Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39569 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nining Mularsih; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguj: Asri C. Adisasmita, Anita Nuzulia
T-3589
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amala Rahmatia Putri; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Mularsih Restianingrum
S-9832
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adang Mulyana; Pembimbing: Sudarto Ronoadmodjo; Penguji:Asri C. Adisasmita, Tri Yunis Miko Wahyono, Nani Dharmasetiawarni, Eulis Wulantari
Abstrak:

ABSTRAK Persalinan 2 bidan merupakan kebijakan baru di Kabupaten Kebumen dalam rangka menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi AKB. Desain studi kohort restropektif pada ibu bayi untuk mengetahui hubungan pelayanan 2 bidan dengan pengetahuan dan kepuasan ibu tentang asuhan bayi baru lahir (BBL). Jumlah sampel 226 ibu. Persalinan 2 bidan berpengaruh terhadap peningkatan pegetahuan pelayanan BBL (OR: 4,61, 95% CI 2,30-9,26) setelah di kontrol pelatihan APN dan pendidikan ibu, tetapi tidak berpengaruh terhadap kepuasan (OR: 0,11, 95% CI 0,01-1,24). Dalam jangka pendek kebijakan tersebut cukup baik. Pemerintah perlu meningkatkan mutu layanan untuk meningkatkan kepuasan ibu.


 ABSTRACT 2 midwives childbirth is a new policy in Kebumen in to reduce maternal mortality (MMR) and infant mortality rate IMR. Retrospective cohort study design on the baby's mother to determine the relationship of labor 2 midwives with the knowledge and satisfaction about the mothers of newborncare (NBW). Number of samples 226 mothers. 2 midwives childbirth affect the increased knowledge of newborn care (OR: 4.61, 95% CI 2.30 to 9.26) after the control of APN training and education of the mother, but had no effect on satisfaction (OR: 0.11, 95% CI 0.01 to 1.24). In the short term the policy is good enough. Governments need to improve the quality of services to improve maternal satisfaction.

Read More
T-3582
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Swasti Setyorini; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Helda, Tin Afifah, Hasnerita
Abstrak: Abstrak

Beberapa studi menunjukkan adanya penurunan rata-rata usia menarche di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Rata-rata usia menarche wanita di Amerika menurun sebesar 0,9 tahun dari tahun 1920 hingga 1980an (McDowell, 2007). Berdasarkan survei nasional pada tahun 1992 – 1995 rata-rata usia menarche remaja putri di Indonesia adalah 12,96 tahun dengan prevalensi menarche dini sebesar 10,3 % dan menarche terlambat sebesar 8,8 % (Batubara, 2010). Faktor determinan dari menarche dini dan menarche terlambat adalah status gizi, lemak tubuh, asupan makronutrien, asupan mikronutrien, sosial ekonomi, rangsangan psikis, hormonal, umur menarche ibu, outcome kelahiran, dan aktivitas fisik. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas tahun 2010 dan mengikutsertakan 5358 remaja putri (10-19 tahun) diseluruh wilayah Indonesia sebagai populasi eligible. Studi ini menggunakan metode penarikan sampel non simple random sampling, strata, dan cluster sehingga menggunakan desain complex sample dalam analisisnya. Analisis model akhir menggunakan regresi logistik multinomial. Pada hasil multivariat, faktor risiko untuk menarche dini adalah kegemukan/obesitas (POR 3.03, 95% CI 2.39-3.83), hormonal banyak (POR 1.57, 95% CI 1.21-2.05), umur menarche ibu cepat (POR 1.74, 95 % CI 1.39 – 2.19) dan jumlah anak dalam keluarga sedikit (POR 1.64, 95 % CI 1.21-2.23). Sementara itu faktor protektif untuk menarche dini adalah asupan energi kurang (POR 0.73, 95 % CI 0.56-0.94). Faktor risiko untuk menarche terlambat adalah usia menarche ibu yang lambat (POR 2.1 95 % CI 1.68-2.61). Sementara itu faktor protektif untuk menarche terlambat adalah kegemukan/obesitas (POR 0.42, 95% CI 0.27 to 0.63), hormonal banyak (POR 0.7, 95% CI 0.62-0.95), asupan protein rendah (POR 0.68, 95% CI 0.51-0.91), asupan lemak tinggi (POR 0.75, 95 % CI 0.59- 0.95), umur menarche ibu yang lebih muda (POR 0.6, 95 % CI 0.44 – 0.84), pendidikan bapak yang tinggi (POR 0.73, 95 % CI 0.57-0.92) dan jumlah anggota keluarga yang besar (POR 0.75, 95 % CI 0.57-0.99). Pentingnya upaya meningkatkan program pencegahan kegemukan/obesitas anak dan remaja serta meningkatkan program penyuluhan kesehatan reproduksi dengan sasaran usia yang lebih muda yaitu murid sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) baik di unit pemerintah maupun swasta.


Several studies have shown a decrease mean age of menarche in the world, including in Indonesia. The mean age of menarche in U.S. women declined by 0.9 years from 1920 to the 1980s (McDowell, 2007). Based on National Suveys conducted in 1992-1995, the mean age of menarche in Indonesian girls was 12.96 years with prevalence of early menarche was 10.3% and late menarche was 8.8% (Batubara, 2010). Determinant factors of early and late menarche was nutritional status, body fat, macronutrient intake, micronutrient intake, social economy, psycological stimulate, height/hormonal, maternal age of menarche, birth outcome, family structural, and phisical activity. This study used data of Basic Health Survey 2010 and include 5358 girls (10-19 years) in all region of Indonesia as eligible population. This study used non simple random sampling, strata, and cluster sampling method so that the analysis using complex sample design. In multivariate, this study using multinomial logistic regression. The risk factors of early menarche is overweight/obesity (POR 3.03, 95% CI 2.39-3.83), more height girls (POR 1.57, 95% CI 1.21-2.05), early maternal age of menarche (POR 1.74, 95 % CI 1.39 – 2.19), small number of children in families (POR 1.64, 95 % CI 1.21-2.23). Meanwhile the protective factors of early menarche is low energy intake (POR 0.73, 95 % CI 0.56-0.94). The risk factors of late menarche is late maternal age of menarche (POR 2.1 95 % CI 1.68-2.61). Meanwhile the protective factors of late menarche is overweight/obesity (POR 0.42, 95% CI 0.27 to 0.63), more height girls (POR 0.7, 95% CI 0.62-0.95), low protein intake (POR 0.68, 95% CI 0.51-0.91), high fat intake (POR 0.75, 95 % CI 0.59-0.95), early maternal age of menarche (POR 0.6, 95 % CI 0.44 – 0.84), high level of father education (POR 0.73, 95 % CI 0.57-0.92), small number of families (POR 0.75, 95 % CI 0.57-0.99). So, this is important to improve prevention programs of child/adolescent obesity and reproductive health education for elementary and junior high school students both in government and private sectors.

Read More
T-3864
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Rachmawati; Pembimbing: Astri C. Adisasmita; Penguji: Dwi Gayatri, Dina Nurdjanah
Abstrak: Angka Kematian ibu di Indonesia masih jadi masalah kesehatan dan belum mencapai target MDGs. Kota Administrasi Jakarta Timur merupakan wilayah perkotaan di ibukota negara yang memiliki kematian ibu cukup besar. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antara Tiga Model Keterlambatan dengan kematian ibu berdasarkan karakteristik sosiodemografi, status reproduksi dan status pelayanan kesehatan. Desain Penelitian adalah Case Control dengan jumlah sampel 210 orang terdiri dari 71 kasus kematian ibu dan 139 kontrol dari ibu dengan riwayat komplikasi. Penelitian dilakukan di 10 Puskesmas Kecamatan pada Desember 2015. Analisis data dilakukan secara bivariat dan stratifikasi dengan uji chi square. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Terlambat Fase I dengan kematian ibu (OR: 8,68; 95%CI: 4,1-18,4, p=0,000), Terlambat Fase II (OR: 3,4; 95%CI: 1,8-6,4, p=0,000), Terlambat Fase III (OR: 2,74;95%CI; 1,4-5,3, p=0,002). Hanya mengalami terlambat Fase I saja berisiko 7,51 kali untuk mengalami kematian ibu (OR: 7,51; 95%CI; 2,5-22,1. P=0,000). Hanya mengalami Terlambat III saja berisiko 2,21 kali (OR: 2,21; 95%CI; 0,8-6,1). Perlunya peningkatan pelayanan P4K dengan melakukan monitoring dan evaluasi, peningkatan pelayanan KB ke masyarakat dan sosialisasi bahaya 4T pada ibu. Serta penguatan sistem rujukan dari pelayanan tingkat pertama ke pelayanan rujukan termasuk melakukan koordinasi dengan organisasi terkait untuk menekan angka kematian ibu. Kata kunci: Kematian Ibu, Keterlambatan I, II dan III, Otopsi Verbal Maternal, Jakarta Timur.
Read More
S-9114
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ingrat Padmosari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sabarinah Prasetyo, M. Ilhamy, Imran Pambudi, Tin Afifah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan dari faktor komposisional (levelindividu) serta determinan kontekstual (level kabupaten/kota) terhadap kejadiankomplikasi obstetri di 20 Kabupaten. Penelitian ini menggunakan desain potonglintang dengan pendekatan analisis multilevel untuk mengestimasi efek kontekstual,sehingga dapat ditentukan prioritas intervensi program terhadap kejadian komplikasiobstetri. Penelitian dilakukan dengan memanfaatkan data sekunder Riskesdas 2013,Studi Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu di 100 Fasilitas Kesehatan tahun 2012 dandata BPS Tinjauan Regional berdasarkan PDRB Kabupaten/Kota tahun 2010-2013,dengan melibatkan 2066 orang Wanita Usia Subur berusia 15-49 tahun) yangmemiliki riwayat kehamilan, persalinan dan nifas. Hasil penelitian menunjukkanbahwa prevalensi Kejadian Komplikasi Obstetri di 20 Kabupaten adalah 30,1%.Tampak adanya perbedaan peranan di level individu dan level kabupaten/kota.
Read More
T-4549
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yesi Maria; Pembimbing; Syahrizal Syarif; Penguji; Renti Mahkota, Hyang Wreksagung
Abstrak:
Tenaga kesehatan berada pada garis terdepan yang menangani Covid-19 dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk menanggulangi lonjakan kasus Covid-19 sehingga resiko paparan Covid-19 yang diterima jauh lebih besar daripada tenaga pelayanan umum lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan beban kerja dengan penularan covid-19 pada tenaga kesehatan. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan menggunakan data primer kuisioner dalam bentuk google form sebanyak 136 responden, Chi Square dan Cox Regression digunakan sebagai uji statistik pada penelitian ini . Sampel merupakan tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dengan kriteria inklusi masa kerja minimal satu tahun, tidak pernah terinfeksi covid-19 pada saat penelitian ini dilakukan , berusia 20 tahun keatas. Hasil menunjukkan proporsi tenaga kesehatan yang terinfeksi Covid-19 dengan beban kerja berlebihan sebesar 91,2 % .Besar asosiasi beban kerja dengan penularan covid-19 sebesar aPOR 1,192 kali [aPOR 1,192 (95% CI 0,824? 1,723)] tanpa dikontrol variabel confounding, dikarenakan tidak terdapat variabel yang confounding. Dapat disimpulkan bahwa beban kerja tidak memberikan efek yang signifikan terhadap penularan covid-19 pada tenaga kesehatan. Namun ,upaya dalam menurunkan penularan covid-19 pada tenaga kesehatan masih sangat dibutuhkan, salah satunya dengan memperkuat screening penerimaan pasien yang akan dirawat , mengevaluasi rasio antara jumlah pasien dengan ketersediaan tenaga kesehatan dan melakukan rotasi unit kerja untuk pemenuhan kapasitas tenaga kesehatan apabila diperlukan.

Health workers are at the forefront of handling Covid-19 in providing health services to overcome the surge in Covid-19 cases so that the risk of exposure to Covid-19 received is much greater than other public service workers. Because the risk is higher for infections, serious diseases, and even death, it will affect the service system in health care facilities if it is not adequately protected and it is feared that if cases of Covid-19 exposure to health workers will increase the surge in Covid-19 cases. Due to the increase in Covid-19 cases, it has a very big influence on hospitals, which in general where health workers work to provide health services with the aim of creating a sense of security and comfort to patients, it is hoped that they can consider all efforts and aspects in reducing the risk factors for transmission of Covid-19. Therefore, this study aims to determine the relationship between workload and covid-19 transmission in health workers. The design of this study is cross sectional using questionnaire primary data in the form of google form. The sample was a health worker who worked at the Tangerang Regency General Hospital with a work period of at least one year, had never been infected with covid-19 at the time this study was conducted, aged 20 years and above. The results showed the proportion of health workers infected with covid-19 with excessive workload of 91.2%. The magnitude of the workload association with covid-19 transmission was 9.979 times aPOR (95% CI 1,998-49.84 and p-value 0.005) after controlled confounding and covariate variables. It can be concluded that workload has a significant effect on the transmission of covid-19 in health workers. Efforts to reduce the transmission of covid-19 to health workers are still very much needed, one of which is by strengthening screening the admission of patients to be treated, evaluating the ratio between the number of patients and the availability of health workers and rotating work units to fulfill the capacity of health workers if needed.
Read More
T-6556
Depok : FKM UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Kustijadi; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Syahrizal Syarief, Kosim syarief, Uus Sukmara
Abstrak:
Telah dilakukan penelitian Hubungan Pelayanan Antenatal dengan kejadian Kematian Perinatal di Kabupaten Bandung tahun 200l, dengan tujuan untuk mengetahui besamya hubungan pelayanan antenatal dengan kematian perinatal menggunakan rasio oddv bagi bayi yang dilahirkan oleh ibu yang memperoleh pelayanan antenatal tidak adekuat dibanding dengan bayi dari ibu yang memperoleh pelayanan antenatal adekuat. Rancangan penelitian adalah kasus kontrol tanpa matching dengan jumlah sampel seluruhnya 288 responden yang terdlri 144 kasus dan I44 kontrol. Kasus adalah bayi yang meninggal pada periode perinatal yang diketahui melalui laporan audit matemal perinata. Sedangkan kontrol adalah bayi lahir hidup dan tidak mati pada periode perinatal tlnggal diwilayah yang sama dengan kasus. Data diolah dengan analisa statistik univariat, bivariat, dan analisa multivariat menggtulakan negresi logistik. Perangkat lunak yang digunakan adalah program Epi Info versi 6, SPSS versi 10. Penelitian menunjukkan bahwa hasil pada model akhir diketahui ibu yang memperoleh pelayanan antenatal tidak adekuat mempunyai risiko 4,37 kali untuk terjadinya kematian perinatal dibandingkan dengan ibu yang memperoleh pelayanan antenatal yang adekuat setelah dikontrol oleh variabel kontrol serta uji interaksi variabel pelayanan antenatal dan variabel paritas dan secara statistik bermakna p=0,000 (95 % Cl ; 2,594 - 7,784}. Faktor risiko lain yang berhubungan dengan kejadian kematian perinatal pada penelitian ini adalah : paritas dan komplikasi kehamilan. Berdasarkan hal tersebut diatas pelayanan antenatal yang adekuat semakin perlu diupayakan sehingga berdampak terhadap penurunan kematian bayi pada umumnya dan kematian perinatal khususnya. Sedangkan operasional pelayanan kesehatan mengacu kepada Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan antenatal kesehatan dasar yang sudah ditetapkan oleh Departeman Kesehatan yaitu bahwa pemeriksaan antenatal untuk ibu hatnil setiap kali kunjungan harus lengkap dengan 5 T dan Rekuensi kunjungan ke sarana pelayanan kesehatan lebih dari 4 kali selama kehamilannya.

Threre is research about the relationship between Antenatal Care and Perinatal Mortality in Bandung District in Year 2001, with purpose to investigate measurement the relationship between Antenatal Care and Perinatal Mortality using Odds Ratio for bom babies from pregnant women who get inadequate antenatal care compare to bom babies from pregnant wo men who get antenatal care adequately. Design of the study is case-control without matching with respondents were 288 people which consist of 144 cases and controls. Case were infant who died during perinatal period which have been known from the matemal perinatal audit report. And control were infant who were free of death in live perinatal period who in the same area where the cases happened. Statistical analysis used in this study was univariate, bivariate and multivariate using unconditional logistic regression.. Computer software which were used are Epi info version 6 and SPSS version 10. This research indicated that result of final model has known that pregnant women who get inadequate antenatal care was 4,37 times higher to loss their babies than those who get adequate antenatal care after controlled with control variable and variable interaction test, in statistically it is significant (p = 0,000 (95 % Cl : 2,594 - 1784). Other relations risk factors to perinatal mortality in this research are : paritas, and pregnant complication. Based to the above mentioned facts, the adequate antenatal care is more needed. As the result this effort will decrease generally the death of new bom babies and especially the death during perinatal. Meanwhile the operational care must be referred to standard operating procedure (SOP) which decreed by the ministry of health that is : The antenatal care for the pregnant women must fulfill the ?5T? thoroughly in every visit and at least makes 4 or more visits during her pregnancy.
Read More
T-1336
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Ayu Pertiwi; Pembimbing: Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Trisari Anggondowati, Sulistyo
Abstrak:
Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang sudah lama ada dan masih menjadi salah satu penyakit menular utama di dunia. Indonesia menempati peringkat 2 hanya setelah India dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Target global dan milestone untuk penurunan insiden dan kematian TBC telah ditetapkan sebagai bagian dari SDGs dan End TBC. Strategi TBC pada akhir tahun 2030 yaitu penurunan 90% kematian TBC dan 80% penurunan insiden TBC. Belum seluruh fasyankes melaporkan terduga dan kasus tuberkulosis ke sistem informasi nasional TBC, maka berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020-2024 dan rencana interim 2025-2026 dilakukan penguatan jejaring layanan dengan melibatkan fasyankes pemerintah maupun swasta (Public-Private Mix/PPM). Jejaring Layanan TBC di Fasilitas Kesehatan Pemerintah-Swasta Berbasis Kabupaten/Kota atau District-Based Public-Private Mix (DPPM). DPPM dapat mengatasi kesenjangan dalam hal penemuan kasus TBC, kualitas pelayanan TBC maupun pelaporan kasus TBC. Metode Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan menganalisis data sekuder dari register TBC 06 dan TBC 16 Aplikasi SITB Direktorat Jenderal P2P Kemenkes RI dengan jumlah 80 kabupaten/kota yang menjadi wilayah prioritas implementasi PPM di Indonesia Tahun 2023. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 24. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa wilayah implementasi PPM melaporkan notifikasi lebih besar yaitu 56% dibandingkan wilayah bukan PPM sebesar 44% dengan jumlah fasyankes dan jumlah ketersediaan alat TCM yang lebih sedikit dari wilayah bukan PPM. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa jumlah fasyankes (r = 0.774), ketersediaan alat TCM (r = 0.767), dan investigasi kontak (r = 0.672) berkorelasi kuat terhadap notifikasi kasus tuberkulosis pada implementasi PPM di Indonesia Tahun 2023. Kesimpulan dan Saran: Implementasi PPM di Indonesia Tahun 2023 berkontribusi besar terhadap notifikasi kasus tuberkulosis di Indonesia. Jumlah Fasyankes, ketersediaan alat TCM dan investigasi kontak berhubungan signifikan dan kuat terhadap notifikasi kasus tuberculosis. Dengan memperluas wilayah implementasi diharapkan dapat meningkatkan jumlah notifikasi kasus dengan keterlibatan sektor pemerintah dan swasta sehingga semakin memperbesar capaian pada program pengendalian tuberkulosis di Indonesia.

Background Tuberculosis (TBC) is a long-standing disease and remains one of the world's major infectious diseases. Indonesia ranks 2nd only to India with the most TBC cases in the world. Global targets and milestones for reducing TBC incidence and mortality have been set as part of the SDGs and End TBC. The TBC strategy by the end of 2030 is a 90% reduction in TBC deaths and 80% reduction in TBC incidence. Not all health facilities have reported TBC suspects and cases to the national TBC information system, so based on the National Strategy for Tuberculosis Control in Indonesia 2020-2024 and the interim plan 2025-2026, a service network was strengthened by involving public and private health facilities (Public-Private Mix/PPM). District-Based Public-Private Mix (DPPM) TBC Service Networks in Public-Private Health Facilities. DPPM can address gaps in TBC case finding, quality of TBC services and TBC case reporting. Methods This study used an ecological study design by analyzing secondary data from the TBC 06 and TBC 16 registers of the SITB Application of the Directorate General of P2P Ministry of Health, Republic of Indonesia with a total of 80 districts / cities which are priority areas for PPM implementation in Indonesia in 2023. Data were analyzed univariately and bivariately using SPSS version 24. Results: The results of univariate analysis showed that PPM implementation areas reported more notifications at 56% compared to non-PPM areas at 44% with fewer number of health facilities and availability of TCM equipment than non-PPM areas. Correlation test results showed that the number of health facilities (r = 0.774), availability of TCM equipment (r = 0.767), and contact investigation (r = 0,672) has streght corelation to the notification of tuberculosis cases in PPM implementation in Indonesia in 2023. Conclusions and Suggestions: The implementation of PPM in Indonesia in 2023 contributes significantly to the notification of tuberculosis cases in Indonesia. Total health facilities, availability of TCM tools and contact investigation have a significant and strong association with TB case notification. Expanding the implementation area is expected to increase the number of case notifications with the involvement of the government and private sectors, thus increasing the achievements of the TBC control program in Indonesia.
Read More
S-11725
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ning Sulistiyowati; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Syahrijal Syarif, Soeharsono Soemantri, Herry Ruswan
Abstrak:
Salah satu indikator yang sensitive untuk mengetahui derajat kesehatan suatu negara bahkan untuk mengukur tingkat kemajuan suatu bangsa adalah angka kematian bayi pada umumnya dan angka kematian perinatal pada khususnya. Angka Kematian perinatal belum menunjukkan penurunan yang berarti. A.KP sebesar 46 per 1000 kelahiran dihasilkan oleh SKRT tahun 1980, sedangkan SKRT 1995 diperoleh AKP sebesar 48,6 per 1000 kelahiran hidup. Progam Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan salah satu program kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan (ANC) disarankan fasilitas pelayanan dengan mutu yang baik serta menjangkau semua kelompok sasaran yang setingi-tingginya. Tujuan sasaran dari program tersebut adalah untuk meningkatkan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil dan melaksanakan rujukkannya serta meningkatkan pelayanan neonatal dengan mutu yang baik dan jangkauan yang setinggi-tingginya. Kematian dan kesakitan perinatal dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain pelayanan kesehatan, penolong persalinan, tempat bersalin, pendidikan ibu, penyakit ibu, keadaan sosial ekonomi, lingkungan dan kebiasaan tradisional. Tinggi. rendahnya risiko yang timbul pada bayi sangat bergantung pada besar kecilnya faktor di atas. Sebagian besar kematian perinatal dapat dicegah dengan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi bayi baru lahir dan meningkatkan keamanan persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor praktik kesehatan ibu selama kehamilan dengan kematian perinatal di Kotamadya Bekasi tahun 2001. Sebagai variable kovariat yaitu, umur ibu, pendidikkan, paritas, jarak kehamilan, riwayat merokok, keluhan kehamilan, jenis kelamin bayi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metoda kasus kontrol Responden dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang mempunyai anak sudah meninggal dalam periode perinatal, dan sebagai kontrolnya adalah ibu dengan anak yang masih hidup mulai umur 7 hari (83 kasus dan 83 kontrol), Penelitian dilakukan di Kodya Bekasi, penelusuran langsung kemasyarakat dengan wawancara berstruktur dan wawancara tcrbuka. Analisa data dilakukan dengan uji regresi logistik sederhana untuk bivariat, dan regresi logistik ganda dengan model faktor risiko untuk multivariate. Secara statistik hubungan antara praktik kesehatan ibu hamil dengan kematian perinatal tidak bermakna setelah dikontrol oleh variabel jarak kehamilan, keluhan kehamilan, dan umur ibu, dengan (p = 0,29), OR 2,33 (95 % CI: 0,89 - 3,99). Hal ini barangkali disebabkan karena jumlah sampel terlalu kecil, sehingga besar sampel tidak mencukupi ketika harus memprediksi hubungan praktik kesehatan ibu hamil secara besama-sama/setelah dikontrol oleh konfounder. Disimpulkan bahwa ibu yang pada waktu kehamilan praktik kesehatannya tidak adekuat, mempunyai risiko sebesar 2,33 kali untuk terjadinya kematian perinatal dibandingkan dengan ibu yang praktik kesehatannya adekuat, setelah dikontrol oleh variabel umur ibu, jarak kehamilan dan keluhan kehamilan. Untuk itu perlu diupayakan lebih memberdayakan dan memberikan pendidikan kepada ibu agar melakukan kunjungan pemeriksaan minimal 1,1,2 dan kepada petugas kesehatan untuk memberikan pelayanan minimal 5T, dan pemohaman tentang kehamilan berisiko. Daftar bacaan : 46 (1975 - 2001)

The Relation between Maternal Health Practical during Pregnancy with Perinatal Mortalitiy, in Kota Bekasi, 2001One of sensitive indicators to find out health degree of a country, even to measure progression level of a country, is infants mortality rate generally and specially perinatal mortality rate. Perinatal mortality rate did not showed the decreasing to be valued. Household Survey 1980 resulted PMR within 46 per 1000 of mortality, while Household survey in 1995 resulted PAIR of 48,6 per 1000 of mortality. Mother and Child Health is one of health programs to promote serviced (ANC) in while service with appropriate quality and cover the most of target. The purpose of the program is to decrease early detection of high risk of pregnancy and to increase neonatal service with appropriate quality. Perinatal Mortality are influenced by several factors such as health service, birth aid, birth place, maternal education, maternal sickness, social-economy status, environmental and traditional behavior. The risk appears within infant period depends on factors mentioned above. Most of perinatal mortality could be prevented by promoting health service for new born infant and promoting birth safety. The research is to find out the relation between Health maternal practical during pregnancy with perinatal mortality in Kota Bekasi 2001. As covariate variables are : Mother age, education, parity, pregnant range, smoking history, pregnancy complaining, and sex of infant. This is an observational research with case - control method. The respondents are Mother who experienced with children passed away during perinatal period, and as the control is mother with alive children status age of>7 days (83 case and 83 control). The research is conducted in Kota Bekasi by retrieving the community with structured interview. Data is analyzed by simply logistic regression test for bivariate, and multiple logistic regression with risk factor model for multivariate. Statistic analysis test showed the not significant relationship between health practical for mother during pregnancy period with perinatal mortality have not connection each other, and after being controlled by pregnant range variable, pregnant complining and mother age with p 0,029 IR 2,33 CI 95% : 0,89 - 3,99. This result may be caused by number of sample is too small. This is concluded that maternal health practical during pregnancy period has significant relationship with perinatal mortality. Pregnant mother with health practical is inadequate, has risk of 2,33 times for perinatal mortality occurrence than mother with adequate health practical. It needs to endeavor and administer education to mother, and also to perform minimal care visiting 1, 1,2 and health officer should serve 5T, and to understand the risk of pregnancy.
Read More
T-1430
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive