Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dian Putri Susanti; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Ede Surya Darmawan, Lely Nurlely Setiawan, Suharno
Abstrak: ABSTRAK Peresepan merupakan pelayanan kesehatan yang paling penting di rumah sakit. Dimana rumah sakit harus bisa mengatur dan mencatat penyimpanan antara obat-obat Fornas dan non Fornas. Obat Fornas diberikan hanya untuk pasien BPJS, sedangkan obat non Fornas diberikan kepada pasien non BPJS. Obat-obat non Fornas merupakan salah satu sumber pemasukan keuntungan bagi rumah sakit. Penelitian dilakukan di RSU XYZ Depok menggunakan rancang desain studi kasus dengan metode kualitatif. Penelitian dilakukan dengan survei dan penelusuran laporan penggunaan obat-obatan non BPJS menggunakan data sekunder yang tersedia di RSU XYZ tahun 2017. Selain itu untuk memperkuat validasi hasil dilakukan metode kualitatif menggunakan wawancara mendalam dengan sejumlah informan yaitu direktur, manajer pelayanan medis, manajer penunjang medis, kepala unit farmasi, staf penagihan tarif dan dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dokter spesialis saraf, dokter spesialis paru yang memberikan resep kepada pasien BPJS di RSU XYZ yang telah bekerja sejak atau sebelum Januari 2017. Hasil penelitian didapatkan dari 1243 obat yang telah tersedia dan terpakai untuk peresepan pasien BPJS terdapat 954 jenis obat me-too yang tercampur yang menyebabkan kerugian terdiri 1.281.843 obat dari keseluruhan jumlah kuantitas jenis obatnya yang setelah dikalikan HNA-nya sebesar Rp. 5.787.688.612,-. Dan dari 289 jenis obat generik Fornas terdiri 1.696.241 obat dari keseluruhan jumlah kuantitas jenis obatnya yang setelah dikalikan HNA-nya sebesar Rp. 4.776.490.372,-. Nilai kerugiannya adalah Rp. 436.618.392,- dari 34% keseluruhan jenis obat me-too yang tercampur. Nilai kerugian dari keseluruhan biaya obat me-too yang viii Universitas Indonesia tercampur adalah 7.5%. Dan nilai kerugian dari seluruh total biaya peresepan obat untuk pasien BPJS adalah 4%. Berdasarkan total pemakaian dari jenis obat me-too yang ada substitusi penggantinya di generik Fornas maka nilai kerugiannya adalah Rp. 1.949.913.662,- yaitu 37,7% dari keseluruhan nilai biaya obat me-too yang tercampur dalam peresepan kepada pasien BPJS. Dan 18,5% dari keseluruhan total biaya peresepan obat untuk pasien BPJS. Dari pemilahan dengan Formularium Nasional berdasarkan kelas dan subkelasnya maka didapatkan obat yang paling banyak menimbulkan kerugian adalah dari kelas larutan, elektrolit, nurisi dan lain-lain yang berpotensi rugi Rp. 665.503.771,- terdiri 146.099 obat dari keseluruhan jumlah kuantitas jenis obat dari 36 jenis obatnya. Setelah dilakukan analisis dari wawancara mendalam maka didapatkan penyebab terjadinya kerugian karena dilihat dari faktor pemesanan yang masih manual sehingga tidak diketahuinya harga obat JKN kemudian dari faktor penyimpanan obat belum menerapkan sistem locking pemisahan obat Fornas dan non Fornas sehingga banyak terjadi pencampuran obat me-too dan generik sehingga menyebabkan pada faktor pemakaian obat terjadi kesalahan peresepan obat me-too diberikan kepada pasien BPJS dan obat generik diberikan kepada pasien non BPJS yang berpotensi menyebabkan kerugian RSU XYZ tahun 2017. Hal ini juga disebabkan karena tidak kompetennya peran direktur, manajemen dan staf rumah sakit dalam menjalankan peraturan kebijakan pelayanan kesehatan BPJS sebagai kendali mutu kendali biaya. Kata kunci : Peresepan, generik, me-too, kerugian. ABSTRACT Prescribing is the most important health services in hospitals. Hence, hospitals must be able to organize and record the storage of Fornas and non-Fornas medicines. Fornas medicine only can be given for BPJS patient, whereas non-Fornas medicine is for non-BPJS patient. Non-Fornas medicines are one of the source of income for hospitals. This research was conducted at XYZ General Hospital Depok by using case study design with qualitative methods. The research was conducted with a surveys and by tracking medicines usage reports with secondary data which available in XYZ General Hospital in 2017. In addition to strengthening the validation of the result, qualitative methods were conducted using in-depth interviews with a number of informan that is director, medical support manager, medical service manager, billing staff and internal doctors, obstetrician and gynecologist doctors, neurologyst doctor, pulmonary doctors who gave a prescriptions to BPJS patients at XYZ General Hospital who have been working since or before January 2017. The research results obtained from 1243 medicines that were available and used for prescribing BPJS patients, there were 954 types of me-too mixed medicines which had the potential loss is consist of 1.281.843 medicines of the total quantity of the type of medicines after multipied by the HNA is Rp. 5.787.688.612,- and 289 types of Fornas generic medicines consist of 1.696.241 medicines of the total quantity of the type of medicines which after multiplied by the HNA is Rp. 4.776.490.372,-. x Universitas Indonesia The value of the loss was Rp. 436.618.392,- from 34% of the total medicines me-too mixed. Value of loss from the overall cost of the medicines me-too mixed is 7.5%. And the loss value of all BPJS pastients is 4%. This could illustrate the loss of prescribing BPJS patients at XYZ General Hospital in 2017 for prescribing medicines. Based on total usage of the type of me-too medicines which has substitution in Fornas generic, the value of the loss is Rp. 1.949.913.662,- which is 37,7% of the total cost of me-too medicines that mixed in prescribing BPJS patients and 18,5% of total cost of prescribing medicines for BPJS patients. After sorting with the National Formulary based on class and subclass, it was found that the most prevalent medicines was from the electrolites, nutritions and fluids which had the potential to lose Rp. 665.503.771,- which consists of 146.099 quantities of the type of medicines from 36 tyoe of medicines.. After analysis with in-depth interview, we found that the cause of the loss was seen from the manual ordering factor so that the JKN medicines price was not known and the medicines storage factor had not yet applied the locking system for Fornas and non Fornas so that me-too and generic medicines that cause of use occur errors in prescribing me-too medicines given to BPJS patients and generic medicines given to non BPJS patients that have the potential to cause losses to the XYZ General Hospital in 2017. This is also due to incompetence of the role of director, management and all staff that carrying out BPJS health service policy regulations as cost quality control. Keywords : Prescribing, generik, me-too, losses
Read More
B-2064
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wowor, Yuliana Helena Elisabeth; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Ede Surya Darmawan, Mieke Savitri, Jusuf Kristianto, Roestri Nurwulan
Abstrak: Latar belakang: Praktik peresepan yang baik merupakan bagian penting dari penggunaan obat yang rasional. Persentase resep dengan injeksi merupakan salah satu indikator penggunaan obat WHO. Persentase resep dengan injeksi di RS St. Carolus pada tahun 2016 mencapai 56%. Hasil ini lebih tinggi dari yang direkomendasikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan peresepan obat injeksi. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran penggunaan obat injeksi dan pengendalian penggunaannya, serta penerapan kebijakan tentang obat injeksi di Unit Rawat Inap RS St. Carolus. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan metode cross-sectional dan studi kualitatif deskriptif. Penggalian informasi lebih lanjut dilakukan dengan melakukan penelitian kualitatif untuk melengkapi penelitian kuantitatif. Hasil: Faktor-faktor yang berhubungan dengan peresepan injeksi secara statistik adalah diagnosis serta panduan praktik klinis (PPK) dan clinical pathway (CP). Kebijakan Pelayanan Farmasi RS St. Carolus tidak membahas secara khusus mengenai pengendalian obat injeksi. Sosialisasi kebijakan ini pun belum optimal, begitu pula dengan sosialisasi PPK dan CP. Tenaga apoteker klinis yang ada belum mencukupi kebutuhan. Peran Panitia Farmasi dan Terapi di RSSC saat ini lebih kepada sistem formularium. Kesimpulan: Persentase pasien rawat inap RS St. Carolus periode Januari- Maret 2019 yang diresepkan obat dengan sediaan injeksi sebesar 85.7%. Kebijakan penggunaan obat injeksi yang ada saat ini tercantum dalam Kebijakan Pelayanan Farmasi, dimana didalamnya hanya terdapat prosedur peresepan. Tidak ada kebijakan khusus penggunaan obat injeksi. Prosedur pengendalian obat yang tertuang dalam kebijakan atau pedoman belum dimiliki oleh RS St. Carolus. Oleh karena itu diperlukan kombinasi intervensi dalam bentuk kebijakan dan edukasi untuk mengendalikan penggunaan obat injeksi di Unit Rawat Inap RS. St. Carolus.
Read More
B-2083
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andre Saphir Trisnadi; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Ede Surya Darmawan, Mieke Savitri, Jusuf Kristanto, Jantini Utama
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Andre Saphir Trisnadi Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Analisis Penyebab Terjadinya Medication Error Di Unit Rawat Inap RS Pluit Periode Tahun 2017 – 2018 Pembimbing : Vetty Yulianty Permanasari SSi, MPH Latar Belakang : Keselamatan pasien merupakan dasar dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Rumah sakit dituntut tidak boleh terjadi kesalahan terutama dalam keselamatan pasien yang berhubungan dengan obat, ini merupakan hal yang penting dan harus dikerjakan sesuai dengan prosedur yang berlaku supaya tidak terjadi medication error. Berdasarkan laporan Insiden Keselamatan Pasien tahun 2017 – 2018, didapatkan peningkatan kejadian medication error sebanyak 5 kasus yaitu dari 16 kasus (2017) menjadi 21 kasus (2018). Tentunya peningkatan ini berpengaruh pada keselamatan pasien dan mutu pelayanan, sehingga perlu dilakukan analisis faktor- faktor penyebab terjadinya medication error tersebut supaya tidak terulang lagi.Tujuan : Mengetahui penyebab dan akar masalah pada peningkatan medication error di Unit rawa Inap RS Pluit 2018.Menganalisis faktor- faktor penyebab medication error pada fase prescribing, fase transcribing, fase dispensing dan fase administrationdi unit rawat inap RS Pluit. Metode :Desain penelitian ini merupakan penelitian kualitatifdengan pendekatan eksploratif. Dilakukan pada bulan mei – juni 2019 di Unit rawat inap RS Pluit. Data primer didapatkan dari wawancara menggunakan pedoman wawancara kepada manajemen rumah sakit dan pihak yang terlibat dari awal pembuatan resep sampai obat tersebut diberikan ke pasien. Data primer juga didapatkan dengan cara observasi langsung di farmasi unit rawat inap dan ruang perawatan. Data Sekunder didapatkan dari telaah dokumen dengan menggunakan formulir Check Listdi unit farmasi rawat inap ataupun Subkomite Keselamatan Pasien RS Pluit. Semua data tersebut akan dilakukan triangulasi sehingga didapatkan hasil yang akurat. Hasil: Medication error ditemukan pada keempat fase ( fase prescribing, fase transcribing, fase dispensing dan fase administration) paling banyak pada fase prescribing karena human errordan peresepan manual bukan karena kesalahan regulasi yang sudah berjalan. Kesimpulan : Perlu dipertimbangkan adanya perubahan dari sistem peresepan manual ke elektronik. Perlu lebih sering dilakukan sosialisasi tentang budaya kesela matan pasien, komunikasi yang efektif dan regulasi yang berhubungan dengan farmasi. Kata Kunci : Medication error, Keselamatan Pasien, Sistem Pelaporan Insiden, Peresepan elektronik, Rawat inap


ABSTRACT Name : Andre Saphir Trisnadi Program Study : Master Administration Hospital Title : Analysis of the causes of medication errors in the  inpatient unit of Pluit hospital for the period 2017 – 2018 Counsellor : Vetty Yulianty Permanasari SSi, MPH Background: Patient safety is the basis for health services in hospitals. The hospital isdemanded that there should not be an error, especially in patient safety related tomedicine, this is an important matter and must be done according to the procedure so there is no medication error. Based on the Patient Safety Incident report for 2017 - 2018,there was an increase in the incidence of medication errors in 5 cases, from 16 cases(2017) to 21 cases (2018). Of course this increase has an effect on patient safety andservice quality, so it is necessary to analyze the factors that cause the medication errorso that it does not happen again. Objective: To find out the cause and root of the problem in increasing medication error in the inpatient unit of Pluit Hospital 2018. Analyzing the factors that cause medication error in the prescribing phase, phasetranscribing, phase dispensing and phase administration in the inpatient unit of PluitHospital. Method: The design of this study is qualitative research with an explorative approach.Done in May - June 2019 in the inpatient unit of Pluit Hospital. Primary data was obtainedfrom interviews using interview guidelines to hospital management and the parties involved from the beginning of the prescription until the medicine is given to patients. Primary datais also obtained by direct observation in the inpatient pharmacy unit and the inpatient unit. Secondary data is obtained from document studies using the check list form in the inpatientpharmacy units or the Patient Safety Subcommittee of Pluit Hospital. All data will betriangulated so that accurate results are obtained. Results: Medication errors were found in all four phases (prescribing phase, phase transcribing, phase dispensing and administrationphase) at most during the prescribing phase because of human error and manual prescribingwere not due to regulatory errors that were already running. Conclusion: It is necessary toconsider changes from the manual prescribing system to e-prescribing. Socialization ofpatient safety culture, effective communication and regulations related to pharmacy needsto be more frequent. Keywords : Medication errors, Patient safety, Incident reporting system, Electronic Prescription,The Inpatient Unit

Read More
B-2074
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive