Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ike Kurnia; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Sabarinah, Dakhlan Choeron, Emi Nurjasmi
Abstrak:

Tesis ini membahas keterkaitan persiapan orang tua pada keluarga childbearing terhadap kejadian stunting di Kabupaten Solok yang ada di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2024 untuk mencari hubungan dan penjelasan mengenai kemungkinan faktor risiko terjadinya kasus stunting. Metode penelitian kuantitatif dengan desain kasus kontrol (case control). Pengumpulan data primer dilakukan di komunitas melalui wawancara menggunakan kuesioner. Sampel penelitian ini adalah 184 orang ibu anak balita usia 24-59 bulan yang terdiri dari 92 orang ibu anak stunting dan 92 orang ibu anak tidak stunting di Kabupaten Solok, menggunakan teknik sampling acak bertingkat (multi-stage sampling) tahap dua. Pengolahan data melalui tahap editing, coding, processing, dan cleaning. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa persiapan orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting (p=0.05) di Kabupaten Solok. Orang tua dengan persiapan yang kurang baik memiliki peluang 2,92 kali lebih tinggi untuk memiliki anak stunting (OR=2.92 95% 1.38-6.19) dibandingkan orang tua dengan persiapan yang baik. Variabel karakteristik sosial demografi ibu yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah faktor tingkat pendidikan ibu (p=0.008) serta Tingkat kesejahteraan keluarga KS III dan III plus (p=0.049). Ibu yang hanya menempuh pendidikan hingga jenjang SMP atau kurang berpeluang 2,26 kali lebih tinggi untuk memiliki anak stunting (OR=2.26 95% 1.24-4.10). Ibu yang berada di Keluarga Sejahtera III dan III plus berpeluang 0,45 kali lebih tinggi untuk memiliki anak tidak stunting (OR=0.45 95% 0.20-1.00). Sedangkan faktor umur ibu saat melahirkan, riwayat kehamilan, interval persalinan, tingkat kesejahteraan keluarga, status tempat tinggal, dan status sanitasi tempat tinggal tidak berhubungan dengan kejadian stunting. Tingkat pendidikan ibu dan status sanitasi tempat tinggal merupakan variabel confounding hubungan persiapan orang tua dengan kejadian stunting. Dengan tingkat pendidikan ibu dan status sanitasi tempat tinggal yang serupa, orang tua dengan persiapan kurang baik berpeluang 2,82 kali lebih tinggi memiliki anak stunting (OR=2.82 95% 1.282-6.218).


This thesis discusses the relationship between parental preparation in childbearing families and the incidence of stunting in Solok Regency, West Sumatra Province in 2024 to find relationships and explanations regarding possible risk factors for stunting cases. Quantitative research method with case-control design. Primary data collection was conducted in the community through interviews using questionnaires. The sample of this study was 184 mothers of toddlers aged 24-59 months consisting of 92 mothers of stunted children and 92 mothers of non-stunted children in Solok Regency, using a second-stage multi-stage sampling technique. Data processing through editing, coding, processing, and cleaning stages. Data analysis was carried out univariately, bivariately and multivariately.  This study found that parental preparation had a significant relationship with the incidence of stunting (p = 0.05) in Solok Regency. Parents with poor preparation have a 2.92 times higher chance of having stunted children (OR=2.92 95% 1.38-6.19) compared to parents with good preparation. The socio-demographic characteristics of mothers that are related to the incidence of stunting are the mother's education level (p=0.008) and the family welfare level of KS III and III plus (p=0.049). Mothers who only have education up to junior high school level or less have a 2.26 times higher chance of having stunted children (OR=2.26 95% 1.24-4.10). Mothers who are in Family Welfare III and III plus have a 0.45 times higher chance of having non-stunted children (OR=0.45 95% 0.20-1.00). Meanwhile, the factors of mother's age at delivery, pregnancy history, delivery interval, family welfare level, residential status, and residential sanitation status are not related to the incidence of stunting. The level of maternal education and the sanitation status of the residence are confounding variables in the relationship between parental preparation and the incidence of stunting. With similar levels of maternal education and sanitation status of the residence, parents with poor preparation are 2.82 times more likely to have stunted children (OR=2.82 95% 1,282-6,218).

Read More
T-7366
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohamad Samsudin, Suryati Kumorowulan, Yuni Rahmawati
MGMI Vol.3, No.2
Magelang : Balitbang GAKI Kemenkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nopa Arlianti; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: R Sutiawan, Mieke Savitri, Rahmadewi, Inti Mujiati
Abstrak: Infekunditas sekunder merupakan kondisi seorang wanita usia subur yang masihmemiliki kemungkinan untuk memiliki anak dan berharap bisa memiliki anak,baik yang belum pernah melahirkan ataupun sudah pernah melahirkan, belumpernah hamil maupun yang sudah pernah hamil dan atau pernah memiliki anaksebelum lima tahun terakhir serta tidak menggunakan alat kontrasepsi padaperiode tersebut. Faktor yang menyebabkan infekunditas sekunder sebagian besarmerupakan penyebab yang sama pada faktor yang menyebabkan infertilitas.Dimana akibat yang ditimbulkan karena terjadinya infekunditas sekunder yaitugangguan psikologis, sosial dan ekonomi. Metode penelitian yang digunakanyaitu cross sectional dengan menggunakan data WUS SDKI 2012. Jumlah sampelyaitu sebanyak 27414 (85.03%) mengalami fekunditas dan 4826 (14.97%)mengalami infekunditas sekunder. Analisis data menggunakan univariat, bivariatdan regresi logistik. Berdasarkan analisis yang dilakukan, propinsi yang memilikiangka infekunditas sekunder tertinggi yaitu Papua (31.39%), Aceh (23.23%) danPapua Barat (20.75%). Dengan analisis regresi logistik diperoleh bahwadeterminan infekunditas sekunder di Indonesia adalah umur, merokok, sosialekonomi, pekerjaan, riwayat keguguran, pendidikan, umur pertama melakukanhubungan seksual, dan paritas.Kata kunci:Infekunditas sekunder, wanita usia subur.
Read More
T-4602
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Sya`bani Wulandari MD; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Milla Herayati, Rahmadewi
S-8156
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lely Indrawati; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Iwan Ariawan, R. Sutiawan, Flourisa Juliaan, Rahmadewi
Abstrak:

ABSTRAK Latar Belakang Masalah: Angka penggunaan kontrasepsi berbagai cara/metode cenderung meningkat dalam beberapa tahun belakangan. Namun peningkatan tersebut juga diikuti dengan stagnansi angka berhenti pakai (drop out) nya. Tujuan: Mendapatkan faktor-faktor yang paling mempengaruhi kejadian berhenti pakai kontrasepsi pada PUS 10-49 tahun pada tahun 2010. Metode: Penelitian belah lintang menggunakan data Riskesdas 2010. Populasi dalam penelitian ini adalah Pasangan Usia Subur (PUS) dengan status kawin yang berusia 10-49 tahun. Sampel yakni semua pasangan usia subur usia 10-49 tahun dengan status kawin yang pernah menggunakan dan masih menggunakan kontrasepsi di Indonesia. Analisa menggunakan Regresi Logistik Ganda dengan mempertimbangkan disain penarikan sampel (menggunakan primary sampling unit/PSU dan weight/pembobotan). Analisa menggunakan program STATA versi 10 untuk survey dan SPSS versi 15. Hasil: Proporsi berhenti pakai pada PUS 10-49 tahun yang berstatus kawin sebesar 32%. Jika dibandingkan antar kawasan di Indonesia, proporsi berhenti pakai tertinggi berada di Luar Jawa Bali II yakni sebesar 33,6%, yang diikuti kawasan Luar Jawa Bali I (32,9%) dan Jawa Bali (30,5%). Alasan terbanyak berhenti pakai penggunaan kontrasepsi adalah sudah tidak memerlukan lagi (31%), ingin punya anak (26%), takut efek samping (14%) dan tidak menginginkan lagi (10%). Berdasarkan analisa multivariate umur istri > 35 tahun memiliki odds ratio 2 kali lebih besar terjadi kejadian berhenti pakai kontrasepsi dibandingkan umur istri 21-35 tahun (OR adj 2,150; 95%CI= 2,041 – 2,265). Selain umur istri, PUS yang memiliki jumlah anak 0-1 anak memiliki odds ratio hampir 1,5 kali lebih besar terjadi kejadian berhenti pakai kontrasepsi dibandingkan dengan PUS dengan jumlah anak 3 orang atau lebih. Selain itu, PUS yang memiliki komposisi jenis kelamin anak tidak lengkap (perempuan atau laki-laki saja) memiliki odds 1,5 kali lebih besar terjadi kejadian berhenti pakai kontrasepsi  dibandingkan PUS yang memiliki komposisi anak lengkap (OR adj 1,517; 95%CI= 1,447 – 1,591). Kesimpulan: Faktor yang paling menentukan kejadian berhenti pakai kontrasepsi adalah umur istri, jumlah anak dan komposisi anak yang telah dimiliki PUS setelah dikontrol dengan faktor pendidikan suami & istri, wilayah tinggal, pengeluaran RT perkapita, riwayat menstruasi istri dan pengetahuan kesehatan suami & istri. Kata Kunci: Berhenti pakai, Kontrasepsi, PUS


 ABSTRACT Background : Trends of prevalence contraceptive rates is increasing in the last few years. However,the discontinuation of contraceptives prevalence  is still stagnant. Goals : To obtain factors influencing discontinuation of  contraceptives  in couples of childbearing age 10-49 years. Methode : Population this research are women of childbearing age 10-49 years who are married. Sample in this research are all couples of childbearing age of 10-49 years who had ever used contraception and  using contraception. The data was analysed using statistic test of  logistic regression multivariate use SPSS version 15. And STATA version 10. The analysed used primary sampling unit and weight to adjust based on survey design. Result : Proportion of discontinuation of  contraceptives in women of childbearing age 10-49 years is 32%. In comparison between regions, the highest prevalence of discontinuation of contraceptives is on outer Jawa Bali II (33,6%) than outer Jawa Bali I (32,9%) and Jawa Bali (30,5%). The most frequent reason of discontinuation of contraceptives  are : do not need contraceptives (31%), want to have child (26%), fear of side effects (14%) and do not want anymore (10%). Based on the multivariate analysis show odds ratio of discontinuation of contraceptives is twice as higher among married women age above 35 years compare to the younger group (OR adjusted 2,150;95% CI=2,041-2,265). The odds ratio of discontinuation of contraceptives is also higher among couples who have less children (0-1 child) compare to those who has 3 or more children (OR adjusted 1,486;95% CI=1,373-1,568). Couples who have children in the same sex have higher discontinuation of contraceptives than couples who have both male and female children (OR adjusted 1,398;95% CI=1,333-,466). Conclution : The main contributing factors of discontinuation of contraceptives are age of wife, number of children and sex composition  of children with the control variables  education of husband and wife, living area, household expenditure per capita, wife’s menstrual history, and wife and husband’s health knowledge. Keywords : discontinuity, contraception, couples of childbearing age

Read More
T-3335
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Arif Musoddaq; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Sri Tjahjani Budi Utami, Fitri Andayani, Catur Puspawati
Abstrak: Merokok berbahaya bagi perokok aktif maupun perokok pasif (Aditama, 2001).Asap rokok mengandung nikotin yang dapat memicu aktivitas kelenjar tiroid padamanusia (Utiger, 1998). Wanita lebih rentan mengalami hipertiroid (Greenspanand Baxter, 1994). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antarastatus merokok dengan kejadian hipertiroid pada pasien wanita usia subur diKlinik Balai Litbang GAKI Magelang tahun 2013-2014. Penelitian dilakukandengan disain kasus-kontrol. Penelitian melibatkan 51 responden pasien wanitausia subur penderita hipertiroid dan 102 responden pasien wanita usia suburdengan fungsi tiroid normal (eutiroid). Pengumpulan data dilakukan pada statusmerokok, umur, penggunaan kontrasepsi hormonal, melahirkan 1 tahun terakhir,tingkat stres, dan kebiasaan penggunaan garam beriodium rumah tanggaresponden. Data dianalisa menggunakan uji regresi logistik. Pasien wanita usiasubur terpajan asap rokok baik perokok aktif atau pasif berisiko mengalamihipertiroid 2,05 kali dari risiko pasien wanita usia subur di Klinik Balai LitbangGAKI Magelang setelah dikontrol variabel kontrasepsi hormonal dan tingkatstres. Menggunakan kontrasepsi hormonal menurunkan risiko hipertiroid,sedangkan stres berat meningkatkan risiko hipertiroid. Wanita usia suburhendaknya menghindari pajanan asap rokok dan melakukan manajemen stresuntuk mengurangi faktor risiko hipertiroid.
Kata kunci : kasus-kontrol, status merokok, hipertiroid, wanita usia subur,
Smoking is harmful to the active smokers and passive smokers (Aditama, 2001).Tobacco smoke contains nicotine, chemical that are known can leadhyperthyroidism in human (Utiger, 1998). This study aimed to determine therelationship between smoking status on hyperthyroidism in patients ofchildbearing age women in the Clinic of IDD (Iodine Deficiency Disorders)Research Center, Magelang in 2013-2014. The study was conducted with a case-control design. The study involved 51 childbearing-age women patients withhyperthyroidism patients and 102 childbearing-age women patients with normalthyroid function (euthyroid). Data collection was conducted on smoking status,age, hormonal contraceptive use, giving birth in the past one year, the level ofstress, and the habits of the use of iodized salt in the household. Data wereanalyzed using logistic regression. Chiilbearing-age women patients who wereactive/passive smokers at risk of hyperthyroidism 2.05 times the risk ofchildbearing-age women patients in the Clinic of Iodine Deficiency Disorders(IDD) Research Center, Magelang after controlled by hormonal contraceptivesand stress levels variables. Use of hormonal contraceptives reduce the risk ofhyperthyroidism, whereas severe stress increases the risk of hyperthyroidism.Childbearing-age women should avoid exposure to cigarette smoke and do stressmanagement to reduce risk factors for hyperthyroidism.
Keywords : case-control, smoking status, hyperthyroidism, childbearing agewomen
Read More
T-4282
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yohanes Sedyahutama H; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rahmadewi
Abstrak: Latar Belakang: Angka partisipasi program Keluarga Berencana (KB)PUS di Kecamatan Tebet sebesar 72,92% pada 2012 turun menjadi 63,48%pada 2013 sementara IIS 70% pada 2012. Salah satu kelurahan, KelurahanManggarai tahun 2012 sebesar 50,78% dan tahun 2013 tidak ada laporan,kepadatan penduduk 36.725jiwa/km². Belum diketahui faktor-faktor apa sajayang menyebabkan seorang wanita PUS di Kelurahan Manggarai memutuskanuntuk mengikuti atau tidak mengikuti protram KB di Kelurahan Manggarai.Tujuan penelitian: Meneliti variabel yang berhubungan partisipasi KB.Variabel: Faktor Penguat-umur, pendidikan, jumlah anak, pekerjaan,penghasilan, pengetahuan, niat bereproduksi, otonomi dalam ber-KB, FaktorPemungkin-Ketersediaan layanan dan alat, pemeriksaan kesehatan, mediamassa, Faktor Pendorong-dukungan suami, konseling tentang KB, pemanfaatanpelayanan ANC, pemanfaatan pelayanan nifas. Hasil Penelitian: ANCmemiliki hubungan dengan partisipasi KB (OR=3,972 95% CI=1,188%-13,284%) dan dukungan suami memiliki faktor proteksi terhadap partisipasiKB (OR=0,101 95% CI=0,029-0,354). Saran: Diperlukan pengembangan ANCyang semakin baik untuk memfasilitasi wanita PUS agar mendapat layanankonseling ditambah informasi mengenai KB dan penyebaran informasitermasuk ke suami wanita PUS mengenai pentingnya ber-KB dan bagaimanacara mendapatkan pelayanan tersebut.
Kata kunci: partisipasi KB, wanita PUS, ANC, Kelurahan Manggarai.
Background: Participation rate for Family Planning (FP) program inTebet District is 72,92% as of 2012 but decrease to 63,48% as of 2013. Oneof the village, Manggarai Village is 50,78% as of 2012 and no report as of2013 while having population density 36.725people/km². There is not knownfactors yet which affecting marriage women of childbearing age to participateor not in FP program in Manggarai Village. Purpose: Research variables thatmay have impact on Family Planning participation of woman in childbearingage. Variables: Predisposing Factor-age, education, number of children,employment status, income, reproductive intention, self-autonomy for usingFP methods, Enabling Factor-FP treatment and methods availability, massmedia, Reinforcing Factor-husband support, FP counseling, Antenatal-careand post-partum participation utilization rate. Result: ANC utilization rate isfound having a relation with participation rate for FP (OR=3,972 95%CI=1,188%-13,284%) and husband support is having protective factoragainst participating in FP program OR=0,101 95% CI=0,029-0,354).Suggestions: ANC program needs to be expanded to be better at facilitatingmarriage women of childbearing age for getting counseling and informationabout FP and spreading information including for husband of women ofchildbearing age about the importance of FP and how to get the service.
Key words: FP Participation rate, Marriage Women of Childbearing Age, ANC,Manggarai Village.
Read More
S-8508
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosita Putri Mayliana; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Artha Prabawa, Rahmadewi
Abstrak: Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penyumbang AKI terbesar diIndonesia dan memiliki angka komplikasi persalinan yang cukup tinggi, yaitu22,2%. Kejadian komplikasi persalinan banyak terjadi pada ibu yang melahirkan bukan dengan tenaga kesehatan (46%). Penelitian ini merupakan analisis data SDKI 2012 dengan sampel sebanyak 1.609 wanita usia subur (15-49 tahun).Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penolong persalinan dengan kejadian komplikasi persalinan di Jawa Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ibu yang melahirkan bukan dengan tenaga kesehatan berisiko 7,948 kali lebih tinggi untuk mengalami komplikasi persalinandibandingkan dengan ibu yang melahirkan dengan tenaga kesehatan setelah dikontrol oleh variabel riwayat komplikasi persalinan, tempat persalinan,kunjungan neonatal, dan akses informasi.
Kata kunci : Komplikasi persalinan, penolong persalinan, wanita usia subur
West Java is one of the largest province which contribute to maternal mortality inIndonesia and has a number of labor complications are quite high, 22.2%.Incidence of labor complications common in mothers who gave birth not byhealth workers (46%). This study is an analysis of data IDHS 2012 with a sampleof 1,609 women of childbearing age (15-49 years). This study aimed to determinethe relationship between the incidence of labor complications with the birthattendants in West Java. The analysis showed that mothers who give birth ratherthan by health workers 7.948 times higher risk to develop complications of laborcompared with women who gave birth by health professionals after beingcontrolled by a variable history of childbirth complications, place of delivery,neonatal visits, and access to information.
Keywords : Labor complication, birth attendants, women of childbearing age
Read More
S-8179
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tsabita Zahra; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Suci Soraya Sinaga
Abstrak:
Kanker serviks merupakan penyebab utama kematian pada wanita, sehingga perlu upaya deteksi dini kanker serviks salah satunya dengan IVA. Namun, cakupan IVA di Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi niat WUS melakukan deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA di Puskesmas Pancoran Mas tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel sebanyak 100 WUS yang melakukan kunjungan ke poli KIA dan KB di Puskesmas Pancoran Mas. Hasil penelitian menunjukan bahwa 35% WUS tidak memiliki niat untuk melakukan IVA, faktor yang berhubungan dengan niat WUS yaitu sikap (PR= 4,000; 95% CI: 1,93-8,30), Norma subjektif (PR= 4,857; 95% CI: 2,46-9,60), dan Kontrol perilaku (PR= 4,333; 95% CI: 2,28-8,25). Kemudian, faktor latar belakang yang mempengaruhi sikap yaitu pendidikan (PR= 1,976; 95% CI: 1,46-2,68), pekerjaan (PR= 1,632; 95% CI: 1,08-2,47), dan pengetahuan (PR= 3,244; 95% CI: 1,31-8,02). Faktor latar belakang yang mempengaruhi norma subjektif yaitu pengetahuan (PR= 2,609; 95% CI: 1,04-6,53). Serta faktor latar belakang yang mempengaruhi kontrol perilaku yaitu pekerjaan (PR= 1,667; 95% CI: 1,01-2,77), dan pengetahuan (PR= 2,538; 95% CI: 1,01-6,36). Untuk meningkatkan niat WUS melakukan IVA, perlu peningkatan promosi kesehatan mengenai kanker serviks dan IVA yang dilakukan secara komprehensif dan menyeluruh

Cervical cancer is the leading cause of death in women, so early detection of cervical cancer is needed, one of which is with IVA. However, IVA coverage in Indonesia is still low. This study aims to determine what factors influence WUS's intention to conduct early detection of cervical cancer with the IVA method at the Pancoran Mas Health Center in 2023. This study used a cross-sectional study design with a sample of 100 WUS who visited the MCH poly and KB at the Pancoran Mas Health Center. The results showed that 35% of WUS did not have the intention to do IVA, factors related to WUS intention were attitude (PR = 4.000; 95% CI: 1.93-8.30), subjective norms (PR = 4.857; 95% CI: 2.46-9.60), and Behavioral control (PR = 4.333; 95% CI: 2.28-8.25). Then, background factors that influenced attitudes were education (PR = 1.976; 95% CI: 1.46-2.68), occupation (PR = 1.632; 95% CI: 1.08-2.47), and knowledge (PR = 3.244; 95% CI: 1.31-8.02). The background factor influencing subjective norms was knowledge (PR= 2.609; 95% CI: 1.04-6.53). As well as background factors that influence behavioral control, namely occupation (PR = 1.667; 95% CI: 1.01-2.77), and knowledge (PR = 2.538; 95% CI: 1.01-6.36). To increase WUS's intention to conduct IVA, it is necessary to increase health promotion regarding cervical cancer and IVA which is carried out comprehensively and comprehensively
Read More
S-11514
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Apande; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Helda, Nia Reviani
Abstrak:
Berdasarkan cakupan Indeks Ketimpangan Gender, Provinsi Banten dan Bengkulu memiliki cakupan IKG yang sama. Namun capaian penggunaan MKJP berdasarkan SDKI berbeda di Provinsi Banten memiliki capaian penggunaan yang konsisten rendah dan Provinsi Bengkulu memiliki capaian penggunaan konsisten tinggi. Sehingga terdapat faktor yang mempengaruhi penggunaan MKJP di kedua wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh faktor yang mempengaruhi penggunaan MKJP pada WUS yang tidak menginginkan anak lagi antara Provinsi Banten dan Bengkulu. Sampel yang dianalisis dalam penelitian ini sebanyak 319 di Provinsi Banten dan 254 di Provinsi Bengkulu. Hasil studi ini menunjukkan bahwa proporsi penggunaan MKJP pada WUS yang tidak menginginkan anak lagi sebesar 20,5% di Provinsi Banten dan 31% di Provinsi Bengkulu. Faktor yang paling dominan mempengaruhi penggunaan MKJP di Provinsi Banten adalah sumber pelayanan KB, wanita yang pelayanan KB-nya dilakukan di sektor pemerintah memiliki risiko 7 kali lebih tinggi untuk menggunakan MKJP (PR 7,05 95% CI 4,60-10,8). Faktor yang dominan mempengaruhi penggunaan MKJP di Provinsi Bengkulu adalah tempat tinggal, wanita yang tinggal di perkotaan memiliki risiko 1,8 kali untuk menggunakan MKJP dibandingkan wanita yang tinggal di pedesaan (PR 1,88 95% CI 1,34-2,64).

Based on the coverage of the Gender Inequality Index, Banten and Bengkulu provinces have the same coverage. However, the achievement of LACM utilization based on the IDHS is different in Banten Province has a consistently low utilization rate and Bengkulu Province has high consistent usage achievements. Therefore, there are factors that influence the use of LACM in these two regions. This study aims to determine the differences in the influence of factors affecting the use of LACM in women who do not want more children between Banten and Bengkulu Provinces. The samples analyzed in this study were 319 in Banten Province and 254 in Bengkulu Province. The results of this study showed that the proportion of LACM use among women who did not want more children was 20.5% in Banten Province and 31% in Bengkulu Province. The most dominant factor influencing the use of LACM in Banten Province was the source of family planning services, women whose family planning services were conducted in the government sector had a 7 times higher risk of using LACM (PR 7.05 95% CI 4.60-10.8). The dominant factor affecting the use of LACM in Bengkulu Province is place of residence, women who live in urban areas have a 1.8 times risk of using LACM compared to women who live in rural areas (PR 1.88 95% CI 1.34-2.64).
Read More
T-7024
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive