Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37499 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mari Okatini, Rachmadhi Purwana, I Made Djaja
MSK Vol.11, No.1
Depok : DRPM UI, 2007
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mari Okatini Armandari; Pembimbing: Rachmadi Purwana, I Made Djaja; Penguji: Yovsyah, HRA Sofyan, Suhardi
Abstrak: Latar Belakang: Jakarta adalah salah satu kota terbesar di Indonesia dimana hampir setiap tahunnya dilanda banjir. Banjir yang terjadi tentunyan membawa dampak yang sangat merugikan bagi semua aspek kehidupan manusia yang salah satunya adalah timbulnya berbagai macam penyakit pasca banjir. Perubahan lingkungan akibat banjir akan mengakibatkan penyebaran leptospirosis (penyakit kencing tikus), hal ini diakibatkan karena urine hewan yang terinfeksi kuman leptospira akan terbawa oleh genangan air dan mencemari lingkungan rumah. Terdapat jumlah kasus yang terjadi di DKI Jakarta sebanyak 65 orang (2003), 78 orang (2004) dan 51 orang (2005). Masalah leptospirosis yang terjadi di DKI Jakarta selalu terjadi pada wilayah yang sama yang diakibatkan oleh faktor lingkungan yang buruk, perilaku yang buruk atau pengaruh karateristik individu.
Tujuan : Mengetahui hubungan faktor lingkungan dan karakteristik individu terhadap kejadian leptospirosis di Jakarta tahun 2003-2005.
Disain : Studi ini menggunakan rancangan Kasus Kontrol. Data pada penelitian ini berasal dari data sekunder yang diperoleh dari Bagian Program-Diklat RSUD Tarakan ? Jakarta dan melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner yang telah dikembangkan. Wawancara dilakukan oleh enumerator yang sudah dilatih mewawancarai terhadap responden kasus maupun responden kontrol. Subyek berjumlah 190 orang, dimana responden yang positif leptospira sebagai kelompok kasus dan reponden yang negatif leptospira sebagai kontrol, dengan perbandingan 1:1. Varibel independen adalah Faktor lingkungan (Keadaan dan penataan rumah, loteng/plafon rumah, binatang penular (vektor), sarana air bersih, sarana penyimpanan makanan, SPAL) serta karakteristik individu ( Umur, pekerjaan, jenis kelamin, pengetahuan, perilaku, dan pendidikan). Ananlisis dilakukan deng chi-square dan regresi logistik ganda.
Hasil : Ada hubungan bermakna antara keadaan dan penataan rumah (OR= 3,956; 95%CI: 1,511-10,358), SPAL ( OR= 1,982; 95% CI: 1,111-3,536), Tingkat Sosial Ekonomi (OR= 1,928; 95% CI: 1,073-3,462), pengetahuan (OR= 17,625; 95% CI: 6,573-47,257) dan Pendidikan (OR= 2,407; 95% CI: 1,333-4,348).
Kesimpulan: Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor lingkungan dan karakteristik individu berhubungan dengan kejadian leptospirosis di Jakarta pada tahun 2003-2005. Terdapat 4 (empat) faktor dominan yang mempengaruhi kejadian leptospirosis adalah pendidikan,pengetahuan, sarana air bersih dan komponen dan penataan rumah.
Kata Kunci: Faktor Lingkungan, Karakteristik Individu, Kejadian Leptospirosis, Kasus-Kontrol.

Background: Jakarta is one of the largest cities in Indonesia where almost every year got flood. Of course, flood brings very bad impact for all human life aspect, which one is the incidence of various post-flood diseases. Environment changes caused by flood resulting leptospirosis spread (rat urine disease), this thing resulted because animal urine infected by leptospira germ will carried by water pond and contaminate house environment. Case occurred in DKI Jakarta are 65 people (2003), 78 people (2004), and 51 people (2005). Leptospirosis problem occurred in DKI Jakarta always occurred in the same area caused by bad environment factor, bad behavior, or individual characteristic influence.
Objective: To find relation between environment factor and individual characteristic toward leptospirosis in Jakarta year 2003-2005.
Design: This study use Case Control design. Data in this research based on secondary data obtained from Part of Diklat RSUD Tarakan Program ? Jakarta and through structured interview using developed questioner. Interview done by enumerator, which has trained to interview case respondent and control respondent. Subject are 190 people, whereas positive leptospirosa respondent as case group and negative leptospirosa respondent as control group, with 1:1 comparison. Independent variable is environment factor (house condition and settlement, house plafond, infector animal (vector), sanitation, food supply, SPAL) and also individual characteristic (age, job, sex, knowledge, behavior, and education). Analysis done by chi-square and double logistic regression.
Result: There is relation between both house condition and settlement (OR=3,956; 95%CI: 1,511-10,358), waste (OR=1,982; 95%CI: 1,111-3,536), social economy (OR=1,928; 95% CI: 1,073-3,462), knowledge (OR=17,625; 95% CI: 6,573-47,257) and education (OR= 2,407; 95% CI: 1,333-4,348).
Conclusion: From research result found that environment factor and individual characteristic related with leptospirosis in Jakarta year 2003-2005. There are four dominant factors that affect leptospirosis, such as education, knowledge, sanitation, and house component and settlement.
Key Word: Environment Factor, Individual Characteristic, Leptospirosis, Case-Control.
Read More
T-2180
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, No.11, th XXXIII, Nopember, 2007, hal. 740-748
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christina Natalia/ Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Zainal Khoirudin
Abstrak:
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) kejadian leptospirosis sebagian besar terjadi pada negara beriklim tropis dan subtropis yang mengalami curah hujan tinggi, hal ini menjadikan leptospirosis endemis di Kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu dari 11 Provinsi endemis leptospirosis di Indonesia yang menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia selama 10 tahun terakhir telah melaporkan angka leptospirosis dan angka CFR yang fluktuatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor perilaku pejamu dan lingkungan yang dapat menyebabkan kejadian leptospirosis pada kasus suspek leptospirosis di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan menggunakkan Data Surveilans Sentinel Leptospirosis 2017-2019 sebanyak 984 responden, meskipun sampel yang digunakkan hanya sebesar 434. Analisis yang digunakkan pada penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat yang menggunakkan uji statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi leptospirosis pada kasus suspek leptospirosis di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2017-2019 besesar 10,4%. Uji statistik yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian leptospirosis antara lain adalah adanya luka terbuka (PR = 5,287; 95% CI 1,854 – 15,076), tempat penampungan sampah (PR = 0,371 ; 95% CI 0,195 – 0,706), dan keberadaan tikus (PR = 0,372 ; 95% CI 0,165 – 0,838). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara adanya luka terbuka, tempat penampungan sampah, dan keberadaan tikus dengan kejadian leptospirosis pada kasus suspek leptospirosis di Provinsi DKI Jakarta menggunakkan Data Surveilans Sentinel Leptospirosis 2017-2019.

The World Health Organization (WHO) declared that most cases of leptospirosis occur in tropical and subtropical countries that experience high rainfall. Thus makes leptospirosis endemic in the Southeast Asian Region, including Indonesia. DKI Jakarta is one of the 11 leptospirosis endemic provinces in Indonesia which according to the Ministry of Health of the Republic of Indonesia for the last 10 years has reported fluctuating leptospirosis rates and CFR rates. This study aims to determine the behavioral factors of the host and the environment that can cause leptospirosis in suspected and confirmated cases of leptospirosis in DKI Jakarta. This study used a cross-sectional study design using the Leptospirosis's Sentinel Surveillance 2017-2019 with their 984 respondents, although the sample used was only 434. The analysis used in this study was univariate and bivariate analysis using the chi square statistical test. The results showed that the prevalence of leptospirosis in suspected and confirmated cases of leptospirosis in DKI Jakarta Province in 2017-2019 was 10.4%. Statistical tests showed significant relationship between the incidence of leptospirosis and some variables, namely the presence of open wounds (PR = 5.287; 95% CI 1.854 – 15.076), trash containers (PR = 0.371 ; 95% CI 0.195 – 0.706), and the presence of rats (PR = 0.372 ; 95% CI 0.165 – 0.838). The conclusion of this study is that there is a relationship between the presence of open wounds, trash containers, and the presence of rats with the incidence of leptospirosis in suspected cases of leptospirosis in DKI Jakarta Province using Leptospirosis's Sentinel Surveillance 2017-2019.
Read More
S-11260
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desmon Prawiradinata; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Irma Setiawaty Wulandari
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang analisis faktor-faktor yang berhubungan dengankejadian stres pada Pekerja di PT. X. Menurut Robbins (2006) mengemukakan terdapattiga kategori potensi stressor yaitu berasal dari faktor lingkungan, faktor organisasi, faktorindividu. Didukung dengan teori yang dikembangkan oleh Health, Safety, and Executive(2007) diketahui bahwa terdapat enam aspek dalam faktor organisasi yang berhubungandengan stres kerja. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa faktor organisasi danfaktor individu merupakan faktor yang memegang peranan dalam mengakibatkan streskerja.Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatanmenggunakan desain penelitian cross sectional, Variabel independen ini meliputi faktororganisasi (tuntutan pekerjaan, kontrol terhadap pekerjaan, dukungan sosial, hubunganinterpersonal, peran dalam organisasi, perubahan pada organisasi) dan karakteristikindividu (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, masa kerja).Variable dependen yang diteliti adalah kejadian stres yang dialami pekerja di PT. X.Sampel pada penelitian ini berjumlah 136 responden. Analisis bivariat dilakukan denganuji Chi Square. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui sebanyak 25 orang (18,4 %)mengalami kejadian stres berat, sebanyak 43 orang (31,6 %) mengalami kejadian stressedang, sebanyak 39 orang (28,7 %) mengalami kejadian stres sedang stres rendah, dansebanyak 29 responden (21,3 %) masuk dalam kategori tidak stres. Karakteristik individuyang terbukti berhubungan dengan kejadian stres kerja adalah tingkat pendidikan danstatus pernikahan. Sedangkan, seluruh faktor organisasi terbukti berhubungan dengankejadian stres kerja.
Kata kunci: stres kerja, stressor, faktor organisasi
This research is about the analysis of related factors that generate stress atworkplace on PT. X. According to Robbins (2006) suggests there are three categories ofpotential stressors which are derived from environmental, organizational, and individualfactors. Supported by a theory, developed by Health, Safety, and Executive (2007), thereare six aspects in management standards that are related to stress at workplace. Based onthis, it can be said that management standards and individual characteristics are factorsthat generate stress at workplace.This is the descriptive analytic with cross sectional design studies. Independentvariables which include on this reasearch are management standards (demands, control,support, relationships, role, and change) and individual characteristics (age, sex,education, marital status, years of service). Dependen variables which include on thisresearch is the incident of stress, experienced by workers at PT. X. With 136 respondents,researcher used chi-square for bivariate analysis. The result, 25 workers (18.4%)experienced severe stress level, 43 workers (31.6%) experienced moderate stress level,39 workers (28.7%) experienced a low stress level, and as many as 29 workers (21.3%)not having a stressed level. Individual characteristics that are proven to be associated withstress events are education level and marital status. Whereas, all management standardsare proven to be related stress at workplace in PT. X.
Keywords: work stress, stressor, management standards.
Read More
S-9651
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erliyanti; Pembimbing: I Made Djaja, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Dewi Susanna, Toni Wandra, Atang Saputra
Abstrak:

Penyalkit demam berdarah merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, yang cenderung semakin Iuas distribusinya sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Seluruh wilayah Indonwia mempunyai resiko untuk kejangkitan penyakit DBD, dikarenakan memiliki koudisi lingkungan yang sama sebagai kesatuan wilayah ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kejadian demam berdarah dengan lingkungan fisik mmah meliputi lingkungan dalam rumah, linglcungan luar mmah. Suhu, pencahayaan, kelembaban dan keberadaan jentik sedangkan karakteristik individu meliputi umur, pendidikan, perilaku , pengctahuan. Rancangan penelitian ini adalalah kasus kontrol dengan menggunakan analitik. Sebagai rcspondennya adalah orang yang terkena penyakit DBD yang telah di diagnosis doktcr dan uji laboratolium IgG dan IgM , sorta kontrol adalah tetanga penderita di wilayah Kota metro, dcngan jumlah 100 kasus dan 100 kontrol. Data di ambil dengau wawancara, obscrvasi dan melakukan pengukuran. Data-data yang terkumpul di olah dengan tahapan editing data, coding data, entry data, cleaning data. Selanjutnya dilakukan analisis univariat, bivariat dengan uji kai kudrat, dan multivamiat dengan regresi logistik. Di dapatkan hasil akhir ada hubungan yang bcrmakna antara kejadian DBD dengan keheradaan jentik, kejadian DBD dcngan umur, kejadian DBD dengan kelembaban dan kejadian DBD dengan pendidikan. Faktor yang dominan terhadap kejadian DBD adalah faktor jentik. Dari hasil yang di dapat disarankan pada pemerintah daerah untuk dapat melihat kcberadaan jentik melalui Angka bebas jentik, indeks house dan kontainer serta melaksanakan trias UKS pada anak sckolah yaim pendidikan kesehatan, pelayanan keschatan dan pembinaan lingkungan sekolah sehat scrta mcmbuat prioritas program pada daerah endemik, pendidikan rcndah Serta daerah yang banyak anak-anak. Sedangkan pada Dinas Kesehatan dan Puskesmas diharapkan ada kerjasama dengan BMG, melaksanakan pendidikan kesehatan melalui kader dan melaksanakan 3 M secara intensif, dan untuk peneliti diharaikan ada penelitian lebih lanjut.


Dengue Fever is one of public health problems in Indonesia, its distribution tends to wider due to the increaseing of mobility and population density. All of Indonesian’s area is having risk of dengue fever infection, because it has similar environmental condition as united of ecological zone. The research aimed to know the relation between dengue fever case with housing environment covers internal house environment (indoor), extemal house environment (outdoor), temperature, lighting, humidity and mosquito larva existence while respondent characteristic covers age, education, behavior, and knowledge. The research methodology is analytical case control. People who have been diagnose having dengue fever by the doctor and IgG and IgM laboratory test as respondents I case, while control is the neighbor of the patient at Metro City, there is 100 case and 100 control. Data collected by interview, observation and measurement. The collected data processed with several steps: data editing, data coding, data entry, and data cleaning. Furthermore it analyzed with univariate analysis and bivariate with chi square and multivariate with logistic regression. The research final result show that there is a significant relation between; dengue fever case with mosquito larva existence, dengue fever case with age, dengue fever case with humidity, and dengue fever case with education. The most dominant factor toward dengue fever case is the mosquito larva. From the obtained result its suggest to the government to observe the mosquito larva trough the mosquito larva level, housing index and container and held the Trias UKS at school; health services, health education, and the founding of school environmental and make priority programs at endemic area, low education, and children areas. While the Health Department and Public Health Center expected to cooperate with BMG, to held health education trough forming of cadre and conduct 3M intensively and to conduct further research.

Read More
T-2799
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rusyda Ihwani Tantia Nova; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Budi Hartono, Suwito, Sri Lenita
Abstrak: Leptospirosis adalah salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Leptospira merupakan bakteri patogen yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada tahun 2015, terdapat 366 kasus leptospirosis di Indonesia. DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan jumlah kasus leptospirosis yang tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh dari bidang penanggulangan dan pencegahan penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2016 sampai Agustus tahun 2019 terdapat 94 kasus leptospirosis yang tersebar di wilayah DKI Jakarta. Jumlah kasus terbesar terdapat di wilayah Jakarta Barat dengan total kasus sebanyak 70 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh lingkungan dan perilaku masyarakat terhadap kejadian leptospirosis di Jakarta Barat tahun 2019. Studi ini menggunakan desain penelitian kasus kontrol. Data kasus diperoleh dari surveilans Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 140 responden yang terdiri dari 70 responden yang menderita leptospirosis (kasus) dan 70 responden yang tidak menderita leptospirosis (kontrol) dengan perbandingan 1:1. Pada analisis bivariat diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan (OR=18,789), pekerjaan (OR=31,875), riwayat luka (OR=20,842), keberadaan tikus (OR=12,143), kondisi rumah (OR=5,510), kondisi selokan (OR=13,235), keberadaan genangan air (OR=7,400), sarana air bersih (OR=3,947), kondisi tempat pembuangan sampah (OR=8,800), dan riwayat rekreasi (OR=0,294) terhadap kejadian leptospirosis. Pada analisis multivariat diperoleh hasil pekerjaan, adanya riwayat luka, keberadaan genangan air, keberadaan hewan peliharaan dan riwayat rekreasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian leptospirosis. Pekerjaan merupakan faktor dominan terjadinya leptospirosis di Jakarta Barat (OR 210,840:95%CI 8,685-5118,379). Oleh karena itu perlu dilakukan upaya sosialisasi tentang penyakit leptospirosis kepada pekerja yang berisiko dan melakukan upaya pengendalian tikus
Read More
T-5786
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puji Ambarsari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Lindawati
Abstrak: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia maupun Indonesia. Pada tahun 2002, PPOK menduduki peringkat ke5 sebagai penyebab kematian di dunia, dan diperkirakan pada tahun 2030 PPOK akan menempati peringkat ke-3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian serta faktor risiko kejadian PPOK pada penduduk usia ≥ 30 tahun di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2013. Penelitian ini adalah penelitian sekunder menggunakan data Riskesdas 2013 dengan desain cross sectional. Analisis data menggunakan chi-square. Hasil analisis univariat diperoleh proporsi PPOK berdasarkan gejala pada penduduk usia ≥ 30 tahun di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 50,5 %. Berdasarkan analisis bivariat faktor individu dan lingkungan, yang menjadi faktor risiko seseorang mendapat PPOK adalah kelompok umur produktif (PR= 1,427; 95% CI= 1,243-1,638), berjenis kelamin perempuan (PR=1,093; 95% CI= 0,845-0,990), memiliki riwayat infeksi pernafasan (PR=1,213; 95% CI= 1,058-1,390), menggunakan obat nyamuk bakar (PR= 1,384; 95% CI= 1,258-1,522) dan melakukan penanganan sampah dengan cara dibakar (PR= 1,312; 95% CI= 1,212-1,420). Kata kunci : PPOK, COPD, lingkungan, penyakit paru, faktor risiko
Read More
S-9248
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edwin Siswono; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Dewi Susanna, Suwito
S-8899
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Dhiyanissa; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Debbie Valonda
Abstrak:
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akibat bakteri Leptospira. DKI Jakarta termasuk dari 11 wilayah endemis. Penelitian ini menganalisis keterkaitan faktor sosial (kepadatan penduduk), iklim (kelembapan, curah hujan, suhu), dan lingkungan (rawan banjir, timbulan sampah) terhadap kasus leptospirosis di lima kota administrasi DKI Jakarta tahun 2017–2023. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara kelembapan, curah hujan, dan daerah rawan banjir (p<0,05), dengan korelasi kelembapan (r = -0,375) dan curah hujan (r = 0,477). Persebaran kasus lebih banyak pada wilayah rawan banjir, timbulan sampah sedang–tinggi, dan kepadatan penduduk sedang. Dengan demikian, perlu dilakukan optimalisasi pelaporan dan kolaborasi lintas sektor dalam mengintervensi masyarakat.


Leptospirosis is a zoonotic disease caused by Leptospira bacteria. DKI Jakarta is one of 11 endemic areas. This study analyzed the relationship between social (population density), climatic (humidity, rainfall, temperature), and environmental (flood-prone, waste generation) factors on leptospirosis cases in five administrative cities of DKI Jakarta in 2017-2023. The results showed a significant relationship between humidity, rainfall, and flood-prone areas (p<0.05), with a correlation of humidity (r = -0.375) and rainfall (r = 0.477). The distribution of cases was more in flood-prone areas, medium-high waste generation, and medium population density. Thus, it is necessary to optimize cross-sector collaboration in intervention. 

Read More
S-12113
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive