Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 19 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Widarso; Pembimbing: Sandi Iljanto
T-345
Depok : FKM UI, 1994
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Caecilia Windiyaningsih; Pembimbing: Hafizurrachman
T-716
Depok : FKM UI, 1999
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Damayanti; Pembimbing: Hadi Pratomo
S-3378
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vinsensius Mosa; Pembimbing: Krisnawati Bantas
S-2080
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laksana Adi Nugroho; Pembimbing: Yovsyah
S-1230
Depok : FKM UI, 1998
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cicilia Windiyaningsih; Pembimbing: Buchari Lapau
S-613
Depok : FKM UI, 1992
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
614.4 PET p
Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2017
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Majematang Mading, Fidrolina Mau
JEK Vol.13, No.2
Surabaya : Departemen KL FKM Unair, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alvanya Dida Annisaa; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, I Wayan Pujana
Abstrak:
Latar belakang: Rabies adalah penyakit yang 99% disebabkan oleh gigitan anjing, hampir 100% berakibat fatal, namun dapat dicegah melalui pemberian vaksin rutin pada anjing dan setelah gigitan pada manusia. Provinsi Bali mencatat kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) tertinggi di Indonesia dan masih ditemukan kematian. Maka, perilaku vaksinasi anjing peliharaan dan pencarian pertolongan medis penting untuk mengendalikan rabies. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran serta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku terkait rabies pada pemilik anjing di Provinsi Bali tahun 2025. Metode: Studi cross-sectional menggunakan data primer melalui pengisian kuesioner di empat desa/kelurahan dengan kasus HPR positif berulang. Data kategorik dianalisis secara univariat menggunakan persentase dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Dari 228 sampel, 83,7% pemilik anjing mempunyai perilaku yang baik, sementara 12,7% lainnya kurang baik. Faktor yang berhubungan dengan perilaku kurang baik terkait rabies adalah pendapatan rendah (PR = 2,22; 95% CI = 1,06–4,67), tidak bekerja (PR = 2,39; 95% CI = 1,22–4,67), daerah tempat tinggal di kota (PR = 0,42; 95% CI = 0,20–0,88), rumah sewa/kontrak/milik orang lain (PR = 2,22; 95% CI = 1,14–4,35), jumlah anjing 1 ekor (PR = 2,72; 95% CI = 1,26–5,88), pengetahuan kurang baik terkait rabies (PR = 2,82; 95% CI = 1,30–6,09), dan sikap kurang baik terkait rabies (PR = 2,79; 95% CI = 1,33–5,87). Kesimpulan: Perilaku pemilik anjing di Provinsi Bali secara umum sudah baik, namun upaya promosi dan edukasi rabies harus dilanjutkan dan ditingkatkan supaya pengetahuan yang baik mampu diterjemahkan menjadi perilaku yang baik.

Background: Rabies is a disease that is 99% caused by dog bites and is almost 100% fatal, but it can be prevented by annual dog vaccination and post-bite treatment in humans. Bali Province has the highest number of cases of rabies-transmitting animal (RTA) bites in Indonesia and human rabies deaths are still occurring. Therefore, pet vaccination and health-seeking behavior in dog owners are important for rabies control. Aim: This study aims to describe and determine the factors associated with rabies-related behaviors among dog owners in Bali Province in 2025. Methods: This is a cross-sectional study using primary data collected through questionnaires in two villages and two subdistricts with repeated positive RTA cases. Categorical data were analyzed using percentages for univariate analysis and chi-square for bivariate analysis. Results: Of the 228 samples, 83.7% of dog owners have good rabies-related behaviors, while 12.7% have poor behaviors. Factors associated with poor rabies-related behaviors were low income (PR = 2.22; 95% CI = 1.06–4.67), unemployed (PR = 2.39; 95% CI = 1.22–4.67), urban area of residence (PR = 0.42; 95% CI = 0.20–0.88), home rented/leased/owned by someone else (PR = 2.22; 95% CI = 1.14–4.35), owning 1 dog (PR = 2.72; 95% CI = 1.26–5.88), poor rabies-related knowledge (PR = 2.82; 95% CI = 1.30–6.09), and poor rabies-related attitudes (PR = 2.79; 95% CI = 1.33–5.87). Conclusion: Rabies-related behaviors of dog owners in Bali Province is generally good, but rabies promotion and education efforts must be continued and improved so that good knowledge can be translated into good behaviors.
Read More
S-12161
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fasya Haimelia Adzani; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Al Asyary, Romadona Triada
Abstrak:
Pada tahun 2022, kasus kematian akibat rabies (Lyssa) di Kabupaten Buleleng, Bali, meningkat sebanyak 1.200%. Rabies dapat menyerang manusia di berbagai umur dan jenis kelamin serta hewan berdarah panas. Namun, belum ada cara pengobatan yang ditemukan untuk penyakit ini baik pada manusia maupun hewan. Gejala klinis rabies selalu berujung pada kematian. Mengingat tingginya ancaman rabies terhadap kesehatan dan ketentraman masyarakat, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini secara intensif. Untuk merencanakan program penanganan rabies yang lebih efektif di Kabupaten Buleleng, sebuah penelitian dilakukan dengan fokus pada perilaku pasien lyssa dalam kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan perilaku pasien lyssa yang sebagian besar adalah kurangnya pelaporan kepada fasilitas kesehatan setelah digigit hewan dan pengobatan luka sendiri tanpa mengikuti prosedur yang benar. Peran pemerintah dalam implementasi Surveilans Berbasis Masyarakat dinilai belum optimal. Komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai penanganan GHPR juga belum dilakukan secara memadai oleh tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat, meskipun telah ada kerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Faktor sikap, kepercayaan, dan pengetahuan berpengaruh terhadap perilaku pasien lyssa, sedangkan faktor ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai tetapi bukan menjadi faktor yang berpengaruh terhadap perilaku pasien. Meskipun telah ada anjuran dari tenaga kesehatan, Dinas Pertanian, dan tokoh masyarakat, serta media penyuluhan, faktor penguat ini belum optimal dalam memengaruhi perilaku pasien lyssa dalam meninjaklanjuti GHPR.

In 2022, cases of death due to rabies (Lyssa) in Buleleng Regency, Bali, increased by 1,200%. Rabies can affect humans of various ages and genders, as well as warm-blooded animals. However, there is still no discovered treatment for this disease, both in humans and animals. Clinical symptoms of rabies invariably lead to death. Given the significant threat of rabies to public health and tranquility, intensive efforts are required for prevention and control of this disease. To design a more effective rabies management program in Buleleng Regency, a study focused on the behavior of lyssa patients in cases of Rabies Transmitting Animal Bites (GHPR) was conducted. This study used a qualitative approach with in-depth interviews and document analysis as methods. The research findings indicate lyssa patients' behaviors, mostly involving underreporting to healthcare facilities after being bitten by animals and self-treatment of wounds without proper procedures. The government's role in implementing Community-Based Surveillance is considered suboptimal. Communication, information, and education regarding GHPR handling have also not been adequately conducted by health professionals from the Health Department and local health centers, despite collaborations with the Agriculture Department of Buleleng Regency. Attitude, belief, and knowledge influence lyssa patients' behaviors, while the availability and accessibility of healthcare facilities are sufficient but not influencing factors. Although recommendations from healthcare workers, the Agriculture Department, community leaders, and educational media exist, these reinforcement factors have not yet optimally impacted lyssa patients' behavior in response to GHPR.
Read More
S-11489
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive