Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Saskia Almaida; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Suyud Warno Utomo, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak: Kejadian BBLR juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain yang berasal dari ibu hamil dan janin. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin melihat keterkaitan antara faktor pajanan polutan udara (PM2,5) faktor ibu hamil (ibu dengan kurang energi kronis/KEK dan anemia), dan faktor bayi (jenis kelamin) dengan kejadian BBLR di Jakarta Pusat tahun 2017-2019. Penelitian ini menggunakan desain studi studi ekologi dengan jenis time trend. Data yang digunakan berupa data sekunder yang berasal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat. Hubungan antara variabel data dianalisis secara statistik (uji korelasi Pearson) dan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara konsentrasi PM2,5 dengan BBLR (p = 0,001; r = 0,514); dan jenis kelamin baik laki-laki (p = 0,000; r = 0,861) maupun perempuan (p = 0,000; r = 0,838) dengan BBLR.
Read More
S-10624
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurusysyarifah Aliyyah; Pembimbing: Dewi Susanna
S-7671
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Diyanna; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Fitri Kurniasari, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak: Kejadian hipertensi terus meningkat di Provinsi Jakarta dimana pada tahun 2021 terjadi 365.901 kejadian hipertensi. Kemudian, meningkat di tahun 2022 menjadi 469.921 kejadian serta meningkat kembali pada tahun 2023 hingga mencapai 580.393 kejadian. Salah satu faktor risiko hipertensi adalah konsentrasi polutan udara. Provinsi Jakarta sendiri diketahui sebagai wilayah ke-4 sebagai wilayah paling berpolusi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor polutan udara (PM10, PM2.5, SO2, CO, O3, dan NO2) dengan kejadian hipertensi di Provinsi Jakarta Tahun 2021 – 2023. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi ekologi dengan unit analisis lima kota administrasi di Provinsi Jakarta menggunakan data sekunder. Analisis data menggunakan uji korelasi dan ditampilkan dalam tabel serta grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 memiliki hubungan yang signifikan negatif dengan kejadian hipertensi. Sedangkan untuk konsentrasi PM10, SO2, CO, O3, dan NO2 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi di Provinsi Jakarta tahun 2021 – 2023.
The incidence of hypertension continues to increase in Jakarta Province where in 2021 there were 365,901 incidents of hypertension. Then, it increased in 2022 to 469,921 incidents and increased again in 2023 to reach 580,393 incidents. One of the risk factors for hypertension is the concentration of air pollutants. Jakarta Province itself is known as the 4th most polluted area in Indonesia. This study aims to analyze the relationship between air pollutant factors (PM10, PM2.5, SO2, CO, O3, and NO2) with the incidence of hypertension in Jakarta Province in 2021 - 2023. This study used an ecological study research design with an analysis unit of five administrative cities in Jakarta Province using secondary data. Data analysis uses a correlation test, which is displayed in tables and graphs. The results showed that PM2.5 concentration had a significant negative relationship with the incidence of hypertension. Meanwhile, the concentrations of PM10, SO2, CO, O3, and NO2 show no significant relationship with the incidence of hypertension in Jakarta Province in 2021-2023.
Read More
S-11868
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Rifqa Ainur Rahmah; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Ema Hermawati, Fajaria Nurcandra, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:

 

Malaria menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan terutama di wilayah tropis dan subtropis. menurut organisasi kesehatan dunia WHO, sekitar 249 juta kasus malaria dilaporkan di 85 negara endemik [1]. Kabupaten Banjarnegara merupakahn salah satu wilayah peringkat ketiga di Jawa tengah di wilayah dataran tinggi. Kejadian malaria dapat dikaitkan dengan berbagai faktor, termasuk iklim seperti suhu, curah hujan dan kelembapan yang dapat memengaruhi dinamika populasi nyamuk Anpheles, yang merupakan vektor utama malaria. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana faktor iklim dan kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara selama periode 2014-2024. Metode penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan time-trend analisis. Data kejadian malaria di Indonesia, serta data iklim dari Dinas Kesehatan Banjarnegara, dan BMKG dan POWER NASA. Data diolah menggunakan teknik korelasi dan regresi linier berganda. Hasil analisis bivariat suhu udara menunjukkan hubungan yang lebih stabil dan signifikan secara statistik terhadap peningkatan kasus malaria. Korelasi paling kuat dan signifikan ditemukan pada tahun 2018 (r = 0,646; p = 0,014), dengan uji Pearson. Analisis multivariat nilai (B = 2.381). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar  0,239 menunjukkan bahwa model dapat menjelaskan sekitar 23.9% variasi kejadian malaria. Ini mengindikasikan bahwa setiap kenaikan suhu sebesar 1°C berkorelasi dengan peningkatan rata-rata 2,38 kasus malaria per bulan. Hasil ini mencerminkan bahwa meskipun faktor iklim memiliki kontribusi terhadap kejadian malaria, masih terdapat faktor lain di luar model yang turut memengaruhi.

Kata kunci:

Curah Hujan, Kabupaten Banjarnegara, Kelembapan Relatif, Malaria, Suhu.


Malaria remains a significant public health challenge, particularly in tropical and subtropical regions. According to the World Health Organization (WHO), approximately 249 million malaria cases were reported across 85 endemic countries. Banjarnegara Regency, located in a highland area, ranks third in malaria incidence in Central Java. Malaria transmission is influenced by various factors, including climatic variables such as temperature, rainfall, and humidity, which affect the population dynamics of Anopheles mosquitoes—the primary vectors of malaria. This study aims to analyze the relationship between climatic factors and malaria incidence in Banjarnegara Regency from 2014 to 2024. An ecological study design with a time-trend analytical approach was employed. Malaria incidence data were obtained from the Banjarnegara Health Office, while climate data were sourced from the Meteorological, Climatological, and Geophysical Agency (BMKG) and NASA POWER. Data were analyzed using correlation and multiple linear regression techniques. Bivariate analysis showed that air temperature had a more stable and statistically significant association with malaria cases. The strongest and most significant correlation was observed in 2018 (r = 0.646; p = 0.014) using Pearson’s test. In multivariate analysis, the regression coefficient (B = 2.381) and the coefficient of determination (R² = 0.239) indicated that the model explains approximately 23.9% of the variation in malaria incidence. This suggests that each 1°C increase in temperature is associated with an average increase of 2.38 malaria cases per month. These findings highlight that while climatic factors contribute to malaria incidence, other factors beyond the model also play a significant role.  Keywords: Banjarnegara Regency, Malaria, Rainfall, Relative Humidity, Temperature.  Correspondence Syifa Rifqa Ainur Rahmah. Masters Program in Public Health, Universitas Indonesia, Depok, West Java. Email: syifarifqa.a.r@gmail.com Mobile: 081380376644

 

 

Read More
T-7407
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Fajrin Sukristi; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ema Hermawati, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi tantangan serius dalam kesehatan masyarakat Indonesia, termasuk Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor iklim (suhu, kelembapan udara, dan curah hujan), kepadatan penduduk, dan angka bebas jentik dengan incidence rate demam berdarah dengue di Kota Bogor tahun 2020-2024. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan uji korelasi antara suhu, curah hujan dan kelembapan udara pada time lag 0-2 bulan, kepadatan penduduk, serta Angka Bebas Jentik dengan Incidence Rate (IR) DBD. Hasil penelitian menunjukan rata-rata IR DBD  per bulan pada rentang 2020 hingga 2024 adalah 10,47 kasus per 100.000 penduduk. Hasil uji korelasi menunjukan tidak terdapat hubungan signifikan antara suhu, kelembapan udara, curah hujan dengan IR DBD pada periode 2020-2024. Antara variabel kepadatan penduduk terdapat hubungan signifikan dengan IR DBD pada rentang waktu 2020-2024, demikian pula pada antara variabel Angka Bebas Jentik dengan IR DBD pada rentang 2023-2024 yang menunjukan adanya hubungan signifikan. Diperlukan adanya penguatan program pencegahan dan pengendalian serta monitoring vektor baik dari instansi terkait maupun semua lapisan masyarakat.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a major public health challenge in Indonesia, including Bogor City. In 2023, Bogor recorded the highest incidence rate in West Java Province. This study aimed to analyze the relationship between climate factors (temperature, humidity, and rainfall), population density, and the larva-free index with the dengue incidence rate in Bogor City from 2020 to 2024. An ecological study design was applied using correlation analysis between climate variables (with a 0–2 month time lag), population density, and larva-free index with DHF incidence rate. Results showed the average monthly incidence rate from 2020 to 2024 was 10,47 per 100.000 population. There was no significant correlation between temperature, humidity, or rainfall and dengue incidence during this period. However, population density showed a significant positive correlation with dengue incidence in 2020–2024. Additionally, a significant negative correlation was found between the larva-free index and dengue incidence in 2023–2024. Strengthening prevention and control programs, along with improved vector monitoring involving both government institutions and communities, is essential to reduce the burden of DHF.
Read More
S-11912
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citta Zahra Primalia; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah, Okky Assetya Pratiwi
Abstrak:
Filariasis merupakan Neglected Tropical Diseases (NTDs) yang menyebabkan limfedema dan hidrokel. Meski jarang menyebabkan kematian, filariasis bersifat kronis dan dapat menyebabkan kecacatan seumur hidup. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Provinsi Papua Tengah menjadi wilayah dengan prevalensi filariasis tertinggi, sebesar 4,8%. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian filariasis di Provinsi Papua Tengah. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 dan jumlah sampel sebanyak 5.408 responden. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tempat tinggal dan penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian filariasis. Penggunaan obat anti nyamuk merupakan variabel yang paling dominan terhadap kejadian filariasis di Provinsi Papua Tengah.


Filariasis is a Neglected Tropical Diseases (NTDs) that causes lymphedema and hydrocele. Although rarely fatal, filariasis is chronic illness and can cause a lifelong disability. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), Central Papua is the region with the highest prevalence of filariasis, at 4,8%. The purpose of this study was to analyze factors related to the incidence of filariasis in Central Papua. This study used a cross-sectional design with data from the 2023 Indonesian Health Survey and a sample size of 5,408 respondents. Data analysis used in this research are the chi-square test and logistic regression. The results showed a relationship between residence and the use of mosquito repellent with the incidence of filariasis. The use of mosquito repellent is the most dominant variable in the incidence of filariasis in Central Papua.

Read More
T-7378
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marceline Ferto Tanaya; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara proporsi rumah sehat, akses air minum layak, dan penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Sukadiri, Pakuhaji, dan Sukawali pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis desa/kelurahan. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dan masing-masing puskesmas. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman sesuai dengan hasil uji normalitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang lemah dan berarah positif antara proporsi rumah sehat dengan kejadian diare (ρ = 0,387; p = 0,075), serta hubungan yang lemah dan berarah negatif antara akses air minum layak (r = -0,276; p = 0,214) dan penggunaan jamban sehat (ρ = -0,334; p = 0,128) dengan kejadian diare. Ketiga hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun arah hubungan sebagian besar sejalan dengan teori, hubungan antara indikator lingkungan dan kejadian diare belum dapat dibuktikan secara signifikan di wilayah penelitian ini.


Diarrhea remains a significant public health issue in Indonesia, including in Tangerang Regency. This study aims to analyze the relationship between the proportion of healthy homes, access to safe drinking water, and the use of proper sanitation facilities with the incidence of diarrhea in the working areas of Sukadiri, Pakuhaji, and Sukawali Community Health Centers in 2023. This study employed an ecological study design with the unit of analysis being villages/sub-districts. The data used were secondary data obtained from the Tangerang District Health Office and respective health centers. Bivariate analysis was conducted using Pearson and Spearman correlation tests, based on the results of the normality test. The findings show a weak positive correlation between the proportion of healthy homes and the incidence of diarrhea (r = 0.387; p = 0.075), a weak negative correlation between access to safe drinking water (r = -0.276; p = 0.214), and a weak negative correlation between the use of proper sanitation facilities (r = -0.334; p = 0.128) with the incidence of diarrhea. All three correlations were found to be statistically insignificant. Although the direction of the relationship aligns with theoretical expectations, the relationship between environmental health indicators and the incidence of diarrhea could not be statistically confirmed in the study area.
Read More
S-12056
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Ananda; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Pneumonia adalah salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menyerang alveoli dan disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Pneumonia menjadi penyakit utama yang membunuh anak dibawah usia lima tahun (balita). Kelurahan Ancol menunjukkan tren fluktuatif kasus pneumoniaa dan didominasi oleh permukiman padat, menjadikannya wilayah yang rentan terhadap penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor balita, perilaku anggota keluarga dan rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Ancol. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan total sampel 36 responden. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lingkungan. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan variabel usia memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian pneumonia dan menjadi faktor yang dipredisksi paling dominan mempengaruhi kejadian pneumonia. Puskesmas Kelurahan Ancol dapat meningkatkan penyuluhan rutin kepada keluarga balita mengenai pentingnya ventilasi dan pencahayaan alami rumah, bahaya asap rokok, dan asap dari obat nyamuk bakar. 


Pneumonia is one of the acute respiratory infections (ARI) that affect the alveoli and is caused by bacteria, viruses, or fungi. Pneumonia remains a leading cause of death among children under five years old. Kelurahan Ancol shows a fluctuating trend of pneumonia cases and is dominated by densely populated settlements, making it a vulnerable area for disease transmission. This study aims to analyze the relationship between child, family behavioral, housing conditions factors with the incidence of pneumonia among children under five in the working area of Puskesmas Kelurahan Ancol. A case-control study design was employed, involving a total of 36 respondents in both case and control groups. Data were collected through interviews and environmental observations. The analysis included univariate, bivariate, and multivariate approaches. The results revealed that age had a significant association with pneumonia incidence and was identified as the dominant predictive factor influencing its occurrence. Puskesmas Kelurahan Ancol can enhance routine health education for families with children under five regarding the importance of home ventilation and natural lighting, as well as the dangers of cigarette smoke and mosquito coil smoke. 
Read More
S-12068
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arifanissa Maramis; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari, Satria Pratama, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Pneumonia menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada kelompok balita di Indonesia. Kota Padang merupakan wilayah dengan jumlah penemuan kasus pneumonia balita terbanyak di Provinsi Sumatera Barat selama periode tiga tahun terakhir. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian pneumonia adalah kualitas udara yang buruk akibat peningkatan emisi polutan, terutama yang bersumber dari kendaraan bermotor dan aktivitas industri yang meningkat setiap tahunnya. Balita merupakan kelompok usia yang rentan terhadap dampak buruk pencemaran udara, mengingat sistem pernapasan mereka yang masih berkembang dan imunitas tubuh yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara indeks standar pencemar udara (ISPU) berdasarkan parameter (PM10, PM2,5, NO2, SO2, O3, dan CO) dengan jumlah kasus pneumonia pada balita di Kota Padang selama periode tahun 2020-2024. Desain studi yang digunakan adalah studi ekologi dengan unit analisis tahunan, dan analisis dilakukan dengan uji korelasi pearson. Kejadian pneumonia pada balita menunjukkan tren peningkatan setiap tahunnya, dengan jumlah kasus pneumonia terbanyak terjadi di tahun 2023 sebanyak 2.598 kasus. Kualitas udara di Kota Padang berdasarkan rata-rata nilai ISPU, menunjukkan fluktuasi yang tidak stabil, indeks O3 tertinggi terjadi di tahun 2021, indeks PM10, PM2,5, dan SO2 tertinggi terjadi pada tahun 2023, dan indeks NO2 dan CO tertinggi terjadi di tahun 2024. Hasil penelitian mendapatkan adanya korelasi kuat dan positif antara indeks PM2,5 dan CO dengan kasus pneumonia pada balita. Hasil ini mengindikasikan bahwa peningkatan indeks PM2,5 dan indeks CO di udara ambien Kota Padang berkaitan dengan peningkatan kejadian pneumonia pada balita.

Pneumonia is one of the leading cause of morbidity and mortality among toddlers in Indonesia. Padang city has the highest number of pneumonia cases among toddlers in West Sumatera Province over the past three years. One of the factor suspected to contributing the high incidence of pneumonia is poor air quality due to increasing pollutant emissions, particularly from motor vehicles and industrial activities, which increase annually. Toddlers are vulnerable age group that is vulnerable to the adverse effects of air pollution, given their still developing respiratory systems and immature immune systems. This study aims to analyze the correlation between the air pollutant standard index based on parameters (PM10, PM2,5, NO2, SO2, O3, dan CO) and the number of pneumonia cases among toddlers in Padang city during the period of 2020-2024. The study design used was an ecological study with an annual unit of analysis, and the analysisis was conducted using pearson correlation test. The incidence of pneumonia in toddlers shows an increasing trend every year, with the highest number of pneumonia cases occurring in 2023, amounting to 2.598 cases. Air quality in Padang city, based on the average of ISPU, shows unstable fluctuations, with the highest O3 index occurring in 2021, the highest PM10, PM2,5, and SO2 indices occurring in 2023, and the highest of  NO2 and CO indices occurring in 2024. The study results revealed a strong and positive correlation between PM2,5 and CO indices and pneumonia cases among toddlers. These findings indicate that an increase of PM2,5 and CO indices in the ambient air in Padang city is associated with an increase in pneumonia cases in toddlers.
Read More
T-7455
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firlando Anugerah Laude Ansyari; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Tingginya frekuensi lalu lintas kereta di Stasiun Manggarai berpotensi terhadap risiko gangguan pendengaran di pemukiman sekitar Stasiun Manggarai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara paparan kebisingan (pengukuran nilai desibel), jarak rumah ke stasiun manggarai, lama tinggal di pemukiman, dan umur responden terhadap gangguan pendengaran ibu rumah tangga menggunakan uji Chi-Square. Penelitian dilakukan di Pemukiman Warga sekitar Stasiun Manggarai pada 40 Orang Ibu Rumah Tangga di RW 02 dan 04. Hasil uji Chi-Square menunjukkan ibu rumah tangga yang terpapar kebisingan > 55 dB(A) dan jarak rumah ≤ 100 meter signifikan terhadap gangguan pendengaran. Peneliti menyarankan agar paparan kebisingan dari aktivitas kereta api berkurang dengan cara menambah tanaman vegetatif di sekitar rumah dan menutup pintu serta jendela saat tidak diperlukan.

The high frequency of train traffic at Manggarai Station has the potential to increase the risk of hearing loss in the neighborhoods around Manggarai Station. This study aims to look at the relationship between noise exposure (decibel value measurement), distance of house to Manggarai station, length of stay in residential areas, and age of respondents to the prevalence of hearing loss in housewives using the Chi-Square test. The research was conducted in residential areas around Manggarai Station on 40 housewives in RW 02 and 04. The results of the Chi-Square test showed that housewives who were exposed to noise > 55 dB(A) and a distance of ≤ 100 meters from home were significant to the prevalence of hearing loss. Researchers suggest that noise exposure from train activity be reduced by adding vegetative plants around the house and closing doors and windows when not needed.
Read More
S-12192
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive