Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 1359 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
TRS-239
[s.l.] : Geneva WHO 1962, s.a.]
TRS (Series)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
613.69 SPH h (RS)
Geneva : The Sphere Project, 2004
Reserved (pinjaman 1 hari)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Public Health : Journal of the Ro..., Vol.122, No.2, Feb. 2008, hal. 201-210. ( ket. No. 1 - 6 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Madinar; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Trini Sudiarti, Anies Irawati
Abstrak: Stunting adalah kondisi terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak yang merupakan dampak dari asupan anak yang tidak adekuat secara kronik, riwayat penyakit infeksi berulang atau keduanya sebagai hasil dari pola asuh anak yang tidak optimal. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan. Penelitian ini menggunakan data primer dengan total jumlah sampel 231 anak yang diambil dengan teknik multistage random sampling dari 13 posyandu pada 6 kelurahan dari 3 kecamatan terpilih di Jakarta Pusat tahun 2019. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengukuran panjang badan anak dan melakukan wawancara dengan responden yang dilakukan oleh enumerator yang telah terlatih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Jakarta Pusat pada anak usia 6-23 bulan adalah 26%, sedangkan proporsi MAD hanya 31,6% dari total anak. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menemukan bahwa faktor-faktor yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Pusat adalah riwayat PBLR (OR=2,176; 95% CI 1,155-4,098) dan tingkat pendapatan keluarga (OR= 0,388; 95% CI 0,201-0,749). Hasil analisis multivariat dengan analisis regresi logistik ganda menemukan bahwa capaian MAD merupakan faktor dominan dari kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Pusat tahun 2019 setelah dikontrol oleh variabel (capaian MDD, capaian MMF, riwayat PBLR dan tingkat pendapatan keluarga) (OR= 3,29; 95% CI 1,171-9,241). Berdasarkan hasil penelitian, saran untuk Pihak Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Pusat adalah perlu dilakukan intervensi rutin terkait PMBA, monitoring dan evaluasi program TTD pada bumil dan remaja putri untuk menurunkan prevalensi PBLR yang merupakan salah satu faktor risiko stunting di kehidupan selanjutnya, memperbanyak distribusi infantometer pada posyandu dan pelatihan kader terkait pengukuran panjang badan anak sesuai prosedur disertai pemantauan rutin status gizi PB/U anak 3-4 bulan sekali. Dikarenakan peran praktik pemberian makanan pada anak yang penting, kami menyarankan penelitian yang sejenis dengan skala yang lebih besar (jumlah sampel dan cakupan wilayah penelitian) untuk mencari tahu penyebab tidak tercapainya MAD.
Read More
S-9991
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Milannisa Widia Alam; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Trini Sudiarti, Anies Irawati
Abstrak: Pemberian MP-ASI yang buruk dalam hal jumlah maupun kualitas, memiliki efek buruk pada kesehatan dan pertumbuhan anak serta meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. Praktik pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) pada anak usia 6-23 bulan yang tidak tepat berupa tidak tercapainya minimum dietary diversity (MDD), minimum meal frequency (MMF), dan minimum acceptable diet (MAD). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain studi cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor determinan yang berhubungan dengan capaian minimum acceptable diet pada anak usia 6-23 Bulan di Jakarta Pusat tahun 2019. Hasil penelitian ini didapatkan dari data primer dengan jumlah sampel berjumlah 260 anak yang diambil menggunakan teknik multistage random sampling dari 13 posyandu pada 6 kelurahan dari 3 kecamatan di Jakarta Pusat. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dengan responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian minimum acceptable diet pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Pusat sebesar sebesar 38,1%. Pada hasil analisis bivariate dengan menggunakan uji chi-square ditemukan bahwa hanya terdapat satu faktor yang berhubungan dengan capaian MAD yaitu sikap ibu tentang praktik pemberian MP-ASI (OR = 1,912; 90% CI 1,142-3,292). Hasil analisis multivariate dengan menggunakan analisis regresi logistic ganda menemukan juga sikap ibu tentang praktik pemberian MP-ASI yang menjadi faktor determinan dari capaian MAD pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Pusat tahun 2019setelah dikontrol oleh variabel pengetahuan ibu tentang praktik pemberian MP-ASi, antenatal care, keterpaparan ibu terhadap media, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendapatan keluarga, dan jumlah anggota keluarga. Saran bagi Sudinkes Jakarta Pusat beserta perangkatnya adalah dengan memperkuat kebijakan dan mempromosikan program yang berfokus pada pemberian MP-ASI sedini mungkin, serta menyediakan sarana pendidikan untuk ibu guna meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu terkait praktik pemberian MP-ASI. Saran untuk peneliti lain adalah penelitian perlu dilakukan dalam skala yang lebih besar, serta perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan berfokus pada validasi cut-off MDD, MMF dan MAD serta seberaapa banyak makanan yang dapat dikategorikan terpenuhi dan disarankan melakukan food recall minimal 2 kali serta dapat membandingkan asupan makan anak terhadap AKG anak agar tergambar pola praktik MP-ASI.
Read More
S-9994
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jeanette Silvia Mataheru; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Khartini Kaluku, Horib
Abstrak:
Stunting pada anak usia 6–23 bulan merupakan masalah gizi kronis yang dapat berkaitan dengan praktik pemberian makan serta berbagai faktor anak, kesehatan, lingkungan, dan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan Minimum Dietary Diversity (MDD), Minimum Meal Frequency (MMF), Minimum Acceptable Diet (MAD), dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada anak usia 6–23 bulan di Provinsi Maluku. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Sampel penelitian terdiri atas 840 anak usia 6–23 bulan yang diperoleh melalui total sampling berdasarkan kriteria inklusi, eksklusi, dan kelengkapan data. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting sebesar 17,7%, sedangkan anak yang memenuhi MDD, MMF, dan MAD masing-masing sebesar 23,1%, 43,8%, dan 13,5%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara MMF (p = 0,032; OR = 1,517; 95% CI: 1,051–2,191), jenis kelamin (p = 0,016; OR = 1,582; 95% CI: 1,101–2,273), dan usia anak (p < 0,001; OR = 2,344; 95% CI: 1,510–3,638) dengan kejadian stunting. MDD (p = 0,845) dan MAD (p = 0,229) tidak menunjukkan hubungan dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa anak yang tidak memenuhi MMF (aOR = 1,648; 95% CI: 1,130–2,404), berjenis kelamin laki-laki (aOR = 1,621; 95% CI: 1,118–2,348), berusia 12–23 bulan (aOR = 3,103; 95% CI: 1,858–5,180), dan tinggal dalam rumah tangga dengan dua balita atau lebih (aOR = 1,793; 95% CI: 1,017–3,164) memiliki peluang lebih besar mengalami stunting. Pemberian vitamin A dipertahankan dalam model sebagai variabel perancu. Faktor paling dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah usia anak. Penguatan edukasi dan pendampingan praktik pemberian makan perlu diprioritaskan pada periode usia 12–23 bulan, terutama dalam pemenuhan frekuensi makan sesuai usia, disertai pemantauan pertumbuhan pada anak laki-laki dan anak yang tinggal dalam rumah tangga dengan dua balita atau lebih.

Stunting among children aged 6–23 months is a chronic nutritional problem that may be associated with feeding practices and various child, health, environmental, and household factors. This study aimed to analyze the associations of Minimum Dietary Diversity (MDD), Minimum Meal Frequency (MMF), Minimum Acceptable Diet (MAD), and other factors with stunting among children aged 6–23 months in Maluku Province. This study used a cross-sectional design and secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey. The study included 840 children aged 6–23 months selected through total sampling after applying the inclusion and exclusion criteria and assessing data completeness. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. The prevalence of stunting was 17.7%, while the proportions of children who met MDD, MMF, and MAD were 23.1%, 43.8%, and 13.5%, respectively. The bivariate analysis showed associations between MMF (p = 0.032; OR = 1.517; 95% CI: 1.051–2.191), sex (p = 0.016; OR = 1.582; 95% CI: 1.101–2.273), and child age (p < 0.001; OR = 2.344; 95% CI: 1.510–3.638) and stunting. MDD (p = 0.845) and MAD (p = 0.229) were not associated with stunting. The multivariate analysis showed that children who did not meet MMF (aOR = 1.648; 95% CI: 1.130–2.404), were male (aOR = 1.621; 95% CI: 1.118–2.348), were aged 12–23 months (aOR = 3.103; 95% CI: 1.858–5.180), and lived in households with two or more children under five (aOR = 1.793; 95% CI: 1.017–3.164) had higher odds of stunting. Vitamin A supplementation was retained in the final model as a confounding variable. Child age was the factor most strongly associated with stunting. Nutrition education and feeding assistance should be strengthened during the 12–23-month period, particularly regarding age-appropriate meal frequency, accompanied by growth monitoring for male children and children living in households with two or more children under five.
Read More
T-7594
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Supplement to The American J. of Clinical Nutrition (AJCN), Vol.83, No.4(S), April, 2006 : hal. 981s-984s
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
613.07 WOR r
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Reno Monalisa; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Asih Setiarini, Ratu Ayu Dewi Sartika, Anies Irawati, Tiara Luthfie
Abstrak: Pemberian MP-ASI yang berkualitas merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah stunting. Pemberian MP-ASI yang tidak berkualitas , memiliki efek buruk pada kesehatan dan pertumbuhan anak serta meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. MAD merupakan salah satu indikator penilaian MP-ASI, namun pada kenyataannya masih banyak anak dengan MAD tercapai yang dengan stunting. Tujuan Penelitian ini untuk mendapatkan gambaran kualitas pemberian MP-ASI pada anak stunting usia 6-23 bulan dengan Minimum Acceptable Diet (MAD) tercapai. Metode penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus, pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan observasi, informan utama adalah 6 ibu yang memiliki anak balita stunting usia 6-23 bulan yang MAD tercapai, serta 17 orang informan penting yang terdiri dari anggota keluarga lain, kader Posyandu, penjual bubur MP-ASI/makanan matang dan petugas gizi Puskesmas. Penelitian dilakukan di 4 Kelurahan Jakarta Pusat pada bulan Februari-Maret 2020. Hasil penelitian yaitu MP-ASI dengan indikator MAD tercapai namun kualitasnya belum baik karena tidak memenuhi AKG anak, pengetahuan ibu terkait MP-ASI cukup baik, tidak ada kepercayaan makanan tabu , sebagian besar ibu membeli bubur MP-ASI dan makanan matang untuk MP-ASI anak, sumber rujukan utama ibu dalam praktek pemberian MP-ASI adalah buku KIA, tidak ada hambatan trasnpostasi dalam mendapatkan bahan makanan, penghasilan suami yang tidak tetap menjadi hambatan dalam membeli MP-ASI. . Disarankan agar Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Pusat: melakukan Inovasi pembuatan aplikasi mobile, meningkatkan kegiatan penyegaran (refreshing) dan inovasi kegiatan sosialisasi MP-ASI , melakukan kegiatan inovasi dengan membentuk kelompok pendukung MP-ASI berkualitas, melakukan pembinaan, pemantauan ,penilaian dan menerbitkan sertifikat laik hygiene sanitasi jasaboga pada penjual bubur MP- ASI dan makanan matang.

Quality of complementary feeding practices is an effort to overcome stunting. Giving a poor quality complementary feeding ptactices, have a bad effect on child‟s health and growth. Minimum Acceptable Diet (MAD) is one of the indicators of complementary feeding assessment. This study was to represent the relationship between complementary feeding practices with stunting using MAD requirements. Qualitative research is conduct with case studies, data collection by in-depth interviews, and observations. Six mothers are the main respondent. The study was conducted in 4 Central Jakarta Sub-districts in February-March 2020. The results of the study are complementary feeding practices with poor quality. Maternal knowledge related to complementary feeding practices is quite, there is no belief in taboo, most of the mother buy complementary feeding. The basic references are mother and children healthcare handbook. From the results, there are no obstacles to get the food; the husband&#39;s income does not an resistance in buying complementary feeding. The conclusion of this study complementary feeding practices with poor quality.

 

Read More
T-5842
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitra Sistia; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rachmawati
Abstrak: Praktik pemberian makan bayi dan anak (PMBA) yang tidak tepat yangdikombinasikan dengan penyebab lain, seperti infeksi dan kekurangan makananberdampak pada sepertiga masalah malnutrisi. Indikator PMBA yang berupa minimumdiet diversity (MDD), minimum meal frequency (MMF), dan minimum acceptable diet(MAD) lebih terkait dengan pemberian makanan pendamping ASI yang memadai.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain studi cross sectional yang bertujuanuntuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan capaianminimum acceptable diet (MAD) pada anak usia 6-23 Bulan di Indonesia berdasarkananalisis data SDKI 2017. Hasil penelitian ini didapatkan dari data skunder SDKI 2017dengan jumlah sampel sebanyak 1592 responden yang diambil menggunakan tekniksimple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian minimumacceptable diet pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia sebesar 32,8%. Pada hasil analisisbivariat dengan menggunakan uji chi-square ditemukan bahwa terdapat faktor-faktoryang berhubungan dengan capaian MAD yaitu usia anak, pendidikan ibu, pendidikanayah, kuintil kekayaan, kunjungan ANC, kunjungan PNC, tempat persalinan, danketerpaparan media massa. Hasil analisis multivariat dengan menggunakan analisisregresi logistik ganda menemukan juga usia anak menjadi faktor dominan dari capaianMAD pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel status ibubekerja, pendidikan ibu, pendidikan ayah, kunjungan ANC dan tempat persalinan. Saranbagi Kementerian Kesehatan beserta jajarannya adalah dengan meningkatkan upayakonseling untuk ibu mengenai pentingnya praktik pemberian makan bayi dan anak yanglebih menyasar pada anak yang belum MP-ASI dan baru memulai MP-ASI. Saran untukpeneliti lain adalah penelitian perlu dilanjutkan dengan metode kuantitatif agar dapatmenggali informasi yang lebih dalam terkait penyebab tercapaianya MAD maupun tidaktercapainya MAD.
Kata kunci:Praktik PMBA, minimum acceptable diet, anak usia 6-23 bulan.
Read More
S-10511
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive