Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Risris Risdianto; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, ZulkifliDjunaidi, Haryanto, Agung Kuswardono
Abstrak: Sebagai fasilitas umum SPBG berlokasi di area yang padat penduduk dan padat aktivitas, oleh karena itu kegagalan SPBG akan memberikan konsekuensi yang cukup besar bagi operator, pelanggan dan masyarakat di sekitar SPBG. Penelitian ini dilakukan dengan desain deskriptif dan analitik metode kuantitatif untuk mengetahui tingkat risiko individu dan sosial hasil perhitungan frekuensi menggunakan event tree analysis dan konsekuensi menggunakan piranti lunak ALOHA. Data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan data primer hasil pengukuran dan wawancara serta data sekunder dari literatur dan perusahaan. Penelitian ini menjelaskan tahapan analisa risiko kebakaran dan ledakan di SPBG serta rekomendasi pengendalian risiko kebakaranan ledakan di SPBG berdasarkan hasil analisa risiko tersebut.
Kata kunci: Kajian Risiko Kuantitatif, Kebakaran, Ledakan, SPBG, CNG.
As a general facility CNG Station is located in a densely populated and dense activity area, therefore CNG Station failure will have considerable consequences for operators, customers and communities around SPBG. This research is conducted using descriptive and quantitative analytic method to calculate the level of individual and social risk which resulted by frequency calculation using event tree analysis and consequence using ALOHA software. The data used in this study using primary data by field measurement and interviews as well as secondary data from the literature and company. This research explains the steps of fire and explosion risk analysis in CNG Station and followed by some recommendation to control fire and explosion risk in CNG Station based on risk analysis.
Key words: Quantitative Risk Assessment (QRA), Fire, Explosion, CNG, Fuel
Read More
T-4876
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriyani; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Adenan
S-8033
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Indah Fajarini; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan bayi yang memiliki berat badan kurang dari 2500 gram saat lahir. Masalah ini terus menjadi perhatian utama dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia dan terkait dengan sejumlah konsekuensi yang berpengaruh dalam jangka pendek maupun jangka panjang. BBLR bukan hanya merupakan indikator utama kematian dan penyakit pada bayi baru lahir, tetapi juga meningkatkan risiko terkena penyakit tidak menular di masa depan. Menurut data SDKI, prevalensi BBLR di Indonesia pada tahun 2017 masih relatif tinggi yaitu sebesar 7,1%. Terdapat beberapa faktor risiko yang mempengaruhi BBLR ditinjau dari faktor ibu, janin dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional yang bertujuan untuk melihat hubungan antara faktor ibu, faktor janin, dan faktor lingkungan dengan kejadian BBLR. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel pendidikan ibu, jarak kehamilan, kehamilan kembar dan bahan bakar memasak. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian BBLR adalah ibu dengan kehamilan kembar dengan OR = 17,552.

Low birth weight infants (LBW) are babies who weigh less than 2500 grams at birth. This issue continues to be a major public health concern worldwide and is associated with a number of short- and long-term consequences. LBW is not only a leading indicator of mortality and disease in newborns, but also increases the risk of developing non-communicable diseases in the future. According to IDHS data, the prevalence of LBW in Indonesia in 2017 was still relatively high at 7.1%. There are several risk factors that affect LBW in terms of maternal, fetal and environmental factors. This study uses a cross-sectional study that aims to see the relationship between maternal factors, fetal factors, and environmental factors with the incidence of LBW. The results of this study showed that there was an association between the variables of maternal education, gestational distance, multiple pregnancies and cooking fuel. The most dominant variable associated with LBW was mothers with multiple pregnancies with OR = 17.552.
Read More
S-11301
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Josua Readus Renaldi; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Mufti Wirawan, Zulkifli Djunaidi, Sandhy Cahyadi, Muhammad Heikal
Abstrak:
Penelitian ini menganalisis hubungan faktor kendaraan sebagai penyebab dengan tingkat keparahan kecelakaan mobil tangki di PT XYZ periode 2022–2024. Studi menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektif, memanfaatkan data kecelakaan internal perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengereman menjadi faktor kendaraan paling dominan dalam kecelakaan, disusul oleh faktor ban/roda, mesin, dan kelistrikan. Tingkat keparahan kecelakaan paling banyak terjadi pada kategori kerusakan berat (S), diikuti kerusakan ringan (N), dengan dampak signifikan terhadap manusia dan lingkungan, terutama pada kasus tumpahan BBM. Analisis multivariat menunjukkan bahwa umur kendaraan, sistem pengereman, kemudi, ban, mesin, dan pencahayaan berpengaruh signifikan terhadap tingkat keparahan kecelakaan (p < 0,05). Temuan ini menegaskan pentingnya pemeliharaan rutin dan inspeksi komponen kritis untuk meminimalkan risiko kecelakaan berat pada mobil tangki BBM.

This study analyzes the correlation between vehicle factors as causes and the severity of fuel truck accidents at PT XYZ for the period 2022-2024. The study used an analytical descriptive design with a retrospective approach, utilizing the company's internal accident data. The results showed that the braking system was the most dominant vehicle factor in accidents, followed by tire/wheel, engine, and electrical factors. The severity of accidents mostly occurred in the category of heavy damage (S), followed by light damage (N), with significant impacts on humans and the environment, especially in the case of fuel spills. Multivariate analysis showed that vehicle age, braking system, steering, tires, engine, and lighting had a significant effect on crash severity (p < 0.05). These findings confirm the importance of regular maintenance and inspection of critical components to minimize the risk of severe accidents in fuel truck.
Read More
T-7431
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Indriyani Lestari; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Asri C Adisasmita, Ririn Arminsih, Diah Wati
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ayu Indriyani Lestari Program studi : Magister Epidemiologi Judul : Pengaruh Polusi Dapur Rumah Tangga Dengan Kematian Balita (0 – 59 Bulan) Di Indonesia Polusi dapur dalam rumah tangga, terutama akibat penggunaan bahan bakar masak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan penghuni rumah, salah satunya pada balita. Penyebab kematian utama balita di Indonesia berdasarkan data WHO adalah pneumonia. untuk mengetahui hubungan polusi dapur rumah tangga dan kematian balita (0 – 59 bulan) di Indonesia berdasarkan data SDKI tahun 2012 Hubungan antara polusi dapur rumah tangga dengan kematian balita dianalisis dengan menggunakan cox regression Pada kelompok balita anak pertama dengan BBLR risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di dalam rumah adalah 1,4 kali (0,52 – 3,78) dan risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di luar rumah hampir tidak ada (PR 1,03, 95% CI 0,25 – 4,21). Pada kelompok anak kedua dengan BBL normal risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di dalam rumah adalah 1,76 kali (95% CI 0,9 – 3,45) dan risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di luar rumah lebih tinggi yaitu 1,83 kali (95% CI 0,8 – 4,16). Pada keseluruhan balita, didapatkan risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di dalam rumah adalah 1,11 kali (0,76 – 1,62) dan risiko kematian akibat bahan bakar masak tidak aman dan dapur di luar rumah 0,93 kali (95% CI 0,59 – 1,48). Risiko kematian balita meningkat pada rumah tangga dengan bahan bakar tidak aman berdasarkan letak dapur. Pada anak pertama dengan BBLR lebih rentan mengalami kematian akibat polusi udara rumah tangga, sementara pada kelompok anak kedua dengan BBL normal, berisiko untuk mengalami kematian akibat polusi udara rumah tangga. Kata kunci: polusi dapur rumah tangga, bahan bakar masak, letak dapur, kematian balita


ABSTRACT Name : Ayu Indriyani Lestari Study program : Magister Epidemiology Title : Kitchen Pollution and Under-five Mortality in Indonesia Kitchen pollution, mainly due to the use of cooking fuel is one public health problem that affects the health of residents, particularly in infants. The main cause of mortality under five in Indonesia based on data from WHO was pneumonia. This study aims to determine the association of kitchen pollution and under-five mortality in Indonesia based on data from Demographic and Health Survey 2012. The association between kitchen pollution and under-five mortality was analysed by cox regression method. Under-five mortality for the first-born children and low birth weight group, risk of death from polluting cooking fuels and the kitchen in the house was 1.4 times (0.52 to 3.78) and almost no risk of death from polluting cooking fuels and outdoor kitchens (PR 1.03; 95% CI 0.25 to 4.21). While, for the second and subsequentborn children with normal birth weight group, risk of death from polluting cooking fuels and the kitchen in the house was 1.76 times (95% CI 0.9 to 3.45) and the risk of death from polluting cooking fuels and outdoor kitchens home is 1.83 times higher (95% CI 0.8 to 4.16). For total group of under-five children, risk of death due to polluting cooking fuels and the kitchen in the house was 1.11 times (0.76 to 1.62) and the risk of death from polluting cooking fuels and outdoor kitchens 0.93 times (95% CI 0.59 to 1.48). Risk to death increased in households with polluting fuel by the kitchen location. For first-born child with low birth weight were more susceptible to death from household air pollution, while the second and subsequent-born group of children with normal birth weight were at risk of death from household air pollution. Keywords: kitchen pollution, cooking fuel, kitchen location, under-five mortality

Read More
T-4832
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Faisal Amirul Mukminin; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Samsi Y. Samoeri, Chandra Arif Dermawan
Abstrak:
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan aspek yang paling penting dalam melakukan setiap pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang memiliki tingkat bahaya dan risiko tinggi adalah industri minyak dan gas bumi. Beberapa kali kita melihat kasus kebakaran atau ledakan yang pernah terjadi di depot bahan bakar minyak maupun kilang minyak yang ada di Indonesia. Maka dari itu, pekerjaan inspeksi teknis dan pemeriksaan keselamatan menjadi penting untuk meminimalisir kecelakaan kerja. Dalam penelitian ini, akan dilakukan analisis risiko terhadap ketidakeseuaian dari hasil inspeksi teknis dan pemeriksaan keselamatan pada instalasi depot bahan bakar minyak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional melalui pendekatan kualitatif, serta dalam penilaian risiko menggunakan pendekatan semi-kuantitatif dengan menggunakan matriks risiko. Hasil dari penelitian ini terdapat 4 ketidaksesuaian dari hasil inspeksi teknis dan pemeriksaan keselamatan. Diantaranya umur instalasi yang hampir melebihi umur desain, tahanan grounding yang tinggi, terdapat bangunan lain yang berada di dalam instalasi depot, dan rumput liar yang tinggi. Hasil analisis risiko menunjukkan bahwa dari ketidaksesuaian tersebut memiliki tingkat risiko ekstrim, tinggi, dan sedang. Semua analisis tingkat risiko dari ketidaksesuaian sudah dianalisis berdasarkan pengendalian yang sudah dilakukan serta insiden yang pernah terjadi sebelumnya di industri yang sama. Rekomendasi pengendalian yang diberikan oleh penulis, diharapkan dapat menurunkan tingkat risiko sampai ke tingkat risiko yang dapat diterima.

Occupational safety and health is the most important aspect of every job. One job that has a high level of danger and risk is the oil and gas industry. Several times we have seen cases of fires or explosions that have occurred at fuel oil depots and oil refineries in Indonesia. Therefore, technical inspection work and safety checks are important to minimize work accidents. In this study, a risk analysis of non-conformities from the results of technical inspections and safety checks at fuel oil depot installations will be carried out. This research uses an observational descriptive method through a qualitative approach, beside the risk assessment through a semi-quantitative approach that carried out using a risk matrix. The results of this study found 4 non-conformities from the results of technical inspections and safety checks. Among them are the age of the installation which almost exceeds the design life, high grounding resistance, there are other buildings inside the depot installation, and high weeds. The risk analysis results show that these non-conformities have extreme, high and medium risk levels. All risk level analyses of non-conformities have been analyzed based on the controls that have been implemented as well as incidents that have occurred previously in the same industry. The control recommendations provided by the author are expected to reduce the risk level to an acceptable risk level.
Read More
T-7336
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aryo Wibowo Hendra Putro; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, L. Meily Widjaja, Waluyo, Audist Subekti, Alfajri Ismail; Suparni, Herlina J. EL-Matury
Abstrak:
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) merupakan fasilitas penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke masyarakat yang memiliki potensi bahaya dan berisiko tinggi terjadi kecelakaan. Selama tahun 2017-2018 telah terjadi 120 kecelakaan SPBU di Indonesia. Dua faktor utama yang berkontribusi terhadap kecelakaan, yaitu faktor manusia dan faktor organisasi. Tujuan dari penelitian ini menghasilkan instrumen pengukuran iklim keselamatan dan perilaku keselamatan konsumen SPBU serta model perilaku konsumen dan iklim keselamatan di SPBU yang memiliki nilai kebaruan dan orisinalitas. Tahap pertama dalam penelitian adalah penyusunan parameter ukur perilaku selamat dengan menggunakan referensi studi literatur. Pengukuran perilaku selamat dilakukan dengan mengumpulkan data dari pekerja SPBU di seluruh Indonesia dan masyarakat konsumen SPBU di wilayah Jawa Barat melalui kuesioner daring. Hasil pengumpulan data dianalisis secara kuantitatif menggunakan PLS-SEM. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa variabel iklim keselamatan SPBU yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kepatuhan dan partisipasi keselamatan pekerja, yaitu komitmen manajemen dan pemberdayaan keselamatan melalui mediasi variabel komunikasi keselamatan, aturan dan prosedur keselamatan, serta pelatihan keselamatan. Pada model perilaku selamat konsumen SPBU, Komunikasi operator, rambu keselamatan, media promosi, dan regulasi pemerintah secara signifikan mempengaruhi perilaku selamat konsumen melalui mediasi variabel norma, sikap, persepsi ancaman, serta persepsi benefit & barrier. Penelitian ini memiliki nilai manfaat yang tinggi karena menghasilkan 27 butir rekomendasi untuk pemerintah, badan usaha niaga migas, dan pengelola SPBU. Selain itu hasil penelitian ini dapat dikembangkan pada 6 topik penelitian lanjutan.

Fuel Stations are facilities for selling fuel to the public which has a potential hazard and a high risk of accidents. During 2017-2018 there were 120 gas station accidents in Indonesia. Two main factors contribute to accidents, namely human factors and organizational factors. The purpose of this research is to produce an instrument for measuring safety climate and consumer safety behavior at petrol stations as well as a model for consumer behavior and safety climate at gas stations, which are novel and original. The first stage of the research was the preparation of parameters for measuring safe behavior using references to literature studies. Measurement of safe behavior is carried out by collecting data from gas station workers throughout Indonesia and gas station consumers in West Jawa Province through online questionnaires. The results of data collection were analyzed quantitatively using PLS-SEM. The results of the research analysis show that the variables of gas station safety climate that significantly influence safety compliance and participation are namely management commitment and management empowerment, with safety communication, safety rules and procedures, and safety training as mediators. In the gas station consumer safety behavior model, operator communication, safety signs, promotion media, and government regulation significantly influence consumer safety behavior with norms, attitudes, perceived threat, and perceived benefit & barrier as mediators. This research has great value with 27 recommendations for the government, the oil and gas enterprise with downstream permit, and fuel station owners. This study results can also be expanded to more 6 new research topics.
Read More
D-499
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mirza Saleh Khan; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mirsupi Usman
Abstrak:
Tingginya tingkat penguapan dari benzene, toluene, dan xylene (BTX) dalam bensin membuat pekerja di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) berisiko tinggi terpajan BTX secara inhalasi. Adanya aktivitas pengisian bahan bakar kendaraan bermotor dan aktivitas pengisian tangki pendam (underground tank) membuat pekerja di SPBU berisiko tinggi kontak dengan bensin yang mengandung BTX secara dermal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai besarnya tingkat risiko kesehatan pada pekerja di SPBU X Beji Depok akibat pajanan BTX melalui rute pajanan inhalasi dan dermal. Design penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan metode CHRA dari DOSH Malaysia untuk menilai tingkat risiko kesehatan. Penilaian risiko kesehatan rute pajanan inhalasi dilakukan secara kuantitatif. Sementara itu, penilaian risiko kesehatan rute pajanan dermal dilakukan secara kualitatif. Berdasarkan observasi dan wawancara terdapat 5 similar exposure group (SEG) untuk pajanan BTX secara inhalasi, yaitu Operator Shift-1, Operator Shift-2, Operator Shift-3, Shift Leader, dan Supporting Team. Lalu, untuk pajanan BTX secara dermal terdapat 2 SEG, yaitu Operator dan Shift Leader. Untuk pajanan inhalasi benzene, SEG Operator Shift-1, Operator Shift-2, dan Shift Leader memiliki tingkat risiko kesehatan tinggi (high risk), sedangkan SEG lainnya memiliki tingkat risiko moderat (moderate risk). Untuk pajanan aditif toluene dengan xylene secara inhalasi hanya SEG Operator Shift-3 yang memiliki tingkat risiko moderat (moderate risk), sedangkan SEG lainnya memiliki tingkat risiko rendah (low risk). Untuk pajanan secara dermal, kedua SEG memiliki tingkat risiko tinggi (high risk) akibat pajanan benzene, sedangkan akibat pajanan toluene dan xylene kedua SEG memiliki tingkat risiko moderat (moderate risk). Rekomendasi yang diberikan adalah mengganti nozzle menjadi nozzle otomatis, memasang vapor recovery system, memasang rubber splash collars di sekitar nozzle, dan memberlakukan layanan self-service.

The high evaporation rate of benzene, toluene and xylene (BTX) in gasoline puts workers at public fuel stations (SPBU) at high risk of inhalation exposure to BTX. The existence of motor vehicle refueling activities and underground tank filling activities puts workers at high risk of dermal contact with BTX containing gasoline. This study aims to assess the level of health risk to workers at gas station X Beji Depok due to BTX exposure through inhalation and dermal exposure routes. The research design used was descriptive analysis using the CHRA method from DOSH Malaysia to assess the level of health risk. The health risk assessment of inhalation exposure route was done quantitatively. The health risk assessment of the dermal exposure route was carried out qualitatively. Based on observations and interviews, there are 5 similar exposure groups (SEG) for BTX inhalation exposure, namely Operator Shift-1, Operator Shift-2, Operator Shift-3, Shift Leader, and Supporting Team. Then, for dermal BTX exposure, there are 2 SEG, namely Operator and Shift Leader. For benzene inhalation exposure, the SEG of Operator Shift-1, Operator Shift-2, and Shift Leader have a high health risk level, while the other SEG have a moderate risk level. For inhalation exposure to toluene additive with xylene, only the SEG of Operator Shift-3 have a moderate risk level, while the other SEG have a low risk level. For dermal exposure, both SEG have a high risk level due to benzene exposure, while due to toluene and xylene exposure both SEG have a moderate risk level. Recommendations are to change the nozzle to an automatic nozzle, install a vapor recovery system, install rubber splash collars around the nozzle, and implement self-service.
Read More
S-11744
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cahyo Adhi Kusumo; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Sigit Wijayanto, Wahyu Hidayat
Abstrak:
Kecelakaan lalu lintas masih menjadi permasalahan serius, khususnya pada pengemudi truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) yang memiliki tingkat risiko kerja tinggi. Faktor manusia, terutama perilaku berkendara tidak aman, merupakan penyumbang terbesar terjadinya kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku berkendara pada pengemudi truk pengangkut BBM di PT. XYZ tahun 2025, meliputi faktor internal, faktor eksternal, dan faktor manajemen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 1.764 pengemudi dengan jumlah sampel sebanyak 105 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 51,4% pengemudi memiliki perilaku safety driving yang aman, sedangkan 48,6% masih tergolong tidak aman. Faktor internal yang berhubungan signifikan dengan perilaku berkendara meliputi pengetahuan, masa kerja, dan lama tidur. Pada faktor eksternal, kondisi kendaraan dan durasi mengemudi berhubungan signifikan dengan perilaku safety driving, sedangkan kondisi jalan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Pada faktor manajemen, SOP, pengawasan, sistem reward and punishment, serta pelatihan berhubungan signifikan dengan perilaku berkendara, sementara status kepegawaian dan kompensasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku berkendara pengemudi truk BBM dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, lingkungan kerja, dan sistem manajemen keselamatan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memperkuat penerapan K3 melalui pelatihan berkelanjutan, pengawasan yang efektif, pengaturan jam kerja dan waktu istirahat, serta penerapan sistem penghargaan dan sanksi yang konsisten guna menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas

Road traffic accidents remain a serious public health issue, particularly among fuel tank truck drivers who are exposed to high occupational risks. Human factors, especially unsafe driving behavior, are recognized as the leading contributors to traffic accidents. This study aimed to analyze factors affecting driving behavior among fuel tank truck drivers at PT. XYZ in 2025, including internal factors, external factors, and management factors. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. The study population consisted of 1,764 drivers, with a sample of 105 respondents. Data were collected using structured questionnaires and analyzed using statistical tests to determine the relationships between variables. The results showed that 51.4% of drivers demonstrated safety driving behavior, while 48.6% were categorized as having unsafe driving behavior. Internal factors significantly associated with driving behavior included knowledge, length of service, and sleep duration. Regarding external factors, vehicle condition and driving duration were significantly associated with safety driving behavior, whereas road conditions showed no significant association. Management factors such as standard operating procedures (SOP), supervision, reward and punishment systems, and training were significantly associated with driving behavior, while employment status and compensation were not significantly related. This study concludes that driving behavior among fuel tank truck drivers is influenced by a combination of individual characteristics, work environment conditions, and safety management systems. Therefore, companies are encouraged to strengthen occupational health and safety implementation through regular safety training, effective supervision, proper vehicle maintenance, adequate work–rest scheduling, and consistent enforcement of reward and punishment systems to reduce the risk of traffic accidents
Read More
T-7482
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive