Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Novianti Kristjahjani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Evi Fatimah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan instagram dan faktor lainnya serta menemukan faktor yang paling dominan dengan kualitas diet pada mahasiswi S1 Reguler Gizi Universitas Indonesia. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas diet, sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah penggunaan instagram, tingkat stres, uang jajan, frekuensi makan, teman sebaya, pengetahuan gizi, dan status gizi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional.
Read More
S-10536
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jesslyn Metta Santi; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Khoirul Anwar
Abstrak:
Fast food adalah jenis makanan yang sudah diolah atau dimasak dalam waktu singkat dan disajikan cepat atas dasar pesanan, dalam kondisi yang masih panas, dan dapat dibawa pergi untuk dikonsumsi di jalan. Fast food ditandai dengan kandungan gizi yang tidak seimbang, dimana sebagian besar mengandung kalori, lemak, gula dan garam yang relatif tinggi, tetapi kandungan serat rendah. Saat ini, industri fast food telah berkembang pesat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini dapat mempengaruhi pola makan remaja akibat peningkatan frekuensi konsumsi fast food. Remaja sedang mengalami perubahan dalam pola gaya hidup, seperti perilaku makan yang berubah dan pilihan makanan yang dikonsumsi cenderung tidak sehat, yaitu makanan yang tinggi gula, garam, dan lemak. Dibuktikan dari WHO (2020) yang menyatakan bahwa 80% remaja di seluruh dunia sering mengonsumsi fast food dan Nilsen (2009) menyatakan 69% masyarakat Indonesia sering mengonsumsi fast food. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi fast food pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia angkatan 2023. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross-sectional yang melibatkan 151 responden. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret – April 2024 dengan metode simple random sampling. Hasil penelitian menujukkan bahwa 76,2% responden mengonsumsi fast food dengan frekuensi sering (≥ 3 kali/minggu). Hasil analisis uji bivariat menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara uang saku untuk membeli fast food (p-value 0,007; OR 3,111), emotional eating (p-value 0,025; OR 3,821), jarak kampus ke gerai fast food (p-value 0,002; OR 3,600), promosi fast food (p-value 0,042; OR 2,445), dan paparan media sosial instagram (p-value <0,001; OR 28,8) dengan konsumsi fast food. Namun, tidak terdapat perbedaan signifikan antara jenis kelamin (p-value 0,370), uang saku keseluruhan (p-value 0,331), pengetahuan gizi dan fast food (p-value 1,000), peer group (p-value 0,344), online food delivery (p-value 1,000), dan jarak tempat tinggal ke gerai fast food (p-value 0,685). Setelah mengetahui hasil penelitian, diharapkan mahasiswa dapat mengonsumsi makanan yang lebih sehat dan membatasi penggunaan media sosial dan pengaruh iklan serta promosi fast food.

Fast food is a type of food that has been processed or cooked in a short time and that is served quickly on order basis, in a still hot condition, and can be taken away to be eaten in the street. Fast food is characterized by unbalanced nutritional intake, which is mostly high in calories, fat, sugar and salt, but low in fiber. Currently, the fast food industry has grown rapidly around the world, including in Indonesia. This may affect adolescents' diet due to increased frequency of fast food consumption. Adolescents are experiencing changes in lifestyle patterns such as changing dietary behavior and food choices that are consumed which are often unhealthy, such as foods that contain high amounts of sugar, salt, and fat. Evidenced by WHO (2020) which states that 80% of adolescents around the world often consume fast food and Nilsen (2009) states that 69% of people in Indonesia often consume fast food. This study aims to determine factors related to fast food consumption among students of the Faculty of Public Health, University of Indonesia class of 2023. This research was conducted using a cross-sectional method involving 151 respondents. Data collection was carried out from Maret – April 2024 using the simple random sampling. The results showed that 76,2% of respondents consumed fast food frequently (≥ 3 times/week). The results of the bivariate test analysis showed that there is a significant difference between pocket money to buy fast food (p-value 0,007; OR 3,111), emotional eating (p-value 0,025; OR 3,821), campus distance to fast food outlets (p-value 0,002; OR 3,600), fast food promotion (p-value 0,042; OR 2,445), dan of social media instagram exposure (p-value <0,001; OR 28,8) dengan konsumsi fast. However, it is no significant difference between gender (p-value 0,370), total pocket money (p-value 0,331), nutrition and fast food knowledge (p-value 1,000), peer group (p-value 0,344), online food delivery (p-value 1,000), dan residential distance to fast food outlets (p-value 0,685). After knowing the research results, it is hoped that college students can eat healthier foods and limit the use of social media and the influence of advertisements and fast food promotions.
Read More
S-11729
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhima Paramitha Oktacynara; Pembimbimbing: Helen Andriani; Penguji: Kartika Anggun Dimar Setio, Dhoni Suhendra, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Kemajuan teknologi digital telah menjadikan media sosial, khususnya Instagram, sebagai platform yang sangat berpengaruh dalam edukasi kesehatan. Namun, eksplorasi pemanfaatan media sosial oleh rumah sakit masih perlu dikaji dari perspektif pasien dan tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan di RSIA Pasutri Bogor pada April - Juni 2025. Informan terdiri atas sepuluh pasien dan lima tenaga kesehatan (dokter spesialis, perawat, bidan). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Konten edukasi kesehatan di Instagram RSIA Pasutri Bogor dinilai mudah dipahami oleh pasien maupun tenaga kesehatan. Fitur interaktif Instagram mendukung komunikasi dua arah yang efektif, dengan konten edukatif terbukti paling memengaruhi keputusan pasien. Selain itu, konsistensi penyampaian, relevansi topik dengan isu kesehatan terkini, serta kolaborasi antara tenaga medis dan tim pemasaran menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan edukasi kesehatan. Temuan ini menegaskan bahwa Instagram dapat menjadi media strategis dalam edukasi kesehatan rumah sakit jika dikelola secara konsisten, relevan, dan kolaboratif. Hasil penelitian diharapkan memberi rekomendasi praktis bagi RSIA Pasutri Bogor dalam menyempurnakan strategi komunikasi digital, berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat, serta memperkaya literatur terkait edukasi kesehatan berbasis media sosial. Kata kunci: Edukasi kesehatan, media sosial, Instagram, tenaga kesehatan

Advances in digital technology have positioned social media, particularly Instagram, as a highly influential platform for health education. However, the utilization of social media by hospitals still requires further exploration from the perspectives of patients and healthcare providers. This study employed a descriptive qualitative approach conducted at RSIA Pasutri Bogor from April to June 2025. The informants consisted of ten patients and five healthcare providers (specialist physicians, nurses, and midwives). Data were collected through in-depth interviews and observations, and subsequently analyzed using data reduction, data display, and conclusion-drawing techniques. The health education content on RSIA Pasutri Bogor’s Instagram account was perceived as easy to understand by both patients and healthcare providers. Instagram’s interactive features supported effective two-way communication, with educational content proven to have the greatest influence on patients’ decision-making. In addition, consistency in message delivery, relevance of topics to current health issues, and collaboration between medical professionals and the marketing team were identified as key factors determining the success of health education. These findings affirm that Instagram can serve as a strategic medium for hospital health education when managed consistently, relevantly, and collaboratively. The results of this study are expected to provide practical recommendations for RSIA Pasutri Bogor in refining its digital communication strategy, contribute to the improvement of public health, and enrich the literature on social media–based health education
Read More
B-2576
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Muliawati; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Salimar
Abstrak:
Perubahan yang terjadi pada masa remaja belum sepenuhnya matang secara fisik, kognitif dan psikososial. Hal ini menjadikan remaja cepat sekali terpengaruh oleh lingkungan yang menyebabkan pada perubahan perilaku pada remaja, salah satunya ialah perilaku makan. Perilaku makan terdiri dari tiga dimensi yang muncul dari beberapa teori, yaitu perilaku makan emotional eating, external eating, dan restrained eating. Apabila remaja memiliki perilaku makan yang tidak baik, maka akan berdampak terhadap asupan gizi dan akan mempengaruhi status gizinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara media sosial Instagram, teman sebaya, dan faktor lainnya dengan perilaku makan pada remaja di DKI Jakarta Tahun 2024. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional dengan teknik quota sampling. Pengambilan data dilakukan dengan mengisi kuesioner yang dilakukan secara daring pada sampel remaja di DKI Jakarta yang berjumlah 150 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa external eating (55,3%) merupakan perilaku makan yang paling dominan terjadi. Berdasarkan uji hasil uji chi square menunjukkan hasil terdapat hubungan yang signifikan antara media sosial Instagram dengan perilaku makan emotional eating (P Value=0,001), external eating (P Value=0,000), dan restrained eating (P Value=0,035). Sedangkan peran teman sebaya dan peran orang tua hanya berhubungan dengan perilaku makan external eating (P Value=0,048 dan 0,000). Untuk variabel lainnya menunjukkan hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan ketiga dimensi perilaku makan.

The changes that occur in adolescence are not yet fully mature physically, cognitively and psychosocially. This makes adolescents quickly influenced by the environment which causes changes in behavior in adolescents, one of which is eating behavior. Eating behavior consists of three dimensions that arise from several theories, namely emotional eating, external eating, and restrained eating. If adolescents have bad eating behavior it will have an impact on nutritional intake and will affect their nutritional status. This study aims to determine the relationship between social media Instagram, peers, and other factors with eating behavior among adolescents in DKI Jakarta in 2024. The research method uses a cross-sectional design with quota sampling technique. Data collection was carried out by filling out an online questionnaire on a sample of 150 adolescents in DKI Jakarta. The research results show that external eating (55.3%) was the most dominant eating behavior. Based on the chi square test results, the results show that there is a significant relationship between Instagram social media and emotional eating (P Value=0.001), external eating (P Value=0.000), and restrained eating (P Value=0.035). Meanwhile, the role of peers and the role of parents were only related to external eating behavior (P Value=0.048 and 0.000). For other variables, the results show that there is no significant relationship with the three dimensions of eating behavior.
Read More
S-11762
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive