Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewi Marlysawati; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda; Helwiah Umniyanti; Rizky Hasby
Abstrak:

Penilaian kualitas hidup merupakan kunci dalam memahami dampak AIDS terhadap kehidupan orang yang hidup dengan HIV&AIDS. Orang dengan HIV menjadi rentan terhadap masalah kesehatan, ekonomi dan psikososial yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup ODHIV. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan teknik Consecutive Sampling terpilih 102 orang responden di 3 Yayasan Kota Kupang yang berusia ≥18 tahun, telah menjalani terapi ARV >1 bulan dan bersedia menjadi responden. Penelitian dilakukan pada bulan November – Desember 2023. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data yang dilakukan adalah analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan uji cox regression. Hasil bivariat menunjukan ada hubungan yang signifikan antara depresi (p=0,007; PR= 1,742; 95%CI 1,136 – 2,669), dukungan sosial (p=0,003; PR=1,707; 95%CI 1,210 – 2,407) dan dukungan sebaya (p=0,000; PR=2,380; 95%CI 1,423 – 3,980) dengan kualitas hidup ODHIV sedangkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, status pekerjaan, tingkat pendapatan, stigma, lama terapi ARV tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup ODHIV. Berdasarkan uji mulitivariat faktor yang paling dominan mempengaruhi kualitas hidup ODHIV adalah dukungan sebaya (p=0,018; PR=2,15; 95%CI 1,14 – 4,08). Kata Kunci: HIV&AIDS, kualitas hidup, ODHIV.


 

Quality of life assessment is key in understanding the impact of HIV&AIDS on the lives of people living with HIV&AIDS. People with HIV become vulnerable to health, economic and psychosocial problems that can affect their quality of life. The aim of this research is to analyze the factors that influence the quality of life of PLHIV. This research used a cross sectional study design with Consecutive Sampling technique, selecting 102 respondents from 3 Yayasan Kota Kupang aged ≥18 years who had undergone ARV therapy for >1 month and were willing to be respondents. The research was conducted in November – December 2023. The instrument used in this research was a questionnaire. The data analysis carried out was bivariate analysis using the chi-square test and multivariate analysis using the cox regression test. The research results showed that there was a significant relationship between depression (p=0,007; PR= 1,742; 95%CI 1,136 – 2,669), social support (p=0,003; PR=1,707; 95%CI 1,210 – 2,407), peer support (p=0,000; PR=2,380; 95%CI 1,423 – 3,980) with quality of life for PLHIV, meanwhile, age, gender, education level, marital status, employment status, income level, stigma, duration of ARV therapy do not have a significant relationship with the quality of life of PLHIV. The most dominant factor in the quality of life of PLHIV is peer support PR=2.15 (95%CI 1.14 – 4.08). Key words: HIV&AIDS, quality of life, PLHIV

Read More
T-6879
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Hasby; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri yunis Miko Wahyono, Nurjannah, Lely Wahyuniar
Abstrak: Epidemi HIV di Indonesia terkonsentrasi pada beberapa kelompok tertentu yang berisiko tinggi terhadap HIV dan salah satunya adalah kelompok LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki). Berdasarkan beberapa penelitian di negara lain, tindakan sirkumsisi (sunat) merupakan salah satu upaya pencegahan penularan HIV pada lelaki, dan sirkumsisi telah dilakukan oleh sebagian besar penduduk Indonesia yang mayoritas beragama islam. Namun di Indonesia, sirkumsisi belum masuk dalam program pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS serta masih minimnya penelitian terkait sirkumsisi terhadap HIV pada kelompok LSL. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan sirkumsisi terhadap status HIV pada LSL di Indonesia Tahun 2018/2019. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) HIV AIDS tahun 2018/2019 dengan desain penelitian potong lintang dan jumlah sampel sebesar 4.284 LSL di 19 Kabupaten/Kota terpilih STBP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LSL yang tidak pernah melakukan sirkumsisi berisiko 1,27 kali lebih tinggi untuk positif HIV dibandingkan dengan LSL yang pernah melakukan sirkumsisi setelah dikontrol dengan variabel konsistensi penggunaan kondom dan pendidikan. Kerja sama antara pemerintah dan CSO (Civil Society Organization) menjadikan sirkumsisi yang mudah, murah, dan aman; sebagai bagian dari upaya pencegahan penularan HIV diharapkan dapat melengkapi program upaya pencegahan lainnya yang sudah berjalan.
The HIV epidemic in Indonesia is concentrated in certain groups that are at high risk of HIV and one of them is the MSM (Men Sex with Men) group. Based on several studies in other countries, circumcision (sunat) is an effort to prevent HIV transmission in men, and circumcision has been carried out by the majority of Indonesia's population who are predominantly Muslim. However, in Indonesia, circumcision has not been included in the HIV AIDS prevention and control program and there is still a lack of research related to circumcision on HIV in the MSM group. The purpose of this study was to determine the relationship between circumcision and HIV status in MSM in Indonesia 2018/2019. This study used secondary data from the Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS) for HIV AIDS 2018/2019 with a cross-sectional design study and a sample size of 4,284 MSM in 19 selected IBBS districts/cities. The results showed that MSM who never performed circumcision had a 1.27 times higher risk of being HIV positive compared to MSM who had circumcised after being controlled with the consistency of condom use and education variables. The collaboration between the government and CSOs (Civil Society Organizations) to make circumcision easy, cheap, and safe as part of efforts to prevent HIV transmission is expected to complement other existing prevention programs
Read More
T-5988
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Liana Rica Mon Via; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal, Rizky Hasby, B. Bayu Sabdo Kusumo
Abstrak: HIV masih menjadi masalah kesehatan global. Pelanggan WPS merupakan salah satu populasi kunci penyebaran HIV. Penggunaan kondom secara konsisten menjadi cara efektif pencegahan HIV dan IMS pada kelompok ini. Angka konsistensi penggunaan kondom kelompok ini masih rendah, yaitu: 35,82% pada konsistensi kategori 1 (selalu atau sering menggunakan kondom), dan 21,10% pada konsistensi kategori 2 (selalu menggunakan kondom). Konsistensi penggunaan kondom dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah persepsi berisiko tertular HIV. Pada kelompok pelanggan diketahui yang mempunyai persepsi merasa berisiko tertular HIV adalah 45,37%. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif desain cross sectional untuk mengetahui hubungan persepsi berisiko tertular HIV dengan konsistensi penggunaan kondom pada pelanggan WPS yang menggunakan data STBP 2018-2019, dilaksanakan di 24 kabupaten/ kota di 16 provinsi di Indonesia pada tahun 2018 sampai 2019 dengan jumlah sampel sebanyak 4743 orang. Hasil penelitian menunjukkan: pada konsistensi penggunaan kondom kategori 1, terdapat hubungan signifikan antara persepsi berisiko tertular HIV dengan konsistensi penggunaan kondom dimana pelanggan WPS yang memiliki persepsi merasa berisiko tertular HIV memiliki kecenderungan 1,60 kali lebih tinggi untuk konsisten menggunakan kondom saat berhubungan seks dibandingkan yang memiliki persepsi merasa tidak berisiko setelah dikontrol oleh variabel umur pertama kali berhubungan seks dan pengetahuan tentang efektivitas kondom (PR=1,60, 95% CI=1,28-1,99). Sedangkan pada konsistensi penggunaan kondom kategori 2, terdapat hubungan signifikan antara persepsi berisiko tertular HIV dengan konsistensi penggunaan kondom dimana pelanggan WPS yang memiliki persepsi merasa berisiko tertular HIV memiliki kecenderungan 1,46 kali lebih tinggi untuk konsisten menggunakan kondom saat berhubungan seks dibandingkan yang memiliki persepsi merasa tidak berisiko setelah dikontrol oleh variabel umur pertama kali berhubungan seks dan pengetahuan tentang efektivitas kondom (PR=1,46, 95% CI=1,10-1,94). Pemberlakuan perda kewajiban kondom di lokalisasi dengan sanksi yang tegas disertai kerjasama sinergis antar lintas sektor, updating pemetaan berkala lokalisasi yang belum terjangkau disertai penyuluhan tentang HIV/ AIDS dan efektivitas kondom, diseminasi informasi untuk membentuk persepsi berisiko dan perilaku konsisten menggunakan kondom, penerapan manajemen penyediaan kondom di lokalisasi perlu dipertimbangkan untuk mengurangi kejadian HIV terutama di kelompok pelanggan WPS.
HIV is still a global health problem. FSW customers are one of the key populations spreading HIV. Consistent condom use is an effective way of preventing HIV and STI in this group. The consistency rate of condom use in this group is still low, namely: 35.82% in category 1 consistency (always or often using condoms), and 21.10% in category 2 consistency (always using condoms). The consistency of condom use is influenced by several factors, one of which is the perception of risk of contracting HIV. In the group of known customers who have a perception of feeling at risk of contracting HIV is 45.37%. This study is a quantitative cross-sectional design study to determine the relationship between perception of risk of contracting HIV with consistency of condom use in FSW customers using IBBS data 2018-2019, carried out in 24 regencies/cities in 16 provinces in Indonesia from 2018 to 2019 with a total sample of 4743 people. The results showed: in the consistency of category 1 condom use, there was a significant relationship between the perception of risk of contracting HIV and the consistency of condom use where FSW customers who had a perception of feeling at risk of contracting HIV had a 1.60 times higher tendency to consistently use condoms during sex than those who had a perception of feeling no risk after being controlled by the age variable of first intercourse sex and knowledge of condom effectiveness (PR=1.60, 95% CI=1.28-1.99). Meanwhile, in the consistency of category 2 condom use, there was a significant relationship between the perception of risk of contracting HIV and the consistency of condom use where FSW customers who had a perception of feeling at risk of contracting HIV had a 1.46 times higher tendency to consistently use condoms during sex than those who had a perception of feeling no risk after being controlled by age variables for the first time having sex and knowledge of condom effectiveness (PR=1.46, 95% CI=1.10-1.94). The implementation of mandatory condom localization bylaws with strict sanctions accompanied by synergistic cooperation between cross-sectors, updating the periodic mapping of unreached localizations accompanied by counseling on HIV/AIDS and condom effectiveness, dissemination of information to form risk perceptions and consistent behavior using condoms, the implementation of condom provision management in localization needs to be considered to reduce the incidence of HIV especially in FSW customer groups.
Read More
T-6683
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Hasby; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Laila Fitria, Miko Hananto
S-6191
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Amalia Marina; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Popy Yuniar, Rizky Hasby
Abstrak:
Perilaku seksual berisiko merupakan perilaku seksual yang membuat seseorang berisiko mengalami infeksi menular seksual seperti HIV. Salah satu populasi kunci yang sering terabaikan adalah kelompok Transpuan (Transgender Perempuan), mereka memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi HIV karena sering melakukan hubungan seks anal tanpa kondom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada kelompok Tranpuan. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, menggunakan data sekunder Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2015 dan 2018. Metode analisis yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi perilaku seks berisiko pada kelompok Transpuan secara keseluruhan menurun dari tahun 2015 ke tahun 2018 sebesar 14,9%. Mayoritas Transpuan dalam penelitian ini berusia ≥ 25 Tahun, memiliki Tingkat Pendidikan yang rendah, tidak memiliki pengetahuan tentang HIV, dan tidak mengkonsumsi NAPZA dan alcohol. Hasil analisis statistic menunjukkan bahwa Pendidikan (p=0,003; CI 95%: 1,057 – 2,387), pengetahuan (p=0,001; CI 95%: 1,530 – 2,521), penggunaan NAPZA (p=0,046; CI 95%: 1,068 – 5,113, dan konsumsi alcohol (p=0,013; CI 95%: 1,080 – 1,801 mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada kelompok Transpuan.

Risky sexual behaviour is sexual behaviour that puts a person at risk of sexually transmitted infections such as HIV. One of the key populations that is often overlooked is the Transgender Women, they have a higher risk of HIV infection because they often have anal sex without a condom. This study aims to determine the factors that influence risky sexual behaviour in the Transgender. The research design used was Cross Sectional, using secondary data from the Integrated Survey of Biology and Behaviour (STBP) in 2015 and 2018. The analysis method used was the chi-square test. The results showed that the prevalence of risky sexual behaviour in the Transgender as a whole decreased from 2015 to 2018 by 14.9%. The majority of Transwomen in this study were ≥ 25 years old, had a low level of education, did not have comprehensive knowledge about HIV, and did not consume drugs and alcohol. Statistical analysis showed that education (p=0.003; 95% CI: 1.057 - 2.387), knowledge (p=0.001; 95% CI: 1.530 - 2.521), drug use (p=0.046; 95% CI: 1.068 - 5.113, and alcohol consumption (p=0.013; CI 95%: 1.080 - 1.801) influenced the risky sexual behaviour of the Transgender.
Read More
S-11702
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selma Eliana Karamy; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Rizky Hasby
Abstrak:
Infeksi klamidia merupakan salah satu infeksi menular seksual yang paling umum terjadi secara global. WPS, terutama di daerah perkotaan, menghadapi risiko infeksi yang lebih tinggi karena lingkungan kerja serta gaya hidup yang berisiko. Jakarta merupakan kota yang memiliki karakteristik kosmopolitan dan perkotaan dengan industri seks yang aktif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi klamidia pada WPS di Kota Jakarta Barat. Penelitian dilakukan menggunakan desain cross-sectional dengan menganalisis data Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2018-2019. Analisis data terdiri dari analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Ukuran asosiasi yang digunakan adalah prevalence ratio (PR). Dari 283 WPS yang dilibatkan dalam penelitian, positivity rate infeksi klamidia di Kota Jakarta Barat mencapai 42.8%. Berdasarkan analisis bivariat, Faktor risiko yang signifikan terhadap infeksi klamidia pada WPS di Kota Jakarta Barat meliputi usia yang lebih muda, status cerai, dan jumlah pelanggan per minggu sebanyak ≥ 5 orang. Lama bekerja selama ≥ 10 tahun juga menjadi faktor signifikan yang bersifat protektif. Tingginya angka infeksi klamidia pada WPS di Kota Jakarta Barat menekankan perlunya memperkuat penjangkauan kepada WPS untuk memberi informasi dan edukasi mengenai IMS dan menganjurkan WPS agar melakukan pemeriksaan secara rutin, terutama bagi WPS yang berusia muda.

Chlamydia is one of the most common sexually transmitted infections globally. Female sex workers (FSW), especially in urban areas, face a higher risk of infection due to their risky work environment and lifestyle. Jakarta is a city that has cosmopolitan and urban characteristics with an active sex industry. This research was conducted to determine the factors associated with the incidence of chlamydia infection among FSWs in West Jakarta. The research was conducted using a cross-sectional design by analyzing data from the 2018-2019 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). The data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. Prevalence ratio (PR) was used as the measure of association. Of the 283 FSWs involved in the study, the positivity rate of chlamydia infection in West Jakarta reached 42.8%. Based on the bivariate analysis, significant risk factors for chlamydia infection among FSWs in West Jakarta include younger age, divorced status, and having ≥ 5 customers per week. Length of work for ≥ 10 years is also a significant factor that is protective. The high rate of chlamydia infection among FSWs in West Jakarta highlights the need to increase outreach to FSWs in order to educate them about STIs and encourage them to perform regular screenings, especially for young FSWs.
Read More
S-11244
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive