Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38946 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Desry Bangun; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Helda; Joko Susanto
S-7546
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fairuz Murti; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda; Haridana Indah Setiawati
S-6323
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dessy Yusra Zahira; Pembimbing: Helda; Penguji: Syahrizal Syarif, Ananda
Abstrak: Opasifikasi lensa mata (Katarak) merupakan penyebab tersering kebutaan yang dapat diobati di seluruh dunia. Hasil survey tahun 2014-2016 yang dikembangkan oleh International Center of Eye Health (ICEH) dan direkomendasikan oleh WHO melalui metode Rapid Assasment of Avoidable Cataract (RAAB) pada populasi usia 50 tahun di dapatkan prevalensi kebutaan di provinsi DKI Jakarta adalah 1,9% dengan persentase katarak 81,9%. Berdasarkan data yang ada diperkirakan setiap tahun kasus baru buta katarak bertambah 0,1% dari jumlah penduduk atau kurang lebih 250.000 orang per tahun. Penelitian ini menggunakan desain Cross sectional dan bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian katarak pada penderita diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data surveilans penyakit tidak menular. Didapatkan sampel 754 kasus diabetes mellitus dan 700 kasus hipertensi. Analisis bivariat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian katarak pada penderita diabetes melitus tipe 2 dan penderita hipertensi. Dalam penelitian ini didapatkan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian katarak pada penderita diabetes mellitus tipe 2 adalah umur ≥ 45 tahun (PR 2.794; 95%CI 1.357- 5.754), pekerjaan (PR 1.716; 95%CI 1.289-2.285), kurang aktivitas fisik (PR 1.406; 95%CI 1.072-1.842), dan kurang makan sayur (PR 1.769; 95%CI 1.350-2.318). Faktor protektif terhadap kejadian katarak pada penderita diabetes mellitus tipe 2 adalah jenis kelamin perempuan (PR 0.522; 95%CI 0.400-0.681), obesitas (PR 0,633; 95% CI 0,478-0,839), dan hipertensi (PR 0.627; 95%CI 0.468-0.839). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian katarak pada penderita hipertensi adalah konsumsi alkohol (PR 2.559; 95%CI 2.332-2.808), dan DM tipe 2 (PR 1.459; 95%CI 1.219- 1.819). faktor protektif terhadap kejadian katarak pada penderita hipertensi adalah pekerjaan (PR 0.258; 95%CI 0.208-0.320). Kata kunci : Katarak; Katarak DM; Katarak Hipertensi
Read More
S-10012
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Koko Suryoko; Pembimbing: Nuning M. Kiptiyah
S-2759
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syahrul Hamidi Nasution; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda, Ade Yonata, Iswandi Darwis
Abstrak: Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes melitus (DM) menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Prediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Diabetes dan komplikasinya membawa kerugian ekonomi yang besar bagi penderita diabetes dan keluarga mereka, sistem kesehatan dan ekonomi nasional melalui biaya medis langsung, kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Kepatuhan pengobatan yang rendah dapat mengakibatkan peningkatan resiko biaya perawatan, peningkatan penyakit komplikasi dan risiko rawat inap. Identifikasi faktorfaktor yang berhubungan dengan rendahnya kepatuhan pasien melakukan pengobatan DM merupakan tujuan dilakukannya penelitian ini sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi dan strategi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder Riskesdas 2018 se-Provinsi Bali dengan analisis regresi logistik dan besar hubungan dinyatakan dalam prevalance odds ratio (POR) dengan α= 0,05. Pada analisis multivariat didapatkan model akhir yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan DM di Bali tahun 2018 secara statistik yaitu pekerjaan (POR 1,164 95% CI 1,019-1,329 p-value 0,002), tempat tinggal (POR 0,864 95% CI 0,764-0,978 p-value 0,021), jenis kelamin (POR 0,816 95% CI 0,717-0,929 p-value 0,002), dan usia (POR 0,779 95% CI 0,6650,912 p-value 0,002) sementara tingkat pendidikan tidak bermakna secara statistik
The World Health Organization (WHO) predicts an increase in the number of people with diabetes mellitus (DM) is one of the global health threats. The predicted increase in the number of people with diabetes in Indonesia from 8.4 million in 2000 to around 21.3 million in 2030.Diabetics and its complications bring huge economic losses to diabetics and their families, the national health system and economy through direct medical costs, lost work and income. Low adherence to medication can result in an increased risk of treatment costs, an increased risk of complications and the risk of hospitalization. Identification of the factors associated with low patient compliance with DM treatment is the aim of this study so that this study is expected to provide solutions and strategies to improve treatment adherence. This study was an observational analytic study with a cross sectional design. The data used in this study are secondary data from Riskesdas 2018 throughout Bali Province with logistic regression analysis and the size of the relationship is expressed in the prevalence odds ratio (POR) with α = 0.05. In the multivariate analysis, the final model that relates to adherence to DM treatment in Bali in 2018 is statistically namely work (POR 1.164 95% CI 1.019-1.329 p-value 0.002), residence (POR 0.864 95% CI 0.764-0.978 p-value 0.021 ), gender (POR 0.816 95% CI 0.717-0.929 p-value 0.002), and age (POR 0.779 95% CI 0.665-0.912 p-value 0.002) while the level of education was not statistically significant
Read More
T-6084
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yozua Toar Kawatu; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susana, Laila Fitria, Adhi Sambodo
Abstrak: Abstrak

Malaria merupakan masalah kesehatan dunia termasuk Indonesia karena mengakibatkan dampak yang luas dan berpeluang menjadi penyakit emerging dan re-emerging. Di Wilayah South East Asian Region (SEARO) yang Indonesia menjadi salah satu negara anggotanya, malaria merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Data Kasus Baru malaria tahun 2009/2010 di seluruh Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 adalah 22,9 per mil, sedangkan di Provinsi Sulawesi Utara (61,7?).

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang bertujuan untuk memperoleh gambaran karakteristik individu, faktor lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian malaria klinis di Provinsi Sulawesi Utara 2010. Penelitian dengan studi kuantitatif melibatkan 2272 subyek penelitian yang diperoleh data dari Riskesdas 2010, dengan jumlah kejadian malaria klinis sebanyak 408 subyek. Dari 20 variabel yang dianalisis multivariat di Provinsi Sulawesi Utara didapatkan ada 6 variabel yang berhubungan secara signifikan yaitu : pendidikan : OR = 2,04 (95% CI : 1,59 ? 2,62) dengan p value = 0,000, rawa-rawa : OR = 1,57 (95% CI : 1,10 ? 2,25), dengan p value = 0,014, pantai : OR= 0,49 (95% CI : 0,31 ? 078) dengan p value = 0,003, perkebunan : OR = 1,58 (95% CI : 1,25 ? 2,00) dengan p value = 0,000, tidur menggunakan kelambu : OR = 0,59 (95% CI : 0,41 ? 0,85) dengan p value = 0,005 dan memakai obat nyamuk bakar/elektrik : OR = 0,59 (95% CI : 0,45 - 0,78) dengan p value = 0,000.

Analisis juga dilakukan pada 8 Kabupaten dan 4 Kota di provinsi Sulawesi Utara dan hasilnya ada 4 Kabupaten dan 2 Kota yang sebagian variabel mempunyai hubungan signifikan dengan kejadian malaria klinis yaitu : Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kota Manado, Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa Utara.

Disarankan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar rawa-rawa, pantai dan perkebunan hendaknya selalu menjaga kebersihan lingkungan serta memakai obat nyamuk bakar/elektrik. Untuk Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara pelaksanakan program "Gebrak Malaria" hendaknya lebih diintensifkan dan melibatkan seluruh lapisan masyarat. Untuk peneliti lain supaya dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang Malaria atau Malaria Klinis di daerah endemis malaria di Provinsi lain dengan menggunakan data hasil Riskesdas 2010 atau data terbaru di wilayah tersebut.


Malaria is a global health problem, including Indonesia, because it resulted in a broad impact and may appear and re-emerging diseases. Regional Southeast Asia Region (SEARO) and Indonesia became one of its member countries, malaria is a major public health problem. The new malaria cases in 2009/2010 Data for Health Research in Indonesia based on the Basic (Riskesdas) 2010 is 22.9 per mile, whereas in the Province of North Sulawesi (61.7 ?).

This study uses cross sectional design which aims to obtain a picture of individual characteristics, environmental factors and behaviors associated with the incidence of clinical malaria in North Sulawesi province in 2010. Research with quantitative studies involving 2272 subjects who obtained the data from Riskesdas 2010, with the incidence of clinical malaria as much as 408 subjects. Of the 20 variables in the multivariate analysis of the North Sulawesi province to find there are six significant variables related to: Education: OR = 2.04 (95% CI: 1.59 to 2.62) with p-value = 0.000, bog: OR = 1, 57 (95% CI: 1.10 to 2.25), with a p-value = 0.014, coast: OR = 0.49 (95% CI: 0.31 to 078) with a p-value = 0.003, plantations: OR = 1 , 58 (95% CI: 1.25 to 2.00) with p-value = 0.000, using mosquito nets to sleep: OR = (95% CI: 0.41 to 0.85) 0.59 with a p-value = 0.005 and use mosquito repellent/electric: OR = 0.59 (95% CI: 0.45 to 0.78) with p-value = 0.000.

The analysis was also conducted in eight counties and four cities in the province of North Sulawesi and the results there are four counties and two cities that some variables have a significant relationship with the incidence of clinical malaria namely: Talaud Islands, Minahasa, Sangihe Regency, Manado, Minahasa regency Tomohon and north.

It is recommended for people who live in the vicinity, the coast marshes and plantations should always keep the environment clean and using mosquito repellent / electric. For the North Sulawesi Provincial Health Office, the implementation of "Gebrak Malaria" program should be improved and involve all layers masyarat. For other researchers to conduct more in-depth research on Malaria, Clinical malaria or malaria in endemic areas in other provinces using data from Riskesdas 2010 or latest data in the region.

Read More
T-3488
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endah Dwi Pratiwi; Pembimbing: Helda; Penguji: Asri C Adisasmita, Soewarta Kosen, Enny Nuryanti
Abstrak:
Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada jemaah haji Indonesia yang mengikuti haji setiap tahun. Penyakit komorbid terbanyak yang dimiliki oleh jemaah haji Indonesia salah satunya yaitu Diabetes Melitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan PreDM dan DM dengan kejadian rawat inap akibat pneumonia di rumah sakit Arab Saudi. Desain penelitian kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder dari Siskohatkes Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan pada populasi jemaah haji Indonesia tahun 2024. Jemaah haji yang terdiagnosa pneumonia dipilih sebagai kasus. Kontrol dipilih secara acak dengan diagnosis bukan pneumonia di antara jemaah haji Indonesia yang dirawat pada rumah sakit yang sama dengan kasus di Arab Saudid dengan rasio 1 : 3. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Penelitian ini mengidentifikasi 175 kasus dan 525 kontrol. Jemaah haji dengan PreDM dan DM yang mengalami pneumonia sebesar 55,43% dan 54,86% tidak mengalami pneumonia, akan tetapi perbedaan ini tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan jemaah haji dengan kondisi PreDM dan DM berisiko 1,12 kali setelah dikontrol oleh variabel usia dan obesitas sentral untuk mengalami kejadian rawat inap akibat pneumonia di rumah sakit Arab Saudi (95% CI 0,78 - 1,59; p=0,517). Jemaah haji dengan kondisi PreDM dan DM berpotensi terjadi pneumonia saat beribadah haji sehingga diprioritaskan pencegahan dan pengelolaan penyakitnya agar dapat mengurangi angka morbiditas

Pneumonia is the main cause of morbidity and mortality in Indonesian hajj pilgrims who participate in the hajj every year. One of the most common comorbid diseases in Indonesian hajj pilgrims is Diabetes Mellitus (DM). This study aims to determine the relationship between Pre DM and DM with the incidence of hospitalization due to pneumonia in Saudi Arabian hospitals. The case-control study design used secondary data from the Siskohatkes Hajj Health Center of the Ministry of Health in the population of Indonesian hajj pilgrims in 2024. Hajj pilgrims diagnosed with pneumonia were selected as cases. Controls were randomly selected with a diagnosis of non-pneumonia among Indonesian hajj pilgrims treated at the same hospital as the cases in Saudi Arabia with a ratio of 1: 3. Multivariate analysis using logistic regression. This study identified 175 cases and 525 controls. Hajj pilgrims with Pre DM and DM who had pneumonia were 55.43% and 54.86% did not have pneumonia, but this difference was not significant. The results of the study showed that pilgrims with Pre DM and DM conditions were at risk of 1.12 times after being controlled by age and central obesity variables for hospitalization due to pneumonia in Saudi Arabian hospitals (95% CI 0.78 - 1.59; p = 0.517). Pilgrims with Pre DM and DM conditions have the potential to experience pneumonia during the Hajj so that prevention and management of the disease are prioritized to reduce morbidity and mortality rates.an mortalitas.

Read More
T-7339
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rubita Rahmarianti; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Martin Rumende
Abstrak: Salah satu komplikasi mikroangiopati dari penyakit DM dan merupakan penyebab kematian terpenting pada penderita DM adalah Nefropati Diabetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian Gangguan Ginjal pada penderita DM serta faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian tersebut di RSCM tahun 2012. Penelitian ini dilakukan pada penderita DM yang berobat baik di rawat jalan (Poli DM) maupun rawat inap dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 255 pasien DM yang terpilih seara random sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 34,9% sampel mengalami Gangguan Ginjal. Hasil dari analisis chi square menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin dan lama menderita DM dengan kejadian Gangguan Ginjal.
 

One of the microangiopathic complications and the most important cause of death in people with diabetes is Diabetic Nephropathy. The purpose of this study was to describe the incidence of renal disorders in patients with diabetes and the factors that influence the event at the RSCM in 2012. The study was conducted in patients with DM were treated well in the outpatient (Poly DM) and hospitalizations using cross-sectional design. The research sample consisted of 255 patients who elected seara DM random sampling. The results showed that as many as 34.9% of the sample had Kidney Disorders. Results of chi-square analysis showed that there is a relationship between sex and the incidence of long- suffering DM Kidney Disorders.
Read More
S-7652
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puji Sulistyarini; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Bona Simanungkalit
S-6800
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fazria Ayuandina Arianingrum; Pembimbing: Yosyah; Penguji: Syahrizal, Fristika Mildya
Abstrak: Tujuan: Menganalisis faktor sosiodemografi dan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian DM tipe 2 di DKI Jakarta tahun 2020 berdasarkan data SIPTM Kemenkes RI. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Analisis yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Variabel independen terdiri dari faktor sosiodemografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan) dan faktor risiko PTM (riwayat DM keluarga, hipertensi, perilaku merokok, aktivitas fisik, obesitas sentral, konsumsi sayur dan buah, dan obesitas berdasarkan IMT) sedangkan diabetes melitus tipe 2 merupakan variabel dependen.
Read More
S-10654
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive