Ditemukan 135 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tujuan Penelitian ini adalah terciptanya unit cost pelayanan sectio caesaria (SC) dan efisiensi yang bisa dilakukan di RSD Kol Abundjani Bangko. Metode Penelitian merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode cros sectional, menggunakan data retrospektif tahun 2017. Pengolahan data menggunakan metode double distribution dilanjutkan RVU untuk perhitungan unit cost. Efisiensi dapat diketahui dengan menggunakan alat bantu clinical pathway beserta tool-nya.
Hasil Penelitian diperolehnya biaya layanan section caesaria di RSD Kol. Abundjani Bangko, Ruang rawat VIP Rp6.704.891, Kelas I Rp6.491.721, Kelas II Rp6.320.449 dan Kelas III Rp6.503.920, serta inefisiensi kapasitas ruang VIP dan OK/OKE ditambah terjadi penambahan layanan pada laboratorium, obat dan BHP. Kesimpulan diperolehnya biaya satuan pelayanan kasus sectio caesaria dan upaya efisiensi yang dapat dilakukan di RSD Kol, Abundjani Bangko
Program Pendidikan Dokter Spesialis merupakan integrasi antara pelayanan dan pendidikan. Permasalahan timbul berkaitan dengan pembiayaan pendidikan dokter spesialis antara Fakultas Kedokteran dengan Rumah Sakit terutama berhubungan dengan penentuan biaya pendidikan.. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis besarnya biaya pendidikan di RSUP Dr. Kariadi Semarang sebagai Rumah Sakit Pendidikan Utama bagi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dengan menggunakan metode activity based costing . Didapatkan bahwa sumber biaya meliputi biaya alat dan bahan habis, alat medik, alat non medik, gaji karyawan dan honor karyawan. Hasil perhitungan menggunakan metode activity based costing mendapatkan satuan biaya pendidikan sebesar Rp. 2.456.181,34 per mahasiswa per tahun.
RSUD Tarakan merupakan rumah sakit umum daerah milik Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta yang ditetapkan sebagai rumah sakit pengampu layanan stroke baik untuk kasus stroke infark maupun kasus stroke hemoragik. Dalam memberikan pelayanan kasus stroke hemoragik baik severity I, II maupun III, RSUD Tarakan mengalami selisih negatif antara rata-rata tarif INA CBG’s terhadap rata-rata tarif rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran biaya satuan perawatan stroke hemoragik sebagai langkah awal untuk menganalisis biaya. Dengan diketahuinya besaran biaya satuan antara layanan aktual dan clinical pathway maka dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan inefisiensi di dalam perawatan stroke hemoragik. Dari faktor-faktor inefisiensi yang telah diketahui maka dapat diketahui pula nilai cost recovery rate untuk menentukan upaya efisiensi dan penerapan cost containment sebagai rekomendasi bagi manajemen RSUD Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang mengolah data primer dari hasil wawancara mendalam dan data sekunder melalui telaah dokumen dengan menggunakan metode Activity Based Costing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa biaya satuan rata-rata perawatan stroke hemoragik kelas 1 sebesar Rp. 18.296.787,-, kelas 2 sebesar Rp. 32.496.824,- dan kelas 3 sebesar Rp. 15.595.005. Nilai cost recovery rate mencapai lebih dari 100% pada perawatan stroke hemoragik baik severity I, II maupun III dengan LOS 1-7 hari. Dari hasil upaya efisiensi berdasarkan layanan dan biaya disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inefisiensi pada perawatan stroke hemoragik adalah keterpakaian tempat tidur yang rendah khususnya kelas 2, utilitas alat yang rendah, biaya pemakaian obat yang tinggi serta LOS yang memanjang. Dari faktor-faktor tersebut dilakukan pemetaan terhadap 4 tahap cost containment. Cost Awareness dilakukan dengan pemantapan sosialisasi kepada dokter dan seluruh pegawai mengenai pentingnya kesadaran biaya di rumah sakit, cost management dilakukan dengan melakukan strategi optimalisasi sumber daya manusia dan pemakaian obat-obatan, optimalisasi proses layanan perawatan stroke hemoragik dan sarana-prasarana yang diberikan seperti penggabungan kelas 2 ke dalam ruang rawat kelas 3 yang sudah sesuai standar KRIS serta otomatisasi sistem informasi rumah sakit. Cost monitoring dilakukan dengan memperkuat fungsi pengawasan pihak-pihak pengendali biaya dan cost incentive dilakukan dengan memberikan reward kepada dokter maupun pegawai rumah sakit yang berkontribusi dalam melakukan efisiensi biaya rumah sakit.
RSUD Tarakan is a regional public hospital owned by the Provincial Government of the Special Region of Jakarta which is designated as the hospital in charge of stroke services for both infarct stroke cases and hemorrhagic stroke cases. In providing services for hemorrhagic stroke cases of severity I, II and III, RSUD Tarakan experiences a negative difference between the average INA CBG's tariff and the average hospital tariff. This study aims to determine the unit cost of hemorrhagic stroke care as a first step to analyzing costs. By knowing the amount of unit costs between actual services and clinical pathway, it can be known what factors can cause inefficiencies in hemorrhagic stroke treatment. From the inefficiency factors that have been known, the value of cost recovery rate can also be known to determine efficiency efforts and the application of cost containment as a recommendation for the management of RSUD Tarakan. This study uses a descriptive method with a qualitative approach that processes primary data from in-depth interviews and secondary data through document review using the Activity Based Costing method. The results of this study indicate that the average unit cost of class 1 hemorrhagic stroke treatment is Rp. 18,296,787, class 2 is Rp. 32,496,824, and class 3 is Rp. 15,595,005. The cost recovery rate value reached more than 100% in hemorrhagic stroke treatment both severity I, II and III with LOS 1-7 days. From the results of efficiency efforts based on services and costs, it is concluded that the factors that cause inefficiency in hemorrhagic stroke treatment are low bed utilization, especially class 2, low equipment utility, high drug usage costs and prolonged LOS. From these factors, a mapping of the 4 stages of cost containment was carried out. Cost Awareness is carried out by strengthening socialization to doctors and all employees regarding the importance of cost awareness in hospitals, cost management is carried out by carrying out strategies to optimize human resources and the use of drugs, optimizing the hemorrhagic stroke treatment service process and facilities provided such as the incorporation of class 2 into class 3 treatment rooms that are in accordance with KRIS standards and automation of hospital information systems. Cost monitoring is carried out by strengthening the supervisory function of cost control parties and cost incentives are carried out by providing rewards to doctors and hospital employees who contribute to hospital cost efficiency.
Di Indonesia kanker payudara merupakan kanker tertinggi yang banyak datang pada stadium lanjut sehingga berdampak terhadap mortalitas dan tingginya pembiayaan. Mammografi merupakan alat skrining dan diagnosis yang sudah terbukti efektifitasnya menghasilkan “down staging” pada negara maju, Indonesia sebagai negara berkembang belum menjadikan skrining mammografi sebagai program nasional. Dilakukan studi parsial evaluasi ekonomi biaya dan luaran dengan membandingkan mammografi untuk skrining berbasis populasi terhadap oportunistik skrining di RS. Dilakukan uji coba skrining berbasis populasi terhadap 683 wanita dengan menggunakan mobil mammografi hingga didapatkan case detected serta diambil data retrospektif pasien deteksi dini dengan mammografi hingga penegakan diagnosis di RS dalam periode satu tahun. Dilakukan analisis biaya berdasarkan perspektif program dengan analisis luaran case detected. Didapatkan unit cost pemeriksaan skrining adalah Rp871,045. dengan case detected 0,4% dan cost per case detected Rp Rp290,348,509. Pada deteksi dini di RS didapakan unit cost Rp1,137,881 dan 3% kasus positif kanker. Terhadap skrining berbasis populasi, untuk mendapatkan satu kasus positif kanker diperlukan biaya sebesar Rp 262.342.333. Dengan sumber daya yang dimiliki perlu dilakukan inovasi dalam deteksi dini mammografi melalui penguatan pelaksanaan skrining CBE sebagai program nasional didukung pendekatan akses melalui diagnosis dini dengan mobil mammografi terutama di daerah rentan sehingga dihasilkan diagnosis secara cepat dan tepat dan biaya yang murah. Diperlukan peran pemerintah melalui pembiayaan yang berkelanjutan terhadap deteksi dini mammografi untuk dapat menurunkan angka mortalitas dan pembiyaan dalam pengobatan kanker. Kata kunci: Kanker payudara, mammografi, cost and outcome.
Breast cancer is the highest cancer in Indonesia that come at late stage so have impact on mortality and high funding. Mammography is a screening and diagnosis that has proven its effectiveness in producing "down staging" in developed countries, Indonesia as a developing country has not made mammography screening a national program. A partial study of economic evaluation of costs and outcomes was conducted by comparing mammography for population-based screening to opportunistic screening in hospitals. A population-based screening was conducted on 683 women using a mobile mammography until a case was detected and retrospective data taken from early detection patients with mammography to diagnose the hospital in a period of one year. A cost analysis is carried out based on the program perspective with a case detected output analysis. The unit cost of screening is Rp.871,045. with case detected 0.4% and cost per case detected Rp.290,348,509. At early detection in the hospital unit unit costs are obtained Rp1,137,881 and 3% of positive cases of cancer. For population-based screening, to get one positive case of cancer costs Rp 262,342,333. With the available resources, innovation in the early detection of mammography needs to be done through strengthening the implementation of CBE screening as a national program supported by an access approach through early diagnosis by mammography cars, especially in vulnerable areas so that diagnosis is produced quickly and accurately and at a low cost. The role of government is needed through ongoing financing of early detection of mammography to be able to reduce mortality and financing in the treatment of cancer. Keywords: Breast cancer, mammography, cost and outcome
Efficiency with quality control and cost control can be done by applying thecalculation of the hospital cost of treatment based on clinical pathways.In theimplementation of the National Health Insurance beginning on January 1, 2014,application of INA rates CBG managed by Health BPJS polemical to the hospital,because of some cases, tariffs applied to experience the difference in rates.Differences also occur in tariff rates between treatment classes. Seeing this, theauthors conducted a study in Tangerang district general hospital in April 2014.This study aimed to obtain the cost of treatment based on clinical pathwaysapendiktomi surgery and analyze the difference between the cost of treatmentclasses at the same rate compares with rates hospitals and INA CBG. Thisresearch is quantitative with qualitative approach through cross sectional dataretrieval. From the results, the difference in the price paid for the same service(cost Shifting) in the calculation of the cost of treatment based on clinicalpathways difference in cost to be borne by the patient or the guarantor is the onlytreatment room accommodation costs. The difference between the cost of the classis as follows: cost of treatment of Class II to Class I medical expenses by 3% andthe cost of treatment of Class II to Class III medical expenses by 3%. Given thiscalculation, the hospital and BPJS is expected to have guideline calculations tarifftreatment between classes based on the calculation of the cost of treatment basedon clinical pathways.
Hasilnya per pasien: biaya satuan aktual (BSA) Rp8.522.431 dan biaya satuan normatif (BSN) Rp1.429.657. Perbandingan tarif 2011 didapatkan CRR dengan BSA 14.55% dan BSN 85.34%. Dengan tarif 2016 CRR dengan BSA 15.92% dan BSN 93.38%. Untuk tarif BPJS 2014 CRR dengan BSA 10.62%(kelas 1), 9,11%(kelas 2), 7,59%(kelas 3). Untuk tarif BPJS tahun 2016 CRR BSA 16,86%(kelas 1), 14,45%(kelas 2), dan 12,04%(kelas3). Jika kapasitas dioptimalkan dengan rerata BOR, CRR BSN tarif BPJS2014 masing-masing sebesar 62,30%(kelas 1), 53,41%(kelas 2), 44,50%(kelas 3). Dengan tarif BPJS2016 CRR BSN 98.84%(kelas 1), 84,72%(kelas 2), dan 70,60%(kelas3). BSA penggunaan ventilator yang sangat tinggi oleh karena rendahnya kunjungan pasien dan tingginya nilai biaya investasi. Tingginya biaya ini juga menunjukkan support daerah masih dibutuhkan di RSUD Nunukan baik sebagai pengawas maupun pendukung finansial melalui APBD.
Kata kunci: biaya satuan; biaya satuan unit; biaya satuan normatif; cost recovery rate.
