Ditemukan 42027 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tujuan dan Metode. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi merokok dengan lama waktu sampai mulai menyalahgunakan ganja. Sampel penelitian ini adalah 10.379 pelajar/mahasiswa perokok, dengan 708 penyalahguna ganja. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kesintasan regresi Cox with time dependent covariats.
Hasil Penelitian. Berdasarkan frekuensi merokok, median waktu ketahanan dari mulai pertama kali merokok sampai menyalahgunakan ganja menunjukkan tidak ada perbedaan antara kelompok merokok rutin dengan kelompok merokok tidak rutin, masing-masing 2 tahun. Hasil uji wilcoxon menyimpulkan ada perbedaan ketahanan menyalahgunakan ganja antara kelompok jarang merokok dengan kelompok perokok berfrekuensi <5 - >35 batang/minggu. Analisis multivariat menunjukkan pola semakin banyak jumlah batang rokok yang dikonsumsi, semakin besar nilai risiko untuk menyalahgunakan ganja setelah dikontrol oleh variabel confounder (riwayat minum alkohol, keluarga terpajan alkohol dan atau narkoba, pernah terpisah orangtua minimal enam bulan, dan pengaruh teman sebaya). Risiko untuk terjadinya penyalahgunaan ganja pada pelajar/mahasiswa yang merokok dengan frekuensi <5 - 7 batang/minggu adalah 2.5 lebih besar daripada pelajar/mahasiswa yang jarang merokok. Sedangkan risiko untuk terjadinya penyalahgunaan ganja pada pelajar/mahasiswa yang merokok dengan frekuensi >7 - 35 batang/minggu adalah 4.0 kali lebih cepat daripada pelajar/mahasiswa yang jarang merokok. Sementara, risiko untuk terjadinya penyalahgunaan ganja pada pelajar/mahasiswa yang merokok dengan frekuensi >35 batang/minggu adalah 4.5 kali lebih cepat daripada pelajar/mahasiswa yang jarang merokok.
Kesimpulan. Frekuensi merokok mempengaruhi besarnya risiko untuk menyalahgunakan ganja. Semakin banyak jumlah batang rokok yang dikonsumsi, semakin besar risiko untuk menyalahgunakan ganja.
Objective. The purpose of this study was to know the relationship between cigarette smoking frequency with long time to start cannabis use. A sample of 10.379 student smokers, with 708 cannabis users was used. Cox regression with time dependent covariats was analyzed as study method.
Results. Based on the frequency of cigarette smoking, the median of survival time from initial smoking to cannabis use showed no difference among regular smoking group with non regular smoking group, each 2 years. Wilcoxon test result concluded that there were difference of survival cannabis use between non regular smoking group with smokers groups which regular cigarette smoking <5 - >35 cigarette/week. Multivariate analysis showed patterns that the more the number of cigarettes consumed, the greater risk to cannabis use, after controlled by the confounder variables (history of alcohol drinking, family exposed to alcohol and or drugs, separated parents at least six months, and the influence of peers). Risk to cannabis use among students who cigarette smokers <5 ? 7 cigarette/week was 2.5 greater than students who non regular smoking. Risk to cannabis use among students who cigarette smokers <7 ? 35 cigarette/week was 4.0 greater than students who non regular smoking. Risk to cannabis use among students who cigarette smokers <35 cigarette/week was 4.5 greater than students who non regular smoking.
Conclusion. Frequency of smoking influences the risk of cannabis use. The more the number of cigarette consumed, the greater risk to cannabis use.
Latar Belakang: Penggunaan rokok elektrik meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir dan sering diklaim sebagai alternatif lebih aman dari rokok konvensional, bahkan sebagai alat bantu berhenti merokok. Namun, klaim ini belum terbukti secara konsisten, terutama pada kelompok perokok konvensional harian usia produktif di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara penggunaan rokok elektrik dengan keberhasilan berhenti merokok pada perokok konvensional harian usia 20–44 tahun di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021. Analisis dilakukan pada responden berusia 20–44 tahun yang merupakan perokok konvensional harian dan pernah mencoba berhenti merokok. Variabel dependen adalah keberhasilan berhenti merokok, sedangkan variabel independen adalah penggunaan rokok elektrik. Analisis multivariabel dilakukan dengan regresi logistik berganda.
Hasil: Setelah dikontrol oleh variabel confounder (jenis kelamin, status ekonomi, status merokok keluarga dan teman, serta larangan merokok di rumah), penggunaan rokok elektrik harian berhubungan positif dan signifikan dengan keberhasilan berhenti merokok (AOR = 10,37; 95% CI = 2,14-50,33; p < 0,004), sedangkan penggunaan kadang-kadang tidak signifikan, meskipun arah hubungannya positif (AOR = 1,71; 95% CI = 0,45–6,46; p = 0,427).
Kesimpulan: Penggunaan rokok elektrik secara harian dapat menjadi alat bantu yang mendukung keberhasilan berhenti merokok jika digunakan secara konsisten. Namun, peran lingkungan dan sosial juga tetap menjadi faktor penting yang mendorong keberhasilan berhenti merokok. Penemuan ini dapat menjadi dasar dalam merancang kebijakan pengendalian tembakau dan strategi berhenti merokok berbasis bukti di Indonesia.
Background: The use of electronic cigarettes has increased significantly over the past decade and is often perceived as a safer alternative to conventional cigarettes, even as a smoking cessation aid. However, its effectiveness in Indonesia remains inconsistent, particularly among daily conventional smokers in the productive age group. This study aims to identify the association between e-cigarette use and successful smoking cessation among daily conventional smokers aged 20–44 years in Indonesia. Methods: This quantitative study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2021 Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia. The analysis focused on respondents aged 20–44 years who were daily conventional smokers and had attempted to quit smoking. The dependent variable was successful smoking cessation, while the independent variable was e-cigarette use. Multivariable analysis was conducted using multiple logistic regression. Results: After controlling for confounding variables (gender, economic status, household and peer smoking status, and household smoking restrictions), daily e-cigarette use was positively and significantly associated with successful smoking cessation (AOR = 10.37; 95% CI = 2.14–50.33; p < 0.004), whereas occasional use was not statistically significant, although the direction of the association was positive (AOR = 1.71; 95% CI = 0.45–6.46; p = 0.427). Conclusion: Daily e-cigarette use may serve as a supportive tool for successful smoking cessation if used consistently. However, environmental and social factors also remain critical contributors to cessation success. These findings can serve as a foundation for developing evidence-based tobacco control policies and smoking cessation strategies in Indonesia.
