Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Arabia Tamrin; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Syahrizal, Romauli
Abstrak:
Read More
HIV merupakan masalah kesehatan masyarakat utama secara global. HIV memerlukan pengobatan seumur hidup sehingga kepatuhan terhadap pengobatan antiretroviral sangat diperlukan oleh ODHIV agar mencapai keberhasilan pengobatan. Tesis ini mengkaji seberapa besar pengaruh tingkat kepatuhan terapi antiretroviral terhadap resiko kegagalan virologis yang dikur dari capaian supresi virus pada orang dengan HIV di Kota Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik dan desain kasus kontrol melalui pemanfaatan data SIHA versi 1.7 di 11 fasilitas kesehatan. Hasil penelitian didapatkan orang dengan HIV di Kota Bogor dengan kepatuhan terapi rendah memiliki resiko 13,21 kali (95% CI: 6,00-29,06; p: 0,000) menyebabkan virus tidak supresi. Disarankan untuk optimalisasi konseling kepatuhan melalui peran konselor dalam menggali hambatan kepatuhan pada orang dengan HIV di layanan
HIV is a major public health problem globally. requires lifelong treatment so that adherence to antiretroviral treatment is needed by PLHIV to achieve treatment success. This thesis examines how much influence the level of adherence to antiretroviral therapy has on the risk of virological failure as measured by the achievement of virus suppression in people living with HIV in Bogor City. This research is a quantitative study using analytic observational methods and a case-control design using SIHA version 1.7 data in 11 health facilities. The results of the study found that people with HIV in Bogor City with low adherence to therapy had a 13.21 times (95% CI: 6.00-29.06; p: 0.000) risk of causing the virus to not be suppressed. It is suggested to optimize adherence counseling through the counselor's role in exploring adherence barriers in people with HIV in services.
T-6758
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arini Mestika Budiani; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji; Yovsyah, Siti Nur Faizah
S-7809
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siska Prameswari; Pembimbing: Septiara Putri; Penguji: Anhari Achadi, Nurhaedah
Abstrak:
Read More
Kasus COVID-19 di Indonesia menyebar dengan cepat dan memberikan dampak pada berbagai sektor. Untuk mencegah semakin banyaknya kasus maka dibutuhkan pencegahan untuk memutus rantai penularan COVID-19 agar pandemi COVID-19 dapat berakhir, salah satunya dengan cara melaksanakan program vaksinasi COVID-19. Agar program vaksinasi berjalan dengan baik, maka dibutuhkan vaksin COVID-19 yang terjamin kualitasnya. Untuk menjaga kualitas vaksin, diperlukan adanya pengelolaan vaksin COVID-19 yang tepat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengelolaan vaksin COVID-19 di Dinas Kesehatan Kota Bogor Tahun 2023. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif dengan metode wawancara mendalam dengan jumlah informan sebanyak lima orang. Validasi data yang digunakan yaitu triangulasi sumber dengan cara wawancara bersama berbagai macam informan dan triangulasi metode dengan telaah dokumen serta observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan vaksin COVID-19 di Dinas Kesehatan Kota Bogor sudah cukup baik karena hampir seluruh komponen input, proses, dan output pengelolaan vaksin COVID-19 sudah sesuai dengan Pedoman Pengelolaan Vaksin dan Petunjuk Teknis Vaksinasi COVID-19 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI.
COVID-19 cases in Indonesia spread quickly and impacted various sectors. Due to the increasing number of cases, prevention action is required to break the chain of transmission of COVID-19 so that the COVID-19 pandemic can end, one of the public health efforts is by implementing a COVID-19 vaccination program. The program itself should be well managed with focusing on quality assurance of covid 19 vaccine. For the vaccination program to run well, a quality-assured COVID-19 vaccine is needed. To maintain vaccine quality, proper management of the COVID-19 vaccine is required. This study aims to describe the management of the COVID-19 vaccine at the Bogor City Health Office in 2023. The study used a qualitative approach incorporating five informants which explores the COVID-19 vaccine management from local health office perspectives. The data validation used was source triangulation by interviewing various informants and method triangulation by document review and observation. The results showed that the management of the COVID-19 vaccine at the Bogor City Health Office was quite good because almost all components of the input, process, and output of the management of the COVID-19 vaccine were following the Guidelines for Vaccine Management and Technical Instructions for Vaccination for COVID-19 issued by the Ministry of Health RI.
S-11283
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yanti Herawati; Pembimbing: Suyud; Penguji: Budi Hartono, Didik Supriyono
Abstrak:
Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak pernah menurun di beberapa daerah tropik dan subtropik bahkan cenderung terus meningkat dan banyak menimbulkan kematian pada anak. Di Indonesia, DBD telah menjadi masalah kesehatan masyarakat selama 45 tahun terakhir. Beberapa faktor yang berisiko terhadap terjadinya penularan dan semakin berkembangnya penyakit DBD antaralain kepadatan penduduk dan variabilitas iklim. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara kepadatan penduduk dan faktor iklim dengan kejadian DBD di Kota Bogor tahun 2010-2013. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain ekologi. Pengukuran faktor iklim meliputi suhu,kelembaban dan curah hujan. Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder kepadatan penduduk, faktor iklim dan jumlah kasus DBD. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kelembaban (p=0,001)dengan kejadian DBD di Kota Bogor tahun 2010-2013. Sedangkan untuk kepadatan penduduk (p= 0,143), suhu (p= 0,236) dan curah hujan (p= 0,314) tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan kejadian DBD.
Kata kunci : Demam Berdarah Dengue, faktor iklim, kepadatan penduduk, KotaBogor
The number of cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) have never decreasedin some tropical and subtropical regions and even tends to increase and causemany death in children. In Indonesia, DHF has become a public health problemduring the last 45 years. Some of the risk factors to the occurrence of infectionand the development of DHF include population density and climatic factors. Thisstudy aim to determine correlation between population density and climaticfactors in the incidence of DHF in Bogor City in 2010-2013. This study is aquantitative study with ecology design.Measurement of climatic factors includes temperature, humidity and rainfall. Thedata collected included secondary data population density, climatic factors and thenumber of DHF cases. The results of this study indicate that there is a significantcorrelation between humidity and DHF incidence in Bogor City in 2010-2013.Meanwhile, for population density, temperature and rainfall there is no significantcorrelation with the incidence of DHF.
Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever climatic factors, population density,Bogor City
Read More
Kata kunci : Demam Berdarah Dengue, faktor iklim, kepadatan penduduk, KotaBogor
The number of cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) have never decreasedin some tropical and subtropical regions and even tends to increase and causemany death in children. In Indonesia, DHF has become a public health problemduring the last 45 years. Some of the risk factors to the occurrence of infectionand the development of DHF include population density and climatic factors. Thisstudy aim to determine correlation between population density and climaticfactors in the incidence of DHF in Bogor City in 2010-2013. This study is aquantitative study with ecology design.Measurement of climatic factors includes temperature, humidity and rainfall. Thedata collected included secondary data population density, climatic factors and thenumber of DHF cases. The results of this study indicate that there is a significantcorrelation between humidity and DHF incidence in Bogor City in 2010-2013.Meanwhile, for population density, temperature and rainfall there is no significantcorrelation with the incidence of DHF.
Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever climatic factors, population density,Bogor City
S-8171
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Iska Beritania Sinulingga; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Bai Kusnadi
Abstrak:
Read More
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus RNA yang menyerang sel limfosit manusia sehingga pada saat virus ini menyerang tubuh manusia, maka manusia tersebut akan kehilangan sistem kekebalan tubuhnya dan mudah terserang penyakit. Di Indonesia, proprorsi HIV Positif pada komunitas lelaki seks lelaki sebesar 27,5%. Di Kota Bogor komunitas Lelaki Seks Lelaki (LSL), mengalami peningkatan kasus terjadinya HIV. Pada Tahun 2022 tercatat 130 orang LSL yang dinyatakan positif HIV, dari 408 orang yang ter diagnose HIV. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui determinan yang berhubungan dengan kejadian HIV pada komunitas LSL di Kota Bogor. Pada penelitian ini menggunakan studi Cross Sectional dan melakukan analisis dengan metode Cox Regression. Memanfaatkan data primer di Kota Bogor, yaitu dengan cara melakukan wawancara pada komunitas LSL. Hasil Penelitian didapatkan proporsi HIV positif pada komunitas ini 46,62%, hasil analisis multivariat didapatkan ada 4 variabel yang berhubungan dengan terjadinya HIV pada komunitas LSL di Kota Bogor yaitu Umur (β 0,370; P-Value 0,017; PR 1,448 (95% CI 1,066-1,961)); Pengetahuan ( β -0,868; P-Value 0,005; PR 0,420 (95% CI 0,229-0,771)); Kekerasan seksual yang datangnya dari anggota keluarga (β - 0,443 ; P-Value 0,041; PR 1,558 (95% CI 1,018-2,385)); Role saat berhubungan seksual (β – 0,314 ; P-Value 0,007; PR 0,730 (95% CI 0,580-0,919). Dan determinan dominan terjadinya HIV pada komunitas lelaki seks lelaki di Kota Bogor adalah kekerasan seksual yang datangnya dari anggota keluarga. Kata kunci : HIV, Lelaki Seks Lelaki, Kota Bogor, Jawa Barat
HIV or Human Immunodeficiency Virus is an RNA virus that attacks human lymphocyte cells so that when this virus attacks the human body, the human will lose their immune system and be susceptible to disease. In Indonesia, the proportion of HIV positive in the male sex community is 27.5%. In Bogor City, the Men's Sex Society (MSM) has experienced an increase in cases of HIV. In 2022, 130 MSM were recorded as HIV positive, out of 408 people diagnosed with HIV. The purpose of this study was to determine the determinants associated with the incidence of HIV in the MSM community in Bogor City. In this study using a cross sectional study and analyzing the Cox Regression method. Utilizing primary data in the city of Bogor, namely by conducting interviews with the MSM community. The results showed that the proportion of HIV positive in this community was 46.62%, the results of the multivariate analysis found that there were 4 variables related to the occurrence of HIV in the MSM community in Bogor City, namely Age (β 0.370; P-Value 0.017; PR 1.448 (95% CI 1.066) -1.961)); Knowledge (β -0.868; P-Value 0.005; PR 0.420 (95% CI 0.229-0.771)); Sexual violence that comes from family members (β - 0.443 ; P-Value 0.041; PR 1.558 (95% CI 1.018-2.385)); Role during intercourse (β – 0.314 ; P-Value 0.007; PR 0.730 (95% CI 0.580-0.919)) And the dominant determinant of HIV occurrence in the male sex community in Bogor City is sexual violence originating from family members. Keywords: HIV, Male Who Have Sex With Male, Bogor City, West java Province
T-6773
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurul Eka Saputri; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Bambang Wispriyono, Didik Supriyono
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis paru merupakan sebuah penyakit yang menular sehingga mengakibatkan kesehatan buruk dan juga salah satu dari sepuluh penyebab kematian paling atas di dunia. Penyebab penyakit tuberkulosis paru yakni Mycobacterium tuberculosis. Penyakit tuberkulosis paru masih menjadi salah satu masalah Kesehatan di kota bogor dari tahun 2020-2022. Tujuan: Menganalisis hubungan cakupan rumah sehat, cakupan rumah tangga ber PHBS, fasilitas kesehatan dan kepadatan penduduk terhadap kasus tuberkulosis paru di Kota Bogor pada tahun 2020-2022. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi ekologi berbasis waktu. Hasil: Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa Rumah sehat (p=0,256), Rumah ber-phbs (p=-0,257), Fasilitas Kesehatan (p=0,338), Kepadatan penduduk (p=-0,943) terhadap kejadian tuberkulosis paru. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara fasilitas Kesehatan dan kepadatan penduduk terhadap kejadian tuberkulosis. Dan terdapat hubungan yang tidak signifikan antara rumah sehat dan rumah tangga ber-phbs terhadap kejadian tuberkulosis paru.
Tuberculosis is an infectious disease that causes poor health and is also one of the top ten causes of death in the world. The cause of tuberculosis (TB) is Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis is still a health problem in the city of Bogor from 2020-2021. Objective: To analyze the relationship between healthy home coverage, PHBS household coverage, health facilities and population density on pulmonary tuberculosis (TB) cases in Bogor City in 2020-2022. Method: This research is a quantitative research with a time-based ecological study design. Results: The results of the correlation analysis show that healthy houses (p=0.256), houses with PHBS (p=-0.257), health facilities (p=0.338), population density (p=-0.943) affect the incidence of tuberculosis. Conclusion: There is a significant relationship between health facilities and population density on the incidence of tuberculosis. And there is an insignificant relationship between healthy homes and households with PHBS on the incidence of tuberculosis
S-11793
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mutmainnah; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ema Hermawati, Bai Kusnadi
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.
Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.
S-12268
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Farah Fauziah Rahmasari; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Ema Hermawati, Ririn Arminsih Wulandari, Bai Kusnadi, Dicky Budiman
Abstrak:
Read More
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Bogor dengan jumlah kasus yang berfluktuasi setiap tahun. Faktor iklim seperti suhu, kelembapan, curah hujan, serta Angka Bebas Jentik (ABJ) diduga berperan dalam memengaruhi kejadian DBD. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor iklim dan ABJ dengan kejadian DBD serta memproyeksikan jumlah kasus DBD di Kota Bogor. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis bulanan menggunakan data Januari 2022–Desember 2025. Data sekunder agregat jumlah kasus DBD dan ABJ Kota Bogor didapatkan dari Dinas Kesehatan Kota Bogor, sementara data faktor iklim (suhu, kelembapan, curah hujan) didapatkan dari Stasiun Klimatologi Jawa Barat BMKG. Analisis bivariat dilakukan menggunakan korelasi Rank Spearman dengan lag 0–3 bulan sementara analisis multivariat menggunakan metode Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) dan regresi linear ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ABJ memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan kejadian DBD (p=0,001; r=-0,532), sedangkan suhu, kelembapan, dan curah hujan menunjukkan hubungan signifikan pada periode dan lag tertentu. Hasil regresi linear ganda menunjukkan bahwa ABJ, suhu lag 3 bulan, dan curah hujan lag 3 bulan merupakan prediktor kejadian DBD dengan nilai R² sebesar 43,3%. Model yang diperoleh adalah Y = 3173,588 − 49,582 (ABJ) + 60,887 (Suhu lag 3) + 0,156 (Curah Hujan lag 3) + e. Hasil proyeksi ARIMA menunjukkan bahwa kejadian DBD tahun 2026–2029 diperkirakan tetap mengalami fluktuasi dengan pola musiman yang berulang dan nilai MAPE sebesar 29%, yang menunjukkan kemampuan prediksi model cukup baik. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan sistem kewaspadaan dini dan perencanaan program pengendalian DBD berbasis faktor iklim dan pengendalian vektor.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a significant public health problem in Bogor City, with the number of cases fluctuating annually. Climate factors including temperature, humidity, and rainfall, as well as the Larvae-Free Index (LFI) are suspected to influence the occurrence of DHF. This study aimed to analyze the relationship between climate factors and the LFI with DHF incidence and to project the number of DHF cases in Bogor City. An ecological study design was employed using monthly data from January 2022 to December 2025. Secondary aggregated data on DHF cases and the LFI were obtained from the Bogor City Health Office, while climate data (temperature, humidity, and rainfall) were obtained from the West Java Climatology Station of the Indonesian Meteorological, Climatological, and Geophysical Agency (BMKG). Bivariate analysis was conducted using Spearman’s rank correlation with lags of 0–3 months, while multivariate analysis was performed using the Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) method and multiple linear regression. The results showed that the LFI was significantly and negatively associated with DHF incidence (p=0.001; r=-0.532), whereas temperature, humidity, and rainfall demonstrated significant associations at specific periods and lag times. Multiple linear regression analysis identified the LFI, temperature at a 3-month lag, and rainfall at a 3-month lag as predictors of DHF incidence, with an R² value of 43.3%. The resulting model was: Y = 3173.588 − 49.582(LFI) + 60.887(Temperature lag 3) + 0.156(Rainfall lag 3) + e. ARIMA projections indicated that DHF incidence during 2026–2029 is expected to continue fluctuating with a recurring seasonal pattern. The model yielded a Mean Absolute Percentage Error (MAPE) of 29%, indicating an acceptable forecasting performance. These findings may serve as a basis for developing climate-based early warning systems and supporting the planning of DHF prevention and vector control programs.
T-7565
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sonia Annisa Br Ketaren; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Nurhalina Afriana, Bai Kusnadi
Abstrak:
Read More
Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, termasuk pada ibu hamil yang berisiko mengalami transmisi vertikal kepada bayinya. Di Kota Bogor, ditemukan 155 ibu hamil dengan HBsAg reaktif dari 18.713 ibu hamil yang diperiksa pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang memengaruhi kejadian hepatitis B pada ibu hamil di Puskesmas Kota Bogor tahun 2026. Desain penelitian adalah studi kasus-kontrol tidak berpasangan yang dilaksanakan di 25 Puskesmas Kota Bogor pada periode Januari–Mei 2026. Sampel terdiri dari 112 kasus (ibu hamil HBsAg reaktif) dan 112 kontrol (ibu hamil HBsAg nonreaktif) yang dipilih menggunakan total sampling dengan rasio 1:1. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda dengan metode forward selection, disertai koreksi bias menggunakan Firth's penalized likelihood logistic regression untuk mengatasi complete separation. Hasil analisis bivariat menunjukkan empat variabel yang berhubungan bermakna: usia ≥30 tahun (COR=2,48; 95%CI: 1,45–4,25), riwayat paparan darah (COR=5,34; 95%CI: 2,10–13,56), riwayat tinggal bersama penderita hepatitis B (COR=17,47; 95%CI: 4,04–75,52), dan paritas lebih dari satu kali (COR=1,92; 95%CI: 1,12–3,28). Hasil analisis multivariat dengan metode Firth mengidentifikasi tiga faktor risiko dominan, yaitu riwayat tinggal bersama penderita hepatitis B (AOR=20,98; 95%CI: 4,97–88,48; p<0,001), riwayat paparan darah (AOR=3,90; 95%CI: 1,43–10,61; p=0,008), dan usia ≥30 tahun (AOR=2,50; 95%CI: 1,36–4,59; p=0,003), serta status bekerja sebagai faktor protektif (AOR=0,25; 95%CI: 0,09–0,67; p=0,006). Penelitian ini merekomendasikan penguatan skrining berbasis keluarga, edukasi pencegahan penularan dalam rumah tangga, dan perluasan vaksinasi bagi anggota keluarga serumah ibu hamil HBsAg reaktif.
Hepatitis B remains a significant public health problem, particularly among pregnant women at risk of vertical transmission to their infants. In Bogor City, 155 pregnant women tested HBsAg-reactive out of 18,713 screened in 2025. This study aimed to analyze risk factors associated with hepatitis B among pregnant women at community health centers in Bogor City in 2026. An unmatched case-control design was applied across 25 community health centers from January to May 2026. The sample consisted of 112 cases (HBsAg-reactive pregnant women) and 112 controls (HBsAg-non-reactive pregnant women), selected by total sampling at a 1:1 ratio. Data were collected through structured questionnaire interviews. Analysis included univariate, bivariate using chi-square test, and multivariate using multiple logistic regression with forward selection, with bias correction applied using Firth's penalized likelihood logistic regression to address complete separation. Bivariate analysis identified four significantly associated variables: age ≥30 years (COR=2.48; 95%CI: 1.45–4.25), history of blood exposure (COR=5.34; 95%CI: 2.10–13.56), history of living with a hepatitis B patient (COR=17.47; 95%CI: 4.04–75.52), and parity greater than once (COR=1.92; 95%CI: 1.12–3.28). Multivariate analysis using the Firth method identified three dominant risk factors: history of living with a hepatitis B patient (AOR=20.98; 95%CI: 4.97–88.48; p<0.001), history of blood exposure (AOR=3.90; 95%CI: 1.43–10.61; p=0.008), and age ≥30 years (AOR=2.50; 95%CI: 1.36–4.59; p=0.003), with employment status as a protective factor (AOR=0.25; 95%CI: 0.09–0.67; p=0.006). This study recommends strengthening family-based screening, household transmission prevention education, and expanding vaccination for household members of HBsAg-reactive pregnant women.
T-7600
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tuti Alawiyah; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Tengku Yenni Febrina, Sulistyo
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Tuberkulosis Sensitif Obat (TBC SO) masih menjadi tantangan program kesehatan di Kota Bogor, di mana angka putus berobat melebihi rata-rata nasional dan treatment success rate baru mencapai 79,2%, jauh di bawah target nasional 90%. Setiap pasien yang putus berobat berisiko berkembang menjadi TBC resistan obat sekaligus menjadi sumber penularan aktif di komunitas. Hingga saat ini, upaya pencegahan putus berobat masih bersifat reaktif karena belum tersedianya bukti ilmiah yang spesifik tentang prediktor kejadian putus berobat pada konteks Kota Bogor sebagai wilayah urban dengan distribusi fasilitas pelayanan kesehatan yang beragam. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan kejadian putus berobat pada pasien TBC SO di Kota Bogor tahun 2024 sebagai landasan intervensi program yang berbasis bukti. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif menggunakan total populasi pasien TBC SO yang memulai pengobatan di Kota Bogor tahun 2024 (n=3.562) dari data SITB dan SiGeulis. Analisis multivariat menggunakan Cox Extended regression dengan Heaviside split pada bulan ke-2 untuk mengakomodasi variabel yang melanggar asumsi proportional hazard. Data tidak lengkap pada variabel HIV, DM, riwayat pengobatan, dan pekerjaan dianalisis menggunakan pendekatan informative missingness dengan menjadikan kategori "tidak diketahui" sebagai kategori analitik tersendiri yang bermakna secara programatik. Hasil: Proporsi putus berobat sebesar 8,37% (n=298) dengan median waktu kejadian bulan ke-3. Hampir separuh kejadian (49,0%) terkonsentrasi pada fase intensif dua bulan pertama pengobatan. Terdapat lima prediktor independen: jenis fasyankes rumah sakit (aHR fase awal=6,95; 95% CI: 4,05–11,94), jenis kelamin laki-laki (aHR=1,90; 95% CI: 1,49–2,41), status HIV tidak diketahui (aHR fase awal=2,01; fase lanjutan=2,73), riwayat pengobatan tidak diketahui (aHR fase awal=1,82; 95% CI: 1,21–2,75), serta komorbid DM yang signifikan hanya pada fase lanjutan (ada DM: aHR=2,05; tidak diketahui: aHR=2,17). Kesimpulan: Risiko putus berobat bersifat dinamis dan berbeda antar fase pengobatan. Jenis fasyankes dan riwayat pengobatan tidak diketahui dominan pada fase awal, sementara DM dan status HIV tidak diketahui menguat di fase lanjutan. Pola konsisten pada tiga kategori "tidak diketahui" mencerminkan fenomena informative missingness (ketidaklengkapan) data klinis sebagai sinyal lemahnya keterlibatan pasien dengan sistem kesehatan. Intervensi perlu bersifat diferensial berdasarkan fase pengobatan seperti pemantauan intensif di rumah sakit pada dua bulan pertama, dan penguatan skrining serta tindak lanjut HIV dan DM sepanjang fase lanjutan pengobatan.
Background: Drug-susceptible tuberculosis (DS-TB) remains a persistent challenge for health programs in Bogor City, where the loss to follow-up (LTFU) rate exceeds the national average and the treatment success rate stands at only 79.2%, well below the national target of 90%. Each patient who discontinues treatment risks developing drug-resistant TB while simultaneously becoming an active source of transmission in the community. To date, prevention efforts remain reactive due to the absence of context-specific evidence on predictors of LTFU in Bogor City as an urban area with a heterogeneous distribution of health facilities. This study aims to identify the determinants of LTFU among DS-TB patients in Bogor City in 2024 as an evidence-based foundation for program intervention. Methods: A quantitative study with a retrospective cohort design was conducted using the total population of DS-TB patients who initiated treatment in Bogor City in 2024 (n=3,562), sourced from SITB and SiGeulis. Multivariate analysis used Cox Extended regression with a Heaviside split at month 2 to accommodate variables violating the proportional hazard assumption. Incomplete data on HIV status, diabetes mellitus (DM), treatment history, and occupation were analyzed using an informative missingness approach, treating the "unknown" category as a distinct analytical category with programmatic significance. Results: The proportion of LTFU was 8.37% (n=298), with a median time to event of month 3. Nearly half of all events (49.0%) were concentrated in the intensive phase of the first two months of treatment. Five independent predictors were identified: hospital-based care (aHR early phase=6.95; 95% CI: 4.05–11.94), male sex (aHR=1.90; 95% CI: 1.49–2.41), unknown HIV status (aHR early phase=2.01; late phase=2.73), unknown treatment history (aHR early phase=1.82; 95% CI: 1.21–2.75), and comorbid DM which was significant only in the late phase (known DM: aHR=2.05; unknown DM: aHR=2.17). Conclusion: The risk of LTFU is dynamic and differs across treatment phases. Health facility type and unknown treatment history were dominant predictors in the early phase, while DM and unknown HIV status emerged as stronger predictors in the late phase. The consistent pattern across three "unknown" categories reflects the phenomenon of informative missingness incomplete clinical data as a signal of weak patient engagement with the health system. Interventions should be phase-specific: intensive monitoring at hospitals during the first two months, and strengthened HIV and DM screening and follow-up throughout the late treatment phase.
T-7619
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
