Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Berta Destiana Putri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan,
Muhammad Irwansyah, Ahmad Afif Mauludi
Abstrak:
Read More
Pelaut merupakan kelompok pekerja dengan tingkat mobilitas tinggi dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan, sehingga berisiko tinggi tertular Infeksi Menular Seksual (IMS). Persepsi risiko terhadap IMS sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap individu, yang dapat dianalisis melalui pendekatan paradigma psikometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persepsi risiko IMS pada pelaut di PT X berdasarkan sembilan dimensi psikometri: kesukarelaan, kecepatan dampak, pengetahuan umum dan ilmiah tentang risiko, kontrol terhadap risiko, kebaruan, sifat kronis atau katastropik, ketakutan umum, dan keparahan konsekuensi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei dan instrumen kuesioner terstandar yang dibagikan kepada pelaut aktif. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar pelaut memiliki persepsi risiko yang kurang optimal, terutama pada dimensi kontrol terhadap risiko dan pengetahuan ilmiah. Faktor lingkungan kerja dan sosial juga memengaruhi pembentukan sikap preventif. Oleh karena itu, intervensi kesehatan berbasis edukasi yang partisipatif dan sistematis diperlukan untuk meningkatkan literasi kesehatan serta membentuk sikap yang lebih responsif. Temuan ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan kebijakan kesehatan kerja yang adaptif dan berkelanjutan di sektor pelayaran
Seafarers are a highly mobile workforce with limited access to healthcare services, making them highly vulnerable to Sexually Transmitted Infections (STIs). Risk perception of STIs is influenced by individual knowledge and attitudes, which can be analyzed using the psychometric paradigm. This study aimed to assess seafarers’ risk perception of STIs at PT X through nine psychometric dimensions: voluntariness of risk, immediacy of effect, knowledge about the risk, scientific understanding, control over risk, newness, chronic-catastrophic nature, common-dread, and severity of consequences. A descriptive quantitative design was employed using standardized questionnaires distributed to active seafarers. Results revealed that most participants had suboptimal risk perception, particularly in the dimensions of risk control and scientific knowledge. Workplace and social environments were also found to affect the development of preventive attitudes. Therefore, participatory and systematic health education interventions are needed to improve health literacy and encourage responsive attitudes. These findings provide valuable input for developing adaptive and sustainable occupational health policies in the maritime sector.
T-7328
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizky Yuli Ikhwanuddin; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Ahmad Afif Mauludi, Hasan Bisri
Abstrak:
Read More
Profil K3 Nasional 2022 di Indonesia menunjukkan bahwa faktor manusia dalam keselamatan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap risiko kecelakaan kerja, termasuk di dalamnya perilaku mengambil risiko di tempat kerja. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan pendekatan mixed method kuantitatif dan kualitatif, yang bertujuan mendapatkan gambaran persepsi karyawan tentang perilaku mengambil risiko di tempat kerja serta menelusuri faktor-faktor penyebab karyawan berperilaku tersebut. 283 karyawan PT. XYZ Site A dari tingkat manajemen, pengawas, dan pekerja berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan pertanyaan terbuka serta dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan Uji Statistik Chi-Square, serta secara kualitatif dengan menggunakan Model HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) dan Qualitative Comparative Analysis. Dari hasil Uji Chi-Square, variabel independen yang memiliki nilai Asymp. Sig. (2-sided) di bawah 0,05 (95% CI) adalah jabatan/posisi (0,014), penerimaan perilaku mengambil risiko (0,018), normalisasi kecelakaan kecil (0,002), keputusan akan mengambil risiko (0,000), serta persentase jumlah pelaku pelanggaran (0,032). Hal ini mengindikasikan bahwa kelima variabel tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perbuatan melanggar peraturan. Secara kualitatif, faktor-faktor penyebab perilaku mengambil risiko berupa kondisi berpuas diri dan kejenuhan, kurangnya komunikasi, kurangnya pengawasan, kurang tegasnya teguran / hukuman terhadap pelanggaran, serta pembiaran kondisi tidak aman. Secara pengaruh organisasi, manajemen sumber daya, iklim organisasi, serta proses organisasi perlu ditingkatkan kinerjanya. Perusahaan disarankan untuk meningkatkan pengaruh organisasinya ke arah upaya pencegahan perilaku mengambil risiko tersebut, diiringi dengan pemantauan ketat kepada tidak hanya pekerja, namun juga kepada para pengawasnya agar selalu berperilaku selamat.
The 2022 National Occupational Health and Safety (OHS) Profile in Indonesia shows that the human factor in safety is a factor that influences the risk of work accidents, including risk-taking behavior at workplace. This research uses a cross-sectional design and a mixed method of qualitative and quantitative approach, which aims to obtain an overview of employee perceptions towards risk-taking behavior at workplace and to explore the factors causing employees to perform such behavior. 283 employees of PT. XYZ Site A from the management, supervisory, and worker levels participated in this study. Data was collected through a questionnaire with open-ended questions and analyzed quantitatively using the Chi-Square Statistical Test, as well as qualitatively using the HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) Model and Qualitative Comparative Analysis. From the results of the Chi-Square Test, the independent variables that have a value of Asymp. Sig. (2-sided) below 0.05 (95% CI) are job title/position (0.014), acceptance of risk-taking behavior (0.018), normalization of minor accidents (0.002), decision to take risks (0.000), and the percentage of the number of violators (0.032). This indicates that those five variables have a positive and significant effect on rule-breaking. Qualitatively, factors causing risk-taking behavior are the conditions of complacency and boredom, lack of communication, lack of supervision, lack of strong punishment on violations, as well as ignorance on unsafe conditions. As per organizational influences, the resource management, organizational climate, and organizational processes need improvement on their performance. The company is advised to increase its organizational influence towards efforts to prevent this risk-taking behavior, by carrying out strict monitoring not only to the workers, but also to the supervisors so that they always behave safely.
T-7165
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arinanda Utomo; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Hasan Bisri, Ahmad Afif Mauludi
Abstrak:
Read More
Industri pertanian dan perkebunan (agribisnis) merupakan pilar utama penyediaan sumber makanan global, namun memiliki statistik kecelakaan kerja yang tinggi. Di Indonesia, sektor ini menyumbang 17,4% dari seluruh kecelakaan kerja periode 2019-2021. Penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk menganalisis peran kepemimpinan keselamatan dan pembentukan iklim keselamatan yang mempengaruhi performa kinerja keselamatan di industri agribisnis PT. XXX yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit. Metode penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif, melibatkan 1332 responden yang dipilih melalui stratifikasi random sampling. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pekerja menilai kepemimpinan dan iklim keselamatan di tempat kerja sebagai sangat baik, namun ada area yang memerlukan perbaikan. Penelitian memberikan penjelasan bahwa kepemimpinan keselamatan berada pada kategori tinggi, iklim keselamatan juga berada pada kategori tinggi serta performa kinerja keselamatan juga berada pada kategori optimal. Kemudian secara khusus, hasil analisis juga mengungkapkan hubungan signifikan antara Safety Coaching, Safety Caring, Safety Controlling, Commitment to Safety, dan Perceived Risk dengan Safety Performance. Hal ini dapat di lihat pada Safety Coaching (P = 0,001), Safety Caring (P=0,011), Safety Controlling (P = 0,037), Commitment to Safety (P= 0,007), dan Perceived Risk (P = 0,035) menunjukkan hubungan signifikan dengan kinerja keselamatan. Namun, Emergency Response tidak menunjukkan hubungan signifikan (P = 0,244). Disamping itu Safety Coaching merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja keselamatan. Sehingga peningkatan program pembinaan keselamatan sangat penting untuk meningkatkan keselamatan kerja. Hal ini menekankan pentingnya kegiatan pembinaan guna meningkatkan kompetensi dan melakukan peningkatan serta pemantapan dalam pemahaman serta kesadaran dalam manajemen risiko yang efektif untuk menciptakan proses kerja serta lingkungan kerja yang bersinergi dengan aspek keselamatan dan kesehatan kerja.
The agricultural and plantation industry (agribusiness) is a primary pillar of global food supply, yet it has a high rate of occupational accidents. In Indonesia, this sector accounted for 17.4% of all workplace accidents between 2019-2021. This study aims to analyze the role of safety leadership and the establishment of a safety climate influencing safety performance in the agribusiness industry, specifically in PT. XXX, a palm oil plantation company. The research employs a cross-sectional study design with a quantitative approach, involving 1332 respondents selected through stratified random sampling. The results indicate that the majority of workers rate safety leadership and the workplace safety climate as very good, though there are areas needing improvement. The study explains that safety leadership is in the high category, the safety climate is also high, and safety performance is optimal. Specifically, the analysis results reveal significant relationships between Safety Coaching, Safety Caring, Safety Controlling, Commitment to Safety, and Perceived Risk with Safety Performance. This is evidenced by Safety Coaching (P = 0.001), Safety Caring (P = 0.011), Safety Controlling (P = 0.037), Commitment to Safety (P = 0.007), and Perceived Risk (P = 0.035) showing significant relationships with safety performance. However, Emergency Response does not show a significant relationship (P = 0.244). Additionally, Safety Coaching is the most influential variable on safety performance. Therefore, enhancing safety coaching programs is crucial for improving workplace safety. This emphasizes the importance of training activities to improve competence, understanding, and awareness in effective risk management to create a synergistic work process and environment with occupational health and safety aspects.
T-6983
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wafiq Febri Erlianti Safitri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, Hendra, Muthia Ashifa, Ahmad Afif Mauludi
Abstrak:
Read More
Abstrak Pada tahun 2021, Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan mencatat 7.298 kasus kecelakaan kerja dan 9% diantaranya disebabkan oleh kelelahan kerja. Dari data kasus tersebut 96% terjadi di industry pertambangan yang juga menyebabkan produktivitas pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kelelahan kerja pada operator alat berat pertambangan di PT XYZ. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penerapan rancangan cross-sectional. Studi ini melibatkan 115 pekerja yang diminta untuk mengisi kuisioner SOFI. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 71,3% pekerja mengalami kelelahan kerja pada tingkat ringan, sedangkan 28,7% responden mengalami kelelahan kerja pada tingkat berat. Nilai p dari hasil uji korelasi antara kelelahan kerja dengan faktor-faktor risikonya, masing-masing adalah jam kerja = 0,087, jumlah hari berurutan = 0,105, roster kerja = 0,556, shift kerja = 0,720, lama perjalanan = 0,005, usia = 0,992, riwayat penyakit kronis = 1,000, gangguan tidur = <0,001, kebiasaan tidur = <0,001, kemampuan tidur siang/istirahat = 0,047, usaha = 0,006, penghargaan = 0,152, overcommitment = 0,014, suhu = 0,482, kebisingan = 0,277, pencahayaan = 0,127. Selanjutnya disimpulkan bahwa determinan dari kelelahan kerja adalah lama perjalanan, gangguan tidur, kebiasaan tidur, kemampuan tidur siang/istirahat, usaha, dan overcommitment.
Abstract In 2021, the Directorate General of Labor Inspection recorded 7,298 cases of workplace accidents, with 9% attributed to work fatigue. Of these cases, 96% occurred in the mining industry, adversely affecting worker productivity. This study aims to identify the risk factors for work fatigue among heavy equipment operators in PT XYZ using a cross-sectional design. Involving 115 workers who completed the SOFI questionnaire, data analysis was conducted using the Chi-square test. The research findings revealed that 71.3% of workers experienced mild work fatigue, while 28.7% reported severe fatigue. Correlation tests showed varying p-values for factors such as working hours (0.087), consecutive workdays (0.105), work roster (0.556), shift work (0.720), travel duration (0.005), age (0.992), chronic illness history (1.000), sleep disturbances (<0.001), sleep habits (<0.001), nap/rest capability (0.047), effort (0.006), recognition (0.152), overcommitment (0.014), temperature (0.482), noise (0.277), and lighting (0.127). In conclusion, determinants of work fatigue include travel duration, sleep disturbances, sleep habits, nap/rest capability, effort, and overcommitment.
T-6874
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Afif Mauludi; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramdhan, Mufti Wirawan, Widura Imam Mustopo, Adrianto Sugiarto Wiyono
Abstrak:
Read More
DKI Jakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki mobilitas tinggi. perkembangan zaman dan teknologi mendorong perkembangan di bidang transportasi, termasuk hadirnya aplikasi ojek online. Meskipun dinilai memiliki banyak manfaat, pengemudi ojek online, sebagai pengemudi sepeda motor roda dua memiliki risiko yang sangat tinggi untuk mengalami kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh perilaku berisiko. Perilaku berisiko pada saat mengemudi dapat dipengaruhi oleh karakteristik individu, persepsi risiko berkendara dan pengetahuan berkendara. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu, persepsi risiko berkendara dan pengetahuan berkendara terhadap perilaku berisiko saat mengemudi pada pengemudi ojek online di DKI Jakarta tahun 2021. Penelitian ini diikuti oleh 205 orang responden pengemudi ojek online melalui pengisian kuesioner online. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden pengemudi ojek online di DKI Jakarta memiliki perilaku berisiko yang rendah (87,8%), pengetahuan risiko berkendara yang tinggi (97,1%) dan persepsi risiko berkendara yang tinggi (97,1%). Dari hasil analisis bivariat, diketahui terdapat pengaruh yang bermakna dari pengetahuan berkendara terhadap perilaku berisiko saat berkendara (p-value=0,025) maupun persepsi risiko berkendara terhadap perilaku berisiko saat berkendara (p-value=0,025). Dalam penelitian ini diketahui bahwa faktor dominan yang berpengaruh pada perilaku berisiko saat berkendara adalah sub-variabel dari persepsi risiko berkendara, yaitu pengendalian risiko berkendara. Pada pengemudi ojek online, persepsi risiko berkendara sangat dipengaruhi oleh tekanan ekonomi. Meski perilaku berisiko saat mengemudi cenderung rendah, namun tetap diperlukan pemeliharaan dan peningkatan persepsi risiko dan pengetahuan berkendara secara berkala sehingga dapat mencegah dan mengurangi kejadian kecelakaan lalu lintas
DKI Jakarta is one of the cities in Indonesia that has high mobility. Developments in information and technology also encourage the developments of the transportation sector, including the invention of online motorcycle taxi applications. Although it is considered to have many benefits, online motorcycle taxi drivers have a very high risk of having a traffic accident that caused by risk riding behavior. Risky riding behavior can be influenced by individual characteristics, perceptions of driving risks, and driving knowledge. This study is a cross-sectional study that analyzes the influence of individual characteristics, perceptions of driving risk, and driving knowledge on risky behavior while driving on online motorcycle taxi drivers in DKI Jakarta in 2021. Two hundred five online motorcycle taxi drivers were involved in this study by filling out an online questionnaire. The results of the study, it is known that the majority of online motorcycle taxi drivers in DKI Jakarta respondents have low-risk riding behavior (87.8%), high knowledge of riding practice (97.1%), and good riding risk perceptions (97.1%). From the analysis, it is known that knowledge of riding practice can significantly influence the risky riding behavior (p-value = 0.025) and perceptions of driving risk also can significantly influences the risky riding behavior (p-value = 0.025). Based on binary logistic regression analysis, it is known that the factor that most influences risky riding behavior is a sub-variable of the perception of riding risk, namely perception of driving risk control. This study result also shows that the value of safety based on driving knowledge is not the primary value possessed by online motorcycle taxi drivers in DKI Jakarta. Perception of risk on respondents is strongly related to economic value. Although risky riding behavior tends to be insignificant. However, it is still necessary to regularly maintain and increase the riding risk perception and practice knowledge to prevent and minimize the road accidents
T-6193
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
