Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lingkungan & Pembangunan, Vol.17, No.4, 1997, hal. 293-302, ( Cat. ada di bendel 1997 - 2000 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ina Agustina Eka Suswanti; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Grace Mediana Purnami
Abstrak: ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas profil kesehatan Kabupaten Bandung berdasarkan kerangka Health Metrics Networks (WHO, 2012) yang terdiri dari faktor masukan (sumber daya informasi, indikator kesehatan kunci, serta sumber data) dan faktor proses (manajemen data, produk informasi, serta diseminasi dan penggunaan informasi). Faktor keluaran seperti usia informasi, akurasi, relevan, tingkat kejelasan, kelengkapan, dan penyajian informasi menggunakan teori faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas informasi Kamali Whitely, 2015. Desain penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan melakukan wawancara mendalam kepada staf dan pimpinan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung sebagai penyedia (pembuat), dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat sebagai pengguna (pengguna), serta puskesmas, Bappeda, Diskominfo, RSUD, dan pihak swasta sebagai pengguna akhir (pengguna akhir). Selain itu, penelitian ini menggunakan telaah dokumen dan observasi yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas profil kesehatan Kabupaten Bandung. Hasil penelitian yang menggunakan penilaian HMN (WHO, 2008), menunjukkan untuk gambaran faktor masukan dan proses dapat disimpulkan bahwa faktor masukan profil kesehatan seperti masih lemahnya sumber daya terkait peraturan perundang-undangan dalam penyusunan profil kesehatan dan peraturan kebijakan dalam koordinasi berupa pertemuan dan pemantauan. Sedangkan menurut aspek sumber daya manusia, dana, dan sumber data sudah terpenuhi. Mengenai gambaran faktor proses, walaupun belum memiliki gudang penyimpanan data, tetapi dalam manajemen data sudah terintegrasi dan mudah digunakan bagi penggunanya melalui web resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung. Sedangkan gambaran produk informasi berupa profil kesehatan tidak tepat waktu dalam pelaporannya, sehingga berdampak pada komponen diseminasi dan penggunaan informasi yang ada di profil kesehatan yang tidak dapat digunakan sebagai proses alokasi sumber daya dalam penganggaran pembangunan tahunan yang terpadu, walaupun sudah terpenuhinya semua komponen faktor keluaran seperti usia informasi, akurasi, relevan, tingkat kejelasan, kelengkapan, dan penyajian informasi. Kata kunci: Pofil Kesehatan, Kualitas Profil Kesehatan, Kerangka HMN WHO ABSTRACT This study discusses the factors that influence the quality of the health profile of Bandung Regency based on the framework of Health Metrics Networks (WHO, 2012) which consists of input factors (information resources, key health indicators, and data sources) and process factors (data management, products information, and dissemination and use of information). Output factors such as age of information, accuracy, relevance, level of clarity, completeness, and presentation of information using the theory of factors that influence the quality of information Kamali Whitely, 2015. The design of this study uses qualitative methods, by conducting in-depth interviews with staff and leaders of the Health Office Bandung Regency as a penyedia (maker), and the West Java Provincial Health Office as a pengguna (pengguna), as well as a health center, Bappeda, Diskominfo, RSUD, and the private sector as an pengguna akhir (pengguna akhir). In addition, this study uses document review and observations relating to the factors that influence the quality of health profile in Bandung Regency. The results of the study using the HMN assessment (WHO, 2008), showed that for input and process factors it can be concluded that health profile input factors such as still weak resources related to legislation in preparing health profiles and policy regulations in coordination in the form of meetings and monitoring. Whereas according to aspects of human resources, funds, and data sources have been fulfilled. Regarding the description of process factors, even though they do not yet have a data storage warehouse, the data management has been integrated and is easy to use for its penggunas through the official website of the Bandung District Health Office. While the description of information products in the form of health profiles is not timely in its reporting, so that it has an impact on the dissemination and use of information in the health profile which cannot be used as a resource allocation process in integrated annual development budgeting. Although all components of the output factors have been fulfilled, such as age of information, accuracy, relevance, level of clarity, completeness, and presentation of information. Keywords: Pofil Kesehatan, Quality Health Profile, WHO HMN Framework
Read More
S-9934
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Suswanti; Pembimbing: Meiwita Paulina Budiharsana; Penguji: Martya Rahmaniati, Milla Herdayati, Yuda Turana, Woro Riyadina
Abstrak:
Latar Belakang: Hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, rendahnya awareness, pengobatan hipertensi, dan meningkatnya faktor risiko hipertensi berperan dalam meningkatkan kejadian tekanan darah tidak terkontrol pada subjek hipertensi di Indonesia. Tujuan penelitan ini adalah mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang memengaruhi tekanan darah tidak terkontrol berdasarkan data sekunder Indonesian Family Life Survey Tahun 2014. Metode: Penelitian dengan desain studi potong lintang menggunakan data sekunder Indonesian Family Life Survey Tahun 2014, yang mengikutsertakan 2848 anggota rumah tangga pada 9 provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera. Tekanan darah tidak terkontrol pada subjek hipertensi didefinisikan sebagai subjek dengan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan namun memiliki tekanan darah tinggi berdasarkan rerata tekanan darah tiga kali pengukuran berdasarkan pedoman JNC 8. Karakteristik demografi, pengobatan, kesehatan mental, gaya hidup dan komorbiditas penyakit menjadi variabel independen yang diteliti. Perhitungan bobot koreksi digunakan dalam analisis ini, setelah pembobotan jumlah sampel sebesar 4566 anggota rumah tangga, analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda model determinan . Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi tekanan darah tidak terkontrol pada subjek hipertensi sebesar 64,5%. Secara independen, lanjut usia, jenis kelamin perempuan, tidak sekolah/pendidikan rendah, konsumsi obat, merokok, depresi, rendah aktivitas fisik, obesitas, adanya komorbid diabetes mellitus dan kolesterol berhubungan secara signifikan terhadap kejadian tekanan darah tidak terkontrol pada subjek hipertensi (p<0,05). Sementara itu, obesitas diketahui sebagai faktor risiko dominan tekanan darah tidak terkontrol pada subjek hipertensi terkontrol, di mana obesitas meningkatkan 1,8 kali risiko untuk mengalami tekanan darah tidak terkontrol pada subjek hipertensi. Analisis PAR% menunjukkan modifikasi faktor risiko obesitas diketahui dapat mengeliminasi hipertensi tidak terkontrol sebesar 15% pada subjek hipertensi. Kesimpulan: Secara independen, karakteristik demografi, pengobatan, kesehatan mental, gaya hidup dan komorbiditas penyakit berkaitan dengan kejadian tekanan darah tidak terkontrol pada subjek hipertensi. Sementara obesitas ditemukan sebagai faktor risiko dominan dan memiliki dampak paling besar terhadap kejadian tekanan darah tidak terkontrol pada subjek hipertensi.

Introduction: Hypertension is still as a main health problem in Indonesia. Lack of awareness, treatment and increasing of risk factors caused an increase of uncontrolled blood preassure in hypertensive subjects in Indonesia. Objective: the aims of this study was to know prevalence and determine of uncontrolled blood pressure in subjects with hypertension diagnosis based on analyses of secondary data from Indonesian Family  LIife Survey in 2014. Methods: a cross sectional study design using secondary data analyses from Indonesian Family Life Survey in 2014, and recruited 2848 houshold members in 9 province Jawa and Sumatera. Hypertension was define as subject with hypertension diagnosed by phsycian and having high blood preassure after 3 time measurement based on JNC 8 guideline. Demography characteristics, antihypertension treatment, mental health, life style and comorbid as independen variables. Corrected weighting was measured in this study, there were 4566 of household members after weighting, and data analyses using chi-square and logistic regression determinant model. Results: This study results showed that prevalence of uncontrolled blood pressure in hypertensive subjects was 64,5%. Independently, Older age, women, no school/lower education, antihypertension treatment, smoking, depression, low physical activity, obesity and presence of diabetes and cholesterol associated with uncontrolled blood preassure in hypertensive subjects (p<0,05). Meanwhile, obesity was found as a dominant factor, where having obesity 1,8 more likely to increase uncontrolled blood pressure. PAR% analyses showed modification of obesity could eliminate uncontrolled blood pressure by 15% in hypertensive subjects. Conclussion: Demography characteristics, antihypertension treatment, mental health, life style and comorbid associated with uncontrolled blood pressure in hypertension subjects. Obesity found as a dominant factor and having measurement effect to uncontrolled blood pressure.

Read More
T-5899
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suswanti; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Wachyu Sulistiyadi, Pujianto, Sawidjan B Gunadi, Sugianto
Abstrak:

Diare akut sarnpai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare ini masih sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat. Dalam periode tahun 2005-2006, jumlah kasus penyakit diare di Kabupaten Landak mengalami kenaikan yang cukup tajam. Tahun 2005 sebanyak 4.474 kasus (1 meninggal) dan tahun 2006 naik menjadi 6.210 kasus (2 meninggal). Diare menempati urutan ketiga setelah ISPA dan Malaria dalam proporsi sepuluh penyakit terbesar di Kabupaten Landak. Tingginya kejadian penyakit diare ini menimbulkan kerugian sosial ekonomi dan berdampak pada pembiayaan pemerintah dan masyarakat. Penelitian terhadap kerugian yang dialarni oleh diare pemah dilakukan hanya pada satu sisi saja yaitu pada sisi pasien. Sementara sisi provider belum pemah dilakukan. Biaya yang timbul pada sisi provider maupun pasien masing-masing diklasifikasikan sebagai biaya langsung (drect cost) dan biaya tak langsung (indirect cost). Untuk itu penelitian ini bertujuan secara umum rnemperoleh gambaran tentang besaran biaya yang ditimbulkan akibat sakit (cost of illness) rawat jalan diare. Sedangkan Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik pasien rawat jalan diare, besaran biaya langsung (direct cost) dan biaya tak langsung (indirect cost) pada sisi provider dan pasien yang melakukan kunjungan ke puskesmas dalam satu periode sakit. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 96 orang yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesrnas Ngabang Kalimantan Barat pada buian Maret s/d Mei 2007. Data yang digunakan dalarn penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari lokasi penelitian serta data primer yang diperoleh dari basil interview kepada pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan pasien ada/ah kelompok umur dewasa 44%, berjenis kelamin laki-laki 54%, tidakibelum bekerja 49%, tidakibelum sekolah 50%, tidak berpenghasilan 56%, jalan kaki ke puskesmas 40%, penanggung biaya puskesrnas berasal dad kantong sendiri 76%, jurnlah hari sembuh 2 hari 54%. Hasil penelitian menunjukkan besar biaya langsung pada provider adalah Rp. 2.292.440,- dengan rata-rata biaya langsung sebesar Rp. 23.879,-. Biaya tidak langsung pada provider sebesar Rp. 75.492,- dengan rata-rata sebesar Rp. 786,-. Total biaya pada provider sebesar Rp. 2.367.933,- dengan rata-rata sebesar Rp. 24.665,-. Biaya langsung pada pasien sebesar Rp. 478.000,- dengan rata-rata sebesar Rp. 4.979,- per pasien. Biaya tidak langsung pada pasien sebesar Rp. 1.090.250,- dengan rata-rata sebesar Rp. 11.356,-. Total biaya pada pasien diare sebesar Rp. 1.568.250,- dengan biaya rata-rata sebesar Rp. 16335,-. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya akibat sakit (cost of illness) yang dikeluarkan baik pada sisi provider maupun sisi pasien untuk pelayanan rawat jalan diare per pasien sebesar Rp. 41.001,-(tidak termasuk opportunity cost). Apabila dilakukan simulasi perhitungan kerugian ekonomi yang menjadi beban pemerintah dan masyarakat akibat sakit diare maka diperoleh angka sebesar Rp. 1,6 IniIyar per tahun, atau 0,3% dari APED (Rp. 435.887.753.163,-), 7% dari anggaran kesehatan plus gaji (Rp. 26.126.133.800,-), 9% dari anggaran kesehatan tanpa gaji (Rp. 18.245.385.200,-). Dikaitkan dengan UMR Landak, maka didapatkan angka kerugian sebesar Rp. 2,5 Myst per tahun. Saran yang dapat disampaikan adalah angka kenigian yang dialarni dapat dijadikan aeuan perencanaan, penyusunan anggaran dan intervensi program penanggulangan diare dengan berorientasi path upaya preventif dan promosi, perlunya dilakukan penghematan biaya pada sisi provider dengan menekan penggunaan obat diare yang tidak rasionil, perlu dilakukan perhitungan biaya secara menyeluruh berdasarkan kegiatan, perlu penyuluhan dan perbatian kepada masyarakat tentang penyakit diare, dan terakhir bagi peneliti selanjutnya dapat melihat seeara bersarnaan pada layanan rawat jalan dan map di rurnah sakit dan puskesmas dengan menghitung opportunity cost.


Acute diarrhea at present still becomes health problem, not only in developing countries but also in developed countries. Diarrhea still leads to endemic (KLB) with very huge sufferer in short time. Between 2004-2005, number of diarrhea case in Landak Regency increase quite sharply. There are 4,474 cases (one died) in 2005 and the cases increase to 6,210 (2 died) in 2006. Diarrhea places the third rank after Upper Respiratory Infection (1SPA) and malaria among ten diseases in Landak Regency. The high of diarrhea incident has caused social economic loss and affected the cost for government and people. Research on loss caused by diarrhea was ever conducted but limited on patient side. Meanwhile, research on provider has never been done. Cost resulted from patient as well as provider was respectively classified as direct cost and indirect cost. Generally, the purpose of this research is to obtain description on the cost of illness for diarrhea outpatients. Meanwhile. particularly, the purpose is to obtain description on characteristics of diarrhea outpatients, direct cost and indirect cost at provider and patient visiting health center in one period of illness. The research conducted in Puskesmas Ngabang West Kalimantan from March to May 2007 uses cross sectional design with 96 respondents. Secondary data employed in this research come from research location, while the primary data come from interviewing the patient. The results show that mostly patients are adult (44%). male (54%). unemployment (49%). uneducated (50%), having no income (56%). going to health center on foot (40%). self-utiarant or (76%), and having two-days recovery day (54%). Direct cost for provider is IDR 2,292,440 with direct cost IDR 23,879 on average. Indirect cost for provider is 1DR 75,492 with [DR. 786 on average. Total cost for provider is IDR 2.367,933 with /DR 24,665 on average. Direct cost on patient is [DR 478,000 with DR 4,979 on average per patient. Indirect cost for patient is [DR 1,090,250 with IDR 11,356 on average. Total cost for diarrhea patienzs is [DR 1.568.250 with 1DR 16,335 on average. The results indicate that thc average cost of illness incurred by both provider and patients for outpatient service of diarrhea per patient is [DR. 41,001 (excluded opportunity cost). If economic loss due to diarrhea borne by government and people was caiculated, the rate is DR 1.6 billion per year or 0.3% of APBD (1DR 435,887,753,163), 7% of health budget phis salary (IDR 26,126,133.800), 9% of health budget without salary (IDR 18,245,385,200) Related to UN1R of Landak. the loss is 1DR 2.5 billion per year. It is recommended that loss can be used as reference in planning, developing budget. and intervening program diarrhea control orienting to prevention and promotion. It is in need to retrench provider cost by reducing irrational use of diarrhea medicines, calculate cost comprehensively based on activities, educate people and keep them focused on diarrhea. Furthermore,, researcher could instantaneously see the service for outpatient and inpatient in hospital and health center by calculating opportunity cost.

Read More
T-2658
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive