Ditemukan 30277 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
A. Arsunan Arsin
JKY Vol.14, No.1
Jakarta : LP. Univ. Yarsi, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mardiana, Dede Anwar Musadad
JEK Vol.11, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Ariati Mukharomah; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Medita Ervianti, Ikha Purwandari
Abstrak:
Read More
Diare adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita, terutama di daerah dengan keterbatasan akses air bersih seperti kepulauan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas lingkungan dengan status kesehatan balita dalam hal ini kejadian diare di Pulau Kelapa. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus-kontrol dengan melibatkan responden dari kelompok kasus (balita diare) dan kelompok kontrol (balita tidak diare). Pengambilan data melalui wawancara dan uji laboratorium terhadap kualitas air bersih dan feses balita untuk mendeteksi keberadaan diarrheagenic E.coli. Periode penelitian selama tiga bulan dengan sampel kasus sebesar 20 sampel dan sampel kontrol sebesar 74 sampel. Analisis bivariat menunjukkan bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun dan sumber air minum berhubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita (OR = 3.789; OR = 5,914). Analisis multivariat menunjukkan bahwa sumber air minum adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare balita (OR = 5,393). Temuan ini menunjukkan pentingnya intervensi pada perilaku higienis dan penyediaan air minum yang aman untuk mencegah diare pada balita khususnya di wilayah kepulauan.
Diarrhea is a major cause of morbidity and mortality in toddlers, especially in areas with limited access to clean water such as islands. This study aims to analyze the relationship between environmental quality and the health status of toddlers in this case the incidence of diarrhea on Kelapa Island. The research design used was a case-control study involving respondents from the case group (toddlers with diarrhea) and the control group (toddlers without diarrhea). Data collection through interviews and laboratory tests on the quality of clean water and toddler feces to detect the presence of diarrheagenic E. coli. The study period was three months with a case sample of 20 samples and a control sample of 74 samples. Bivariate analysis showed that handwashing behavior with soap and drinking water sources were significantly associated with the incidence of diarrhea in toddlers (OR = 3.789; OR = 5.914). Multivariate analysis showed that drinking water sources were the most influential factor in the incidence of diarrhea in toddlers (OR = 5.393). These findings indicate the importance of interventions on hygienic behavior and the provision of safe drinking water to prevent diarrhea in toddlers, especially in island areas.
T-7235
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mardiana, Dede Anwar Musadad
JEK Vol.11, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ora Iring Hutasoit; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Al Asyary, Laila Fitria, Sugiarto, Rahmad Isa
Abstrak:
Read More
Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dengan kondisi geografi curah hujan dan kelembaban yang tinggi. Penyakit malaria menginfeksi penduduk yang bermukim di daerah endemis, terutama di negara tropis dan subtropis. Angka kejadian malaria diperkirakan 41% atau sekitar 2.3 milyar di dunia. Jayapura merupakan salah satu kota di Indonesia dengan tingginya angka kejadian malaria. Kejadian ini didukung oleh posisi geografis dan topografi dominan berupa daerah rawa, hutan sagu, hutan, pegunungan dan pengaruh lingkungan seperti suhu, curah hujan dan kelembaban udara Studi ekologi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor iklim yang terdiri atas curah hujan kumulatif bulanan, suhu udara rata-rata bulanan dan kelembaban udara relatif rata-rata bulanan, terhadap jumlah kasus malaria bulanan yang terdapat di Kota Jayapura. Desain Penelitian ini menggunakan observasional dengan menggunakan studi ekologi berbasis ecologic time-trend design Berdasarkan bionomic nyamuk Anopheles spp dan hasil pengolahan data antara Iklim dan Kasus malaria di Kota Jayapura Tahun 2010- 2022 Studi ini menemukan bahwa curah hujan dan kejadian malaria di Kota Jayapura tahun 2010-2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan yang positif pada lag 2 bulan di tahun 2010 . suhu udara dan malaria di kota Jayapura Tahun 2010- 2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan yang positif pada lag 2 bulan di tahun 2010 dan 2011. Kelembaban relatif dan kejadian malaria di Kota Jayapura tahun 2010-2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan negatif pada lag 2 bulan di tahun 2011 dan 2015 sedangkan pada tahun 2013 dan 2014 memiliki hubungan kuat dan positif. Kesimpulan studi ekologi menemukan hubungan signifikan antara iklim dengan kejadian malaria di Kota Jayapura Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dengan kondisi geografi curah hujan dan kelembaban yang tinggi. Penyakit malaria menginfeksi penduduk yang bermukim di daerah endemis, terutama di negara tropis dan subtropis. Angka kejadian malaria diperkirakan 41% atau sekitar 2.3 milyar di dunia. Jayapura merupakan salah satu kota di Indonesia dengan tingginya angka kejadian malaria. Kejadian ini didukung oleh posisi geografis dan topografi dominan berupa daerah rawa, hutan sagu, hutan, pegunungan dan pengaruh lingkungan seperti suhu, curah hujan dan kelembaban udara Studi ekologi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor iklim yang terdiri atas curah hujan kumulatif bulanan, suhu udara rata-rata bulanan dan kelembaban udara relatif rata-rata bulanan, terhadap jumlah kasus malaria bulanan yang terdapat di Kota Jayapura. Desain Penelitian ini menggunakan observasional dengan menggunakan studi ekologi berbasis ecologic time-trend design Berdasarkan bionomic nyamuk Anopheles spp dan hasil pengolahan data antara Iklim dan Kasus malaria di Kota Jayapura Tahun 2010- 2022 Studi ini menemukan bahwa curah hujan dan kejadian malaria di Kota Jayapura tahun 2010-2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan yang positif pada lag 2 bulan di tahun 2010 . suhu udara dan malaria di kota Jayapura Tahun 2010- 2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan yang positif pada lag 2 bulan di tahun 2010 dan 2011. Kelembaban relatif dan kejadian malaria di Kota Jayapura tahun 2010-2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan negatif pada lag 2 bulan di tahun 2011 dan 2015 sedangkan pada tahun 2013 dan 2014 memiliki hubungan kuat dan positif. Kesimpulan studi ekologi menemukan hubungan signifikan antara iklim dengan kejadian malaria di Kota Jayapura
Malaria is still a health problem in Indonesia with its geography of high rainfall and humidity. Malaria infects people in endemic areas, especially in tropical and subtropical countries. Malaria was estimated at 41% or around 2.3 billion in the world. Jayapura is one of the cities in Indonesia with a high incidence of malaria. This incidence was supported by geographical position and dominant topography in the form of swamp areas, sago forests, forests, mountains, and environmental influences such as temperature, rainfall, and air humidity. This ecological study aims to determine the effect of climatic factors of monthly cumulative rainfall, monthly average air temperature, and monthly average relative air humidity on the number of monthly malaria cases found in Jayapura City. The research design was observational, using an ecological study based on an ecological time-trend design. Based on the bionomic of Anopheles spp mosquitoes and the results of data processing between Climate and Malaria Cases in Jayapura City in 2010-2022, This study found that rainfall and malaria incidence in Jayapura City in 2010-2022 had a significant relationship and had a positive relationship on a 2-month lag in 2010. air temperature and malaria in Jayapura City in 2010-2022 had a significant and positive relationship on a 2-month lag in 2010 and 2011. Relative humidity and malaria incidence in Jayapura City in 2010-2022 had a significant relationship. They had an antagonistic relationship at 2-month lags in 2011 and 2015, while in 2013 and 2014, it had a solid and positive relationship. In conclusion, the ecological study found a significant relationship between climate and malaria incidence in Jayapura City.
T-6765
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alfian Fauzi Firdaus; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: R. Budi Haryanto, Lucky Aris Suryono
Abstrak:
Read More
Diare wisatawan (Traveler's Diarrhea) adalah buang air besar lebih dari tiga kali dalam 24 jam dengan konsistensi encer, umum terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Sekitar 60% kasus TD disebabkan oleh Escherichia coli, Shigella, Campylobacter, Salmonella, dan Aeromonas. Indonesia mencatat angka kejadian TD tertinggi di Asia Tenggara, mencapai 19%. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab TD pada wisatawan nusantara di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, dengan fokus pada sumber konsumsi air minum dan karakteristik individu (usia, perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS), lama menginap, dan tempat menginap). Desain studi penelitian adalah cross-sectional dengan 173 responden, dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan kejadian TD di Pulau Tidung (11%), lebih rendah dibandingkan angka kejadian TD di Indonesia (19%) maupun Asia (20-60%). Faktor yang menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian TD di Pulau Tidung adalah sumber konsumsi air minum (p=0,000, OR=23,750), perilaku CTPS (p=0,012, OR=3,786), dan tempat menginap (p=0,053, OR=3,380). Analisis multivariat mengidentifikasi sumber konsumsi air minum (p=0,000, OR=24,986) dan tempat menginap (p=0,042, OR=3,797) sebagai faktor risiko dominan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejadian diare wisatawan (TD) di Pulau Tidung lebih rendah dibandingkan Indonesia dan Asia. Faktor risiko dominan TD adalah sumber konsumsi air minum dan tempat menginap. Oleh karena itu, Penting untuk meningkatkan pengawasan sanitasi air minum dan kebersihan tempat menginap. Otoritas kesehatan, seperti puskesmas, disarankan memperkuat pemantauan sanitasi di tempat-tempat umum yang sering dikunjungi wisatawan.
Traveler's Diarrhea (TD) is characterized by passing loose stools more than three times within 24 hours and is common in developing countries like Indonesia. Approximately 60% of TD cases are caused by pathogens such as Escherichia coli, Shigella, Campylobacter, Salmonella, and Aeromonas. Indonesia has the highest TD incidence in Southeast Asia, reaching 19%. This study aims to analyze the factors causing TD among domestic tourists in Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, focusing on water consumption sources and individual characteristics (age, handwashing behavior with soap (CTPS), length of stay, and accommodation). The study used a cross-sectional design with 173 respondents, analyzed using chi-square tests and binary logistic regression. Results showed that the TD incidence in Pulau Tidung was 11%, lower than in Indonesia (19%) and Asia (20-60%). Significant factors associated with TD in Pulau Tidung were water consumption source (p=0,000, OR=23,750), CTPS behavior (p=0,012, OR=3,786), and accommodation (p=0,053, OR=3,380). Multivariate analysis identified water consumption source (p=0,000, OR=24,986) and accommodation (p=0,042, OR=3,797) as dominant risk factors.The study concludes that TD incidence in Pulau Tidung is lower compared to Indonesia and Asia. Dominant risk factors for TD are water consumption sources and accommodation. Therefore, it is crucial to improve sanitation monitoring of drinking water and accommodation hygiene. Health authorities, such as local health centers, should enhance sanitation monitoring programs in public areas frequently visited by tourists.
S-11619
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Interaksi: Maj. Info & Rev. Promkes, ed. 3, 2009, hal. 12-13
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lisa Dea Plasenta; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Bambang Wispriyono, Aprilia Krisliana
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut dengan pendarahan minor atau mayor, trombositopenia, dan kebocoran plasma yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypti. WHO mencatat sejak tahun 1968-2009, Indonesia menjadi negara urutan pertama di Asia Tenggara dengan kasus DBD terbanyak dan urutan kedua di dunia. Di tahun 2015, Kemenkes RI telah mencatat peningkatan jumlah Kabupaten/Kota yang terjangkit DBD di Indonesia. Dari 384 Kabupaten dan Kota meningkat menjadi 446 Kabupaten dan Kota. Salah satu Kabupaten/Kota dengan kasus DBD yang tinggi adalah Kota Tangerang Selatan. Bahkan, pada tahun 2014, Kota Tangerang Selatan menjadi penyumbang kasus DBD terbanyak di Provinsi Banten dengan 768 kasus. Terdapat faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab tingginya kasus DBD, yaitu faktor iklim, kepadatan penduduk, dan populasi nyamuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim, kepadatan penduduk, dan Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021. Penelitian ini menggunakan desain studi ecological time series dengan metode kuantitatif dan analisis korelasi dan regresi linear ganda. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan; Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan; dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara suhu, kelembaban, dan ABJ dengan kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 (p = 0,016; r = -0,282) (p = 0,000; r = 0,506) (p = 0,000; r = -0,558), sementara untuk curah hujan dan kepadatan penduduk menunjukkan hasil tidak signifikan dengan kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 (p = 0,064; r = 0,220) (p = 0,759; r = -0,037). Dari hasil regresi linear ganda, didapatkan hasil bahwa variabel yang masuk model akhir adalah variabel kelembaban dan ABJ dan dapat menjelaskan 39,9% variasi variabel dependen kejadian DBD (R square = 0,399). Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 adalah variabel kelembaban.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an acute febrile disease with minor or major bleeding, thrombocytopenia, and plasma leakage caused by the dengue virus and transmitted by the Aedes aegypti mosquito vector. WHO noted that from 1968-2009, Indonesia became the first country in Southeast Asia with the most dengue cases and the second in the world. In 2015, the Indonesian Ministry of Health has recorded an increase in the number of districts/cities infected with dengue fever in Indonesia. From 384 regencies and cities, it increased to 446 regencies and cities. One of the districts/cities with high dengue cases is South Tangerang City. In 2014, South Tangerang City became the largest contributor to DHF cases in Banten Province with 768 cases. There are factors that can be the cause of high dengue cases, namely climate factors, population density, and mosquito populations. The purpose of this study was to determine the relationship between climatic factors, population density, and larval free rate (LFR) with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021. This research uses an ecological time series design study with quantitative methods and correlation analysis and multiple linear regression. This study uses secondary data from the South Tangerang City Health Office; Central Bureau of Statistics of South Tangerang City; and the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). The results of this study are that there is a significant relationship between temperature, humidity, and LFR with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.016; r = -0.282) (p = 0.000; r = 0.506) (p = 0.000 ; r = -0.558), while rainfall and population density showed insignificant results with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.064; r = 0.220) (p = 0.759; r = -0.037). From the results of multiple linear regression, it was found that the variables that entered the final model were humidity and LFR variables and could explain 39.9% of the variation in the dependent variable of DHF incidence (R square = 0.399). The most influential variable on the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 is the humidity variable.
Read More
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an acute febrile disease with minor or major bleeding, thrombocytopenia, and plasma leakage caused by the dengue virus and transmitted by the Aedes aegypti mosquito vector. WHO noted that from 1968-2009, Indonesia became the first country in Southeast Asia with the most dengue cases and the second in the world. In 2015, the Indonesian Ministry of Health has recorded an increase in the number of districts/cities infected with dengue fever in Indonesia. From 384 regencies and cities, it increased to 446 regencies and cities. One of the districts/cities with high dengue cases is South Tangerang City. In 2014, South Tangerang City became the largest contributor to DHF cases in Banten Province with 768 cases. There are factors that can be the cause of high dengue cases, namely climate factors, population density, and mosquito populations. The purpose of this study was to determine the relationship between climatic factors, population density, and larval free rate (LFR) with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021. This research uses an ecological time series design study with quantitative methods and correlation analysis and multiple linear regression. This study uses secondary data from the South Tangerang City Health Office; Central Bureau of Statistics of South Tangerang City; and the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). The results of this study are that there is a significant relationship between temperature, humidity, and LFR with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.016; r = -0.282) (p = 0.000; r = 0.506) (p = 0.000 ; r = -0.558), while rainfall and population density showed insignificant results with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.064; r = 0.220) (p = 0.759; r = -0.037). From the results of multiple linear regression, it was found that the variables that entered the final model were humidity and LFR variables and could explain 39.9% of the variation in the dependent variable of DHF incidence (R square = 0.399). The most influential variable on the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 is the humidity variable.
S-11141
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mujida Abdul Munsyir, Ridwan Amiruddin
MJKI No.6
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lukman Waris; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Supratman Sukowati
Abstrak:
Read More
Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan dan merupakan reemerging disease di dunia. Spesies vektor malaria yang terpenting di pulau Kalimantan adalah An.subpicius Grassi, menjadi masalah karena sehubungan dengan terjadinya penebangan hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh Pyriproxyfen terhadap pertumbuhan, perkembangan dan mortalitas larva An.subpictus. Metode penelitian adalah eksperimen skala laboratorium dimana variabel dependen adalah konsentrasi Pyriproxyfen (ppm) dan variabel independen adalah pertumbuhan dan perkembangan larva dan pupa, mortalitas larva dan pupa, abnormalitas dari pra-dewasa dan nyamuk dewasa. Analisis statistik adalah correlation regression dilakukan untuk melihat hubungan korelasi antara variabel dependen dan variabel independen. Pemeriksaan mikroskop dilakukan untuk melihat perkembangan yang abnormal dan penyebab terjadinya kematian pada stadium pra-dewasa. Hasil penelitian adalah Pyriproxyfen sebagai suatu alternatif IGR, memberikan dampak kematian dan pengaruh pertumbuhan terhadap stadium larva ke pupa dan stadium pupa ke nyamuk dewasa. Makin tinggi konsentrasi Pyriproxyfen, makin tinggi kematian larva (p=0,012), dan makin sedikit pupa yang terbentuk (p=0,007), dan makin sedikit pupa yang mati (p=0,015). Hasil analisis korelasi memperlihatkan hubungan positif antara Pyriproxyfen terhadap kematian larva (Kematian Larva=22,29+0,4*Konsentrasi), hubungan negatif antara Pyriproxyfen terhadap pembentukan pupa (Pembentukan Pupa=2,71-24*Konsentrasi), dan hubungan negatif antara Pyriproxyfen terhadap kematian pupa (Kematian Pupa=2,86-0,44*Konsentrasi). Dari penelitian ini tidak ada pupa yang berhasil menjadi nyamuk dewasa. Pengaruh Pyriproxyfen terhadap pertumbuhan larva dan pupa adalah menggagalkan proses ecdysis yang menyebabkan kematian pada larva dan pupa.
Malaria is still as a public health problem in Indonesia including South Kalimantan, and one of a reemerging disease. The important of species malaria vector in coastal area of Kalimantan is An. subpictus Grassi, this species become very important malaria vector due to an increasing deforestation of mangrove. The objective of this study is to describe the impact of Pyriproxyfen to the growth, development and mortality of An. subpictus larvae. The study design is an experimental in laboratory scale, where dependent variable is Pyriproxyfen concentration (ppm) and the independent variables are larvae and pupae growth and development, mortality of larvae and pupae, an abnormality of immature and adult stages. Statistical analysis, correlation regression were used to describe a correlation between dependent and independent variables. Microscopic examinations were carried out to examined development and describe any anomaly or abnormalities, and caused of dead of the immature stages. The results of this study showed that the Pyriproxyfen is very potential IGR, it were kill and hampered the development of larvae to pupae and also pupae to adults stages. The higher concentration of Pyriproxyfen, the higher rate of larva mortality (p=0,012), and as lower pupa formed (p=0,007), and lower rate of pupa mortality (p=0,015). The correlation analysis found that relation between Pyriproxyfen to larva mortality is positive (mortality of larva=22,29+0,4*concentration), relation between Pyriproxyfen to pupa formed is negative (pupa formed=2,71-24*concentration), and relation between Pyriproxyfen to pupa mortality is negative (mortality of pupa= 2,86-0,44*concentration). None of the pupa has been succeeds to emerged become adult stage (mosquito). The important effect of Pyriproxyfen is to the growth of larvae and pupae, it is hampered the ecdysis and at the end will cause death of larva and pupa.
T-1666
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
