Ditemukan 124 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Hanitya Dwi Ratnasari; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Putri Bungsu, Punto Dewo
Abstrak:
Salah satu penyakit oportunis penyerta infeksi HIV/AIDS adalah hipertensi. Hipertensi umum ditemukan di populasi ODHA dengan prevalensi antara 15,646%. 1-6 Namun, pada anak dengan infeksi perinatally-acquired HIV/AIDS, data prevalensi hipertensi masih sangat minim. Studi tahun 2016 pada 51 anak dengan infeksi HIV/AIDS menunjukkan proporsi hipertensi sebesar 37,3%. 7 Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi dan hubungan infeksi perinatally-acquired HIV dengan hipertensi primer pada anak menggunakan desain studi analitik potong lintang dan data sekunder penelitian CHIC Study. Populasi penelitian ini adalah 89 anak partisipan CHIC Study berusia 0-18 tahun dengan status HIV positif (41 anak) dan non-HIV (48 anak). Hasil analisis multivariabel menggunakan analisis regresi logistik menunjukkan anak dengan infeksi HIV memiliki odds risiko 1,24 kali (95% CI: 0,024-65,002; nilai p 0,917) untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan anak non-HIV. Penelitian ini menyimpulkan ada hubungan antara infeksi HIV dengan hipertensi primer pada anak dengan infeksi HIV meskipun masih belum dapat dibuktikan validitas hubungan tersebut secara statistik dikarenakan jumlah sampel yang tidak mencukupi. Peneliti mengharapkan penelitian lanjutan dilakukan dengan desain studi yang lebih baik dan jumlah sampel yang mencukupi.
Read More
T-6036
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Natasia; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Putri Bungsu, Dian Kurnia Rabbani
S-10024
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zhara Juliane; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Syahrizal Syarif, Meta Ardiana
S-9935
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fadhila Nafilah Azzahra; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Putri Bungsu, Ida Kurniawati
S-9912
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putri Bungsu; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Ahmad Syafiq, Nurhayati Prihartono, Helda Khusun, Dewi Dwinurwati
Abstrak:
Ibu hamil adalah salah satu kelompok yang paling rawan dalam berbagai aspek, salah satunya terhadap pangan dan gizi. Diperkirakan sebesar 20% kematian ibu berkaitan dengan rendahnya kadar hemoglobin (anemia gizi) selama kehamilan. Teh memiliki potensi sebagai penyebab anemia karena disinyalir mampu mengabsorbsi mineral sebagai bentuk zat besi yang dikaitkan dengan peranan tanin dalam akndungan teh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar tanin pada teh celup terhadap anemia gizi besi pada ibu hamil. Penelitian dilakukan dengan design Cross Sectional analytic. Responden terdiri dari 94 ibu hamil dengan usia kandungan > 16 minggu. Data dianalisis dengan menggunakan analisa Cox Regression.
Read More
T-3712
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marwanty; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Budi Haryanto, Putri Bungsu, Abdurrahman, Rohman Simanjutak
T-4898
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwika Sari Sasoka; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Kasmiyati, Nindya Savitri
Abstrak:
Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator pembangunan suatu bangsa. Kematian neonatal (0-28 hari) menyumbang lebih dari setengah (59,4%) kematian bayi. Berdasarkan data SDKI 2012 angka kematian neonatal mengalami penurunan sebesar 41% dari 32/1000 kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi 19/1000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Namun pada dua periode terakhir angka kematian neonatal stagnan di angka 19/1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 dan 2012. Salah satu faktor yag dapat meningkatkan kematian neonatal adalah jarak kelahiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jarak kelahiran yang berkontribusi dan hubungannya terhadap kejadian kematian neonatal. Penelitian ini merupakan analisis data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dengan sampel sebanyak 102 kasus dan 306 kontrol. Kasus adalah bayi yang mengalami kematian neonatal dan merupakan anak terakhir pada persalinan tunggal. Dan kontrol adalah bayi yang hidup melewati usia 28 hari. Hasil analsis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik , didapatkan adanya perbedaan risiko yang signifikan untuk terjadinya kematian neonatal antara ibu dengan jarak kelahiran < 27 bulan dan jarak kelahiran > 78 bulan dibandingkan dengan jarak kelahiran 28-77 bulan. Ibu yang memiliki jarak kelahiran 78 bulan,, ibu dengan jarak kelahiran >78 bulan memiliki risiko untuk mengalami kematian neonatal sebesar 1,95 kali (95% CI : 1,126-3,368) bila dibandingkan dengan jarak kelahiran 28-77 bulan.
Kata kunci : Kematian Neonatal, Jarak Kelahiran, SDKI 2012
Infant Mortality Rate is one of development indicator from a nation. Neonatal mortality (0-28 days) accounts for more than half (59.4%) of infant mortality. Based on the 2012 IDHS data the neonatal mortality rate decreased by 41%, from 32/1000 live births in 1991 to 19/1000 live births in 2007. But in the last two periods, there are stagnant condition of neonatal mortality rate, which is 19/1000 live births in 2007 and 2012. One of the factors that can increase neonatal mortality is birth spacing. This study aims to know the relationship between birth spacing and the incidence of neonatal death. This research is an analysis of data of Indonesia Demographic and Health Survey (SDKI) 2012. The research design is using case control study with the number of sample are 102 cases and 306 controls. Cases are infants who have neonatal death and the last child in a single labor. And control is a baby that lives past the age of 28 days. Multivariate analysis is using logistic regression showed that there was a significant difference of risk for neonatal mortality between mothers with birth spacing 78 months compared with 28-77 month of birth spacing. Mothers with birth spacing 78 months, mothers with birth spacing > 78 months had a risk of neonatal deaths of 1.95 times (95% CI: 1,126-3,368) compared with 28-77 months of birth spacing.
Keywords: Birth spacing, antenatal death, case control study, IDHS 2012
Read More
Kata kunci : Kematian Neonatal, Jarak Kelahiran, SDKI 2012
Infant Mortality Rate is one of development indicator from a nation. Neonatal mortality (0-28 days) accounts for more than half (59.4%) of infant mortality. Based on the 2012 IDHS data the neonatal mortality rate decreased by 41%, from 32/1000 live births in 1991 to 19/1000 live births in 2007. But in the last two periods, there are stagnant condition of neonatal mortality rate, which is 19/1000 live births in 2007 and 2012. One of the factors that can increase neonatal mortality is birth spacing. This study aims to know the relationship between birth spacing and the incidence of neonatal death. This research is an analysis of data of Indonesia Demographic and Health Survey (SDKI) 2012. The research design is using case control study with the number of sample are 102 cases and 306 controls. Cases are infants who have neonatal death and the last child in a single labor. And control is a baby that lives past the age of 28 days. Multivariate analysis is using logistic regression showed that there was a significant difference of risk for neonatal mortality between mothers with birth spacing 78 months compared with 28-77 month of birth spacing. Mothers with birth spacing 78 months, mothers with birth spacing > 78 months had a risk of neonatal deaths of 1.95 times (95% CI: 1,126-3,368) compared with 28-77 months of birth spacing.
Keywords: Birth spacing, antenatal death, case control study, IDHS 2012
T-5158
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yoyo; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Budi Haryanto, Putri Bungsu, Hanifah Rogayah, Erliana Setiani
T-5161
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Iin Musriani Maftukhah; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Putri Bungsu, Uken Sukmaningsih
Abstrak:
Pada tahun 2012 jumlah perceraian di Indonesia mencapai 15% dari total pernikahan yaitu 346.480 jiwa dengan 2.289.648 juta pernikahan yang diantaranya merupakan pernikahan dini (BPS,2015). Persentase pernikahan dini dari perempuan muda berusia 15-19 yang menikah memiliki sebelas kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan laki- laki muda berusia 15-19 tahun (11,7 % P : 1,6 % L). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pernikahan dini dengan perceraian berdasarkan umur, agama, kuintil kekayaan, tingkat pendidikan wanita, tingkat pendidikan suami, tempat tinggal, status pekerjaan wanita, status pekerjaan mantan suami, pengetahuan, Jumlah anak dan pengalaman pacaran Desain penelitian adalah crosssectional. Sampel merupakan sampel pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, yaitu wanita yang pernah menikah usia 15-49 tahun sebelum survei yaitu sejumlah 29.712 responden. Data dianalisis dengan regresi logistik. Hasil Penelitian ada hubungan antara pernikahan dini dengan perceraian pada wanita usia 15-49 di Indonesia pada tahun 2012(OR:1.2 95% CI0.89-1.59). Saran dari penelitian ini adalah peningkatan wawasan dan informasi tentang pernikahan usia dini,dan pengaruh yang dapat dirasakan untuk kehidupan ke depannya. Semakin dini wanita menikah semakin berpotensi untuk mengalami perceraian dan mendukung program pemerintah yang disebut program menengah universal atau pendidikan 12 tahun yang diharapkan dapat menunda usia perkawinan remaja terutama perempuan yang berasal dari desa yang memiliki pendidikan rendah.
Read More
T-5397
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Taufik Azis; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Nurhayati A. Prihartono, Putri Bungsu, Tristiyenny Pubianturi, Woro Riyadina
Abstrak:
Pada tahun 2010, hipertensi menjadi salah satu faktor risiko kematian secara global dan diperkirakan telah menyebabkan 9,4 juta kematian Di Indonesia, Berdasarkan data IFLS 5 tahun 2014 prevalensi hipertensi derajat 1 pada usia ≥18 tahun sebesar 15,59%. Suku Banjar yang mayoritas berdomisili di Kalimantan Selatan (65%) berpotensi menderita hipertensi derajat 1 dengan mengacu pada data Riskesdas tahun 2013 memiliki prevalensi hipertensi sebesar 30,8%. Begitupula prevalensi hipertensi di Provinsi Bali sebesar 19,9%, yang ditempati oleh mayoritas Suku Bali (84%). Perbedaan prevalensi tersebut mendorong peneliti untuk mengetahui perbedaan faktor risiko hipertensi derajat 1 pada Suku Banjar dan Suku Bali. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Data dari IFLS 5 tahun 2014. Sebanyak 765 responden Suku Banjar dan 1.087 responden Suku Bali umur ≥18 tahun menjadi sampel penelitian ini. Data dianalisis dengan menggunakan uji cox regression. Hasil penelitian Prevalensi hipertensi derajat 1 Suku Banjar dan Suku Bali masing-masing sebesar 17,3% dan 10,8%. Faktor risiko hipertensi derajat 1 pada Suku Banjar yaitu obesitas, PR=2,726 (95%CI; 1,913-3,886), umur ≥45 tahun, PR=2,146 (95%CI;1,482-3,107) dan laki-laki PR=1,641 (95%CI;1,149-2,344). Faktor risiko pada Suku Bali yaitu obesitas, PR=2,971 (95%CI;2,025-4,362), Umur ≥45 tahun, PR=2,144 (95%CI;1,465-3,136), laki-laki PR=1,985 (95%CI;1,341-2,938), pendidikan rendah PR=1,585 (95%CI;1,076-2,334) dan domisili di perkotaan PR=1,525 (95%CI;1,051- 2,212).Perlunya pengoptimalan kegiatan pencegahan dan deteksi dini untuk mengurangi prevalensi hipertensi pada Suku Banjar dan Suku Bali.
Kata kunci: Faktor Risiko; Hipertensi Derajat 1; Suku Bali; Suku Banjar
In 2010, hypertension was one of the risk factors for death globally and it estimated to have caused 9.4 million deaths. In Indonesia, based on data from IFLS 5, in 2014 the prevalence of hypertension stage 1 at the age of ≥18 years was 15.59%. The majority of Banjar Ethnic who are domiciled in South Kalimantan (65%) have the potential to suffer from hypertension stage 1 with reference to the Riskesdas 2013 which has a prevalence of hypertension of 30.8%. The prevalence of hypertension in Bali Province is 19.9%, which is occupied by the majority of the Bali Ethnic (84%). This difference in prevalence encouraged researchers to find out the differences in risk factors for hypertension stage 1 in the Banjar and Bali Ethnic. This study used a cross sectional design. Data from IFLS 5 in 2014. A total of 765 respondents from the Banjar ethnic and 1,087 respondents from the Bali ethnic aged ≥18 years were sampled in this study. Data were analyzed using cox regression test. Prevalence hypertension stage 1 in Banjar Ethnic and Bali Ethnic are 17,3% and 10,8%, respectively. Risk factors of hypertension stage 1 in Banjar Etnic are obesity (PR=2,726; 95%CI; 1,913-3,886), age ≥45 years (PR=2,146; 95%CI;1,482- 3,107) and male (PR=1,641; 95%CI;1,149-2,344). Risk factors of hypertension stage 1 in Bali Ethnic are obesity (PR=2,971; 95%CI;2,025-4,362), age ≥45 years (PR=2,144; 95%CI;1,465-3,136), male (PR=1,985; 95%CI;1,341-2,938), low education (PR=1,585; 95%CI;1,076-2,334) and urban (PR=1,525; 95%CI;1,051-2,212). The need for optimization of prevention and early detection activities to reduce the prevalence of hypertension in the Banjar and Bali Ethnic.
Key words: Banjar Ethnic; Bali Ethnic; Hypertension Stage 1; Risk Factors
Read More
Kata kunci: Faktor Risiko; Hipertensi Derajat 1; Suku Bali; Suku Banjar
In 2010, hypertension was one of the risk factors for death globally and it estimated to have caused 9.4 million deaths. In Indonesia, based on data from IFLS 5, in 2014 the prevalence of hypertension stage 1 at the age of ≥18 years was 15.59%. The majority of Banjar Ethnic who are domiciled in South Kalimantan (65%) have the potential to suffer from hypertension stage 1 with reference to the Riskesdas 2013 which has a prevalence of hypertension of 30.8%. The prevalence of hypertension in Bali Province is 19.9%, which is occupied by the majority of the Bali Ethnic (84%). This difference in prevalence encouraged researchers to find out the differences in risk factors for hypertension stage 1 in the Banjar and Bali Ethnic. This study used a cross sectional design. Data from IFLS 5 in 2014. A total of 765 respondents from the Banjar ethnic and 1,087 respondents from the Bali ethnic aged ≥18 years were sampled in this study. Data were analyzed using cox regression test. Prevalence hypertension stage 1 in Banjar Ethnic and Bali Ethnic are 17,3% and 10,8%, respectively. Risk factors of hypertension stage 1 in Banjar Etnic are obesity (PR=2,726; 95%CI; 1,913-3,886), age ≥45 years (PR=2,146; 95%CI;1,482- 3,107) and male (PR=1,641; 95%CI;1,149-2,344). Risk factors of hypertension stage 1 in Bali Ethnic are obesity (PR=2,971; 95%CI;2,025-4,362), age ≥45 years (PR=2,144; 95%CI;1,465-3,136), male (PR=1,985; 95%CI;1,341-2,938), low education (PR=1,585; 95%CI;1,076-2,334) and urban (PR=1,525; 95%CI;1,051-2,212). The need for optimization of prevention and early detection activities to reduce the prevalence of hypertension in the Banjar and Bali Ethnic.
Key words: Banjar Ethnic; Bali Ethnic; Hypertension Stage 1; Risk Factors
T-5469
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
