Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rifqatul Muthiah Amran; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Mardiati Nadjib, Amal Chalik Sjaaf, Helsy Pahlemy, Ihsanil Husna
Abstrak: ABSTRAK Prevalensi hipertensi di Indonesia terus meningkat dari 21,2% pada tahun 2010 menjadi 23,3% pada tahun 2014. Hipertensi dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, stroke, dan kematian jika tidak terdeteksi dini dan diobati secara tepat. Antihipertensi yang efektif dalam menurunan tekanan darah dan mengurangi resiko kejadian penyakit jantung koroner adalah Valsartan dan Amlodipine. Biaya pengobatan selalu menjadi penghalang untuk pengobatan yang efektif. Oleh karena itu, perlu dilakukan kendali mutu dan kendali biaya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis evaluasi ekonomi dengan mengetahui gambaran biaya dan outcome dari penggunaan Valsartan dan Amlodipine selama tiga bulan pengobatan pada pasien hipertensi primer dengan tekanan darah stage I. Penelitian ini bersifat observasional dengan teknik pengambilan data secara retrospektif pada tahun 2016. Outcome berupa rata-rata penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik, proporsi tekanan darah terkontrol, dan proporsi tekanan darah tidak terkontrol. Biaya yang diambil dari perspektif pasien yang berupa biaya langsung medis. Hasil penelitian diperoleh bahwa biaya penggunaan Amlodipine lebih rendah (Rp 872.666,02) dibandingkan Valsartan (Rp 1.064.621,00). Rata-rata penurunan tekanan darah pada penggunaan Amlodipine sebesar 16,33 / 7,88 mmHg, sedangkan pada Valsartan sebesar 14,05 / 5,00 mmHg. Proporsi tekanan drah terkontrol pada Amlodipine sebesar 80%, dengan proporsi kejadian penyakit jantung coroner sebesar 27,5%. Sedangkan proporsi tekanan darah terkontrol pada Valsartan 60%, dengan proporsi kejadian penyakit jantung koroner sebesar 72,5%. Pada diagram efektivitas biaya, Amlodipine terletak pada kuadran II dan Valsartan pada kuadran IV. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, Amlodipine dominan terhadap Valsartan karena membutuhkan biaya yang lebih rendah dan menghasilkan outcome yang lebih baik. Kata Kunci: Hipertensi Primer, Amlodipine, Valsartan, Evaluasi Ekonomi Background: The prevalence of hypertension in Indonesia continues to increase from 21.2% in 2010 to 23.3% in 2014. Hypertension can lead to coronary heart disease, stroke, and death if not detected early and treated appropriately. Antihypertensives that effectively reducing blood pressure and reducing the risk of coronary heart disease are Valsartan and Amlodipine. Medical expenses have always been a barrier to effective treatment. Therefore, it is necessary to have quality control and cost control.The aims of this study was to analyze economic evaluation and to know the costs and outcomes of use of Valsartan and Amlodipine during three months of treatment in primary hypertension patients with stage I blood pressure. Methods: This study was observational study with retrospective data retrieval technique in 2016. The outcome was the mean reduction of systolic and diastolic blood pressure, the proportion of controlled and uncontrolled blood pressure. Costs taken from the patient's perspective in the form of direct medical costs. Results: The results obtained that the cost of using Amlodipine is lower (Rp 872.666.02) than Valsartan (Rp 1,064,621.00). The mean reduction of blood pressure of Amlodipine was 16.33 / 7.88 mmHg, while Valsartan was 14.05 / 5.00 mmHg. Proportion of controlled blood pressure of Amlodipine was 80%, with a proportion of coronary heart disease events was 27.5%. While the proportion of controlled blood pressure of Valsartan was 60%, with the proportion of coronary heart disease events was 72.5%. In the costeffectiveness diagram, Amlodipine was in quadrant II and Valsartan was in quadrant IV. Conclusion: Amlodipine is dominant against Valsartan because it requires lower cost and better outcome. Key words: Primary Hypertension, Amlodipine, Valsartan, Economic Evaluation
Read More
T-5312
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henriette Nuarni Sari; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Mirna Putriantiwi, Hendri Hartati
Abstrak:

ABSTRAK Tesis ini membahas tentang analisis biaya minimal bagi pasien pecandu opioida yang menjalani perawatan di RSKO Jakarta antara terapi rumatan methadone dengan rehabilitasi berdasarkan persepsi pasien pecandu opioida yang masih aktif menjalani kedua perawatan saat penelitian ini dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi ekonomi yang bersifat deskriptif analitik dengan melakukan studi perbandingan antara terapi rumatan methadone dengan rehabilitasi melalui pendekatan retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: komponen biaya langsung terapi rumatan methadone dan rehabilitasi adalah biaya rawat jalan/rawat inap, biaya obat, biaya pemeriksaan laboratorium, dan biaya konsultasi dokter; komponen biaya tidak langsung terapi rumatan methadone dan rehabilitasi adalah biaya transportasi (pasien dan keluarga pasien), biaya konsumsi (pasien dan keluarga pasien), dan biaya penghasilan (pasien) yang hilang selama menjalani perawatan;biaya total terapi rumatan methadone untuk 17 orang pasien tahun 2011 dan tahun 2012 yang berhasil mencapai output 180 hari bebas opioida adalah Rp. 226.635.306,- dengan unit cost Rp.13.331.489,-; biaya total rehabilitasi untuk 17 orang pasien tahun 2011 dan tahun 2012 yang berhasil mencapai output 180 hari bebas opioida adalah Rp. 468.018.638,- dengan unit cost Rp.27.530.508,- ; sehingga dapat disimpulkan biaya terapi rumatan methadone lebih efisien dibandingkan biaya rehabilitasi, yaitu rasio biaya rehabilitasi 2 kali lebih besar dibandingkan biaya terapi rumatan methadone berdasarkan persepsi pasien dengan output/keluarannya adalah pasien penyalahguna opioida yang mampu mempertahankan abstinensia terhadap opioida selama 180 hari. Dengan demikian peneliti menyarankan kepada pihak RSKO Jakarta untuk lebih meningkatkan promosi kesehatan dan edukasi tentang terapi


ABSTRACT This thesis discusses the minimal cost analysis for patients undergoing treatment opioid aaddicts in Drug Dependency Hospital Jakarta (RSKO Jakarta) among methadone maintenance therapy with rehabilitation based on patient perception opioida addict who still actively undergoing both treatment while this research was conducted. This study is an economic evaluation that is descriptive analytic study comparison between methadone maintenance therapy with rehabilitation through a retrospective approach. The results showed that: the direct cost component of methadone maintenance therapy and rehabilitation is the cost of outpatient/inpatient care, drug costs, laboratory costs, and the cost of consulting a doctor; component of indirect cost sof methadone maintenance therapy and rehabilitation is the cost of transportation (for the patient and the patient's family), the cost of consumption (for the patient and the patient’s family), and cost of revenue(for patients) were lost during treatment (opportunity cost); total cost of methadone maintenance therapy for 17 patients in 2011 and in 2012 for output reached 180 days off reeopioida is Rp. 226.635.306,- with a unit cost Rp.13.331.489,- ; total cost of rehabilitation for 17 patients in 2011 and in 2012 for the output reached 180 days off reeopioida is Rp. 468.018.638,- with a unit cost Rp.27.530.508,- ; thus it can be concluded methadone maintenance therapy is more cost efficient than the cost of rehabilitation; the rehabilitation cost ratio of 2 times greater than the cost of methadone maintenance therapy based on the patient's perception of the output is opioida abusers patients who maintained abstinence for opioida for 180days. Thus researchers suggest to the RSKO Jakarta to further enhance health promotion and education about methadone maintenance treatment for opioid addicts and families will choose treatment for dependence opioida.

Read More
T-3792
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dede Haschodir; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Atik Nurwahyuni, Vetty Yulianty Permanasari, Cipto Aris Purnomo, Agus Ari Wibowo
Abstrak:
Penelitian ini berfokus pada analisis determinan out-of-pocket payment (OOP) pada rumah tangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur menggunakan data Susenas tahun 2021. Variabel independen yang diteliti adalah tingkat ekonomi rumah tangga, kepemilikan jaminan kesehatan, beban biaya transportasi ke fasilitas kesehatan, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga. Sedangkan variabel dependen pada penelitian ini adalah besaran OOP kuratif rumah tangga. Diketahui bahwa di beberapa kabupaten/kota, kelompok tingkat ekonomi rumah tangga, kepemilikan jaminan kesehatan, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga berhubungan signifikan dengan besaran OOP. Beban biaya transportasi ke faskes juga berkorelasi signifikan dengan OOP namun memiliki koefisien yang lemah. Peneliti menyarankan adanya upaya peningkatan pemanfaatan JKN melalui perbaikan kualitas layanan dan pemerataan akses pada layanan kesehatan sehingga OOP dapat dicegah.

The focus of this study is to analyze out-of-pocket payment determinants among households in East Nusa Tenggara using Susenas 2021. Independent variables in this study included economic status, health insurance ownership, transportation fee to health services, and head of household education level while dependent variable was focused on household curative OOP. The result showed that in several regions, economic status, health insurance ownership, and education level was significantly associated with OOP. Moreover, transportation fee to health services was also correlated with OOP with small correlation coefficient. Researcher suggested the need of better health services quality and access so that people could utilize JKN more often and prevent OOP.
Read More
T-6695
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wirda Syari; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Kurnia Sari, Doddy Ranuhardy, Amila Megraini
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Wirda Syari Program Studi : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Evaluasi Ekonomi Parsial Antara Pemberian Terapi Rivaroxaban dan Terapi Kombinasi (UFH + Warfarin) untuk Pengobatan Trombosis Vena Dalam (Deep Vein Thrombosis) pada Pasien Kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais Tahun 2016 – 2018 Pembimbing : Dr. drg. Mardiati Nadjib, MS Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, diketahui bahwa terapi rivaroxaban memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan terapi kombinasi (UFH + warfarin) untuk pengobatan trombosis vena dalam (deep vein thrombosis/DVT). Akan tetapi, masih sedikit dokter di RS Kanker Dharmais yang memberikan terapi rivaroxaban untuk pengobatan DVT. Penelitian evaluasi ekonomi parsial ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas/outcome dan besarnya biaya yang dibutuhkan dari perspektif rumah sakit antara pemberian terapi rivaroxaban dan terapi kombinasi (UFH + warfarin) untuk pengobatan DVT pada pasien kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais tahun 2016 – 2018. Karena keterbatasan jumlah pasien yang mendapatkan terapi rivaroxaban selama 3 – 6 bulan, studi ini menganalisis biaya dan efektivitas/outcome dari pasien yang mendapatkan terapi selama 1 bulan. Efektivitas/outcome yang diukur adalah intermediate outcome, yang meliputi lama hari rawat, kesembuhan, dan kejadian perdarahan. Biaya dihitung berdasarkan biaya yang dibebankan kepada pasien (charge), yang meliputi biaya obat, pemeriksaan penunjang, tindakan, serta administrasi dan akomodasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk efektivitas/outcome terapi rivaroxaban, sebagian besar pasien tidak mendapatkan perawatan rawat inap, 40% pasien dinyatakan sembuh dari DVT, dan tidak ada pasien yang mengalami kejadian perdarahan. Rata-rata biaya terapi rivaroxaban hingga mencapai outcome yang diharapkan adalah Rp 8.824.791,00. Untuk efektivitas/outcome terapi kombinasi (UFH + warfarin), sebagian besar pasien memiliki lama hari rawat antara 8 – 14 hari, 46% pasien dinyatakan sembuh dari DVT, dan tidak ada pasien yang mengalami kejadian perdarahan. Rata-rata biaya terapi kombinasi (UFH + warfarin) hingga mencapai outcome yang diharapkan adalah Rp 13.201.698,00. Kata Kunci: Evaluasi ekonomi; kanker; rivaroxaban; trombosis vena dalam; warfarin


ABSTRACT Name : Wirda Syari Study Program : Magister of Public Health Title : Partial Economic Evaluation Between Rivaroxaban Therapy and Combination Therapy (UFH + Warfarin) for the Treatment of Deep Vein Thrombosis in Cancer Patients at Dharmais Cancer Hospital during 2016 - 2018 Counsellor : Dr. drg. Mardiati Nadjib, MS Based on previous studies, rivaroxaban therapy has several advantages compared to combination therapy (UFH + warfarin) for the treatment of deep vein thrombosis (DVT). However, the use of rivaroxaban in Dharmais Cancer Hospital is still low. This partial economic evaluation study aims to analyze cost and consequence of rivaroxaban therapy and combination therapy (UFH + warfarin) for DVT treatment in cancer patients at the Dharmais Cancer Hospital during 2016 – 2018. Data collection was done using cohort-retrospective and individual unit of analysis. Due to limited number of patient treated with rivaroxaban therapy within 3-6 months, we estimated the cost and consequence related to patients who were successfully treated in one month. The consequence was the intermediate outcome, i.e length of stay, recovery, and the occurrence of bleeding. The cost was calculated based on hospital perspective including drugs, laboratory tests, procedures, as well as the administrative and accommodation costs. The results showed that patients with rivaroxaban therapy were not admitted to inpatient care, 40% of patients were recovered from DVT, and none of the patients experienced bleeding. The average cost of rivaroxaban therapy to reach the expected outcome was Rp 8,824,791.00. The study also showed that the outcome of combination therapy (UFH + warfarin) were length of stay between 8 to 14 days, 46% of patients were recovered from DVT, and none of the patients experienced bleeding. The average cost of combination therapy (UFH + warfarin) to reach the expected outcome was Rp 13,201,698.00. Key words: Cancer; deep vein thrombosis; economic evaluation; rivaroxaban; warfarin

Read More
T-5284
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mardiati Nadjib, Septiara Putri, Sabarinah, Indang Trihandini
Abstrak: Penjelasan sistematis konsep dasar evaluasi ekonomi untuk program kesehatan masyarakat. beserta contoh dan aplikasi melalui pendekatan cost minimization analysis (CMA), cost effectiveness analysis (CEA), cost utility analysis (CUA) dan cost benefit analysis (CBA).
Read More
310.613 NAD e
Depok : UI Publishing, 2020
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratu Rosidatun Nasihah; Pembimbing: Septiara Putri; Penguji: Mardiati Nadjib, Ery Setiawan
Abstrak: Vaksinasi tetanus toksoid merupakan intervensi pencegahan tetanus yang terbukti efektif secara klinis. Program vaksinasi tetanus toksoid di negara berkembang sering kali terhambat karena keterbatasan budget yang dialokasikan untuk program vaksinasi, berkompetisi dengan intervensi kesehatan lainnya pada kondisi belanja kesehatan semakin meningkat. Efektivitas klinis perlu bersinergi dengan efektivitas biaya agar dapat mencapai keberhasilan program. Efektivitas biaya program dapat dinilai dengan evaluasi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi teknik evaluasi ekonomi pada vaksinasi tetanus toksoid pada ibu hamil. Kajian literatur dilakukan pada Mei 2020 sampai Juli 2020 dengan pencarian pada database CINAHL, Cochrane Library, dan PubMed. Kajian literatur mengikuti panduan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses guidelines for Scoping Review. Diperoleh 4 studi yang memenuhi kriteria. Diidentifikasi 3 studi menggunakan teknik CUA, 2 studi menggunakan teknik CEA (dengan 1 studi menggunakan kedua teknik) dengan membandingkan intervensi vaksinasi TT dengan do nothing/ current practice. Luaran akhir keempat studi berupa incremental cost-effectiveness ratio (ICER). ICER pada 3 studi menghasilkan kesimpulan bahwa intervensi vaksinasi TT pada ibu hamil memiliki value for money. Diperoleh suatu bukti bahwa vaksinasi dengan tetanus toksoid efektif secara biaya bahkan pada negara-negara yang belum berhasil mengeliminasi tetanus neonatal atau baru mengeliminasi tetanus neonatal secara parsial. Dari berbagai kemungkinan, vaksinasi tetanus toksoid pada ibu hamil selalu dominan dibanding komparator, berlaku pada one way sensitivity analysis dan analisis sensitivitas probabilistik simulasi Monte Carlo. Kata kunci: Tetanus toksoid, vaksinasi TT, vaksinasi maternal, evaluasi ekonomi, analisis efektivitas biaya, analisis utilitas biaya Tetanus toxoid vaccination is an intervention aiming preventing tetanus which clinically proven to be effective. Tetanus vaccination program in developing countries is frequently hampered due to limited budget allocated for vaccination program, competing with other health interventions as health expenditure increases. Clinical effectiveness should be synergized with cost-effectiveness in order to achieve program success. Economic evaluation is an approach to assess cost effectiveness. This study aims to identify economic evaluation techniques of tetanus toxoid vaccination for pregnant women. Literature review was conducted from May 2020 to July 2020 by performing literature search in databases of CINAHL, Cochrane Library, and PubMed. This literature review conformed to the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses guidelines for Scoping Review. Obtained 4 studies fulfilled the criteria. Identified 3 studies used CUA, 2 studies used CEA (with 1 study used both techniques) comparing TT vaccination intervention with the absence of program scenario (do nothing) or current practice. Outcomes of 4 studies are incremental cost-effectiveness ratio (ICER). ICERs obtained from 3 studies present the evidence that TT vaccination intervention for pregnant women has value for money. This study obtained an evidence that tetanus toxoid vaccination is cost-effective even among countries which have yet to eliminate or have partially eliminated neonatal tetanus. Across various probabilities, tetanus toxoid vaccination in pregnant women remains dominant compared to the comparator, holds in one way sensitivity analysis and probabilistic sensitivity analysis via Monte Carlo simulation. Keywords: Tetanus-toxoid, TT vaccination, maternal vaccination, economic evaluation, cost effectiveness analysis, cost utility analysis
Read More
S-10330
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanna Elisabet Lumbangaol; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Kurnia Sari, Pujiyanto, Irianny Pudjiastuti, I Gusti Ngurah Akwila Dwiyundha
Abstrak:
Total hip arthroplasty (THA) adalah tindakan ortopedi popular, yaitu prosedur mengganti secara keseluruhan sendi panggul yang mengalami kerusakan dengan implan atau prosthesis. Utilitas THA diperkirakan akan terus tumbuh dimasa yang akan datang. enhance recovery after surgery (ERAS) diperkenalkan sebagai pendekatan multidisiplin yang bertujuan untuk mengoptimasi dan mempercepat proses penyembuhan berdasarkan praktik berbasis bukti. Berdasarkan literatur, implementasi ERAS pada THA terbukti mampu mengurangi jumlah hari rawat dan menghembat biaya perawatan. Evaluasi ekonomi ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas/luaran intermediate yang terdiri dari length of stay dan persen sukses operasi serta biaya yang dikeluarkan antara THA protokol ERAS dan konvensional. Studi ini menggunakan desain studi potong lintang dengan perspektif penyedia layanan kesehatan. Data dikumpulkan mulai Januari 2020 hingga Mei 2023. Hasil uji bivariat dengan SPSS menujukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada efektivitas. Evaluasi radiografi menunjukkan persentase sukses 100% pada kedua protokol, sedangkan persentase LOS ≤5 hari menunjukkan hasil sebesar 88% pada THA ERAS dan 75% pada THA konvensional. Hasil perhitungan ACER menunjukkan hal yang sebaliknya, yaitu nilai ACER untuk THA ERAS lebih rendah dibandingkan Konvensional (Rp47.187.729 dan Rp54.460.322). Berdasarkan nilai ACER, THA ERAS berpotensi lebih efisien dibandingkan THA Konvensional dengan efektivitas yang lebih baik. Namun, hasil CMA menunjukkan bahwa biaya rata-rata satu tindakan dengan pendekatan Konvensional lebih rendah daripada ERAS, yaitu Rp40.845.242 dibandingkan Rp41.525.202. Efektivitas ERAS dapat lebih ditingkatkan lagi dan memiliki efektivitas biaya dibandingkan Konvensional bila dapat diperoleh data yang lebih besar sampelnya, prosedur yang lebih jelas untuk pemulangan pasien dan clinical pathway yang tersusun baik. Kata kunci: Penggantian pinggul total, enhance recovery after surgery, evaluasi ekonomi, efektivitas biaya

Total hip arthroplasty (THA) is a widely performed orthopedic procedure involving the complete replacement of a damaged hip joint with an implant or prosthesis. With its increasing popularity, the utilization of THA is expected to grow in the future. Enhance recovery after surgery (ERAS) has emerged as a multidisciplinary approach aimed at optimizing and expediting the healing process through evidence-based practices. Literature supports the implementation of ERAS in THA, as it has been shown to reduce hospitalization duration and treatment costs. This economic evaluation aims to analyze the effectiveness in the form of intermediate outcomes, including length of stay (LOS) and the success rate of the operation, as well as the costs associated with ERAS and conventional THA protocols. The study employs a cross-sectional design from the perspective of healthcare providers, collecting data from January 2020 to May 2023. Bivariate tests conducted using SPSS demonstrate no significant difference in effectiveness. Radiographic evaluation indicates a 100% success rate in both protocols, while LOS ≤5 days is observed in 88% of THA ERAS cases and 75% of conventional THA cases. Calculated ACER values show that THA ERAS has a lower cost (Rp. 47,187,729) compared to Conventional (Rp. 54,460,322), suggesting greater potential in efficiency and effectiveness. However, the cost-minimization analysis (CMA) reveals that the average cost of a single action using the Conventional approach (IDR 40,845,242) is lower than that of ERAS (IDR 41,525,202). To further enhance the effectiveness of ERAS and ensure cost-effectiveness relative to Conventional THA, obtaining a larger sample size, establishing clear patient discharge procedures, and implementing well-organized clinical pathways are recommended. Keywords: Total hip replacement, enhance recovery after surgery, economic evaluation, cost-effectiveness.
Read More
T-6775
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rezki Wahyu Meidayanti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Achmad Fauzi Yahya, Miftahussaadah
Abstrak:
Di Indonesia, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi dibandingkan penyakit lainnya, yaitu sebesar 12.9% dari total kematian pertahunnya yang penyebabnya didominasi oleh penyakit jantung koroner. Data Riskesda tahun 2018 juga menyebutkan prevalensi penyakit jantung di Indonesia mencapai 1.5%, yang artinya jika merujuk pada jumlah populasi penduduk Indonesia yang mencapai 275 juta jiwa, sekitar 4 juta lebih masyarakat di Indonesia menderita penyakit jantung. Dari sisi pembiayaan juga hal ini berakibat pada besarnya pembiayaan untuk tindakan terapi penyakit jantung, salah satunya adalah tindakan Intervensi Koroner Perkutan (IKP). Penelitian ini menganalisa bagaimana efektivitas dan biaya dari tindakan IKP yang konvensional dengan tindakan IKP yang terpandu pencitraan Intravascular Ultrasound (IVUS) sebagai tambahan. Metode penelitian dilakukan secara kombinasi, yaitu melakukan review sistematis untuk memperoleh nilai efektivitas klinis dan penelitian cohort retrospektif untuk analisis biayanya. Diperoleh hasil bahwa Tindakan IKP Terpandu IVUS terbukti memiliki efektivitas klinis yang lebih baik dibandingkan tindakan IKP Konvensional yang hanya menggunakan pencitraan Angiografi Secara besaran biaya, tindakan IKP Terpandu IVUS masih memiliki biaya yang lebih tinggi dibanding tindakan IKP Konvensional, dengan selisih rerata biayanya pada tahun 2023 sebesar Rp 17.725.559,- untuk setiap tindakan IKP dengan pemasangan 1 stent.

In Indonesia, cardiovascular disease is still the highest cause of death compared to other diseases, namely 12.9% of total annual deaths, the cause of which is dominated by coronary heart disease. Riskesda data for 2018 also states that the prevalence of heart disease in Indonesia reached 1.5%, which means that if we refer to Indonesia's population of 275 million, around 4 million more people in Indonesia suffer from heart disease. In terms of financing, this also results in large amounts of funding for heart disease therapy, one of which is Percutaneous Coronary Intervention (IKP). This study analyzes the cost and outcome of conventional IKP procedures compared to IKP procedures that use Intravascular Ultrasound (IVUS) imaging as an adjunct. The research method was carried out in a combination, namely conducting a systematic review to obtain clinical effectiveness values and a retrospective cohort study for cost analysis. The results showed that IVUS Guided IKP procedures were proven to have better clinical effectiveness than conventional IKP procedures which only use angiography imaging. In terms of costs, IVUS Guided IKP procedures still have higher costs than conventional IKP procedures, with the difference in average costs in 2023 amounting to IDR 17,725,559 for each IKP procedure with the implantation of 1 stent.
Read More
T-7032
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rini Mutahar; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Denni Joko Purwanto, Ratna Djuwita; Penguji: Mardiati Nadjib, Mondastri Korib Sudaryo, Noorwati Sutandyo, Fachmi Idris, Misnaniarti
Abstrak:
Kemoterapi neoadjuvan, merupakan standar perawatan untuk kanker payudara stadium lanjut lokal (KPSLL). Terdapat hasil yang kontradiktif terhadap efektivitas kedua golongan rejimen kemoterapi neoadjuvan yaitu antrasiklin dan taksan pada pengoabatan KPSLL. Pada umumnya kemoterapi neoajuvan kanker payudara stadium lanjut lokal di RKS Dharmais menggunakan regimen berbasis antrasiklin. Namun belum ada penelitian lebih lanjut studi efektivitas klinis dan evaluasi ekonomi penggunaaan kemoterapi neoadjuvan berbasis antrasiklin dan taksan pada pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal di RSK Dharmais, Jakarta.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Efektivitas Klinis dan Evaluasi Ekonomi Pengobatan Kemoterapi Neoadjuvan pada Pengobatan Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal di RSK Dharmais Jakarta 2011 – 2016.
Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan studi kohort retrospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengikuti riwayat medis dan billing pasien penderita kanker payudara saat berobat ke Rumah Sakit Darmais pada periode tahun 2011 hingga 2016. Penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik,  survival dan evaluasi ekonomi dengan ICER (incremental cost effectiveness ratio) .
Hasil penelitian menunjukkan Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal di RSK Dharmais  yang menerima kemoterapi berbasis taksan memiliki risiko 1,516 kali lebih besar untuk mendapatkan respons klinis positif dibandingkan dengan pasien yang menerima kemoterapi berbasis antrasiklin. (RR adjusted 1,516; 95% CI: 0,601–3,826). Pasien dengan respon klinis yang negatif memiliki risiko kematian 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang menunjukkan respon positif tstelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu, jenis histopatologis dan  stadium ( ajusted hazard ratio   1,729;95% CI: 1,031–2,902). Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal (KPSLL) yang melakukan kemoterapi neadjuvan berbasis antrasiklin memiliki risiko 2 kali lipat lebih besar dibandingkan berbasis taksan untuk mengalami kematian setelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu respon klinis, jenis istopatologis, stadium dan Subtipe molekular Luminal (adjusted hazard ratio  2,128 :95%CI:1,097-4,128). Nilai ICER (incremental cost effectiveness ratio) menunjukkan bahwa membutuhkan biaya sebesar Rp 3,1 juta untuk meningkatkan satu unit efektivitas (persentase jumlah pasien dengan respon klinis positif)  dengan pemakaian regimen berbasis taksan dibandingkan dengan antrasiklin.
Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk melakukan Penilaian Teknologi Kesehatan dengan evaluasi ekonomi yang lebih komprehensif, khususnya dalam menilai intervensi kesehatan untuk penyakit kronis seperti kanker. Penelitian lanjutan diperlukan untuk lebih mendalami faktor-faktor perancu yang mungkin mempengaruhi hasil, seperti keterlambatan diagnosis dan pengobatan, riwayat terapi sebelumnya, dan status sosial ekonomi
Neoadjuvant chemotherapy is the standard treatment for locally advanced breast cancer (LABC). Contradictory findings exist regarding the effectiveness of two main types of neoadjuvant chemotherapy regimens, anthracycline and taxane, for treating LABC. At RSK Dharmais, anthracycline-based regimens are commonly used for LABC treatment. However, there is a lack of research on the clinical effectiveness and economic evaluation of anthracycline-based and taxane-based neoadjuvant chemotherapy regimens in patients with LABC at RSK Dharmais, Jakarta.
This study aims to assess the clinical effectiveness and economic evaluation of neoadjuvant chemotherapy for LABC at RSK Dharmais Jakarta from 2011 to 2016.
This study employed an observational analytic method with a retrospective cohort study design. Data collection was conducted by reviewing the medical records and billing data of breast cancer patients treated at RSK Dharmais during the 2011–2016 period. Logistic regression analysis, survival analysis, and economic evaluation using the Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) were performed.
The results showed that patients with LABC at RSK Dharmais who received taxane-based chemotherapy had a 1.516-fold higher likelihood of achieving a positive clinical response compared to those receiving anthracycline-based chemotherapy (RR adjusted 1.516; 95% CI: 0.601–3.826). Patients with a negative clinical response had a 1.7-fold higher risk of death compared to those with a positive response after adjusting for confounding factors, such as histopathological type and cancer stage (adjusted hazard ratio 1.729; 95% CI: 1.031–2.902). Patients undergoing anthracycline-based neoadjuvant chemotherapy had a two-fold higher risk of death compared to those on taxane-based regimens, after controlling for confounding factors including clinical response, histopathological type, stage, and Luminal molecular subtype (adjusted hazard ratio 2.128; 95% CI: 1.097–4.128). The ICER analysis showed that it costs IDR 3.1 million to achieve one additional unit of effectiveness (percentage of patients with a positive clinical response) using taxane-based regimens compared to anthracycline-based regimens.
This study provides a basis for conducting a more comprehensive Health Technology Assessment, particularly in evaluating healthcare interventions for chronic diseases like cancer. Further research is needed to explore confounding factors that may influence outcomes, such as delays in diagnosis and treatment, prior therapy history, and socioeconomic status.






Read More
D-568
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive