Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Gunawan; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Chandra Satrya, Doni Agus Sumitro, Fermi Dwi Wicaksono
Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk melihat tingkat efektifitas komunikasi keselamatan yang telah dilakukan di lapangan produksi minyak dan gas PT HDL. Sebanyak 479 pekerja telah mengikuti survey secara online. Empat kriteria dengan nilai rata-rata penilaian efektitifitas komunikasi meliputi keterbukaan dan objektif mendapat nilai 8.36, informasi terkini dan relevan 8.21, kemudahan dipahami 8.20 serta umpan balik positif 8.03. Sehingga diperoleh nilai rata-rata keseluruhan kriteria efektifitas komunikasi sebesar 8.2 maka dapat dikategorikan sebagai efektif Faktor hambatan komunikasi di lokasi kerja meliputi tingkat pendidikan, pengalaman kerja, status pekerja dan jabatan. Analisis of variance dilakukan untuk melihat hubungan antara faktor hambatan komunikasi dengan kriteria komunikasi efektif. Ditemukan perbedaan signifikan faktor hambatan komunikasi dengan nilai signifikansi P <0.05 antara lain; (1) hambatan pendidikan dan pengalaman kerja terhadap kriteria keterbukaan dan objektifitas, (2) hambatan status pekerja terhadap kriteria umpan balik positif, (3) serta hambatan jabatan terhadap kriteria terbuka dan objektif, informasi terkini dan kemudahan untuk dipahami. Termasuk ditemukan hubungan dari setiap elemen komunikasi pengirim, informasi keselamatan dan media yang digunakan terhadap output yang diterima penerima meliputi aspek pengetahuan, sikap dan perilaku
Read More
T-6205
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puspitasari Ramadania; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: L. Meily KurniawidjadjaRidwan Zahdi Sjaaf, Dicky Tri Jatmiko, Nazly Kurniawan
Abstrak: Petugas shift merupakan bagian dari pekerja kritis di Instalasi RSG-GAS. Sistem kerja shift dan tuntutan kerja yang kompleks di instalasi nuklir menyebabkan petugas shift rentan mengalami kelelahan kerja. Kelelahan kerja memiliki kontribusi terhadap penurunan performa kerja, penurunan konsentrasi, penurunan pemenuhan prosedur maupun penurunan kewaspadaan pekerja. Dampak kelelahan kerja harus mampu teridentifikasi dan dikendalikan terutama di instalasi nuklir yang memiliki potensi bahaya yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kelelahan kerja petugas shift dan melakukan analisis terhadap faktor risiko yang berkontribusi terhadap kelelahan kerja petugas shift di RSG-GAS Tahun 2022. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, alat ukur lingkungan kerja, dan wawancara. Metode analisis menggunakan analisis deskriptif dan inferensial dengan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan seluruh petugas shift mengalami kelelahan dengan tingkat kelelahan ringan sebesar 31,25%, kelelahan sedang sebesar 64,58%, dan kelelahan berat sebesar 4,17%. Faktor risiko kelelahan kerja total adalah status Gizi yang diukur dengan indeks massa tubuh, kualitas tidur, beban kerja, dan desain tugas. Faktor risiko kelelahan umum adalah indeks massa tubuh, kualitas tidur, kuantitas tidur, konsumsi kafein, beban kerja, dan desain tugas. Faktor risiko kelelahan fisik adalah usia, kualitas tidur, kuantitas tidur, masa kerja, posisi kerja, beban kerja, desain tugas, dan tekanan udara negatif. Faktor risiko pelemahan aktivitas adalah kepuasan kerja. Faktor risiko pelemahan motivasi adalah kualitas tidur, kuantitas tidur, desain tugas dan shift malam. Faktor risiko kelelahan mental adalah kualitas tidur, beban kerja, desain tugas, pencahayaan, dan tekanan udara negatif. Rekomendasi pengendalian melibatkan manajemen dan petugas shift dengan mengembangkan program manajemen kelelahan kerja sesuai kondisi di Instalasi Nuklir.
Shift workers are part of critical workers at the RSG GAS Installation. The shift work system and complex work demands in nuclear installations cause shift workers to be prone to work fatigue. Work fatigue has contributed to decreased work performance, decreased concentration, decreased in procedure compliance, and reduced worker alertness. The impact of work fatigue must be able to be identified and controlled, especially in nuclear installations that have a large potential hazard. This study aims to evaluate the level of work fatigue of shift workers and analyze the risk factors that contribute to the work fatigue of shift workers at RSG-GAS in 2022. This research is a quantitative descriptive study with a cross-sectional design. The instruments used in this research are questionnaires, measuring tools for the environment, and interviews. The method of analysis in this research is descriptive and inferential analysis with a correlation test. The results showed that all shift workers experienced fatigue with mild fatigue level of 31,25%, moderate fatigue of 64,58%, and severe fatigue of 4,17%. The risk factors for work fatigue (total score) are nutritional status as measured by body mass index, sleep quality, workload and task design. The risk factors for general fatigue are body mass index, sleep quality, sleep quantity, caffeine consumption, workload, and task design. The risk factors for physical fatigue are age, sleep quality, sleep quantity, years of service, job role, workload, task design, and negative air pressure. The risk factor for reduced activity is job satisfaction. The risk factors for reduced motivation are sleep quality, sleep quantity, task design, and night shift. The risk factors for mental fatigue are sleep quality, workload, task design, lighting, and negative air pressure. Control recommendations involve management and shift worker by developing a work fatigue management program according to the conditions at the Nuclear Installation.
Read More
T-6469
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ambi Pradiptha; Pembimbing: Fatma Lestari, Dadan Erwandi; Penguji: Mila Tejamaya, I Gusti Suarnaya Sidemen, Teguh Cahyono
Abstrak: Gas klorin merupakan bahan kimia yang berbahaya karena sifatnya yang beracun dankorosif. Klorin juga termasuk ke dalam Extremely Hazardous Substances (EHS) ataubahan yang berbahaya sekali karena gas klorin dapat menimbulkan kematian (EPA,1990). Penelitian ini membahas tentang analisis risiko kebocoran gas pada fasilitastangki penyimpanan klorin di PT XYZ dengan mengasumsikan adanya korosi padavalve dan fusible plug tangki klorin. Dianalisa menggunakan pendekatan ComputationalFluid Dynamics 3 dimensi yang diproses dengan meggunakan perangkat lunak FLACS.Desain penelitian menggunakan analisis risiko secara kualitatif dengan desain deskriptifdan menggunakan FTA untuk menentukan skenario kebocoran dengan menggunakandata sekunder. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebaran kebocoran gas klorin yangdihasilkan dari pemodelan berpotensi menyebar tidak hanya didalam area PT XYZnamun juga sampai ke pemukiman penduduk dengan tingkat konsentrasi yangbervariasi mulai dari angka tertinggi 300 ppmv sampai 10 ppmv. PT XYZ disarankanuntuk selalu melakukan pengecekan berkala pada fasilitas tangki klorin, melakukanpelatihan tanggap darurat kebocoran klorin dan audit berkala sebagai bentuk upayapencegahan kebocoran klorin.Kata kunci: Kebocoran klorin, FLACS, Sebaran gas klorin, FTA.
Read More
T-5227
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Donny Agustinus Sitanggang; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Baiduri Winarko, Benyamin Argubie, Samy Awaludin
Abstrak: Tesis ini membahas iklim keselamatan pada pekerja di industri minyak dan gas, data iklim keselamatan pekerja diperoleh melalui survei daring. Pengumpulan data menggunakan metode survei yang bersumber dari survei yang digunakan pada jurnal (Sunindijo et al. 2019) dan (Loosemore et al. 2019) yang sudah digunakan pada industri lainnya yaitu industri bangunan, infrastruktur, konstruksi di Indonesia dan Australia. Survei dilakukan terhadap karyawan dan partner di industri minyak dan gas, hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada beberapa bagian antara karyawan dan partner, dan antara pekerja industri minyak dan gas dan pekerja industri lainnya. Dapat disimpulkan bahwa iklim keselamatan di industri migas sudah baik dan secara rerata lebih tinggi dari industri konstuksi, dimana di sisi positif pekerja industri migas merasa lingkungan kerjanya aman untuk bekerja, namun di sisi lain memerlukan perbaikan dalam implementasi peraturan dan prosedur keselamatan di tempat kerja.

The focus of this thesis is safety climate on oil and gas industry worker, the objective is to analyze safety climate in oil & gas industry and compare it with construction industry. Data collection is performed using a survei method which sourced from journal (Sunindijo et al. 2019) and (Loosemore et al. 2019) which already used in other industry such as building, infrastructure, construction in Indonesia and Australia. Safety climate data is obtained through online survei. Survei performed to employees and partners in oil and gas industry, this study shows that there is a significant difference on some part of employees and partners, and between oil and gas worker and construction industry worker. We can conclude that safety climate in oil & gas industry is already good and in average has higher value than construction industry, where on the positif side oil & gas industry worker feels their work environment is safe to work ,but need some improvement in safety rules and procedures implementation at work.
Read More
T-5864
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Yahya Tisna Wijaya; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Tri Krianto, Dian Ferdian, Mery Aderita
Abstrak: Tesis ini membahas studi kasus kecelakaan kerja akibat gas beracun di tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian desain deskriptif dan analisis dilakukan menggunakan metode Human Factor Analysis and Classification System (HFACS). Hasil penelitian mendapatkan bahwa terdapat 3 kasus kecelakaan akibat gas beracun di seluruh blok penambangan bawah tanah PTFI selama periode 2019-2022 dengan faktor risiko berasal dari tindakan tidak aman yang dikategorikan dalam Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) yang terbagi menjadi empat yaitu organizational influences, unsafe leadership, precondition for unsafe acts, dan unsafe acts. Pada penelitian didapatkan hasil kegagalan sistem pertahanan pada pengaruh organisasi dalam kasus keracunan gas beracun di dominasi kategori resource management berjumlah 7 kegagalan (57%), faktor-faktor penyumbang kegagalan sistem manajemen antara lain SOP, safety sign, Planned Inspection, PJO, Kebijakan K3, Data base incident management system dan komunikasi saat penyampaian instruksi kerja. Tingkat Unsafe Supervision dalam kasus keracunan gas beracun berjumlah 11 kegagalan (55%) dengan dominasi oleh kategori Supervisory Violation, faktor-faktor penyumbang kegagalan sistem manajemen antara lain Neil George Checklist, Bulkhead Ventilation, Re-entry Checklist, Airlock Door, Vent bag, Supervisor Inspection, Alat Pelindung Diri, Pengawasan di lapangan, kelayakan sistem ventilasi di lokasi kerja, observasi pengawas ke pekerja terkait pengoperasian portable gas detector dan instruksi kerja. Tingkat Precondition for Unsafe Acts dalam kasus keracunan gas beracun didominasi kategori Personal Readiness berjumlah 8 kegagalan (38%), faktor-faktor penyumbang kegagalan sistem manajemen antara lain peralatan blasting, PDA, pemahaman bahasa pengantar, emission test alat berat, ceklist stopevent dan ventilasi di area blasting, tidak mempedulikan alarm gas detector. Tingkat Unsafe Acts dalam kasus keracunan gas beracun berjumlah 11 kegagalan (46%) dari dominasi kategori Violation Routine, faktor-faktor penyumbang kegagalan sistem manajemen antara lain chemical handling, prosedur yang tidak memadai, sign nilai ambang batas dalam satu bahasa, dumper vent terhalang lumpur dan vent bag rusak, fixed gas detector belum terkalibrasi dan tertutup lumpur, evaluasi pelatihan tidak konsisten dilakukan, barikade area, tidak mengikuti re-entry protocol. Perusahaan disarankan untuk melakukan evaluasi pada program penanganan kecelakaan akibat gas beracun.
This thesis discusses case studies of work accidents due to toxic gas in PT Freeport Indonesia's underground mine. This research is a descriptive design research and the analysis was carried out using the Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) method. The results of the study found that there were 3 cases of accidents due to toxic gas in all PTFI underground mining blocks during the 2019-2022 period with risk factors originating from unsafe actions which were categorized in the Human Factor Analysis and Classification System (HFACS), which was divided into four, namely organizational influences, unsafe leadership, precondition for unsafe acts, and unsafe acts. In the study, the results of the failure of the defense system on organizational influence in cases of poison gas poisoning were dominated by the category of resource management totaling 7 failures (57%), contributing factors to the failure of the management system including SOP, safety sign, Planned Inspection, PJO, K3 Policy, Database incident management system and communication when submitting work instructions. . The level of Unsafe Supervision in cases of poison gas poisoning amounted to 11 failures (55%) with dominance by the Supervisory Violation category, contributing factors to management system failure including the Neil George Checklist, Bulkhead Ventilation, Re-entry Checklist, Airlock Door, Vent bag, Supervisor Inspection, Personal Protective Equipment, Supervision in the field, feasibility of the ventilation system at the work site, supervisor's observation of workers regarding the operation of portable gas detectors and work instructions. The level of Precondition for Unsafe Acts in cases of poison gas poisoning was dominated by the Personal Readiness category with 8 failures (38%), contributing factors to management system failure including blasting equipment, PDA, understanding of the language of instruction, emission test of heavy equipment, stop vent checklist and ventilation in the blasting area, ignoring the gas detector alarm. The level of Unsafe Acts in cases of poison gas poisoning amounted to 11 failures (46%) from the dominance of the Violation Routine category, contributing factors to management system failure including chemical handling, inadequate procedures, sign threshold values ​​in one language, dumper vents blocked by mud and the vent bag is damaged, the fixed gas detector has not been calibrated and is covered in mud, inconsistent training evaluations are carried out, barricaded areas, do not follow the re-entry protocol. Companies are advised to evaluate the program for handling accidents caused by toxic gasses.
Read More
T-6552
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ariani Khairunnisa Nasution; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Kurnia Sari, Amila Begraini, Atik Waharti
Abstrak: Pada 1 Januari 2014 dilaksanakan program Jaminan Kesehatan Nasional diIndonesia, dimana penyelenggaraannya dilaksanakan oleh BPJS. RS ANTangerang bekerjasama dengan BPJS sejak tahun 2014, dimana sejak saat itupeningkatan produktivitas kunjungan pelayanan RS sangat melonjak. Peningkatankunjungan tinggi juga terdapat di Perawatan Intensif dimana penyediaan gasoksigen menjadi salah satu kebutuhan penting. Peningkatan tersebut jugameningkatkan kebutuhan penyediaan gas medis oksigen. Perubahan pola biayapada pelayanan JKN dimana dibayarkan dalam konsep package payment ,sehingga penyediaan gas oksigen medis menjadi salah satu biaya besar yang perludievaluasi dalam penyediaanya. Terdapat beberapa sediaan gas medis oksigenuntuk pelayanan rumah sakit. Diantara pilihan tersebut manakah sediaan yangsesuai secara biaya dengan karakteristik RS AN. Penelitian ini bertujuanmenganalisis perbandingan biaya penyediaan gas oksigen dengan tabung silindergas, vessel gas liquid(VGL) dan oksigen liquid tank pada penyediaan gas medis diRumah Sakit AN Tangerang. Desain penelitian dari tesis ini bersifat kuantitatifmenggunakan rancangan retrospektif survey dengan dilakukan studi perbandinganbiaya (comparative study) diantara 3 alternatif yang ada. Dilakukan perhitunganbiaya dengan metode Activity Based Costing yang kemudian dilanjutkan dengananalisa perbandingan biaya dengan metode Cost Minimization Analysis. Darihasil penelitian didapatkan biaya pengadaan untuk masing-masing sediaan gasmedis sebesar rp 10.316,00 /m³ untuk sediaan tabung gas, rp 6.173,00 /m³ untuksediaan VGL dan rp 6.121,00 /m³ untuk sediaan tangki liquid. Biaya tersebut akanberbeda tergantung dengan besarnya biaya investasi, jumlah utilisasi dan letaksarana prasarana. Pemilihan sediaan liquid oksigen tangki 6 ton dengan kapasitas4.620 m³ untuk keperluan penyediaan gas medis pada RS AN dengan jumlahtempat tidur 170, ruang intensif sebanyak 19 tempat tidur, dengan BOR 60-67% ,pemakaian oksigen medis rata-rata sebesar 74.198 m³ per tahun, menjadi pilihaninvestasi dan penghematan biaya yang terbaik bila dibandingkan dengan sediaantabung gas maupun VGL .Kata kunci : Activity Based Costing; Cost Minimization Analysis; gas medis;oksigen; rumah sakit; tabung gas; Tangki Liquid; VGL.
On 1 January 2014, a National Health Insurance program (Jaminan KesehatanNasional/JKN) was implemented in Indonesia, where the implementation wascarried out by the BPJS. RS AN Tangerang collaborated with BPJS since 2014,where since then the increase in hospital service visit productivity has soared.Increased visits are also found in Intensive Care where the supply of oxygen gas isan important requirement. The increase also increases the need for oxygenmedical gas. Changes in the pattern of costs for JKN services are paid for in thepackage payment concept, so that the supply of medical oxygen gas is one of thebig costs that need to be evaluated in its provision. There are several medicaloxygen gas preparations for hospital services. Among these choices are thepreparations that are cost-appropriate with the characteristics of the RS AN. Thisstudy aims to analyze the comparison of the cost of providing oxygen gas with gascylinders, gas vessels liquid (VGL) and oxygen liquid tanks in the provision ofmedical gas at RS AN Tangerang . The research design of this thesis isquantitative using a retrospective survey design with a comparative study among 3alternatives. Cost calculation is done using Activity Based Costing method whichis then continued with cost comparison analysis using the Cost MinimizationAnalysis method. From the results of the study, the procurement costs for eachmedical gas preparation were Rp. 10,316.00 / m³ for gas cylinder preparations,Rp. 6,173.00 / m³ for VGL preparations and Rp. 6,121.00 / m³ for liquid tankpreparations. These costs will differ depending on the amount of investment costs,the amount of utilization and location of infrastructure. The selection of a 6-tonliquid oxygen tank with a capacity of 4,620 m³ for the purposes of providingmedical gas in RS AN with 170 beds, 19 intensive rooms, with a BOR of 60-67%,medical oxygen consumption an average of 74,198 m³ per year, becoming the bestinvestment choice and cost savings when compared to gas cylinders and VGL.Keywords: Activity Based Costing; Cost Minimization Analysis; medical gas;oxygen; hospital; gas cylinders; oxygen liquid tank; VGL.
Read More
B-2045
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sigit Wijayanto; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Muhiddin, Maruli C. Tampubolon
Abstrak: Pengangkutan bahan bakar minyak dengan menggunakan truk tangkimemiliki konsekuensi terhadap insiden kebakaran dan ledakan. Penelitian inimerupakan pemodelan kuantitatif dengan input sekunder yang diaplikasikandalam perangkat lunak ALOHA (Areal Location of Hazardous Atmosphere) padasalah satu jenis hidrokarbon yang menjadi komponen Premium, yaitu Pentana.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jangkauan konsekuensi daridampak dispersi gas, kebakaran, dan ledakan akibat kebocoran tangki padaaktivitas pengangkutan bahan bakar minyak dengan menggunakan truk tangki diSurabaya dan Jakarta. Hasil dari penelitian ini didapatkan jangkauan dankonsekuensi dispersi gas, kebakaran, dan ledakan untuk tiga zona berdasarkanlevel of concern dari setiap skenario yang berisiko terhadap keselamatan umum,keselamatan pekerja, keselamatan lingkungan, dan keselamatan peralatan/instalasi.Kata Kunci : Dispersi gas, kebakaran, ledakan, Pentana, pool fire, BLEVE, VCE
The transportation of fuel using the tank trucks haved consequences to thefires and explosions incident. This study is a quantitative modeling with input thesecondary data which applied in ALOHA (Areal Location of HazardousAtmosphere) software on one type of hydrocarbon that become Premiumcomponents, namely Pentane. The aims of this study was to determine theconsequences impact range of gas dispersion, fire and explosion due to tankleakage on fuel transportation using the tank truck in Surabaya and Jakarta. Theresults showed that the range and consequences of gas dispersion, fire, andexplosion for the three zones based on the level of concern of each scenario givedrisks to public safety, worker safety, environmental safety, andequipment/installation safety.Keywords: Gas dispersion, fire, explosion, Pentane, pool fire, BLEVE, VCE
Read More
T-4149
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ike Pujiriani; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Yulianto S. Nugroho, ALfajri Ismail
Abstrak:

Tesis ini pertama membahas dispersi gas, kebakaran dan ledakan akibat kebocoran tangki propana dan butana serta tabung LPG 3 kg. Bersifat kuantitatif. Disarankan pemilik tangki/penyalur LPG mengestimasikan jarak aman; membuat rencana tanggap darurat; mempersiapkan deteksi dini kebocoran dan maintenance. Pemerintah disarankan lebih teliti memberikan izin mendirikan tangki; melakukan pengawasan operasi tangki penyimpanan, terutama yang berlokasi di sekitar pemukiman penduduk.Kedua, keselamatan penyalur LPG 3 kg di Depok. Bersifat deskriptif. Disarankan penyalur LPG melakukan perbaikan secara bertahap, terutama pelatihan petugas; pemasangan lampu gas proof, alarm keadaan darurat dan gas detector; pembuatan OKD; penyediaan kotak P3K. Pemerintah disarankan mengawasi dan memfasilitasi kebutuhan penyalur.


ABSTRACT

This thesis firstly discuss the gas dispersion, fires, explosions caused by the propane and butane tank and LPG cylinder 3 kg leakage. Quantitatively. Tank owners/LPG distributors are suggested to estimate safe distance; create ERP; prepare for early leakage detection and maintenance. The Government are suggested more thoroughly give set-up tank permission; supervise storage tank operations, especially those located around settlements. Secondly, the safety of LPG 3 kg?sdistributor in Depok. Descriptively. Distributors are suggested to do improvements, especially training; gas proof lamps, emergency alarm and gas detector; emergency organization-making; first aid boxesprovision. The government are advised to oversees and facilitates the distributors?s needs;This thesis firstly discuss the gas dispersion, fires, explosions caused by the propane and butane tank and LPG cylinder 3 kg leakage. Quantitatively. Tank owners/LPG distributors are suggested to estimate safe distance; create ERP; prepare for early leakage detection and maintenance. The Government are suggested more thoroughly give set-up tank permission; supervise storage tank operations, especially those located around settlements. Secondly, the safety of LPG 3 kg?sdistributor in Depok. Descriptively. Distributors are suggested to do improvements, especially training; gas proof lamps, emergency alarm and gas detector; emergency organization-making; first aid boxesprovision. The government are advised to oversees and facilitates the distributors?s needs, This thesis firstly discuss the gas dispersion, fires, explosions caused by the propane and butane tank and LPG cylinder 3 kg leakage. Quantitatively. Tank owners/LPG distributors are suggested to estimate safe distance; create ERP; prepare for early leakage detection and maintenance. The Government are suggested more thoroughly give set-up tank permission; supervise storage tank operations, especially those located around settlements. Secondly, the safety of LPG 3 kg’sdistributor in Depok. Descriptively. Distributors are suggested to do improvements, especially training; gas proof lamps, emergency alarm and gas detector; emergency organization-making; first aid boxesprovision. The government are advised to oversees and facilitates the distributors’s needs]

Read More
T-3514
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sumarno; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Hendra, Muhammad Dawaman
Abstrak: Skripsi ini membahas mengenai profil iklim K3 di Perusahaan PHE Tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui iklim K3 yang ada di PHE Perusahaan multinasional yang bergerak di bidang minyak dan gas. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada para Karyawan PHE di Jakarta untuk kemudian dianalisa dengan menggunakan metode univariat dan bivariat terhadap variabel dependen dan independen yang digunakan. Hasil dari metode tersebut, kemudian dilakukan scoring terhadap berbagai variabel untuk kemudian dibuat grafik radar yang kemudian dianalisa oleh peneliti secara deskriptif. Kata kunci :Iklim K3, Perusahaan minyak dan gas, Profil This paper discusses the health and safety climate profile in PHECompany on 2015. This study aimed to determine the existing health and safety climate in the PHE.The multinational company engaged in oil and gas. This study was conducted by distributing questionnaires to the PHEemployees at Jakarta and then analyzed using univariate and bivariate methods to dependent and independent variables that are used. The results of these methods, then carried the scoring on a variety of variables and then graphed radar whichis then analyzed by researchers descriptively. Keyword: Health and Safetyclimate. Oil and Gas Company, Profile
Read More
S-8916
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Satrya Alfandi; Pembimbing; Dadan Erwandi; Penguji: Mila Tejamaya, Estu Prayogi
Abstrak: Hidrogen sulfida merupakan gas beracun yang terkandung pada instalasi produksi associated gas suatu industri eksplorasi minyak dan gas. Skripsi ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan semi kuantitatif menggunakan data sekunder perusahaan dan literature serta observasi lapangan yang kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak Areal Location Hazardous Atmosphere (ALOHA). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsekuensi yang terjadi berdasarkan jangkauan dispersi gas, dan populasi berisiko terpajan dari skenario kebocoran instalasi produksi associated gas yang sudah dirancang. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa skenario worst case (ruptur dan tidak terkendali) pada pipa gas berukuran 10 inch memiliki dispers gas paling luas. Dalam satu jam, dispersi gas H2S terjauh dengan AEGL-1 0.51 ppm (60min) mencapai 3.6 km dengan populasi berisiko mencakup penduduk yang tinggaldi sekitar area station produksi PT. X. Selain itu didapatkan gambaran pengetahuan populasi berisiko terpanajan mengenai bahaya kebocoran gas serta gambaran sistem keselamatan kebocoran gas yang tersedia di PT.X. Kata Kunci : Analisis Konsekuensi, dispersi gas beracun, ALOHA, Associatedgas, Hidrogen sulfide (H2S), Populasi berisiko
Hydrogen sulfide is a toxic gas that is contained on the installation of associated gas production of an oil and gas exploration industry. This thesis is adescriptive study with a semi-quantitative approach using secondary data from thecompany, literature and field observations. Then, these data are analyzed using thesoftware Areal Location of Hazardous Atmosphere (ALOHA). The purpose ofthis study was to determine the consequences that occur based on the range of gasdispersion, and population at risk to exposed of leakage scenarios that have beendesigned at the associated gas production installations.The results of this study found that the worst case scenario (uncontrolledrupture) in a 10 inches gas pipeline has the most extensive gas dispersion. Withinan hour, the farthest H2S gas dispersion with AEGL-1 0.51 ppm (60 min) reached3.6 km with a population at risk include people living in the surrounding area ofproduction station. Moreover, other results from this study were the level ofknowledge from population at risk about the dangers from gas leaks and gas leakssafety systems overview that available in PT.X.Keywords : Consequences analysis, Toxic gas dispersion, ALOHA, Associatedgas, Hidrogen Sulfida (H2S), Population at risk
Read More
S-8209
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive