Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk melihat clinical pathway dan perhitungan cost of treatment hemodialisa serta melihat gambaran benefisitas biaya hemodialisa dengan sistem KSO dan dikelola sendiri di RSUD Subang tahun 2013. Cost of treatment hemodialisa dengan sistem KSO dan dikelola sendiri adalah hasil perhitungan biaya langsung dan tidak langsung dengan kombinasi metode Activity Based Costing (ABC) dan Simple Distribution sesuai dengan clinical pathway hemodialisa. Cost diperoleh dengan menjumlahkan hasil perkalian antara cost of treatment masing-masing penjamin dengan jumlah tindakannya dalam satu bulan. Pendapatan diperoleh dengan menjumlahkan hasil perkalian antara tarif rumah sakit kepada masing-masing penjamin dengan jumlah tindakan dalam satu bulan. Hasil analisis benefisitas biaya hemodialisa ternyata sistem KSO lebih menguntungkan dibandingkan dengan dikelola sendiri.
ABSTRACT This study was conducted to look at clinical pathways, calculation of cost of treatment of hemodialysis and to figure of the level of benefits of cost of hemodialysis either by the KSO and self-managed system in Subang District Hospital in 2013. Cost of hemodialysis treatment both by the KSO and self-managed system is the calculation of direct and indirect costs with a combination of Activity Based Costing (ABC) and Simple Distribution, according to clinical pathways of hemodialysis. Cost obtained it by summing the results of multiplying the cost of treatment of each guarantor with the number of actions in a single month. Revenues obtained by summing the multiplication of hospital rates for each guarantor with the amount of action in a single month. The results of the analysis of the level of benefits of cost of hemodialysis appeared the KSO system was more profitable than the self-managed.
The INA-CBG payment system is a paymend basd on the rate of grouping diagnoses that have clinical closeness and homogeneity of the resources used. Hospitals will be paid based on the average cost spent by a diagnostic group. This system has been implemented by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in order to improve service quality. This study aims to determine the description of the calculation of hemodialysis service rates using the Activity Based Costing method. The research is a quantitative research with a descriptive design. The results of this study indicate that in the hemodialysis service there is a difference between the average unit cost using the Activity Based Costing method on the Nipro machine and the Fresenius machine. Costs with this methods are known to be lower when compared to HD BPJS rates and hospital rates. This shows that using the Activity Based Costing method provides a advantage for the hospital.
Number of patients with End Stage Renal Disease (ESRD) in Indonesia is growing.The increased prevalence of hypertension and diabetes mellitus is a contributor tothe increase in patients with CKD (Chronic Kidney Disease). Ever sinceContinuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) was intoduced as a form ofrenal replacement therapy, CAPD still small number of users and Haemodilysis stillconstitute the majority of renal replacement therapy in Indonesia. The aim of thisstudy is to analize the cost effectiveness between HD and CAPD on ESRD patients.Study compared 78 HD patients at PMI Hospital in Bogor and 10 CAPD patientsat Fatmawati Hospital in Jakarta. Patient quality of life interviewed by SF 36questionnaire. Economic burden divided in two measurement. Direct medical costmeasured by INA CBGs packet, direct non medical cost (transportation, food forpatient and family) and indirect medical cost (opportunity cost) will be measure byeconomic burden questionnaire. Haemodialysis total cost per year is Rp133.396.692,- and Rp 81.680.000,- for CAPD. 46,2% Haemodialysis patient hasgood quality of life and 90% for CAPD. Bivariat analysis showed Quality of lifeCAPD patient significant in phisical activities, emotional, pain, energy, sosialfunction and sanity. CAPD is cost effective compare to HD with ICER Rp2.032.889,- for ekstra better emotional role and Rp 1.780.265,- for ekstra betterphisical role and dominant for cost and quality of life at CE PlanKey words: cost effectiveness analysis, Haemodialysis, CAPD
Latar Belakang. Semakin tingginya kasus gagal ginjal menuntut juga peningkatan terapi hemodialisis di rumah sakit. Mengingat harga alat Hemodialisis yang cukup mahal, maka perlu bagi rumah sakit yang merencanakan pengadaan fasilitas ini untuk melakukan analisis investasi dan penetapan tarif dengan baik. Menurut Ikhsan.A (2010) yang paling penting dalam keputusan investasi adalah keputusan penganggaran modal (capital budgeting). Metode. Jenis Penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Arah penelitian ini mengenai nilai ekonomis dengan suatu analisa keuangan dari suatu pengadaan alat hemodialisa. Metode analisa yang digunakan adalah capital budgeting dengan metode Discounted Payback Period, metode Net Present Value, metode Internal Rate of Return, dan metode Protability Index. Hasil. Hasil analisa yang didapatkan menunjukkan pengadaan investasi alat hemodialisa lebih baik pengadaannya dengan sistem pinjam pakai (KSO). Ini bukan hanya menghemat dalam biaya investasi saja, akan tetapi juga menghemat biaya pemeliharaan. Hasil analisa juga menunjukkan perlunya efisiensi pada jumlah perawat dan juga perlunya peningkatan promosi untuk meningkatkan jumlah pasien tiap tahunnya. Sebagai hasil dari penelitian ini diharapkan Rumah Sakit MH Thamrin Salemba terus mengembangkan upaya promosi pada unit hemodialisa dan melakukan upaya pro aktif untuk mempertahankan pasien yang ada, selain itu perlunya juga melakukan efisiensi pada sumber biaya yang ada untuk mencapai keuntungan yang optimal. Kepustakaan 32 (1995- 2010), Gambar 1, Tabel 39, Lampiran 9 Kata Kunci : Alat Hemodialisa, Investasi, Capital Budgeting.
Latar Belakang. Semakin tingginya kasus gagal ginjal menuntut juga peningkatan terapi hemodialisis di rumah sakit. Mengingat harga alat Hemodialisis yang cukup mahal, maka perlu bagi rumah sakit yang merencanakan pengadaan fasilitas ini untuk melakukan analisis investasi dan penetapan tarif dengan baik. Menurut Ikhsan.A (2010) yang paling penting dalam keputusan investasi adalah keputusan penganggaran modal (capital budgeting). Metode. Jenis Penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Arah penelitian ini mengenai nilai ekonomis dengan suatu analisa keuangan dari suatu pengadaan alat hemodialisa. Metode analisa yang digunakan adalah capital budgeting dengan metode Discounted Payback Period, metode Net Present Value, metode Internal Rate of Return, dan metode Protability Index. Hasil. Hasil analisa yang didapatkan menunjukkan pengadaan investasi alat hemodialisa lebih baik pengadaannya dengan sistem pinjam pakai (KSO). Ini bukan hanya menghemat dalam biaya investasi saja, akan tetapi juga menghemat biaya pemeliharaan. Hasil analisa juga menunjukkan perlunya efisiensi pada jumlah perawat dan juga perlunya peningkatan promosi untuk meningkatkan jumlah pasien tiap tahunnya. Sebagai hasil dari penelitian ini diharapkan Rumah Sakit MH Thamrin Salemba terus mengembangkan upaya promosi pada unit hemodialisa dan melakukan upaya pro aktif untuk mempertahankan pasien yang ada, selain itu perlunya juga melakukan efisiensi pada sumber biaya yang ada untuk mencapai keuntungan yang optimal. Kepustakaan 32 (1995- 2010), Gambar 1, Tabel 39, Lampiran 9 Kata Kunci : Alat Hemodialisa, Investasi, Capital Budgeting.
Perawat sebagai salah satu sumber daya manusia di rumah sakit merupakan ujung tombak pelayanan yang harus direncanakan secara matang, baik secara kuantitas (beban kerja) maupun kualitas (kompetensi kerja). Dalam penelitian ini akan dibahas tentang analisa kebutuhan tenaga keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan beban kerja (menggunakan time and motion study kepada 8 perawat kemudian diolah dengan Metode Ilyas) dan kompetensi kerja (depth interview kepada tiga informan dengan fokus kepada pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan dan sikap). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat satu dan atau dua tenaga perawat dengan kualifikasi minimal lulusan D3 keperawatan yang telah diikutkan pelatihan hemodialisa.
Nurses, as one kind of the human resources in hospitals, act as a frontline service that should be planned thoroughly, both in its quantity (based on workload) and quality (based on competencies). This research was about needs assessment of nursing personnel in the Hemodialysis Installation of RSUP Persahabatan based on workload (using time and motion study technique then manipulated by Ilyas Method) and competencies (depth interview focusing on job knowledge, skill and attitude, on three subjects). The research concluded that there is one or two nursing shortage, having qualification of D3 of nursing (as minimal education) and hemodialysis training.
Malnutrisi merupakan komplikasi serius yang umum terjadi pada pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK) yang menjalani hemodialisa (HD). Kondisi ini berdampak negatif terhadap kualitas hidup, meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kejadian malnutrisi pada pasien PGK dengan HD di RSUP Fatmawati Jakarta. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari 133 pasien rawat jalan yang menjalani HD minimal tiga bulan. Status gizi diukur menggunakan metode Subjective Global Assessment (SGA). Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner dan Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), sementara data sekunder berasal dari telaah rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa usia ≥60 tahun (OR = 2,9; p = 0,036) dan asupan energi <70% dari kebutuhan harian (OR = 7,8; p = 0,003) berhubungan signifikan dengan kejadian malnutrisi. Faktor lain seperti jenis kelamin, durasi dan frekuensi HD, komorbiditas (diabetes melitus, hipertensi, penyakit kardiovaskular), serta asupan protein, lemak, dan karbohidrat tidak berhubungan signifikan secara statistik. Temuan ini menegaskan bahwa usia lanjut dan defisit asupan energi merupakan faktor dominan terhadap risiko malnutrisi. Oleh karena itu, pemantauan status gizi secara berkala dan intervensi gizi yang difokuskan pada peningkatan asupan energi perlu menjadi prioritas dalam tata laksana pasien HD. Strategi yang disarankan meliputi konseling gizi individual, edukasi kepada keluarga, dan pemberian oral nutrition supplement jika diperlukan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan kebijakan intervensi gizi berbasis bukti dan penyusunan pedoman pemantauan gizi bagi pasien PGK dengan HD di rumah sakit rujukan nasional. Pendekatan multidisiplin antara dokter, ahli gizi, perawat, dan keluarga sangat diperlukan untuk mendukung pencapaian status gizi optimal secara berkelanjutan.
Malnutrition is a serious complication commonly found in patients with Chronic Kidney Disease (CKD) undergoing hemodialysis (HD). This condition negatively affects quality of life and increases the risks of morbidity and mortality. This study aimed to analyze the factors associated with malnutrition among CKD patients undergoing HD at Fatmawati Central General Hospital, Jakarta. The study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 133 outpatients who had been on HD for at least three months. Nutritional status was assessed using the Subjective Global Assessment (SGA) method. Primary data were collected through interviews using structured questionnaires and a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), while secondary data were obtained from medical records. Data analysis included univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate analyses using multiple logistic regression. The results showed that patients aged ≥60 years (OR = 2.9; p = 0.036) and those with energy intake <70% of daily requirements (OR = 7.8; p = 0.003) had a significantly higher risk of malnutrition. Other variables such as sex, duration and frequency of HD, comorbidities (diabetes mellitus, hypertension, cardiovascular disease), and intake of protein, fat, and carbohydrates were not statistically associated with nutritional status. These findings highlight that older age and insufficient energy intake are dominant risk factors for malnutrition. Therefore, regular nutritional monitoring and interventions focused on increasing energy intake should be prioritized in the management of HD patients. Recommended strategies include individualized nutrition counseling, family education, and provision of oral nutrition supplements when necessary. This study is expected to serve as a foundation for the development of evidence-based nutrition intervention policies and guidelines for nutritional monitoring of CKD patients undergoing HD in national referral hospitals. A multidisciplinary approach involving physicians, dietitians, nurses, and family members is essential to support the achievement of optimal and sustainable nutritional status in HD patients.
