among intellectual disability adolescents could prevent high-risksexual behavior among intellectual disability adolescents.
Keywords: Sexual Behavior, Adolescent, Intellectual Disability
Read More
Tujuan penelitian ini adalahmengetahui determinan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita di SekolahLuar Biasa Kabupaten Semarang Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitiankuantitatif dengan desain cross sectiona lyang dilakukan di Kabupaten Semarang. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner pada 82 siswa-siswiremaja tunagrahita di 5 sekolah luar biasa tunagrahita. Data dianalisis menggunakan ujiregresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menemukan43,9% siswa-siswi memiliki perilaku seksual berisiko tinggi dengan nilai median 80,0(skala 100). Variabel pengetahuan (p=0,001), peran guru (p=0,001), dan self-efficacy(p=0,017) dengan p-value <0,05 dinyatakan berhubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Peran guru menjadi variabel dominan yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Perilaku seksual berisiko seperti berciuman bibir sebesar 31,7% serta memasukkan alat kelamin padapasangan masih ditemukan dalam penelitian ini. Peran aktif guru, orangtua, dan instansiterkait dapat meningkatkan pengetahuan dan self-efficay sehingga meminimalisir dampak perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita.
Kata Kunci: Perilaku Seksual Berisiko, Remaja, Tunagrahita
The sexual behavior that leads to unwanted pregnancy and sexual abuse amongintellectual disability adolescents occured in Semarang Regency of 55.6% due to lack ofsexual health knowledge and information. Approximately 25% of Semarang Regency population is adolescents aged 10-24 years with the largest intellectual disability so thataffect the high risk sexual behavior among intellectual disability adolescents.
This study aimed to determine the determinant of sexual behavior among intellectual disability adolescents in Special School Semarang Regency 2018. This study was a quantitative study with cross sectional design conducted in Semarang regency. Data were collectedby interview using questionnaires on 82 intellectual disability adolescent students in 5special schools. Data were analyzed using simple logistic regression and multiplelogistic regression test.
The results found 43.9% of students who had high-risk sexualbehavior with a median value of 80.0 (scale 100). The analysis result proved thatknowledge (p = 0,001), teacher role (p = 0,001), and self-efficacy (p = 0,017) yieldingp-value <0,05 were significant relation with sexual behavior among intellectual disability adolescents. The teachers role was the dominant factor that influences sexualbehavior among intellectual disability adolescents. Sexual behavior such as kissing lipsby 31.7% and inserting genitals in couples are still found in this study results. The teachers and parents role, as well as the relevant agencies policies improve knowledge and self-efficacy among intellectual disability adolescents could prevent high-risksexual behavior among intellectual disability adolescents.
Keywords: Sexual Behavior, Adolescent, Intellectual Disability
T-5348
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Christania Citralia Julia Paruntu; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih, Lusi Nurbaiti Badri, Miftahur Rohim
Abstrak:
Perilaku membuang sampah sisa makanan pada rumah tangga terjadi di berbagai tahapan mulai dari belanja bahan pangan, penyimpanan bahan pangan dan penyediaan makanan sampai di konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam perilaku membuang sampah sisa makanan pada skala rumah tangga studi kasus di Kota Semarang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Metode pengumpulan data penelitian menggunakan metode kelompok diskusi terarah yang terdiri dari 8 kelompok dengan kategori sebagai berikut kelompok diskusi terarah berdasarkan usia, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga dan tingkat pendidikan. Perilaku membuang sampah sisa makanan di tingkat rumah tangga seringkali terjadi pada tahapan belanja yakni belum sempat dikonsumsi tetapi sudah busuk akibat dari pola belanja bahan pangan rumah tangga yang tidak terencana. Berdasarkan hasil diskusi kelompok terarah rumah tangga masih kurang memahami cara membedakan tanggal kedaluwarsa dan tanggal sebelum makanan layak dikonsumsi. Berdasarkan hasil diskusi kelompok terarah rumah tangga masih kurang termotivasi untuk menjaga makanan supaya tidak mudah busuk dan akhirnya menjadi sampah. Dari segi norma, semua rumah tangga memiliki kebiasaan menyediakan makanan berlebih sehingga makanan tersebut mudah menjadi busuk dan akhirnya menjadi sampah. Kesimpulan, rumah tangga masih banyak berperilaku membuang sampah sisa makanan karena belanja berlebih dan menyediakan makanan dalam jumlah berlebih sehingga makanan tersebut busuk dan menjadi sampah. Saran, pentingnya pendidikan terhadap rumah tangga dalam mengelola makanan supaya tidak mudah busuk.
The behavior of wasting food in households occurs at various stages, from shopping food, storing food and preparing food to consumption. This study aims to dig deeper into the behavior of wasting food in households at a case study household scale in Semarang. This type of research is qualitative. The research data collection method used focus group discussions consisting of 8 groups with the following categories focus group discussions based on age, gender, number of family members and level of education. The behavior of wasting food in households often occurs at the shopping stage, it has not yet been consumed but has spoiled as a result of unplanned household food shopping patterns. Based on the results of focus group discussions, households still do not understand how to distinguish the ?expired date? and the ?date before food is fit for consumption?. Based on the results of focus group discussions, households are still not motivated enough to keep food from spoiling easily and eventually turning into trash. In terms of norms, all households have a habit of providing excess food so that the food spoils easily and eventually becomes trash. In conclusion, many households still have the behavior of disposing of leftover food waste due to excessive spending and providing excess amounts of food so that the food spoils and becomes trash. Suggestion, the importance of education for households in managing food so it does not spoil easily
Read More
The behavior of wasting food in households occurs at various stages, from shopping food, storing food and preparing food to consumption. This study aims to dig deeper into the behavior of wasting food in households at a case study household scale in Semarang. This type of research is qualitative. The research data collection method used focus group discussions consisting of 8 groups with the following categories focus group discussions based on age, gender, number of family members and level of education. The behavior of wasting food in households often occurs at the shopping stage, it has not yet been consumed but has spoiled as a result of unplanned household food shopping patterns. Based on the results of focus group discussions, households still do not understand how to distinguish the ?expired date? and the ?date before food is fit for consumption?. Based on the results of focus group discussions, households are still not motivated enough to keep food from spoiling easily and eventually turning into trash. In terms of norms, all households have a habit of providing excess food so that the food spoils easily and eventually becomes trash. In conclusion, many households still have the behavior of disposing of leftover food waste due to excessive spending and providing excess amounts of food so that the food spoils and becomes trash. Suggestion, the importance of education for households in managing food so it does not spoil easily
T-6538
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sukma Citra Puspitasari
JKR Vol.3, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aryani Pujiyanti ... [et al.]
MPPK Vol.26, No.2
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maj. Obstetri dan Ginekologi Indonesia (MOGI), Vol.20, No.4, Okt. 1996, hal: 213-218. ( ket. ada di bendel maj. campuran No.20 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Masrulloh; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Sandi Iljanto, Puput Oktamianti, Radinal Husein, Estu Lestari
Abstrak:
Dalam rangka memenuhi kebutuhan pengembangan kompetensi dan profesi tenaga kesehatan, pada Tahun 2015 Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang untuk pertama kalinya menyelenggarakan Program Magister Sains Terapan Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kebutuhan biaya penyelenggaraan pendidikan pada Program Magister Sains Terapan Kesehatan di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang Tahun 2016 dengan melakukan perhitungan biaya satuan penyelenggaraan pendidikan. Biaya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah biaya yang terjadi dalam satu siklus penyelenggaraan pendidikan yang meliputi aktivitas registrasi, perkuliahan, dan kelulusan. Penelitian ini dilakukan di Poltekkes Kemenkes Semarang pada Bulan Januari s.d. Juni 2017 dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan telaah berbagai dokumen dan observasi langsung terhadap seluruh aktivitas penyelenggaraan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya langsung penyelenggaraan pendidikan yang meliputi biaya investasi, operasional dan pemeliharaan sebesar Rp.4.370.037.382 atau sekitar 79,07% dari biaya total. Sedangkan biaya tidak langsung yang meliputi biaya dukungan layanan manajemen dan tugas teknis lainnya sebesar Rp.1.156.760.496 atau sekitar 20,93% dari biaya total. Biaya satuan aktual penyelenggaraan pendidikan per mahasiswa per semester sebesar Rp.13.479.995 dengan 20,93% nya merupakan biaya tidak langsung. Sedangkan biaya satuan normatif sebesar Rp.10.179.260 dengan 19,59% nya merupakan biaya tidak langsung. Kata Kunci: analisis biaya pendidikan, biaya satuan, magister sains terapan kesehatan, politeknik kesehatan In order to meet the development requirements of competence and professional health workers, in 2015 Polytechnics of Health Semarang for the first time held a Master of Science in Applied Health Program. This study aimed to obtain information on the cost of providing education requirements Master of Science in Applied Health Program in the Health Polytechnic Semarang 2016 by calculating the unit cost of all activities of education. Costs were analyzed in this study are the costs incurred in providing education cycle which includes the registration activity, lectures and graduation. This research was conducted by the Ministry of Health Polytechnic Semarang from January till June 2017 with the quantitative descriptive approach. Data were collected by the study of various documents and direct observation of the whole activity of education. The results showed that the direct costs of providing education that includes the cost of investment, operation, and maintenance of Rp.4.370.037.382 or approximately 79.07% of the total cost. While indirect costs include the costs of the service support management and other technical tasks for Rp.1.156.760.496 or approximately 20.93% of the total cost. The actual unit cost of providing education per student per semester for Rp.13.479.995 with 20.93% of them are the indirect costs. While the normative unit costs for Rp.10.179.260 with 19.59% of them are the indirect costs. Keywords: analysis of education costs, the cost of the unit, master applied of health science, health polytechnic
Read More
T-4964
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rachmadhi Purwana
LP 614.072 PUR p
Jakarta : FKM UI, 1979
Laporan Penelitian Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bowo Waluyo Bunyamin; Pembimbing: Fahmi D. Saifuddin
T-470
Depok : FKM UI, 1996
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
