Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Amelia Yuri Karlinda; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda, Sulistyo
Abstrak:
Angka keberhasilan pengobatan TBC RO di Indonesia masih rendah, yaitu 45–68% pada tahun 2011-2023, dengan angka putus berobat sekitar 10–30%, dan angka kematian sekitar 11–20%. Sejak Agustus 2020, Indonesia mulai mengimplementasikan paduan jangka pendek oral 9 bulan untuk pengobatan TBC RO. Namun, data nasional menunjukkan efektivitasnya belum lebih baik dibandingkan dengan paduan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan keberhasilan pengobatan pasien TBC RO dengan paduan jangka pendek oral 9 bulan di Indonesia tahun 2021–2023. Desain penelitian adalah kohort retrospektif menggunakan data sekunder dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Subjek penelitian adalah seluruh pasien TBC RO yang memulai pengobatan pada 2021–2023 dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi (total sampling, n=6.727). Analisis multivariat dilakukan dengan cox regression. Sebanyak 3.342 pasien (49,68%) berhasil menyelesaikan pengobatan. Pola resistensi, kepatuhan terhadap pengobatan, dan konversi sputum dalam ≤4 bulan merupakan determinan keberhasilan pengobatan TBC RO dengan paduan jangka pendek oral 9 bulan. Selain itu, penelitian ini juga mengembangkan model prediksi keberhasilan pengobatan berbasis fungsi cox regression. Model menunjukkan kemampuan diskriminatif yang sangat baik, dengan nilai AUC sebesar 0,941 (95% CI: 0,935–0,946). Model ini berpotensi digunakan sebagai alat bantu identifikasi pasien berisiko rendah atau tinggi dalam pengobatan TBC RO. Diperlukan pemantauan pengobatan secara ketat, pendampingan pasien oleh faskes dan komunitas, serta pemanfaatan teknologi digital dalam monitoring pengobatan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.

Treatment success for drug-resistant tuberculosis (DR-TB) in Indonesia is still low, with rates between 45% and 68% from 2011 to 2023. Loss to follow-up ranged from 10% to 30%, and death rates were around 11% to 20%. Since August 2020, Indonesia has started using a 9-month all-oral shorter treatment regimen. However, national data show that this regimen does not perform better than the longer one. This study aimed to find the factors that influence treatment success among DR-TB patients who received the 9-month all-oral regimen in Indonesia from 2021 to 2023. This study used a retrospective cohort study using secondary data from the national Tuberculosis Information System (SITB). The study included all DR-TB patients who started treatment between 2021 and 2023 and met the inclusion and exclusion criteria (total sample: 6,727 patients). Multivariate analysis was conducted using cox regression. A total of 3,342 patients (49.68%) successfully completed treatment. Drug resistance patterns, treatment adherence, and sputum conversion within ≤4 months were identified as key determinants of treatment success under the 9-month all-oral regimen. In addition, this study developed a predictive model for treatment success using Cox regression. The model demonstrated excellent discriminatory performance, with an AUC of 0.941 (95% CI: 0.935–0.946). This predictive tool has the potential to identify high- and low-risk patients of unsuccessful treatment outcomes in drug-resistant TB (DR-TB) management. Strengthened treatment monitoring, patient support by healthcare facilities and communities, and the use of digital technologies for treatment monitoring are needed to improve treatment outcomes.

Read More
T-7307
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadazaira Alifia Ramadhianisa; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Rico Kurniawan, Dwita Maulida
Abstrak:
Pada tahun 2022, diperkirakan ada sekitar 1.060.000 kasus tuberkulosis di Indonesia, menjadikan Indonesia dengan jumlah estimasi kasus TB tertinggi kedua di dunia. Kota Depok, Jawa Barat mengalami penurunan keberhasilan pengobatan sejak tahun 2019 sampai 2022. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif menggunakan data sekunder yang bersumber dari SITB Kota Depok dan bertujuan untuk mengetahui determinan keberhasilan pengobatan pada pasien dewasa TB paru sensitif obat di Kota Depok tahun 2022. Sebanyak 2259 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan SPSS Statistics 25. Diperoleh angka keberhasilan pengobatan pada pasien dewasa TB paru SO sebesar 84,2%. Variabel umur, jenis kelamin, riwayat pengobatan TB, status HIV, dan lama konversi sputum ditemukan memiliki hubungan dengan keberhasilan pengobatan. Ditemukan tiga determinan keberhasilan pengobatan, yakni variabel umur, jenis kelamin, dan riwayat pengobatan TB dengan variabel riwayat pengobatan TB memiliki pengaruh paling besar. Diperlukan adanya intervensi pada kelompok umur lansia, jenis kelamin laki-laki, riwayat pengobatan TB ulangan, positif HIV, dan lama konversi sputum lebih dari 2 bulan untuk dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan TB.

In 2022, it is estimated that there were approximately 1,060,000 tuberculosis cases in Indonesia, making it the country with the second highest estimated TB cases in the world. Depok City, West Java, has experienced a decline in treatment success rates from 2019 to 2022. This research is a quantitative study with a retrospective cohort design using secondary data from SITB aimed at determining the factors influencing treatment success in adult patients with drug-sensitive pulmonary TB in Depok City in 2022. A total of 2,259 samples that met the inclusion and exclusion criteria were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods with SPSS Statistics 25. The treatment success rate for adult patients with drug-sensitive pulmonary TB was found to be 84.2%. Variables such as age, gender, history of TB treatment, HIV status, and duration of sputum conversion were found to be associated with treatment success. Three determinants of treatment success were identified: age, gender, and history of TB treatment, with the history of TB treatment having the most significant impact. Interventions are needed for elderly age groups, males, those with a history of repeated TB treatment, HIV-positive individuals, and those with sputum conversion lasting more than 2 months to improve TB treatment success rates.
Read More
S-11703
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elizabeth Wulandari; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Woro Riyadina
Abstrak:

Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu dari 4 Provinsi di Indonesia yang menjadi tempat implementasi awal dari penerapan penggunaan paduan BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid) untuk pengobatan TB RO dalam tatanan penelitian operasional. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan keberhasilan pengobatan pasien TB RO pada penggunaan Bedaquiline dalam paduan pengobatan dengan keberhasilan pengobatan pasien TB RO tanpa Bedaquiline dalam paduan pengobatan. Penelitian menggunakan rancangan kohort retrospektif dan analisis datanya dengan analisis survival dari data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Provinsi DKI Jakarta tahun 2020 – 2023. Hasil penelitian: Pada pola resistansi Monoresistan, Rifampisin Resistan, Poliresistan dan Multidrugs Resistant keberhasilan paduan pengobatan yang menggunakan Bedaquiline tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan keberhasilan pengobatan menggunakan paduan tanpa Bedaquiline setelah dikontrol oleh variabel jenis paduan pengobatan (HR 1,01; 95% CI 0,79 -1,29; p-value= 0,939). Pada pola resistansi pre-Extensively Drug Resistant dan Extensively Drug Resistant, keberhasilan paduan pengobatan menggunakan Bedaquiline juga tidak berbeda bermakna bila dibandingkan keberhasilan paduan pengobatan tanpa Bedaquiline dengan mempertimbangkan jenis paduan pengobatan (HR 1,14; 95% CI 0,34 – 3,82; p-value= 0,835). Diharapkan tenaga kesehatan tetap memberikan edukasi pentingnya kepatuhan regimen pengobatan dan dukungan sosial serta psikologis kepada pasien untuk menbantu pasien tetap konsisten menjalani pengobatan.


DKI Jakarta Province is one of 4 Provinces in Indonesia for the initial implementation site of the BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid) combination for treating DR-TB (Drug Resistant Tuberculosis) in an operational research order. The study aimed to compare the success of treatment of TB RO patients with the use of Bedaquiline in the treatment combination with the success of treatment of TB RO patients without Bedaquiline in the treatment combination. The study used a retrospective cohort design and data analysis with survival analysis from the Tuberculosis Information System (SITB) data of DKI Jakarta Province in 2020 – 2023. Results of the study shows that in Monoresistant, Rifampicin Resistant, Polyresistant and Multidrugs Resistant resistance patterns, the success of treatment combination using Bedaquiline did not show a significant difference with the success of treatment combination without using Bedaquiline after being controlled by treatment combination type variable (HR 1.01; 95% CI 0.79 -1.29; p-value = 0.939). In pre-Extensively Drug Resistant and Extensively Drug Resistant resistance patterns, the success of treatment combination using Bedaquiline was also not significantly different when compared to the success of the treatment combination without Bedaquiline after being controlled by treatment combination type variable (HR 1.14; 95% CI 0.34 – 3.82; p-value = 0.835). Health workers are expected to continue providing education on the importance of compliance with treatment regimens and giving social and psychological support to patients in order to maintain patient’s consistency in undergoing treatment.

Read More
T-6981
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kadek Deanova Kusuma Wanti; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:
Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular dari manusia ke manusia lain melalui udara yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban kasus tuberkulosis terbanyak di dunia dan 91% merupakan kasus tuberkulosis paru. Kota Depok menempati peringkat ke-11 dengan kasus tuberkulosis terbanyak di Jawa Barat. Tujuan: Mengetahui hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 11 kecamatan di Kota Depok tahun 2021. Metode: Menggunakan desain studi ekologi dengan uji korelasi untuk menganalisis hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 11 kecamatan di Kota Depok tahun 2021 dengan data bulanan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan cakupan pengobatan memiliki hubungan yang signifikan di 11 kecamatan (p = 0,000; r = 0,969–1,000), success rate memiliki hubungan yang signifikan di Kecamatan Tapos (p = 0,040; r = 0,598), dan kepadatan penduduk memiliki hubungan yang signifikan (p = 0,004–0,030) di Kecamatan Beji (r = 0,763), Cimanggis (r = 0,726), Cipayung (r = 0,669), Sawangan (r = 0,625, Tapos (r = 0,660), dan Cinere (r = –0,626). Rekomendasi bagi Dinas Kesehatan Kota Depok dapat mengadvokasi untuk melaporkan program tuberkulosis dan memberikan anggaran bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk menyediakan tenaga kesehatan terkait pelaporan kasus tuberkulosis, bagi fasilitas pelayanan kesehatan dapat meningkatkan pemberian edukasi, bagi masyarakat dapat menerapkan PHBS dan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala tuberkulosis

Background: Pulmonary tuberculosis is a disease transmitted from humans to other humans through the air caused by Mycobacterium tuberculosis. Indonesia ranks second with the highest tuberculosis caseload in the world and 91% are pulmonary tuberculosis cases. Depok City is ranked 11th with the most tuberculosis cases in West Java. Objective: The purpose of this study was to determine the relationship between case detection rate, treatment success rate, and population density on the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 11 sub-districts in Depok City in 2021. Methods: This study used an ecological study design to analyze the relationship between treatment coverage, success rate, and population density on pulmonary tuberculosis incidence rate in 11 districts in Depok City in 2021 with monthly data. Results: The results of this study showed that treatment coverage had a significant relationship in 11 districts (p =0,000; r = 0.969–1.000), success rate had a significant relationship in Tapos District (p = 0,040; r = 0.598), and population density had a significant relationship (p = 0,004–0,030) in Beji District (r = 0.763), Cimanggis (r = 0.726), Cipayung (r = 0.669), Sawangan (r = 0.625, Tapos (r = 0.660), and Cinere (r = –0.626). Recommendations for the Health Department of the City of Depok can advocate to report the tuberculosis program and provide a budget for healthcare facilities to provide healthcare related to the reporting of cases of tuberculosis, healthcare facilities can improve education, the community can implement clean and health behavior and immediately to healthcare facilities when experiencing symptoms of tuberculosis.
Read More
S-11281
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budi Setiawan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah, Dwi Oktavia T.L.H
Abstrak:
Keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) di DKI Jakarta masih sebesar 58% dari target 80%, beberapa faktor risiko sering dihubungkan dengan tingkat keberhasilan pengobatan. Penetitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan dan riwayat pengobatan terhadap keberhasilan pengobatan TBC RO dengan paduan jangka pendek 9-11 bulan. Metode penelitian yang dilakukan adalah kohort retrospektif untuk membandingkan kelompok terpapar dan tidak terpapar (rasio risiko/RR) terhadap tiingkat keberhasilan pengobatan. Sebanyak 364 pasien dengan keberhasilan pengobatan 62,36%, 59,07% patuh pengobatan dan 51,65% ada riwayat pengobatan. Kepatuhan pengobatan memiliki RR 9,14 (95%CI: 5,50-15,20, p=<0,001) sedangkan riwayat pengobatan memiliki RR 1,06 (95%CI: 0,9-1,24, p=0,48) terhadap keberhasilan pengobatan. Analisis stratifikasi dan multivariat model kausal dengan metode backward menghasilkan umur, jenis kelamin, status bekerja, status gizi, dan koinfeksi HIV tidak terbukti sebagai variabel perancu maupun interaksi. Diperlukan penambahan jumlah sampel untuk bisa menunjukkan hubungan variabel kovariat dengan lebih jelas. Kepatuhan pengobatan menjadi salah satu kunci dalam peningkatan keberhasilan pengobatan TBC RO di DKI Jakarta.

The success rate of drug-resistant tuberculosis (DR-TB) treatment in DKI Jakarta is currently 58% of the 80% target, and various risk factors are often associated with treatment outcomes. The aim of this study was to determine the relationship between adherence and treatment history to the success of treatment of DR-TB with a short-term regimen of 9-11 months. The research method used was a retrospective cohort to compare exposed and unexposed groups (risk ratio/RR) on treatment success rate. A total of 364 patients with 62.36% treatment success, 59.07% were treatment adherent and 51.65% had a history of treatment. Treatment adherence had an RR of 9.14 (95%CI: 5.50-15.20, p=<0.001) while treatment history had an RR of 1.06 (95%CI: 0.9-1.24, p=0.48) on treatment success. Stratification and multivariate analysis of causal models using the backward method resulted in age, gender, working status, nutritional status, and HIV co-infection not being proven as confounding or interaction variables. An increase in sample size is needed to show the relationship between covariates more clearly. Treatment adherence is one of the keys to improving the success of DR-TB treatment in DKI Jakarta.
Read More
T-7087
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Marchella Purwaningtyas; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Maryati Kasiman
Abstrak:

Nama : Maria Marchella Purwaningtyas
Program Studi : Kesehatan Lingkungan
Judul : Studi Ekologi: Hubungan Cakupan Pengobatan, Success Rate, Jenis Kelamin, dan Kepadatan Penduduk terhadap Incidence Rate Tuberkulosis Paru di Jakarta Selatan pada tahun 2022
Pembimbing : Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc.

Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini ditularkan melalui media udara. Tuberkulosis menempati urutan kedua sebagai penyebab utama kematian. Indonesia saat ini berada di peringkat kedua sebagai negara dengan penderita tuberkulosis tertinggi di dunia. Kota Jakarta Selatan berada di urutan ke-3 dengan kasus tuberkulosis terbanyak di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2022. Tujuan: Mengetahui hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, jenis kelamin, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 10 kecamatan di Jakarta Selatan pada tahun 2022. Metode: Menggunakan desain studi berupa studi ekologi dengan uji korelasi untuk menganalisis hubungan antara cakupan pengobatan, success rate, jenis kelamin, dan kepadatan penduduk terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 10 kecamatan di Jakarta Selatan dengan menggunakan data dari bulan Januari-Desember pada tahun 2022. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cakupan pengobatan memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di 10 kecamatan (p = 0,000 –1,000), success rate memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di Kecamatan Jagakarsa (p = 0,047, r = 0,582), proporsi jenis kelamin laki-laki penderita tuberkulosis paru tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di seluruh kecamatan (p = > 0,05), proporsi jenis kelamin perempuan penderita tuberkulosis paru tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di seluruh kecamatan (p = > 0,05), dan kepadatan penduduk memiliki memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate tuberkulosis paru di Kecamatan Jagakarsa (p = 0,020, r = -0,659). Kesimpulan: Hasil studi ini menyarankan Suku Dinas Kesehatan Kabupaten Jakarta Selatan dengan Pemerintah Kota Jakarta Selatan untuk melakukan advokasi dan pemberdayaan masyarakat setempat, memanfaatkan peran dan pelayanan fasilitas kesehatan dalam promosi Kesehatan, serta pelaporan kasus tuberkulosis guna memaksimalkan pengendalian dan pencegahan penyakit tuberkulosis paru.
Kata Kunci:
Cakupan Pengobatan Tuberkulosis Paru, Success Rate Tuberkulosis Paru, Jenis Kelamin, Kepadatan Penduduk Tuberkulosis Paru


Name                : Maria Marchella Purwaningtyas Major                : Environmental Health Title        : Ecological Study: The Correlation between Case Detection Rate, Treatment Success Rate, Gender, and Population Density with Incidence Rate of Pulmonary Tuberculosis in South Jakarta in 2022 Counsellor        : Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc.  Background: Pulmonary tuberculosis is one of contagious diseases caused by Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis is transmitted through the air. Tuberculosis ranks as the second main cause of death in the world. Indonesia is currently ranked second as country with the highest number of tuberculosis cases. In 2022, South Jakarta City is ranked 3rd with the most tuberculosis cases in DKI Jakarta Province. Objective: This study aims to determine the relationship between treatment coverage, success rate, gender, and population density on the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 10 sub-districts in South Jakarta in 2022. Method: The research method being used in this study is an ecological study with a correlation test to analyze the relationship between treatment coverage, success rate, gender, and population density on the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 10 sub-districts in South Jakarta using data from January to December in 2022. Result: This study shows that treatment coverage has a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in 10 sub-districts (p = 0,000–1,000), success rate has a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in Jagakarsa District (p = 0,047, r = 0,582), the proportion of men with pulmonary tuberculosis does not have a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in all sub-districts (p = > 0,05), the proportion of women with pulmonary tuberculosis does not have a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in all sub-districts (p = > 0.05), and population density has a significant relationship with the incidence rate of pulmonary tuberculosis in Jagakarsa District (p = 0.020, r = -0.659). Conclusion: It is advisable for the and health department of South Jakarta district along with South Jakarta government to advocate and empower the local communities, utilize the role and service of health facilities in health promotion and tuberculosis cases reporting in order to maximize the control and prevention of pulmonary tuberculosis.  Keywords: Pulmonary TB Case Detection Rate, Pulmonary TB Treatment Success Rate, Gender, Population Density, Pulmonary Tuberculosis

 

Read More
S-11823
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive