Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Chandra Sunaryo; Pembimbing: Hendra; Penguji: Fatma Lestari, Zulkifli Djunaidi, Wenny Ipmawan, Machfud
Abstrak:
Kecelakaan di lokasi kerja masih terus terjadi dan telah banyak upaya yang dilakukan untuk mencegahnya. Dalam beberapa penelitian, telah banyak dilakukan upaya mengendalikannya antaralain melakukan perbaikan mulai dari peralatan kerja, APD, sistem pelaporan, pelaksanan program-program komunikasi, pelatihan, pelaksanaan inspeksi hingga perbaikan sistem manajemen HSSE juga peningkatan budaya HSSE. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi Budaya HSSE terhadap Sistem Manajemen HSSE dan pengaruhnya terhadap tingkat kecelakaan kerja. Penellitian ini dilakukan dikarenakan peneliti ingin melihat gambaran implementasi SMHSSE dan Budaya HSSE dari dua Perusahaan berbeda, bagaimana hubungannya dengan angka kecelakaan kerja. Penelitian ini dilakukan dengan desain restrospektif kohort menggunakan data sekunder angka kecelakaan kerja Perusahaan X dari tahun 2016 – 2022 di lapangan EK yang merupakan lapangan eksploitasi dan produksi minyak dan gas Bumi meliputi seluruh area kegiatan baik di offshore, onshore, fasilitas pendukung hingga area perkantoran. Durasi data yang diteliti adalah periode 2016 hingga 2022 dengan menggunakan data-data milik Perusahaan X. Gambaran implementasi SMHSSE Perusahaan X dilihat dari hasil audit SMHSSE pada tahun 2019, 2020 dan 2022 dengan seluruh hasilnya adalah Excellence sedangkan budaya HSSE Perusahaan X berdasarkan hasil survey budaya tahun 2021 dan 2022 berada pada level Proactive. Meskipun kedua Perusahaan sudah sama-sama memiliki budaya HSSE dan penerapan SMHSSE, fluktuasi kecelakaan kerja tetap terjadi. Hal ini terjadi terutama pada proses transisi operasi dan SMHSSE, dimana kinerja HSSE menurun ditandai dengan angka TRIR (Total Recordable Incident Rate) yang meningkat. Namun setelah stabilnya penerapan SMHSSE yang baik, telah memberikan dampak positif terhadap turunnya TRIR. Meskipun telah memiliki budaya HSSE dan implementasi yang sudah baik, masih diperlukan perbaikan pada empat elemen SMHSSE Perusahaan X.

Accidents on the job site are still happening and many efforts have been made to prevent them. In several studies, many efforts have been made to control it, including making improvements ranging from work equipment, PPE, reporting systems, implementing communication programs, training, carrying out inspections to improving the HSSE management system as well as improving the HSSE culture. This study aims to analyze the influence of the implementation of HSSE Culture on the HSSE Management System and its effect on work accident rates. This research was conducted because researchers wanted to see an overview of the implementation of SMHSSE and HSSE Culture from two different companies, how it relates to the number of work accidents. This research was conducted using a retrospective cohort design using secondary data on Company X's work accident rate from 2016 – 2022 in the EK field which is an oil and gas exploitation and production field covering all areas of activity both offshore, onshore, supporting facilities to office areas. The duration of the data studied is the period from 2016 to 2022 using the data belonging to Company X. An overview of Company X's SMHSSE implementation is seen from the results of SMHSSE audits in 2019, 2020 and 2022 with all results being Excellence while Company X's HSSE culture is based on the results of the year's culture survey 2021 and 2022 are at the Proactive level. Even though the two companies already have an HSSE culture and the implementation of SMHSSE, fluctuations in work accidents still occur. This happened especially during the operational transition process and SMHSSE, where HSSE performance decreased marked by an increase in TRIR (Total Recordable Incident Rate). However, after the stable implementation of a good SMHSSE, it has had a positive impact on the decrease in TRIR. Even though it already has a good HSSE culture and implementation, it still needs improvement on the four elements of Company X's SMHSSE.
Read More
T-6804
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Grahito Abhinowo; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Chandra Sunaryo, Juni Trihardiyanto
Abstrak:
Basic HSSE Training (BHT) merupakan pelatihan dasar keselamatan yang wajib diikuti seluruh pekerja sebagai prasyarat memasuki area kerja pada industri hulu minyak dan gas yang berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran BHT dalam meningkatkan perilaku keselamatan pekerja lapangan, yang mencakup gambaran pelaksanaan, manfaat, tantangan, serta aspek yang perlu ditingkatkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 27 informan dari sembilan kelompok fungsi, dilengkapi data sekunder berupa 13.541 respons feedback pelatihan dan hasil Survei Budaya HSSE berbasis model Hearts and Minds. Data dianalisis secara tematik melalui pengodean deduktif dan induktif, sintesis matriks skoring kesamaan persepsi antarinforman, serta triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BHT telah terselenggara sebagai pelatihan wajib terstruktur yang terhubung dengan HSSE Passport dan dinilai sangat baik pada tingkat reaksi peserta. Manfaat paling kuat adalah peningkatan kesadaran terhadap bahaya, risiko, dan konsekuensi, sedangkan manfaat pada keberanian melakukan intervensi atau menghentikan pekerjaan tidak aman masih terbatas. Tantangan utama meliputi keterbatasan praktik dan simulasi, kesenjangan antara materi umum dan variasi kondisi lapangan, serta lemahnya tindak lanjut pascapelatihan. Aspek perbaikan yang paling disepakati adalah penguatan studi kasus dan pembelajaran dari kejadian nyata, praktik dan simulasi, kontekstualisasi materi terhadap risiko aktual pekerjaan, serta evaluasi hingga tingkat perilaku. Penelitian menyimpulkan bahwa BHT berperan sebagai fondasi pembentukan perilaku keselamatan, tetapi belum cukup berdiri sendiri sehingga memerlukan penguatan transfer pembelajaran dan dukungan organisasi agar kesadaran berkembang menjadi perilaku selamat yang konsisten.

Basic HSSE Training (BHT) is a mandatory foundational safety training that all workers must complete as a prerequisite for entering work areas in the high-risk upstream oil and gas industry. This study aims to analyze the role of BHT in improving field workers’ safety behavior, covering its implementation, benefits, challenges, and aspects requiring improvement. A qualitative approach with a case study design was used. Primary data were collected through in-depth interviews with 27 informants from nine functional groups, complemented by secondary data comprising 13,541 training feedback responses and the results of an HSSE Culture Survey based on the Hearts and Minds model. The data were analyzed thematically using deductive and inductive coding, a synthesis matrix scoring the convergence of informants’ perceptions, and source triangulation. The results indicate that BHT has been delivered as a structured mandatory training linked to the HSSE Passport and is rated highly at the participant reaction level. Its strongest benefit is increased awareness of hazards, risks, and consequences, whereas its benefit for the courage to intervene in or stop unsafe work remains limited. The main challenges include limited practice and simulation, gaps between generic material and varied field conditions, and weak post-training follow-up. The most widely agreed-upon improvements are strengthening case studies and lessons learned from real events, practice and simulation, contextualization of the material to actual work risks, and evaluation up to the behavior level. The study concludes that BHT serves as a foundation for shaping safety behavior but is not sufficient on its own; it requires strengthened learning transfer and organizational support so that awareness develops into consistent safe behavior.
Read More
T-7627
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Satria Kelana Putra; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Chandra Sunaryo, Juni Trihardiyanto
Abstrak:
Fasilitas penyimpanan crude oil pada industri hulu minyak dan gas memiliki tingkat potensi bahaya kebakaran dan ledakan yang tinggi karena menyimpan hidrokarbon dalam jumlah besar. Kondisi tersebut menuntut dilakukannya penilaian risiko untuk mengidentifikasi tingkat bahaya, memperkirakan potensi kerugian, serta menentukan prioritas pengendalian yang tepat. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat risiko kebakaran dan ledakan pada Tangki S-01 di PT X menggunakan metode Dow’s Fire and Explosion Index (F&EI) Edisi ke-7. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan deskriptif semi-kuantitatif melalui pengumpulan data yang meliputi observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, serta telaah terhadap dokumen perusahaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Tangki S-01 memiliki nilai Fire and Explosion Index (F&EI) sebesar 89,04 yang termasuk dalam kategori moderate hazard. Selain itu, estimasi Maximum Probable Days Outage (MPDO) menunjukkan potensi gangguan operasional selama 39 hari apabila terjadi kebakaran atau ledakan, sedangkan estimasi kerugian akibat terhentinya aktivitas bisnis  mencapai US$ 3.232.125

Crude oil storage facilities in the upstream oil and gas industry are exposed to a high potential for fire and explosion hazards due to the large volumes of hydrocarbons they contain. This condition necessitates risk assessment to identify hazard levels, estimate potential losses, and establish appropriate risk control priorities. This study aimed to analyze the fire and explosion risk level of Storage Tank S-01 at PT X using the 7th Edition of the Dow’s Fire and Explosion Index (F&EI) method. A descriptive semi-quantitative approach was employed, with data collected through field observations, interviews, documentation, and a review of company documents. The analysis revealed that Storage Tank S-01 obtained a Fire and Explosion Index (F&EI) value of 89.04, classifying it as a moderate hazard. Furthermore, the estimated Maximum Probable Days Outage (MPDO) indicated a potential operational disruption of 39 days in the event of a fire or explosion, while the estimated business interruption loss was US$3,232,125
Read More
T-7723
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fugi Nurdianto; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno , Royanul Arief, Chandra Sunaryo
Abstrak:
Benzena merupakan senyawa hidrokarbon aromatik volatil yang banyak ditemukan pada industri minyak dan gas bumi serta telah diklasifikasikan sebagai karsinogen Grup 1 oleh International Agency for Research on Cancer (IARC). Pajanan benzena pada pekerja sektor hulu migas berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem hematopoietik, serta meningkatkan risiko leukemia akibat pajanan kronis. Penilaian risiko pajanan benzena umumnya masih berfokus pada pemantauan lingkungan kerja sehingga belum sepenuhnya menggambarkan dosis internal yang diterima pekerja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mengintegrasikan pemantauan lingkungan kerja dan biomonitoring untuk memperoleh gambaran risiko yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko pajanan benzena pada pekerja sektor hulu minyak dan gas bumi menggunakan pendekatan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) yang terintegrasi dengan area monitoring, personal monitoring, dan biomonitoring. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif berbasis data sekunder yang diperoleh dari program pemantauan lingkungan kerja dan biomonitoring perusahaan. Analisis dilakukan pada pekerja yang dikelompokkan berdasarkan Similar Exposure Group (SEG), yaitu Proses, IPAL, Laboratorium, dan Support. Biomonitoring dilakukan menggunakan biomarker S-Phenylmercapturic Acid (S-PMA) urin, sedangkan penilaian risiko dilakukan melalui penentuan Hazard Rating (HR), Exposure Rating (ER), dan Risk Rating (RR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa SEG IPAL memiliki rerata konsentrasi benzena tertinggi pada area monitoring sebesar 0,53 ppm dan personal monitoring sebesar 0,42 ppm. Hasil biomonitoring menunjukkan rerata kadar S-PMA tertinggi ditemukan pada SEG Proses sebesar 1,08 µg/g kreatinin, diikuti SEG IPAL sebesar 0,85 µg/g kreatinin dan SEG Laboratorium sebesar 0,42 µg/g kreatinin. Seluruh hasil biomonitoring masih berada di bawah nilai Biological Exposure Index (BEI) sebesar 25 µg/g kreatinin. Penilaian CHRA menunjukkan bahwa SEG IPAL memiliki nilai ER tertinggi sebesar 5, diikuti SEG Proses sebesar 4, SEG Laboratorium sebesar 2, dan SEG Support sebesar 1. Hasil RR menunjukkan bahwa SEG IPAL dengan RR sebesar 25 dan SEG Proses dengan RR sebesar 20 termasuk kategori risiko tinggi, sedangkan SEG Laboratorium dengan RR sebesar 10 dan SEG Support dengan RR sebesar 5 termasuk kategori risiko moderat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara hasil pemantauan lingkungan kerja dan biomonitoring tidak selalu linear karena dapat dipengaruhi oleh penggunaan APD, variasi metabolisme individu, durasi pajanan, kemungkinan pajanan dermal, serta kebiasaan merokok sebagai faktor confounding. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi area monitoring, personal monitoring, biomonitoring, dan pendekatan CHRA mampu memberikan gambaran risiko pajanan benzena yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan satu parameter pemantauan saja. SEG IPAL dan SEG Proses merupakan kelompok prioritas utama dalam pengendalian pajanan benzena pada industri hulu minyak dan gas bumi. Pendekatan terpadu ini dapat digunakan sebagai dasar pengendalian pajanan benzena berbasis risiko untuk mendukung perlindungan kesehatan pekerja secara lebih efektif.

Benzene is a volatile aromatic hydrocarbon commonly found in the oil and gas industry and has been classified as a Group 1 carcinogen by the International Agency for Research on Cancer (IARC). Benzene exposure among upstream oil and gas workers may cause adverse health effects, particularly hematopoietic disorders, and may increase the risk of leukemia due to chronic exposure. Risk assessment of benzene exposure is commonly based on workplace environmental monitoring; however, this approach may not fully represent the internal dose absorbed by workers. Therefore, an integrated approach combining workplace environmental monitoring and biomonitoring is needed to provide a more comprehensive risk assessment. This study aimed to analyze benzene exposure risk among upstream oil and gas workers using a Chemical Health Risk Assessment (CHRA) approach integrated with area monitoring, personal monitoring, and biomonitoring. This study used a retrospective observational design based on secondary data obtained from the company’s workplace monitoring and biomonitoring programs. The analysis was conducted among workers classified into Similar Exposure Groups (SEGs), namely Process, Wastewater Treatment Plant (WWTP/IPAL), Laboratory, and Support. Biomonitoring was performed using urinary S-Phenylmercapturic Acid (S-PMA) as a biomarker of benzene exposure, while risk assessment was conducted through the determination of Hazard Rating (HR), Exposure Rating (ER), and Risk Rating (RR). The results showed that the WWTP (IPAL) SEG had the highest mean benzene concentration in both area monitoring at 0.53 ppm and personal monitoring at 0.42 ppm. Biomonitoring results showed that the highest mean urinary S-PMA level was observed in the Process SEG at 1.08 µg/g creatinine, followed by the WWTP SEG at 0.85 µg/g creatinine and the Laboratory SEG at 0.42 µg/g creatinine. All biomonitoring results remained below the Biological Exposure Index (BEI) of 25 µg/g creatinine. The CHRA assessment showed that the WWTP SEG had the highest ER value of 5, followed by the Process SEG with an ER of 4, the Laboratory SEG with an ER of 2, and the Support SEG with an ER of 1. The RR results showed that the WWTP SEG with an RR of 25 and the Process SEG with an RR of 20 were classified as high risk, whereas the Laboratory SEG with an RR of 10 and the Support SEG with an RR of 5 were classified as moderate risk. This study also found that the relationship between workplace monitoring and biomonitoring results was not always linear, as it may be influenced by personal protective equipment use, individual metabolic variability, exposure duration, possible dermal exposure, and smoking habits as confounding factors. This study concludes that the integration of area monitoring, personal monitoring, biomonitoring, and the CHRA approach provides a more comprehensive evaluation of benzene exposure risk than relying on a single monitoring parameter alone. The WWTP and Process SEGs are the main priority groups for benzene exposure control in the upstream oil and gas industry. This integrated approach can serve as a basis for risk-based benzene exposure control to support more effective worker health protection.
Read More
T-7569
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive