Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kencana Sari; Promotor: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Endang L. Achadi, Atmarita; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Hartono Gunardi, Widjaja Lukito, Yekti Widodo
Abstrak:
Agar dapat mencegah permasalahan akibat stunted di usia selanjutnya, anak yang sudah stunted diupayakan dapat mengejar pertumbuhan pada waktu yang tepat. Tujuan penelitian menganalisis insiden, waktu, dan faktor terkait kejar tumbuh pada anak stunted dan tidak stunted. Waktu dan bagaimana kejar tumbuh terjadi pada anak stunted dan tidak stunted penting diketahui sebagai dasar pertimbangan intervensi. Metode Penelitian ini adalah penelitian longitudinal dengan menggunakan data penelitian Kohor Tumbuh Kembang Anak (KTKA) yang dilaksanakan sejak tahun 2012 di Kota Bogor. Sampel penelitian ini adalah Balita yang menjadi sampel pada Studi Kohor Tumbuh Kembang dengan pengukuran berulang. Anak balita yang dimaksud adalah anak yang lahir pada rentang tahun 2012-2014 dan diikuti setiap tahun hingga anak berusia 5 tahun (pada tahun 2017-2019). Pengukuran dilakukan di beberapa titik waktu yaitu pada usia 1 tahun (baseline), kemudian kembali diamati (follow up) pada saat usia 2, 3, 4, dan 5 tahun. Hasil: Kejar tumbuh pada level individual terjadi pada anak, apapun indikator yang digunakan (HAD,HAZ, pulih dari stunted) dengan incidence rate antara 19,7 sampai dengan 76,6 per 100 anak per tahun, Pada anak yang tidak stunted hampir 2 kali lebih cepat dibandingkan anak stunted. Median survival time kejar tumbuh pada anak stunted adalah 36 bulan, 14 bulan, dan 24 bulan berurutan menurut indikator HAD, HAZ, dan pulih dari stunted. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejar tumbuh dipengaruhi oleh konsumsi energi anak pada umur 24 bulan, tinggi ibu pada usia 24, 36, 48, 60 bulan.

In order to prevent adverse effects of stunted in later life, stunted children shall catch growth at the right time. The aims of this study are to analyze the incidence, timing, and identify the determinants of catch-up growth on stunted and non-stunted children. Knowing time and how catch-up growth can be achieved on stunted children is important as basis for interventions. Method, this research is a longitudinal study using data from the Child Growth and Development Cohort Study (KTKA) conducted since 2012 in Bogor City. The sample is children who participated the Child Growth and Development Cohort Study and were born in the 2012-2014 period and followed every year until the child is 5 years old (in 2017-2019). Measurements were made at several points time, namely at the age of 1 year (baseline) then followed up at ages 2, 3, 4, and 5 years. Results, catch up growth occurs at the individual level in children regardless of the indicators used (HAD, HAZ, recovered from stunted) with an incidence rate of between 19.7 to 76.6 per 100 children per year. Not stunted children can accelerate their growth twice faster than stunted children. The median survival time of catch up in stunted children was 36 months, 14 months, and 24 months respectively according to the indicators of HAD, HAZ, and recovered from stunted. The results of this study indicate that the pursuit of catch-up growth was influenced by energy consumption of children at the age of 24 months, the height of the mother at the aged of 24, 36, 48, 60 months.
Read More
D-470
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Wurisastuti; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Woro Riyadina, Felly Philipus Senewe
Abstrak: Hipertensi tidak terkontrol merupakan masalah kesehatan global karena dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Salah satu factor terjadinya hipertensi tidak terkontrol adalah perilaku tidak sehat seperti kebiasaan merokok. penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan trend hipertensi tidak terkontrol selama 7 tahun pengamatan dan menilai besaran hubungan perilaku merokok dengan hipertensi tidak terkontrol pada orang dewasa yang dikontrol oleh kovariat lainnya selama 7 tahun pengamatan. Penelitian ini merupakan penelitian longitudinal, dimana subjek yang sama diukur outcome dan pajanannya berulang pada setiap tahun pengamatan. Sumber data berasal dari data Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular tahun 2011-2019. Populasi adalah responden yang mengalami hipertensi di awal penelitian. Analisis data multivariate dilakukan dengan analisis Generalized Estimating Equations (GEE) dengan Working Correlation Structure (WCS) Autoregressive (1). Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa prevalensi hipertensi tidak terkontrol pada orang dewasa selama 7 tahun pengamatan di Kota Bogor mengalami penurunan dari 87,0% pada tahun pertama menjadi 76,4% pada tahun ke-7 pengamatan. Asosiasi perilaku merokok dengan hipertensi tidak terkontrol berbeda berdasarkan waktu. Selama 7 tahun pengamatan, hubungan perilaku merokok dengan hipertensi tidak terkontrol sebesar 2,15 (AOR=2,150; 95%CI: 1,657-2,789) setelah dikontrol variable lain. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi program pengendalian hipertensi di Indonesia untuk lebih menegaskan upaya berhenti merokok pada masyarakat terutama penderita hipertensi
Read More
T-6377
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Avliya Quratul Marjan; Promotor: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Sri Redatin Retno Pudjiati; Penguji: Hartono Gunardi, Atmarita, Hera Nurlita, Ceisilia Meti Dwiriani, Besral
Abstrak:
Latar Belakang : Kemampuan kognitif anak dipengaruhi oleh kondisi gizi anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau saat anak usia dini. Upaya dalam peningkatan kemampuan kognitif anak salah satunya dengan menanggulangi masalah stunting anak baduta di Indonesia. Kondisi kejar tumbuh anak memberikan pengaruh pada kemampuan kognitif saat usia sekolah hingga remaja akhir. Tujuan: Menganalisis pengaruh kejar tumbuh dengan kemampuan kognitif anak di Indonesia.Metode : Penelitian menggunakan data longitudinal Indonesia Family Life Survey (IFLS) dengan desain studi observasional metode retrospektif. Penelitian dibagi menjadi 2 model sesuai periode pengamatan yaitu model 1 usia 0-23 bulan s/d 10-12 tahun (643 anak) dan model 2 usia 0-23 bulan s/d usia 17-19 tahun (515 anak). Penelitian ini menggunakan 2 model pengamatan karena pengukuran kemampuan kognitif menggunakan kuesioner yang berbeda saat usia 10-12 tahun dan usia 17-19 tahun. Anak dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan perubahan nilai HAZ >-1 SD, menjadi (1) kelompok tidak stunted, (2) stunted kejar tumbuh, (3) tidak stunted menjadi stunted, dan (4) stunted tidak kejar tumbuh. Hasil Penelitian : Hasil multivariat model 1 menunjukkan anak yang stunted tidak kejar tumbuh saat usia balita memiliki kemampuan kognitif usia 10-12 tahun 1,7 poin lebih rendah dibandingkan dengan anak tidak pernah stunted (p=0,001). Model 2 menunjukkan bahwa kelompok anak stunted kejar tumbuh memiliki kemampuan kognitif 0,9 poin lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak stunted (p=0,020). Anak stunted yang kejar tumbuh memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak kejar tumbuh pada usia 10-12 tahun, namun memiliki skor kemampuan kognitif yang lebih rendah pada usia 17-19 tahun. Kesimpulan : Stunted pada usia 0-23 bulan merupakan faktor penting dalam menentukan kemampuan kognitif anak pada usia selanjutnya. Kejar tumbuh setelah stunted pada usia sebelumnya mengindikasikan hubungan dengan kemampuan kognitif pada usia selanjutnya (usia 10-12 tahun dan 17-19 tahun), walaupun usia terjadinya berbeda pada model 1 dan 2. Penelitian ini merekomendasikan anak yang sudah terlanjur stunted harus didukung untuk kejar tumbuh, dengan cara harus tetap dipantau dalam pemberian makan, stimulasi dan pertumbuhannya agar memenuhi kebutuhan pertumbuhan linier dan perkembangan otak sehingga meningkatkan kemampuan kognitif
Read More
D-465
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mariƫtte Lokate, Rebecca K. Stellato, Wouter B. Veldhuis, Petra H.M. Peeters, Carla H. van Gils
Abstrak: High mammographic density is a strong breast cancer risk factor. Density normally declines with aging. We investigated whether the level of decline in mammographic density is related to breast cancer risk using a nested case-control study within the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC)-Prospect cohort. This cohort was recruited among participants of a population-based breast cancer screening program in the Netherlands between 1993 and 1997. We examined whether age-related changes in mammographic density were different for 533 cases and 1,367 controls who were 49-69 years of age at the time of recruitment into the cohort. We used mixed models with linear and quadratic terms for age and interaction terms between age terms and case status. The percent mammographic density at the first available mammogram was higher for cases than for controls (25.2% vs. 22.5%) (P = 0.003). The average decline in density over 10 years was 11% in both cases and controls (P = 0.56). When studying changes among 4 categories of density, we saw some indication that large changes may influence breast cancer risk. Although no difference was seen in the average decline, we cannot exclude that large changes may influence breast cancer risk.
Read More
AJE Vol.178, No.1
Oxford : Oxford University Press, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Kristanti; Pembimbing: Nurhayati A Prihartono, Ratna Djuwita; Penguji: Woro Riyadina, Tristiyenny Pubianturi
T-5620
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumriani Ansar; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Sudarto Ronoatmodjo, Farid Husin; Penguji: Sabarinah, Trisari Anggondowati, Sherly Saragih Turnip, Ansariadi, Indra Fajarwati Ibnu
Abstrak:

Latar belakang: Berat lahir bayi merupakan indikator penting status kesehatan ibu dan outcome kehamilan. Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi berat lahir adalah stres psikososial ibu selama kehamilan, baik secara subjektif maupun biologis. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya hanya mengukur stres pada satu titik waktu dan belum mengintegrasikan pengukuran psikososial dan biomarker kortisol secara longitudinal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dinamika stres psikososial ibu sehat selama kehamilan terhadap berat badan lahir bayi cukup bulan.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif. Sebanyak 256 ibu hamil sehat direkrut sejak trimester pertama di lima puskesmas di Kota Makassar. Setelah mengalami drop out, tersisa 208 responden pada trimester kedua dan 178 responden pada trimester ketiga. Stres psikososial diukur menggunakan kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dan kadar kortisol saliva setiap trimester. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara stress psikososial, kortisol, dan berat lahir bayi, dengan mengontrol variabel demografi, sosial ekonomi, obstetrik, nutrisi, komplikasi kehamilan, toxic eksposure, dan layanan ANC.
Hasil: Dinamika stres psikososial ibu selama kehamilan kategori stres psikososial persisten sebesar 36,52%. Stres psikososial kategori sedang hingga berat pada ibu hamil sebesar 43,26% di trimester pertama, 35,96% di trimester kedua, dan 43,82% di trimester ketiga. Kadar kortisol ibu hamil mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Pada trimester pertama, kadar kortisol memiliki nilai rata-rata 7,13 ng/mL, 9,15 ng/mL pada trimester kedua dan 11,79 ng/mL pada trimester ketiga. Terdapat hubungan signifikan antara dinamika stress psikososial persisten dengan berat lahir bayi cukup bulan. Kadar kortisol juga berhubungan negatif dengan berat lahir bayi. Faktor lain yang berhubungan dengan berat lahir adalah persepsi ibu tentang dukungan suami, pertambahan berat badan selama kehamilan, hipertensi dalam kehamilan dan kelengkapan pemeriksaan ANC.
Kesimpulan: Dinamika stres psikososial persisten dan kortisol berhubungan negatif dengan berat lahir bayi cukup bulan. Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan intervensi stres psikososial ibu hamil sebagai bagian dari pelayanan antenatal terpadu untuk mencegah BBLR.


Background: Birth weight is a key indicator of maternal health status and pregnancy outcomes. One of the potential influencing factors is maternal psychosocial stress during pregnancy, both subjectively and biologically. However, most previous studies have only measured stress at a single point and have not integrated longitudinal assessments of psychosocial stress and cortisol biomarkers.
Objective: This study aims to analyze the relationship between the dynamics of psychosocial stress in healthy pregnant women and the birth weight of term infants.
Methods: A prospective cohort design was employed. A total of 256 healthy pregnant women were recruited during the first trimester from five primary health centers in Makassar City. After accounting for dropouts, 208 participants remained in the second trimester and 178 in the third trimester. Psychosocial stress was measured using the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) and salivary cortisol levels in each trimester. Bivariate and multivariate analyses were done to look at the relationships between psychosocial stress, cortisol, and birth weight while considering factors like demographics, income, pregnancy history, nutrition, complications, exposure to toxins, and antenatal care (ANC).
Results: Persistent psychosocial stress was found in 36.52% of participants. Moderate to severe psychosocial stress was observed in 43.26% of mothers in the first trimester, 35.96% in the second trimester, and 43.82% in the third trimester. Cortisol levels increased with advancing gestational age, from a mean of 7.13 ng/mL in the first trimester to 9.15 ng/mL in the second trimester and 11.79 ng/mL in the third trimester. A significant negative association was found between persistent psychosocial stress dynamics and birth weight. Cortisol levels were also negatively associated with birth weight. Other factors associated with birth weight included maternal perception of spousal support, gestational weight gain, hypertension, and completeness of ANC examinations.
Conclusion: Persistent psychosocial stress dynamics and cortisol are negatively associated with term birth weight. These findings highlight the importance of early detection and intervention for maternal psychosocial stress as an integral part of comprehensive antenatal care to prevent low birth weight

 

 

 

 

Read More
D-585
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Philip E. Castle
Abstrak: Persistent cervical infections by approximately 15 carcinogenic genotypes of human papillomavirus (HPV) cause virtually all cases of cervical cancer and its immediate precancerous precursor, cervical intraepithelial neoplasia grade 3 or carcinoma in situ. As is shown in a meta-analysis by Koshiol et al. (Am J Epidemiol 2008;168:123–137), detection of carcinogenic HPV viral persistence could be used to identify women at the greatest risk of cervical precancer. Specifically, women who have carcinogenic HPV infection that persists for at least 1 year versus those whose infections clear are at significantly elevated risk of having or developing cervical precancer. However, before detection of HPV persistence can be used in cervical cancer screening, several considerations need to be addressed: 1) validation and Food and Drug Administration approval of a reliable HPV genotyping test, 2) rational clinical algorithms based on risk of precancer and cancer for the clinical management of HPV persistence, 3) clinician and patient acceptability of monitoring of HPV infections (including not responding excessively to the first positive HPV test and waiting 1–2 years for infections to either persist or resolve), and 4) patient compliance with recommended follow-up. Investigators will need to address these and other key issues in order to realize the potential utility of HPV viral monitoring for improving the accuracy of cervical cancer screening.
Read More
AJE Vol.168, No.2
[s.l.] : [s.n.] : 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emily T. Murray ... [et al.]
AJE Vol.178, No.3
Oxford : Oxford University Press, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisyah Rizqi Iqbal; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Mohammad Fiqri Qoidhafy
Abstrak:
Indonesia mengalami peningkatan beban penyakit tidak menular akibat hipertensi dengan prevalensi yang terus meningkat, khususnya pada populasi pra usia lanjut dan usia lanjut di Indonesia. Studi berskala nasional yang menganalisis determinan hipertensi secara menyeluruh masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia ≥45 tahun di Indonesia, meliputi karakteristik sosiodemografi, kondisi kesehatan, dan faktor perilaku, dengan menggunakan data representatif dari ILAS. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel penduduk berusia ≥45 tahun sesuai kriteria inklusi yang diolah menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, status perkawinan, status pekerjaan, diabetes, obesitas, obesitas sentral, perilaku merokok, dan aktivitas fungsional sehari-hari (ADL) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi. Sebaliknya, tingkat pendidikan, wilayah tempat tinggal, depresi, dan konsumsi alkohol tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan strategi pencegahan dan pengendalian hipertensi pada aging population.

Indonesia is experiencing an increasing burden of non-communicable diseases due to hypertension, with prevalence rates continuing to rise, particularly among pre-elderly and elderly populations. Comprehensive national studies analyzing the determinants of hypertension remain limited. This study aims to identify factors associated with hypertension among individuals aged 45 years and older in Indonesia, including sociodemographic characteristics, health conditions, and behavioral factors, using representative data from ILAS. A cross-sectional design was employed, with a sample of individuals aged 45 years and above selected according to inclusion criteria and analyzed using univariate and bivariate methods. The results indicate that age, sex, marital status, employment status, diabetes, obesity, central obesity, smoking behavior, and activities of daily living (ADL) are significantly associated with hypertension. In contrast, education level, residential area, depression, and alcohol consumption are not significantly associated with hypertension. These findings are expected to inform the development of strategies for preventing and controlling hypertension in the aging population.
Read More
S-12196
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive