Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rekha Putra Atarita; Pembimbing: Robiana Modjo, ; Penguji: Mila Tejamaya, Muhammad Fachri
S-8998
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jhon Sriven; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Ausir Nasrudin
Abstrak: Industri tambang batubara merupakan sebuah industri dengan risikokeselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi. Karenanya, penulis memandangperlunya melakukan sebuah penelitian pada sektor industri tambang yangdiharapkan kemudian akan bermuara pada peningkatan upaya-upaya sistematisdalam rangka penurunan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, sertapenurunan angka fatalitas pada aktivitas tambang batubaraPenelitian ini membahas penilaian dan evaluasi risiko K3 pada aktivitastambang di PT. Adaro Indonesia Site Tanjung Tabalong Kalimantan SelatanTahun 2013. Penelitian ini adalah deksriptif analitik dengan pendekatanobservasional. Penelitian ini menggunakan metode identifikasi bahaya dan risikomenggunakan JHA (Job Hazard Analysis) dan analisis penilaian risiko semikuantitatif menurut AS/NZS ISO 31000 dengan mengalikan consequences,probability dan exposure. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas tambang di PT Adaro Indonesia Site Tanjung Tabalong memiliki 182 risiko keselamatan dan kesehatan kerja.Kata kunci: risiko, batubara, aktivitas tambang.
Coal mining industry is an industry with high risks of occupational healthand safety. Hence, it is considered important to conduct a risk assessment andevaluation on occupational health and safety in a coal mining industry. Theexpected result of the assessment and evaluation is an improvement of significantefforts in decreasing occupational accident and illness rate, and also fatality rate incoal mining activities.Focus of this study was OHS risk assessment and evaluation on miningactivity in PT. Adaro Indonesia Site Tanjung Tabalong South Kalimantan in 2013.This study was analytical descriptive using observational approach. This studyused Job Hazard Analysis for hazard and risk identification, and semi-quantitativerisk assessment method by multiplication of consequences, probability, andexposure score. The result of this study showed that mining activity in PT. AdaroIndonesia Site Tanjung Tabalong has 182 OHS risks.Key words: risk, coal, mining activities.
Read More
S-8128
Depok : FKMUI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ario Wicaksono; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo, Trisnajaya, Aris Bastian Lahay
Abstrak:
Metabolik sindrom (MetS) menjadi tantangan kesehatan serius pada pekerja sedenter seperti operator truck coal hauling. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor manusia, pekerjaan, lingkungan kerja fisik, dan stresor psikososial terhadap risiko MetS pada operator di PT X, Kalimantan Timur. Metode penelitian menggunakan kuantitatif observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner GPAQ, FFQ, NASA-TLX, dan survei stres kerja Permenaker No. 5 Tahun 2018. Data sekunder berupa rekam medis (Medical Check-Up 2025) digunakan untuk menegakkan diagnosis MetS berdasarkan kriteria IDF/NCEP-ATP III (minimal 3 dari 5 parameter). Pengukuran lingkungan dilakukan di kabin truk. Sampel final berjumlah 125 operator laki-laki yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik Berganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi MetS sebesar 24,8% (31 orang). Secara individual, persentase kondisi klinis abnormal cukup tinggi: tekanan darah tinggi (88%), kolesterol HDL rendah (74%), trigliserida tinggi (67%), obesitas abdominal (56%), dan gula darah puasa tinggi (35%). Analisis bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan signifikan (p < 0,05) dengan MetS adalah usia, aktivitas fisik, konsumsi karbohidrat, konsumsi buah, perilaku merokok, dan lama bekerja. Faktor lingkungan fisik dan komponen psikososial tidak berhubungan signifikan (p ≥ 0,05). Pemodelan akhir multivariat menegaskan lama bekerja < 10 tahun (p = 0,004; OR = 0,228) dan aktivitas fisik aktif (p = 0,012; OR = 0,217) sebagai faktor protektif. Perilaku merokok menunjukkan kecenderungan kuat meningkatkan risiko MetS hingga 3,86 kali lipat (p = 0,054; OR = 3,860). Penelitian menyimpulkan bahwa aktivitas fisik, masa kerja, dan merokok merupakan faktor penentu paling dominan. PT X disarankan mengintegrasikan program workplace wellness, mengontrol nutrisi kantin/katering bersama ahli gizi, mengoptimalkan skrining berkala parameter MetS pada operator senior, serta memfasilitasi program berhenti merokok.

Metabolic syndrome (MetS) poses a severe health challenge for sedentary workers, such as coal hauling truck operators. This study aims to analyze the relationship between human, job, physical work environment, and psychosocial stressors toward the risk of MetS among operators at PT X, East Kalimantan. This quantitative study utilized an analytical observational approach with a crosssectional design. Primary data were collected using the GPAQ, FFQ, NASA-TLX  questionnaires, and the work stress survey from Permenaker No. 5/2018. Secondary  data from the 2025 Medical Check-Up (MCU) reports were used to diagnose MetS  based on the joint IDF/NCEP-ATP III criteria (meeting at least 3 out of 5 clinical  parameters).  Environmental measurements (noise, temperature, vibration) were conducted directly inside the truck cabins. The final sample consisted of 125 male operators who met all inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using Chi-Square tests for bivariate analysis and Multiple Logistic Regression for multivariate analysis. The results showed a MetS prevalence of 24.8% (31 operators). Individually, the percentage of abnormal clinical conditions was considerably high: high blood pressure (88%), low HDL cholesterol (74%), high triglycerides (67%), abdominal obesity (56%), and high fasting blood glucose (35%). Bivariate analysis revealed that age, physical activity, carbohydrate consumption, fruit consumption, smoking behavior, and length of employment were significantly associated with MetS (p < 0.05). Physical work environment factors and psychosocial stress components showed no significant association (p ≥0.05). The final multivariate model confirmed that a length of employment < 10 years (p = 0.004; OR = 0.228) and being physically active (p = 0.012; OR = 0.217) acted as significant protective factors. Smoking behavior demonstrated a strong trend toward increasing MetS risk by 3.86 times (p = 0.054; OR = 3.860). The study concludes that physical activity, length of employment, and smoking are the most dominant determinants of MetS. PT X is advised to integrate structured workplace wellness programs, manage canteen/catering nutrition alongside professional nutritionists, optimize routine MetS screenings for senior operators, and facilitate smoking cessation initiatives.
Read More
T-7701
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sisca Sri Utari; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Nur Ani
Abstrak: Kelelahan merupakan salah satu penyebab tingginya angka kecelakaan. Salah satu jenis pekerjaan yang memiliki potensi tinggi untuk mengalami kelelahan adalah operator tambang batubara. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan jenis kendaraan terhadap tingkat kelelahan pada operator tambang batubara. Variabel yang dianalisis adalah kelelahan, jenis kendaraan, umur, kuantitas tidur, shift kerja, dan masa kerja. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode systematic literature review dengan melakukan full text review pada 10 literatur. Hasil dari penelitian ini diketahui skor tingkat kelelahan operator tambang sebesar 45-56 atau 28% - 59,3%. Operator dump truck hauling cenderung mengalami kelelahan berat dibandingkan dengan operator dump truck area loading dan dumping, serta operator lainnya. Selain itu, dari keseluruhan variabel yaitu jenis kendaraan, kuantitas tidur, dan shift kerja memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat kelelahan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah jenis kendaraan yang digunakan operator memiliki pengaruh terhadap tingkat kelelahan pada operator tambang batubara.

Fatigue is one of the causes of the high accident rate. One type of work that has a high potential to experience fatigue is a coal mine operator. This study aims to explain the different types of vehicles on the level of fatigue in coal mine operators. The variables analyzed were fatigue, vehicle type, age, sleep quantity, work shift, and work period. This research was conducted using a systematic literature review method by conducting a full text review of 10 literatures. The results of this study note the mine operator fatigue level score of 45-56 or 28% - 59.3%. Hauling dump truck operators tend to experience severe fatigue compared to dump truck operators of loading and dumping areas, as well as other operators. In addition, the overall variables, namely the type of vehicle, sleep quantity, and work shift have a significant relationship to the level of fatigue. The conclusion from this study is the type of vehicle used by the operator has an influence on the level of fatigue in the coal mine operator.
Read More
S-10474
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raisha Humaira; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Nur Ani
Abstrak: Operator tambang batubara merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki risiko tinggiuntuk mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kelelahan pada operator tambang batubara denganmenggunakan metode tinjauan literatur sistematis. Faktor yang diteliti yaitu shift kerja,durasi kerja, dan beban kerja dengan covariat faktor individu (usia, kualitas tidur,kuantitas tidur, dan irama sirkadian) dan faktor pekerjaan &lingkungan kerja (waktuistirahat, waktu kerja, dan masa kerja). Desain penelitian ini merupakan penelitianeksploratori dengan metode deskriptif melalui tinjauan literatur sistematis terhadapliteratur yang sesuai dengan kriteria penilaian. Tinjauan literatur sistematis ini dilakukandengan tahapan identifikasi, ekstraksi, sintetis, dan intrepetasi data yang diperoleh dari11 literatur terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara shiftkerja, durasi kerja, dan beban kerja terhadap kelelahan pada operator tambang batubara.
Coal Mining Operator is one of the high-risk occupations in experiencing fatigue. Thisstudy aim to determine factors associated with fatigue on coal mining operators througha systematic literature review method. Factors studied were shift work, work duration,and workload with covariate of individual factors (age, sleep quantity, sleep quality, andcircadian rhythm) and factors of work & work environment (rest periods, work hours,and work period). This research is an exploratory study with a descriptive methodthrough a systematic literature review of the literature in according to the researchcriteria. This systematic literature review is conducted through the identification,extraction, synthesis, and interpretation of data obtained from 11 selected literature. Theresukt showed that there was an influence between shift work, work duration, andworkload on fatigue in coal mining operators.
Read More
S-10291
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bobby Robson Sitorus; Pembimbing: Hendra; Penguji: Chandra Satrya, Dadan Erwandi, Sanggam Robaga P Sinaga, Tatag Saksono
Abstrak: Abstrak

Penelitian ini berupa analisis penyebab coal dust explosion accident di PLTU X tahun 2011 yang terjadi pada tanggal 14 Desember 2011 mengakibatkan kerugian yang berupa kerusakan coal feeder dan panel instrumen boiler, dan kerugian akibat terhentinya pembangkitan energi listrik selama masa perbaikannya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif untuk menganalisis data primer dan data sekunder untuk menganalisis penyebab langsung, penyebab tidak langsung dan penyebab dasar. Penyebab langsung adalah interaksi bahan, alat dan proses sehingga terpenuhinya 5 kriteria dust explosion pentagon dan menciptakan ledakan. Penyebab tidak langsung terdiri dari prilaku tidak aman dan kondisi tidak aman. Prilaku tidak aman yang dilakukan adalah mengoperasikan mill saat terjadi gangguan blocking, membuka damper cold air terlalu cepat sehingga menciptakan terpenuhinya 5 kriteria coal dust explosion diakibatkan oleh pengetahuan akan resiko coal dust explosion, tidak tersedianya SOP, pengaturan mode operasi yang belum sesuai, dan kerusakan damper cold air. Sedangkan kondisi tidak aman terdiri dari gangguan blocking, kerusakan peralatan, dan desain coal feeder. Penyebab dasar adalah komunikasi yang sulit antara operator dan kontraktor EPC, ketidakjelasan mengenai tanggung jawab perbaikan, kurangnya pengalaman personel, dan tidak ada pengawasan mengenai K3 operasi. Risk assessment khusus pengoperasian mill perlu dilaksanakan untuk mendapatkan langkah-langkah pencegahan insiden coal dust explosion yang paling tepat.


This study analyzes the causes of a coal dust explosion accident at Steam Power Plant ?X? in 2011 which occurred on December 14, 2011 caused in losses such as damage to the instrument panel coal boiler feeder, and losses due to interruption of electric energy generation during repairs. The study was conducted with a qualitative approach to analyze primary data and secondary data to analyze the direct cause, indirect cause and basic cause. The direct cause is the interaction of materials, tools and processes that fulfill 5 criteria and creating a dust explosion pentagon explosion. Indirect causes consist of unsafe actions and unsafe conditions. Unsafe action consisted of operate mill during disturbances blocking, open the damper cold air too fast, creating the five criteria of coal dust explosion caused by the knowledge of the risks of coal dust explosion, unavailability of SOP, the setting is not appropriate mode of operation, and damage damper cold air. While unsafe conditions consisted of interference blocking, damage to equipment, and design of coal feeder. The basic cause consisted of a difficult communication between the operator and EPC contractors, uncertainty regarding the repair responsibilities, lack of personnel experience, and there is no oversight of the safety operation. Risk assessment should be carried out special operation of the mill to get the preventive measures coal dust explosion incidents are most appropriate.

Read More
T-3917
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: I Made Djaja, Syahrul Meizar Nasri; Penguji:Mondastri Korib Sudaryo, Robiana Modjo, Indri Hapsari Susilowati, Sutanto Priyo Hastono, Lana Saria, Heny D. Mayawati
Abstrak:

Kelelahan merupakan hal umum yang dikeluhkan oleh pekerja dan hampir 20% pekerja melaporkan gejala kelelahan. Khusus pada pengemudi, kelelahan berkontribusi secara signifikan terhadap kecelakaan transportasi. Selain meningkatnya kerugian akibat kecelakaan, kelelahan mengemudi juga menyebabkan kerugian finansial yang besar di sesluruh dunia. Kelelahan mengemudi juga dialami oleh pekerja tambang batubara di Indoneisa, khususnya pekerja operator. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan determinan strategis kelelahan dari faktor individu, faktor pekerjaan dan faktor eksternal pada operator tambang batubara di Kalimantan dan Sumatra tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada 2 perusahaan tambang batubara, 7 lokasi tambang, dan 480 operator. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan menggunakan kuesioner. Kelelahan diukur dengan menggunakan 3 instrumen yaitu checklist individual streght-20 (CIS-20), multidimensionall fatigue inventory-20 (MFI-20), dan swedish occupational fatigue inventory (SOFI). Tipe kelelahan yang diteliti meliputi kelelahan umum, kelelahan fisik, kelelahan mental, dan kelelahan emosional. Beberapa instrumen standar juga digunakan dalampenelitian ini seperti perceived stress scale untuk mengukur stres, dutch boredom scale untuk mengukur rasa bosan, dan Pittsburg sleep quality index untuk mengukur kualitas tidur. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik ganda. Operator yang menjadi responden penelitian mempunyai umur 32,13 ± SD 6,1 tahun (21 – 58 tahun), sedangkan IMT diperoleh rerata sebesar 24,86 ± SD 3,1 dengan rentang (16,51 – 33,75) serta IMT terbanyak 24,22. Terdapat 26,9% operator termasuk kategori obesitas. Mayoritas operator sudah menikah (85%) dan sebagian besar (63,5%) tinggal di luar mess dengan keluarga (55,8%) serta mayoritas (96%) berpendidikan SMA atau sederajat. Rerata masa kerja operator adalah 9,52 ± SD 4,2 tahun dengan rentang (124 tahun) serta masa kerja terbanyak adalah 10 tahun. Sebagian besar operator bekerja di area tambang (65,8%). Jumlah operator berdasarkan pola shift dan waktu shift, masingmasing 240 (50%). Prevalensi kelelahan pada operator berkisar antara 20%-31% dengan kelelahan umum 24,8%, kelelahan fisik 22,3%, kelelahan mental 32,3%, dan kelelahan emosional 30,6%. Determinan strategis kelelahan pada operator terdiri dari faktor individu yang meliputi tingkat stres, kualitas tidur, gangguan eksternal tidur, faktor pekerjaan meliputi lokasi kerja di tambang, dan faktor eksternal yaitu tinggal dengan keluarga. Sedangkan faktor pola shift kerja dan masa kerja merupakan faktor kontekstual. Faktor yang menjadi determinan pada semua tipe kelelahan adalah faktor tingkat stres dan lokasi kerja. Determinan strategis pada kelelahan umum adalah tingkat stres (OR=3,0), lokasi kerja (OR=2,5), kualitas tidur (OR=1,8), dan tinggal dengan keluarga (OR=1,6). Pada kelelahan fisik, determinan strategis adalah tingkat stres (OR=2,5), gangguan eksternal tidur (OR=2,2), dan lokasi kerja di tambang (OR=1,7). Kelelahan mental mempunyai determinan strategis yaitu kualitas tidur (OR= 2,1), lokasi kerja di tambang (OR=2,1), tingkat stres (OR=1,7) dan gangguan eksternal tidur (OR=1,6). Sedangkan kelelahan emosional mempunyai determinan strategis yaitu tingkat stres (OR=2,0), lokasi kerja (OR=1,9), dan kualitas tidur (OR=1,9). Kelelahan emosional juga mempunyai faktor pola shift yang merupakan faktor kontekstual dengan OR= 1,9 dan masa kerja dengan OR=1,6. Dapat disimpulkan bahwa determinan kelelahan pada operator tambang batubara meliputi faktor individu, faktor pekerjaan, dan faktor eksternal. Kelelahan mental merupakan tipe kelelahan yang paling banyak dirasakan oleh operator. Determinan kelelahan yang terdapat pada semua tipe kelelahan adalah tingkat stres dan lokasi kerja. Semua determinan dapat menjadi perhatian dalam pengembangan kebijakan dan program manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara. Kata kunci: kelelahan, kerja shift, kualitas tidur, operator batubara, stress


 

Fatigue is a common complaint by workers, and almost 20% of workers report symptoms of fatigue. Especially for drivers, fatigue contributes significantly to transportation accidents. In addition to the increasing loss due to accidents, driving fatigue is also causing many financial losses worldwide. Fatigued driving is also experiencing by coal mining workers in Indonesia, especially operator workers. This study aims to obtain strategic determinants of fatigue from individual factors, occupational factors, and external factors for coal mining operators in Kalimantan and Sumatra in 2021. This study uses a cross-sectional design for two coal mining companies, seven mine sites, and 480 operators. Data collection was online using a questionnaire. Fatigue was measured using three instruments, namely the individual strength-20 checklist (CIS-20), the multidimensional fatigue inventory-20 (MFI-20), and the Swedish occupational fatigue inventory (SOFI). The types of fatigue studied included general fatigue, physical exhaustion, mental fatigue, and emotional exhaustion. Several standard instruments were used in this study, such as the perceived stress scale to measure stress, the Dutch boredom scale to measure boredom, and the Pittsburgh sleep quality index to measure sleep quality. Data analysis used chi-square and multiple logistic regression. Operators who became research respondents had an age of 32.13 ± SD 6.1 years (21 – 58 years), while the BMI obtained an average of 24.86 ± SD 3.1 with a range (16.51 – 33.75) and the highest BMI 24.22. There are 26.9% of operators included in the obese category. The majority of operators are married (85%), and most (63.5%) live outside the mess with their families (55.8%), and the majority (96%) have a high school education or equivalent. The average operators' tenure is 9.52 ± SD 4.2 years with a range (1-24 years), and the most tenure is ten years. Most of the operators work in the mining area (65.8%). The number of operators based on shift patterns and shift times is 240 (50%). The prevalence of fatigue in operators ranges from 20%-31%, with general fatigue 24.8%, physical fatigue 22.3%, mental fatigue 32.3%, and emotional fatigue 30.6%. The strategic determinants of operator fatigue consist of individual factors, including stress levels, sleep quality, external sleep disturbances, work factors including work locations in the mine, and external factors, namely living with family. The work shift pattern and working period are contextual factors. Factors that determine all types of fatigue are stress levels and work locations. The strategic determinants of general fatigue were stress level (OR=3.0), work location (OR=2.5), sleep quality (OR=1.8), and living with family (OR=1.6). On physical exhaustion, strategic determinants were stress level (OR=2.5), external sleep disturbance (OR=2.2), and work location in the mine (OR=1.7). Mental fatigue has strategic determinants, namely sleep quality (OR = 2.1), work location in the mine (OR = 2.1), stress level (OR = 1.7) and external sleep disturbances (OR = 1.6). Meanwhile, emotional exhaustion has strategic determinants, namely stress level (OR=2.0), work location (OR=1.9), and sleep quality (OR=1.9). Emotional fatigue has a shift pattern as a contextual factor with OR = 1.9 and job tenure with OR = 1.6. The conclusion is the determinants of fatigue in coal mine operators include individual factors, occupational factors, and an external factor. Mental fatigue is the type of fatigue most felt by operators. The determinants of fatigue found in all fatigue types are work sites and stress levels. All determinants might be accountable for developing fatigue policy and risk management programs at coal mining companies. Keywords: coal mining operator, fatigue, shift work, sleep quality, stress

Read More
D-515
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dio Wiratama Indrafahrudi; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhammad Sunarno, Muhammad Irwansyah, Propana Okionomus Ali
Abstrak:

Kecelakaan tambang di Indonesia menunjukkan beban yang perlu dikendalikan secara sistemik, melalui efektivitas pengukuran awal Safety Maturity Level (SML). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara SML dan kinerja keselamatan pertambangan yaitu indikator kecelakaan (Frequency Rate dan Severity Rate), sekaligus menjelaskan faktor konteks yang memengaruhi kekuatan hubungan tersebut. Penelitian menggunakan desain mixed methods - explanatory sequential. Fase kuantitatif memanfaatkan data sekunder dari Kementerian ESDM (KESDM) tahun 2024 di 52 perusahaan tambang batubara tahap operasi produksi sesuai kriteria inklusi, yaitu skor SML berbasis KepDirjen Minerba nomor 10.K/MB.01/DJB.T/2023 dan data statistik kecelakaan tambang 2024. Uji normalitas data menunjukkan tidak terdistribusi normal, sehingga analisis menggunakan pendekatan nonparametrik Spearman rho (ρ) dan GLM gamma. Hasil kuantitatif mengindikasikan bahwa SML secara total (agregat) berkorelasi negatif dan signifikan dengan kinerja keselamatan (indeks kecelakaan tambang), namun kontribusi tiap dimensi SML tidak seragam. “Upaya Pengendalian” merupakan indikator yang paling konsisten bersifat protektif terhadap indeks kecelakaan, sedangkan “Partisipasi Pekerja” tidak menunjukkan hubungan yang signifikan namun korelasi negatif; sementara itu, “Tanggung Jawab Pimpinan” dan “Analisis Statistik”
menunjukkan hubungan negatif (bivariat) dan positif (multivariat), serta signifikan terhadap indeks kecelakaan tambang. Selanjutnya, temuan kualitatif dari data sekunder KESDM terhadap sub-sampling perusahaan menegaskan bahwa SML tinggi tidak selalu diikuti penurunan kecelakaan ketika terdapat kesenjangan implementasi pengendalian, terutama pada tata kelola kontraktor, kompetensi, dan konsistensi eksekusi di lapangan. Penelitian menyimpulkan bahwa SML berdampak pada penurunan kecelakaan terutama jika diwujudkan dalam pengendalian risiko yang nyata dan pembelajaran berbasis data yang ditutup dengan tindakan (closed-loop learning), bukan sekadar pemenuhan administratif.


Mining accidents in Indonesia indicate a burden that must be controlled systemically through the effectiveness of early measurement of the Safety Maturity Level (SML). This study aims to analysis the relationship between SML and mining safety performance represented by accident indicators (Frequency Rate and Severity Rate) while also explaining contextual factors that influence the strength of this relationship. The research employs a mixed-methods design with an explanatory sequential approach. The quantitative phase utilizes secondary data from the Ministry of Energy and Mineral Resources (KESDM) for 2024, covering 52 coal mining companies at the production  operation stage that met the inclusion criteria, namely SML scores based on the Director  General of Mineral and Coal Decree No. 10.K/MB.01/DJB.T/2023 and 2024 mine accident statistics. Data normality tests showed non-normal distributions; therefore, analysis was conducted using nonparametric Spearman’s rho (ρ) and a gamma Generalized Linear Model (GLM). Quantitative results indicate that overall (aggregate) SML is negatively and significantly correlated with safety performance (the mining accident index), but the contribution of each SML dimension is not uniform. “Control Measures” emerged as the most consistently protective indicator against the accident index, whereas “Worker Participation” showed no significant relationship, although the correlation direction was negative. Meanwhile, “Leadership Responsibility” and “Statistical Analysis” demonstrated negative (bivariate) and positive (multivariate) relationships, and both were significant with respect to the mining accident index. Furthermore, qualitative findings derived from secondary KESDM data on a subsample of companies confirm that a high SML does not always translate into reduced accidents when gaps in the implementation of controls persist—particularly in contractor governance, competency, and consistency of execution in the field. This study concludes that SML contributes to accident reduction primarily when it is translated into tangible risk controls and data-driven learning that is closed with corrective action (closed-loop learning), rather than merely fulfilling administrative requirements.

Read More
T-7491
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adenan; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Fatma Lestari, Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Budi Hartono, L. Meily Kurniawidjaja, Herlina J. EL- Matury, Kusnendi Soehardjo, Suparni
Abstrak:

Keselamatan kerja pada jalur hauling di industri pertambangan batubara merupakan aspek penting yang memerlukan perhatian serius, mengingat tingginya risiko kecelakaan kerja pada aktivitas pengangkutan material. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kecelakaan kerja dan menyusun model pencegahan berbasis Human Factor Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI) serta metode investigasi Australian Transport Safety Bureau (ATSB). Pendekatan campuran digunakan dalam penelitian ini, dengan data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap 420 operator dump truck di tiga perusahaan tambang terbuka di Kalimantan, serta data kualitatif dari wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi langsung di lapangan. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh enam variabel independen faktor eksternal, pengaruh organisasi, kepemimpinan tidak berkeselamatan, pengendalian risiko, kondisi lingkungan, dan tindakan individu terhadap kecelakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki pengaruh signifikan, dengan kepemimpinan tidak berkeselamatan dan kondisi lingkungan sebagai faktor dominan penyebab kecelakaan. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan pengawasan, perbaikan perilaku kerja operator, serta peningkatan kualitas jalur hauling. Model pencegahan yang diusulkan menitikberatkan pada penguatan kepemimpinan, pengendalian risiko, dan perawatan infrastruktur hauling secara berkelanjutan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja di sektor pertambangan.


 

Occupational safety in hauling roads within the coal mining industry is a critical aspect that requires serious attention, considering the high risk of work accidents during material transportation activities. This study aims to analyze the factors influencing occupational accidents and to develop a preventive model based on the Human Factor Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI) and the Australian Transport Safety Bureau (ATSB) investigation method. A mixed-method approach was used, with quantitative data collected through a survey of 420 dump truck operators across three open-pit mining companies in Kalimantan, and qualitative data gathered from in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), and direct field observations. Multiple linear regression analysis was employed to assess the influence of six independent variables external factors, organizational influence, unsafe leadership, risk control, environmental conditions, and individual actions on work accidents. The results indicated that all variables had a significant effect, with unsafe leadership and environmental conditions emerging as the dominant contributing factors. These findings highlight the need to strengthen supervision, improve operator behavior, and enhance the quality of hauling road infrastructure. The proposed accident prevention model emphasizes the reinforcement of leadership roles, risk control management, and continuous improvement of hauling infrastructure to reduce the incidence of occupational accidents in the mining sector.

Read More
D-589
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Singgare Krisandita; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ade Kurdiman, Agni Syah Sutoyo Putro
Abstrak:
Insiden dan fatalitas kerja di industri pertambangan masih terjadi meskipun sistem keselamatan formal telah diterapkan. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas pengendalian risiko juga dipengaruhi oleh keputusan pimpinan operasional dalam menghadapi situasi kerja yang dinamis. Namun, proses pengambilan keputusan tersebut masih belum banyak dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses pengambilan keputusan pimpinan dalam pengendalian risiko kritis keselamatan kerja di industri pertambangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multiple case study. Penelitian dilakukan pada salah satu perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur dengan melibatkan pimpinan operasional sebagai informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi proses pengambilan keputusan dalam pengendalian risiko kritis. Penelitian mengidentifikasi bahwa pengambilan keputusan pimpinan dalam pengendalian risiko kritis berlangsung melalui empat pola utama, yaitu cognitive pathway of decision making, systemic risk framing, experience-based adaptive decision style, dan systemic weakness pattern. Keputusan dibentuk melalui proses identifikasi risiko, interpretasi situasi, proyeksi konsekuensi, serta pemanfaatan pengalaman dalam menentukan tindakan. Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh faktor individu (pengalaman, persepsi risiko, simulasi mental, dan kondisi emosional), faktor organisasi (tekanan produksi, pengawasan, keterbatasan sistem, budaya keselamatan, dan sumber daya), serta faktor lingkungan operasional (kondisi lingkungan kerja, peralatan, dan keterbatasan area kerja). Temuan juga menunjukkan bahwa insiden lebih merupakan akumulasi kelemahan sistem daripada akibat kesalahan individu.

Incidents and fatalities of work in the mining industry still occur even though formal safety systems have been implemented. This shows that the effectiveness of risk control is also influenced by the decisions of operational leaders in dealing with dynamic work situations. However, the decision-making process is still not widely understood. This research aims to explore the decision-making process of leaders in controlling critical occupational safety risks in the mining industry. This study uses a qualitative approach with a multiple case study design. The research was conducted on one of the coal mining companies in East Kalimantan by involving operational leaders as informants. Data was collected through in-depth interviews, observations, and document reviews, then analyzed thematically to identify decision-making processes in controlling critical risks. The research identified that leadership decision-making in critical risk control takes place through four main patterns, namely cognitive pathway of decision making, systemic risk framing, experience-based adaptive decision style, and systemic weakness pattern. Decisions are formed through the process of identifying risks, interpreting situations, projecting consequences, and utilizing experience in determining actions. Decision-making is influenced by individual factors (experience, risk perception, mental simulation, and emotional state), organizational factors (production pressure, supervision, system limitations, safety culture, and resources), and operational environmental factors (work environment conditions, equipment, and work area limitations). The findings also suggest that incidents are more an accumulation of system weaknesses than the result of individual error.
Read More
T-7590
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive