Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37438 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Alexander Takdare; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Lukman Hakim, Untung Suseno Sutarjo
Abstrak:

Pencapaian angka API tahun 2010 secara Nasional sudah memenuhi target (2 per 1000 penduduk). Pada data di atas menunjukkan bahwa Propinsi Papua dengan API tertinggi, yaitu 18,03 dan masih jauh dari yang ditargetkan,hal ini menunjukkan bahwa kasus malaria di Papua masih cukup tinggi dan memerlukan penanganan yang serius, dan propinsi dengan API terendah adalah propinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta dan Bali, sedangkan di Kabupaten Kepulauan Yapen menunjukkan bahwa angka kasus malaria cukup tinggi, dengan angka API 233,1 per 1000 dan sudah melewati target yang ditetapkan. Saat ini program malaria masih mendapatkan bantuan pendanaan dari Global Fund, sehingga masih memiliki keterkaitan. Keterkaitan kritis pada ke dua komponen tersebut, apabila tidak diatisipasi oleh pemerintah dari awal, salah satunya dengan menyiapkan anggaran yang telah dibiayai oleh GF ke dalam kegiatan rutin, maka akan terjadi penurunan cakupan kembali, sehingga dampaknya akan dirasakan oleh mayarakat Papua pada umumnya dan Kabupaten Kepulauan Yapen pada khususnya, apabila program perbantuan ini dihentikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Keterkaitan Kritis antara Komponen Sistem Kesehatan dengan Global Fund untuk Program Malaria di Kabupaten Kepulauan Yapen Propinsi Papua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam dan studi literatur yang berhubungan dengan Sistem Kesehatan dan Global Fund dengan pengumpulan data melalui informan terkait dengan cara wawancara mendalam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sehubungan dengan keterkaitan kritis antara Komponen Sistem Kesehatan dengan Globan Fund untuk Program Malaria di Kabupaten Kepulauan Yapen Propinsi Papua, berdasarkan fungsi dalam komponen tersebut, maka yang memiliki keterkaitan kritis adalah pada komponen Perencanaan, Pembiayaan serta Monitoring dan Evaluasi sedangkan yang tidak memiliki keterkaitan pada komponen Penatalayanan dan Pemerintah, Pelayanan, Peningkatan Akses Pelayanan. Berbeda pada Kabupaten Kepulauan Yapen, untuk komponen monitoring dan evaluasi tidak memiliki keterkaitan kritis.


The national achievement rate of API in 2010 has met the target (2 per 1000 population). It indicates that Papua Province with the highest API, which is 18.03 is left far from the target, that suggests that cases of malaria in Papua is quite high and require a serious action. Provinces with the lowest API are Jakarta, DI Yogyakarta and Bali, while in the Islands District Yapen showed that the number of malaria cases is quite high, with an API rate 233.1 per 1000 and had passed the target set. Currently malaria program got financing from the Global Fund , and it shows the relevance. The critical interaction between the two-components, if doesn't well handled by the government from the beginning, by preparing a routine budget financed by the Global Fund, there will be a reduction in program coverage, and will impact to the whole society particularly in Papuan Islands District Yapen if the program is being stopped. The purpose of this study is to determine the critical interaction between the Critical Component of Health System and the Global Fund for Malaria Program in Yapen Islands District of Papua. The method used in this research is qualitative method with in-depth interviews and literature studies related to Health System and the Global Fund by collecting data through informants related to the manner in-depth interviews, to reveal the Critical interactionbetween Component of Health System and the Global Fund for Malaria Programme Yapen Islands District of Papua. This study concluded that according to the critical interaction between the Health System Component and the Global Fund for Malaria Program in the District of Yapen Islands Papua, in the relevance to the function of those components, the critical interactions are in the planning functions, finance function, monitoring and Evaluation function. In the other hand, the stewardship and the government, service delivery and the increase of service access did not show the relevances. Contrary to the districs of Yapen Island Papua, monitoring and evaluation component did not show critical interactions.

Read More
T-3550
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reynold R.Ubra; Pembimbing: Syahrizal Syarif, Tri Yunis Miko Wahyonp; Penguji: Victoria Indrawati, Aang Sutrisna
Abstrak:

Tantangan pengobatan ARV adalah kepatuhan. Kepatuhan pengobatan ARV di Kabupaten Mimika menurun dari 84.3% pada tahun 2009 menjadi 62% pada tahun 2011. Berdasarkan fakta ini dilakukan penelitian cross sectional agar diketahui faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kepatuhan ≥ 80% : 44.59% dan kepatuhan < 80% : 55.41%. Hasil uji regresi logistik menunjukan bahwa pasien berpendidikan tinggi lebih patuh dari berpendidikan rendah, pasien tidak bekerja lebih patuh dari pasien yang bekerja, Pasien bukan suku Papua lebih patuh dari pasien suku Papua dan pasien yang mendapat dukungan keluarga lebih patuh dari pasien yang tidak mendapat dukungan keluarga.


 ARV treatment is compliance challenges. ARV treatment adherence in Mimika District decreased from 84.3% in 2009 to 62% in 2011. This fact-based cross sectional study carried out in order to know the factors related to medication adherence. The results showed that compliance ≥ 80%: 44.59% and adherence <80%: 55.41%. The results of logistic regression test showed that highly educated patients had better adherence than less educated, not working more adherent patients than patients who work, not the tribe of Papua patients more adherent than patients Papuan tribal and family support for patients who received more adherent than patients who did not receive family support.

Read More
T-3604
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Rahmawati; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Waachyu Sulistiadi, Budi Hartono
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja pegawai kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan tahun 2012. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan disain cross sectional. Sampel pada penelitian ini seluruh pegawai yang berjumlah 75 orang (total sampling). Nilai kinerja pegawai 65 dengan nilai terendah kinerja pegawai 15 dan kinerja pegawai tertinggi 81. Faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan adalah faktor individu dan faktor organisasi. Faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2012 adalah pendidikan terakhir (Beta = 0,482). Hasil penelitian kinerja pegawai kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan tahun 2012 berkinerja rendah. Peningkatan kualitas SDM akan meningkatkan kemampuan teknis pegawai dalam melaksanakan pekerjaan sehingga kinerja pegawai meningkat.


The purpose of this study to find out employee performance of Bintan Health Office in 2012. This study uses quantitative methods with cross sectional design. Sample in this study are all of the employees in Bintan Health Office 75 person in total. Employee performance point is 65, with the lowest performance of employees is 15 and the highest employee performance is 81. Employee Performance of Bintan Health Office are affected by two factors, there are individual factor and organizational factor. The most influence factor on staff performance Bintan Health Office in 2012 is the latest education. The result shows that employee in health office of bintan regencyin low performance. The Improvement quality of human resources will improve staff's technical ability in carrying out the work so that employee performance increases.

Read More
T-3564
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indreni Fatmayanti Waridjo; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Sulistyo, Titik Kartiningsih
Abstrak:

Angka Keberhasilan TB di Kabupaten Merauke masih cukup rendah (80%), angka
keberhasilan TB sangat erat hubungannya dengan tingkat kepatuhan pengobatan TB
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Pengetahuan Pasien dengan
Kepatuhan Pengobatan TB Paru. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
crossectional, dimana sampel adalah penduduk Kabupaten Merauke yang berusia >15
tahun yang menjalankan pengobatan TB Paru sensitive obat dan tercatat dalam register
form TB 01 puskesmas, Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang
bermakna antara pengetahuan Pasien dengan Kepatuhan Pengobatan TB Paru. Responden
dengan pengetahuan yang buruk berpeluang sebesar 1,59 kali untuk patuh dalam
pengobatn TB Paru hanya pada fase intensif saja dibandingkan responden yang
berpengetahuan baik, setelah dikontrol dengan variable umur, sikap, dan perilaku. Nilai
PR adjusted sebesar 1,59; 95% CI 0,706 – 3,608; p-value 0,262. Pemerintah perlu
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat melalui kegiatan penyuluhan yang
dilakukan secara rutin oleh petugas kesehatan dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh
masyarakat untuk ikut menyampaikan pesan kesehatan.
Kata kunci:
TB Paru, Kepatuhan, Merauke


The success rate of TB in Merauke Regency is still quite low (80%), the success rate of
TB is very closely related to the level of TB treatment compliance
This study aims to determine the relationship between patient knowledge and compliance
with pulmonary TB treatment. The study design used in this study was cross-sectional, in
which the sample was a population of Merauke Regency aged> 15 years who were
undergoing drug-sensitive pulmonary TB treatment and was recorded in the TB 01 health
center register form. The results of this study stated that there was no meaningful
relationship between patient knowledge with Lung TB Treatment Compliance.
Respondents with poor knowledge are 1.59 times as likely to be obedient in the treatment
of pulmonary TB only in the intensive phase compared to respondents who are
knowledgeable, after being controlled by variables of age, attitude, and behavior. PR
value adjusted for 1.59; 95% CI 0.706 - 3.608; p-value 0.262. The government needs to
increase public knowledge and awareness through counseling activities carried out
routinely by health workers by involving religious and community leaders to participate
in delivering health messages.
Key words:
Pulmonary TB, Complience treatment, Merauke

Read More
T-7493
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novarita; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Chita Septiawati, Rizal Rinaldy
T-4092
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chandrayani Simanjorang; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor: Tri Yunis Miko, Agnes Kurniawan; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Helda, Tri Krianto, Lukman Hakim, Rita Kusriastuti
Abstrak: Latar Belakang: Lamanya waktu pengobatan primakuin pada pasien malaria vivax diyakini dapat menyebabkan tingkat kepatuhan minum obat yang rendah. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metode intervensi yang dapat meningkatkan kepatuhan minum obat sehingga kekambuhan dapat dicegah. Efektivitas metode ini belum diuji secara optimal di daerah endemis malaria seperti Sentani Papua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan individu dan supervisi pengobatan terhadap kekambuhan malaria vivax di Sentani Kabupaten Jayapura. Faktor-faktor lain yang berpotensi menyebabkan terjadinya kekambuhan malaria vivax juga disertakan dalam penelitian ini. Metode: Sebuah metode quasi eksperimen yang dilakukan pada Januari-Agustus 2019 di Sentani Papua. Subjek penelitian adalah pasien yang didiagnosa malaria vivax konfirmasi mikroskop, usia ≥1 tahun, bukan malaria berat, tidak sedang hamil, tidak sedang menyusui, tidak meminum obat anti malaria dalam 4 minggu sebelumnya dan diberikan pengobatan sesuai standar nasional dengan DHP selama 3 hari dan primakuin 14 hari. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok standard therapy (STH) sebagai kontrol, kelompok intervensi penyuluhan individu (EDU), dan kelompok intervensi supervisi (SPV). Kemudian semua pasien difollow-up selama 90 hari dan dilihat kekambuhannya. Dinyatakan kambuh apabila ditemukan plasmodium vivax pada apusan darah subjek melalui pemeriksaan mikroskopis selama follow-up. Pemeriksaan dilakukan hari ke-3, 7, 14, 28, 60, dan 90 setelah diagnosa pertama. Hasil pemeriksaan dievaluasi dengan melakukan uji silang di BBPTKL-PP Jakarta. Intervensi pada kelompok EDU berupa penyuluhan individu oleh dokter dan perawat Puskesmas sebanyak 3 kali yaitu H0, H3, dan H7. Penyuluhan diberikan secara lisan kepada pasien dengan materi tentang kekambuhan malaria vivax yang sudah tertera di leaflet. Kemudian leaflet diberikan kepada pasien untuk dibaca dan dibawa pulang. Sementara kelompok SPV diberikan intervensi supervisi berupa kunjungan rumah untuk pengawasan minum obat sebanyak 7 kali yaitu H0, H2, H4, H6, H8, H10, H12. Serta mengirimkan pesan singkat/telepon untuk mengingatkan minum obat malaria pada H1, H3,H5, H7, H9, H11, H13. Kelompok kontrol (STH) merupakan kelompok yang didiagnosa malaria vivax di Puskesmas kemudian menerima pengobatan standar dan kembali ke rumah masing-masing. Hasil: Seluruh subjek penelitian (162 subjek) berasal dari pasien malaria vivax di wilayah Puskemas Sentani, Sentani Timur dan Sentani Barat. Terdapat 54 subjek masuk kelompok EDU (Puskesmas Sentani), 58 subjek masuk kelompok SPV (Puskesmas Sentani Timur), dan 50 subjek masuk kelompok STH (puskesmas Sentani Barat). Semua subjek sembuh tanpa komplikasi. Insiden kekambuhan malaria vivax pada kelompok EDU lebih rendah dibandingkan dengan kelompok STH (1.9% vs 20% atau 0.21/1.000 person-days vs 2.36/1.000 person-days). Insiden kekambuhan malaria vivax pada kelompok SPV juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok STH (1.7% vs 20% atau 0.19/1.000 person-days vs 2.36/1.000 person-days). Kekambuhan pada kelompok EDU terjadi di hari ke-48 (1 subjek), kelompok SPV terjadi di hari ke-7 dan 14 (1 subjek). Sementara kekambuhan pada kelompok STH terjadi di hari ke-38 ix Universitas Indonesia (1 subjek), 47 (1 subjek), 48 (1 subjek), 60 (2 subjek), 62 (1 subjek), 74 (2 subjek), dan 90 (2 subjek). Seluruh subjek dinyatakan kambuh melalui hasil pemeriksaan mikroskopis malaria vivax. Sebanyak 10 subjek (83%) dari seluruh subjek yang mengalami kekambuhan adalah anak-anak. Hazard Ratio (HR) intervensi EDU terhadap kekambuhan malaria vivax adalah 0.079 (CI 95%; 0.009-0.675). Hazard Ratio (HR) intervensi SPV terhadap kekambuhan malaria vivax adalah 0.087 (CI 95% = 0.010-0.734). Proporsi kasus yang dapat dicegah (PFu%) dengan intervensi EDU sebesar 92% dan intervensi SPV 91%. Artinya, sebanyak 92% kekambuhan pada kelompok STH dapat dicegah dengan pemberian penyuluhan individu dan sebesar 91% kekambuhan pada kelompok STH dapat dicegah dengan intervensi supervisi pengobatan. Kesimpulan: Intervensi berupa penyuluhan individu dan intervensi pengawasan minum obat sama-sama efektif meningkatkan kepatuhan pengobatan 14 hari primakuin sehingga dapat mencegah kekambuhan malaria vivax. Berkurangnya kekambuhan malaria vivax sejalan dengan berkurangnya transmisi dan morbiditas malaria di daerah endemis. Intervensi edukasi merupakan pilihan yang tepat diimplementasikan di daerah urban dimana mayoritas penduduknya berpendidikan tinggi, sementara di daerah rural sebaiknya memilih gabungan dari kedua intervensi dengan memberdayakan kader malaria yang sudah dilatih oleh Kementerian Kesehatan.
Read More
D-426
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Sora Yullyana; pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Renti Mahkota, Rahmadewi
Abstrak: Penggunaan kontrasepsi merupakan strategi untuk menunda dan mengontrol kelahiran dengan mengurangi kemungkinan terjadinya fertilitas ovum olehspermatozoa. Namun, cakupan penggunaan kontrasepsi di Provinsi Papua masih jauh dari target yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi penggunaan kontrasepsi pada 15-49 tahun berdasarkan faktor predisposisi dan faktor pendukung di Provinsi Papua tahun 2012. Metodepenelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2012. Sampel penelitian ini adalah wanita usia subur usia 15-49 tahun yang tercatat sebagai responden pada data SDKI 2012serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi penggunaan kontrasepsi pada WUS 15-49 tahun di Provinsi Papua adalah 14,6 persen. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara distribusi penggunaan kontrasepsi pada WUS dengan usia >35 tahun (PR: 7,823; CI 95% 3,210-19,067), pendidikan tinggi (PR: 4,751;CI 95% 2,884-7,827), bekerja (PR: 0,435; CI 95% 0,318-0,595), jumlah paritas 3-4 anak (PR: 3,254; CI 95% 2,286-4,633), tinggal di perkotaan (PR: 2,694; CI 95%1,960-3,703), ekonomi menengah (PR: 2,666; CI 95% 1,798-3,953), pengetahuan tinggi (PR: 3,970; CI 95% 2,863-5,507), dan pernah terpapar informasi KB (PR:3,091; CI 95% 2,255-4,236) dengan nilai p value <0,005. Oleh karena itu,diperlukan peningkatan upaya promosi kesehatan secara intensif dan penyebarluasan informasi oleh tenaga kesehatan mengenai manfaat akan pentingnya penggunaan kontrasepsi pada WUS, memberikan pelayanan kontrasepsi yang berkualitas dalam memperoleh alat/metode KB.
Kata kunci : Keluarga Berencana, Metode Kontrasepsi, Wanita Usia Subur
The use of contraception is a strategy to delay pregnancy and to do birth control,with the possibility of reducing fertility of ovum by spermatozoa. However,coverage of the use of contraceptive in Papua is still far from the target set. Thisstudy aims to determine the distribution of contraceptive use based on WUS 15-49years predisposing factors and enabling factors in Papua Province in 2012. Thisresearch used cross sectional design method with secondary data analysis ofDemographic Health Survey of Indonesia 2012. This study sample were womenage is 15-49 years, listed as respondents in the data IDHS 2012, and meet theinclusion and exclusion criteria. The results showed that the distribution ofcontraceptive use on WUS 15-49 years in Papua province was 14.6 percent. Theresults of analysis showed there is a significant relationship between thedistribution of contraceptive use on WUS with age >35 years (PR: 7.823; 95% CI3.210 to 19.067), higher education (PR: 4.751; 95% CI 2.884 to 7.827),employment status (PR: 0.435; 95% CI 0.318 to 0.595), number of parity 3-4children (PR: 3.254; 95% CI 2.286 to 4.633), urban residence (PR: 2.694; 95% CI1.960 to 3.703), middle income (PR: 2.666; 95% CI 1.798 to 3.953), higherknowledge (PR: 3.970; 95% CI 2.863 to 5.507), and have been exposed to familyplanning information (PR: 3,091; 95% CI 2.255 to 4.236) with a p value <0.005.Therefore, an increase in the effort required of health promotion, intensivecounseling and dissemination of information by health professionals about thebenefits of the importance of contraceptive use on WUS, providing qualitycontraceptive services in obtaining the tools/methods of family planning.
Keywords: Family Planning, Methods of Contraception, Women of Reproductive Age
Read More
S-8283
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Marisa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Soewarta Kosen, Rahmad Isa
Abstrak:

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah timur Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di Tanah Papua berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional analitik dengan pendekatan kasus dan non-kasus. Data berasal dari SKI 2023 yang mencakup 37.036 responden dari wilayah Papua. Kasus didefinisikan sebagai individu yang mengalami malaria dalam


Malaria remains a public health issue in eastern Indonesia. This study aimed to analyze factors associated with malaria incidence in Tanah Papua based on data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI 2023). The study employed an analytical cross-sectional design with a case and non-case approach. The data were drawn from SKI 2023 and included 37,036 respondents from the Papua region. A malaria case was defined as an individual who had experienced malaria within the past month. Analyses were conducted using univariate, bivariate, and multivariate methods with logistic regression to calculate the Prevalence Odds Ratio (POR). The malaria prevalence was recorded at 4.80%. Factors significantly associated with malaria incidence included education level, type of occupation, household size, and interactions between age and sex, ventilation and bed net use, as well as age and mosquito repellent use. The strongest association was observed in the interaction between age and sex, in which males aged over 46 years had 2.85 times higher odds of having malaria compared to female children under five years. Malaria incidence in Tanah Papua remains high and is influenced by a complex interplay of individual characteristics and environmental factors, including preventive behaviors.

Read More
T-7324
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurasni; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wwahyono; I Mde Yosi Purbadi
S-8777
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fuad Bawardi; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Sutiawati, Popy Yuniar, Diana Magdalena Pakpahan
T-3549
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive