Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dandy Fadhilah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo, Hendry Ekazandri, Agni Syah
Abstrak:
Keluhan gangguan otot dan tulang rangka akibat kerja (GOTRAK) merupakan salah satu permasalahan kesehatan kerja yang umum dialami oleh operator alat berat di sektor konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor pekerjaan (jam kerja, shift kerja, masa kerja, beban kerja), faktor karakteristik individu (usia, waktu tidur, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, konsumsi kafein, antropometri), dan faktor lingkungan kerja (getaran, pencahayaan, desain unit kabin) terhadap tingkat keluhan GOTRAK. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 100 operator alat berat di proyek konstruksi tambang di Sulawesi Tengah. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis SNI 9011:2021 dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan bahwa 72% operator mengalami keluhan GOTRAK tingkat tinggi. Faktor yang memiliki hubungan signifikan antara lain jam kerja, beban kerja, usia, waktu tidur, kebiasaan olahraga, konsumsi kafein, antropometri, getaran, dan desain kabin unit. Penelitian ini merekomendasikan penguatan intervensi ergonomi dan pengelolaan kerja berbasis data antropometri guna menurunkan risiko GOTRAK pada operator alat berat.

Work-related musculoskeletal disorders (MSDs) are a common occupational health issue among heavy equipment operators in construction sectors. This study aimed to analyze the relationship between work factors (working hours, shifts, work tenure, workload), individual characteristics (age, sleep duration, smoking habits, physical activity, caffeine consumption, anthropometry), and environmental conditions (vibration, lighting, cabin design) with the severity of MSD complaints. A cross-sectional quantitative study was conducted involving 100 operators from mining-related construction projects in Central Sulawesi. Data were collected using a questionnaire based on the Indonesian national standard (SNI 9011:2021) and analyzed using Chi-Square. Results revealed that 72% of respondents experienced high levels of MSD complaints. Significant associated factors included long working hours, heavy workload, older age, insufficient sleep, low exercise frequency, caffeine intake, anthropometric mismatch, exposure to vibration, and cabin design inconsistencies. The findings suggest the need for ergonomic interventions and equipment design improvements based on anthropometric data to mitigate MSD risks among operators. Key words: MSD, heavy equipment, ergonomics, work factors, mining construction.
Read More
T-7262
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Rinaldo; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Lucky Bindri Soegito, Sari Tua Roy Nababan
Abstrak:
Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja dan orang lain yang ada di tempat kerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Gangguan pendengaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup individu. Beberapa faktor individu, lingkungan kerja, dan pekerjaan menjadi penyebab terjadinya gangguan pendengaran termasuk pada industri perkeretaapian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya gangguan pendengaran pada karyawan UPT N Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Responden pada penelitian ini sebanyak 185 orang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prevalensi gangguan pendengaran pada karyawan UPT N tahun 2024 sebesar 20,5%. Selanjutnya disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara usia (p=0,010), jenis kelamin (p=0,026), kebiasaan merokok (p=0,011), riwayat kesehatan hipertensi (p=0,014), paparan kebisingan (p=0,029), getaran (p=0,003), dan penggunaan APD (p=0,009) dengan terjadinya gangguan pendengaran pada karyawan UPT N tahun 2024. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan agar dilakukan pengendalian faktor risiko di UPT N untuk mengurangi potensi risiko terjadinya gangguan pendengaran pada karyawan.

Occupational health efforts aim to protect workers and others in the workplace so that they can live healthy lives free from health problems and adverse effects caused by work. Hearing loss is one of the health problems that has a significant impact on the quality of life of individuals. Several individual, work environment and work factors cause hearing loss, including in the railway industry. This study aims to analyze the factors associated with the occurrence of hearing loss among UPT N employees in 2024. This study uses a quantitative design with a cross-sectional approach. The respondents in this study were 185 people according to the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the prevalence of hearing loss among UPT N employees in 2024 was 20.5%. It was also concluded that there was an association between age (p=0.010), gender (p=0.026), smoking habits (p=0.011), history of hypertension (p=0.014), noise exposure (p=0.029), vibration (p=0.003) and use of PPE (p=0.009) with the occurrence of hearing loss among UPT N employees in 2024. Based on the results of this study, it is hoped that risk factor control will be implemented at UPT N to reduce the potential risk of hearing loss among employees.
Read More
T-7232
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raja Andriany; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Jimmy Tiarlina dan Christinauly Hasibuan
Abstrak:
Laboratorium dikenal sebagai tempat kerja yang memiliki potensi bahaya tinggi. Penelitian telah menunjukkan tingginya prevalensi insiden yang terjadi di laboratorium. Dampak dari insiden tersebut berpotensi merugikan pekerja dan integritas operasional laboratorium sehingga menimbulkan gangguan kesehatan pekerja dan tercorengnya reputasi laboratorium. Faktor penyebab terjadinya insiden di laboratorium dapat berbeda-beda tergantung dari karakteristik dan jenis bahaya masing-masing laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan insiden pada pekerja Laboratorium BC. Metode dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Sebanyak 55 pekerja Laboratorium BC berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pekerja yang mengalami insiden sebesar 58.2%. Selanjutnya disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan K3 (p=0.021), pelatihan K3 (p=0.030), kelelahan kerja (p=0.048), stres kerja (p=0.031), suhu (p=0.045), dan kelembaban (p=0.047) dengan insiden pada pekerja Laboratorium BC tahun 2024. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka perlu adanya pengendalian faktor risiko di Laboratorium BC untuk mengurangi terjadinya insiden.

Laboratories are known as workplaces with high potential hazards. Studies have shown a high prevalence of accidents occurring in laboratories. The impact of these accidents can potentially harm workers and the operational integrity of the laboratory. The causes of accidents in laboratories can vary depending on the characteristics and types of hazards present in each laboratory. This study aims to analyze factors related to incidents among BC Laboratory workers. This research employs a quantitative approach using a cross-sectional study design. A total of 55 BC Laboratory workers participated in this study. The research results showed that the percentage of workers who experienced incidents was 58.2%. Furthermore, a significant association was found between accident occurrence and the level of occupational health and safety knowledge (p = 0.021), occupational health and safety training (p = 0.030), work fatigue (p = 0.048), work stress (p = 0.031), temperature (p = 0.045), and humidity (p = 0.047). Based on the results obtained, it is necessary to control the risk factors in BC Laboratory to minimize the occurrence of workplace accidents.
Read More
T-7078
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ami Nuari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Indri Hapsari Susilowati, Jimmy Tiarlina, Fajar Aldi Prasetio
Abstrak:
Tren absen pekerja sangat mempengaruhi produktivitas disutau perusahaan, absen dalam bekerja dianggap wajar oleh perusahaan. Data Office of National Statistic (ONS) menyatakan tingkat ketidakhadiran karena sakit meningkat menjadi 2,6% pada tahun 2022, angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 2004. Berdasarkan data pegawai pekerja di PT XYZ kejadian ketidakhadiran pekerja terus meningkat dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, data ketidakhadiran tersebut merupakan data terkait dengan pekerja yang mengalami ketidakhadiran karena sakit. Tercatat pada tahun 2022 terdapat 43% dan tahun 2023 sampai bulan September sebanyak 47% pekerja yang mengalami ketidakhadiran karena sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ketidakhadiran pada pekerja di PT XYZ Tahun 2023. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dan pendekatan desain cross sectional melalui data sekunder dan data primer, dengan pengambilan sampel total sampling sebanyak sampel 51 responden dan dianalisis dengan uji chi-square. Penelitian dilakukan pada bulan Juni – Desember 2023. Hasil penelitian deksriptif yaitu proporsi tertinggi pada pekerja yang mengalami ketidakhadrian (54,9%), umur pekerja < 40 tahun (88,2%.), masa kerja lama (51,0%), merokok (60,8%.), status gizi gemuk (45,1%), pekerja status kesehatan unfit (54,9%), pekerja kelelahan sedang (45,1%), dan pekerja stres sedang (39,2%) dan pekerja dengan beban kerja ringan (45,1%). Terdapat hubungan antara status merokok (p=0,045), status kesehatan (p=0,001), status gizi (p=0,045), kelelahan kerja (p=0,002), dan stres kerja (p=0,023). Tidak terdapat hubungan antara umur, masa kerja dan beban kerja.

The trend of worker absenteeism greatly influences productivity in a company, absence from work is considered normal by the company. Data from the Office of National Statistics (ONS) states that the rate of absence due to illness will increase to 2.6% in 2022, this figure is the highest since 2004. Based on employee data at PT XYZ, the incidence of worker absence has continued to increase over the last 2 years. , the absence data is data related to workers who experience absence due to illness. It was recorded that in 2022 there would be 43% and in 2023 until September as many as 47% of workers would experience absence due to illness. This research aims to analyze the relationship between risk factors related to the incidence of absenteeism among workers at PT analyzed with the chi-square test. The research was conducted in June – December 2023. The descriptive research results were the highest proportion of workers experiencing absenteeism (54.9%), worker age < 40 years (88.2%), long working period (51.0%), smoking (60.8%), obese nutritional status (45.1%), unfit health status workers (54.9%), moderate fatigue workers (45.1%), and moderate stress workers (39.2%) and workers with light workloads (45.1%). There was a relationship between smoking status (p=0.045), health status (p=0.001), nutritional status (p=0.045), work fatigue (p=0.002), and work stress (p=0.023). There is no relationship between age, years of service and workload.
Read More
T-6875
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syukrini Rahmawati Zetri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwi Yuantoko
Abstrak:

World Health Organization mengakui distres sebagai penyakit epidemiologi abad 21. Distres pada dosen menjadi isu yang sering dibahas. Tuntutan Tri Dharma Perguruan Tinggi membuat dosen menghadapi beban kerja berat sehingga menyebabkan distres, kecemasan, dan gangguan tidur. Penelitian Carroll tahun 2022 menunjukkan lebih dari 50% tenaga pengajar di Australia mempertimbangkan untuk meninggalkan profesinya karena merasakan distres yang sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran tingkat distres, faktor risiko distres, dan menganalisis hubungan faktor-faktor risikonya terhadap distres pada dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas A tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan pendekatan cross-sectional. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor di arena pekerjaan (beban kerja, tekanan waktu, long-working hours, ambiguitas peran, hubungan interpersonal, jabatan akademik); faktor di arena rumah (work-family conflict dan status pernikahan); faktor di arena sosial (dukungan sosial), dan faktor di arena individu (usia dan jenis kelamin). Analisis data meliputi analisis deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif mengungkapkan 68% dosen mengalami distres ringan, 30.9% dosen mengalami distres sedang, dan 1% dosen mengalami distres berat. Analisis inferensial mengungkapkan tekanan waktu (p = 0.000; OR = 10.4; 95% CI = 3.513-30.789), ambiguitas peran (p = 0.001; OR = 5.031; 95% CI = 1.950-12.984), hubungan interpersonal ke rekan kerja (p = 0.014; OR = 3.033; 95% CI = 1.235-7.452), work-family conflict (p = 0.000; OR = 19.456; 95% CI = 5.942-63.709), dan dukungan sosial (p = 0.004; OR = 3.675; 95% CI = 1.487-9.082) berhubungan signifikan dengan distres pada dosen FMIPA Universitas A. Universitas A disarankan untuk memperkuat sosialisasi layanan konseling, menyusun SOP yang jelas, serta menyediakan pelatihan dan dukungan teknis untuk mengurangi risiko distres pada dosen.



The World Health Organization identifies distress as a 21st-century epidemiological concern, with lecturer distress emerging as a critical issue. Heavy workloads from fulfilling the Three Pillars of Higher Education contribute to distress, anxiety, and sleep disorders among lecturers.  A study by Carroll et al. in 2022 found that more than 50% of educators in Australia experienced severe distress that caused them to consider leaving the profession. This study aims to examine the levels of distress, identify its risk factors, and analyze the relationships between those risk factors and distress among lecturers at the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University A in 2025. A quantitative method with a cross-sectional approach was used. Risk factors examined include work factors (workload, time pressure, long-working hours, role ambiguity, interpersonal relationships, academic rank); home factors (work-family conflict and marital status); social factors (social support); and individual factors (age and gender). Data analysis included descriptive and inferential statistics. Descriptive analysis showed 68% of lecturers experienced mild distress, 30.9% experienced moderate distress, and 1% experienced severe distress. Inferential analysis revealed significant associations between distress and time pressure (p = 0.000; OR = 10.4; 95% CI = 3.513-30.789), role ambiguity (p = 0.001; OR = 5.031; 95% CI = 1.950-12.984), interpersonal relationships with colleagues (p = 0.014; OR = 3.033; 95% CI = 1.235-7.452), work-family conflict (p = 0.000; OR = 19.456; 95% CI = 5.942-63.709), and social support (p = 0.004; OR = 3.675; 95% CI = 1.487-9.082). It is recommended for University A to strengthen the promotion of counselling services, establish clear SOPs, and provide training and technical support to reduce lecturers’ distress risk.
Read More
S-11995
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive