Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Jajah K. Husaini, Yekti Widodo, Salimar
Seri Gizi 24
Bogor : Puslitbangkes Gizi, 2001
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gizi Indonesia, Vol.XXIII, 1998, hal. 43-56, ( Cat. ada di bendel 1994 - 2002 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yekti Widodo
MPPK Vol.XI, No.3
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2001
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ummi Khairun Niswah; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful, Tris Eryando; Penguji: Besral, Yekti Widodo, Dakhlan Choeron
Abstrak: ABSTRAK Pendahuluan: Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) adalah komposit indeks malnutrisi yang dibagi menjadi tujuh indikator. Faktor risiko kejadian CIAF diantaranya ASI eksklusif, desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI), jamban sehat, posyandu aktif, kemiskinan, tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan ibu balita. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel yang berpengaruh terhadap secara lokal dan secara global dan mengetahui perbedaan faktor yang menjadi prediktor CIAF di setiap kabupaten/kota Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional. Analisis penelitian menggunakan analisis spasial menggunakan MGWR. Hasil: Hasil analisis F hitung < F tabel (0,47 < 2,25) sehingga tidak ada variasi spasial di Kalimantan namun ada variabel yang signifikan di wilayah lokal atau per kabupaten/kota yaitu pendidikan ibu yang rendah dan posyandu aktif thitung > t tabel (0,025;49 = 2,009). Nilai R-square pemodelan MGWR sebesar 52.56% sehingga model ini cukup dalam menggambarkan variasi CIAF di Kalimantan. Kesimpulan: Variabel yang berpengaruh secara spasial di kabuaten/kota adalah variabel tingat pendidikan ibu yang rendah dan posyaandu aktif sedangkan hasil analisis di Kalimantan tidak ada variasi spasial. Faktor tingkat pendidikan ibu yang rendah dan posyandu aktif yang menjadi prediktor kejadian CIAF secara lokal. Tingkat pendidikan ibu signifikan diseluruh kabupaten/kota, sedangkan posyandu aktif signifikan di 14 kabupaten/kota. Kata kunci: CIAF, malnutrisi, MGWR, spasial Background: The Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) is a composite index of malnutrition that is divided into seven indicators. Risk factors of CIAF are exclusive breastfeeding, Universal Child Immunization (UCI) villages, avaibility of latrines, poverty, maternal education level, active integrated service post, and employment status of toddler mothers. This study was conducted to determine the variables that affect lokally and globally and to know the differences in factors that predict CIAF in each district that affect spatial malnutrition incidence in infants. Method: This study used a quantitative approach using cross sectional study design. The research analysis used spatial analysis using MGWR. Results: The result of F value < F table (0,47 <2,25), there is no spatial variability in Kalimantan but there are significant variables in lokal area (i.e., low maternal education and active integrated service post (t value> t table 0.025; 49 = 2,009). MGWR analysis for CIAF resulted in a 52.56% so this model is strong to describe the variation of CIAF in Kalimantan Conclusion: The variables that have spatial variability in lokal area are low education maternal education variable and active active integrated service post, while analysis result in Kalimantan no spatial variability. Factors of low level of maternal education and active integrated service post, become predictors of CIAF incidence. Maternal education level is significant across districts, while avtive integrated service post is significantly active in 14 district /municipalities. Keywords: CIAF, malnutrition, MGWR, spatial
Read More
T-5371
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Rahman Tanjung; Pembimbing: Tri Yunis Miko, Yovsyah; Penguji: Toha Muhaimin, Yekti Widodo, Rahmadewi
Abstrak: Kanker payudara adalah tumor ganas yang terbentuk dari sel-sel payudara yang tumbuh dan berkembang tanpa terkendali sehingga menyebar diantara organ-organ didekat payudara. Kanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia termasuk di Indonesia. Etiologi dari kanker payudara belum dapat dijelaskan akan tetapi ada beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker payudara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor apa yang berhubungan dengan kanker payudara pada wanita usia 15-70 tahun di Indonesia dengan menganalisis data IFLS-5 tahun 2014. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel penelitian sebesar 14.474 (total sampling). Hasil penelitian ini menunjukan prevalensi kanker payudara pada wanita usia 15-70 tahun di Indonesia pada tahun 2014 sebesar 0,4. Hasil model akhir analisis multivariat didapatkan pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian kanker payudara yang artinya responden yang berpendidikan rendah berpeluang 0,547 kali terjadi kanker payudara, sedangkan pada kontrasepsi hormonal tidak ada perbedaan antara yang menggunakan kontrasepsi hormonal dengan yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal
Read More
T-5735
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Lidra Maribeth; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Kemal Nazarudin Siregar, Toha Muhaimin, Yekti Widodo, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak: Indonesia menjadi salah satu negara dengan penyumbang angka stunting terbesar kelima di dunia.Kehamilan tidak diinginkan dapat menjadi salah satu faktor yang mungkin berperan besar dalam menyebabkan kejadian stunting pada anak usia 0-5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kehamilan tidak diinginkan dengan kejadian stunting pada anak usia 0-5 tahun. Terdapat konfonding dalam penelitian ini yaitu pada variabel pendidikan dan status ekonomi. Pendidikan dan status ekonomi memiliki hubungan signifikan pada analisis multivariat (nilai p<0,001) dengan kejadian stunting
Read More
T-5788
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Hajar Fauzanin; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Triyanti, Tris Eryando, Yekti Widodo, Lina Marlia
Abstrak: Anemia kehamilan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang banyak terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang. Anemia kehamilan umumnya dikaitkan dengan kondisi kehamilan yang buruk dan dapat mengakibatkan komplikasi yang mengancam kehidupan ibu dan janin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan umur dengan anemia kehamilan di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan data sekunder dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dengan metode penelitian potong lintang
Anemia in pregnancy is a public health problem that often occurs both in developed and developing countries. Anemia during pregnancy is generally associated with poor pregnancy conditions and can lead to complications that threaten the lives of the mother and fetus. This study aims to analyze the relationship between age and pregnancy anemia in Indonesia based on Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. This quantitative research is using cross sectional research method. This study covers all provinces and districts / cities in Indonesia, which were carried out starting from preparation until further analysis in 2018 and secondary data were processed in September - December 2019
Read More
T-6003
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizka Arviliana; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Milla Herdayati, Helda, Yekti Widodo, Aries Hamzah
Abstrak: Tingkat kematian yang tinggi akibat kanker serviks secara global dapat dikurangi melalui pendekatan komprehensif yang mencakup pencegahan dan skrining yang efektif. Deteksi dini dengan metode IVA merupakan salah satu metode yang aman, tidak mahal, dan mudah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA pada wanita di Indonesia. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan data sekunder dari Riset Penyakit Tidak Menular 2016 dengan metode penelitian potong lintang (cross sectional). Penelitian ini mencakup 34 provinsi kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sampel dari penelitian ini adalah wanita usia 25-64 tahun yang sudah berhubungan seksual di Indonesia dengan jumlah 4.092 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 25,6% responden yang melakukan deteksi dini kanker seviks dengan 74,4% belum pernah melakukan deteksi dini kanker seviks dengan metode IVA. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa usia, pengetahuan, jumlah anak yang dilahirkan, kepemilikan asuransi kesehatan, sumber informasi dari tenaga kesehatan, sumber informasi dari kader, sumber informasi dari keluarga/teman/tetangga dan keterpaparan media merupakan faktor dari perilaku deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA pada wanita di Indonesia. Diperlukannya peningkatan akses informasi, edukasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi merupakan salah satu langkah dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat Indonesia.
High mortality rates from cervical cancer globally can be reduced through a comprehensive approach that includes effective prevention and screening. Early detection with IVA method is one method that is safe, inexpensive, and easy to do. This study aims to determine the determinants of early cervical cancer detection behavior by VIA method in women in Indonesia. This research is quantitative using secondary data from the 2016 Non-Communicable Disease Research with cross sectional research method. This study covers 34 regency/city provinces throughout Indonesia. The sample of this study is women aged 25-64 years who have had sex in Indonesia with a total of 4.092 respondent. The results showed that only 25.6% of respondents who did early detection of cervical cancer the rest 74.4% had never done early detection of cervical cancer by VIA method. The results of statistical analysis show that age, knowledge, number of children born, health insurance ownership, information sources from health workers, information sources from cadres, sources of information from family/friends/neighbors and media exposure are factors of early cervical cancer detection behavior using the method VIA in women in Indonesia. The need for increased access to information, education by utilizing technological advancements is one step in increasing the knowledge and awareness of the Indonesian people
Read More
T-5984
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Hartati; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Fatmah, Yekti Widodo, Ismoyo Priadi Mooestopo
Abstrak:

Status gizi berperan dalam menentukan sukses tidaknya upaya peningkatan sumberdaya manusia. Prevalensi gizi kurang BB/U di Kabupaten Tangerang meningkat dari tahun 2007 sampai 2010 yaitu 7,2% menjadi 9,12%. Tujuan penelitian adalah dianalisisnya hubungan antara perilaku KADARZI, karakteristik keluarga dan balita dengan status gizi balita (12-59 bulan) di Kabupaten Tangerang tahun 2011. Penilitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekuder hasil survey PSG KADARZI Kabupaten Tangerang tahun 2011. Prevalensi balita gizi kurang (termasuk gizi buruk) 17,9%, pendek (termasuk sangat pendek) 32,9%, kurus (termasuk sangat kurus) 11,8%. Variabel yang berhubungan secara bermakna dengan status gizi balita BB/U adalah menimbang balita secara teratur, riwayat ASI Eksklusif, menggunakan garam beryodium, pendidikan ayah, pendidikan ibu, usia ibu, besar keluarga, dan umur balita. Variabel yang berhubungan bermakna dengan status gizi PB/U atau TB/U sama dengan BB/U ditambah variabel konsumsi kapsul vitamin A. Berdasarkan indeks BB/PB atau BB/TB adalah riwayat ASI Eksklusif, dan pendidikan ibu. Hasil uji multivariat menunjukkan faktor dominan BB/U adalah pendidikan ibu, PB/U atau TB/U adalah pendidikan ayah. Sedangkan BB/PB atau BB/TB adalah riwayat ASI Eksklusif. Perlu adanya pendidikan gizi bagi keluarga.


Nutritional status is one of the important indicator for human resources. From 2007 to 2010, prevalence of undernutrition increased from 7,2% to 9,12%. General objective of this study was to determine the relationship between family nutrition awareness (KADARZI), family and children under five characteristics with nutritional status of children under five (12-59 months) at Tangerang District in 2011. This quantitative study using cross sectional study design. The data were result from family nutrition awareness and nutritional status survey at Tangerang district in 2011. The analysis showed that the prevalence of underweight was found at 17,9%. stunted was found at 32,9%, wasted was found at 11,8%. Chi square test result showed that there was a significant association (p≤0.05) between growth monitoring, exclusive breastfeeding history, the use of iodized salt, father?s level of education, mother?s level of education, mother?s age, number of family members, and child?s age with nutritional status based on BB/U index. PB/U or TB/U index were the same as BB/U but added by vitamin A capsule intake. BB/PB or BB/TB Index were exclusive breastfeeding history and mother's level of education. Multivariate test results showed that mother's level of education is the most dominant factor associated with nutritional status (BB/U). PB/U or TB/U index was father?s level of education. BB/PB or BB/TB index was exclusive breastfeeding history. The following need famiy nutritional education.

Read More
T-3736
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kencana Sari; Promotor: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Endang L. Achadi, Atmarita; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Hartono Gunardi, Widjaja Lukito, Yekti Widodo
Abstrak:
Agar dapat mencegah permasalahan akibat stunted di usia selanjutnya, anak yang sudah stunted diupayakan dapat mengejar pertumbuhan pada waktu yang tepat. Tujuan penelitian menganalisis insiden, waktu, dan faktor terkait kejar tumbuh pada anak stunted dan tidak stunted. Waktu dan bagaimana kejar tumbuh terjadi pada anak stunted dan tidak stunted penting diketahui sebagai dasar pertimbangan intervensi. Metode Penelitian ini adalah penelitian longitudinal dengan menggunakan data penelitian Kohor Tumbuh Kembang Anak (KTKA) yang dilaksanakan sejak tahun 2012 di Kota Bogor. Sampel penelitian ini adalah Balita yang menjadi sampel pada Studi Kohor Tumbuh Kembang dengan pengukuran berulang. Anak balita yang dimaksud adalah anak yang lahir pada rentang tahun 2012-2014 dan diikuti setiap tahun hingga anak berusia 5 tahun (pada tahun 2017-2019). Pengukuran dilakukan di beberapa titik waktu yaitu pada usia 1 tahun (baseline), kemudian kembali diamati (follow up) pada saat usia 2, 3, 4, dan 5 tahun. Hasil: Kejar tumbuh pada level individual terjadi pada anak, apapun indikator yang digunakan (HAD,HAZ, pulih dari stunted) dengan incidence rate antara 19,7 sampai dengan 76,6 per 100 anak per tahun, Pada anak yang tidak stunted hampir 2 kali lebih cepat dibandingkan anak stunted. Median survival time kejar tumbuh pada anak stunted adalah 36 bulan, 14 bulan, dan 24 bulan berurutan menurut indikator HAD, HAZ, dan pulih dari stunted. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejar tumbuh dipengaruhi oleh konsumsi energi anak pada umur 24 bulan, tinggi ibu pada usia 24, 36, 48, 60 bulan.

In order to prevent adverse effects of stunted in later life, stunted children shall catch growth at the right time. The aims of this study are to analyze the incidence, timing, and identify the determinants of catch-up growth on stunted and non-stunted children. Knowing time and how catch-up growth can be achieved on stunted children is important as basis for interventions. Method, this research is a longitudinal study using data from the Child Growth and Development Cohort Study (KTKA) conducted since 2012 in Bogor City. The sample is children who participated the Child Growth and Development Cohort Study and were born in the 2012-2014 period and followed every year until the child is 5 years old (in 2017-2019). Measurements were made at several points time, namely at the age of 1 year (baseline) then followed up at ages 2, 3, 4, and 5 years. Results, catch up growth occurs at the individual level in children regardless of the indicators used (HAD, HAZ, recovered from stunted) with an incidence rate of between 19.7 to 76.6 per 100 children per year. Not stunted children can accelerate their growth twice faster than stunted children. The median survival time of catch up in stunted children was 36 months, 14 months, and 24 months respectively according to the indicators of HAD, HAZ, and recovered from stunted. The results of this study indicate that the pursuit of catch-up growth was influenced by energy consumption of children at the age of 24 months, the height of the mother at the aged of 24, 36, 48, 60 months.
Read More
D-470
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive