Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Firdaoessaleh, Sumiardi Karakata
MKMI Vol.XX, No.6
Jakarta : IAKMI, 1992
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Idral Darwis, H. Zafiral A. Albar
MKMI Vol.XXI, No.11
Jakarta : IAKMI, 1993
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
P.T. Simatupang
MKMI Vol.XVI, No.9
Jakarta : IAKMI, 1987
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmadi Iwan Guntoro ... [et al]
JRI Vol.25, N0.4
Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2005
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cynthia Dewi Sinardja; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Mieke Savitri, Puput Oktamianti, Indah Rosana, Made Widnyana
Abstrak: Nyeri pasca bedah merupakan salah satu penyebab nyeri akut yang paling umum.Penanganan nyeri yang efektif merupakan komponen fundamental dari pelayananpasien yang berkualitas. Di RS Prima Medika belum ada protokol standarpenanganan nyeri pasca bedah. Tujuan penelitian ini untuk mengukur intensitasnyeri pasien pasca bedah di RS Prima Medika, membuat protokol standarpenanganan nyeri pasca bedah di RS Prima Medika dalam mewujudkan pelayananyang berkualitas dan aman bagi pasien. Penelitian ini merupakan penelitiandeskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan data melalui observasi intensitasnyeri pada pasien pasca laparotomi dan wawancara mendalam dengan informanserta telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan intensitas nyeri pada periode24 jam pasca bedah adalah nyeri ringan, pada periode 48 jam pasca bedahintensitas nyeri bervariasi antara nyeri ringan sampai sedang dengan prosedurpenanganan nyeri yang tidak terarah dengan baik. Diperlukan suatu SOP untukmemberikan penanganan nyeri pasca bedah yang optimal.Kata kunci : nyeri pasca bedah, SOP
Acute pain usually caused by postoperative pain. Effective pain management is afundamental component to serve a quality service to the patient. There is noStandard operating procedure in pain management in Prima Medika Hospital. Theaim of this study is to measure the intensity of pain in postoperative patient in thishospital, to arrange a standard operating procedure for postoperative painmanagement to serve a quality and safe service to the patient. This is a qualitativedescriptive study where data were collect by observed pain intensity in postlaparotomy patient, in-depth interviews with the informans and revieweddocuments. Result show that pain intensity in 24 hours after surgery were mild,and in 48 hours the pain intensity were mild to moderate with no proper protocol.A standard operatimg procedure is needed to give the best pain management tothe patientKeyword : postoperative pain, SOP
Read More
B-1643
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Ramadantie; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Muhamad Alfa Ferry Santoso
Abstrak: Tujuan : Kegagalan dalam ekstubasi pascaoperasi pintas pembuluh darah jantung dapat mempengaruhi morbiditas dan kematian pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat faktor risiko (intraoperasi) kegagalan ekstubasi kurang dari sama dengan 24 jam pascaoperasi pintas pembuluh darah jantung. Metode : Studi kohort retrospektif pada 315 pasien yang di operasi pintas pembuluh darah koroner jantung/ coronary artery bypass graft (CABG) yang dirawat di Ruangan Intensif Jantung RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo dari Januari 2016 hingga Juni 2020. Pengamatan pasien selama 24 jam pascaoperasi (keluaran: ekstubasi) dengan titik potong variabel independen yaitu penggunaan mesin cardiopulmonary bypass (CPB) adalah 107 menit dan klem silang aorta adalah 84 menit. Hasil : Analisis multivariat dengan cox regresi menemukan gabungan pemakaian CPB > 107 menit dan klem silang aorta > 84 menit merupakan faktor kegagalan ekstubasi < 24 jam pascaoperasi CABG (HR 0,6; IK 95% 0,52-0,9; p-value 0,017;). Selain itu faktor preoperasi, yaitu gagal jantung NYHA III-IV (HR 0,44; IK 95% 0,23-0,85, p-value 0,015), fraksi ejeksi <40% (HR 0,58; IK 95% 0,4-0,82; p-value 0,002), pasien dengan riwayat merokok (HR 0,73; IK 95% 0,56-0,97; p-value 0,03), Gangguan fungsi ginjal (HR 0,73; ; IK 95% 0,5-0,9; p-value 0,03) merupakan faktor risiko kegagalan ekstubasi < 24 jam pascaoperasi CABG. Kesimpulan : Gabungan pemakaian mesin CPB dan klem aorta yang lama menyebabkan kegagalan ekstubasi kurang dari sama dengan 24 jam pascaoperasi CABG
Objective : Extubation Failure after Coronary Artery Bypass Graft (CABG) surgery can adversely affect patient morbidity and mortality. The aim this study is to see the intraoperative risk factor for extubation failure less than or equal to 24 hours postoperation CABG. Methode : A retrospective cohort of 315 patients who underwent CABG surgery treated in the Intensive Cardiac Care RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo within January 2016 until June 2020. Patient observation for 24 hours after CABG surgery (outcome: ekstubation), the cut of point for cardiopulmonary bypass machine (CPB) use is 107 minutes and the aortic cross clamp is 84 minutes. Results : Multivariat analysis with cox regresion found that the use of CPB > 107 minutes and aortic cross clamp > 84 minutes is the risk factor for extubation failure less than or equal to 24 hours after CABG surgery (HR 0,6; 95% CI 0,52-0,9; p-value 0,017). In addition, preoperation risk factor, congestive heart failure NYHA III-IV (HR 0,44; 95% CI 0,23-0,85; p-value 0,015), ejection fraction < 40% (HR 0,58; 95% CI 0,40,82; p-value 0,002), patient with smoking history (HR 0,73; 95% CI 0,56-0,97; p-value 0,03), impaired kidney function (HR 0,73; 95% CI 0,5-0,9; p-value 0,03) is a risk factor for extubation failure less than or equal to 24 hours after CABG surgery. Conclusion : Combination using CPB machine and aortic cross clamp for long duration causes extubation failure less than or equal to 24 hours after CABG surgery
Read More
T-6122
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septiana Lazasniti; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Muhamad Yusuf
Abstrak: Persentase persalinan bedah sesar di Indonesia mengalami peningkatan pada tahun 2012-2017 dari 12% menjadi 17%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren jumlah fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, dan persalinan bedah sesar di Indonesia tahun 2007-2017 serta faktor yang memengaruhi persalinan bedah sesar di Indonesia tahun 2017. Penelitian dilakukan dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2007, 2012, dan 2017. Analisis data yang digunakan adalah univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik Sederhana. Hasil penelitian menunjukkan tren jumlah fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, dan persalinan bedah sesar di Indonesia pada tahun 2007-2017 mengalami peningkatan. Hasil analisis didapatkan faktor confounding yaitu paritas dan jarak kelahiran. Kekuatan hubungan faktor yang memengaruhi persalinan bedah sesar di Indonesia pada tahun 2017 yaitu penolong persalinan adalah tenaga kesehatan spesialis (OR= 8,54), kehamilan kembar (OR= 2,48), kunjungan ANC ≥4 kali (OR= 1,51), indeks kepemilikan tinggi atau kuintil 4 dan 5 (OR= 1,20), tempat tinggal di perkotaan (OR= 1,13), indeks kepemilikan rendah atau kuintil 1 dan 2 (OR= 0,80), tempat persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan swasta (OR= 0,79), dan pemeriksa ANC oleh bukan tenaga kesehatan (OR= 0,37). Pilihan persalinan melalui bedah sesar perlu dipertimbangkan lagi berdasarkan faktor risikonya.
Read More
S-9950
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ponisih; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Aldy Heriwardito, Ismail Dilawar
Abstrak: Tujuan: Mediastinitis pascabedah BPAK adalah komplikasi yang jarang namunmematikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui determinan dan sistem skoringmediastinitis pascabedah BPAK.Metode: Studi kohort retrospektif yang melibatkan 706 pasien operasi BPAK di RSUPNDr. Cipto Mangunkusumo dari Januari 2011 hingga Desember 2017. Definisimediastinitis disesuaikan dengan definisi CDC infeksi kasus spesifik, yangmelatarbelakangi resternotomi debridement. Terdapat delapan faktor risiko yangberpotensi mediastinitis dalam analisa univariate.Hasil: Dari 706 pasien BPAK, terjadi insiden mediastinitis sebanyak 35 pasien. Lima daridelapan variable tersebut bertahan dalam analisa multivariate yaitu diabetes mellitusdengan OR sebesar 4.46 (IK95% = 2,01-9,89), IMT ≥ 26,5 kg/m2 dengan OR 3,34(IK95% =1,61-6,97) dan lama operasi ≥ 300 menit dengan OR 3,43 (IK95=1,67-7,04), usia≥60 tahun dengan OR 2,01 (IK 95%=0,97-4,19), dan pemedahan ulang karena perdarahandengan OR sebesar 3,10 (IK 95%= 0,94-10,27).Kesimpulan: Determinan utama yaitu diabetes mellitus, obesitas, usia, lama operasi danpembedahan ulang karena perdarahan.Kata kunci: bedah pintas arteri koroner; determinan mediastinitis.
Read More
T-5139
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lily Damayanti; Pembimbing: Surya Ede Darmawan; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Adik Wibowo, Chairulsjah Sjahrudin, Dwiyani
Abstrak:
Lembar persetujuan tindakan medis (informed consent) adalah lembar tertulis yang menjelaskan tindakan medis yang akan dilakukan kepada pasien. Terdapat kolom dari informed consent yang ditulis oleh dokter sebelum melakukan tindakan bedah setelah didapatkan persetujuan dari pasien. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit TNI AK MArinir Cilandak yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan TNI AL dibawah komando Korps Marinir yang siap memberikan pelayanan kesehatan terutama bagi anggota Marinir yang memiliki kerentanan mengalami resiko dalam berlatih dan bertugas. Kelengkapan informed consent merupakan adalah bukti tersampaikannya informasi oleh dokter kepada pasien mengenai kondisi penyakit dan tindakan yang akan dilakukan untuk menghindari adanya kesalah pahaman antara pasien dan dokter. Kesinambungan untuk mendapatkan kepercayaan dari pasien yang didapat dari interaksi yaitu dalam bentuk perilaku profesional. Perilaku profesional ditinjau dari empat aspek yaitu komunikasi, humanism, hukum etik, dan pengetahuan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aspek perilaku profesional dalam kelengkapan informed consent pada tindakan bedah di Rumah Sakit TNI AL Marinir Cilandak (informed consent). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian ini dilakukan melalui telaah dokumen dan wawancara mendalam Informan berjumlah 4 orang dokter spesialis bedah di Rumah Sakit TNI AL Marinir Cilandak. Hasil dari telaah dokumen informed consent sebanyak 89 ditemukan bahwa kelengkapan berjumlah 40%. Rumah Sakit TNI AL Marinir Cilandak telah memiliki aturan mengenai pengisian informed consent. Masih diperlukan tindak lanjut untuk dapat meningkatkan kelengkapan kolom informed consent yaitu monitoring dan evaluasi mengenai kelengkapan informed consent. Kata kunci : Informed consent, Perilaku profesional, tindakan bedah

An informed consent form is a written sheet that describes the medical action to be taken to the patient. There is a column of informed consent written by the doctor before performing the surgery after obtaining consent from the patient. This research was conducted at the TNI AK Marine Hospital Cilandak, which is one of the Navy referral hospitals under the command of the Marine Corps which is ready to provide health services, especially for Marines who are vulnerable to risk in training and duty. Completeness of informed consent is evidence that the doctor conveys information to the patient regarding the condition of the disease and the actions to be taken to avoid misunderstandings between the patient and the doctor. Continuity to gain the trust of patients obtained from the interaction is in the form of professional behavior. Professional behavior is viewed from four aspects, namely communication, humanism, ethical law, and knowledge. The purpose of this study was to determine aspects of professional behavior in the completeness of informed consent for surgery at the TNI AL Marine Hospital Cilandak (informed consent). The research uses a qualitative approach with a case study method. This research was conducted through document review and in-depth interviews. Informants totaled 4 surgeons at the TNI AL Marine Hospital in Cilandak. The results of a review of 89 informed consent documents found that the completeness was 40%. The TNI AL Marine Hospital Cilandak already has rules regarding filling out informed consent. Follow-up is still needed to improve the completeness of the informed consent column, namely monitoring and evaluation of the completeness of informed consent .  Keywords : Informed consent, Professional behavior, surgical procedure
Read More
B-2257
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhiah Ayu Purwandani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Ridwan Zahdi Sjaaf, Budhi Mulyadi
Abstrak: Health and Safety Executive menemukan bahwa pada tahun 2013/2014 sebanyak526.000 kasus dari 1.241.000 kasus penyakit akibat kerja adalah Musculoskeletaldisorders. Menurut WHO fact sheet pada tahun 2014 terdapat sebanyak 37%penyakit akibat kerja adalah nyeri punggung. BLS Amerika Serikat menyatakanbahwa perawat merupakan kelompok pekerja dengan insiden rate yang tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk melihat keluhan muskuloskeletal pada perawat dikamar operasi dengan pendekatan ergonomi. Penilaian tingkat risiko ergonomimenggunakan metode REBA (Rapid Entire Body Assessment). Penelitian inimenggunakan desain observasional dengan pendekatan cross sectional.Responden pada penelitian ini adalah sebanyak 8 perawat di kamar operasi. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa 100% perawat mengalami keluhanmuskuloskeletal setelah shift, dimana keluhan terbesar adalah pada betis kiri danbetis kanan (87,5%). Kegiatan memindahkan pasien dari meja operasi ke keretadorong merupakan kegiatan dengan risiko tinggi yang dapat memicu timbulnyakeluhan muskuloskeletal. Salah satu faktor yang berperan penting terhadapkeluhan muskuloskeletal pada perawat di kamar operasi adalah faktor lingkunganyang aman dan nyaman bagi pekerja, peralatan, dan pekerjaan yang dilakukan.
Health and Safety Executive found that in 2013/2014, about 526.000 from1.241.000 of work related disesease cases is musculoskeletal disorders. In 2014WHO fact sheet stated that 37% of work relaed disesase is back pain. US BLSstated that nurse is the worker who is with high prevelence. This research aims toobserve musculoskeletal symptoms of nurses who is in operating room byergonomic approaching. Ergonomic risk level was assessed by REBA (RapidEntire Body Assesment) method. This research design is observational with crosssectional. Respondent in this research is 8 nurses in operating room. The resultshowed that 100% of nurses got musculoskeletal symptoms after shift work,where the highest symptoms is in left and right calf (87.5%). Patient transferringactivity from operating table to bed is activity with high risk which potentiallycaused musculoskeletal symptoms. One of the important factor in musculoskeletalsymptoms of nurse in operating room is environment factor which is secure andcomfort for worker, tools, and its job.
Read More
T-4572
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive