Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ema Maratus Sholihah A; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Iwan Ariawan, Rahma Dewi
S-8844
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Efi Trimuryani; Pembimbing: TrisEryando; Penguji: Popy Yuniar, Kemal N. Siregar, Maria Gayatri, Rahmadewi
Abstrak:
Keluarga berencana sebagai program pengendalian penduduk dan strategi percepatan penurunan AKI mengalami tren penurunan penggunaan KB Modern (mCPR) sebanyak 57,10% di tahun 2017. Pengguna KB sebagian besar adalah pasangan usia subur termasuk generasi milenial usia 17 ? 37 tahun. Peran pengambil keputusan menjadi salah satu faktor penentu dalam penggunaan kontrasepsi karena berkaitan dengan hak kesehatan reproduksi dan seksual, keberlangsungan penggunaan KB dan peran gender dalam pengambilan keputusan. Karakteristik gen milenial di perdesaan dan perkotaan memiliki perbedaan karena faktor sosiodemografi, lingkungan dan keterpaparan media informasi KB. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan determinan pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi modern pada wanita kawin generasi milenial di perdesaan dan perkotaan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel wanita generasi milenial (usia 17 ? 37 tahun), berstatus menikah dan menggunakan kontrasepsi modern yang terpilih menjadi responden dalam SDKI tahun 2017 serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 10.752 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan penggunaaan kontrasepsi modern pada wanita kawin generasi milenial baik di perdesaan (56,7%) dan di perkotaan (55,8%) telah didominasi oleh pengambilan keputusan bersama. Perbedaan penggunaan KB modern terlihat pada penggunaan metode MKJP, bahwa KB Implant (10,5%) lebih populer digunakan wanita kawin generasi milenial di perdesaan. Sedangkan di perkotaan, KB IUD (11,4%) lebih populer digunakan wanita kawin generasi milenial. Analisis multivariat dengan uji regresi logistik menyatakan bahwa ada perbedaan karakteristik wanita kawin generasi milenial dalam pengambilan keputusan di perdesaan dan perkotaan. Di perdesaan, diskusi KB dengan suami menjadi faktor dominan yang berpotensi 1,847 kali (AOR:1,847 95%CI: 1,468 ? 2,324), sedangkan di perkotaan, faktor dominan yang mempengaruhi yaitu dukungan suami berpotensi 2,358 kali (AOR:2,358 95%CI:1,485 ? 3,744) untuk mengambil keputusan bersama dalam penggunaan kontrasepsi modern.

Family Planning (FP) as a population control program and a strategy to accelerate the reduction of MMR has experienced a downward trend in the use of Modern Contraception (mCPR) by 57,10% in 2017. The majority of family planning users are couples of childbearing age, including the millennial generation aged 17 years. -37 years. The role of decision makers is one of the determining factors in the use of contraception because it relates to sexual and reproductive health rights, the sustainability of family planning use, and the role of gender in decision making. The characteristics of millennial genes in rural and urban areas differ due to sociodemographics, environmental factors and exposure to family planning information media. The purpose of this study was to determine the differences in the determinants of decision making on the use of modern contraceptives among millennial married women in rural and urban areas in Indonesia. This study used a cross-sectional design with a sample of millennial women (age 17-37 years), married and using modern contraception who were selected as respondents to the 2017 IDHS and met the inclusion and exclusion criteria of 10,752 respondents. The results of the study show that the millennial generation of married women in rural areas (56.7%) and urban areas (55.8%) dominate decision making on the use of modern contraception. The difference in the use of modern family planning can be seen in the use of the LARC method, that implant contraceptives (10.5%) are more popularly used by married women in the millennial generation in rural areas. Whereas in urban areas, IUD contraception (11.4%) is more popularly used by married women of the millennial generation. Multivariate analysis using logistic regression test states that there are differences in the characteristics of millennial married women in decision making in rural and urban areas. In rural areas, family planning discussions with husbands are the dominant factor, potentially 1.847 times (AOR: 1.847 95% CI: 1.468 ? 2.324). In urban areas, the dominant influencing factor is prospective husbands' support 2,358 times (AOR: 2,358 95% CI: 1,485 ? 3,744) to make family planning joint decisions on the use of modern contraception.
Read More
T-6506
Depok : FKM UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Lauda Azmi; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Alfiasari
Abstrak: Penelitian ini menggunakan desain studi eksploratif dengan pendekatan kualitatif dan dengan teknik pengambilan data secara Focus Group Discussion (FGD) dan Wawancara Mendalam (WM). Hasil pada penelitian ini menunjukkan persepsi sebagian besar informan dalam melihat bentuk dan penggunaan menstrual cup dianggap berisiko dan memberikan rasa ngilu, nyeri, perih dan luka pada organ intim. Sikap mahasiswi yang belum menikah tidak jauh berbeda dengan mahasiswi yang sudah menikah dan memiliki riwayat melahirkan.
Read More
S-10820
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deyby Soemanta; Pembimbing: Rita Damayant; Penguji: Mardiati Nadjib, Kamaruzzaman
S-6636
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hermes Santosa; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ede Surya Darmawan, Mardiati Nadjib, Meike Magnasofa, I Gusti Agung Ngurah Anom
Abstrak:
Nama : Hermes Santosa Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Analisis Pre-Arrival Experience Terhadap Pengambilan Keputusan Melakukan Medical Tourism Di Rumah Sakit Khusus Bedah BIMC Nusa Dua, Bali dalam rangka memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Magister Kesehatan Masyarakat Pembimbing : Prof. drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc, Ph.D Latar belakang: Medical tourism menjadi bidang yang penting dalam perkembangan perekonomian suatu negara. Perkembangan medical tourism di Indonesia, khususnya Bali memiliki potensi yang cukup tinggi karena Bali telah dikenal dengan keindahan alam serta budayanya sebagai tujuan wisata. Pre-arrival experience merupakan aspek penentu dalam pengambilan keputusan melakukan medical tourism. Tujuan Penelitian: Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pre-arrival experience dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan melakukan medical tourism. Metodelogi penelitian Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Penelitian dilakukan di RSK Bedah BIMC Nusa Dua Bali, pada Oktober-November 2023. Hasil penelitian: Faktor pre-arrival experience yang berkaitan dengan pengambilan keputusan yaitu faktor reputasi rumah sakit, komunikasi, sumber infrormasi, status ekonomi, biaya layanan, kualitas layanan, kualifikasi tenaga medis, citra lokasi, dan faktor motivasi individu. Faktor pendukung dalam pengambilan keputusan sebagian besar berkaitan dengan kualitas rumah sakit, jarak yang dekat dengan negara asal, dan Word-of-Mouth (WoM). Peneliti tidak menemukan adanya faktor penghambat dalam pengambilan keputusan, namun terdapat beberapa kondisi yang membuat tourist kurang nyaman dalam pre-arrival experience yaitu faktor psikologis, kendala bahasa di luar rumah sakit, dan kekhawatiran dari lingkungan sekitar, berkaitan dengan kualitas layanan medical tourism di Indonesia. Kesimpulan: Penelitian ini menemukan beberapa faktor pre-arrival experience memberikan pengaruh besar dalam pengambilan keputusan, terutama faktor biaya layanan. Citra lokasi dan faktor motivasi individu menjadi faktor baru yang peneliti temukan. Kata Kunci: Medical Tourism, Pengambilan Keputusan, Pre-Arrival Experience

Nama : Hermes Santosa Program Studi : Hospital Administration Study Judul : Pre-Arrival Experience Analysis of Decision Making for Medical Tourism at the BIMC Nusa Dua Special Surgical Hospital, Bali in order to fulfill one of the requirements for achieving a Master of Public Health degree Pembimbing : Prof. drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc, Ph.D Background: Medical tourism is an important field in the economic development of a country. The development of medical tourism in Indonesia, especially Bali, has quite high potential because Bali is known for its natural beauty and culture as a tourist destination. Pre-arrival experience is a determining aspect in decision making for medical tourism. Research Objective: This study aims to determine the factors that influence pre-arrival experience in relation to decision making to undertake medical tourism. Research methodology This research uses a qualitative design with a phenomenological approach. The research was conducted at the BIMC Surgical Hospital Nusa Dua Bali, in October-November 2023. Research results: Pre-arrival experience factors related to decision making, namely hospital reputation, communication, information sources, economic status, service costs, service quality, qualifications medical personnel, location image, and individual internal factors. Supporting factors in decision making are mostly related to hospital quality, proximity to the country of origin, and Word-of-Mouth (WoM). Researchers did not find any inhibiting factors in decision making, but there were several conditions that made tourists less comfortable in the pre-arrival experience, namely psychological factors, language barriers outside the hospital, and concerns from the surrounding environment, related to the quality of medical tourism services in Indonesia. Conclusion: This research finds that several pre-arrival experience factors have a big influence on decision making, especially the service cost factor. Location image and individual motivation factors are new factors that researchers discovered. Keywords: Medical Tourism, Decision Making, Pre-Arrival Experience
 
Read More
B-2409
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Sri Devi Tari; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Anhari Achadi, Ede Surya Darmawan, Dian Kristiani Irawaty, Muhammad Yusuf
Abstrak: Latar Belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi perhatian terutama di Indonesia. Penurunan AKI merupakan indikator penting dalam pencapaian pembangunan kesehatan di Indonesia. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan penting dilakukan karena tenaga kesehatan memiliki keterampilan dan alat yang sesuai untuk memberikan pertolongan yang aman dan bersih. Kementerian Kesehatan telah mewajibkan pertolongan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan yang kompeten untuk mencapai target SDG. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara partisipasi maternal dalam pengambilan keputusan rumah tangga dan pemilihan penolong persalinan pada ibu.
Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini adalah ibu usia 15-49 tahun yang pernah melahirkan dalam 5 tahun terakhir sebelum survei di 34 provinsi di Indonesia, dengan jumlah responden sebanyak 14.193 orang. Variabel independen penelitian ini yaitu partisipasi dalam pengambilan keputusan yang terdiri dari 4 aspek (perawatan kesehatan, pengeluaran rumah tangga, kunjungan ke keluarga/kerabat, dan penggunaan pendapatan suami) dan variabel dependennya adalah pemilihan penolong persalinan. Variabel kovariatnya adalah umur ibu, tempat tinggal, pendidikan ibu, pendidikan suami, pekerjaan ibu, pekerjaan suami, hidup dengan pasangan, paritas, jumlah anak hidup, pengetahuan kehamilan, jarak ke fasilitas kesehatan, dan tingkat kekayaan. Penelitian ini dianalisis menggunakan regresi logistik ganda.
Hasil: Proporsi penolong persalinan terampil sebesar 67,4% dan penolong persalinan tradisional sebesar 32,6%. Pemilihan penolong persalinan terbanyak oleh tenaga kesehatan yaitu bidan sebanyak 61,8% dan penolong persalinan oleh bukan tenaga kesehatan paling banyak yaitu dukun sebanyak 13,6%. Variabel lain yang paling berhubungan yaitu variabel paritas (grandemultipara) beresiko 1.899 kali untuk memilih penolong persalinan oleh bukan tenaga kesehatan dibandingkan ibu yang paritasnya primipara (OR = 1.899, 95% CI = 1.600-2.253). Pada model akhir multivariat, didapatkan variabel lain yang berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan yaitu usia ibu, tempat tinggal, pendidikan ibu, pendidikan suami, pengetahuan kehamilan, jarak ke fasilitas kesehatan, paritas, tingkat kekayaan.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara partisipasi maternal di dalam keputusan rumah tangga (perawatan kesehatan, pengeluaran rumah tangga, dan kunjungan ke keluarga/kerabat) dengan pemilihan penolong persalinan. Dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara partisipasi maternal dalam keputusan penggunaan pendapatan suami dengan pemilihan penolong persalinan
Read More
T-6202
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Namira Ananda; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Purnawan Junadi, Rosmala Atina Rusadi
Abstrak: Latar Belakang: Halodoc meluncurkan kampanye #PejuangMental dengan insentif cashback 50% untuk meningkatkan penggunaan layanan e-counseling. Namun, efektivitas cashback dalam memengaruhi keputusan pengguna dalam konteks e-health masih dipertanyakan, terutama karena kompleksitas kebutuhan kesehatan mental dan stigma yang menyertainya. Metode: Penelitian ini merupakan studi kualitatif-deskriptif menggunakan teori Pasolong untuk menganalisis faktor-faktor pengambilan keputusan. Wawancara mendalam dilakukan terhadap individu di Jakarta yang telah terpapar kampanye ini. Analisis berfokus pada lima indikator: posisi, masalah, situasi, kondisi, dan tujuan. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa cashback tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan untuk menggunakan layanan kesehatan mental. Keputusan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kebutuhan internal, seperti posisi, masalah, kondisi, serta tujuan. Kesimpulan: Cashback terbukti tidak relevan dalam mendorong penggunaan layanan e-health, berbeda dari sektor e-commerce. Platform e-health disarankan untuk mengalihkan strategi ke pendekatan yang lebih relevan, seperti edukasi kesehatan mental dan program berbasis komunitas.
Background: Halodoc launched the #PejuangMental campaign with a 50% cashback incentive to increase the use of e-counseling services. However, the effectiveness of cashback in influencing user decisions in the e-health context remains questioned, especially due to the complexity of mental health needs and the stigma surrounding it. Method: This research is a qualitative-descriptive study using Pasolong’s theory to analyze decision-making factors. In-depth interviews were conducted with individuals in Jakarta who had been exposed to the campaign. The analysis focused on five indicators: position, problem, situation, condition, and goals. Results: The study found that cashback did not have a significant influence on the decision to use mental health services. Decisions were more influenced by internal factors such as position, problems, conditions, and goals. Conclusion: Cashback proved irrelevant in encouraging the use of e-health services, unlike in e-commerce. E-health platforms are recommended to shift strategies toward more relevant approaches, such as mental health education and community-based programs.
Read More
S-11871
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Anastasia Audrey; Pembimbing:Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Suparmi
Abstrak: (abstrak tersedia di fulltext)
Read More
S-11263
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luh Putu Ari Dewiyanti; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Yoslien Sopamena, Suhesti Dumbela, Irfani Nugraha
Abstrak:
Intervensi pre-exposure prophylaxis (PrEP) di Indonesia telah diimplementasikan sejak tahun 2021, namun cakupan penggunaannya masih rendah. Di DKI Jakarta sebagai provinsi dengan capaian PrEP tertinggi secara nasional, masih terdapat kesenjangan antarwilayah, di mana Jakarta Selatan telah melampaui target capaian (131%), sementara Jakarta Timur masih berada di bawah target (61%). Penelitian ini bertujuan memahami perilaku pengambilan keputusan penggunaan PrEP pada kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi dan analisis tematik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi pada LSL pengguna dan non-pengguna PrEP, serta tenaga kesehatan dan petugas lapangan sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan penggunaan PrEP merupakan proses yang dinamis dan tidak linear, dipengaruhi oleh interaksi antara informasi, persepsi kerentanan, persepsi hambatan, sikap, norma subjektif, motivasi, dan keterampilan perilaku. Pengguna dan non-pengguna PrEP sama-sama memiliki kesadaran terhadap HIV dan sikap positif terhadap PrEP, namun berbeda dalam memaknai risiko, kebutuhan penggunaan, dan kemampuan mengintegrasikan PrEP dalam kehidupan sehari-hari. Pengguna PrEP menunjukkan pemahaman risiko yang lebih reflektif serta keterampilan perilaku yang mendukung navigasi layanan, kepatuhan, dan adaptasi terhadap hambatan penggunaan. Sebaliknya, non-pengguna cenderung merasionalisasi risiko melalui rasa aman subjektif dan strategi pencegahan lain sehingga PrEP belum dipandang sebagai kebutuhan yang relevan. Temuan juga menunjukkan bahwa perbedaan capaian penggunaan PrEP antarwilayah berkaitan dengan pengalaman layanan, fleksibilitas program, dan dukungan komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan PrEP pada kelompok LSL tidak hanya dipengaruhi akses informasi dan kesadaran risiko HIV, tetapi juga proses pemaknaan risiko, dukungan sosial, pengalaman layanan, dan keterampilan perilaku. Oleh karena itu, peningkatan penggunaan PrEP perlu dilakukan melalui pendekatan berbasis tahapan pengambilan keputusan, komunikasi risiko yang lebih kontekstual, serta penguatan kualitas layanan dan pendampingan berbasis komunitas.

Pre-exposure prophylaxis (PrEP) has been implemented in Indonesia since 2021, however, its uptake remains low. In DKI Jakarta, which has the highest national PrEP coverage, disparities persist across regions, with South Jakarta exceeding its target coverage (131%) while East Jakarta remains below target (61%). This study aimed to explore the decision-making behavior related to PrEP use among men who have sex with men (MSM) in East and South Jakarta. This study employed a qualitative approach with a phenomenological design and thematic analysis. Data were collected through in-depth interviews and observations involving MSM PrEP users and non-users, supported by healthcare workers and outreach officers as key informants. The findings showed that decision-making regarding PrEP use is a dynamic and non-linear process influenced by the interaction of information, perceived susceptibility, perceived barriers, attitudes, subjective norms, motivation, and behavioral skills. Both PrEP users and non-users demonstrated awareness of HIV and positive attitudes toward PrEP; however, they differed in how they interpreted risk, perceived the need for PrEP, and integrated PrEP into their daily lives. PrEP users showed more reflective risk perceptions and stronger behavioral skills related to service navigation, adherence, and adaptation to barriers. In contrast, non-users tended to rationalize risk through subjective feelings of safety and reliance on alternative prevention strategies, leading PrEP to be perceived as less relevant to their needs. The findings also indicated that disparities in PrEP uptake across regions were associated with differences in service experience, program flexibility, and community support. This study concludes that PrEP use among MSM is influenced not only by access to information and HIV risk awareness, but also by risk interpretation, social support, service experience, and behavioral skills. Therefore, efforts to increase PrEP uptake should incorporate decision-making stage-based approaches, more contextualized risk communication, and strengthened service quality and community-based support
Read More
T-7539
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive