Ditemukan 26246 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Maj. Kedokteran Indo. ( MKI ), V0l.60, No.3, Maret 2010, hal. 133-138, ( Cat ada di bendel 1993-2010 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Media indonesia 2012: hal 03
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.55, No.3, Maret. 2005: hal. 197-202
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Majalah Dokter Keluarga (MDK), vol.4, No.4, Maret 1985. hal. 171-173
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Departemen Kesehatan
616.995021 IND p
Jakarta : Depkes & Kessos RI, 2000
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
R Evi Sofia Riani; Pembimbing : Putri Bungsu, Wahyono, Tri Yunis Miko; Penguji : Ritanenny ; Tjahjandi, Andang
Abstrak:
Penelitian ini menggunakan disain case control untuk melihat besar risiko anak yang tidak diimunisasi BCG untuk terkena TB Paru. Kasus dan kontrol adalah anak kota Sukabumi usia 0-5 tahun yang diperoleh dari laporan rutin program TB, imunisasi, KIA dan Gizi di dinas kesehatan kota Sukabumi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa anak yang tidak diimunisasi BCG memiliki risiko 3,270 kali lebih besar untuk terkena TB paru dibandingkan anak yang diimunisasi BCG. Sedangkan hasil analisis multivariat yang memasukkan variabel kunjungan neonatal sebagai variabel interaksi dan variabel berat badan lahir sebagai confounding menunjukkan bahwa anak yang tidak diimunisasi BCG dan kunjungan neonatal < 3 kali memiliki tingkat Risiko sebesar 5,63 kali lebih tinggi untuk terkena TB paru dibandingkan anak yang diimunisasi BCG dan kunjungan neonatal =3 kali (kelompok referens). Adapun tingkat risiko anak yang tidak diimunisasi BCG dan kunjungan neonatal = 3 kali adalah sebesar 1,13 kali lebih besar untuk terkena TB paru dibandingkan kelompok referens dan anak yang diimunisasi BCG namun kunjungan neonatal<3 memiliki tingkat risiko 4,99 kali lebih besar dari kelompok referens. Dari hasil tersebut diketahui bahwa efikasi vaksin BCG tanpa interaksi adalah dengan 67% sedangkan efikasi vaksin BCG dengan interaksi adalah 82%. ini berarti, efikasi vaksin di Kota Sukabumi mengalami peningkatan dengan adanya interaksi variabel kunjungan neonatal dengan imunisasi BCG. Kata kunci: Imunisasi BCG, TB Paru anak, Tuberculosis
This study used case control design to look at the risk of children not immunized with BCG for pulmonary tuberculosis. Case and control are children under 5 years old in Sukabumi City obtained from regular reports of TB program, immunization, KIA and Nutrition at health office in Sukabumi city. The result of bivariate analysis showed that children who were not immunized with BCG had a risk at 3.270 times higher to have pulmonary TB than children were immunized with BCG. While the results of multivariate analysis that included neonatal visit variables as interaction variables and born weight variables as confounding showed that children were not immunized with BCG and neonatal visits < 3 times had a Risk level at 5.63 times higher for pulmonary tuberculosis than immunized children BCG and neonatal visits = 3 times (reference group). The risk of children not immunized by BCG and neonatal visits = 3 times was 1.13 times higher for pulmonary tuberculosis than the referent group and children immunized with BCG but neonatal visits <3 had a risk level 4.99 times greater than the group Referens. From these results it is known that the efficacy of BCG vaccine without interaction is 67 % while the efficacy of BCG vaccine with interaction is 82 %. This means, the efficacy of vaccine BCG in Sukabumi City has increased with the interaction between neonatal visit variable and BCG immunization Key words: BCG Immunization, Pulmonary tuberculosis at Children, tuberculosis
Read More
T-4967
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ika Dewi Subandiyah; Pembimbing: Sudaryo, Mondastri Korib; Wahyono, Tri Yunis Miko; Wahyono; Penguji: Indah Raksi Padmasari, Henti Helpita
Abstrak:
Pengobatan TB- HIV memerlukan pengobatan sekaligus yakni OAT dan ARV untukmencegah progresivitas TB. Penelitian sebelumnya, kepatuhan terhadap kedua pengobatanmasih kurang. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum OAT danARV dengan progresivitas TB paru pada koinfeksi TB-HIV di Jakarta Selatan. Desain yangdigunakan adalah Kohort Retrospektif dengan menggunakan data yang berasal dari kartupengobatan TB dan ikhtisar perawatan HIV yang dimiliki pasien TB-HIV di puskesmas danRSUD di Jakarta Selatan tahun 2015-2017. Hasilnya adalah responden yang patuh minumkedua obat 56,8% , patuh ARV 13,5% ,patuh OAT 14,2 % dan tidak patuh keduanya 15,5 %.29,7% penderita koinfeksi TB HIV menunjukkan progresivitas sedangkan 70,3% tidak.Analisis cox regresi menunjukkan bahwa ada hubungan antara kepatuhan dengan progresivitasTB paru pada koinfeksi TB-HIV (p.0.000).Probabilitas survival pada responden yang tidakpatuh minum keduanya 17.4 %, patuh minum ARV saja 30,6%,patuh OAT saja 69,7% danpatuh keduanya 88,4%. Resiko untuk progresif pada responden yang tidak patuh minum keduaobat adalah 24 kali(HR 24.56;95 % CI 9.49-63.53). Resiko responden yang patuh minum ARVsaja 8,6 kali(HR 8,59; 95 % CI 3.15-23.42) dan resiko yang patuh minum OAT saja 3,3 kali(HR3.3; 95% CI 1.01-10.97).
Read More
T-5169
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kliping koran Seputar indonesia 2012: hal 31
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gusnilawati; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono, Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Felly Philipus Senewe
T-2344
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kenti Friskarini, Helper Sahat Manalu
BPK Vol.42, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
