Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32719 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tantry Fatimah Syam; Pembimbing: Toha Muhaimin, Indang Trihandini; Penguji: Rustika, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak:

Penyakit Ginjal Kronik merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat dari tahun ke tahun. Penurunan fungsi ginjal menjadi penyakit ginjal kronik tahap akhir mengakibatkan pasien harus menjalani terapi penganti ginjal semur hidup. Terapi yang paling banyak digunakan saat ini adalah hemodialisis. Meskipun alat hemodialisis telah banyak dan canggih, namun ketahanan hidup pasien PGK masih rendah. Salah satu penyebab rendahnya ketahanan hidup pasien PGK yang menjalani hemodialisis adalah komorbiditas atau penyakit penyerta. Komorbiditas yang saat ini paling umum pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis adalah diabetes mellitus. Desain penelitian ini menggunakan desain kohort restrospektif. Probabilitas ketahanan hidup 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan dan 1 tahun pasien PGK yang menjalani hemodialisis dengan komorbiditas diabetes mellitus lebih rendah dibandingkan pasien dengan komorbiditas bukan diabetes mellitus. Probabilitas ketahanan hidup 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 1 tahun dan pasien PGK yang menjalani hemodialisis dengan komorbiditas diabetes mellitus adalah dalah 69%, 55% 34%, dan 34% sedangkan komorbiditas bukan diabetes mellitus adalah 76%, 61%, 53% dan 51%. Secara bivariat, pasien PGK yang menjalani hemodialisis dengan komorbiditas diabetes mellitus memiliki risiko untuk meninggal 1.75 kali lebih cepat dibandingkan dengan pasien komorbiditas bukan diabetes mellitus. Sementara itu dari analisis multivariat didapatkan variabel konfonder yang mempengaruhi rendahnya ketahanan hidup pasien PGK yang menjalani hemodialisis pada pasien dengan komorbiditas diabetes mellitus adalah akses vaskular.


 

Chronic kidney disease (CKD) is one of the no-communicable diseases which increase every years. The decline of kidney function will progress to End Stage Renal Disease (ESRD). The ESRD patients has to undurgo dialysis therapy during their lives. the most dialysis therapy is hemodialysis. Although the machine of hemodialysis are quiet a a lot and sophisticate, the survival of CKD patients is still low. One of the causes of low survival PGK patient on maintenance hemodialysis is the comorbid or present disease. Nowadays the most common comorbid for CKD patient with hemodialysis is diabetes mellitus. Research design is using Kohort Retrospective. The probability of survival of 3 months,6 months, 9 months and 1 year CKD patients on maintenance hemodialysis with comorbid diabetes mellitus is lower than patients without comorbidities of diabetes mellitus. The probability ofsurvival of 3 months, 6 months, 9 months, 1 year and CKD patients on maintenance with comorbid diabetes mellitus are 69%, 55% 34%, and 34% while one not comorbid diabetes mellitus are 76%, 61%, 53 % and 51%. In bivariate analysis,CKD patients on maintenance hemodialis with comorbid diabetes mellitus have a risk of dying 1.75 times faster than patients without comorbiddiabetes mellitus. Meanwhile obtained from multivariate analysis confonder variables that affect the low survival of CKD patients on maintenance in patients with comorbid diabetes mellitus is a vascular access.

Read More
T-3866
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Setiowati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Popy Yuniar, Toha Muhaimin, Rizka Andalusia
T-3946
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deni Purnama; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Afiati, Tri Yunis Miko Wahyono
T-4279
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bryan Mario Isakh; Pembimbing: Tris Eryando, Besral; Penguji: Anna Maria Sirait, Eva Sulistiowati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi PPOK, hubungan kebiasaan merokok terhadap PPOK dan faktor yang paling berhubungan dengan PPOK pada responden studi kohor PTM.Data yang digunakan adalah baseline data studi kohor PTM.Disain penelitian potong lintang.Lokasi penelitian pada 5 kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah.Jumlah responden 1.972 responden studi kohor yang memenuhi kriteria untuk diperiksa menggunakan spirometry.Metode wawancara dan pemeriksaan spirometry.Hasil menunjukan bahwaPerokok berat (≥ 400 btg) nilai p < 0,05,(OR : 3,45; CI 95% : 1,593-3,055) 3,5 kali lebih berisiko terhadap kejadian PPOK dibanding responden yang tidak merokok. Perokok sedang(150-399 btg) nilai p< 0,05, (OR : 2,25; CI 95% : 2,007-5,963) 2,3 kali lebih berisiko terhadap kejadian PPOK dibanding responden yang tidak merokok. Perokok ringan (1-149 btg) nilai p< 0,05, (OR : 1,92; CI 95% : 1,460-3,457) 1,9 kali lebih berisiko terhadap kejadian PPOK dibanding responden yang tidak merokok. Responden laki-laki nilaip <0,05, (OR : 2,206; CI 95% : 1,593-3,055), 2,2 kali lebih berisiko terhadap kejadian PPOK dibanding responden perempuan.Kesimpulan semakin banyak jumlah rokok yang dikonsumsi semakin besar risiko PPOK.Perlu koordinasi dengan Puskesmas dan Dinkes setempat untuk upaya pencegahan PPOK terutama pada reponden perokok. Kata kunci:PPOK, merokok, indeks brinkman The purpose of this study to determine the proportion of COPD, the relationship of smoking to COPD and most closely the factors related to COPD on PTM cohort study respondents. The data used is baseline data of PTM cohort study. Cross sectional design. Location of research in 5 urban villages in Central Bogor District.The number of respondents 1,972 cohort study respondents who met the criteria for examination using spirometry.The method is Interview and spirometry examination. The results showed that heavy smokers (≥400 btg) of p <0.05, (OR: 3.45; 95% CI: 1.593-3.055) were 3.5 times more likely to have COPD events than non-smokers. Moderate smokers (150-399 btg) of p <0.05, (OR: 2.25; 95% CI: 2,007-5,963) were 2.3 times more likely to have COPD events than non-smokers. Light smokers (1-149 btg) p <0.05, (OR: 1.99; 95% CI: 1,460-3,457) 1.9 times more likely to have COPD events than non-smokers. Male respondents scored p <0.05, (OR: 2.206; 95% CI: 1.593-3.055), 2.2 times more likely to have COPD events than female respondents. The conclusion that the higher the number of cigarettes consumed the greater the risk of COPD.Perlu coordination with Puskesmas and local health office to prevent COPD especially on smokers reponden. Keyword: COPD, smoking habits, brinkman index,
Read More
T-5068
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ester Suryawati; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Besral, Tri Yunis Miko Wahyono, Sulistyo
Abstrak: Proporsi kematian karena MDR TB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 12,73%. Penelitian ini bertujuan untuk melihat factor factor yang mempengaruhi ketahanan hidup pasien MDR TB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Desain penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan jumlah sampel 216 di mana 80 sebagai event dan sisanya sebagai sensor. Hasil analisis dengan Survival dengan Spss memperlihatkan predictor utama dari ketahanan hidup pasien MDR TB di RSHS adalah pola resistensi(HR 0,3 ; 95% CI 0,2-0,5; P value 0,000), efek samping obat berhubungan dengan waktu(HR 1,12; 95% CI 1,02-1,22; P value 0,013)dan BMI kurang (HR 1,8; 95%CI 1,02-3,3; P value 0,04). Efek samping obat sebelum terapi bulan kedelapan efeknya proteksi, sedangkan sesudah itu meningkatkan resiko kematian. Konfoundingnya adalah riwayat merokok, jenis kelamin, umur dan pekerjaan. Probabilitas ketahanan hidup pasien MDR TB 0,56. Oleh sebab itu peningkatan kepatuhan minum obat, konsistennya pengukuran tinggi badan dan berat badan pasien MDR TB dan efektivitas manajemen efek samping OAT dapat meningkatkan ketahanan hidup pasien MDR TB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Kata kunci: MDR TB, Ketahanan Hidup, Pola Resistensi, BMI, Efek samping Obat, merokok, jenis kelamin, pekerjaan
Read More
T-4358
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maritsa Putriniandi Az-Zahra; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Popy Yuniar, Uswatun Hasanah
Abstrak:
Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit tidak menular yang dapat diobati dan konsekuensinya dapat dihindari atau ditunda dengan pola makan, aktivitas fisik, pengobatan, serta skrining dan pengobatan komplikasi secara teratur. Namun, penyakit ini didiagnosis beberapa tahun setelah timbul sehingga komplikasi dan komorbid telah muncul dan menjadi kasus penyakit yang sering sekali masuk dalam daftar 10 besar penyakit yang menjalani rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keparahan dan komorbiditas terhadap lama rawat inap pasien diabetes melitus tipe 2 di FKRTL pada peserta BPJS Kesehatan tahun 2023, dengan dikontrol oleh variabel tipe FKRTL, kepemilikan FKRTL, segmentasi, kelas rawat, usia, dan jenis kelamin. Penelitian ini menggunakan data sampel BPJS Kesehatan 2023 dengan studi potong-lintang. Analisis yang dilakukan mencangkup analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis bivariat menghasilkan hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan terhadap lama rawat inap (p-value= 0,001) dan hasil yang tidak signifikan untuk komorbiditas dengan lama rawat inap (p-value= 0,285). Tingkat keparahan sedang dan berat dan komorbiditas dengan skor CCI lebih dari sama dengan 1 beresiko lebih tinggi untuk menjalani lama rawat inap panjang dan beresiko lebih rendah untuk menjalani rawat inap pendek daripada ideal (RRR=4,95; 95%CI=0,82–29,85; RRR=0,46; 95%CI=0,29–0,72 | RRR=1,11; 95%CI= 0,25–4,92; RRR=0,67; 95%CI=0,41–1,10). Analisis multivariat untuk mengontrol variabel tipe FKRTL, kepemilikan FKRTL, segmentasi, kelas rawat, usia, dan jenis kelamin didapatkan hasil yang tetap signifikan antara tingkat keparahan dengan lama rawat inap setelah dikontrol oleh variabel tipe FKRTL dan kepemilikan FKRTL dan komorbiditas tetap tidak signifikan walaupun setelah dikontrol oleh variabel kontrol. Upaya peningkatan program deteksi dini klinis derajat tingkat keparahan dan komorbid DM tipe 2 agar tidak memperpanjang durasi rawat inap akibat komplikasi dan keparahan yang menimbulkan beban kesehatan yang berarti.


Type 2 diabetes mellitus is a non-communicable disease that can be treated, and its consequences can be prevented or delayed through proper diet, physical activity, medication, as well as regular screening and treatment of complications. However, this disease is often diagnosed several years after onset, by which time complications and comorbidities may have developed, making it one of the top 10 causes of hospitalizations. This study aims to determine the effect of severity and comorbidity on the length of hospital stay among patients with type 2 diabetes mellitus in advanced referral health facilities (FKRTL) among BPJS Kesehatan participants in 2023, controlled for variables such as FKRTL type, FKRTL ownership, segmentation, care class, age, and gender. This research used 2023 BPJS Kesehatan sample data with a cross-sectional study design. The analysis included univariate, bivariate, and multivariate methods. Bivariate analysis showed a significant relationship between severity and length of stay (p-value = 0.001), while comorbidities were not significantly associated with length of stay (p-value = 0.285). Moderate to severe severity and comorbidities with a CCI score of ≥1 were associated with a higher risk of prolonged hospitalization and a lower risk of short hospitalization compared to the ideal length of stay (RRR = 4.95; 95% CI = 0.82–29.85; RRR = 0.46; 95% CI = 0.29–0.72 | RRR = 1.11; 95% CI = 0.25–4.92; RRR = 0.67; 95% CI = 0.41–1.10). Multivariate analysis controlling for FKRTL type, FKRTL ownership, segmentation, care class, age, and gender showed that the association between severity and length of stay remained significant after controlling for FKRTL type and FKRTL ownership, while the association between comorbidity and length of stay remained insignificant even after adjusting for control variables. Efforts to enhance clinical early detection programs for the severity level and comorbidities of type 2 diabetes mellitus are necessary to prevent prolonged hospital stays due to complications and disease severity, which contribute to a significant healthcare burden.
Read More
S-12078
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Julius Sugiharto; Pembimbing: Tris Eryando, Besral; Penguji: R. Sutiawan, Flourisa J Sudrajat, Eni Gustina,
Abstrak: Ketahanan hidup bayi didefinisikan sebagai kemampuan bayi untuk bertahan hidup menjalani kehidupan sampai dengan berusia 1 tahun. Ketahanan hidup bayi merupakan kebalikan dari kematian bayi yang merupakan kematian yang terjadi antara setelah lahir sampai bayi belum tepat berusia 1 tahun. Tahun 2012, AKB Indonesia sebesar 32 per-1000 kelahiran hidup. Angka ini tergolong tinggi jika dibandingkan Negara tetangga dengan kondisi sosial ekonomi yang sama. Di sisi lain, kesenjangan AKB juga terjadi pada tingkat sosial ekonomi di Indonesia. Sosial ekonomi merupakan faktor primer penentu ketahanan hidup bayi. Status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi ketahanan hidup bayi melalui faktor maternal, gizi, kondisi bayi saat lahir, pengendalian penyakit dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran ketahanan hidup bayi di Indonesia dan determinan yang mempengaruhinya berdasarkan data SDKI 2012. Penelitian ini menggunakan data SDKI 2012. Dari hasil analisis diperoleh bahwa ketahanan hidup bayi di Indonesia tahun 2012 adalah sebesar 97,8%. Ketahanan hidup bayi menurun tajam pada usia 1 bulan pertama, dimana proporsi kematian bayi pada masa neonatal adalah sebesar 53,8% dan kematian neonatal terbanyak terjadi pada usia 0-7 hari, sebesar 80%. Berdasarkan hasil regresi cox time dependent, variabel yang masuk ke dalam model adalah umur melahirkan (20-35 tahun, HR=1,9), pekerjaan (karyawan/pegawai, HR=2,2; informal/industri, HR=3,3; sektor pertanian, HR=2,1), berat bayi lahir (<2500 gram, HR=5,9; tidak timbang, HR=2,0), pemberian makanan prelakteal (HR=1,5), pemeriksaan paska persalinan (tidak periksa, HR=2,2). Terdapat interaksi waktu dengan efek berat lahir rendah dengan pemeriksaan paska salin pada model ketahanan bayi yang diperoleh. Kata kunci : Ketahanan hidup bayi, sosial ekonomi, kematian bayi, neonatal, regresi cox time
dependent Infant survival is defined as the ability of infants to survive through life up to 1 year old. Infant survival is the opposite of infant mortality is the death that occurred between after birth until the baby has not exactly 1 year old. In 2012, Indonesia IMR reported as 32 per 1,000 live births. This figure is relatively high compared to the Asia countries with similar socio-economic conditions. Moreover, the gap of IMR also occurred in socio-economic level within Indonesia. Socio-economic status is the primary factor determining survival of infants. Socio-economic status will affect infant survival through maternal factors, nutrition, baby's condition at birth, disease control and environment. This study aims to reveal the infant survival in Indonesia and its determinants based on data IDHS 2012. This study uses Indonesia Demographic and Health Survey 2012. The result shows that probability of infant survival in Indonesia amounted to 97,8%. Infant survival decreased sharply in the first months of age 1, wherein the proportion of infant deaths in the neonatal period amounted to 53.8% and neonatal deaths occurred in the age of 0-7 days, by 80%. Based on the results of time-dependent Cox regression, the variables entered into the multivariate model were maternal age when gave birth (20-35 years, HR = 1.9), Maternal employment (officer/employee, HR = 2.2; informal sector/industrial, HR = 3.3 ; agriculture, HR = 2.1), birth weight (<2500 grams, HR = 5.9; not weigh, HR = 2.0), prelakteal feeding (HR = 1.5), post-delivery checked (not checked, HR = 2.2). There is interaction between time with the effects of low birth weight and post- delivery checked in the multivariate model obtained. Keywords : Infant survival, infant death, socio-economics, neonatal, cox time dependent regression
Read More
T-4271
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenny Virginia Sandra Dewi; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: R. Sutiawan, Yulia
Abstrak: Latar belakang: Diabetes Melitus tipe 2 tidak dapat disembuhkan. Edukasimerupakan salah satu penanganan DM tipe 2. Edukasi atau Diabetes SelfManagement Education (DSME) di rumah sakit tidak optimal berdampak padalama hari rawat yang panjang.
Tujuan: untuk mengetahui karakteristik pasienDM tipe 2 di RSUP NTB tahun 2012-2013, serta mengukur asosiasi sederhana DSME terhadap lama hari rawat pasien di RSUP NTB. Desain dan
Metode: Tinjauan secara retrospektif terhadap 199 rekam medis pasien DM tipe 2.
Hasil: DSME disampaikan oleh perawat dan ahli gizi. Akan tetapi, tidak seluruh pasien mendapat edukasi. Di RSUP NTB, yang tercatat edukasi tentang: diet (53%),aktivitas fisik (33%), tentang obat (8%), komplikasi (1%), edukasi lainnya (6%),dan 27% pasien yang tidak mendapat edukasi apapun oleh perawat. Sebanyak 43.7% pasien yang mendapat konseling gizi oleh ahli gizi. Pasien yang mendapatDSME memiliki lama hari rawat yang lebih singkat dibandingkan dengan yang tidak mendapat edukasi.
Kesimpulan: berdasarkan catatan rekam medis DSMEdi RSUP NTB belum optimal dan DSME berperan mempersingkat lama harirawat pasien.
Kata kunci: Diabetes Self Management Education, DM tipe 2, lama hari rawat,rawat inap, RSUP NTB.

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (type 2 DM) is a disease that can not becured. An adequate education is one of way management of type 2 DM. DiabetesSelf Management Education (DSME) in hospitals not adequate and impact onlength of stay.
Purpose: this study to describe characteristics of patients withtype 2 DM at General Hospital West Nusa Tenggara 2012-2013, and measuredassociation of DSME to length of stay.
Design and Method: Descriptiveresearch method with retrospective design. Number of samples involved in thisstudy is 199 medical records of patients with type 2 DM.
Result: DSMEdelivered by nurses and nutritionists. But, not all patients get DSME. DSMErecorded was about: diet (53%), exercises (33%), medicines (8%),complications of type 2 DM (1%), other education (6%), and 27% of patients donot get any DSME. Patients with DSME has shorter length of stay than patientwithout DSME.
Conclusion: according to medical records, DSME at GeneralHospital West Nusa Tenggara 2012-2013 is not optimal and DSME role inlength of stay of patients with type 2 Diabetes Mellitus.
Keywords: Diabetes Self Management Education; type 2 DM; length of stay,inpatient, RSUP NTB.
Read More
S-8468
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Guruh Aryo Cahyo; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Agus Gojali
Abstrak: Latar Belakang: Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit tidak menular yang disebabkan oleh adanya gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah dan disertai gangguian kandungan karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat kurang berfungsinya insulin. Perencanaan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular khususnya diabetes mellitus sangat diperlukan. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan pemantauan pada Kota Depok secara menyeluruh maka dapat dilakukan pengecekan kesehatan dan deteksi dini oleh petugas kesehatan, agar penyebaran penyakit tidak menular tidak bertambah pesat setiap saatnya. Menurut American Diabetes Association (ADA), diabetes mellitus secara etiologis terbagi menjadi kedalam empat tipe, diantaranya adalah DM Tipe 1, DM Tipe 2, DM Tipe Gestasional, dan DM Tipe Lainnya. Namun IDF pada tahun 2011 hanya mengklasifikasikannya kedalam 3 tipe utama, yaitu DM Tipe 1, DM Tipe2, dan DM Tipe Gestasional. Faktor risiko pada Diabetes mellitus, dibagi menjadi faktor risiko yang dapat diubah dan faktor risiko yang tidak dapat diubah. Faktor risiko yang dapat diubah meliputi berat badan, pola hidup, dan status kesehatan. Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan riwayat keluarga. Diharapkan faktor risiko dan deteksi dini dapat memudahkan petugas dalam menganalisis persebaran penyakit Diabetes Mellitus dan memantau perkembangannya, menjadikan sarana untuk merekam dan menyimpan informasi mengenai demografi, populasi, dan tren perilaku, mengidentifikasi dan menyelidiki hubungan dan komplikasi antar penyakit tidak menular, seerta sebagai bahan perencanaan untuk mengetahui hubungan Hipertensi dengan kejadian Diabetes Mellitus dan menangani masalah kesehatan di masyarakat.
Tujuan: Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Orang Dengan Hipertensi Terhadap Kejadian Diabetes Mellitus di Kota Depok.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, dengan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan Sistem Informasi Penyakit Tidak Menular (SIPTM) Dinas Kesehatan Kota Depok.
Hasil: Jumlah kasus Diabetes Mellitus di Kota Depok pada tahun 2017-2019 semakin fluktuatif. Pada tahun 2017 ditemukan kasus Diabetes Mellitus sebanyak 245 kasus, sedangkan pada tahun 2018 dan 2019 secara berturut-turut ditemukan sebanyak 282, dan 315 kasus. Jumlah kasus Diabetes Mellitus di Kota Depok lebih banyak ditemukan karena adanya pola gaya hidup yang tidak sehat, riwayat keluarga, dan kurangnya aktivitas fisik pada seseorang Selain itu tidak adanya korelasi antara jumlah fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan terhadap jumlah kasus Diabetes Mellitus.
Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Faktor Risiko, Hipertensi, Penyakit Tidak Menular.
Read More
S-10444
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diesta Nurrika; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Bambang Dwipoyono, Kusharisupeni Djokosujono; M. Soemanadi
T-3153
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive