Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39280 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sari Pediatri, Vol.10, No.4, Des. 2008, hal. 250-254, ( Cat. ada di bendel 2008 - 2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.46, No.12, Des. 1996, hal. 661-664
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nina Permani; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo
S-920
Depok : FKM UI, 1996
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henik Saefulmilah; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Dian Ayubi, Puput Oktamianti, Ida Bagus Sila Wiweka, Indra Rachmad Dharmawan
Abstrak:
Latar belakang: Lama hari rawat (LHR) di RS adalah salah satu indikator efisiensi pemberian layanan kesehatan, juga merupakan faktor utama yang mempengaruhi biaya pengobatan pasien rawat inap TB. Implementasi clinical pathway (CP) adalah rencana tatalaksana pasien berupa standarisasi langkah-langkah penanganan pasien mulai masuk RS sampai dengan keluar RS yang telah dikembangkan dengan tujuan mengurangi variasi pelayanan termasuk untuk mengontrol LHR di RS. Sebagai upaya mewujudkan layanan TB yang berkualitas RSPG sudah menerapkan CP dalam tatalaksana pasien rawat inap dengan TB Paru tetapi LHR pasien dengan TB Paru masih bervariasi, bahkan ada kasus dengan LHR yang memanjang, oleh sebab itu penelitian terkait analisis implementasi CP terhadap LHR pasien dengan diagnosis TB Paru perlu untuk dilakukan untuk melihat hubungan implementasi clinical pathway terhadap LHR di RSPG. Tujuan Penelitian: analisis hubungan implementasi CP terhadap LHR pada pasien rawat inap dengan TB Paru di RSPG. Metode:Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan desain cross-sectional, variabel independen adalah implementasi CP, karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, kelas rawat inap, tipe pasien) dan kondisi klinis (diagnosis utama, severity level, pemeriksaan HIV dan penyakit DM), dan variabel dependen adalah LHR. Penelitian menggunakan data sekunder, metode pengumpulan data melalui telusur rekam medik dengan jumlah sampel 456 yang diambil secara acak sederhana, kriteria inklusi pasien yang dirawat di RSPG tahun 2023 dengan diagnosis utama TB Paru sensitif obat, dan kriteria eksklusi pasien rawat inap TB Paru dengan cara keluar dari RS atas permintaan sendiri, dirujuk, atau meninggal. Analisis data dengan menggunakan software SPSS. Hasil: Rata-rata LHR dari 456 sampel penelitian adalah 6,13 hari (95% CI: 5,84-6,42 hari), 54,8% pasien dengan LHR ≤ 5 hari. kepatuhan implementasi baik 37,7%, proporsi LHR ≤5 hari pada CP baik adalah 75,5% sedangkan pada CP tidak baik 42,3%. Implementasi CP memiliki hubungan yang signifikan dengan LHR (P-value 0,0001), implementasi CP yang tidak baik memiliki risiko sebesar 4,91 kali lebih tinggi untuk terjadi LHR lebih lama dari standar (LHR > 5 hari) dibandingkan implementasi CP yang baik setelah dikontrol variabel kelas rawat dan tipe pasien. Kesimpulan: Implementasi CP, usia, pemeriksaan HIV dan penyakit DM berhubungan signifikan terhadap LHR setelah dikontrol variabel kelas rawat dan tipe pasien, variabel yang paling dominan mempengaruhi LHR adalah implementasi CP (OR 4,91).

Background: Length of hospital stay (LOS) is a key indicator of healthcare service efficiency and a major factor influencing the treatment costs for inpatient tuberculosis (TB) patients. The implementation of clinical pathways (CP) is a standardized patient management plan designed to reduce service variations and control LOS. Despite the implementation of CP for inpatient management of pulmonary TB at RSPG, LOS for TB patients still varies, with some cases exhibiting extended stays. Thus, analyzing the impact of CP implementation on the LOS of patients diagnosed with pulmonary TB is necessary to understand its effectiveness at RSPG. Research Objective: This studi aims to analyze the relationship between CP implementation and LOS among inpatient pulmonary TB patients at RSPG. Methods: This quantitative research, a cross-sectional design. The independent variables include CP implementation, patient characteristics (age, gender, class of inpatient care, patient type), and clinical conditions (primary diagnosis, severity level, HIV test, and diabetes mellitus). The dependent variable is LOS. Secondary data was collected through medical record reviews of a randomly selected sample of 456 patients. Inclusion criteria were patients admitted to RSPG in 2023 with a primary diagnosis of drug-sensitive pulmonary TB, while exclusion criteria were pulmonary TB patients discharged against medical advice, referred out, or deceased. Data analysis was performed using univariate, bivariate, and multivariate methods with SPSS software Result: The average LOS for the 456 studi samples was 6.13 days (95% CI: 5.84-6.42 days), with 54.8% of patients having an LOS ≤ 5 days. Good compliance with CP implementation was observed in 37.7% of cases. The proportion of LOS ≤ 5 days was 75.5% in patients with good CP compliance, compared to 42.3% in those with poor CP compliance. CP implementation was significantly associated with LOS (P-value 0.0001), with poor CP implementation resulting in a 4.91 times higher risk of extended LOS (>5 days) compared to good CP implementation, after controlling for class of inpatient care and patient type. Conclusion: CP implementation, age, HIV testing, and diabetes mellitus are significantly associated with LOS after controlling for the variables class of inpatient care and patient type. The most dominant factors influencing LOS is the CP implementation (OR 4.91).
Read More
T-6993
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Anita; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Iva Diansari
S-6600
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Young Ferry; Pembimbing; Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Jaslis Ilyas, Didiet Etnawati
Abstrak:

Program pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat miskin atau Askeskin bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Pelayanan Askeskin di RSUD Kabupaten Tangerang menghadapi masalah penggunaan obat non formularium karena menjadi beban rumah sakit. Penelitian ini keseluruhan bertujuan untuk mengevaluasi pelayanan obat bagi masyarakat miskin sesuai pedoman pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat miskin. Penelitian ini berada dalam lingkup farmako ekonomi dengan disain comparative non experimental study dengan cara Pengukuran Sesudah Kejadian (PSK) atau ex-post pacto. Hasil penelitian menunjukan bahwa obat-obat formularium untuk pelayanan Askeskin tidak mencakup seluruh pelayanan obat untuk penyakit atau penderita yang di Rawat inap RSUD Kabupaten Tangerang. Dari 432 nama obat yang digunakan dalam pelayanan Askeskin terdapat 125 obat non formularium. Pelayanan kesehatan bagi pasien rawat inap bangsal kelas III Askeskin lebih banyak obat non formularium yang diberikan oleh dokter lama (lama kerja lebih dari 5 tahun) dan dokter dengan status kerja sebagai residen. Jenis obat non formularium banyak diberikan pada pasien lakilaki dan umumnya diberikan untuk pasien NCB KMK (Neonatus Cukup Bulan Kurang Masa Kehamilan), serta diresepkan paling banyak pada pasien yang dirawat di ICU. Melihat apa yang dapat disimpulkan dari hasil penulisan, dapat menjadi acuan untuk meningkatkan pelayanan rawat inap rumah sakit terhadap pasien miskin dan menjadi telaah bagi pihak yang berkepentingan terhadap peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Dan diusulkan agar jenis obat non formularium yang banyak digunakan dimasukkan ke dalam jenis formularium.


 

Health care program for poor community or Askeskin as a mean to upgrade access and health service quality for needy community in order to reach the optimal degree of health community. Askeskin service at Tangerang Regency Public Hospital faces a non formularium medicines?s using problem because it becomes a responsibility for hospital. This research intends to evaluate medicines service for poor community according to health care for poor community?s manual. This research will be in farmaco economics area with comparative non experimental study design or ex-post facto. Result of the research shows that fomularium medicines for Askeskin service do not include all medicine service for illness or the sicks who take care at Tangerang Regency Public Hospital. From 432 medicine names which used in Askeskin service contain 125 non formularium medicines. Health service for patients of class III ward Askeskin much more non formularium medicines which given by senior doctors (more than 5 years of work time ) and doctors with resident statues. Many kinds of non formularium medicine given to men patients and generally given to MNC KMK patients, the patients who stay in ICU too. Looking at the result that can be concluded, it can be a reference to upgrade ward service of Hospital to poor community and be a study for interested parties toward upgrading of community health service on a whole scale. And suggested in order to kinds of non formularium medicines that many used may be included in formularium kinds.

Read More
B-1104
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Pujiwati Permata Rima; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Rakhmad Hidayat, Tiersa Vera Junita
Abstrak:
Stroke adalah penyakit penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung di dunia. Analisis faktor yang mempengaruhi lama perawatan pada rawat inap dengan populasi Indonesia masih jarang dilakukan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional untuk mengevaluasi hubungan antara hiperglikemia dan hiperkloremia dengan lama perawatan pada pasien stroke iskemik akut di unit rawat inap RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Indonesia. Data sekunder rekam medis dari pasien stroke iskemik akut yang dirawat antara 1 Januari 2022 hingga 31 Desember 2022 digunakan untuk analisis. Metode non-probability sampling tipe purposive digunakan untuk merekrut sampel. Analisis statistik yang dilakukan termasuk analisis deskriptif, bivariat, stratifikasi, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi pasien dengan stroke iskemik akut yang masuk ke unit rawat inap RSUD Pasar Minggu adalah 84.5%. Proporsi hiperglikemia pada pasien tersebut adalah 27%, sedangkan proporsi hiperkloremia adalah 10.2%. Median lama perawatan pasien adalah 5 hari. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara durasi perawatan ≥ 5 hari dengan lama perawatan setelah dikontrol dengan variabel kovariat, (adjusted PR 2.21, 95% CI 1.70-2.88, p-value 0.00). Sementara hubungan antara hiperkloremia dan lama perawatan tidak signifikan secara statistik (adjusted PR 1.02; 95% CI 0.66-1.45, p-value 0.56) setelah dikontrol dengan variabel kovariat. Diperlukannya kampanye kesehatan publik, program pemeriksaan berkala, serta penyediaan sistem monitoring pengobatan bagi pasien dengan gangguan metabolik seperti diabetes. Penting untuk memberikan edukasi, mengembangkan protokol penanganan yang jelas, dan melakukan pemantauan glukosa darah serta elektrolit secara teratur pada pasien stroke iskemik akut.

Stroke is the leading cause of death after heart disease in the world. Analysis of factors affecting the length of hospital stay among the Indonesian population is still rarely conducted. This study employed a cross-sectional design to assess the association between hyperglycemia and hyperchloremia with the length of stay in acute ischemic stroke patients at the inpatient unit of RSUD Pasar Minggu Hospital, South Jakarta, Indonesia. Secondary data from acute ischemic stroke patients admitted between January 1, 2022, and December 31, 2022, were analyzed. A purposive non-probability sampling method was used to recruit the sample. Statistical analyses included descriptive, bivariate, stratification, and multivariate analyses. The results revealed that 84.5% of patients admitted to the RSUD Pasar Minggu Hospital had acute ischemic stroke. The proportion of hyperglycemia among these patients was 27%, while hyperchloremia was 10.2%. The median length of stay was 5 days. After controlling for covariates, the association between hyperglycemia and length of stay remained statistically significant (adjusted PR 2.21, 95% CI 1.70-2.88, p-value 0.00), while the association between hyperchloremia and length of stay remained not statistically significant (adjusted PR 1.02; 95% CI 0.66-1.45, p-value 0.56). There is a need for public health campaigns, regular screening programs, and integrated treatment monitoring systems for patients with metabolic disorders such as diabetes. It is essential to provide education, develop clear treatment protocols, and regularly monitor blood glucose and electrolytes in acute ischemic stroke patients.
 
Read More
T-6923
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
A. Afif Siregar ... [et al]
Medika, No. 2
Jakarta : [s.n.] : 1991
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Darmawan M. Sophian; Pembimbing: Sandi Iljanto
S-2023
Depok : FKM UI, 2000
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suud, Diana / Pembimbing: Achir Yani S. Hamid
B-133
Depok : FKM UI, 1996
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive