Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 24246 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hafizah; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Dian Ayubi, Kusminanti, Yuni
Abstrak: Penelitian ini membahas pengembangan website edukasi untuk meningkatkan kewaspadaan mahasiswa terhadap keselamatan kebakaran di FKM UI dengan 3 tahap utama yakni (1) Identifikasi kebutuhan dan permintaan upaya peningkatan kewaspadaan mahasiswa di FKM UI; (2) Analisis peluang pengembangan website edukasi; (3) Perancangan dan pengembangan prototype website edukasi; (4) Simulasi prototype website untuk melihat respon mahasiswa. Penelitian menggunakan gabungan metode kuantitatif dan kualitatif dengan desain cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan adanya kebutuhan dan permintaan peningkatan kewaspadaan mahasiswa terkait keselamatan kebakaran di FKM UI, terdapat peluang dan hambatan untuk mengembangkan website edukasi di FKM UI, dan ada respon positif terhadap prototype website edukasi keselamatan kebakaran FKM UI.
Read More
S-7589
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tegar Septyan Hidayat; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Rita Damayanti, Dhanasari Vidiawati; Penguji: Tris Eryando, Ermita Isfandiary Ibrahim, Leonardo Lubis, Heru Purnomo Ipung, Harimat Hendarwan
Abstrak:
Latar Belakang: Urgensi mengoptimalkan jendela kesempatan (window of opportunity) generasi muda khususnya mahasiswa dalam program promosi kesehatan holistik sejak dini terutama dalam aspek aktifitas fisik, konsumsi sayur dan buah, kualitas tidur, dan kesehatan mental/kebahagiaan. Tujuan :Meningkatkan perilaku hidup sehat pada mahasiswa melalui solusi gameful metaverse. Metode: Menggunakan IDE (Identifikasi, Desain, Eksekusi-Evaluasi), yaitu identifikasi pengguna di fase awal, yang kemudian menuju fase desain yang berisi pengembangan prototipe digital yang diuji di fase eksekusi-evaluasi. Pada fase evaluasi, pengujian dilakukan melalui studi eksperimental berbasis randomisasi yang dibedakan menjadi dua grup yaitu grup intervensi yang mendapatkan intervensi langsung gameful metaverse dan grup kontrol non intervensi selama jangka waktu lima minggu. Hasil: Penelitian ini menghasilkan GAR (GameAsReality)-verse yang menggunakan prinsip gameful metaverse dengan bentuk teknologi digital yang mendorong pengguna untuk melakukan gaya hidup sehat melalui berbagai fitur yang ada. Inovasi ini mampu mendorong perubahan rata-rata perilaku hidup sehat pada keseluruhan aspek luaran sebesar 12,7 % (p-value < 0,05) selama jangka waktu lima minggu. Hasil ini signifikan untuk masing-masing luaran. Untuk luaran aktivitas fisik terdapat perubahan yang signifikan antar kelompok intervensi dan kontrol (p-value <0,05) sebesar 15,4%. Untuk kualitas tidur, terdapat perubahan yang signifikan antar kelompok intervensi dan kontrol (p<0,05) sebesar 16,7%. Untuk total konsumsi sayur dan buah, terdapat perubahan yang signifikan antar kelompok intervensi dan kontrol (p<0,05) sebesar 10,4%. Untuk tingkat kebahagiaan, terdapat perubahan yang signifikan antar kelompok intervensi dan kontrol (p<0,05) sebesar 16%. Dari hasil yang didapatkan ini, bisa disimpulkan bahwa penelitian ini telah berhasil menjawab tujuan penelitian yang ditetapkan.

Background: The urgency to optimize window of opportunity for the young generation, especially college/university students, in holistic health promotion programs from an early age, especially in the aspects of physical activity, consumption of vegetables and fruit, quality of sleep, and wellbeing/happiness. Objective : Improving healthy living behavior in college students through gameful metaverse solutions. Method: Using methodology iterative steps IDE (Identification, Design, Execution-Evaluation), starting from user identification in the initial phase, which then goes to the design phase which contains the development of digital prototypes that are tested in the execution-evaluation phase. In the evaluation phase, testing was carried out through a randomized-based experimental study which was divided into two groups, the intervention group that received gameful metaverse direct intervention and the non-intervention control group, for a period of five weeks. Results: This research produces a GAR (GameAsReality)-verse that uses the gameful metaverse principle in the form of digital technology that encourages users to adopt a healthy lifestyle through various innovative features. This innovation was able to encourage changes in the average healthy lifestyle in all aspects of outcome by 12.7% (p-value <0.05) over a period of five weeks. This result is significant for each outcome. For physical activity outcomes, there was a significant change between the intervention and control groups (p-value <0.05) of 15.4%. For sleep quality, there was a significant change between the intervention and control groups (p<0.05) of 16.7%. For total vegetable and fruit consumption, there was a significant change between the intervention and control groups (p<0.05) of 10.4%. For the level of happiness, there was a significant change between the intervention and control groups (p<0.05) of 16%. From the results obtained, it can be concluded that this study has successfully answered the research objectives.
Read More
D-484
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Hapsari Tjandrarini; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso, Anhari Achadi; Penguji: Amal C. Sjaaf, Minarto, Trihono, Soewarta Kosen
D-268
Depok : FKM UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rakhmat Soebekti; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: Fatma Lestari; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Indri Hapsari Susilowati, Adang Bachtiar, Audist Indirasari Subekti, Danang Insita Putra, Lana Saria
Abstrak:
Pekerjaan memadamkan kebakaran adalah sebuah pekerjaan yang penuh resiko bahaya dan petugas pemadam kebakaran (damkar) memiliki resiko kecelakaan kerja yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan pekerja lainnya. Sebagai pekerja penting di bidang keselamatan, semua petugas damkar dituntut harus selalu fit dan sehat secara fisik dan mental ketika menjalankan tugasnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menetapkan faktor penentu fitness untuk bekerja petugas damkar dalam rangka pengembangan sebuah program evaluasi fitness bekerja, dan sekaligus untuk melakukan analisa atas hubungan nya dan prediksinya terhadap status fitness untuk bekerja. Target penelitian ini melibatkan seluruh petugas damkar tingkat operasional (n = 473) kota-kota industri perusahaan “X” di Qatar. Desain embedded mixed methods telah digunakan dalam penelitian ini, serta analisa deskriptif dan inferential (bivariat & multivariat/multiple linier regresi) juga telah digunakan untuk meng analisa faktor-faktor penentu dan gabungan nya terhadap status fitness untuk bekerja petugas damkar. Hasil penelitian ini mendukung adanya beberapa faktor penentu yang memiliki hubungan asosiasi secara statistik terhadap status fitness untuk bekerja (P Value < 0.001), dan gabungan faktor-faktor penentu juga dapat memberi lebih baik prediksi fitness bekerja petugas damkar. Disamping penelitian ini telah memberikan gambaran kuat hubungan dan prediksi yang lebih baik antara faktor penentu dan status fitness bekerja petugas damkar, studi ini juga mengusulkan sebuah program evaluasi baru yang didukung secara empiris.

Firefighting is a hazardous profession and firefighters suffer workplace injury at a higher rate than most other workers. As a safety critical job, all firefighters are required to always be fit and healthy physically and mentally while performing their task. The purpose of the research is to identify the determinant factors of firefighter’s fitness for duty, in order to develop an evaluation program of firefighter’s fitness for duty, and to analyse the association and the prediction on the status of fitness for duty. The research target encompassed the whole operational firefighters (n = 473) across Industrial Cities at Company “X” in Qatar. The embedded mixed methods design was used in this research and the descriptive as well as inferential (bivariate & multivariate/multiple linier regression) analysis were utilized to analyse the determinant factors, and its composite to the fitness for duty status. The research supported the determinant factors which have a significant association with fitness for duty status (P Value < 0.001), and the combined determinant factors can provide a better prediction of firefighter’s fitness for duty. Given a strong association and better prediction between the combined determinant factors and the status of fitness for duty, and this study has also suggested a new evaluation standard program throughout a research based.
 
Read More
D-547
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Nadi Astuti; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Fatma Lestari, Johny Wahyuadi Mudaryoto, Lana Saria, Herlina J. EL-Matury, Ayende, Ridha Renaldi
Abstrak:
Industri petrokimia merupakan sektor berisiko tinggi yang membutuhkan penerapan sistem manajemen keselamatan dan budaya keselamatan yang matang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model maturitas budaya keselamatan yang sesuai untuk industri petrokimia di Indonesia. Model ini mengadaptasi teori Hudson, Fleming, Parker et al., dan Filho, serta menggambarkan lima tingkat kematangan budaya keselamatan, dari tingkat “Dasar” hingga “Berkelanjutan.”. Melalui pendekatan multidimensi, dikembangkan kerangka dan instrumen penilaian yang valid dan reliabel dengan lima dimensi utama: Komitmen, Komunikasi, Informasi, Keikutsertaan Karyawan, dan Pembelajaran Organisasi. Penelitian ini menemukan bahwa semua perusahaan dalam sampel telah mencapai tingkat “Berkelanjutan,” khususnya pada aspek Komitmen dan Pembelajaran Organisasi. Namun, Keikutsertaan Karyawan masih menjadi aspek yang perlu ditingkatkan. Hasil juga menunjukkan bahwa perusahaan multinasional dan penanggung jawab keselamatan menunjukkan pemahaman budaya keselamatan yang lebih baik. Model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat praktis untuk menilai dan meningkatkan strategi keselamatan berkelanjutan di sektor petrokimia, mendorong keterlibatan aktif pekerja, serta memperkuat efektivitas sistem manajemen keselamatan proses.

The petrochemical industry is a high-risk sector requiring a mature implementation of safety management and safety culture. This study aims to develop a safety culture maturity model tailored to the Indonesian petrochemical industry. The model adapts the theoretical frameworks of Hudson, Fleming, Parker et al., and Filho, and describes five levels of safety culture maturity, from "Basic" to "Sustainable." A multidimensional approach was used to develop a valid and reliable assessment framework and instrument comprising five key dimensions: Commitment, Communication, Information, Employee Participation, and Organizational Learning. Findings show that all sampled companies have reached the “Sustainable” level, particularly in Commitment and Organizational Learning. However, Employee Participation remains an area needing improvement. The study also reveals that multinational companies and safety officers demonstrate a stronger understanding of safety culture. The developed model serves as a practical tool for evaluating and improving sustainable safety strategies in the petrochemical sector, enhancing employee engagement, and strengthening the effectiveness of process safety management systems.
Read More
D-604
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Monik Purnamasari; Promotor: Ahmad Syafiq; Kopromotor: Besral; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Endang Laksminingsih Achadi, Trini Sudiarti, Asih Setiarini, Leonardo Lubis
Abstrak:
Latar Belakang: Kejadian obesitas pada remaja terus meningkat di Indonesia. Kadet mahasiswa Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) adalah remaja yang perlu diperhatikan status gizinya karena merupakan komponen cadangan dalam pertahanan negara yang siap dimobilisasi kapan saja. Salah satu penentuan status gizi adalah berdasarkan pemeriksaan antropometri, termasuk komposisi tubuh. Penelitian di luar negeri menunjukan bahwa pelatihan dasar militer memengaruhi komposisi tubuh yang berkaitan dengan performa fisik tentara. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh 12 minggu pelatihan dasar militer terhadap antropometri, serta untuk mengetahui model prediksi total dan delta persentase lemak tubuh (PLT) pada kadet mahasiswa Unhan RI. Metode: Studi ini adalah studi kuantitatif dengan metode Pre-Experimental One-Group Pretest-Posttest Design pada 111 wanita and 146 pria mahasiswa Unhan RI yang mengikuti pelatihan dasar militer yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-September 2023. Variabel bebas dalam studi ini adalah Skinfold Thickness (ST), skor Z Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap umur, lingkar pinggang, kualitas tidur, kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan PLT prapelatihan, dengan variabel terikat delta dan total persentase lemak tubuh pascapelatihan dasar militer. Perbedaan variabel bebas sebelum dan setelah pelatihan diuji dengan Dependent T-Test. Uji korelasi Pearson dilakukan dan dilanjutkan dengan uji multivariat regresi linier berganda untuk memeroleh model prediksi delta PLT dan total PLT pascapelatihan dasar militer. Hasil: Pelatihan dasar militer secara signifikan berpengaruh menurunkan lingkar pinggang, skinfold thickness, skinfold trisep, skinfold bisep, skinfold suprailiaka, skinfold subscapular ke arah ideal, tetapi secara signifikan meningkatkan berat badan dan status gizi berdasarkan skor Z IMT kadet mahasiswa pria Unhan RI ke arah tidak ideal. Pelatihan dasar militer tidak berpengaruh terhadap kualitas tidur, kadar lemak subkutan, PLT, massa otot skeletal kadet mahasiswa Unhan RI pria di Indonesia. Pelatihan dasar militer pada kadet wanita Unhan RI secara signifikan berpengaruh menurunkan PLT, lingkar pinggang, skinfold thickness, skinfold trisep, skinfold bisep, skinfold suprailiaka, skinfold subscapular ke arah ideal, meningkatkan massa otot skeletal ke arah ideal, tetapi meningkatkan berat badan dan status gizi berdasarkan skor Z IMT ke arah tidak ideal. Pelatihan dasar militer tidak berpengaruh terhadap kualitas tidur dan kadar lemak subkutan kadet mahasiswa Unhan RI wanita di Indonesia. Model prediksi delta persentase lemak tubuh pascapelatihan dasar militer di Indonesia pada kadet mahasiswa Unhan RI wanita adalah “Delta PLT= 4.829-0.103*ST-0.537*Z IMT” dengan kemampuan variabel menjelaskan PLT sebesar 53.8%, sedangkan pada pria adalah “Delta PLT= 5.313-0.106* ST-0.497*Z IMT-8.051E-5*Aktivitas Fisik” dengan kemampuan variabel menjelaskan PLT sebesar 56.5%. Model prediksi total persentase lemak tubuh pascapelatihan dasar militer di Indonesia pada kadet mahasiswa Unhan RI wanita adalah “PLT Total Pascapelatihan = 12.034 + 0.535*PLT prapelatihan” dengan kemampuan variabel menjelaskan PLT sebesar 76.8%, sedangkan pada pria adalah “PLT= 6.368 - 0.072*ST + 0.7*PLT prapelatihan + 0.004*karbohidrat - 7.951E-5*Aktivitas Fisik” dengan kemampuan variabel menjelaskan PLT sebesar 81.3%. Kesimpulan: Komposisi tubuh kadet mahasiswa S1 pria dan wanita Unhan RI membaik setelah pelatihan dasar militer. Prediktor paling kuat terhadap kadar PLT total dan delta PLT pada pria adalah lingkar pinggang dan PLT prapelatihan, sedangkan pada wanita prediktor paling kuat terhadap kadar PLT total dan delta PLT adalah skor Z IMT terhadap umur dan PLT prapelatihan.

Background: The incidence of obesity in adolescents continues to increase in Indonesia. The nutritional status of Republic of Indonesia Defense University (RIDU) cadets is important to be monitored because they are reserve components in national defense that ready for mobilization anytime. Anthropometric examination is one of nutritional assessment, including body composition analysis. Research abroad showed that basic combat training altered body composition related to army physical performance. Objective: This study aims to assess the effect of 12-weeks Basic Combat Training (BCT) on the anthropometry and to determine the total and delta body fat percentage (BFP) prediction model of RIDU cadets after basic combat training in Indonesia. Method: This study is a quantitative study using the Pre-Experimental Model One-Group Pretest-Posttest Design method with 111 female and 146 male students from the RIDU who participated in basic combat training that fullfilled the inclusion and exclusion criteria. The study was conducted in May-September 2023. The independent variables in this study were Skinfold Thickness (ST), Body Mass Index (BMI) for age, Waist Circumference (WC), sleep quality, eating habits, physical activity, and BFP before training, with dependent variable were the delta and total body fat percentage after basic combat training. Differences in independent variables before and after training were analysed by using Dependent T-Test. The Pearson correlation test was carried out and followed by a multivariate multiple linear regression test to obtain delta and total body fat percentage predictive model formula after basic combat training. Results: Basic combat training significantly reduces waist circumference, skinfold thickness, triceps skinfold, biceps skinfold, suprailiac skinfold, subscapular skinfold toward ideal values but significantly increases body weight and nutritional status based on BMI Z-scores toward less ideal levels for male Unhan RI cadets. BCT has no effect on sleep quality, subcutaneous fat levels, BFP, skeletal muscle mass of male RIDU cadets. In female, BCT significantly reduces body fat percentage (BFP), waist circumference, skinfold thickness, triceps skinfold, biceps skinfold, suprailiac skinfold, subscapular skinfold towards ideal values, and increases skeletal muscle mass towards ideal levels. However, it also increases body weight and nutritional status based on BMI Z-scores toward less ideal levels. BCT has no effect on sleep quality and subcutaneous fat levels of female RIDU cadets. The delta predictive model formula for body fat percentage after basic combat training in Indonesia for female RIDU cadet was "Delta BFP = 4.829-0.103*ST-0.537*BMI age" with the variables ability to explain BFP was 53.8%, while in men the predictive model formula was "Delta BFP= 5.313-0.106*ST-0.497*BMI age-8.051E-5*Physical activity" with the ability of the variables to explain BFP was of 56.5%. Predictive model formula of total body fat percentage after basic military training in Indonesia in female cadet was “total BFP after BCT = 12.034 + 0.535*BFP before BCT” with variable's ability to explain BFP was 76.8%, while for male the total predictive model formula was “total BFP after BCT = 6.368 - 0.072*ST + 0.7* BFP before BCT + 0.004*Carbohydrate - 7.951E-5*Physical Activity” with variable’s ability to explain BFP was 81.3%. Conclusion: Body composition among female and male RIDU cadets were improved after basic combat training. The strongest predictor of total BFP and delta BFP level in male were waist circumference and BFP before training, while in female the strongest predictor of total BFP and delta BFP level were Z-score BMI for age and BFP before training.
Read More
D-546
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng P. Pramayu; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Besral, Dadan Erwandi; Penguji: Bambang Wispriyono, Hendra, Danang Insita Putra, Gama Widyaputra, Suparni
Abstrak:
Posisi geografis Indonesia pada jalur Cincin Api Pasifik menimbulkan risiko bencana alam tinggi bagi sektor pertambangan batubara yang beroperasi di wilayah rawan. Sektor pertambangan batubara belum memiliki instrumen penilaian komprehensif untuk mengevaluasi Emergency Management Capability (EMC) yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP). Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen EMC guna mengukur kesiapsiagaan organisasi terhadap potensi kondisi darurat seperti ledakan, longsor, dan banjir. Melalui desain mixed methods dengan pendekatan explanatory sequential, pengembangan instrumen ini merujuk pada Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral No. 185 (2019) dan No. 10 (2023), serta International Organization for Standardization (ISO) 22320:2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EMC terdiri dari lima variabel, yaitu identifikasi dan penilaian potensi keadaan darurat, pencegahan, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan keadaan darurat. Instrumen terbukti valid dan reliabel. Pembobotan berbasis Confirmatory Factor Analysis (CFA) menunjukkan kesiapsiagaan keadaan darurat sebagai dimensi dominan (35%). Penelitian ini juga menghasilkan klasifikasi tingkat kapabilitas EMC ke dalam lima level, yaitu dasar, reaktif, terencana, proaktif, dan adaptif atau resilient. Selain itu, hasil pengukuran EMC dapat diintegrasikan ke dalam audit SMKP Minerba. Instrumen AJENG diharapkan dapat digunakan sebagai alat evaluasi untuk memetakan kesiapan organisasi, memperkuat mitigasi, dan meningkatkan pengelolaan kedaruratan pada pertambangan batubara.

Indonesia’s location along the Pacific Ring of Fire exposes coal mining operations to significant disaster risks. However, the sector lacks a comprehensive instrument for assessing Emergency Management Capability (EMC) that is integrated with the Mining Safety Management System (SMKP). This study aimed to develop an EMC assessment instrument to measure organizational preparedness for potential emergencies, including explosions, landslides, and flooding. A mixed-methods study using an explanatory sequential design was conducted. Instrument development was guided by the Decree of the Director General of Mineral and Coal No. 185 of 2019, No. 10 of 2023, and ISO 22320:2018. The results identified five EMC dimensions: emergency identification and risk assessment, prevention, preparedness, response, and recovery. The AJENG instrument demonstrated satisfactory validity and reliability. Confirmatory Factor Analysis (CFA) indicated that preparedness was the most influential dimension, accounting for 35% of the overall construct. The study also established five EMC capability levels: Basic, Reactive, Planned, Proactive, and Adaptive (Resilient). Furthermore, EMC assessment results can be integrated into the SMKP audit framework. The AJENG instrument is expected to support organizational preparedness assessment, strengthen risk mitigation, and enhance emergency management performance in the coal mining sector.
Read More
D-628
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meiyanti; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Besral, Rina Kurniasri Kusumaratna; Penguji: Adang Bachtiar, Raden Rara Diah Handayani, Vivian Soetikno, Maxi Rein Rondonuwu, Henry Candra
Abstrak:
Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Indonesia tahun 2023 belum mencapai target 90%. Keberhasilan pengobatan berdampak terhadap penurunan penyebaran infeksi dan kasus resistensi obat, sehingga perlu untuk memprediksi keberhasilan pengobatan lebih dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendekatan pembelajaran mesin untuk prediksi keberhasilan pengobatan. Penelitian ini menggunakan data kohort Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Indonesia. Pasien usia produktif (15-64 tahun) terdiagnosis tuberkulosis sensitif obat dan mendapatkan pengobatan dari 1 Januari 2020 sampai 31 Desember 2023 diikutsertakan dalam penelitian ini. Data dikelompokkan secara acak ke dalam set data pelatihan untuk membangun model (80%) dan set data pengujian untuk validasi model (20%), dan dilakukan validasi silang untuk data. Algoritma yang digunakan meliputi decision tree, random forest, multilayer perceptron, extreme gradient boosting, dan logistic regression. Dilakukan konsensus untuk pengambilan keputusan variabel yang diperlukan dalam melakukan pemodelan berbasis pembelajaran mesin dari data SITB untuk memprediksi keberhasilan pengobatan dengan menggunakan metode Delphi. Hasil dari penelitian model algoritma pembelajaran mesin random forest menunjukkan kinerja terbaik dan akurasi tertinggi dalam memprediksi keberhasilan pengobatan. Aplikasi prediksi berbasis pembelajaran mesin dapat memberikan prediksi dini dengan interpretasi berbasis SHAP (SHapley Additive ExPlanations) yang memudahkan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan.

The tuberculosis treatment success rate in Indonesia in 2023 did not reach the 90% target. Treatment success impacts the reduction of infection spread and drug resistance cases, making early prediction of treatment success crucial. This study aims to develop a machine-learning model to predict treatment success. Data from Indonesia's Tuberculosis Information System (SITB) cohort was used. The study included productive-age patients (15-64 years) diagnosed with drug-sensitive tuberculosis who received treatment from January 1, 2020, to December 31, 2023. Data was randomly split into training (80%) and testing (20%) sets for model validation, with cross-validation performed. The algorithms used include decision tree, random forest, multilayer perception, extreme gradient boosting, and logistic regression. A consensus was reached for decision-making variables required in performing machine learning-based modeling of SITB data to predict treatment success using modeling of SITB data to predict treatment success using the Delphi method. The results of the study show that the random forest machine learning algorithm had the best performance and highest accuracy in predicting treatment success. This machine learning–based prediction tool can provide early predictions with SHAP (SHapley Additive ExPlanations) interpretation, helping healthcare workers make informed decisions more easily.

 

Read More
D-573
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Meutia Sari; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Besral, Triya Damayanti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Evi Martha, Putri Bungsu, Eva Susanti, Chandra Rudyanto, Arief Bakhtiar
Abstrak:
Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering tidak terdeteksi pada tahap awal, terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dibutuhkan instrumen skrining yang valid, sederhana dan mudah yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia untuk meningkatkan penemuan kasus secara dini. Penelitian ini bertujuan menyusun dan mengembangkan instrumen skrining PPOK baru, yaitu TAMI (insTrumen skrining PPOK pAda Masyarakat berIsiko), serta membandingkan validitasnya dengan instrumen PUMA (Prevalence Study and Regular Practice, Diagnosis and Treatment Among General Practitioners in Populations at Risk of COPD). Metode: Penelitian menggunakan desain exploratory sequential mixed methods, dimulai dengan penelitian kualitatif dan dilanjutkan dengan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif menggunakan pendekatan qualitative case study dalam kerangka general inquiry, dilakukan melalui wawancara mendalam dan panel expert judgment untuk menyusun instrumen baru. Penelitian kuantitatif menggunakan desain studi kasus-kontrol, melibatkan 200 responden (100 kasus dan 100 kontrol) berisiko PPOK yang berkunjung ke Poliklinik Paru RSUD Jakarta pada Januari-Mei 2025 untuk pengisian instrumen dan pemeriksaan spirometri sebagai gold standard. Analisis mencakup uji bivariat dan multivariat, serta uji sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (PPV), nilai prediksi negatif (NPV), Youden Index, dan area under the curve (AUC). Hasil: Instrumen TAMI menunjukkan kinerja diagnostik yang baik dengan AUC 0,773, serta keseimbangan sensitivitas dan spesifisitas yang stabil. Instrumen PUMA memiliki AUC 0,736 dengan sensitivitas dan spesifisitas lebih rendah dibandingkan TAMI. Nilai PPV dan NPV yang lebih besar pada TAMI juga menunjukkan kemampuan diskriminasi yang lebih baik dalam mengidentifikasi dan membedakan kasus PPOK dibandingkan PUMA. Kesimpulan: Instrumen TAMI terbukti valid dan dapat menjadi alat skrining PPOK yang lebih sesuai digunakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di Indonesia. TAMI juga lebih praktis sebagai instrumen skrining PPOK untuk penggunaan rutin di masyarakat. Implementasi TAMI di FKTP diharapkan meningkatkan penemuan kasus PPOK dan memperkuat upaya pencegahan serta edukasi pada masyarakat berisiko.

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a major public health problem that is often underdiagnosed in its early stages, particularly in primary healthcare settings. A valid, simple, and user-friendly screening instrument tailored to population characteristics in Indonesia is needed to improve early case detection. This study aimed to develop a new COPD screening tool, TAMI (insTrumen skrining PPOK pAda Masyarakat berIsiko), and to compare its validity with the PUMA instrument (Prevalence Study and Regular Practice, Diagnosis and Treatment Among General Practitioners in Populations at Risk of COPD). Methods: This study employed an exploratory sequential mixed-methods design, beginning with a qualitative phase followed by a quantitative phase. The qualitative phase used a qualitative case study approach within a general inquiry framework, conducted through in-depth interviews and expert judgment panels to construct the new instrument. The quantitative phase applied a case–control study design involving 200 respondents (100 cases and 100 controls) at risk for COPD who attended the Pulmonary Clinic of RSUD Jakarta between January and May 2025. All respondents completed the screening instruments and underwent spirometry as the gold standard. Data analysis included bivariate and multivariate testing, as well as assessment of sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), negative predictive value (NPV), Youden Index, and area under the curve (AUC). Results: The TAMI instrument demonstrated strong diagnostic performance with an AUC of 0.773 and a stable balance between sensitivity and specificity. The PUMA instrument showed a lower AUC of 0.736, along with lower sensitivity and specificity compared with TAMI. Higher PPV and NPV values for TAMI further indicated superior discriminatory ability in identifying and excluding COPD cases compared with PUMA. Conclusion: The TAMI instrument is valid and suitable for use as a COPD screening tool in primary healthcare facilities in Indonesia. It also offers practical advantages for routine community-based screening. Implementation of TAMI in primary healthcare settings is expected to enhance early COPD detection and strengthen preventive and educational efforts among at-risk populations.
Read More
D-608
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Felly Philipus Senewe;; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Anhari Achadi; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Trihono, Ella Nurlaela Hadi, Syahrizal Syarif, Delina Hasan
D-288
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive