Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kata Kunci:Perbandingan layanan hemodialisis
Comparison Outpatient Hemodialysis Patient Between Outsourcing System And JoinOperational System Consideration Cost Factor And Hospital Policy At Puri Cinere Hospital In2013 is a description of comparison outpatient at Puri Cinere Hospital.This Study is to compare the advantage and disadvantage hemodialysis service inoutsourcing system and join operational system, to determine outpatient average cost unit inoutsourcing sistem undergo at Puri Cinere Hospital, to determine average outpatient cost unit injoin operational system to become alternative choice, to determine which system give moreadvantage to Puri Cinere Hospital between outsourcing system and join operational system, todetermine hospital policy to undergo hemodialysis service. This study uses a case study withpartial economic evaluation approach. A quantitative approach is done by calculating cost unitthat become the basic of determining of hemodialysis tariff. A qualitative approach is done bydeep interview to gain information about the basic choice undergo outsourcing system and futherplan after the end of the outsourcing period.The result showed that building investment is the highest cost in investment cost, andnon medic investment is the lowest cost in investment cost. Total cost of hemodialysis inoutsourcing system in 2013 is higher than join operational system.The actual cost and the normative cost unit of hemodialysis service with outsourcingsystem is lower than Puri Cinere Hospital hemodialysis service tariff. The same conditionhappen in Join Operational system. Cost Recovery Rate (CRR) in outsourcing system is lower(109.06%) than CRR in Join Operational System (121.63%), The Illustration above shows thatthe Join Operational System give more advantage compare to outsourcing system. Hospitalpolicy to hemodialysis service after the end of the period with outsourcing depends onnegotiation between two sides, and must be evaluated especially in terms of cost sharing. Theresult of this negotiation could become a basic to take a further decision.
Keywords:Comparison of outpatient hemodialysis
Latar Belakang. Semakin tingginya kasus gagal ginjal menuntut juga peningkatan terapi hemodialisis di rumah sakit. Mengingat harga alat Hemodialisis yang cukup mahal, maka perlu bagi rumah sakit yang merencanakan pengadaan fasilitas ini untuk melakukan analisis investasi dan penetapan tarif dengan baik. Menurut Ikhsan.A (2010) yang paling penting dalam keputusan investasi adalah keputusan penganggaran modal (capital budgeting). Metode. Jenis Penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Arah penelitian ini mengenai nilai ekonomis dengan suatu analisa keuangan dari suatu pengadaan alat hemodialisa. Metode analisa yang digunakan adalah capital budgeting dengan metode Discounted Payback Period, metode Net Present Value, metode Internal Rate of Return, dan metode Protability Index. Hasil. Hasil analisa yang didapatkan menunjukkan pengadaan investasi alat hemodialisa lebih baik pengadaannya dengan sistem pinjam pakai (KSO). Ini bukan hanya menghemat dalam biaya investasi saja, akan tetapi juga menghemat biaya pemeliharaan. Hasil analisa juga menunjukkan perlunya efisiensi pada jumlah perawat dan juga perlunya peningkatan promosi untuk meningkatkan jumlah pasien tiap tahunnya. Sebagai hasil dari penelitian ini diharapkan Rumah Sakit MH Thamrin Salemba terus mengembangkan upaya promosi pada unit hemodialisa dan melakukan upaya pro aktif untuk mempertahankan pasien yang ada, selain itu perlunya juga melakukan efisiensi pada sumber biaya yang ada untuk mencapai keuntungan yang optimal. Kepustakaan 32 (1995- 2010), Gambar 1, Tabel 39, Lampiran 9 Kata Kunci : Alat Hemodialisa, Investasi, Capital Budgeting.
Latar Belakang. Semakin tingginya kasus gagal ginjal menuntut juga peningkatan terapi hemodialisis di rumah sakit. Mengingat harga alat Hemodialisis yang cukup mahal, maka perlu bagi rumah sakit yang merencanakan pengadaan fasilitas ini untuk melakukan analisis investasi dan penetapan tarif dengan baik. Menurut Ikhsan.A (2010) yang paling penting dalam keputusan investasi adalah keputusan penganggaran modal (capital budgeting). Metode. Jenis Penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Arah penelitian ini mengenai nilai ekonomis dengan suatu analisa keuangan dari suatu pengadaan alat hemodialisa. Metode analisa yang digunakan adalah capital budgeting dengan metode Discounted Payback Period, metode Net Present Value, metode Internal Rate of Return, dan metode Protability Index. Hasil. Hasil analisa yang didapatkan menunjukkan pengadaan investasi alat hemodialisa lebih baik pengadaannya dengan sistem pinjam pakai (KSO). Ini bukan hanya menghemat dalam biaya investasi saja, akan tetapi juga menghemat biaya pemeliharaan. Hasil analisa juga menunjukkan perlunya efisiensi pada jumlah perawat dan juga perlunya peningkatan promosi untuk meningkatkan jumlah pasien tiap tahunnya. Sebagai hasil dari penelitian ini diharapkan Rumah Sakit MH Thamrin Salemba terus mengembangkan upaya promosi pada unit hemodialisa dan melakukan upaya pro aktif untuk mempertahankan pasien yang ada, selain itu perlunya juga melakukan efisiensi pada sumber biaya yang ada untuk mencapai keuntungan yang optimal. Kepustakaan 32 (1995- 2010), Gambar 1, Tabel 39, Lampiran 9 Kata Kunci : Alat Hemodialisa, Investasi, Capital Budgeting.
ABSTRAK Nama : Firda Tania Program Studi: Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Cost and Outcome Analysis Tindakan Hemodialisis Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) di Rumah Sakit Kelas B dan C Tahun 2016 Latar belakang: GGK merupakan kondisi yang semakin meningkat kejadiannya, menghabiskan banyak biaya dan mengakibatkan hilangnya produktivitas. Sejak 2014, BPJS menanggung sebagian besar biaya hemodialisis (HD) di Indonesia dengan besaran tarif yang berbeda sesuai kelas Rumah Sakit (RS). Pertanyaan penelitian ini ialah apakah tarif BPJS yang dibayarkan lebih tinggi pada kelas RS lebih tinggi menghasilkan hasil yang lebih baik atau malah mencerminkan inefisiensi. Selain itu, perlu diketahui pula apakah terdapat perbedaan biaya yang sebenarnya dikeluarkan RS dengan kelas berbeda untuk menyelenggarakan HD. Metode: Studi evaluasi ekonomi ini dilakukan di dua RS dengan kelas berbeda: kelas B (RS B) dan kelas C (RS C). Responden dipilih dari pasien GGK yang menjalani HD di kedua RS selama Februari-April 2016. Analisis biaya menurut perspektif pasien dengan metode kuantitatif, sedangkan perspektif RS dengan metode kualitatif. Analisis hasil dilakukan penilaian kualitas hidup (instrumen EQ-5D), IDWL dan Hb. Perbedaan rerata nilai hasil diuji dengan Student’s t-test. Hasil: Pada penelitian, total responden sebanyak 100 orang (RS B 76 orang & RS C 24 orang). Menurut perspektif pasien, biaya langsung medis HD selama sebulan di RS B Rp5.215.331 dan di RS C Rp7.781.744. Biaya langsung non medis HD selama sebulan di RS B Rp566.260 dan di RS C Rp334.500. Biaya tidak langsung HD selama sebulan di RS B Rp165.530 dan di RS C Rp45.830. Rerata total biaya HD selama sebulan di RS B Rp6.149.285 dan di RS C Rp8.162.077. Menurut perspektif RS, tidak terdapat perbedaan biaya yang sebenarnya dikeluarkan oleh RS dengan kelas berbeda untuk menyelenggarakan HD. Pada hasil didapatkan bahwa rerata Hb pada RS B (M=10,26) berbeda secara signifikan dengan RS C (M=8,21), t(98)= 8,244, p= 0,000. Rerata IDWL pada RS B (M= 0,0403) tidak berbeda secara signifikan dengan RS C (M= 0,0438), t(98)= -1,326, p= 0, 188. Rerata EQ Indeks pada RS B (M= 0,7178) tidak berbeda secara signifikan dengan RS C (M= 0,7208), t(98)= -0,075 p= 0,94. Rerata EQVAS pada RS B (M= 64,74) tidak berbeda secara signifikan dengan RS C (M= 64,79), t(98)= -0,018 p= 0,986. Kesimpulan: Pada penilaian efektivitas HD tanpa melibatkan tambahan sumber daya, tidak terdapat perbedaan hasil secara signifikan diantara kedua kelas RS. Fakta bahwa pengeluaran yang lebih besar dari BPJS tidak mengakibatkan hasil kesehatan yang lebih baik biasanya diinterpretasikan sebagai bukti adanya inefisiensi. Biaya RS dengan kelas berbeda untuk menyelenggarakan HD pun tidak berbeda karena secara persyaratan sama. Perbedaan biaya medis langsung dari billing RS berkaitan dengan status kepemilikan RS dan perbedaan rerata Hb berkaitan dengan perbedaan akses terhadap koreksi anemia yang ada di kedua RS. Kata Kunci: Cost and Outcome Analysis, Hemodialisis, Kelas RS, Tarif BPJS
ABSTRACT Name : Firda Tania Study Program: Hospital Administration Title : Cost and Outcome Analysis of Hemodialysis on Chronic Kidney Disease (CKD) Patients at Class B and C Hospital in 2016 Background: Chronic kidney disease (CKD) is an increasing condition, which consumes a lot of cost and causes productivity lost. Since 2014, BPJS has covered most of hemodialysis (HD) in Indonesia with different tariff according to hospital’s classification. The research question is whether higher tariff paid to higher hospital class produced better outcome or otherwise reflecting inefficiency. The other question is whether hospital’s real cost to effectuate HD unit was different according to hospital’s class. Methods: This economic evaluation study was conducted in two hospitals with different classification; class B (B Hospital) and class C (C Hospital). Respondents were chosen from CKD patients undergoing hemodialysis in both hospital during Februari to April 2016. Costs from patient’s perspective were analyzed using quantitative method, while hospital’s perspective were analyzed using qualitative method. As outcomes, HRQOL assessed using EQ-5D instrument, mean IDWL & Hb. Differences in outcomes tested using T-test. Results: In this study, total respondents participated were 100 patients; 76 from B hospital and 24 from C hospital. According to patient’s perspective, HD direct medical cost monthly average was IDR 5.215.331 in B hospital and IDR 7.781.744 in C hospital, direct non medical cost monthly average was IDR 566.260 in B hospital and IDR 334.500 in C hospital and indirect cost monthly average was IDR 165.530 in B hospital and IDR 45.830 in C hospital, so total HD cost monthly average was IDR 6.149.285 in B hospital and IDR 8.162.077. According to hospital’s perspective, there were no difference in hospital’s real cost to effectuate HD unit. Outcome results found that mean Hb in B hospital (10,26) were significantly different from mean Hb in C hospital (8,21), t(98)= 8,244, p=0,000. While mean IDWL in B (0,0403) were not significantly different with mean IDWL in C (0,0438), t(98)= -1,326, p=0,188. Mean EQ Indeks score (0,7178) and EQ VAS score (64,74) in B hospital were not significantly different with mean EQ Indeks score (0,7208) and EQ VAS (64,79) in C hospital, t(98)=0,075, p=0,94 and t(98)=-0,018, p=0,986 respectively. Conclusion: This findings showed that in hemodialysis effectivity assessment which did not include the use of additional resources from standard (PMK No. 812/2010), there were no significant difference in outcome in two different class of hospitals. Higher CBGs tariff for higher class of hospital had not produced better health outcome, which usually interpreted as an evidence of inefficiency. Hospital’s real cost to effectuate HD unit were not different since the requirements were the same (PMK 812/2010). Difference in direct medical cost from hospital billing related to hospital’s ownership status and difference of mean Hb related to different access to anemia correction in both hospital. Keywords: Cost & Outcome Analysis, Hemodialysis, Hospital Class, BPJS tariff
Perawat sebagai salah satu sumber daya manusia di rumah sakit merupakan ujung tombak pelayanan yang harus direncanakan secara matang, baik secara kuantitas (beban kerja) maupun kualitas (kompetensi kerja). Dalam penelitian ini akan dibahas tentang analisa kebutuhan tenaga keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan beban kerja (menggunakan time and motion study kepada 8 perawat kemudian diolah dengan Metode Ilyas) dan kompetensi kerja (depth interview kepada tiga informan dengan fokus kepada pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan dan sikap). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat satu dan atau dua tenaga perawat dengan kualifikasi minimal lulusan D3 keperawatan yang telah diikutkan pelatihan hemodialisa.
Nurses, as one kind of the human resources in hospitals, act as a frontline service that should be planned thoroughly, both in its quantity (based on workload) and quality (based on competencies). This research was about needs assessment of nursing personnel in the Hemodialysis Installation of RSUP Persahabatan based on workload (using time and motion study technique then manipulated by Ilyas Method) and competencies (depth interview focusing on job knowledge, skill and attitude, on three subjects). The research concluded that there is one or two nursing shortage, having qualification of D3 of nursing (as minimal education) and hemodialysis training.
Pendahuluan: Salah satu kebijakan Kementerian Kesehatan untuk peningkatan layanan berkualitas adalah pemanfaatan Single Use Dialiser bagi pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjalani hemodialisis. Rumah Sakit mendapat imbalan tarif baru dan sistem insentif apabila melaksanakan single use dialiser (Permenkes 3/2023). Penelitian ini bertujuan mendapat gambaran kesiapan serta hambatan di Instalasi Dialisis Rumah Sakit dalam menjalankan kebijakan single use dialiser.
Metodologi: Balance scorecard digunakan untuk memotret pelayanan hemodialisis sebelum dan setelah diberlakukan Permenkes Nomor 3 Tahun 2023.
Hasil: Pelayanan HD yang belum menggunakan single use mempengaruhi capaian kinerja tahun 2023. Pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan ditemukan beban kerja perawat yang tidak ideal karena harus mencuci dialiser yang telah dipakai. Pada perspektif proses bisnis intenal terdapat peningkatan kejadian rawat inap pada pasin rutin HD dan ditemukan kejadian dialiser tertukar. Pada perspektif pelanggan menyebabkan turunnya kepuasan pasien, dan pada perspektif keuangan terdapat penurunan rasio profitabilitas.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan HD dengan single use dapat dilaksanakan di Unit Dialisis RS UI. Jika tidak dilaksanakan berpengaruh pada capaian kinerja dalam semua perspektif balance scorecard.
Kematian pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) pada usia dewasa yang menjalankan hemodialisis setelah tiga bulan adalah jarang. Namun, masih mungkin terjadi. Padahal layanan hemodialisis dibutuhkan seumur hidup. Tujuan studi ini adalah engetahui faktor – faktor risiko yang berhubungan dengan kematian pasien PGK usia dewasa yang menjalankan hemodialisis reguler. Metode yang digunakan adalah kasus kontrol tanpa pencocokkan dengan perbandingan 1:2. Uji statistik yang digunakan adalah regresi logistik. Faktor risiko yang berhubungan terhadap kematian adalah riwayat gagal jantung (OR = 2,3; IK 95% = 1,2 – 4,4; nilai p = 0,009), riwayat obstruksi pasca ginjal (OR = 3,5; IK 95% = 1,6 – 7,6; nilai p = 0,002), glukosa sewaktu ≥140 mg/dl (OR = 2,1; IK 95% = 1,2 – 3,6; nilai p = 0,011), Gangguan Ginjal Akut (GGA) (OR = 6,5; IK 95% = 3,8 – 11,1; nilai p = 0,000), dan Indeks Massa Tubuh (IMT) <18,5 kg/mm2 (OR = 3,0; IK 95% = 1,2 – 7,6; nilai p = 0,019).
Faktor – faktor risiko yang berhubungan dengan kematian pasien PGK pada usia dewasa yang menjalankan hemodialisis reguler adalah riwayat gagal jantung, riwayat obstruksi pasca ginjal, glukosa sewaktu ≥140 mg/dl, GGA, dan IMT <18,5 kg/mm2
Mortality of Chronic Kidney Disease (CKD) patients in adults undergoing hemodialysis after three months is rare. However, it is still possible. Even though hemodialysis services are needed for life. The objective of this study is to determine the risk factors associated with the death of adult CKD patients undergoing regular hemodialysis. The study design was unmatched control case with a ratio of 1:2. The statistical test used was logistic regression. Risk factors were history of heart failure (OR = 2.3; CI 95% = 1.2 – 4.4; p value = 0.009), history of obstruction post renal (OR = 3.5; CI 95% = 1.6 – 7.6; p value = 0.002), random glucose ≥140 mg/dl (OR = 2.1; CI 95% = 1.2 – 3.6; p value= 0.011), Acute Kidney Injury (AKI) (OR = 6.5; CI 95% = 3.8 – 11.1; p value = 0.000), and Body Mass Index
