Ditemukan 22633 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Adang Bachtiar
D-14
Depok : FKM-UI, 1992
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mika Ito; Promotor: Purnawan Junadi; Ko Promotor: Meiwita B. Iskandar; Penguji: Adang Bachtiar, Amal Chalik Sjaaf, Astuti Yuni Nursasi, Harimat Hendrawan, Hasbullah Thabrany
Abstrak:
Read More
Along with the worldwide demographic change in the increased number of population aged over 65, Indonesia was no exception. Consequences of the prolonged lifeexpectancy and changes in disease pattern, the care recipients suffering from the chronic diseases have increased. However, the sufficient health care system in the long-term care settings, the home-health care in particular, was not yet established in Indonesia. The first objective of this research was to observe the current home-based care services in Indonesia, and then determine quality of services, care recipients satisfaction, care recipients’ preference. The main objective was to develop a home-health care model with the concept of Coordination Unit. The study design was the qualitative research with the mix-method approach consisting of interviews. More specifically, the mixture of the exploratory research approach and applied policy research approach was used with the exploratory approach were applied. The purposive sampling technic was applied, and data are collected through interviews, and analyzed by the framework and thematic analysis. The result of the research was that no sufficient home-health care services were observed and some of care services were not accordance with the laws and regulations concerning “health care” that might lead to some in miss-treatment. Furthermore, no integrative network was found within the current home-health care. The most importantly, the care recipients’ satisfaction levels were not considered as high, due to the quality of care and care providers. The result of care recipients’ experiences, preferences and satisfaction levels as well as expatriates indicated the necessity of establishment of the care coordination units that possibly increase efficiency, sufficiency in the home-health care, and also improve the care recipients’ satisfaction level as the coordination units undergo to function as a bridge among care recipients, healthcare sectors and non-healthcare sectors. Furthermore, the coordination units establish cooperation and partnerships with appropriate health professionals and healthcare facilities to get the community integrated home-health care, and functions as the center of healthcare information and data of care recipients. Despite of some difficulties such as the health human resources and the competency level of care providers, the community health centers (Puskesmas) have great potentials to play roles as the coordination unit with a new position of “Care Manager.” This study concluded that the home-health care model developed in this study that was the community-integrated care system with the coordination unit was applicable with high potential. Especially, the home-health care model working together with the Indonesian Health asset such as “Puskesmas,” and or “programs of public health efforts in non-communicable diseases” seems the most practical for Indonesia. Key Words: Care-Recipients-Satisfaction, Home-Health-Care, Care-Coordination-Unit
D-435
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Kusuma; Promoter: Hasbullah Thabrany; Co-Promoter: Budi Hidayat; Penguji: Budi Utomo, Mardiati Nadjib, Vivi Yulasati, Harapan Lumban, Pungky Sumadi Vid Adrison
D-256
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Setya Haksama; Promotor: Amal C. Syaaf, ; Ko-Promotor: Purnawan Junadi, Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Sudarti Kresno, Dian Ayubi, Boy Subirosa Sabarguna, Delina Hasan
D-250
Depok : FKM UI, 2011
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ronnie Rivany; Pembimbing: Ascobat Gani, Soewarta Kosen
D-104
Depok : FKM-UI, 2004
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maria Holly Herawati; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Purnawan Junadi, Trihono; Penguji: Anhari Achadi, Sudarto Ronoatmodjo, Sandi Iljanto, Soewarta Kosen
Abstrak:
Penyakit TB masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, walaupun upaya pengendalian sudah dilakukan sejak jaman penjajahan. Evaluasi yang dilakukan selama ini masih merupakan evaluasi proses, maka kali ini peneliti menawarkan suatu evaluasi yang menyeluruh yaitu adanya cara pengukuran baru berupa variabel laten ( lingkungan, sarana prasarana, proses, target dan output) dengan tujuan hasil evaluasi ini untuk memberi masukan pada penentu kebijakan pengendalian TB di masa yang akan datang. Penelitian di lakukan dengan memakai gabungan data Rifaskes 2011 dan P2PL 2011. Metode yang dipakai adalah analisa data sekunder, serta penambahan data kualitatif dengan memakai penelitian sistem, serta metode pemodelan variabel dengan menggunakan analisa Struktural Equation Modeling. Hasil yang didapat adalah di perolehnya 4 model hasil evaluasi program pengendalian TB: Model nasional, model wilayah Sumatra, model Jawa Bali, model wilayah lainnya. Secara garis besar ada beberapa perbedaan kontribusi setiap hubungan variabel laten; pada model nasional kontribusi terbesar (1.sarana prasarana ke proses, 2. Target 1 dan CDR 3. proses ke target 2) pada hasil evaluasi Sumatra (1. sarana prasarana ke proses; 2. target 1 dan CDR 2. target 1 dengan CNR 3.lingkungan dan sarana prasarana) hasil evaluasi Jawa Bali (1.target 1 dan CNR 2.target 1 dengan CDR 3. Target 2 dan CR ) dan hasil evaluasi wilayah lainnya (1. target 1 dengan CNR 2. lingkung dan sarana prasarana 3. sarana prasarana ke proses).
TB disease remains a health problem in Indonesia, despite the control measures already carried out since the colonial era. Evaluations were conducted for this is still an evaluation process, so this time offers researchers a comprehensive evaluation that is the way of new measures in the form of latent variables (environment, infrastructure, processes, targets and output) with the purpose of this evaluation to provide input on policy makers TB control in the future. The experiment was conducted using a combination of data P2PL Rifaskes 2011 and 2011. The method used is the analysis of secondary data, as well as additional qualitative data using systems research, as well as variable modeling methods using Structural Equation Modeling analysis. The result is a model of evaluation results oBTAin it 4 TB control program: The national model, a model region of Sumatra, Java and Bali models, models of other regions. Broadly speaking, there are some differences in the contribution of each relationship latent variables; the largest contribution to the national model (1. infrastructure to process, targets 1 and CDR 3.target 1 to process) on evaluation of Sumatra (1. infrastructure to process; 2. target 1 and CDR 2. target of 1 to CNR. 3.the environment and infrastructure) on the evaluation of Java Bali (1.target 1 and CNR 2.target 1 with CDR 3. Target 2 and CR) and the results of evaluation of other areas (1.targets 1 with CNR 2. infrastructure with the environment and 3.infrastructure to process).
Read More
TB disease remains a health problem in Indonesia, despite the control measures already carried out since the colonial era. Evaluations were conducted for this is still an evaluation process, so this time offers researchers a comprehensive evaluation that is the way of new measures in the form of latent variables (environment, infrastructure, processes, targets and output) with the purpose of this evaluation to provide input on policy makers TB control in the future.
D-342
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sandra Barinda; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sabarinah Prasetyo; Penguji: Anhari Achadi, Prastuti Soewondo, Dedi Fardiaz, Roy Alexander Sparringa, Antonius Tarigan, Nana Mulyana
Abstrak:
Pengukuran kinerja program pengawasan pangan olahan saat ini hanya berfokus pada keamanan produk yaitu persentase makanan yang memenuhi syarat. Di sisi lain, terdapat pula indikator indeks pengawasan pangan olahan, yang baru mencakup elemen kegiatan pengawasan, laboratorium dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), namun belum mencakup elemen lainnya yang tertuang dalam pedoman FAO dan WHO tentang Food Control System Assessment Tool tahun 2019. Untuk itu, perlu dilakukan pengembangan kebijakan dalam penilaian sistem pengawasan pangan olahan mengacu pedoman tersebut. Penelitian ini bertujuan mengembangkan indeks pengawasan pangan olahan di Indonesia. Adapun tujuan khusus penelitian adalah: (1) memperoleh indikator untuk mengembangkan model indeks pengawasan pangan olahan di tingkat provinsi di Indonesia; (2) mendapatkan model yang dapat digunakan untuk menentukan indeks pengawasan pangan olahan di tingkat provinsi di Indonesia; (3) mendapatkan indeks pengawasan pangan olahan di tingkat provinsi di Indonesia; (4) mengetahui hubungan kepemimpinan terhadap indeks pengawasan pangan olahan di tingkat provinsi di Indonesia sebagai penentu penerimaan indeks pengawasan pangan olahan; dan (5) memperoleh indikator untuk mengembangkan indeks pengawasan pangan olahan di tingkat kabupaten/kota di Indonesia pada konteks desentralisasi dengan fragmentasi kewenangan pengawasan pangan olahan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan mixed method. Tahapan penelitian dimulai dari proses penyusunan dan penajaman indikator dalam bentuk expert panel interviews dengan metode Delbecq-Nominal Group Technique (NGT). Analisis faktor sebagai pengujian validitas konstruk dilakukan untuk memperoleh model indeks pengawasan pangan olahan. Rata-rata nasional indeks pengawasan pangan olahan di tingkat provinsi adalah 55,64, dan terdapat variasi besaran indeks di berbagai provinsi. Uji hubungan kepemimpinan dengan indeks pengawasan pangan olahan di tingkat provinsi menunjukkan korelasi kecil. Dalam konteks desentralisasi yang berlaku di Indonesia, berimplikasi fragmentasi kewenangan yang berpengaruh dalam sistem pengawasan pangan olahan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kapasitas kepemimpinan. Berdasarkan model indeks pengawasan pangan olahan di tingkat provinsi dan juga memperhatikan fragmentasi kewenangan di tingkat kabupaten/kota, maka disusunlah rancangan indikator untuk model indeks pengawasan pangan olahan di tingkat kabupaten/kota. Penelitian ini berhasil menyusun model indeks pengawasan pangan olahan di tingkat provinsi dan rancangan indikator di tingkat kabupaten/kota. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti merekomendasikan perlunya pengawalan untuk pengawasan pangan olahan siap saji, penguatan jejaring keamanan pangan dan analisis risiko, asesmen kepemimpinan yang lebih spesifik serta komitmen pemerintah daerah dalam melakukan pengawasan pangan olahan.
Read More
D-464
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Risma Mulia; Promotor: Budi Utomo; Ko Promotor: Wendy Hartanto; Penguji: Sabarinah, Agustin Kusumayati, Kemal Nazasruddin Siregar, Omas Bulan Samosir, Augustina Situmorang, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Kelahiran risiko tinggi menjadi ancaman sekaligus penyumbang terbesar kematian ibu dan anak
di negara berkembang termasuk Indonesia. Data global, 810 perempuan hamil dan melahirkan
meninggal tiap harinya di negara berkembang. Tujuan Penelitian untuk mengetahui gambaran
kelahiran risiko tinggi dan faktor-faktor yang mempengaruhi kelahiran risiko tinggi di
Indonesia. Studi ini menggunakan data SDKI 2017 dengan pendekatan cross-sectional. Subyek
penelitian adalah semua kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei sebesar 14.257
kelahiran. Variabel independen adalah faktor individu (pendidikan ibu dan status pekerjaan
ibu), faktor suami/pasangan (diskusi tentang KB dengan suami/pasangan), faktor rumah tangga
(status sosial ekonomi dan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga),
faktor lingkungan (tempat tinggal dan wilayah), faktor demografi (umur melahirkan terakhir
dan paritas), dan faktor program/layanan kesehatan dan KB (metode KB yang digunakan
sebelum kehamilan terakhir dan akses informasi KB dari TV, radio, majalah/koran dan
internet). Variabel dependen yaitu kelahiran terlalu muda (<20 tahun), kelahiran terlalu tua
(>=35 tahun), kelahiran terlalu dekat jaraknya (<24 bulan), kelahiran terlalu banyak (4+), dan
kehamilan tidak diinginkan. Analisis data menggunakan regresi logistik biner. Hasil penelitian
menunjukkan proporsi kelahiran terlalu muda 8,2%, kelahiran terlalu tua 18,6%, kelahiran
terlalu dekat 5,3%, kelahiran terlalu banyak 11,4%, kehamilan tidak diinginkan sebesar 8,2%
dan 11,3% kelahiran berisiko (4T dan KTD). Analisis multivariat diperoleh faktor paling
dominan pengaruhnya terhadap kelahiran terlalu muda adalah riwayat KB (OR=4,6; 95%
CI=3,9-5,5). Sementara itu, akses informasi KB dari internet (OR=2,9; 95% CI=2,6-3,4)
sebagai faktor paling berpengaruh terhadap kelahiran terlalu tua. Hasil analisis diperoleh ANC
1-3 (OR=2,1; 95% CI=1,6-2,7) dan tidak ANC (OR:2,4: 95% CI:1,7-3,2) adalah faktor paling
dominan pengaruhnya pada kelahiran terlalu dekat. Faktor yang paling berpengaruh terhadap
kelahiran terlalu banyak adalah wilayah luar Jawa-Bali I (OR: 2,1: 95% CI: 1,8-2,4) dan luar
Jawa-Bali II (OR: 3,0: 95% CI: 2,6-3,6) Paritas 4+ (OR: 72: 95% CI: 43-121) merupakan faktor
yang paling dominan mempengaruhi kehamilan tidak diinginkan. Faktor yang paling dominan
pengaruhnya terhadap kelahiran berisiko (4T dan KTD) adalah akses informasi KB dari
internet (OR:2,8: 95% CI: 2,3-3,3). Program intervensi dengan meningkatkan pelayanan KB
berkualitas dan akses metode alat/cara KB modern yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia
untuk mencegah kelahiran risiko tinggi. Meningkatkan penyebarluasan informasi KB melalui
TV dan internet dan mendorong pemeriksaan ANC berkualitas bagi ibu hamil.
Read More
D-446
Depok : FKM UI, 2021
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sandi Iljanto; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Ko-Promotor: Purnawan Junadi, Adang Bachtiar, Penguji: Anhari Achadi, Wasis Budiarto, Agus Purwadianto, Hadiat, Arum Atmawikarta, Suprijanto Rijadi
D-270
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
R Wasis Sumartono; Promotor: Hasbullah Thabrany; Ko Promotor: Ratna Meidyawati; Penguji: Anhari Achadi, Nasrin Kodim, Sudijanto Kamso, Kodrat Pramudho, Rita Damayanti
Abstrak:
Latar belakang: Di Indonesia, prevalensi karies gigi berkisar antara 85% - 99% dan 67.4% pria umur 15 tahun atau lebih merokok. Tujuan: Tujuan penelitian ini mengkaji hubungan keparahan karies gigi dan intensitas merokok pada pria Indonesia umur 45 – 54 tahun (n = 34.534), responden Riskesdas 2007. Metode: Pengalaman karies gigi (DMFT) dicatat oleh enumerator yang sudah dilatih. Enumerator juga mencatat karakteristik sosiodemografik (umur, pekerjaan, status sosial ekonomi, pendidikan) perilaku kesehatan gigi (gosok gigi) dan merokok responden. 31.4 % responden DMFT-nya ≥ 8, cut off point karies gigi parah dalam penelitian ini. Uji Chi-square digunakan untuk mendeteksi kemaknaan perbedaan prevalensi karies gigi parah pada perokok berat (BI ≥ 400) dan pada yang tidak pernah merokok (BI = 0). Regresi logistik digunakan untuk meng-estimasi besarnya peran merokok berat pada keparahan karies gigi. Hasil: Prevalensi karies gigi parah pada yang tidak pernah merokok, perokok ringan (BI 1-399) dan perokok berat berturut turut adalah, 24,9 %; 32,5 % dan 38,7% (P <0,005). Dibanding yang tidak pernah merokok, adjusted OR karies gigi parah pada perokok ringan dan perokok berat adalah 1,45 (95% CI 1,37-1,53) dan 1,70 (95% CI: 1,59 – 1,81). Kesimpulan: Merokok merupakan salah satu faktor risiko karies gigi parah pada pria Indonesia dan semakin berat intensitas merokoknya, semakin besar pula risikonya. Saran: Para dokter gigi Indonesia, baik secara perorangan, maupun secara kolektif, perlu ambil bagian secara lebih sungguh sungguh dalam pengendalian tembakau di Indonesia
Background: In Indonesia, dental caries the prevalence between 85% - 99% and 67.4% of males aged 15 years or older currently used tobacco. Objective: The aim of this study is to examine the association between dental caries severity and smoking intensity in 45 – 54 years old Indonesian males (n = 34.534), respondents of Basic Health Research 2007. 31.4 % of respondents have DMFT value ≥ 8, the cut off point of severe dental caries in this study. Methods: The dental caries experience (DMFT) were recorded by well trained enumerators. In addition, the enumerators recorded sociodemographic characteristics (age, socio-economic status, education, job), tooth brushing and smoking behavior of respondents. Chisquare test was used to detect significant difference on prevalence of severe dental caries between heavy smokers (BI ≥ 400) and never smokers (BI = 0). Logistic regression was used to estimate contribution of heavy smoking on dental caries severity. Result: The prevalence of severe dental caries on never smokers, light smokers (BI 1-399) and heavy smokers were 24,9 %; 32,5 % and 38,7% respectively (P <0,005). Compared to never smokers, the adjusted OR of light smokers and heavy smokers were 1,45 (95% CI 1,37-1,53) and 1,69 (95% CI: 1,59 – 1,80). Conclusion: Smoking is a risk factor of severe dental caries in Indonesian men and the higher the smoking intensity, the higher the risk. Recommendation: Indonesian dentists, individually and collectively have to take part more seriously in smoking prevention and control in Indonesia.
Read More
Background: In Indonesia, dental caries the prevalence between 85% - 99% and 67.4% of males aged 15 years or older currently used tobacco. Objective: The aim of this study is to examine the association between dental caries severity and smoking intensity in 45 – 54 years old Indonesian males (n = 34.534), respondents of Basic Health Research 2007. 31.4 % of respondents have DMFT value ≥ 8, the cut off point of severe dental caries in this study. Methods: The dental caries experience (DMFT) were recorded by well trained enumerators. In addition, the enumerators recorded sociodemographic characteristics (age, socio-economic status, education, job), tooth brushing and smoking behavior of respondents. Chisquare test was used to detect significant difference on prevalence of severe dental caries between heavy smokers (BI ≥ 400) and never smokers (BI = 0). Logistic regression was used to estimate contribution of heavy smoking on dental caries severity. Result: The prevalence of severe dental caries on never smokers, light smokers (BI 1-399) and heavy smokers were 24,9 %; 32,5 % and 38,7% respectively (P <0,005). Compared to never smokers, the adjusted OR of light smokers and heavy smokers were 1,45 (95% CI 1,37-1,53) and 1,69 (95% CI: 1,59 – 1,80). Conclusion: Smoking is a risk factor of severe dental caries in Indonesian men and the higher the smoking intensity, the higher the risk. Recommendation: Indonesian dentists, individually and collectively have to take part more seriously in smoking prevention and control in Indonesia.
D-318
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
