Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nurlistiani Syafrida; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Triyanti, Sada Rasmada
Abstrak:
Read More
Jajanan gorengan merupakan salah satu makanan yang digemari remaja. Karakteristiknya yang berlemak dan padat energi membuat konsumsi secara berlebihan dapat berakibat pada risiko kegemukan dan obesitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan proporsi konsumsi jajanan gorengan berdasarkan tingkat stres, aktivitas fisik, kualitas tidur, faktor individu dan faktor sosioekonomi pada siswa-siswi SMAN 2 Cibinong Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 130 orang yang dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Pengambilan data dilakukan melalui pengisian google forms dan lembar FFQ secara mandiri oleh responden. Data kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 77,7% responden mengonsumsi jajanan gorengan tingkat tinggi (≥ 7x/minggu), jenis jajanan gorengan yang paling sering dikonsumsi secara berurutan adalah olahan ayam digoreng, sosis/nugget/otak-otak, dan gorengan tempe. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya perbedaan proporsi yang signifikan pada konsumsi jajanan gorengan berdasarkan tingkat stres (p-value 0,002), pengetahuan gizi (p-value 0,009), kebiasaan sarapan (p-value 0,025), dan pengaruh teman sebaya (p-value 0,039).
Fried snacks are one of the foods favored by teenagers. With its energy-dense and high-fat characteristics, consumption excessively can lead to overweight and obesity. The purpose of this study is to determine the differences of fried snack consumption based on stress levels, physical activity, sleep quality, individual factors, and socioeconomic factors among students of SMAN 2 Cibinong 2024. This research is a quantitative study with a cross-sectional design, involving a sample size of 130 individuals selected through consecutive sampling. Data collection was conducted through self-administered questionnaires completed by the respondents. Data were analyzed using univariate and bivariate (chi-square) methods. The results showed that 77.7% of respondents consumed high levels of fried snacks (≥ 7 times per week), the most frequently consumed types of fried snacks, in descending order, were fried chicken, sausage/nugget/otak-otak, and fried tempeh. The bivariate analysis showed different levels of fried snacks consumption based on stress levels (p-value 0,002), nutritional knowledge (p-value 0,009), breakfast habits (p-value 0,025), and peer influence (p-value 0,039).
S-11704
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aliyah Az-Zahra; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Triyanti, Suparini
Abstrak:
Read More
Tingginya angka kejadian anemia pada remaja putri, tentu berhubungan dengan perilaku konsumsi tablet tambah darah (TTD). Di Provinsi DKI Jakarta, angka prevalensi anemia sebesar 23% dan proporsi remaja putri (10-19 tahun) yang mengonsumsi TTD dari sekolah sesuai anjuran hanya sebesar 1,8%. Prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 40,63% di Jakarta Timur, sebesar 37,85% di Kecamatan Duren Sawit, dan sebesar 70,68% di Kelurahan Malaka Jaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku konsumsi TTD pada siswi SMA Negeri 103 Jakarta tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 90 siswi yang dipilih secara acak dengan menggunakan metode simple random sampling dan dilakukan pada bulan Januari-Juni tahun 2024 dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar siswi SMA Negeri 103 Jakarta memiliki perilaku tidak patuh dalam mengonsumsi TTD (76,2%). Hasil uji bivariat didapatkan hubungan yang signifikan antara faktor predisposisi (pengetahuan (p-value = 0,000), sikap (p-value = 0,027), dan efek samping TTD (p-value = 0,011)) dan faktor penguat (dukungan teman sebaya (p-value = 0,02) dan dukungan keluarga (p-value = 0,023)) dengan perilaku konsumsi TTD pada siswi SMA Negeri 103 Jakarta. Oleh karena itu, perlu diadakan penyuluhan terkait pentingnya konsumsi TTD pada siswi, termasuk edukasi kesehatan dengan metode peer-group (grup antar teman sebaya) dan sosialisasi kepada orang tua atau wali siswi terkait manfaat dan keamanan mengonsumsi TTD, serta pentingnya memberikan dukungan kepada siswi untuk meningkatkan kepatuhan siswi dalam mengonsumsi TTD.
The high incidence of anemia among female adolescents is certainly related to the consumption behavior of iron supplements. In DKI Jakarta Province, the prevalence rate of anemia is 23% and the proportion of female adolescents (10-19 years old) who consume iron supplements from school as recommended is only 1,8%. The prevalence of anemia among female adolescents was 40,63% in East Jakarta, 37,85% in Duren Sawit Subdistrict, and 70,68% in Malaka Jaya Village. This study aims to determine the determinants of iron supplement consumption behavior among female students at SMA Negeri 103 Jakarta in 2024. This research is a quantitative study using a cross-sectional study design. The study was conducted on 90 female students who were randomly selected using the simple random sampling method and conducted in January-June 2024 using a questionnaire. The results showed that most of the female students of SMA Negeri 103 Jakarta had non-adherent behavior in taking iron supplements (76,2%). The results of the bivariate test showed a significant relationship between predisposing factors (knowledge (p-value = 0,000), attitude (p-value = 0,027), and side effects of iron supplement (p-value = 0,011)) and reinforcing factors (peer support (p-value = 0,02) and family support (p-value = 0,023)) with the consumption behavior of iron supplement among female students at SMA Negeri 103 Jakarta. Therefore, it is necessary to conduct counseling related to the importance of consuming iron supplements in female students, including health education using the peer-group method and socialization to parents or guardians of female students regarding the benefits and safety of taking iron supplements, as well as the importance of providing support to female students to increase their compliance in taking iron supplements.
S-11571
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Niesha Alifia Zahra; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Yudianto
Abstrak:
Read More
Anemia masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang banyak dialami oleh remaja putri di Indonesia. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah melalui program konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Namun, kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD sesuai anjuran masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 90 siswi yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan dengan perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah (p<0,001). Sementara itu, sikap terhadap TTD tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,301). Faktor pemungkin berupa aksesibilitas dalam mendapatkan TTD juga tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku konsumsi TTD (p=0,242). Pada faktor penguat, dukungan keluarga (p=0,035) dan dukungan teman sebaya (p=0,021) memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku konsumsi TTD, sedangkan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p=0,212). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMA Negeri 3 Kota Bandung dipengaruhi oleh faktor pengetahuan serta dukungan keluarga dan teman sebaya. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan siswi, serta penguatan peran keluarga dan teman sebaya dalam mendukung kepatuhan konsumsi TTD.
Anemia remains a public health problem that commonly affects adolescent girls in Indonesia. One of the strategies to prevent anemia is the iron tablet supplementation program. However, adherence to iron tablet consumption according to recommendations remains low among adolescent girls. This study aimed to determine the factors associated with iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung in 2025. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 90 female students selected using quota sampling. Data were collected through an online questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with the chi-square test and Fisher’s Exact test. The results showed a statistically significant association between knowledge and iron tablet consumption behavior (p<0.001). In contrast, attitude toward iron tablets was not significantly associated with consumption behavior (p=0.301). Enabling factors in the form of accessibility to iron tablets were also not significantly associated with consumption behavior (p=0.242). Regarding reinforcing factors, family support (p=0.035) and peer support (p=0.021) were significantly associated with iron tablet consumption behavior, while teacher support was not statistically significant (p=0.212). Based on these findings, it can be concluded that iron tablet consumption behavior among female students at SMA Negeri 3 Bandung is influenced by knowledge, family support, and peer support. Therefore, continuous health education is needed to improve students’ knowledge, as well as to strengthen the role of families and peers in supporting adherence to iron tablet consumption.
S-12199
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizza Yussi Listiani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Evi Martha, Fera Anjar Pratiwi, Umi Rodiyah
Abstrak:
Read More
Konsumsi Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK) pada remaja terus meningkat dan menjadi salah satu faktor risiko masalah kesehatan. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa proporsi remaja usia 15–19 tahun yang mengonsumsi MBDK ≥1 kali per hari masih tinggi. Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, merupakan salah satu wilayah dengan risiko tinggi, ditandai dengan angka diabetes pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 11,7% (SKI, 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku konsumsi MBDK pada remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Penelitian dengan desain potong lintang ini melibatkan 128 responden. Pengumpulan data dilakukan secara self-administered menggunakan Google Form dan dianalisis dengan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 82,8% remaja memiliki perilaku konsumsi MBDK tinggi. Jenis minuman yang paling sering dikonsumsi adalah kopi dan teh dalam kemasan dengan frekuensi 2–3 kali per minggu. Analisis multivariat mengungkapkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan perilaku konsumsi MBDK adalah Preferensi, dengan peluang 3,2 kali lebih memiliki preferensi suka MBDK dibandingkan yang tidak suka MBDK., setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan ketersediaan minuman di rumah.
Consumption of Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) among adolescents continues to increase and has become one of the risk factors for various health problems. Data from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) show that the proportion of adolescents aged 15–19 years who consume SSBs ≥1 time per day remains high. Tambun Selatan Subdistrict, Bekasi Regency, is one of the areas with a high risk, indicated by the diabetes prevalence among individuals aged ≥15 years reaching 11.7% (SKI, 2023). This study aimed to determine the factors associated with SSB consumption behavior among high school students in Tambun Selatan Subdistrict, Bekasi Regency. This cross-sectional study involved 128 respondents. Data were collected through a self-administered questionnaire using Google Forms and analyzed using multiple logistic regression. The results showed that 82.8% of adolescents had a high level of SSB consumption. The most frequently consumed beverages were packaged coffee and tea, with a frequency of 2–3 times per week. Multivariate analysis revealed that the dominant factor associated with SSB consumption behavior was preference, with adolescents who preferred SSBs having 3.2 times higher odds of consuming them compared to those who did not, after controlling for sex and beverage availability at home.
T-7470
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mentari Nur Pertiwi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tiara Amelia, Ananda
Abstrak:
Read More
Di Indonesia terdapat peningkatan prevalensi kasus DM tipe 2 pada pekerja dibawah usia 45 tahun sebesar dua kali lipat. Peningkatan tersebut sebesar 7,3%, yaitu pada tahun 2007 kasus DM tipe 2 mencapai 7,4% menjadi 14,7% di tahun 2018. Prevalensi Kasus DM tipe 2 pada pekerja kantoran di Provinsi DKI Jakarta mencapai 2,82%, lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang sebesar 2,2%. Peningkatan kasus DM tipe 2 tersebut diiringi dengan peningkatan konsumsi makanan berisiko (makanan dan minuman manis) pada pekerja kantoran di DKI Jakarta sebesar 24,6%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku konsumsi makanan berisiko DM Tipe 2 pada pekerja kantoran di DKI Jakarta berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB). Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitas, disebarkan secara daring kepada 141 responden, menggunakan quota sampling pada pekerja kantoran di DKI Jakarta. Data dianalisis dengan uji Chi Square untuk melihat hubungan variabel Theory of Planned Behavior dengan perilaku konsumsi makanan berisiko DM tipe 2 pada pekerja di DKI Jakarta. Hasil penelitian menunjukan bahwa, sebesar 58,9% responden memiliki perilaku konsumsi makanan berisiko DM tipe 2. Niat (p = 0,016), sikap (p = < 0.001), norma subjektif (p = < 0.001), dan persepsi perilaku terkontrol (p = < 0.001) memiliki hubungan yang signifikan dengan konsumsi makanan berisiko DM tipe 2. Pendidikan gizi perlu ditingkatkan sebagai upaya menumbuhkan kesadaran dalam perilaku konsumsi makanan agar tidak meningkatkan resiko DM tipe 2.
In Indonesia, the incidence of type 2 diabetes among workers under 45 has doubled. The rise was 7.3%, rising from 7.4% in 2007 to 14.7% in 2018. The incidence of type 2 diabetes mellitus among office workers in DKI Jakarta Province was 2.82%, above the national average of 2.2%. There is a 24.6% increase in the intake of unhealthy foods (sugary meals and drinks) among office workers in DKI Jakarta, coinciding with the growth in type 2 diabetes cases. This study aims to analyze the variables determining risky food consumption behavior associated with Type 2 diabetes mellitus among office workers in DKI Jakarta, utilizing the Theory of Planned Behavior (TPB). The research design uses a quantitative approach with a cross-sectional method. Data were collected through a questionnaire that had been tested for validity and reliability, distributed online to 141 respondents, using quota sampling among office workers in DKI Jakarta. Data were analyzed using the Chi Square test to examine the relationship between the Theory of Planned Behavior variables and risky food consumption behavior associated with Type 2 diabetes mellitus among workers in DKI Jakarta. The research results show that 58.9% of respondents have exhibit dietary behaviors associated with an increased risk of type 2 diabetes. Intention (p = 0.016), attitude (p = < 0.001), subjective norm (p = < 0.001), and perceived control behavior (p = < 0.001) have a significant relationship with the risky food consumption behavior associated with Type 2 diabetes mellitus. Enhancing nutrition education is essential to elevate knowledge regarding food consumption behaviors and mitigate the incidence of type 2 diabetes.
S-11857
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadira Yuthie Salwa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ahmad Syafiq, Sintha F. Simanungkalit
Abstrak:
Read More
Latar Belakang&Tujuan: Obesitas merupakan penumpukan lemak berlebihan karena keseimbangan energi positif dalam waktu lama yang menyebabkan masalah kesehatan. Obesitas meningkat dari tahun ke tahun, terutama pada kelompok usia produktif. DKI Jakarta merupakan provinsi dengan prevalensi obesitas kedua tertinggi (29,8%). Prevalensi obesitas lebih tinggi pada generasi Y daripada generasi Z. Obesitas dipengaruhi oleh perilaku konsumsi makanan berisiko (makanan dan minuman manis, makanan berlemak/berkolesterol/gorengan, makanan olahan dengan pengawet, dan makanan instan) serta perilaku hidup sehat (konsumsi sayur dan buah serta aktivitas fisik). Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor dominan kejadian obesitas pada penduduk usia produktif dari generasi Y dan Z di Provinsi DKI Jakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional. Sampel berjumlah 2.255 orang menggunakan teknik purposive sampling. Data yang digunakan merupakan data sekunder Riskesdas 2018. Teknik analisis data menggunakan uji chi square dan double logistic regression. Hasil&Kesimpulan: Variabel independen yang berhubungan signifikan dengan obesitas pada generasi Y dan Z adalah konsumsi minuman manis, makanan berlemak/berkolesterol/gorengan, makanan instan, daging/ayam/ikan olahan dengan pengawet, serta sayur dan buah (p-value<0,05). Konsumsi makanan manis juga berhubungan signifikan dengan obesitas pada generasi Z (p-value<0,05). Faktor dominan obesitas pada generasi Y adalah konsumsi daging/ayam/ikan olahan dengan pengawet (OR=3,570), sedangkan pada generasi Z adalah konsumsi makanan berlemak/berkolesterol/gorengan (OR=5,328).
Background&Objectives: Obesity is the accumulation of excessive fat due to positive energy balance over a long time which causes health problems. Obesity increases from year to year, especially in productive age group. DKI Jakarta has the second highest prevalence of obesity (29.8%). The prevalence of obesity is higher in generation Y than Z. Obesity is influenced by risky food consumption behavior and healthy living behaviour. This study aims to find the dominant factors of obesity in the productive age population from generations Y and Z in DKI Jakarta. Method: This study uses a cross-sectional research design. The sample consisted of 2,255 people using purposive sampling technique. The data used is secondary data from Riskesdas 2018. Chi-square test and double logistic regression are being used for data analysis. Results&Conclusions: Independent variables that are significantly related to obesity in generations Y and Z are consumption of sweet drinks, fatty/cholesterol/fried foods, instant foods, processed meat/chicken/fish with preservatives, vegetables and fruits (p-value<0.05). Sweet foods consumption is also significantly related to obesity in generation Z (p-value<0.05). The dominant factor for obesity in generation Y is the consumption of processed meat/chicken/fish with preservatives (OR=3.570), while in generation Z it is the consumption of fatty/cholesterol/fried foods (OR=5.328).
S-11742
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
