Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Stewart Pardamean Siagian; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Ridwan Zahdi Sjaaf, Ardina Kusumawati, Narwoko
Abstrak:
Sebagian besar kecelakaan serius salah satunya disebabkan oleh tidak ada penilaianrisiko sebelumnya. Tesis ini bertujuan untuk menciptakan pola pikir pengembanganprogram keselamatan dan indikator kinerja keselamatan yang proaktif berdasarkanHIRADC agar terciptanya kondisi lingkungan kerja yang aman dan terhindar darikecelakaan kerja. Metode analisis penilaian risiko yang digunakan adalah semikuantitatif sesuai dengan standard AS/NZS 4360 : 2004 sedangkan analisis evaluasikesesuaian dilakukan secara deskriptif analitik berdasarkan observasi lapangan,wawancara dan penelahaan dokumen.
Berdasarkan hasil identifikasi bahaya danpenilaian risiko kerja PT XYZ didapat bahwa Departemen PPIC dan Produksi yangmemiliki aktivitas pekerjaan berisiko tinggi yang terbanyak. 47 tindakanPengendalian yang sudah dilakukan dan 29 tindakan yang belum direncanakan olehmanajemen workshop. Berdasarkan evaluasi kesesuaian HIRADC dengan datainvestigasi kecelakaan terdapat 10 aktivitas pekerjaan menjadi berisiko tinggi. 16program keselamatan kerja sesuai dengan pengendalian pada HIRADC diworkshop dan 10 program prioritas utama perlu dilakukan perbaikan. 15 indikatoryang dapat menjadi indikator kinerja keselamatan sesuai dengan program kerjakeselamatan.
Kata kunci: Penilaian risiko, Program keselamatan, Indikator kinerja keselamatan
Read More
Berdasarkan hasil identifikasi bahaya danpenilaian risiko kerja PT XYZ didapat bahwa Departemen PPIC dan Produksi yangmemiliki aktivitas pekerjaan berisiko tinggi yang terbanyak. 47 tindakanPengendalian yang sudah dilakukan dan 29 tindakan yang belum direncanakan olehmanajemen workshop. Berdasarkan evaluasi kesesuaian HIRADC dengan datainvestigasi kecelakaan terdapat 10 aktivitas pekerjaan menjadi berisiko tinggi. 16program keselamatan kerja sesuai dengan pengendalian pada HIRADC diworkshop dan 10 program prioritas utama perlu dilakukan perbaikan. 15 indikatoryang dapat menjadi indikator kinerja keselamatan sesuai dengan program kerjakeselamatan.
Kata kunci: Penilaian risiko, Program keselamatan, Indikator kinerja keselamatan
T-5224
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Karina Larasati; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Robiana Modjo, Yuni Kusminanti
S-6532
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayutia Syarifati Arista; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Gloria Doloressa
S-7917
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Imam Habibi Elhaq; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Wahyudin Lihawa, Ade Kurdiman
Abstrak:
Read More
Mooring Operation merupakan salah satu operasi rutin dan kritikal serta paling rumit dan berbahaya di kapal dimana jika terjadi kegagalan proses, maka dapat mengakibatkan kecelakaan serius. Perilaku berisiko awak kapal diduga merupakan faktor kontribusi utama dalam kecelakaan mooring. Penetapan program keselamatan perusahaan merupakan salah satu cara efektif untuk menekan perilaku berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan program keselamatan perusahaan dengan perilaku berisiko saat mooring operation. Desain penelitian adalah kuantitatif dengan metode potong lintang. Responden berjumlah 110 orang menggunakan teknik pengambilan purposive sampling. Data diperoleh melalui hasil pengisian kuesioner oleh awak kapal. Teknik analisis data yang digunakan yaitu: (1) distribusi frekuensi; (2) korelasi menggunakan tabulasi silang, kai kuadrat, dan odd ratio dengan tingkat kepercayaan 95%; dan (3) analisis faktor menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki perilaku berisiko tinggi saat mooring operation (62,7%). Terdapat hubungan bermakna antara Partisipasi Pekerja, Pencegahan dan Pengendalian Bahaya, dan Evaluasi Program dan Peningkatan dengan Perilaku Berisiko saat mooring operation. Tidak ada faktor yang signifikan dan paling dominan memiliki hubungan dengan perilaku berisiko. Terdapat saran kepada berbagai pihak untuk meningkatkan keselamatan di industri maritim.
Mooring Operation is one of the routine, critical operations, the most complicated and dangerous on a ship, if there is failure in the process, then it can result in serious accident. Crew at-risk behavior is expected to be major contributing factor in mooring-related accidents. Establishing company safety program is one of the most effective ways to reduce at-risk behavior. This research aims to analyze correlation of company safety program with at-risk behavior during mooring operations. The design of this research is quantitative with a cross-sectional method. Total of respondent is 110 people with purposive sampling. Data were obtained through the results of questionnaire filled by crew. The data analysis technique: (1) frequency distribution; (2) correlation using cross tabulation, chi square, and odd ratio with confidence level of 95%; and (3) factor analysis using logistic regression. The research results showed that majority of respondents had high at-risk behavior during mooring operations (62.7%). There is significant relationship between Worker Participation, Hazard Prevention and Control, and Program Evaluation and Improvement with At-risk Behavior during mooring operations. There are no significant and most dominant factors that have relationship with at-risk behavior. There are suggestions to various parties to improve safety in the maritime industry.
T-7037
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Safira Cahyandari; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Robiana Modjo, Nida Rohmawati dan Winda Kusuma Ningrum
Abstrak:
Read More
Pekerja di kantor rerata menghabiskan lebih dari 6 hingga 8 jam bekerja setiap harinya dalam posisi duduk. Kegiatan kurang bergerak atau tidak bergerak masuk dalam gaya hidup Sedentary Lifestyle, dapat menimbulkan masalah kesehatan dan cidera. Kementerian Kesehatan di kantor pusat telah melaksanakan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perkantoran sebagai upaya promotif dan preventif terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas program K3 perkantoran yang telah diterapkan dengan mengevaluasi komponen kebijakan manajemen, kesesuaian program, manfaat, kesesuaian sumber daya manusia, ketepatan waktu, kerjasama dan komunikasi, mekanisme kerja, pencapaian hasil dan kendala. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi lapangan dan telaah dokumen. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa program K3 perkantoran Kemenkes RI kantor pusat cukup efektif terlihat pada komponen kebijakan manajemen, kesesuaian program, manfaat, kesesuaian sumber daya manusia, ketepatan waktu, pencapaian hasil dan kendala yang dapat dihadapi, sedangkan komponen yang masih perlu peningkatan perbaikan pada kerjasama dan komunikasi serta pemahaman mekanisme kerja.
The average office worker spends more than 6 to 8 hours working each day in a seated position. Sedentary lifestyles can lead to health problems and injuries. The Ministry of Health at the head office has implemented an office Occupational Safety and Health (OSH) program as a promotive and preventive effort against occupational accidents and diseases. This study aims to analyze the effectiveness of the office OSH program that has been implemented by evaluating the components of management policy, program suitability, benefits, suitability of human resources, timeliness, cooperation and communication, work mechanisms, achievement of results and constraints. This research is a qualitative research with descriptive design. The types of data used are primary and secondary data, while data collection is done by in-depth interviews, field observations and document reviews. From the results of the study, it was found that the OSH program in the offices of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia headquarters was mostly effective in the components of management policy, program suitability, benefits, suitability of human resources, timeliness, achievement of results and obstacles that could be faced, while the components that still need improvement are cooperation and communication and understanding of work mechanisms.
T-7081
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
