Ditemukan 39340 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
ABSTRAK Persalinan 2 bidan merupakan kebijakan baru di Kabupaten Kebumen dalam rangka menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi AKB. Desain studi kohort restropektif pada ibu bayi untuk mengetahui hubungan pelayanan 2 bidan dengan pengetahuan dan kepuasan ibu tentang asuhan bayi baru lahir (BBL). Jumlah sampel 226 ibu. Persalinan 2 bidan berpengaruh terhadap peningkatan pegetahuan pelayanan BBL (OR: 4,61, 95% CI 2,30-9,26) setelah di kontrol pelatihan APN dan pendidikan ibu, tetapi tidak berpengaruh terhadap kepuasan (OR: 0,11, 95% CI 0,01-1,24). Dalam jangka pendek kebijakan tersebut cukup baik. Pemerintah perlu meningkatkan mutu layanan untuk meningkatkan kepuasan ibu.
ABSTRACT 2 midwives childbirth is a new policy in Kebumen in to reduce maternal mortality (MMR) and infant mortality rate IMR. Retrospective cohort study design on the baby's mother to determine the relationship of labor 2 midwives with the knowledge and satisfaction about the mothers of newborncare (NBW). Number of samples 226 mothers. 2 midwives childbirth affect the increased knowledge of newborn care (OR: 4.61, 95% CI 2.30 to 9.26) after the control of APN training and education of the mother, but had no effect on satisfaction (OR: 0.11, 95% CI 0.01 to 1.24). In the short term the policy is good enough. Governments need to improve the quality of services to improve maternal satisfaction.
Dari laporan Rumah Sakit di kota Cirebon diperoleh data mengenai jumlah BBLR tahun 2000 sebesar 333 bayi dari 3388 bayi yang lahir hidup (11,55 %). Data tersebut memang belum menggambarkan keadaan BBLR di kota Cirebon yang sesungguhnya oleh karena data yang ada dan terkumpul hanya berasal dari rumah sakit saja, belum mencakup semua Puskesmas di kota Cirebon. Sedangkan dan pola kematian bayi umur 0 - 28 hari yang rawat inap di rumah sakit kota Cirebon tahun 2000 menunjukkan bahwa BBLR merupakan penyebab kematian nomor 3 dari penyebab kematian bayi umur 0 - 28 hari yang rawat inap di rumah sakit kota Cirebon. Kegiatan pelayanan antenatal tingkat kota Cirebon dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2001 menunjukkan hasil yang kurang memuaskan karena masih di bawah target angka cakupan pelayanan antenatal nasional dan selisih antara K1 dan K4 masih besar yaitu diatas 10%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal dengan kejadian BBLR di kota Cirebon dengan mengendalikan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Rancangan penelitian ini adalah kasus kontrol tidak. berpadanan. Responden pada penelitian ini berjumlah 250 orang yang terdiri dari 125 orang ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR (kasus) dan 125 orang ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan normal (kontrol) selama periode .fanuari 2001 ski Juni 2002. Data diolah dengan analisis statistik univariat, bivariat dan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik. Penelitian menunjukkan bahwa kejadian BBLR pada ibu hamil yang memanfaatkan pelayanan antenatal dengan kualitas rendah mempunyai peluang 2,92 (1,40 - 6,06) kali lebih besar dibandingkan dengan ibu hamil yang memanfaatkan pelayanan antenatal dengan kualitas baik setelah dikontrol variabel jarak kelahiran. Perlu diadakan kunjungan rumah terutama pada kelompok ibu hamil yang mempunyai riwayat pemanfaatan pelayanan antenatal yang jelek dan jarak kelahiran yang kurang dari 24 bulan untuk memotivasi agar pada kehamilan berikutnya mau memanfaatkan pelayanan antenatal dengan baik, demikian juga dalam perencanaan maupun kebijakan Dinas Kesehatan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal sebaiknya mengalokasikan anggaran Puskesmas lebih memprioritaskan pada ibu hamil yang mempunyai riwayat pemanfaatan pelayanan antenatal yang jelek dan jarak kelahiran yang kurang dari 24 bulan. Selain itu perlu juga diadakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal dan kejadian BBLR dengan menggunakan rancangan penelitian kohort prospektif.
The Relationship between the Quality of Antenatal Care Utilization and the Prevalence of Low Birth Weight at Health Centers in Cirebon City, 2001-2002Based on hospital reports in Cirebon City, the number of Low Birth Weight (LBW) in the year 2000 is. 333 out of 3,388 live birth infants (11.55%). The data could not describe the real situation of Low Birth Weight in Cirebon City, since the data is only collected from hospitals, not from the entire Health Centers in Cirebon City. Based on the hospital data in Cirebon City in the year 2000, Low Birth Weight was the third highest caused of inpatient neonatal (infant's age 0-28 days) death. Data between 1999 - 2001 showed that Antenatal Care (ANC) in Cirebon City was not satisfactory. The percentage was still below the national target of ANC and the gap between K1 and K4 was still high (more than 10%), The objective of this study is determine the relationship between the quality of Antenatal Care utilization and the prevalence of Low Birth Weight at Health Centers in Cirebon City by controlling its confounding factors. The design of this study is non-matching case control with. The number of respondents in this study was 250 that consisted of 125 mothers who gave birth with LBW as a case group birth and 125 mothers who gave birth normal weight infant during the period of January 2001 - June 2002. Bivariate and univariate analysis was conducted as well as multivariate analysis by using logistic regression analysis. The result of this study showed that mothers who utilized bad (low) quality of ANC had the tendency to have LBW 2.92 times higher (L40-6.06) compared to mothers who utilized good (high) quality ANC, controlled by distance of birth variable. The study recommended to provide neonatal visit especially to mothers with bad quality of ANC history and the distance of birth less than 24 months. The activities aimed to motivate mothers to conduct good ANC in the next pregnancy. It is also suggested that in term of the improvement of quality of ANC utilization, the Local Health Service plan and policy will allocate health services budget, and should give priority to those mothers who is having bad ANC. In addition, it is also needed to conduct a further study related to quality of ANC utilization and prevalence of LBW by using cohort perspective design.
Kata kunci: BBLR; kehamilan remaja
Low Birth Weight (LBW) in Indonesia has the prevalence of 7,3 % according to IDHS 2012. Some research showed that more LBW occurences happened to mother aged 15-19 at the time of birth. This study aims to prove the association between adolescent pregnancy and low birth weight after controlling all the confounding variables. The method used for this study is case-control (1:1) by analyzing IDHS 2012. The selected cases are 871 with 871 controls. Covariate variables are education, parity, complication during pregnancy, complication at birth, months of pregnancy at first antenatal visit and number of antenatal visit. The result of the study is that there is a significant association between adolescent pregnancy after controlling all confounding variables which are education, complication during pregnancy and months of pregnancy at first antenatal visit and number of antenatal visit (OR: 2,65; p value= 0,013; 95% CI: 1,232-5,712).
Key words: LBW; adolescent pregnancy
Tujuan Penelitian : Diketahuinya hubungan antara pengetahuan ibu tentang pemeriksaan kehamilan dengan kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal di Kota Bogor tahun 2004, setelah dikontrol faktor-faktor lainnya.
Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang. Waktu penelitian bulan Juni s/d Agustus 2005. Sampel adalah semua ibu yang pernah melahirkan lebih dari satu kali (tahun 2000-2004), yaitu sebanyak 352 orang. Data sekunder yang digunakan diperoleh dari hasil Surkesda Kota Bogor yang dilaksanakan oleh PPK-UI.
Hasil : Hasil penelitian menemukan ibu yang memanfaatkan pelayanan antenatal berkualitas sebesar 86,65%, dan hampir semua ibu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang pemeriksaan kehamilan (90,34%). Hasil analisis menunjukkan bahwa hubungan pengetahuan ibu tentang pemeriksaan kehamilan dengan kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal signifikan setelah dikontrol dengan variabel penolong persalinan sebelumnya (POR adjusted = 20,85; IK 95%: 7,79 ? 55,78). Hasil ini sesuai dengan pendapat Andersen (1968) dan Aday (1989), juga sejalan dengan penelitian Wibowo (1992), Tachyat (1995), Primaroza (1998), dan Hamid (2003), tetapi belum menggambarkan pengetahuan dan pemanfaatan pelayanan antenatal menurut pola kunjungan per trimester yang ditetapkan oleh Depkes R.I.
Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang pemeriksaan kehamilan dengan kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal di Kota Bogor setelah dikontrol dengan penolong persalinan sebelumnya. Disarankan kepada pihak puskesmas agar dapat mempertahankan dan meningkatkan lagi kualitas dan kuantitas penyuluhan termasuk tentang faktor-faktor risiko kehamilan, sehingga pengetahuan ibu hamil dapat meningkat lagi dan mau memanfaatkan pelayanan antenatal secara berkualitas sesuai standar yang ditetapkan oleh Depkes R.I (per trimester). Disamping itu perlu diusahakan pemberdayaan wanita, keluarga dan masyarakat; mengevaluasi kemitraan antara bidan di desa dengan dukun bayi, sehingga pertolongan persalinan pada tenaga kesehatan dapat mencapai target yang ditetapkan.
Background: Antenatal Care (ANC) represent service component health very important mother, but often do not be utilized maximally with reasons, that is: 57% because is indolentness; 20,1% with reason need ?not- feeling: 8,8% feeling far distance; 1,8% because of wait to long; 1,8% because is costly; and 10,5% because other reason. Without basic understanding of knowledge about health service, it will be negative impact to degree of health someone.
Objective: This research aim to to know relation knowledge mother about inspection of pregnancy with quality of antenatal care utilization in District Town Bogor year 2004 after contrlled by another variabel.
Methodes: Research design is cross sectional. Study periode on June-August 2004. Sample are all of mother which multipara between year 2000-2005, equal to 352. Using the secunder data from Health District Survey in Town Bogor was conducted by PPK-UI.
Result: Result of this research find that mother utilizing antenatal care with good quality equal to 86,65%, and most of all mother have enough knowledge about inspection of pregnancy (90,34%). Result of analysis indicate that relation knowledge of mother about inspection of pregnancy with quality of utilizing antenatal care was signifikan after controlled with previous delivery assistence variable (Adjusted POR = 20,85; CI 95%: 7,79 - 55,78). This result as according to Andersen opinion (1968) and Aday (1989), also with research of Wibowo (1992), Tachyat (1995), Primaroza (1998), and Hamid (2003), but not yet reflecting antenatal care utilizing and knowledge according to visit pattern per trimester specified by Health Department of Indonesia.
Conclusion: There is significant relation between knowledge of mother about inspection of pregnancy with quality of antenatal care utilizatiton in District Town Bogor after controlled with previous delivery assistence. Suggested to center of public health so that can be maintain and improve again the quality of and promoting include about pregnancy risk factors, so that knowledge of pregnant mother can more increase and will utilize antenatal care with quality according to standard specified by Health Department of Indonesia (per trimester). Beside that, require to be effort by empowering of woman, society and family; evaluating partner between rural midwife with baby traditional midwife, so that help of delivery health worker can reach specified goals.
Persalinan pada dasarnya merupakan proses alamiah yang sudah merupakan tugas seorang ibu yang harus dihadapi. Namun demikian, tidak jarang terjadi penyimpangan, sehingga keadaan ini bukan saja menimbulkan risiko bagi ibu, tetapi juga berisiko terhadap bayinya. Salah satu risiko yang mungkin terjadi bagi bayi akibat persalinan ini adalah afiksia neonatorum. Departemen Kesehatan Republik Indonesia memperkirakan prevalen afisia neonatorum sedang dan berat di Indonesia setiap tahun sekitar 144.900 bayi. Sementara itu data pada Rumah Sakit Umum Dr. Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2000 terungkap kejadian asfiksia neonatorum sedang dan berat tahun 1999 sebesar 24,9 % meningkat menjadi 45,9 % pada tahun 2000. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari register ibu dan register bayi di Rumah SakitUmum Dr.Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2000. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang hubungan persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Faktor lain meliputi umur ibu saat bersalin, paritas, berat badan bayi lahir, kelainan plasenta, persalinan tindakan, kelainan letak dan kasus rujukan diduga mempengaruhi hubungan persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Desain yang digunakan adalah case control. kelompok kasus adalah bayi yang lahir di Rumah sakit Umum Dr. Adjidarmo Rangkasbitung selama tahun 2000 dengan nilai Apgar menit pertama kurang dari 7. Sedangkan kelompok kontrol adalah bayi yang lahir di Rumah sakit Umum Dr. Adjidarmo Rangkasbitung periode selama 2000 dengan nilai Apgar menit pertama 7 sampai 10. Dari keseluruhan sampel, bayi yang lahir dengan mengalami persalinan lama pada kelompok kasus proporsinya hampir lima kali lebih besar (43%) dibanding kelompok kontrol (8,5%). Terbukti adanya hubungan bermakna antara persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Bayi yang lahir dengan asfiksia neonatorum, setelah dikontrol persalinan tindakan dan kasus rujukan berperan sebagai confounder, atau mempunyai pengaruh terhadap hubungan persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Perlunya dilakukan persalinan tindakan sesegera mungkin,apabila diketahui ibu bersalin telah mengalami persalinan lama. Kegiatan lainnya adalah perlu terus dilakukan upaya penyuluhan kepada masyarakat, khususnya ibu hamil untuk selalu melakukan perawatan ante natal yang baik selama kehamilannya guna mendeteksi secara dini penyulit persalinan. The Connection Between Long Duration Childbirth rith Neonatorum Asphyxia Case to Newborn Baby at RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitung in 2000Delivering a baby or childbirth, basically is a natural process as a mother's duty that have to deal with. In such a case, sometimes there is childbirth deviations have risks that could be dangerously to mothers and also to newborn babies. One of this risks is Neonatorum Asphyxia. Ministry of Health Republic of Indonesia has predicted that medium and heavy cases of Neonatorum Aphyxia in Indonesia are about 144.900 cases. In the same cases, RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitungs Neonatorum Asphyxia in 1999 is 24,9% and increasing to 45,9% in 2002. This research was using the secondary data that sourced on numbers of mothers and babies registration data at RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitung in 2000.
The main goal of this research is to find out the connection between long duration childbirth and Neonatorum Asphyxia case. Others factors that could make effect are; mother's age, paritas, baby's weight, placenta disorder, breech delivery, and referral cases had presumed to influrnce the long duration childbirth with Neonatorum Asphyxia cases. The research's design that used by the writer is case control design. The cases group is numbers of babies that born at RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitung in 2000 with Apgar value less than 7. Whereas the control group is number of babies with Apgar value range at 7 - 10. From all samples, the babies that born with long duration childbirth at the cases group have the proportion cases five times bigger (43%) than the babies at control group (8,5%). It shows that there's connection between long duration childbirth and Neonatorum Asphyxia cases. The babies with Neonatorum Asphyxia cases from long duration childbirth have 3.053 probability odds times than the babies without Neonatorum Asphyxia cases, after being controlled by maternity acts and referral cases. Maternity acts and referral cases it also predicted had taken part as cofounder, or influence to long duration childbirth and Neonatorum aphyxia cases. The maternity acts must be conducted as soos as possible if a long duration childbirth has been detected. Another actions that should be done and continued are public information or illumination acts, especially to pregnant mothers, to always take care of their pregnancy by doing the best ane natal caring along hers/their pregnancy to pre-detect and prevent maternity or childbirth problems.
