Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32016 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Indang Trihandini
JKMN-Vol.1, No. 5
Depok : FKM UI, 2007
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indang Trihandini
JKMN-Vol.1, No. 5
Depok : FKM UI, 2007
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kesmas (Jurkesmasnas), Vol.1, No.5, April 2007, hal: 232-240, ( Cat ada di bendel 2006-2007 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Pujisubekti; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak: World Health Organisation (WHO) menganjurkan pemberian ASI eksklusif sampai dengan bayi berusia 6 bulan untuk mengoptimalkan pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan bayi. Penelitian ini membahas determinan perilaku pemberian makanan pada bayi yang diukur melalui perilaku penundaaan inisiasi ASI, pemberian makanan prelakteal, pemberian makanan tambahan dini. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012. Sampel pada penelitian ini adalah pasangan ibu dan bayi yang berusia 0 - 23 bulan.
 
 
Hasil analisis didapatkan hampir separuh ibu di Indonesia menginisiasi bayinya lebih dari 1 jam pertama. Selain itu, proporsi ibu yang memberikan makanan prelakteal sebesar 61% dengan jenis makanan prelakteal yang terbanyak diberikan adalah susu formula. Hasil lainnya sebesar 58% bayi usia 0 - 5 bulan sudah menerima makanan selain ASI berdasarkan recall 24 jam terakhir dengan jenis makanan air putih, susu formula, dan bubur bayi fortifikasi. Diketahui bahwa status ekonomi yang tinggi, ibu dengan anak pertama, ibu yang bekerja, penolong persalinan petugas kesehatan, serta kunjungan antenatal yang kurang menjadi faktor risiko pemberian makanan pada bayi. Intervensi program ASI eksklusif perlu dilakukan semenjak pertama kali melakukan kunjungan antenatal, serta perlu diadakannya monitoring dan evaluasi dari PP ASI.
 

World Health Organisation (WHO) recommends exclusive breastfeeding until a baby is 6 months old to optimize the growth, development, and health of the baby. This study discusses the determinants of infant feeding behavior as measured through behavioral delayed initiation of breastfeeding, prelacteal feeding, early supplementary feeding. This study is a quantitative cross-sectional study design using Indonesian Demographic and Health Survey 2012. Samples in this study were pairs of mothers and infants aged 0-23 months.
 
 
The results of the analysis obtained almost half of the baby's mother in Indonesia initiated more than one hour. In addition, data shows that 61% mothers gave prelecteal feeds with formula milk as the most used type of food. Moreover, 58% of infants aged 0-5 months had received food other than breast milk by the recall last 24 hours with the most type of food are water, formula milk, and baby food fortification. Based on logistic regression result, it is known that high economic status, mothers with their first child, working mothers, birth attendants health workers, and less antenatal visits be a risk factor for infant feeding. Exclusive breastfeeding intervention programs need to be done since the first antenatal visit, and need monitoring and evaluation of the holding of breasfeeding regulation.
Read More
S-8368
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rolies Eka Putra; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: R. Sutiawan, Dewi Damayanti
Abstrak: Keberhasilan pembangunan dibidang kesehatan menyebabkan meningkatnya usia harapan hidup yang artinya bertambahnya jumlah lanjut usia sehingga dibutuhkan program yang dapat meningkatkan kualitas hidup para lanjut usia secara optimal. Salah satu program pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan pada lanjut usia agar kesehatan para lanjut usia dapat terpelihara dan terpantau secara optimal adalah posyandu lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan lanjut usia ke posyandu lanjut usia di kelurahan Sinapa Piliang Kota Solok. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survey dengan pendekatan crossectional. Sampel dalam penelitian ini adalah lanjut usia yang berumur > 45 di Kelurahan Sinapa Piliang Kota Solok yang berjumlah 94 orang lanjut usia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Analisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukan variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan kunjungan ke posyandu lanjut usia adalah status pekerjaan (p=0,003), tingkat pengetahuan (p=0,000), sikap lansia (0,000), dukungan keluarga(p=0,000), dan kondisi kesehatan lanjut usia (p=0,002). Variabel yang tidak mempunyai hubungan bermakna dengan kunjungan ke posyandu lanjut usia adalah kelompok umur (p=1,000), jenis kelamin ( p=0,114), dan tingkat pendidikan (p= 0,654).Variabel yang berhubungan paling dominan dengan kunjungan lanjut usia ke posyandu lanjut usia di kelurahan Sinapa Piliang kota Solok adalah variabel sikap Lanjut usia setelah dikontol oleh variabel dukungan keluarga.. Untuk meningkatkan kunjungan lanjut usia ke posyandu lanjut usia di kelurahan Sinapa Piliang dibutuhkan sosialisasi dan penyuluhan dari petugasPuskesmas mengenai manfaat dan pentingnya posyandu lanjut usia kepada lanjut usia dan anggota keluarga lanjut usia karena peran serta anggota keluarga dalam memberikan dukungan kepada lanjut usia sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan sikap positif lansia dalam mengunjungi posyandu lanjut usia diKelurahan Sinapa Piliang Kota Solok.
 

 
The success of health development, leading to increased life expectancy means that the increasing number of elderly people so is needed a programs that can improve the quality of life of the elderly optimally. One of the government programs to increase the health problems of the elderly to the health of the elderly community can be maintained and monitored optimally is integrated service post elderly. This study aims to determine the factors that affect to the elderly visits to the integrated service post elderly in the Sinapa Piliang village. The study design used was survey research methods with cross sectional approach. The samples in this study were elderly aged > 45 in the Village Sinapa Piliang Solok totaling 94 elderly people. This study used primary data. Analysis using chi square test and multiple logistic regression. The results of the analysis showed that the variables have a significant relationship with a visit to integrated service post elderly employment status (p = 0.003), the level of knowledge (p = 0.000), the attitude of the elderly (0,000), family support (p = 0.000), and health conditions of elderly (p = 0.002). Variables that did not have a meaningful relationship with a visit to integrated service post elderly is the elderly age group (p = 1.000), gender (p = 0.114), and level of education (p = 0.654). Most dominant variables associated with visits to the integrated service post elderly in the village Sinapa Piliang Solok city is the attitude variable Honeymooners by variable family suport controlled. To increase visits to the integrated service post elderly needed socialization and education of the benefits and importance of integrated service post elderly to elderly and family members.
Read More
S-8422
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuridista Putri Pratiwi; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Anindita dyah Sekarputri
Abstrak: Tingkat fertilitas merupakan salah satu indikator yang menjadi prioritas utama pencapaian MDGs Indonesia. Tingkat fertilitas di Jawa Barat merupakan yang tertinggi di Indonesia. Tingkat fertilitas di dalam data survei dapat diukur dengan menggunakan jumlah anak lahir hidup (ALH). Umur kawin pertama merupakan salah satu faktor terpenting yang dapat mempengaruhi tingkat fertilitas.Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh umur kawin pertama terhadap tingkat fertilitas wanita usia subur di Provinsi Jawa Barat. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dengan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2012. Penelitian menggunakan kriteriainklusi wanita usia subur usia 15-49 tahun yang pernah menikah di Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan pada wanita yang pernah penikah di Provinsi Jawa Barat, mereka yang menikah di usia ≤ 18 tahun memiliki risiko 2,5 kali lebih tinggi untuk memiliki tingkat fertilitas tinggi dibandingkan yang menikah di usia > 18 tahun setelah variabel lain dikendalikan. Variabellain yang turut berperan dalam tingkat fertilitas wanita usia subur yaitu umur, tempat tinggal,tingkat pendidikan istri, status pekerjaan istri, norma tentang besarnya keluarga, dan penggunaan alat kontrasepsi saat ini. Oleh karena itu, kegiatan KIE terkait program KB dan pendewasaan usia perkawinan, pemberdayaan wanita, serta pembukaan lapangan pekerjaan untuk meningkatkan status ekonomi diperlukan sebagai upaya mencegah dan mengatasi permasalahan terkait fertilitas di kalangan wanita usia subur di Provinsi Jawa Barat. Kata Kunci : Fertilitas, anak lahir hidup, wanita usia subur, Jawa Barat, pengaruh, umur kawin pertama.
Read More
S-8267
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Ayunisari; Pembimbing: Mila Herdayati; Penguji: Artha Prabawa, Mugia Bayu Raharja
S-9921
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zuhairah Syarah; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Hany Zahro
Abstrak:
Antenatal care adalah indikator kesehatan yang digunakan untuk mencegah tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Namun, masih terdapat provinsi di Indonesia Bagian Timur yang memiliki cakupan kunjungan ANC 4 kali atau lebih di bawah target nasional, yaitu Provinsi NTB sebesar 79%, NTT sebesar 64,3%, Maluku sebesar 47,9%, Maluku Utara sebesar 55,6%, Papua Barat sebesar 48,1%, dan Papua sebesar 43,8%. Selain itu, WUS di Indonesia Bagian Timur yang melaporkan menghadapi salah satu masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan menunjukkan persentase yang lebih besar jika dibandingkan dengan persentase nasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator akses ke pelayanan kesehatan dan mengetahui hubungan akses ke pelayanan kesehatan dengan kunjungan ANC. Penelitian ini menggunakan data SDKI tahun 2017 dengan desain penelitian cross sectional. Confirmatory factor analysis digunakan untuk mengidentifikasi indikator akses ke pelayanan kesehatan. Analisis bivariat dan multivariat digunakan untuk melihat hubungan akses ke pelayanan kesehatan dengan kunjungan ANC. Hasil CFA menunjukkan terdapat 4 dimensi yang membentuk variabel akses pelayanan kesehatan, yaitu literasi dan akses media informasi, otonomi pengambilan keputusan pada wanita, hambatan yang dirasakan dalam akses pelayanan kesehatan, dan kepemilikan jaminan kesehatan. Proporsi kunjungan ANC sesuai standar pada wanita usia subur di Indonesia Bagian Timur adalah 12,8%. Tidak ada hubungan yang signifikan antara akses ke pelayanan kesehatan dengan kunjungan ANC (AOR = 1,19; 95% CI= 0,80-1,77). Dapat disimpulkan bahwa masih rendahnya cakupan kunjungan ANC sesuai standar di Indonesia Bagian Timur sehingga perlu upaya pemerintah untuk meningkatkan kunjungan ANC pada ibu hamil sesuai standar.

Antenatal care is a health indicator to prevent high maternal mortality rates in Indonesia. However, there are still provinces in Eastern Indonesia that have ANC visit coverage of 4 or more times below the national target, namely NTB Province at 79%, NTT at 64.3%, Maluku at 47.9%, North Maluku at 55.6 %, West Papua at 48.1%, and Papua at 43.8%. In addition, the percentage of women aged 15-49 in Eastern Indonesia who reported facing a problem in obtaining health services showed a larger percentage when compared to the national percentage. This study aims to identify indicators of access to health services and determine the relationship between access to health services and ANC visits. Analyses use secondary data (IDHS 2017 Data) with a cross-sectional research design. Confirmatory factor analysis uses to identify indicators of access to health services. Bivariate and multivariate analyzes assessed the relationship between access to health services and ANC visits. The CFA results show there are 4 dimensions of variable access to health services, namely literacy and access to information media, decision-making autonomy for women, perceived barriers to accessing health services, and health insurance. 12.8% of women aged 15-49 in Eastern Indonesia visited standard ANC. There is no significant relationship between access to health services and ANC visits (AOR = 1,19; 95% CI= 0,80-1,77). Despite showing insignificant results, the coverage of ANC visits according to standards in Eastern Indonesia is still low. Therefore, government efforts are required to increase ANC visits to pregnant women according to standards.
Read More
S-11167
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khalina Puspitasari; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Wahyu Septiono, Siti Sugih Hartiningsih
Abstrak:
Depresi merupakan gangguan kesehatan mental paling umum di seluruh dunia yang dapat mengarah pada keinginan bunuh diri serta menimbulkan kerugian ekonomi. Kelompok dewasa muda memiliki prevalensi depresi tertinggi, namun paling sedikit mengakses layanan kesehatan mental. Wilayah perkotaan memiliki prevalensi depresi yang lebih tinggi dari perdesaan karena berbagai perbedaan antara kedua wilayah tempat tinggal. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan depresi pada dewasa muda usia 18-24 tahun di Indonesia menurut wilayah perkotaan dan perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi logistik. Hasil menunjukkan perempuan (OR=2,743; 95% CI=2,058 - 3,655), memiliki riwayat penyakit kronis (OR=4,252; 95% CI=2,651 - 6,818), dan mengonsumsi alkohol (OR=4,285; 95% CI=2,359 - 7,786) merupakan determinan depresi di perkotaan. Perempuan (OR=2,149; 95% CI=1,196 - 3,863), tidak bekerja (OR=2,260; 95% CI=1,274 - 4,008), dan tidak menikah (OR=1,980; 95% CI=1,161 - 3,377) merupakan determinan depresi di perdesaan. Program edukasi, konseling, dan skrining kesehatan jiwa perlu diutamakan bagi kelompok berisiko, serta diintegrasikan dengan promosi gaya hidup sehat.

Depression is the most common mental health disorder worldwide that can lead to suicidal ideation and economic loss. Young adults have the highest prevalence of depression, but the least to access mental health services. Urban areas have a higher prevalence of depression than rural areas due to various differences between the two areas of residence. Based on that, this study aims to determine the determinants of depression in young adults aged 18-24 years in Indonesia according to urban and rural areas. This study is a quantitative study using secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (IHS). Data analysis was carried out using the logistic regression analysis method. The results showed that women (OR = 2.743; 95% CI = 2.058 - 3.655), having a history of chronic disease (OR = 4.252; 95% CI = 2.651 - 6.818), and consuming alcohol (OR = 4.285; 95% CI = 2.359 - 7.786) are determinants of depression in urban areas. Female (OR=2.149; 95% CI=1.196 - 3.863), unemployed (OR=2.260; 95% CI=1.274 - 4.008), and unmarried (OR=1.980; 95% CI=1.161 - 3.377) are determinants of depression in rural areas. Mental health education, counseling, and screening programs need to be prioritized for at-risk groups, and integrated with healthy lifestyle promotion.
Read More
S-11902
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur A'isyah Amalia Putri; Pembimbing: Besral; Pwnguji: Adang Bachtiar, Sutanto Priyo Hastono, Rahmadewi
Abstrak:
Kelangsungan hidup neonatal dini merupakan kemampuan neonatus untuk bertahan hidup atau menjalani kehidupan hingga mencapai usia enam hari. Masa neonatal dini disebut sebagai masa kritis pada bayi baru lahir, dengan estimasi separuh kematiannya terjadi pada 24 jam pertama pasca lahir. Kurangnya pelayanan berkualitas pada saat atau segera setelah lahir dan pada hari-hari pertama kehidupan memiliki pengaruh terhadap kelangsungan hidup neonatus. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sampel SDKI 2017, dengan jumlah sampel sebanyak 15.270 anak lahir hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 1000 bayi yang berumur 0 hari (baru lahir) terdapat 991 bayi yang mampu bertahan hidup sampai berusia tepat 6 hari. Berdasarkan hasil uji regresi Cox, faktor utilisasi pelayanan kesehatan saat hamil hingga pasca persalinan yang berpengaruh dan signifikan secara statistik terhadap kelangsungan hidup neonatal dini yaitu, persalinan yang bukan ditolong oleh tenaga kesehatan, utilisasi layanan KN 1 yang tidak lengkap, dan utilisasi layanan ANC < 6 kali dengan paritas ibu 1 anak, setelah dikontrol dengan usia ibu saat melahirkan, paritas, dan berat lahir bayi. Pengaruh utilisasi pelayanan kesehatan saat hamil hingga pasca persalinan terhadap kelangsungan hidup neonatal dini tidak dipengaruhi oleh waktu. Adapun, faktor utilisasi pelayanan kesehatan yang paling mempengaruhi kelangsungan hidup neonatal dini, yakni layanan KN 1.

Early neonatal survival is the ability of neonates to survive until they reach the age of six days. The early neonatal period is referred to as a critical period for newborns, with an estimated half of deaths occurring in the first 24 hours after birth. Lack of quality care at or immediately after birth and in the first days of life has an impact on neonate survival. This study used a retrospective cohort study design with a quantitative approach. The data used is the 2017 IDHS sample data, with a total sample of 15,270 children ever born. The results of the study showed that out of 1000 babies who were 0 days old (newborn), 991 babies were able to survive until they were exactly 6 days old. Based on the results of the Cox regression test, the factors of health service utilization during pregnancy to postpartum that have a statistically significant influence on early neonatal survival are, births that are not assisted by health workers, incomplete utilization of first neonatal visit services, and utilization of antenatal care services less than 6 times with the mother's parity of 1 child, after controlling for the mother's age at birth, parity, and baby's birth weight. The influence of health service utilization during pregnancy to postpartum on early neonatal survival is not influenced by time. Meanwhile, the health service utilization factor that most influences early neonatal survival is the first neonatal visit service.
Read More
T-6896
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive