Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27264 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Gilbert W S. Simanjuntak; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Ko-Promotor: Mailangkay, Asri C. Adisasmita; Penguji: Hasbullah Thabrany, Ratna Djuwita, Syahrizal Syarif, Mardiati Nadjib, Andika Prahasta
D-282
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abioso Wicaksono; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Eddy Harijanto
Abstrak:
Latar Belakang: Sepsis masih merupakan penyebab tertinggi kematian di ICU. Saat ini, qSOFA adalah alat skrining untuk Sepsis yang paling sering digunakan di IGD di Indonesia, akan tetapi menurut panduan terbaru dari ?Surviving Sepsis Campaign?, qSOFA sudah tidak valid lagi. Studi ini bertujuan untuk menilai akurasi diagnostic dari qSOFA, NEWS2 dan mqSOFA yang merupakan kombinasi dari qSOFA dan NEWS2 sebagai alat screening untuk Sepsis. Metode: Studi kohort retrospektif ini menggunakan data ICU dari suatu RS swasta tipe B di Tangerang Selatan. Uji diagnostik dilakukan untuk menilai akurasi dari qSOFA, NEWS2 and mqSOFA. Untuk memperhitungkan determinan lain yang relevan pada praktek klinis sehari-hari, maka dilakukan juga diagnostic research untuk mendapatkan alat skrining yang lebih akurat. Hasil: Penelitian ini mengikut-sertakan 305 pasien yang dirawat di ICU pada tahun 2020. Akurasi dari mqSOFA di IGD cukup baik (modest) untuk menapis kejadian Sepsis dengan AUROC= 0.605. 95%CI: 0,536-0,675, nilai p= 0,004 pada titik potong skor = 3, Sensivitas= 63.1%dan Spesifisitas = 53,3%. Akurasi ini lebih baik daripada qSOFA, dan berada sedikit di bawah NEWS2. Akurasi Comp_mqSOFA hanya sedikit lebih baik daripada Comp_mqSOFA. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa mqSOFA berpotensi menjadi alat skrining untuk Sepsis dengan akurasi yang lebih baik daripada qSOFA. Faktor lain seperti usia di atas 65 tahun, adanya penyakit paru dan kurang gizi juga berkontribusi untuk terjadinya Sepsis di ICU. Comp_mqSOFA mempunyai akurasi sedikit lebih baik dibandingkan mqSOFA.

Background: Sepsis remains as one of the highest contributors of mortality in the ICU. qSOFA is the most used screening tool for Sepsis in emergency departments in Indonesia, however according to the newest guideline from the ?Surviving Sepsis Campaign? qSOFA is no longer valid. This study aims to measure of the performance of qSOFA, NEWS 2 and a combination of qSOFA and NEWS 2 (mqSOFA) in the screening for Sepsis. Methods: This retrospective cohort study uses data from a private type-B hospital in Tangerang Selatan. Diagnostic testing was performed to measure the accuracy of qSOFA, NEWS and mqSOFA. Diagnostic research was then conducted to determine whether mqSOFA added diagnostic value in the diagnosis of Sepsis in daily practice. Results: The study included 305 patients who were admitted for intensive care in the year of 2020. The accuracy of mqSOFA in the emergency department was modest with an AUROC = 0.605, 95% CI: 0.536-0.675, p value- 0.004 at cut-off =3, Sensitivity= 63.1% and Specificity=55.3%. The accuracy of mqSOFA is better than qSOFA, and slightly less accurate to NEWS2. Comp_mqSOFA?s accuracy is not much better than that of mqSOFA. Conclusion: This study shows mqSOFA can be a significant too in screening of Sepsis. Other factors such as age over 65 years old, pulmonary disease and malnourishment also contribute to the incidence of Sepsis.
Read More
T-6487
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atti Ratnawiati; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Karyana, Lela Amelia
Abstrak: Sitikolin adalah neuroprotektor yang paling banyak digunakan untuk memperbaikikerusakan neurologis pada penderita stroke iskemik, namun efektivitas sitikolinmasih diperdebatkan berdasarkan penelitian ilmiah karena memberikan hasil yangheterogen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi sitikolinterhadap fungsi neurologis yang dinilai dengan The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) dan kemampuan fungsional yang dinilai dengan BarthelIndex. Penelitian pada pasien stroke iskemik berdasarkan terapi sitikolin yangdilakukan di 18 rumah sakit di Indonesia yang berkontribusi dalam registripenyakit stroke. Desain studi penelitian ini adalah kohort retrospektifmenggunakan data registri stroke Indonesia. Penilaian perbaikan fungsineurologis berdasarkan perubahan nilai NIHSS sebesar > 2 poin dan penilaiankemampuan fungsional berdasarkan perubahan nilai Barthel Index sebesar > 20poin yang diukur pada saat masuk dan keluar rumah sakit. Pasien stroke iskemikyang mendapat terapi sitikolin memiliki peluang perbaikan fungsi neurologissebesar 1,34 kali (CI 95% 1,058-1,658) dibanding pasien yang tidak mendapatterapi sitikolin setelah dikontrol variabel neurorestorasi. Peluang perbaikankemampuan fungsional pasien stroke iskemik yang mendapat terapi sitikolinsama dengan pasien yang tidak mendapat sitikolin setelah dikontrol denganneurorestorasi dengan relative risk 1,07 (CI95% 0,879-1,293; p=0,53).Kata kunci: Barthel Index; NIHSS; Sitikolin; Stroke Iskemik
Citicoline is the most widely used neuroprotective to repair neurological deficit inischemic stroke patients, however the effectiveness of citicoline is stillcontroversial and raise arguments against scientific research because it providedheterogeneous results.The objectives of the study are to identify citicoline effecton neurological function improvement using The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) and functional ability improvement using Barthel Index(BI) in the treatment of ischemic stroke patients at 18 hospitals involved inIndonesia stroke registry. The design of this study is retrospective cohort studyusing stroke registry data. Improvement of neurological function assessed bychanges of NIHSS score >2 and improvement of functional ability assesed bychanges of Barthel Index score > 20 as measured at the time of admission anddischarge of the hospital.The result shows that the probability of functionalneurological improvement on citicoline treatment group is higher than nociticoline treatment group with adjusted RR by neurorestoration is 1,34 (95% CI1.058 to 1.658, p=0,0014). There is no difference of functional abilityimprovement between citicoline and no citicoline treatment group, with adjustedRR by neurorestoration is 1.07 (CI95% 0.879 to 1.293; p=0,53).Keywords : Barthel Index; Citicoline; Ischemic stroke; NIHSS.
Read More
T-4632
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudha Asy'ari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Putri Bungsu, Esti Widorini
Abstrak:
Cedera medula spinalis merupakan peristiwa traumatis atau non-traumatis yang dapat mempengaruhi fungsi neurologis baik motorik, sensorik, atau autonom penderitanya. Insiden dan prevalensi cedera medula spinalis meningkat seiring dengan peningkatan aktivitas manusia. Cedera medula spinalis dapat menyebabkan morbiditas temporer atau permanen, hingga mortalitas. Namun, beberapa studi menunjukkan adanya perbaikan selama masa perawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang memprediksi perbaikan sensorik dan motorik pada pasien dengan cedera medula spinalis yang di rawat inap RSUP Fatmawati dari tahun 2022 hingga 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif. Besar sampel yang digunakan adalah 316 sampel berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua variabel yang berhubungan bermakna setelah dilakukan logistik regresi yaitu, penanganan medis (RR= 2.538 95%CI 1.808-3.900; p<0.001) dan lama rawat inap (RR 0.646 95%CI 0.486-0.838; p=0.013). Selain itu, terdapat tiga variabel lain yang bertahan hingga model akhir yaitu status pernikahan, AIS saat masuk, dan komorbid hipertensi. Model menunjukkan kecocokan yang baik (Hosmer-Lemeshow p=0.268) dan kemampuan diskriminasi yang cukup (AUC = 0.710), sehingga layak digunakan untuk memprediksi kemungkinan perbaikan.

Spinal cord injury is a traumatic or non-traumatic event that can affect the neurological function, whether motoric, sensory, or autonomic. The incidence and prevalence of spinal cord injury increase along with increasing human activity. Spinal cord injury can cause temporary or permanent morbidity, even mortality. However, several studies have shown recovery of sensory and motor during the treatment period. This study aimed to identify factors that predict sensory and motor recovery in patients with spinal cord injury who were hospitalized af Fatmawati General Hospital from 2022 to 2024. A retrospective cohort design was employed, involving 316 patients who met the inclusion and exclusion criteria. The results of logistic regression analysis showed two variables significantly associated with sensory and motor recovery: medical intervention (RR= 2.538; 95%CI 1.808-3.900; p<0.001) and length of hospital stay (RR= 0.646; 95%CI 0.486-0.838; p=0.013). additionally, three other variables, marital status, AIS score at admission, and hypertension comorbidity, remained in the final model as non-significant covariate. The model demonstrated a good fit (Hosmer-Lemeshow p=.0.268) and fair discriminative ability (AUC=0.710), indicating its suitability for predicting the likelihood of sensory and motor recovery in SCI patients

Read More
T-7338
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Czeresna Heriawan Soejono; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-promotor: Supartonodo, Soewarta Kosen, Penguji: H.A. Aziz Rani, Harry Isbagio, Nuning Maria Kiptiyah, Mardiati Najib, Syahrizal Syarif
D-200
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imam Rasjidi; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-promotor: M. Farid Aziz, Akmal Taher; Penguji: Syahrizal Syarif, Soewarta Kosen, Laila Nuranna, Chaidir A Mocthar, Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo, Bambang Sutrisna, Farid Aziz, Akmal Taher
D-223
Depok : FKM-UI, 2008
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firzawati; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Pujiyanto, Adiani Ayudi Rahmah
Abstrak:

Dalam penulisan resep, pandangan dokter mengenai obat yang cocok bagi pasien adalah obat yang memiliki efikasi dan kualitas yang baik namun kurang mempertimbangkan kemampuan pasien dalam membayar atau membeli obat tersebut. Pada pasien yang memiliki jaminan asuransi, dokter tidak memiliki kendala dan hambatan dalam pola peresepan. Demikian pula dengan hadirya beberapa kebijakan dari PT. Askes yang menerbitkan DPHO (Daiiar Plafon Harga Obat); climana obat yang digunakan untuk pasien peserta Askes PNS, adalah obat yang sesuai dengan DPHO' tersebut, dan bila tidak sesuai dengan DPHO maka pasien membayar sendiri obat yang akan ditangglmg sendiri (Out of Pocket). Oleh karenanya perlu dilakukan analisis, apakah resep-resep yang diberikan kepada peserta asuransi kesehatan PNS memenuhi indikator wnum kerasionalan penulisan resep yang dirumuskan oleh WHO' (World Health Organization) dalam meniiai penggunaan obat rasional' di berbagai institusi pemerintah yakni rata - rata jumlah item per lernbar resep; persentase peresepan dengan nama generik; persentasc peresepan dengan antibiotik; persentase peresepan dengan injeksi; persentase peresepan yang sesuai dengan DOEN dan Formularium Pénelitian ini rnengunakan desain cross sectional dengan menggunakan data primer dan sekundcr berupa resep dan laporan keuangan. Populasi sludi pada penelidan ini adalah resep resep yang ke PT. Askes pada bulan November, dan dengan menggunakan teknik random sampling didapatkan jumlah sample yang diteliti sebanyak 508' responden. Dengan menggunakan analisis statistik regresi linier, didapatkan bahwa biaya obat out of pocket memiliki hubungan yang sigfinikan dengan persentase obat paten per lembar resep; persentase obat yang tidak sesuai dengan formularium dan persentase pemakaian injeksi per lembar resep. Sedangkan pola peresepan yang memiliki hubungan dengan total biaya obat adalah jumlah obat yang dilayani instalasi farmasi; persentase obat paten per lcmbar resep; persentase obat antibiotik per lembar resep dan persentase pemakaian injeksi per lembar resep. Rata rata biaya obat' out of pocket per lembar resep sebcsar Rp. 8.l39;- dan rata rata jumlah biaya total per lembar resep adaiah sebesar Rp. 82.564,-


 

In prescribing a prescription, doctors consider that appropriate medicines for patients are those, which have good effect and quality, but they less consider the ability of patients to pay or buy the medicines. Doctors do not have constraints and difficulties related to prescribing pattern to patients who have insurance guarantee. Through its policy, PT. Askes releases DHPO (Medicines Costs Ceiling Lists) stating that medicines used for patients being insurance members from civil servants are those suitable with the DHPO. If the medicines do not confirm the DHPO, patients will pay the medicines themselves (out of packet). For these reason, whether prescriptions given to health insurance members comply with general indicators of rationality of prescribing formulated by WHO (World Health Organization) should be analyzed. WHO determines indicators to evaluate the rational utilization of medicines in governmental institution as follows: the average of the number of items per prescription sheet, percentage of prescribing with generic name, percentage of prescribing with antibiotic, percentage of prescribing with injection percentage of prescribing in accordance with DOEN (National Essential Medicines List) and formulation. This research used cross sectional design. The research analyzed primary and secondary data. The secondary data were in the lbmr of prescriptions and 'financial report. The populations were prescriptions claimed by PT. Askes in November. By using sampling random technique, the number of samples studied was 508 respondents. By applying linear regression statistical analysis, it was found that out of pocket medicines costs is significantly related with the percentage of patent per prescription sheet, percentage of medicines that is not confirmed with formulation, and percentage of injection utilization per prescription sheet. On the other hand, prescribing pattern which has relation with total medicines cost are the number of medicines provided by pharmaceutical installation, percentage of patent medicines per prescription sheet, percentage of antibiotic medicines per prescription sheet, and percentage of injection utilization per prescription sheet. The cost of out of pocket medicines per prescription sheer is IDR 8,139 on average and the number of total cost per prescription sheet is IDR 82,564 on average.

Read More
T-2640
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lusiani; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Mardiati Nadjib, Idrus Alwi; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Sabarinah, Trisari Anggondowati, Budi Yuli Setianto, Soewarta Kosen
Abstrak:
Latar Belakang : Gagal jantung masih menjadi penyebab morbiditas, mortalitas dan beban biaya medis yang tinggi, terutama akibat perawatan ulang yang dapat menyebabkan penurunan cadangan jantung dalam perjalanan klinisnya. Program multidisiplin (MDP) direkomendasikan sebagai tatalaksana komprehensif gagal jantung. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas klinis program MDP pada aspek risiko perawatan ulang dan biaya dibandingkan program standar (PS) di Klinik Gagal Jantung Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).  Metode : Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data longitudinal pada 2 periode tatalaksana yang berbeda, yaitu 2017-2018 dan 2022-2023. Data yang diambil adalah data elektronik dari sistem informasi manajemen rumah sakit dan data tertulis dari rekam medik rumah sakit.  Sampel penelitian adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria pemilihan subjek penelitian. Analisis generalized estimating equation (GEE) digunakan untuk estimasi besar risiko perawatan ulang, Nelson-Aalen estimator digunakan untuk analisis hazard kumulatif perawatan ulang pertama, analisis generalized linear model (GLM) untuk menilai efektivitas MDP dan cost-effectiveness analysis (CEA) perspektif rumah sakit sebagai analisis ekonomi penelitian ini. Data dikumpulkan dan diolah dengan menggunakan Stata 16. Hasil : Pada 189 subjek (98 MDP dan 91 PS), MDP konsisten dalam penurunan risiko relatif perawatan ulang tanpa dipengaruhi waktu (bulan) dengan penurunan risiko sebesar 82,1% dibandingkan subjek penelitian pada kelompok PS setelah dikontrol dengan perancu ARNI dan NYHA, selama masa 8 bulan pengamatan. Median durasi bebas perawatan ulang kelompok MDP lebih panjang dibandingkan PS (106 hari MDP; 34 hari PS, uji Mann–Whitney p = 0,0383). Hazard kumulatif perawatan ulang pertama kelompok MDP 0,10, lebih rendah dari hazard kumulatif kelompok PS 0,40. MDP memiliki efektivitas lebih tinggi dibandingkan dengan PS (MDP 88,2%; PS 65,4%) dan menghemat rerata biaya medis per pasien sebesar Rp. 11.955.308,-. Kesimpulan : Selama masa pemantauan 8 bulan, MDP memiliki risiko yang lebih rendah terhadap  perawatan ulang rumah sakit dibandingkan dengan PS setelah di kontrol perancu, memiliki durasi bebas perawatan ulang rumah sakit lebih panjang dari PS, memiliki hazard kumulatif perawatan ulang pertama yang lebih rendah dari PS  dan MDP lebih efektif secara klinis dan biaya (strategi dominan) dibandingkan dengan PS.

Introduction: Heart failure remains a major cause of morbidity, mortality, and high medical costs, primarily due to hospital readmissions which may lead to a decline in cardiac reserve during the clinical course.The Multidisciplinary Program (MDP) is recommended for a comprehensive management approach for heart failure. This study aimed to evaluate the MDP in terms of readmission risk and cost-effectiveness compared with the standard care (SC) program at the Heart Failure Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital. Method: This study employed a retrospective cohort design using longitudinal data from two periods: The pre-MDP implementation phase (2017-2018) and the MDP implementation phase (2022-2023). Data were obtained from the hospital information system and written medical records. The study sample consisted of all eligible patients meeting the inclusion criteria. Generalized Estimating Equation (GEE) analysis was used to estimate readmission risk, the Nelson-Aalen estimator for cumulative hazard of first readmission, the Generalized Linear Model (GLM) for program effectiveness, and a cost-effectiveness analysis (CEA) from the hospital perspective for the economic evaluation. Data was compiled and analyzed using Stata 16. Results: In 189 subjects (98 MDP and 91 PS), MDP consistently reduced the relative risk of readmission regardless of time (months), with a risk reduction of 82.1% compared to subjects in the SC group after controlling for ARNI and NYHA confounders, over an 8-month observation period. The median readmission-free duration in the MDP group was longer than in the SC group (106 days in MDP; 34 days in PS; Mann–Whitney test p = 0.0383). The cumulative hazard of the first readmission in the MDP group was 0.10, lower than the cumulative hazard in the SC group (0.40). MDP was more effective than PS (88.2% in MDP; 65.4% in SC) and saved an average of Rp. 11,955,308 in medical costs per patient. Conclusion: During the 8-month follow-up period, MDP had a lower risk of hospital readmission compared to PS after controlling for confounders, had a longer readmission-free duration than PS, had a lower cumulative hazard of first readmission than SC and MDP was more clinically and cost-effective (dominant strategy) compared to SC.
Read More
D-602
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elviza Rahmadona; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Musfardi Rustam, Puhilan
Abstrak: Salah satu komorbid yang paling banyak menyertai pasien Covid 19 di Indonesia adalah Hipertensi dengan proporsi kasus 52,1% dan proporsi kematian sebanyak 19,2% dan menjadi komorbid paling tinggi pada pasien Covid 19 di Indonesia. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan hipertensi dengan kematian pasien Covid 19 pada April 2020 hingga Juli 2021 berdasarkan data rekam medik pasien rawat inap di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Desain studi pada penelitian ini adalah studi kasus kontrol dimana kasus adalah pasien Covid-19 yang meninggal dan kontrol adalah pasien Covid 19 yang tidak meninggal berdasarkan data rekam medik melalui aplikasi SIMRS. Sampel pada penelitian ini adalah yang memenuhi kriteria inklusi yaitu 93 pasien pada kelompok kasus dan 200 pada kelompok kontrol yang telah dilakukan uji pemeriksaan PCR terlebih dahulu. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik. Dari hasil analisis diperoleh hubungan antara hipertensi dengan kematian Covid 19 namun memiliki risiko protektif setelah dikontrol variabel umur, jenis kelamin, diabetes, PPOK, CVD. Hasil penelitian ini masih memiliki kelemahan berupa misklasifikasi non diferensial dan keterbatasan data yang tersedia pada data rekam medik melalui aplikasi SIMRS
Read More
T-6188
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marini; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Suginarti, Edy Rizal
Abstrak:

Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia maka populasi usia Ianjut pun semakin bertambah. Menjalani masa tua dengan bahagia dan sejahtera merupakan dambaan semua orang. Keadaan ini hanya dapat dicapai bila merasa sehat secara fisik, mental (jiwa) dan sosial. Berkaitan dengan kesehatan jiwa ini salah satunya adalah penyakit dcpresi. Depresi mcrupakan pcnyakit gangguanjiwa dengan prevalensi terbesar pada usia lanjut dan dan diperkirakan sampai 40% tidak terdiagnosa padahal dengan diagnosa awal dan terapi segera dapat menaikkan kualilas hidup, status fungsional dan mencegah kematian dini pada usia lanjut. Untuk mengctahui apa pcnycbabnya maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mcngctahui faktor-faktor risiko yang bcrhubungan dcngan dcprcsi pada usia lanjut di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Metodologi pada penelitian ini merupakan disain kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder melalui penelusuran rekam medik pasien gcriatri di poli geriatri rumah sakil Cipro Mangunkusumo pada tahun 2006 - tahun 2008. Populasi penelilian adalah seluruh pasien usia lanjut di poli geriatri rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sampel adalah pasien usia Ianjur di poli geriatri RSUPN-CM yang menderila diagnosa depresinya dan telah ditegakkan diagnosanya oleh departemen psikiatri RSUPN-CM scbagai kasus dan kontrol adalah pasien usia Ianjut di poli geriatri RSUPN-CM yang tidak depresi. Jumlah sampel dalam penelitian ini 105 kasus dan 2I0 kontrol. Entri data, pengolahan dan analisis data menggunakan SPSS Hasil penelitian mcnunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian depresi pada usia lanjum adalah kcmandirian (OR = 2,008. 95% Cl I,239 - 3253) dan dukungan sosial (OR = l_724_ 95% C`| 1.065 - 2.79l). Variabel kemandirian merupakan variabel yang lebih kuat pengaruhnya terhadap kejadian depresi dibandingkan variabel dukungan sosial. Variabel yang tidak berhubungan dengan kqiadian depresi pada usia lanjut adalah usia, jcnis kclamin. status perkawinan, tingkat pendidikan, obat resep dokter yang diminum rutin, kegiatan keagamaan, keadaan ekonomi dan riwayar pekerjaan. Dari temuan pada penelitian ini disarankan untuk mcningkatkan pembinaan dan pcrhatian lerhadap kcbutuhan usia Ianjul agar usia Ianjut hidup mandiri, produktif dan tetap berperan aktif dalam kehidupan serta diperlukan penelitian kasus kontrol lanjutan dengan menggunakan sampel yang lebih besar.


 

With growing of a spark of life age in indonesia hence old age population even also progressively increase. Experiencing a period to old happyly and securc and prosperous is everybody hungering. This situations only can reach by if feeling lit by lisik. bouncing (social and mental). Relating to health of this head one of them is disease of depresi. Depresi is disease of head trouble with biggest prevalensi at old age and estimated until 40% do not diagnosa though with diagnosa early and therapy immediately can boost up the quality of lil' e, functional status and prevent death early at old age. To know what the cause of hence conducted by this research with aim to to know risk factors related to depresi at old age in region of Jabodetabek ( Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and ol' Bekasi). Methodologies this research is to bc designed by case control by using data of sekunder through of patient sis record of geriatri in hospital geriatri poli of Cipto Mangunkusumo in the year 2006 - year 2008. Research population is entire old age patient in hospital geriatri poli of`Cipto Mangunkusumo. Sampel is old age patient in RSUPN-CM geriatri poli which suffering the diagnosa of him and have been upheld the by him of by psychiatry department of RSUPN-CM as control and case is old age patient in RSUPN-CM geriatri poli which do not depresi. Amount oi" sampel in this researchs t05 ease and 2I0 control. Data Entri, data analysis and processing use SPSS version I3.0. Research result indicatc that variable rclatcd to occurcncc of depresi at old age is independence ( OR = $2,008. 95% CI l,239 - 3,253) and social support ( OR = l.724. 95% Cl l.065 - 2,79l). independence variable is stronger variable ofinfluence of to occurcncc ofdepresi compared to social support variable. Variable which do not relate to occurence of depresi at old age is age, gender, marriage status. education level. drinkcd by doctor recipe drug is routine, religious activity. situation ofwork history and economics. Of finding at this research is suggested to improve attcntion and construction to requirement of old agc so that self-supponing life old age. ad for and remain to share active in life is and also needed by research of case control continuation by using larger ones sampel.

Read More
T-2970
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive