Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Annisaa Perica Rasyid; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Wahyu Sulistiadi, Netry Listriani, Khafifah Any
Abstrak: Waktu tunggu yang lama pada pelayanan resep obat akan mengurangi kepuasan pelanggan dan menyebabkan pelayanan tidak efisien. Lean merupakan salah satu metodologi yang dapat digunakan untuk menangani ketidakefisienan dalam pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode lean dalam mengurangi waktu tunggu pelayanan resep obat pada instalasi farmasi rawat jalan RSUD Pasar Minggu tahun 2017.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif (analitik observasional) untuk melihat alur pelayanan resep obat dan mengidentifikasi pemborosan pelayanan resep obat. Dan didukung oleh penelitian kuantitatif (analisis deskriptif) untuk memperoleh data perhitungan waktu setiap tahapan proses pelayanan resep obat.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat non racikan selama 89.6 menit (88.17% kegiatan menunggu) dan 124.70 menit (82.10% kegiatan menunggu) pada pelayanan resep obat racikan.

Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa terdapat 8 jenis pemborosan (DOWNTIME) pada pelayanan resep obat. Usulan perbaikan dengan metode lean diharapkan dapat menurunkan waktu tunggu menjadi 66.67% pada pelayanan resep obat non racikan dan 56.67% pada pelayanan resep obat racikan.

Kata kunci : farmasi; metode lean; pemborosan; waktu tunggu

Long waiting times on prescription services will reduce patient satisfaction and lead to inefficient services. Lean is one of the methodologies that can be used to deal with inefficiencies in health services. This study aims to analyze the application of lean method in reducing waiting time of outpatient prescription services at Pasar Minggu public hospital in 2017.

This study used qualitative research methods (observational analytics) to examine the flow and identify waste of prescription drug services. And also supported by quantitative research (descriptive analysis) to get the exact calculation of every step of prescription drug services.

Based on the result of the research, it is known that the average waiting time of medicine prescription services is 89.6 minutes (88.17% waiting activity) and 124.70 minutes (82.10% waiting activity) of personalized medicine prescription services.

The study identified that there were 8 types of waste (DOWNTIME) in prescription services. The future improvement by lean method is expected to reduce waiting time to 66.67% on medicine prescription services and 56.67% on personalized medicine prescription services.

Keywords : pharmacy; lean methode; waste; waiting times
Read More
B-1897
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisaa; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Nur Ani
Abstrak: Kelelahan merupakan kontributor utama dalam 60-70% insiden yang disebabkan olehkesalahan manusia di sektor pertambangan. Kelelahan dapat membahayakan kesehatandan keselamatan di tempat kerja dan merupakan dampak yang sering terjadi akibat daristres dan shift kerja. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahuipengaruh stres kerja terhadap kelelahan pada operator tambang batubara. Penelitian inijuga menganalisis pengaruh karakter individu (usia, Indeks Massa Tubuh, kualitas tidur,kuantitas tidur dan tempat tinggal) dan faktor pekerjaan (durasi shift) terhadapkelelahan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode systematic literaturereview dengan memasukkan 10 literatur terkait topik penelitian untuk dianalisis. Hasilanalisis menunjukkan bahwa stres merupakan faktor dengan kontribusi tebesar yaitu33,6% pada kejadian kelelahan. Kelelahan juga berkaitan dengan usia, kualitas tidur,kuantitas tidur, tempat tinggal dan durasi shift. Namun, penelitian ini belum bisamembuktikan pengaruh Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap kelelahan. Kesimpulanyang didapatkan dari penelitian ini adalah stres memiliki potensi untuk meningkatkankelelahan pada pada operator tambang batubara.
Read More
S-10283
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alvanya Dida Annisaa; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, I Wayan Pujana
Abstrak:
Latar belakang: Rabies adalah penyakit yang 99% disebabkan oleh gigitan anjing, hampir 100% berakibat fatal, namun dapat dicegah melalui pemberian vaksin rutin pada anjing dan setelah gigitan pada manusia. Provinsi Bali mencatat kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) tertinggi di Indonesia dan masih ditemukan kematian. Maka, perilaku vaksinasi anjing peliharaan dan pencarian pertolongan medis penting untuk mengendalikan rabies. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran serta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku terkait rabies pada pemilik anjing di Provinsi Bali tahun 2025. Metode: Studi cross-sectional menggunakan data primer melalui pengisian kuesioner di empat desa/kelurahan dengan kasus HPR positif berulang. Data kategorik dianalisis secara univariat menggunakan persentase dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Dari 228 sampel, 83,7% pemilik anjing mempunyai perilaku yang baik, sementara 12,7% lainnya kurang baik. Faktor yang berhubungan dengan perilaku kurang baik terkait rabies adalah pendapatan rendah (PR = 2,22; 95% CI = 1,06–4,67), tidak bekerja (PR = 2,39; 95% CI = 1,22–4,67), daerah tempat tinggal di kota (PR = 0,42; 95% CI = 0,20–0,88), rumah sewa/kontrak/milik orang lain (PR = 2,22; 95% CI = 1,14–4,35), jumlah anjing 1 ekor (PR = 2,72; 95% CI = 1,26–5,88), pengetahuan kurang baik terkait rabies (PR = 2,82; 95% CI = 1,30–6,09), dan sikap kurang baik terkait rabies (PR = 2,79; 95% CI = 1,33–5,87). Kesimpulan: Perilaku pemilik anjing di Provinsi Bali secara umum sudah baik, namun upaya promosi dan edukasi rabies harus dilanjutkan dan ditingkatkan supaya pengetahuan yang baik mampu diterjemahkan menjadi perilaku yang baik.

Background: Rabies is a disease that is 99% caused by dog bites and is almost 100% fatal, but it can be prevented by annual dog vaccination and post-bite treatment in humans. Bali Province has the highest number of cases of rabies-transmitting animal (RTA) bites in Indonesia and human rabies deaths are still occurring. Therefore, pet vaccination and health-seeking behavior in dog owners are important for rabies control. Aim: This study aims to describe and determine the factors associated with rabies-related behaviors among dog owners in Bali Province in 2025. Methods: This is a cross-sectional study using primary data collected through questionnaires in two villages and two subdistricts with repeated positive RTA cases. Categorical data were analyzed using percentages for univariate analysis and chi-square for bivariate analysis. Results: Of the 228 samples, 83.7% of dog owners have good rabies-related behaviors, while 12.7% have poor behaviors. Factors associated with poor rabies-related behaviors were low income (PR = 2.22; 95% CI = 1.06–4.67), unemployed (PR = 2.39; 95% CI = 1.22–4.67), urban area of residence (PR = 0.42; 95% CI = 0.20–0.88), home rented/leased/owned by someone else (PR = 2.22; 95% CI = 1.14–4.35), owning 1 dog (PR = 2.72; 95% CI = 1.26–5.88), poor rabies-related knowledge (PR = 2.82; 95% CI = 1.30–6.09), and poor rabies-related attitudes (PR = 2.79; 95% CI = 1.33–5.87). Conclusion: Rabies-related behaviors of dog owners in Bali Province is generally good, but rabies promotion and education efforts must be continued and improved so that good knowledge can be translated into good behaviors.
Read More
S-12161
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive