Ditemukan 4505 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
koran kompas 2010: hal 54
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
616.9792 KES (P)
[s.l.] :
Jakarta: yayasan Mitra Inti dan Standar, 2005, s.a.]
Prosiding Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fenita Purnama Sari Indah; Promotor: Tris Eryando; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar, Lely Wahyuniar; Penguji: Besral, Meiwita Paulina Budiharsana, Zubairi Djoerban, Trihono, Muchlis Achsan Udji Sofro
Abstrak:
Read More
Indonesia memiliki Pengidap HIV Terbanyak di Asia Tenggara. Pada target 95% ARV, hingga Maret 2023 Indonesia masih mencapai kurang dari setengah target (42%) yang masih di dalam pengobatan ARV. Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan model edukasi digital m-Health OMA untuk meningkatkan pengetahuan, sikap ODHIV mengenai HIV/AIDS dan ARV dan kepatuhan mengonsumsi pada ODHIV. Penelitian ini adalah penelitian analitik operational research yang terdiri atas 5 (lima) tahap dengan metode campuran atau mixed methods. Tahap penelitian tersebut adalah 1) Identifikasi faktor determinan kepatuhan mengonsumsi ARV (Antiretroviral) pada ODHIV (n=142 ODHIV); 2) Menyusun konten dan desain aplikasi m-Health OMA (n=9 informan Focus Group Discussion); 3) Pengembangan aplikasi m-Health OMA. Peneliti bekerja sama dengan tim IT membentuk model aplikasi m-Health OMA dengan muatan konten dan desain berdasarkan hasil FGD pada tahap sebelumnya; 4) Uji coba konten dan desain m-Health OMA dengan melakukan penilaian user experience aplikasi m-Health OMA (n=33 ODHIV). Analisis hasil pengukuran User Experience (UEQ Data Analysis Tool melalui excel Microsoft Office 365) ; 5) Mengevaluasi model dan sistem aplikasi m-Health OMA. Hasil penelitian mengemukakan bahwa determinan yang paling terkait dengan kepatuhan mengonsumsi ARV pada ODHIV adalah status ekonomi (berkaitan juga dengan biaya transportasi), pengetahuan tentang HIV/AIDS dan ARV, dan stres. Faktor determinan ini menjadi landasan dalam penyusunan konten dan desain aplikasi. Fitur aplikasi yang disusun yaitu kotak obat; pengingat minum obat (mengetikkan kata penyemangat); pantun jenaka; mitos/fakta; poster dan komik; jurnal dan buku HIV/AIDS, ARV; Media Audio Visual. Keseluruhan fitur dapat menambah semangat, memotivasi dan mengingatkan untuk terus konsumsi ARV agar ODHIV tidak lupa dan jenuh. Desain yang diciptakan dibuat menarik dengan tampilan full color dilengkapi dengan media audio visual, komik, poster, kotak obat, pantun yang lucu dan memberikan semangat. Aplikasi m-Health OMA dan video tutorial penggunaan aplikasi telah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Uji coba konten dan desain m-Health OMA dengan melakukan penilaian user experience aplikasi m-Health OMA menunjukkan hasil excellent pada aspek daya tarik, kejelasan, efisiensi, ketepatan, stimulasi, dan kebaruan. Pada evaluasi m-Health OMA dan pemberian leaflet pada ODHIV untuk pengukuran perubahan pengetahuan, sikap dan kepatuhan mengonsumsi ARV. m-Health OMA telah terbukti dapat meningkatkan pengetahuan (p value <0,001), sikap (p value <0,001) dan kepatuhan mengonsumsi ARV (p value = 0,001).
Indonesia has the most HIV sufferers in Southeast Asia. With a target of 95% ARVs, until March 2023 Indonesia has still reached less than half of the target (42%) on ARV treatment. The main objective of this project is to develop a new m-Health digital education model for OMA in order to improve PLHIV's attitudes, knowledge, and adherence to taking ARVs and HIV/AIDS. This research project is an analytical operational study with five (five) stages and an assortment of approaches. The research proceeded in three stages: 1) determining the factors that influence PLHIV (those living with HIV) to use ARVs (antiretrovirals; n = 142 PLHIV); 2) developing the OMA m-Health application's design and content (n = 9 focus group discussion informants); and 3) developing the OMA m-Health application. For the purpose of to test the content and design of m-Health OMA, researchers collaborated with the IT team to create the OMA m-Health application model, with content and design based on the results of the FGD in the previous stage; 4) evaluate the m-Health OMA application's user experience (n=33 PLHIV). 5) Assess the OMA m-Health application model and system; 5) Analyze User Experience measurement data (UEQ Data Analysis Tool using Excel Microsoft Office 365). The results of the research indicate that stress, knowledge about HIV/AIDS and ARVs, and economic status—which is also related to transportation expenses—are the factors most associated with PLHIV adherence to taking ARVs. This important factor creates the basis for content and application design development. The components of the application are arranged as a result: a medicine box; a rhyme; myth/fact; posters and comics; HIV/AIDS journals and books; ARVs; audio visual media; and a reminder to take medication (type messages of motivation). All of these features assist PLHIV remain motivated, enthusiastic, and reminded to keep taking ARVs to prevent forgetting or getting fatigued. The full color display of the exquisite designs is further developed with visual and audio material, comics, posters, medication boxes, and humorous and inspirational lyrics. The intellectual property rights (HKI) have been registered for the OMA m-Health application and the video tutorials that complement it. The OMA m-Health content and design trial produced great results in terms of attractiveness, clarity, efficiency, input, stimulation, and originality when the user experience of the OMA m-Health application was evaluated. Providing PLHIV leaflets and evaluating m-Health OMA are two ways to assess how PLHIV's knowledge, attitudes, and adherence to taking ARVs have changed. It has been established that m-Health OMA increases adherence to taking ARVs (p value = 0.001), knowledge (p value <0.001), and attitudes (p value <0.001).
D-507
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Abstrak:
Read More
Tempo: hal 21, 2010
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kliping koran Seputar indonesia 2012: hal 36
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lu`lu Nafisah; Pembimbing: Pandu Riono, Toha Muhaimin; Penguji: Gina Anindyajati, Sarikasih Harefa
Abstrak:
Kepatuhan terapi di Indonesia masih dibawah 80% dan dapat berdampak pada peningkatan kejadian infeksi protozoa usus, perkembangan AIDS yang lebih cepat, resistensi obat, kegagalan terapi, dan penularan virus kepada orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan terapi ARV pada ODHA di Klinik Yayasan Angsamerah dan Angsamerah Clinic DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif meliputi pengisian kuesioner dan interview dengan pasien yang menerima ARV dan tenaga kesehatan. Sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling dan diperoleh sampel sejumlah 51 orang. Tingkat pendidikan dilihat berdasarkan lama sekolah dan tingkat kepatuhan dinilai dengan metode laporan diri, hitung jumlah sisa obat, dan viral load. Berdasarkan laporan diri 66,66% ODHA memiliki kepatuhan sedang, berdasarkan hitung jumlah sisa obat 78,43% ODHA memiliki sisa obat kurang dari 3 dosis, dan 90,20% ODHA memiliki viral load yang tidak terdeteksi. Sebagian besar ODHA menempuh pendidikan selama >12 tahun (72,55%) dan tingkat pendidikan terakhir tamat sarjana (64,71%). Hasil analisis menunjukkan proporsi kepatuhan yang lebih tinggi sebesar 4,63% pada ODHA yang menempuh pendidikan >12 tahun dibandingkan dengan ODHA yang menempuh pendidikan ≤12 tahun. Pendidikan yang tinggi berperan memfasilitasi kepatuhan ODHA dalam terapi ARV melalui berbagai mekanisme yaitu ODHA akan memiliki pengetahuan yang lebih baik, mampu memahami informasi dan rekomendasi dari dokter, memiliki daya ingat yang lebih baik, memiliki lebih banyak sumber daya ekonomi termasuk pendapatan yang lebih tinggi, pekerjaan yang lebih aman dan lebih menjamin, dan sarana untuk tinggal di lingkungan yang lebih sehat yang mendukung kesehatan. Hambatan dalam terapi ARV diantaranya jadwal yang sibuk, sering berpergian, takut terungkap statusnya, informasi yang salah tentang ARV, dan penawaran obat selain ARV. Media KIE yang akurat, informatif, dan menarik, hubungan yang baik antara dokter dan pasien, dan sistem atau alat pengingat jadwal minum obat diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kepatuhan terapi ARV pada ODHA.
Read More
T-5412
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dinda Syifa Al Adila; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Popy Yuniar, Pratono, Toha Muhaimin
Abstrak:
Read More
Kepatuhan pengobatan ARV memiliki hubungan untuk menekan virus pada ODHIV. Akan tetapi, angka putus berobat atau Loss To Follow Up (LTFU) masih tinggi. Berdasarkan pencatatan kasus HIV di RSUD Koja, angka LTFU ODHIV dalam pengobatan tergolong besar yakni 22%. Hal ini hampir mendekati data nasional LTFU sebesar 25%. Berbagai faktor berperan besar pada kepatuhan pengobatan ARV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan ARV pada ODHIV dewasa di RSUD Koja. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pada 731 ODHIV dewasa. Diketahui proporsi kepatuhan pengobatan sebesar 59,6% dan ketidakpatuhan sebesar 40,4%. Determinan yang memiliki hubungan signifikan ada pada ODHIV yaitu rute transmisi dengan heteroseksual (OR = 0,322 95% CI: 0,168 – 0,619) dimana kelompok homoseksual menjadi kelompok protektif, tidak adanya infeksi oportunistik (OR = 2,694 95% CI: 1,952 – 3,719), dan paling dominan lama pengobatan < 1 tahun (OR = 4,179, 95% CI:1,448-12,063).
Adherence to ARV therapy is related to suppressing the virus in PLWHIV. However, the rate of dropping out of treatment or Loss To Follow Up (LTFU) is still high. Based on the recording of HIV cases at Koja Regional Hospital, the LTFU rate for PLHIV in therapy is relatively large, namely 22%. This is almost close to the national LTFU data of 25%. Various factors play a major role in ARV therapy adherence. This study aims to determine the factors that influence adherence to ARV therapy in adult PLHIV at Koja District Hospital. This study used a cross sectional design with 731 adult PLWHIV. It is known that the proportion of adherence was 59.6% and non-adherence was 40.4%. Determinants that have a significant relationship are in PLHIV, namely the sexual orientation from heterosexual orientation (OR = 0.322 95% CI: 0.168 – 0.619) where the homosexual group is a protective group, the absence of opportunistic infections (OR = 2.694 95% CI: 1.952 – 3.719), and the most dominant duration of treatment was < 1 year (OR = 4.179, 95% CI: 1.448-12.063).
2024-01-30T-6893
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dessi Marantika Nilam Sari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal, Helwiah Umniyati, Suyono
Abstrak:
Read More
Kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan menjadi faktor risiko munculnya jenis HIV yang resisten terhadap obat, yang dapat ditularkan kepada orang lain. Kepatuhan terhadap pengobatan yang buruk tidak hanya membahayakan kesehatan individu tetapi juga meningkatkan penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ketidakpatuhan minum obat ARV pada ODHIV yang mendapatkan terapi ARV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di poli HIV Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dan waktu penelitian dilakukan pada bulan November 2023 menggunakan data sekunder. Populasi penelitian berjumlah 1.337 ODHIV yang aktif menjalani pengobatan antiretroviral di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dengan menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi sehingga sampel penelitian berjumlah 1.286 ODHIV. Hasil analisis univariat menunjukan bahwa usia ≥ 35 tahun (56,45), laki-laki (61,20%), pendidikan rendah (87,10%), belum kawin atau cerai (51,92%), domisili dalam kabupaten Tangerang (55,88%), mendapatkan konseling kepatuhan (63,73%), memiliki jaminan kesehatan (51,92%), ≥5km akses layanan kesehatan (54,07%), IO non TB (40,90%), stadium lanjut (63,69%), viral load ≥40 mL (46,73%), tidak ada efek samping obat (53,34%), lamanya pengobatan >5 tahun (72,01%), masuk kedalam populasi kunci (88,01%) dan tidak mendapat dukungan (61,12%). Hasil analisis kai kuadrat secara statistik ada hubungan antara umur, jenis kelamin, status pendidikan, status perkawinan, domisili, pelayanan konseling kepatuhan, stadium klinis WHO, viral load, lamanya pengobatan ARV, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya (P-Value<0,05) dengan ketidakpatuhan minum obat ARV. Hasil analisis cox regression dengan faktor yang secara statistik berhubungan terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral pada ODHIV adalah umur (P-Value=0,01) nilai PR 1,20 dengan 95% CI (1,05-1,38), status perkawinan (P-Value=0,02) nilai PR 1,18 dengan 95% CI (1,03-1,36), domisili (P-Value=0,01) nilai PR 1,19 dengan 95% CI (1,04-1,36), viral load (P-Value=0,001) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,10-1,43), lamanya pengobatan ARV (P-Value=0,005) nilai PR 1,25 dengan 95% CI (1,07-1,47), kelompok populasi kunci (P-Value=0,02) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,04-1,56), dukungan teman sebaya (P-Value=0,04) nilai PR 1,15 dengan 95% CI (1,00-1,32). Faktor umur, status perkawinan, domisili, viral load, lamanya pengobatan, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya memiliki pengaruh terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral (ARV) pada ODHIV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang.
Lack of treatment adherence becomes a risk factor for the emergence of drug-resistant strains of HIV, which can be transmitted to others. Poor adherence to treatment harms the individual’s health and increases the risk of transmission. This study aims to observe the factors associated with the occurrence of non-adherence to taking ARV drugs in PLHIV who receive ARV therapy at the Regional General Hospital of Tangerang Regency. This type of study uses observational research with a cross-sectional design. The study was conducted at the HIV Specialist of the Regional Govern Hospital of Tangerang Regency and the time of the study was carried out in November 2023 using secondary data. The study population amounted to 1,337 PLHIV who were actively undergoing antiretroviral treatment at the Regional General Hospital of Tangerang Regency using total sampling by inclusion and exclusion criteria so that the study sample amounted to 1,286 PLHIV. The results of the univariate analysis showed that the age of ≥ 35 years (56.45), male (61.20%), low education (87.10%), unmarried or divorced (51.92%), domiciled in Tangerang district (55.88%), received compliance counselling (63.73%), had health insurance (51.92%), ≥5km of health service access area (54.07%), non-TB IO (40.90%), advanced stage (63.69%), viral load ≥40 mL (46.73%), no drug side effects (53.34%), duration of treatment ≥5 years (72.01%), entered into key populations (88.01%) and received no support (61.12%). The results of the kai squared analysis statistically showed there was an association between age, sex, educational status, marital status, domicile, adherence to counselling services, WHO clinical stage, viral load, duration of ARV treatment, key population groups and peer support (P-Value<0.05) with non-adherence to taking ARV drugs. The results of Cox Regression analysis with factors statistically related to non-adherence to taking antiretroviral drugs in ODHIV were age (P-Value = 0.01), PR value 1.20 with 95% CI (1.05-1.38), marital status (P-Value = 0.02), PR value 1.18 with 95% CI (1.03-1.36), domicile (P-Value = 0.01), PR value 1.19 with 95% CI (1.04-1.36), viral load (P-Value = 0.001), PR value 1.27 with 95% CI (1.10-1.43), duration of ARV treatment (P-Value = 0.005), PR value 1.25 with 95% CI (1.07-1.47), key population group (P-Value = 0.02), PR value 1.27 with 95% CI (1.04-1.56), peer support (P-Value = 0.04), PR value 1.15 with 95% CI (1.00-1.32). Factors such as age, marital status, domicile, viral load, duration of treatment, key population groups and peer support have an influence on non-adherence to taking antiretroviral drugs (ARV) in PLHIV at the Regional General Hospital of Tangerang Regency.
T-6876
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
