Ditemukan 18281 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Makara Seri Teknologi, Vol.13, No.2, Nov. 2009, hal. 67-72, ( Cat ada di bendel 2008 - 2009 ); ( dan ada di bendel 2000 - 2009 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurul Saptorini Rahmadhani; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Sabarinah, Puput Oktomianti, Budi Prasetyo, Anwar Fachri
Abstrak:
Pelayanan yang bermutu adalah pelayanan yang efisien, efektif, tepat waktu dan tepat biaya dengan mengedepankan kepuasan serta keselamatan pasien. Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama wajib memberikan pelayanan yang bermutu kepada pasien. Hasil Indeks Kepuasan Masyarakat menunjukkan dari setiap dimensi mutu, unsur kecepatan pelayanan menjadi elemen ketidakpuasan paling tinggi. Perlu dilakukan upaya perbaikan waktu pelayanan rawat jalan di UPT Puskesmas Unit II Kecamatan Sumbawa dengan menggunakan metode Lean Six Sigma untuk mengidentifikasi dan meminimalisasi pemborosan. Penelitian ini merupakan operations research untuk memperbaiki pelayanan rawat jalan dengan penerapan metode lean six sigma melalui tahapan mendefinisi (define), mengukur (measure), menganalisa (analyze), memperbaiki (improve), dan mengendalikan (control) pada unit pelayanan rawat jalan. Hasil penelitian mendapatkan gambaran terjadinya penumpukan pasien dan lama waktu tunggu pelayanan rawat jalan di loket pendaftaran, ruang poli, ruang konsul dokter dan ruang pelayanan apotek yang merupakan hambatan (bottleneck) dalam proses pelayanan rawat jalan. Persentase value added pelayanan rawat jalan sebelum penerapan lean six sigma adalah sebesar 20,32% dan non value added sebesar 79,68%. Setelah penerapan lean six sigma nilai value added meningkat 33,19% dari sebelumnya menjadi 53.51%, dan non value added menurun 33,19% menjadi 46,49%. Ditemukan adanya delapan jenis pemborosan yang terjadi pada pelayanan rawat jalan, sebagian besar merupakan pemborosan over processing dan waiting. Waste banyak terjadi di ruang loket pendaftaran dan rekam medis serta ruangan konsul dokter. Sumber terjadinya pemborosan berdasarkan hasil analisis fishbone adalah man dikarenakan kurangnya kuantitas dan kualitas tenaga, beban kerja, kedisiplinan terhadap waktu kerja, serta kepatuhan petugas terhadap standar operasional prosedur (SOP). Usulan perbaikan disusun menggunakan lean tools seperti visual management, 5 S, Erorr Profing dan kaizen. Intervensi yang dilakukan untuk memperbaiki lama waktu pelayanan adalah dengan cara melakukan penyederhanaan alur pelayanan rawat jalan, pembagian tugas beberapa tenaga yang diposisikan sebagai tenaga UKP dan tenaga UKM, menerapkan budaya 5 S, perbaikan dokumen berkas rekam medis serta melakukan relokasi penempatan ruangan sesuai standar Permenkes 75 tahun 2014.
Read More
T-5752
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Retno Arimby; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Masyitoh, A. Heri Iswanto
Abstrak:
Read More
Waktu tunggu merupakan salah satu indikator dari mutu pelayanan di rawat jalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pelayanan rawat jalan poli penyakit dalam di RS Simpangan Depok melalui pendekatan Lean Six Sigma (LSS). Desain penelitian ini adalah kualitatif dengan pengumpulan data yang didapatkan melalui pengamatan dan pencatatan waktu (time motion) dalam setiap tahapan proses rawat jalan, penggalian informasi secara mendalam kepada informan dan pertanyaan terbuka kepada tiga puluh enam responden serta telaah dokumen. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dan dilakukan wawancara terbuka kepada pasien untuk mendapatkan value dari perspektif customer. Data yang didapatkan kemudian dianalisis untuk mendapatkan faktor penyebab lamanya waktu tunggu pelayanan di rawat jalan dengan menggunakan fishbone diagram sehingga dapat diberikan rekomendasi perbaikan yang dapat dilakukan oleh rumah sakit. Hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Juni-Juli 2023 didapatkan rata-rata waktu tunggu pelayanan di rawat jalan adalah 03:05:23 (dengan nilai VAR 10%) yang berarti masih kurang dari 30% dan dikategorikan sebagai Un-Lean. Beberapa faktor penyebab terjadinya waste adalah keterlambatan dokter, keterbatasan SDM, prosedur rawat jalan kurang praktis, belum ada penerapan e-resep, dan keterbatasan sarana prasarana. Kata kunci : mutu pelayanan, Lean Six Sigma, waktu tunggu rawat jalan
Waiting time is one indicator of the quality of outpatient services. This study aims to analyze the process of outpatient internal medicine services at Simpang Depok Hospital through the Lean Six Sigma (LSS) approach. The design of this study was qualitative with data collection obtained through observation and recording of time (time motion) in each stage of the outpatient process, in-depth exploration of informants and open-ended questions to thirty-six respondents as well as document review. Informants were selected using a purposive sampling technique and open interviews were conducted with patients to obtain value from a customer perspective. The data obtained is then analyzed to obtain the factors causing the long waiting time for outpatient services using a fishbone diagram so that recommendations for improvements can be given by the hospital. The results of research conducted in June-July 2023 found that the average waiting time for outpatient services was 03:05:23 (with a VAR value of 10%), which means that it is still less than 30% and is categorized as Un-Lean. Some of the factors that cause waste are delays in doctors, limited human resources, less practical outpatient procedures, no e-prescription implementation, and limited infrastructure. Keywords: service quality, Lean Six Sigma, outpatient waiting time
B-2389
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizky Nita Noer; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Umi Aisyiyah
S-8941
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sunaryo
PP-125
Depok : FKM-UI, 2024
Pidato Pengukuhan Guru Besar Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fransiska Satriani Damput; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Helen Andriani, Masyitoh, Adhitya Wardhana, Vitrie Winastri
Abstrak:
Read More
Latar Belakang : Pengelolaan inventori obat yang efisien merupakan faktor penting dalam menjamin ketersediaan obat, mutu pelayanan, dan efisiensi biaya rumah sakit. Ketidakefisienan pengelolaan inventori dapat menimbulkan berbagai waste, seperti kelebihan stok, kekosongan stok, obat non-moving, dan obat kedaluwarsa, yang berdampak pada peningkatan biaya, penurunan mutu pelayanan, serta keterlambatan terapi pasien. Berbagai faktor, antara lain perencanaan yang tidak akurat, lamanya waktu pengadaan, penyimpanan yang belum optimal, dan variasi proses operasional, menjadi penyebab utama ketidakefisienan pengelolaan inventori obat. Tujuan: Mengoptimalkan manajemen rantai pasok internal farmasi di Instalasi Farmasi Medistra Hospital melalui pendekatan lean six sigma dalam pengendalian dan peningkatan efisiensi inventori obat sehingga dapat mengurangi pemborosan, menekan variasi proses, mengoptimalkan ketersediaan obat, serta mendukung mutu pelayanan rumah sakit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain operational research dengan pendekatan mix method, dimana kerangka kerja Lean Six Sigma melalui DMAIC digunakan sebagai panduan sistematis untuk mengintegrasikan analisis data kuantitatif inventori obat dan data kualitatif operasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling, dengan total sampel sebanyak 400 nomor perencanaan obat. Hasil: Pendekatan Lean Six Sigma mengidentifikasi lead time pengelolaan inventori obat sebesar 139 jam 26 menit 30 detik (5,7 hari), dengan 99% waktu proses merupakan kegiatan non-value added yang didominasi oleh waste tipe waiting sebesar 137 jam 37 menit 3 detik. Kondisi awal inventori menunjukkan nilai persediaan sebesar Rp 12.223.885.423,40, terdiri atas 343 item obat overstock senilai Rp 301.047.282, 88 item obat kosong, 35 item obat stagnan senilai Rp 34.775.208, dan 9 item obat expired senilai Rp1.613.710. Akar masalah yang teridentifikasi meliputi belum optimalnya SIMRS inventori, tingginya variasi me-too brand dalam formularium rumah sakit, variasi pengetahuan dan kompetensi petugas, belum adanya regulasi tindak lanjut purchase order kepada distributor, kurangnya pemahaman staf pembelian terhadap kebutuhan pelayanan, pembatasan jam persetujuan purchase order, kurangnya supervisi pada tahap penerimaan, keterlambatan penyimpanan obat, belum tersedianya visual management untuk penerapan FEFO/FIFO, serta penempatan obat LASA yang belum sesuai regulasi. Intervensi Lean Six Sigma dilakukan melalui penerapan standardized work, sosialisasi ulang alur kerja, implementasi sistem kanban pada tahap perencanaan, optimalisasi prinsip 5R di gudang logistik farmasi, serta penerapan visual management untuk mendukung implementasi FEFO/FIFO. Kesimpulan : Implementasi lean six sigma berhasil menurunkan lead time pengelolaan inventori obat, menurunkan nilai stok inventori obat dan jumlah item inventori obat, menurunkan nilai pembelian obat, menurunkan nilai obat overstock, menurukan jumlah obat kosong, menurunkan jumlah obat stagnan dan menurunkan jumlah obat expired.
Background: Efficient drug inventory management is essential to ensure medicine availability, improve service quality, and enhance hospital cost efficiency. Inefficient inventory management can generate various forms of waste, including overstock, stockouts, non-moving medicines, and expired medicines, leading to increased costs, reduced quality of care, and delays in patient treatment. Inaccurate planning, prolonged procurement lead times, suboptimal storage practices, and variations in operational processes are among the major contributors to inefficiencies in drug inventory management. Objective: To optimize internal pharmaceutical supply chain management at the Pharmacy Department of Medistra Hospital through the implementation of Lean Six Sigma to improve drug inventory control and operational efficiency, thereby reducing waste, minimizing process variation, optimizing medicine availability, and supporting the quality of hospital services. Methods: This operational research employed a mixed-methods design. The Lean Six Sigma DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control) framework was used as a systematic approach to integrate quantitative drug inventory data with qualitative operational data. A stratified random sampling technique was applied, resulting in a total sample of 400 drug planning records. Results: The Lean Six Sigma approach identified a total drug inventory management lead time of 139 hours, 26 minutes, and 30 seconds (5.7 days), of which 99% consisted of non-value-added activities, predominantly waiting waste, accounting for 137 hours, 37 minutes, and 3 seconds. The baseline inventory value was IDR 12,223,885,423.40, comprising 343 overstock items valued at IDR 301,047,282, 88 stockout items, 35 non-moving items valued at IDR 34,775,208, and 9 expired items valued at IDR 1,613,710. Root cause analysis identified several contributing factors, including suboptimal utilization of the Hospital Management Information System (HMIS) for inventory management, a high variation of me-too brands in the hospital formulary, variations in staff knowledge and competencies, the absence of regulations governing purchase order follow-up with distributors, limited understanding among purchasing staff regarding clinical service requirements, restrictions on purchase order approval hours, inadequate supervision during the receiving process, delays in transferring medicines to designated storage locations, the absence of visual management tools to support FEFO/FIFO implementation, and non-compliant placement of look-alike, sound-alike (LASA) medicines. Lean Six Sigma interventions included the implementation of standardized work, workflow reorientation, a kanban system during the planning stage, optimization of the Indonesian 5R workplace organization principles in the pharmacy logistics warehouse, and visual management to strengthen FEFO/FIFO implementation. Conclusion: The implementation of Lean Six Sigma successfully reduced drug inventory management lead time, inventory value, the number of inventory items, drug purchasing expenditure, overstock value, stockout incidents, non-moving medicines, and expired medicines, thereby improving the efficiency of internal pharmaceutical supply chain management.
B-2622
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arini Cyndwiana Prastiwi; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Masyitoh, Pujiyanto, Erwindo Rinaldo, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Read More
Rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan harus memenuhi standar pelayanan sesuai dengan Indikator Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan. Salah satu komponen indikator mutu rumah sakit adalah waktu tunggu rawat jalan. Waktu tunggu yaitu waktu yang dibutuhkan mulai saat pasien kontak dengan petugas pendaftaran sampai mendapat pelayanan dokter/dokter spesialis. Menurut PMK No. 129 tahun 2008, Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit untuk waktu tunggu di unit rawat jalan yaitu ≤ 60 menit. RSUI merupakan RS-PTN kelas B yang berlokasi di Kota Depok dan memiliki pelayanan mencapai 30 klinik. Poli penyakit dalam termasuk kedalam Indikator minimal ketersediaan pelayanan di unit rawat jalan yang harus dimiliki oleh rumah sakit dan memiliki jumlah pasien yang cukup besar di RSUI. Berdasarkan studi pendahuluan menggunakan data rekam medik, waktu tunggu di poli tersebut belum memenuhi standar dan sering mendapat laporan keluhan waktu tunggu yang lama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan metode Lean Six Sigma dengan tahapaan Define, Measure, Analyse, dan Improve. Metode pengambilan data dengan observasi, telaah dokumen, wawancara, dan Consensus Making Disscusion Group (CDMG). Penghitungan Value Added, Non Value Added, Cycle Time, dan Lead Time didasarkan pada perspektif pasien. Waktu yang dibutuhkan pasien dari mulai pendaftaran sampai bertemu dengan dokter spesialis penyakit dalam belum mencapai standar yang telah ditentukan yaitu rata-rata lead time 149 menit. Pada Value Stream Mapping proses pelayanan terlihat beberapa waste, yaitu Over Processing, Waiting dan Defect dengan akar masalah dibagi menjadi Man, Machine, Methode, dan Environment. Waste waiting terbesar ada di proses menunggu tahapan. Rekomendasi yang dapat diberikan kepada rumah sakit sebagai langkah strategi perbaikan pelayanan di rawat jalan dibagi menjadi jangka pendek, jangka panjang, dan Future State Value Stream Mapping.
Hospitals as health services must have service standards in accordance with the National Health Service Quality Indicators. One component of hospital quality indicators is outpatient waiting time. Waiting time is the time required from the time the patient meets the registration officer until he receives the services of a doctor/specialist. According to PMK No. 129 of 2008, Minimum Hospital Service Standards for waiting time in outpatient units is ≤ 60 minutes. RSUI is a class B PTN Hospital located in Depok City and has services for up to 30 clinics. Internal medicine poly is included in the minimum indicators of service availability in the outpatient unit that must be owned by the hospital and has many patients in RSUI. Based on a preliminary study using medical record data, the waiting time at the poly did not meet the standards and there were often reports of complaints of long waiting times. This research is qualitative research using the Lean Six Sigma method with the Define, Measure, Analyze, and Improve stages. Data collection methods are observation, document review, interviews, and the Consensus Making Discusion Group (CDMG). Calculation of Value Added, Non Value Added, Cycle Time, and Lead Time is based on the patient's perspective. The time needed by patients from registration to meeting with specialists in internal medicine has not reached the predetermined standard, namely the average lead time is 149 minutes. In Value Stream Mapping, the service process shows several wastes, namely Over Processing, Waiting and Defects with the root causes divided into Man, Machine, Method, and Environment. The biggest waste waiting is in the process of waiting for stages. Recommendations that can be given to hospitals as a strategic step to improve outpatient services are divided into short term, long term, and Future State Value Stream Mapping.
B-2379
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Thasya Sabilla Putri Rojak; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Winarto
Abstrak:
Read More
Pelayanan ambulans terdiri dari kegiatan memproses panggilan ambulans, tim ambulans bersiap, observasi pasien, pencarian rumah sakit rujukan oleh petugas call center CCA, sampai transfer pasien ke instalasi gawat darurat. Desain pada penelitian ini merupakan analisa kuantitatif dan kualitatif yang berdasar pada DMAI (Define, Measure, Analyze, dan Improve). Desain penelitian dilakukan dengan observasi, telaah dokumen, dan wawancara mandalam. Hasil dari penelitian ini yaitu didapatkan bahwa rata-rata pelayanan ambulans 4 jam 30 menit. Dengan waste yang ditemukan yaitu motion, transportation, defect, waiting, overprocessing, overproduction sehingga usulan perbaikan yang diberikan yaitu menggunakan kaizen board, adanya pelatihan dan Pendidikan bagi petugas terkait, adanya sosialisasi mengenai SISRUTE, serta meninjau kembali terkait dengan instruksi kerja yang telah dibuat.
Ambulance services consist of processing ambulance calls, ambulance teams preparing, observing patients, searching for referral hospitals by CCA call center officers, and transferring patients to the emergency department. The design in this study is a quantitative and qualitative analysis based on DMAI (Define, Measure, Analyze, and Improve). The research design was carried out by observation, document review, and in-depth interviews. The results showed that the average ambulance services was 4 hours 30 minutes. The wastes found are motion, transportation, defects, waiting, overprocessing, overproduction so the suggested improvement are given using kaizen board, training for expert, socialization about SISRUTE, and revising standard operating procedure.
S-11421
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Reny Astuty Sumarsono; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Helen Andriani, Santi Purna Sari, Relia Sari, Camelia Nanie Sriyati Phaing
Abstrak:
Read More
Latar Belakang : Waktu tunggu obat merupakan salah satu indikator penting rumah sakit dalam menilai mutu pelayanan kepada pasien. Lamanya waktu tunggu dapat memengaruhi tingkat kepuasan pasien yang berobat di rumah sakit. Berdasarkan Key Performance Indicator (KPI), standar waktu tunggu pelayanan obat non-racikan adalah ≤ 10 menit dengan target pencapaian 90%, sedangkan untuk obat racikan ≤ 30 menit dengan target pencapaian 80%. Pencapaian waktu tunggu obat non-racikan pada tahun 2024 sebesar 62,57% dan tahun 2025 sebesar 63,17%. Sementara itu, pencapaian waktu tunggu obat racikan pada tahun 2024 sebesar 36,58% dan tahun 2025 sebesar 29,13%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pencapaian waktu tunggu pelayanan obat masih berada dibawah target yang telah ditetapkan. Tujuan : Menurunkan waktu tunggu obat non racikan dan racikan dengan menggunakan konsep Lean Six Sigma di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Swasta Tipe B di Tangerang Selatan Metode : Penelitian ini mempunyai desain operational research yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Peneliti melakukan observasi dengan time motion study. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling, dengan total sampel sebanyak 202 pasien yang berobat dan mendapat obat di rumah sakit. Pemilihan sampel didasarkan pada shift dan jenis penjaminan yang telah ditetapkan. Hasil : Hasil penelitian dengan pendekatan Lean Six Sigma berhasil mengidentifikasi Lead time waktu tunggu obat non-racikan di Rumah Sakit Swasta Tipe B di Tangerang Selatan yaitu sebesar 14 menit 16 detik dimana 72% merupakan kegiatan non-value added yang didominasi oleh waste tipe waiting sebesar 6 menit 3 detik (59%). Untuk Lead time waktu tunggu obat racikan 47 menit 1 detik dimana 64% merupakan kegiatan non-value added yang didominasi oleh waste tipe waiting sebesar 19 menit 19 detik (64%). Analisis akar masalah dilakukan menggunakan Pareto dan Five Whys. Penerapan lean six sigma dalam proses waktu tunggu obat racikan berhasil mengurangi lead time untuk waktu tunggu obat non-racikan sebesar 44,74% dari 14 menit 16 detik menjadi 7 menit 53 detik, pada tahap kontrol sebesar 6 menit 32 detik. Lead time waktu tunggu obat racikan menurun sebesar 42,61% dari 47 menit 1 detik menjadi 26 menit 59 detik, pada tahap kontrol lead time sebesar 22 menit 45 detik. Terjadi penurunan waste total dari sebelum intervensi dengan setelah dilakukan intervensi pada obat non-racikan yaitu sebesar 72,98% dan obat racikan sebesar 72,17%. Penurunan waktu non-value added obat non-racikan dari 10 menit 18 detik menjadi 2 menit 47 detik, sedangkan untuk obat racikan dari 30 menit 18 detik menjadi 8 menit 26 detik. Kesimpulan : Terdapat penurunan waktu tunggu obat racikan dan non-racikan di Rumah Sakit Swasta Tipe B di Tangerang Selatan setelah penerapan Lean Six Sigma. Penurunan waktu tunggu obat masih dibawah target KPI yang ditetapkan oleh Rumah Sakit Swasta Tipe B di Tangerang Selatan.
Background: A Drug waiting time is one of the key indicators used by hospitals to assess the quality of patient care services. Prolonged waiting times can significantly affect patient satisfaction. Based on the Key Performance Indicators (KPIs), the standard waiting time for dispensing non-compounded medications ≤10 minutes, with a target achievement rate of 90%, while the standard waiting time for compounded medications ≤ 30 minutes, with a target achievement rate of 80%. The achievement rate for non-compounded medication waiting time was 62.57% in 2024 and 63.17% in 2025. Meanwhile, the achievement rate for compounded medication waiting time was 36.58% in 2024 and 29.13% in 2025. These results indicate that the performance of medication dispensing waiting times remains below the established targets. Objective: Reduction of Waiting Times for Non-Compounded and Compounded Medications Through the Lean Six Sigma Approach in the Outpatient Pharmacy Department of a Type B Private Hospital in Tangerang Selatan. Methods: This study employed an operational research design integrating quantitative and qualitative methods. Observations were conducted using a time-motion study to analyze the outpatient pharmacy workflow. A stratified random sampling technique was used to select a total of 202 outpatients who received medications from the hospital. Participants were stratified according to predetermined work shifts and payer categories. Results: The Lean Six Sigma approach successfully identified a lead time of 14 minutes and 16 seconds for non-compounded medications in the outpatient pharmacy department of a Type B private hospital in Banten Province, of which 72% consisted of non-value-added activities, predominantly waiting waste, accounting for 6 minutes and 3 seconds (59%). The lead time for compounded medications was 47 minutes and 1 second, with 64% classified as non-value-added activities, mainly waiting waste, totaling 19 minutes and 19 seconds (64%). Root cause analysis was conducted using the Pareto principle and the Five Whys method. Implementation of Lean Six Sigma reduced the lead time for non-compounded medications by 44.74%, from 14 minutes and 16 seconds to 7 minutes and 53 seconds, with a sustained lead time of 6 minutes and 32 seconds during the control phase. For compounded medications, the lead time decreased by 42.61%, from 47 minutes and 1 second to 26 minutes and 59 seconds, with a control-phase lead time of 22 minutes and 45 seconds. Total waste decreased by 72.98% for non-compounded medications and 72.17% for compounded medications following the intervention. Non-value-added time for non-compounded medications was reduced from 10 minutes and 18 seconds to 2 minutes and 47 seconds, while for compounded medications it decreased from 30 minutes and 18 seconds to 8 minutes and 26 seconds. Conclusion: There was a reduction in the waiting times for both compounded and non-compounded medications of a Type B private hospital in Banten Province following the implementation of Lean Six Sigma. However, despite this improvement, the medication waiting times remained below the Key Performance Indicator (KPI) target established by the hospital.
B-2604
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Guspianto; Promotor: Budi Hidayat; Kopromotor: Purnawan Junadi, Amal C. Sjaaf; Tim Penguji: Anhari Achadi, Dian Ayubi, Soewarta Kosen, Dumilah Ayuningtyas, Harimat Hendarwan
D-311
Depok : FKM UI, 2015
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
