Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33582 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Itsna Masyuha; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Mijadid
S-7622
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annabel Serafina; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Dion Zein Nuridzin
Abstrak:
Latar Belakang: Pneumonia menyebabkan banyak kematian pada anak-anak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pneumonia menyebabkan sebanyak 15,3% kematian pada anak usia 29 hari–11 bulan dan 12,5% kematian pada anak balita usia 12–59 bulan di Indonesia pada tahun 2022. Di Provinsi Jawa Timur, prevalensi pneumonia balita mencapai 3,32%, lebih tinggi dari prevalensi nasional sebesar 1,56%. Hal ini menjadikan Provinsi Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi pneumonia balita tertinggi ketiga di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mendapatkan pola sebaran kasus pneumonia dan faktor risikonya pada balita di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan analisis autokorelasi spasial global dan lokal menggunakan Moran’s I. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya autokorelasi spasial imunisasi dasar lengkap dengan kasus pneumonia pada balita. Kasus pneumonia pada balita membentuk pola mengelompok dengan variabel kepadatan penduduk, ASI eksklusif, suplementasi vitamin A, penggunaan bahan bakar utama untuk memasak yang berisiko, dan keberadaan puskesmas. Sementara itu, kasus pneumonia pada balita membentuk pola menyebar dengan variabel penduduk miskin, berat badan lahir rendah, dan gizi buruk. Kesimpulan dan Saran: Kasus pneumonia pada balita dan faktor-faktor risikonya membentuk pola yang berbeda-beda. Pencegahan dan pengendalian pneumonia pada balita dapat disesuaikan dengan karakteristik dari masing-masing kabupaten/kota.

Background: Pneumonia causes many deaths in children throughout the world, including in Indonesia. Pneumonia causes 15.3% of deaths in children aged 29 days–11 months and 12.5% of deaths in children aged 12–59 months in Indonesia in 2022. In East Java Province, the prevalence of pneumonia in under-five children reached 3.32%, higher than the national prevalence of 1.56%. This makes East Java Province the province with the third highest prevalence of under-five children pneumonia in Indonesia. Objective: This study aims to obtain patterns of pneumonia cases and risk factors among under-five children in East Java Province in 2022. Methods: This study uses an ecological study design with global and local spatial autocorrelation analysis using Moran's I. Results: The results show spatial autocorrelation in complete basic immunization in cases of pneumonia in under-five children. Pneumonia cases in under-five children form a pattern that clusters with population density, exclusive breastfeeding, vitamin A supplementation, risky use of primary fuel for cooking, and the presence of community health centers. Meanwhile, cases of pneumonia in under-five children form a widespread pattern with variables such as poverty, low birth weight, and poor nutrition. Conclusions and Recommendations: Pneumonia cases in under-five children and their risk factors form different patterns. Prevention and control of pneumonia in under-five children can be adjusted to the characteristics of each regency/city.
Read More
S-11666
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosita Putri Mayliana; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Artha Prabawa, Rahmadewi
Abstrak: Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penyumbang AKI terbesar diIndonesia dan memiliki angka komplikasi persalinan yang cukup tinggi, yaitu22,2%. Kejadian komplikasi persalinan banyak terjadi pada ibu yang melahirkan bukan dengan tenaga kesehatan (46%). Penelitian ini merupakan analisis data SDKI 2012 dengan sampel sebanyak 1.609 wanita usia subur (15-49 tahun).Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penolong persalinan dengan kejadian komplikasi persalinan di Jawa Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ibu yang melahirkan bukan dengan tenaga kesehatan berisiko 7,948 kali lebih tinggi untuk mengalami komplikasi persalinandibandingkan dengan ibu yang melahirkan dengan tenaga kesehatan setelah dikontrol oleh variabel riwayat komplikasi persalinan, tempat persalinan,kunjungan neonatal, dan akses informasi.
Kata kunci : Komplikasi persalinan, penolong persalinan, wanita usia subur
West Java is one of the largest province which contribute to maternal mortality inIndonesia and has a number of labor complications are quite high, 22.2%.Incidence of labor complications common in mothers who gave birth not byhealth workers (46%). This study is an analysis of data IDHS 2012 with a sampleof 1,609 women of childbearing age (15-49 years). This study aimed to determinethe relationship between the incidence of labor complications with the birthattendants in West Java. The analysis showed that mothers who give birth ratherthan by health workers 7.948 times higher risk to develop complications of laborcompared with women who gave birth by health professionals after beingcontrolled by a variable history of childbirth complications, place of delivery,neonatal visits, and access to information.
Keywords : Labor complication, birth attendants, women of childbearing age
Read More
S-8179
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Sari Wanodya; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Rico Kurniawan, Fresty Cahya Maulina
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui secara spasial kejadian diare balita di wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2019. Data pada penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat open source dari Dinas Kesehatan Jawa Barat dan BPS Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan analisis spasial. Persentase diare balita tertinggi berada di Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan diikuti oleh Kabupaten Garut.
Read More
S-10859
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alphyyanto Eko Sutrisno; Pembimbing: Martya Rahmaniati; Penguji: Irwan Ariawan, Sudijanto Kamso, Tri Riana Lestari, Vivi Voronika
Abstrak: Pendahuluan Penyakit difteri masih menyebar di Indonesia. Provinsi Jawa Barat memiliki jumlah penduduk terbanyak berada di peringkat kedua di Indonesia. Difteri bersifat menyebar antar wilayah dengan cepat sehingga perlu analisis yang mencakup hubungan antar wilayah. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran difteri dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran difteri dari satu kabupaten/kota ke kabupaten/kota lain di Jawa Barat. Metode Penelitian ini adalah crossectional dengan analisis multivariat menggunakan regresi autokorelasi spasial. Populasi yang digunakan seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat berjumlah 27 dan menggunakan data bersumber dari BPS tahun 2017 dan Profil Kesehatan tahun 2018. Hasil Sebaran jumlah penemuan kasus difteri yang tinggi di Jawa Barat cenderung berkumpul di wilayah barat dengan nilai indeks Moran 0,2554. Terdapat 7 kabupaten/kota di kuadran 1, terdapat 6 kabupaten/kota di kuadran 2, dan sisanya 15 kabupaten/kota di kuadran 3. Variabel yang berpengaruh adalah Jumlah Tenaga Kesehatan Lingkungan (koefisien = 0,174), Riwayat Balita yang Pernah Diimunisasi DPT (koefisien = -0,559), dan Rumah Tangga yang Memiliki Air Bersih yang Layak (koefisien = -0,300), serta pengaruh dari wilayah disekitarnya (koefisien = 0,362). Pembahasan Jumlah tenaga kesehatan lingkungan dapat menambah pengetahuan dan kemauan masyarakat untuk berobat sehingga akan meningkatkan jumlah penemuan kasus difteri. Imunisasi DPT dapat meningkatkan kekebalan komunitas sehingga mengurangi penyebaran penyakit ke wilayah lainnya. Masih kurangnya partisipasi unuk imunisasi ulang diperlukan peran serta tokoh agama dan tokoh masyarakat. Penyediaan air bersih dapat meningkatkan PHBS untuk mengurangi kontak dengan bakteri difteri. Kedekatan wilayah berpengaruh karena mobilisasi tinggi penyebaran difteri antar wilayah. Kesimpulan Kasus penemuan difteri di Jawa Barat berpola berkumpul (tidak merata). Faktor yang mempengaruhi adalah Jumlah Tenaga Kesehatan Lingkungan, Riwayat alita yang Pernah Diimunisasi DPT, dan Rumah Tangga dengan Air Bersih
Read More
T-5751
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pelegia Samira Pattdiana Sitompul; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Makful Rahmaniati, Retno Kusuma Dewi
Abstrak: Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis s dan bivariat dengan menggunakan analisis spasial serta uji korelasi pada variabel untuk mengetahui hubungan faktor yang ada terhadap jumlah kasus baru tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat. Sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 135 yang merupakan seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat pada tahun 2015 hingga 2019. Hasil analisis korelasi yang dilakukan menunjukkan terdapat jumlah keluarga miskin (p-value = 0,000), jumlah puskesmas (p-value = 0,003), jumlah desa siaga (p-value = 0,000), jumlah rumah sakit umum (p-value = 0,007), dan jumlah dokter umum (p-value = 0,038) dimana keenam variabel memiliki p-value dibawah 0,05. Koefisien korelasi yang didapatkan menunjukkan variabel jumlah dokter umum (0,153) memiliki hubungan yang sangat rendah dan variabel jumlah keluarga miskin (0,306), jumlah puskesmas (-0,236), jumlah desa siaga (-0,283) dan jumlah RSU (-0,210) memiliki hubungan yang rendah terhadap insiden tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat.Program penanggulangan tuberkulosis di Jawa Barat penting untuk dilaksanakan dengan baik untuk mengurangi jumlah penyakit tuberkulosis kedepannya.
Read More
S-10710
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuli Puspita Devi; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati, Lina Widyastuti, Lisa Avianty
Abstrak: Stunting merupakan kondisi malnutrisi pada anak yang berdampak pada penurunan produktivitas dan kerentanan pada penyakit degeneratif. Prevalensi stunting di Provinsi Jawa Barat merupakan yang tertinggi di Pulau Jawa Tahun 2021. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sebaran dan faktor risiko prevalensi stunting di Provinsi Jawa Barat dengan mempertimbangkan efek spasial. Penelitian ini menggunakan desain ekologi dengan pendekatan spasial. Data yang dianalisis bersumber dari SSGI (Studi Status Gizi Indonesia) dan PK (Pendataan Keluarga) yang dikeluarkan pada Tahun 2021. Analisis data menggunakan Global Moran's I, LISA (Local Indicator of Spatial Autocorrelation), dan SEM (Spatial Error Model). Hasil menunjukkan tidak ada keterkaitan spasial prevalensi stunting namun terdapat korelasi spasial pada nilai residualnya. Analisis SEM menunjukkan proporsi keluarga miskin, proporsi sumber air minum tidak layak, proporsi unmet need, proporsi tidak aktif BKB (Bina Keluarga Balita) berpengaruh signifikan untuk meningkatkan prevalensi stunting di Provinsi Jawa Barat. Sedangkan proporsi kehamilan tidak diinginkan dan proporsi tidak mengakses informasi melalui internet justru berpengaruh dalam menurunkan prevalensi stunting. Selain itu, penelitian ini tidak membuktikan bahwa prevalensi KB dapat menurunkan prevalensi stunting.
Read More
T-6406
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riva Yunesfi; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Toha Muhaimin, Punto Dewo
Abstrak: Tuberkulosis (TB ) merupakan penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan utama didunia dan Indonesia termasuk negara dua terbanyak dengan beban TB di dunia. Secaraglobal pada tahun 2016, diperkirakan ada 1,3 juta kematian TB di antara orang HIV-negatif (WHO 2016). Merokok merupakan salah satu faktor risiko paling penting dalamterjadinya perburukan tuberkulosis paru karen pada orang yang merokok terjadiperubahan imunitas sehingga dapat memfasilitasi Mycobacterium Tuberculosis. Dengantidak merokok dapat mencegah seseorang untuk terinfeksi kuman TB. Namunberdasarkan hasil riset kesehatan dasar 2013, proporsi merokok pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia masih tinggi yaitu sebesar 36% meningkat dari tahun 2010(34%). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara merokok dengankejadian TB Paru. Analisis ini bersifat kuantitatif menggunakan data Riskesdas 2013.Analisis regresi logistik dilakukan pada sampel 55,752 responden berusia ≥15 tahunyang ditanyakan tentang perilaku merokok dan status tuberkulosis (PertanyaanRiskesdas A18, A20 dan G05). Hasil analisis multivariabel didapatkan bahwa terdapatasosiasi antara merokok dengan kejadian Tuberkulosis Paru, dimana responden yangdulunya pernah merokok (mempunyai riwayat merokok) bersiko 2,6 kali menderita TBdibanding yang tidak merokok. Oleh karena itu perlunya integrasi layanan berhentimerokok dengan penyakit menular terkait Tuberkulosis.Kata kunci: Tuberkulosis (TB), Merokok
Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is a major health problem in the worldand Indonesia is numbrtwo countries with the highest burden of TB in the world.Globally by 2016, there are an estimated 1.3 million TB deaths among HIV negativepeople (WHO 2016). Smoking is one of the most important risk factors in theoccurrence of worsening of pulmonary tuberculosis in people who smoke a change inimmunity so that it can facilitate Mycobacterium Tuberculosis. With no smoking canprevent a person to be infected with TB germs. However, based on the results of basichealth research 2013, the proportion of smoking in the population aged ≥ 15 years inIndonesia is still high at 36% increase from the year 2010 (34%). This study aims to seethe relationship between smoking and the incidence of pulmonary tuberculosis. Thisanalysis is quantitative using Riskesdas 2013 data. Logistic regression analysis wasperformed on a sample of 55,752 respondents aged ≥15 years who were asked aboutsmoking behavior and tuberculosis status (Question Riskesdas A18, A20 and G05).Multivariable analysis showed that there was an association between smoking and theincidence of Pulmonary Tuberculosis, where respondents who had once smoked (had asmoking history) had a 2.6 times greater risk of TB than non smokers. There fore theneed for integration of smoking cessation services with Tuberculosis related infectiousdiseases.Key words: Tuberculosis (TB), Smoking.
Read More
S-9685
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nindya Rimalivia; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Selamat Riyadi
Abstrak:
Penyakit tidak menular menjadi tantangan serius dalam kesehatan global, terutama di tengah era globalisasi yang mendorong perubahan gaya hidup masyarakat ke arah yang kurang sehat. Salah satu penyakit tidak menular yang menyebabkan tingginya angka kematian adalah penyakit kardiovaskular dengan hipertensi merupakan faktor risiko utamanya. Hipertensi seringkali tidak bergejala, namun dapat menyebabkan komplikasi berat seperti stroke dan penyakit jantung. Berdasarkan data SKI tahun 2023, proporsi hipertensi di Provinsi Jawa Barat mencapai 34,4% tertinggi ketiga di Indonesia dan melebihi proporsi nasional dengan persentase 30,8%. Kondisi ini menjadi perhatian khusus mengingat Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar sehingga perubahan kecil sekalipun dalam angka kejadian dapat berdampak signifikan terhadap beban nasional. Selain itu, hipertensi tidak lagi hanya menjadi permasalahan kesehatan lanjut usia, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada penduduk usia produktif yang dapat berdampak pada menurunnya produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan beban ketergantungan di masa tua. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada penduduk usia produktif di Jawa Barat. Sumber data penelitian ini adalah SKI 2023 dengan desain studi potong lintang (cross sectional) dengan total sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 27.452 penduduk usia produktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi hipertensi pada penduduk usia produktif di Jawa Barat sebanyak 23,5%. Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi meliputi usia, pendidikan, tempat tinggal, konsumsi makanan berlemak, berkolesterol, dan gorengan, diabetes mellitus, serta obesitas sentral. Didapatkan juga faktor yang paling dominan terhadap hipertensi adalah obesitas sentral (AOR = 2,733; 95% CI: 2,530–2,952). Berdasarkan hasil penelitian ini, masyarakat disarankan untuk memperhatikan lingkar pinggang agar tetap dalam batas normal sebagai upaya mencegah obesitas sentral. Sementara itu, masyarakat dengan obesitas sentral disarankan untuk rutin memeriksakan tekanan darah dan menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Non-communicable diseases have become a serious global health challenge, especially in the era of globalization that encourages lifestyle changes toward less healthy behaviors. One of the leading NCDs contributing to high mortality is cardiovascular disease, with hypertension being its primary risk factor. Hypertension often presents without symptoms but can lead to severe complications such as stroke and heart disease. According to the 2023 SKI data, the prevalence of hypertension in West Java Province reached 34.4%, the third highest in Indonesia and exceeding the national average of 30.8%. This issue is particularly concerning given that West Java is the most populous province in the country, where even minor changes in incidence can have a significant impact on the national burden. Moreover, hypertension is no longer confined to older adults, it is increasingly affecting individuals of productive age, which may reduce workforce productivity and increase dependency in later years. This study aimed to identify factors associated with hypertension among the productive-age population in West Java. The data source was the 2023 SKI, using a cross-sectional study design with a total sample of 27.452 individuals who met the inclusion criteria. The results showed that the prevalence of hypertension among the productive-age population in West Java was 23.5%. Factors associated with hypertension included age, education level, place of residence, consumption of fatty, high-cholesterol, and fried foods, diabetes mellitus, and central obesity. Central obesity was identified as the most dominant factor associated with hypertension (AOR = 2.733; 95% CI: 2.530–2.952). Based on these findings, greater attention should be given to maintaining waist circumference within a normal range to prevent central obesity. Individuals with central obesity are encouraged to have regular blood pressure checks and adopt healthier habits to reduce the risk of further complications.
Read More
S-11941
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puji Laksmini; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Pemnguji: Besral, Tiara Amelia, Mugia Bayu Raharja
T-4387
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive