Ditemukan 22071 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Singgih Dirgagunarsa; Pembimbing: Slamet Iman Santoso
D-27
Jakarta : FKM-UI, 1974
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mugi Wahidin; Promotor: Anhari Achadi; Kopromotro: Besral, Soewarta Kosen; Penguji: Atik Nurwahyuni, Mardiati Nadjib, Sudarto Ronoatmodjo, Ekowati Rahajeng; Masdalina Pane
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia dan di Indonesia yang menjadi target pengendalian secara global dan nasional. Penelitian tentang proyeksi beban DM dengan memasukkan pengaruh faktor risiko dan program pencegahan dan pengendalian DM di Indonesia sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat model proyeksi beban penyakit Diabetes Melitus di Indonesia berdasarkan faktor risiko dan program pencegahan dan pengendalian DM. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-experiment menggunakan desain cross sectional study melalui pembuatan model regresi linier ganda dan system dynamics. Model proyeksi prevalens baseline dibuat berdasarkan faktor risiko, program pencegahan dan pengendalian DM. Proyeksi sampai 2045 melibatkan dinamisasi faktor risiko dan program DM, proyeksi penduduk, case fatality rate DM, unit cost DM, standar tarif pemeriksaan gula darah, dan inflasi kesehatan. Faktor risiko termasuk overweight, obesitas sentral, obesitas, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, kurang konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, hipertensi, dan merokok. Program DM meliputi rasio Posbindu PTM, Desa Ber Posbindu PTM, Pemeriksaan di Posbindu PTM, Puskesmas dengan Pelayanan Terpadu PTM, pemeriksaan rutin gula darah, standar pelayanan minimal (SPM) pelayanan kesehatan DM, dan SPM skrining usia produktif. Model dibuat berdasarkan data dari 205 kabupaten/kota di 33 provinsi di Indonesia. Proyeksi dibuat secara nasional, provinsi, dan kabupaten/kota berupa prevalens, kematian, biaya langsung, dan jumlah dan biaya skrining gula darah. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007-2018, BPJS Kesehatan 2016-2020, program P2PTM 2016-2020, dan Pusdatin Kemkes 2019-2021. Unit analisis adalah kabupaten/kota. Hasil: Model proyeksi DM menggunakan regresi linier ganda dengan formula prevalensi DM = -2,212 + 0.216 prevalens overweight +0,017 prevalens obesitas + 0,112 prevalens obesitas sentral +0,019 prevalens konsumsi makanan berlemak – 0,001 Persentase Desa Ber-Posbindu PTM + 0,003 Persentasi Pandu PTM + 1,510 prevalensi rutin diperiksa gula darah – 0.012 cakupan SPM yankes DM + 0,008 cakupan SPM skrining usia produktif. Prevalensi DM di Indonesia diperkirakan meningkat dari 9,19% pada 2020 (18,69 juta kasus) menjadi 16,09% pada 2045 (40,7 juta kasus), naik 75,1% selama 25 tahun, atau 3% per tahun. Prevalensi DM akan lebih rendah menjadi 15,68% atau 39,6 juta kasus (berkurang 5,54%) pada 2045 jika dilakukan intervensi peningkatan cakupan desa ber-posbindu dan SPM yankes DM menjadi 100%, dan menjadi 9,22% atau 23,2 juta kasus (berkurang 42,69%) jika intervensi program tersebut ditambahkan dengan pencegahan laju faktor risiko (overweight, obesitas, obesitas sentral dan konsumsi makanan berlemak). Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, prevalensi dan jumlah kasus meningkat dan sangat bervariasi. Proyeksi jumlah kematian akibat DM di Indonesia meningkat dari 433.752 pada 2020 menjadi 944.468 pada 2045, naik 117% selama 25 tahun atau 4,7% per tahun. Kematian akibat strok pada DM meningkat dari 52,397 pada 2020 menjadi 114,092 pada 2045. Kematian akibat IHD pada DM meningkat dari 35.351 pada 2020 menjadi 76.974 pada 2045. Sedangkan kematian akibat penyakit ginjal kronik pada DM meningkat dari 29.061 pada 2020 menjadi 63.279 pada 2045. Jumlah kematian pada 2045 lebih rendah menjadi 919.206 jika dilakukan intervensi program dan menjadi 537.190 jika dilakukan intervensi program dan menahan laju faktor risiko. Jumlah kematian akibat DM dan komplikasinya di provinsi dan kabupaten/kota meningkat dan sangat bervariasi. Biaya langsung (direct cost) DM meningkat dari Rp 37,36 triliun pada 2020 menjadi Rp 81,38 triliun pada 2045, meningkat 117,76% selama 25 tahun atau 4,71% per tahun. Jika dilakukan intervensi peningkatan program maka dapat diturunkan menjadi Rp 79,31 triliun (berkurang 2,54%) dan menjadi Rp 46,53 triliun (berkurang 42,82%) jika intervensi ditambah menahan laju faktor risiko. Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, biaya langsung DM mengalami kenaikan dan bervariasi antara daerah. Jumlah penduduk berusia 15-39 tahun dengan obesitas dan usia 40 tahun ke atas yang perlu diskrining gula darah di Indonesia pada 2020 diperkirakan 116.387.801 menjadi 171.913.086 orang pada 2045, meningkat 47,8% selama 25 tahun atau 1,9% per tahun. Biaya skrining Rp 2,39 trilliun pada 2020 meningkat menjadi Rp 3,53 trilliun pada 2045. Di provinsi dan kabupaten/kota, jumlah dan biaya skrining meningkat dan bervariasi. Proyeksi DM di Indonesia dan aplikasi perhitungan proyeksi dapat dilihat di www.diabetes-ina.com. Hasil proyeksi sudah dinyatakan sudah baik setelah dibahas dengan para ahli dan mempunyai Mean Absolute Percentage Error (MAPE) sebesar 13% (baik) untuk proyeksi provinsi dan nasional serta 22% (layak) untuk proyeksi kabupaten/kota. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk bahan perencanaan SDM, skrining, dan biaya pengobatan DM di Indonesia baik tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota.
Background: Diabetes Mellitus (DM) is one of the biggest public health problems in the world and in Indonesia which is targeted for control globally and nationally. Research on DM burden projection by including the influence of risk factors and DM prevention and control programs in Indonesia is very limited. The purpose of this study is to make a projection model of the burden of Diabetes Mellitus in Indonesia based on risk factors and DM prevention and control programs. Method: The study was a quantitative non-experiment study using cross sectional study design through the creation of multiple linear regression models and system dynamics. The baseline prevalence projection model is based on risk factors, DM prevention and control programs. Projections until 2045 involved the dynamization of risk factors and DM programs, population projections, DM case fatality rate, DM unit costs, tariffs standard of blood glucose screening, and health inflation. Risk factors included overweight, central obesity, obesity, consumption of sugary foods, consumption of sugary drinks, consumption of fatty foods, lack consumption of fruits and vegetables, lack of physical activity, hypertension, and smoking. The DM program included the ratio of NCD Post (Posbindu), percentage of Village had Posbindu, Examination at Posbindu, Puskesmas with Integrated NCD Services (Pandu), routine blood glucose checks, minimum service standards (SPM) of DM health services, and SPM of productive age screening. The model was created based on data from 205 districts/cities in 33 provinces in Indonesia. Projections was made nationally, provincially, and districts in terms of prevalence, mortality, direct costs, and the number and cost of blood glucose screening. This study used secondary data from Basic Health Research (Riskesdas) 2007-2018, BPJS Kesehatan 2016-2020, NCD programs 2016-2020, and Pusdatin Ministry of Health 2019-2021. The analysis unit is the district/city. Results: DM projection model using multiple linear regression with DM prevalence formula = -2.212 + 0.216 overweight prevalence + 0.017 obesity prevalence + 0.112 central obesity prevalence + 0.019 prevalence of fatty food consumption – 0.001 percentage of villages with Posbindu + 0.003 NCD integrated services percentage + 1.510 prevalence of routine blood glucose checks – 0.012 SPM coverage of DM services + 0.008 SPM of productive age screening coverage. The prevalence of DM in Indonesia is estimated to increase from 9.19% in 2020 (18.69 million cases) to 16.09% in 2045 (40.7 million cases), increase 75.1% over 25 years, or 3% per year. The prevalence of DM will be lower to 15.68% or 39.6 million cases (reduced by 5.54%) in 2045 if interventions are carried out to increase the coverage of Posbindu villages and SPM DM services to 100%, and to 9.22% or 23.2 million cases (reduced by 42.69%) if the program interventions are added with prevention of risk factor rates (overweight, obesity, central obesity and consumption of fatty foods). At the provincial and district/city levels, the prevalence and number of cases are increasing and vary greatly. The projected number of deaths due to DM in Indonesia increases from 433,752 in 2020 to 944,468 in 2045, increase 117% over 25 years or 4.7% per year. Deaths due to stroke among DM increases from 52,397 in 2020 to 114,092 in 2045. Deaths from IHD among DM increases from 35,351 in 2020 to 76,974 in 2045. Meanwhile, deaths from chronic kidney disease among DM increases from 29,061 in 2020 to 63,279 in 2045. The number of deaths in 2045 could be lower to 919,206 if program interventions are carried out and to 537,190 if program interventions are carried out and halt the rate of risk factors. The number of deaths due to DM and its complications in provinces and districts / cities is increasing and varies greatly. DM direct costs increased from Rp 37.36 trillion in 2020 to Rp 81.38 trillion in 2045, an increase of 117.76% over 25 years or 4.71% per year. If the program improvement intervention is carried out, it can be reduced to Rp 79.31 trillion (reduced by 2.54%) and to Rp 46.53 trillion (reduced by 42.82%) if the intervention is added to halt the rate of risk factors. At the provincial and district/city levels, DM direct costs have increased and vary between regions. The number of people aged 15-39 years with obesity and aged 40 years and above who need to be screened for blood glucose in Indonesia in 2020 is estimated at 116,387,801 to 171,913,086 people in 2045, an increase of 47.8% over 25 years or 1.9% per year. Screening costs of Rp 2.39 trillion in 2020 will increase to Rp 3.53 trillion in 2045. In provinces and districts, the number and cost of screening are increasing and varying. DM projections in Indonesia and projection calculation applications can be seen at www.diabetes-ina.com. The projection results have been declared good after discussion with experts and have an Absolute Mean Percentage Error (MAPE) of 13% (good) for provincial and national projections and 22% (feasible) for district/city projections. The results of this study can be used for human resource planning, screening, and DM treatment costs in Indonesia at the central, provincial, and district / city levels.
D-478
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Felly Philipus Senewe;; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Anhari Achadi; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Trihono, Ella Nurlaela Hadi, Syahrizal Syarif, Delina Hasan
D-288
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
☉
Susianto; Promotor: Kusharisupeni; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso, Suyanto Pawiroharsono; Penguji: Anhari Achadi, Purwantyastuti, Mien Karmini Mahmud, Yvonne M. Indrawani, Ahmad Syafiq
D-265
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rachmadhi Purwana; Promotor: Umar Fahmi Achmadi
D-65
Depok : PSFKM UI, 1999
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tati Sumiati; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Agustin Kusumayati; Penguji: Asri C. Adisasmita, Meiwita P. Budiharsana, Rita Damayanti, Pribudiarta Nur Sitepu, Wendy Hartanto, Yekti Widodo
Abstrak:
Read More
Ketidaksiapaan seorang perempuan remaja untuk hamil, melahirkan dan mengasuh dapat mengakibatkan tidak tercapainya perkembangan anak. Dalam meningkatkan perkembangan anak yang optimal, diperlukan kondisi perawatan pengasuhan yang dapat meningkatkan kesehatan, nutrisi, keamanan dan keselamatan, pengasuhan responsif, serta peluang belajar sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kehamilan remaja terhadap perawatan pengasuhan anak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data integrasi Susenas Kor Maret dan Riskesdas tahun 2018. Pengukuran kelas perawatan pengasuhan menggunakan analisis kelas laten. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan aplikasi MPlus Versi 8.3. Perawatan pengasuhan terdiri dari 5 komponen yaitu kesehatan, nutrisi, keamanan dan keselamatan, pengasuhan responsif, serta peluang belajar sejak dini. Hasil penelitian menunjukkan proporsi anak yang dikandung oleh ibu remaja sebesar 31,7%. Terdapat 3 kelas perawatan pengasuhan dalam penelitian ini yang dapat dinamakan kelas dukungan perawatan pengasuhan yang komprehensif, GESID, dan PAUD. Dari 5 komponen perawatan pengasuhan, 3 di antaranya kesehatan, nutrisi dan peluang belajar sejak dini terungkap dibutuhkan oleh semua anak, serta 2 komponen (keamanan dan keselamatan, serta pengasuhan responsif) dibutuhkan oleh kelas tertentu. Sebanyak 62% ibu hamil membutuhkan perawatan pengasuhan komprehensif bagi anaknya, lebih tinggi dibanding ibu usia 20 tahun ke atas (10%). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa anak yang dikandung ibu remaja ini 2 kali lebih membutuhkan dukungan perawatan pengasuhan komprehensif dibanding anak yang dikandung oleh ibu berusia 20 tahun ke atas. Ibu remaja memerlukan bimbingan semua komponen perawatan pengasuhan. Karena isu perawatan pengasuhan adalah lintas bidang dan lintas sektor, maka koordinasi program lintas SKPD sangat penting untuk meningkatkan kesehatan, kecukupan nutrisi, dan peluang belajar sejak dini, serta sesuai kebutuhan masing-masing kelas.
The unpreparedness of an adolescent woman to get pregnant, give birth and nurture can result in not achieving child development. In promoting optimal child development, nurturing care conditions are needed that can improve health, nutrition, security and safety, responsive caregiving, and opportunities for early learning. This study aims to determine the effect of adolescent pregnancy on nurturing care in Indonesia. This study uses integrated data from Susenas kor March and Riskesdas 2018. The masurement nurturing care classes uses latent class analysis. Data analysis in this study used the Mplus application Version 8.3. Nurturing care consists of 5 components namely health, nutrition, security and safety, responsive caregiving, and opportunities for early learning. The results showed that the proportion of children conceived by adolescent mothers was 31.7%. There are 3 classes of nurturing care in this study which can be called comprehensive nurturing care classes, GESID, and PAUD. Of the 5 components of nurturing care, 3 of which are health, nutrition and opportunities for early learning were revealed to be needed by all children, and 2 components (security and safety, and responsive caregiving) were needed by certain classes. As many as 62% of adolescent pregnancy require comprehensive nurturing care for their children, higher than mothers aged 20 years and over (10%). Logistic regression analysis showed that children conceived by adolescent mothers were twice as likely to need comprehensive care support as children conceived by mothers aged 20 years and over. Adolescent mothers need more guidance on all components of nurturing care. Because the issue of nurturing care is cross-cutting and cross sectoral, program coordination across SKPD is very important to improve health, nutritional adequacy, and opportunities for early learning, and according to the needs of each class.
D-468
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurul Huriah Astuti; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Rita Damayanti, Dien Anshari; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Riza Sarasvita, Dwi Hastuti, Fidiansjah, Sri Redatin Retno Pudjiati
Abstrak:
Prevalensi penyalahgunaan narkoba pada remaja di Indonesia masih perlu diturunkan. Studi sebelumnya menunjukkan keluarga adalah faktor protektif penyalahgunaan narkoba. Tujuan studi ini adalah menilai peran modal sosial keluarga sebagai faktor protektif penyalahgunaan narkoba. Studi menganalisis data sekunder. Sampel berjumlah 31.439, umur 10 24 tahun dan belum menikah. Modal sosial keluarga dalam studi ini adalah berupa indeks dari 4 dimensi yang berasal dari 14 items. Nilai cumulative explained dari PCA untuk indeks sebesar 61,8%. Temuan studi menunjukkan bahwa modal sosial keluarga berperan sebagai faktor protektif penyalahgunaan narkoba. Namun, ketika dikontrol oleh dua perilaku permisif menunjukkan semakin tua umur remaja, efek protektif modal sosial keluarga semakin kuat dan konsisten. Temuan lain, modal sosial keluarga tidak berpengaruh langsung terhadap penyalahgunaan narkoba setahun pakai, akan tetapi jalurnya melalui dua perilaku pemisif. Beberapa rekomendasi telah diajukan, di antaranya mendorong agar program penurunan/pencegahan penyalahgunaan narkoba pada remaja melibatkan berbagai dimensi dalam keluarga dan dilakukan mempertimbangkan strata umur perkembangan remaja. Selain itu, mendorong program bersinergi dengan program pencegahan perilaku berisiko lainnya
The prevalence of illicit drug use among adolescents in Indonesia still needs to be reduced. Previous studies have suggested that family is a protective factor against illicit drug use. This study examined the role of family social capital against illicit drug use. The study analyzed secondary data. A total of 31,439 adolescents aged 10 24 years old and not yet married were involved in the present study. This study created an index of family social capital that was grouped in four dimensions from 14 variables. The cumulative explained of Principle Component Analysis was 61.8%. The findings showed that family social capital plays a protective factor against illicit drug use. However, when controlled by two permissive behaviors, it was shown that the older the adolescents, the stronger and more consistent the effect of family social capital. Other findings, family social capital did not directly affect illicit drug use, but the pathway was through two permissive behaviors. This study encourages illicit drug use prevention programs that involve the dimensions of family social capital and accommodate the development age of adolescents. In addition, the program should synergize with other risk behavior prevention programs
Read More
The prevalence of illicit drug use among adolescents in Indonesia still needs to be reduced. Previous studies have suggested that family is a protective factor against illicit drug use. This study examined the role of family social capital against illicit drug use. The study analyzed secondary data. A total of 31,439 adolescents aged 10 24 years old and not yet married were involved in the present study. This study created an index of family social capital that was grouped in four dimensions from 14 variables. The cumulative explained of Principle Component Analysis was 61.8%. The findings showed that family social capital plays a protective factor against illicit drug use. However, when controlled by two permissive behaviors, it was shown that the older the adolescents, the stronger and more consistent the effect of family social capital. Other findings, family social capital did not directly affect illicit drug use, but the pathway was through two permissive behaviors. This study encourages illicit drug use prevention programs that involve the dimensions of family social capital and accommodate the development age of adolescents. In addition, the program should synergize with other risk behavior prevention programs
D-453
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ciri-ciri kepribadian siswa SPG Negeri di Jawa Barat dikaitkan dengan sikapnya terhadap jabatan guru
Mohammad Djawad Dahlan; Pembimbing: Sikun Pribadi
D-37
[s.l.] :
[s.n.] :
1982
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Restu Octasila; Promotor: Besral; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Tris Eryando, Teti Tejayanti, Soedibyo Alimoeso, Ade Jubaedah, Ariyanto Nugroho, Laode Muhammad Rasidi Rere
Abstrak:
Read More
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang besar, dengan disparitas yang signifikan antara provinsi. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), AKB nasional mencapai 24 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2017, namun beberapa provinsi di kawasan timur Indonesia mencatat angka yang jauh lebih tinggi. Keterlambatan dalam deteksi risiko, perencanaan intervensi yang seragam tanpa mempertimbangkan heterogenitas wilayah, dan keterbatasan pendekatan analitik konvensional menjadi hambatan utama dalam penurunan AKB secara bermakna. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model machine learning untuk memprediksi dan memproyeksikan kesintasan hidup bayi berdasarkan klasterisasi provinsi di Indonesia, menggunakan data SDKI 2017 (n=13.553 bayi dari 34 provinsi). Desain penelitian bersifat observasional analitik yang dilaksanakan dalam lima fase terpadu: (1) systematic literatur review kesintasan hidup bayi; (2) analisis survival dan identifikasi determinan menggunakan Kaplan-Meier dan regresi Cox multivariat; (3) klasterisasi provinsi menggunakan algoritme K-Modes berdasarkan profil variabel kategorik; (4) pengembangan dan evaluasi lima model machine learning (Logistic Regression, Random Forest, AdaBoost, Gradient Boosting, XGBoost, dan LightGBM) dengan penyeimbangan kelas menggunakan ADASYN; dan (5) proyeksi kesintasan berdasarkan skenario perbaikan determinan utama per klaster. Probabilitas kesintasan hidup kumulatif bayi nasional pada 12 bulan adalah S(t) = 98,56% dengan 189 kematian dari 13.553 bayi yang diamati. Analisis multivariat mengidentifikasi enam determinan independen, dengan berat bayi lahir sebagai prediktor terkuat (aHR bayi tidak ditimbang: 2,6; 95% CI: 2,0–3,4). Klasterisasi K-Modes menghasilkan dua klaster yang berbeda secara signifikan: Klaster 1 mencakup 24 provinsi (survival 12 bulan: 98,77%) dan Klaster 2 mencakup 10 provinsi yaitu NTT, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua dengan probabilitas kesintasan 98,00%. Model LightGBM Classifier terbukti sebagai algoritme terbaik pada kedua klaster: ROC-AUC 0,939 dengan F1-score 0,890 pada Klaster 1, dan ROC-AUC 0,940 dengan F1-score 0,910 pada Klaster 2. Tingginya nilai recall pada Klaster 2 (0,940 vs 0,877) menunjukkan kemampuan model dalam meminimalkan false negative kematian bayi di kawasan yang paling rentan. Proyeksi simultan seluruh skenario intervensi memperkirakan peningkatan survival Klaster 1 dari 98,77% menjadi 99,5–99,7%, dan Klaster 2 dari 98,00% menjadi 99,3–99,5%, sehingga disparitas antara kedua klaster dapat dipersempit dari 0,77 menjadi kurang dari 0,2 poin persentase.
The Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia remains a major public health chal-lenge, with significant disparities between provinces. According to the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS), the national IMR reached 24 per 1,000 live births in 2017, but several provinces in eastern Indonesia recorded much higher rates. Delays in risk detection, uniform intervention planning without considering regional heterogeneity, and limitations of conventional analytical approaches are ma-jor obstacles to meaningful IMR reduction. This study aims to develop a machine learning model to predict and project infant survival based on provincial clustering in Indonesia, using 2017 IDHS data (n=13,553 infants from 34 provinces). The study design was observational and analytical, implemented in five integrated phas-es: (1) a systematic literature review on infant survival; (2) survival analysis and identification of determinants using Kaplan-Meier and multivariate Cox regression; (3) provincial clustering using the K-Modes algorithm based on categorical variable profiles; (4) development and evaluation of five machine learning models (Logistic Regression, Random Forest, AdaBoost, Gradient Boosting, XGBoost, and LightGBM) with class balancing using ADASYN; and (5) survival projections based on scenarios for improving the main determinants per cluster. The national cumulative infant survival probability at 12 months was S(t) = 98.56% with 189 deaths out of 13,553 observed infants. Multivariate analysis identified six independ-ent determinants, with birth weight as the strongest predictor (aHR unweighted in-fants: 2.6; 95% CI: 2.0–3.4). K-Modes clustering resulted in two significantly dif-ferent clusters: Cluster 1 encompassing 24 provinces (12-month survival: 98.77%) and Cluster 2 encompassing 10 provinces, namely NTT, Central Kalimantan, Cen-tral Sulawesi, Southeast Sulawesi, Gorontalo, West Sulawesi, Maluku, North Ma-luku, West Papua, and Papua with a survival probability of 98.00%. The LightGBM Classifier model proved to be the best algorithm in both clusters: ROC-AUC 0.939 with F1-score 0.890 in Cluster 1, and ROC-AUC 0.940 with F1-score 0.910 in Cluster 2. The high recall value in Cluster 2 (0.940 vs 0.877) indicates the model's ability to minimize false negative infant mortality in the most vulnerable are-as. Simultaneous projection of all intervention scenarios estimates an increase in survival for Cluster 1 from 98.77% to 99.5–99.7%, and for Cluster 2 from 98.00% to 99.3–99.5%, so that the disparity between the two clusters can be narrowed from 0.77 to less than 0.2 percentage points.
D-638
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
