Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sitti Nur Djannah, Ika Sukma Arianti
BPSK Vol.13, No.4
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2010
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadhila Nafilah Azzahra; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Putri Bungsu, Ida Kurniawati
S-9912
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adrian Nusa Patria; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Chandra Satrya, Devie Fitri Octaviani
Abstrak: Tren penggunaan tenaga kerja kontraktor sebagai pelaksana kerja terus meningkat, terutama pada sektor migas. Hal ini juga memperbesar tingkat resiko kesehatan dan keselamatan kerja yang dihadapi oleh kontraktor, sehingga diperlukan sebuah program untuk mengelola Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta Lindung Lingkungan pada perusahaan kontraktor. PT Z telah menjalankan program ini yang dinamakan Contractor Health, Environment and Safety Management (CHESM). Data tahun 2010-2011 menunjukkan kecenderungan peningkatan pada rating CHESM kontraktornya, yang dapat diartikan bahwa perusahaan kontraktor yang digunakannya semakin baik dalam melakukan pengelolaan K3LL di dalam perusahaannya. Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas program ini dalam meningkatkan kemampuan kontraktornya itu, perlu dilakukan evaluasi mengenai pelaksanaan program tersebut oleh PT Z.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif dengan tujuan utama untuk mendeskripsikan suatu keadaan secara objektif. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi lapangan, studi literatur dan telaah dokumen. Berdasarkan hasil penelitian diketahui terdapat kesenjangankesenjangan dalam pelaksanaan tahapan-tahapan program, yang mempengaruhi efektifitas dari program itu sendiri. Kesenjangan lebih banyak terjadi pada saat pelaksanaan tahapan program di lapangan.

The trends using contractors manpower to carry out the work inclines from time to time, especially in oil and gas sector. This condition gives greater risks to the health and safety of contractor's manpower, so that they need a special program to manage the health and safety of contractor’s manpower. PT Z has run this program which is called Contractor Health, Environment and Safety Management (CHESM). There was a tendency the inclination of CHESM rates of the contractors which mean the contractors have managed HES better in their working activities. It is necessary to evaluate the realization of PT Z program to know how far the effectiveness of the program in increasing the contractors ability.
The Author manages descriptive research using qualitative method to describe the situation objectively as the main reason. The primary and secondary data are collected by interviewing employees, field observation, library studies and document analyses. Based on the result of the research, it is found the gaps between the theories and the realization of the program stages. It really influences the effectiveness of the program. The gaps happen more when they carry them out in the field.
Read More
T-3989
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jaka Yuhenda; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Masyitoh, Loli J. Simajuntak
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui penyebab belum optimalnya pemanfaatan SAMRS dalam hal mempercepat proses komplain alat medik pada dua unit pelayanan di RSUP Fatmawati. Skripsi ini membatasi pemanfaatan SAM RS pada Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi Griya Husada pada tahun 2017 dengan menggunakan variabel UTAUT yaitu harapan kinerja pengguna, harapan usaha pengguna, pengaruh sosial pengguna, kondisi pendukung pengguna, dan minat menggunakan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif.
Read More
S-10864
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stella Tracylia; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Budi Setiawan
Abstrak:
Studi terkait mortalitas akibat kanker, khususnya di tingkat lokal, seperti provinsi, masih terbatas dan sebagian besar berfokus pada morbiditas atau prevalensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren mortalitas akibat kanker di Jakarta pada tahun 2017, 2019, 2021, dan 2023 menggunakan desain potong lintang dengan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Analisis univariat dilakukan untuk mengevaluasi tren mortalitas berdasarkan tahun, kelompok usia, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan perubahan peringkat kanker utama, di mana kanker trakea, bronkus, dan paru-paru, yang menjadi penyebab kematian tertinggi pada 2017, digantikan oleh kanker payudara mulai 2019. CSDR (Cause Specific Death Rate) kanker utama meningkat sejak 2017, menurun pada 2021, lalu mencapai puncaknya pada 2023. Mortalitas tertinggi terjadi pada kelompok lansia (43,9% – 44,6%) dan dewasa paruh baya (42,8% – 44,7%), dengan perempuan (52,0% – 57,7%) lebih banyak terdampak dibandingkan laki-laki (42,3% – 48%). Jakarta Timur melaporkan mortalitas tertinggi (27,9% – 30,8%), diikuti Jakarta Barat (20,9% – 26,7%), dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama (66,2% – 83,7%). Kasus-kasus tereksklusi dalam penelitian ini mencerminkan tantangan dalam pengumpulan dan pencatatan data yang akurat. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas data untuk mendukung kebijakan dan intervensi yang lebih efektif dalam mengurangi beban mortalitas akibat kanker.

Studies related to cancer mortality, especially at the local level, such as provinces, are still limited and mostly focus on morbidity or prevalence. This study aims to analyze cancer mortality trends in Jakarta in 2017, 2019, 2021, and 2023 using a cross-sectional design with data from the Jakarta Provincial Health Office. Univariate analysis was conducted to evaluate mortality trends based on year, age group, gender, region, and the reporting source from healthcare facilities. The results show a change in the ranking of major cancers, where tracheal, bronchial, and lung cancer, which was the leading cause of death in 2017, was replaced by breast cancer starting in 2019. The Cause-Specific Death Rate (CSDR) for major cancers increased since 2017, decreased in 2021, and then peaked in 2023. The highest mortality occurred in the elderly group (43.9% – 44.6%) and middle-aged adults (42.8% – 44.7%), with women (52.0% – 57.7%) being more affected than men (42.3% – 48%). East Jakarta reported the highest mortality (27.9% – 30.8%), followed by West Jakarta (20.9% – 26.7%), with hospitals as the primary reporting source (66.2% – 83.7%). Cases excluded from this study reflect challenges in the collection and recording of accurate data. This study emphasizes the importance of improving data quality to support policies and interventions that are more effective in reducing the cancer mortality burden.
Read More
S-11861
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syahrani Tri Buwana Putri Kusumawardani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Chita Septiawati
Abstrak:
Infeksi Hantavirus di Indonesia umumnya bermanifestasi sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Meskipun bukti reservoir pada rodensia cukup kuat, data epidemiologis pada manusia masih terbatas. Mendeskripsikan karakteristik epidemiologi kasus konfirmasi Hantavirus di Indonesia tahun 2025 berdasarkan aspek orang, tempat, dan waktu. Studi kuantitatif dengan desain case series menggunakan data sekunder hasil penyelidikan epidemiologi Kementerian Kesehatan RI terhadap 14 kasus konfirmasi. Mayoritas kasus ditemukan pada laki-laki (71,43%) dan kelompok usia 19-59 tahun (50%). Jenis pekerjaan terbanyak adalah buruh/sopir/ART (35,71%). Gejala klinis dominan meliputi demam (85,71%) dan ikterik (64,28%), dengan 50% kasus mengalami komplikasi gagal ginjal. Sebagian besar kasus (92,86%) melaporkan keberadaan tikus di lingkungan tempat tinggal. Secara geografis, frekuensi tertinggi ditemukan di Provinsi DIY (42,85%). Berdasarkan waktu, puncak temuan kasus terjadi pada bulan Mei dan Juni. Kasus Hantavirus di Indonesia tahun 2025 ditemukan pada kelompok usia produktif dengan riwayat keberadaan reservoir di lingkungannya serta manifestasi klinis yang mengarah pada gangguan fungsi ginjal.

Hantavirus infection in Indonesia generally manifests as Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). While evidence in rodent reservoirs is substantial, human epidemiological data remains limited. To describe the epidemiological characteristics of confirmed Hantavirus cases in Indonesia in 2025 based on person, place, and time. A quantitative study with a case series design using secondary data from the Indonesian Ministry of Health's epidemiological investigations of 14 confirmed cases. The majority of cases were found in males (71.43%) and the 19-59 age group (50%). The most frequent occupations were laborers/drivers/domestic workers (35.71%). Dominant clinical symptoms included fever (85.71%) and jaundice (64.28%), with 50% of cases experiencing renal failure complications. Most cases (92.86%) reported the presence of rats in their residential environment. Geographically, the highest frequency was in the Special Region of Yogyakarta (42.85%). Temporally, the peak of case findings occurred in May and June. Hantavirus cases in Indonesia in 2025 were identified in the productive age group with a history of reservoir presence in their environment and clinical manifestations leading to renal dysfunction.
Read More
S-12177
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Suci Rahmawati; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Auliah Rahmi
Abstrak: Pembangunan infrastruktur dan kegiatan konstruksi menjadi salah satu cara bagi pemerintah Indonesia untuk membangun perekonomian nasional. Namun disisi lain proses kerja kegiatan konstruksi memiliki bahaya dan risiko, salah satunya bahaya fisik yang menjadi bahaya paling tinggi salah satunya adalah unsafe condition seperti lingkungan kerja panas yang merupakan kombinasi dari suhu udara, kelembaban udara, kecepatan udara, dan suhu radiasi. Apabila kombinasi tersebut dihubungkan dengan produksi panas tubuh maka akan menyebabkan tekanan panas (heat stress). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan tekanan panas (heat stress), dan faktor individu (usia, indeks massa tubuh, riwayat keturunan hipertensi, dan status hidrasi) dengan kejadian hipertensi. Penelitian ini dilakukan pada Agustus-Desember 2021 pada pekerja konstruksi proyek Depo Light Rail Transit (LRT) Jabodebek Jatimulya, Jawa Barat. Pendekatan menggunakan kuantitatif observasional deskriptif analitik dengan studi cross sectional dan melibatkan 185 responden yang diambil menggunakan cluster proporsional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan 67% pekerja mengalami tekanan panas, 69,7% berusia < tahun, 76,8% memiliki IMT tidak berlebih, 73% tidak memiliki riwayat keturunan hipertensi, 91,9% mengalami dehidrasi tidak berat. Berdasarkan hasil analisis, variabel yang memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi adalah variabel tekanan panas (heat stress), usia, dan riwayat keturunan hipertensi (P value= 0,05)
Read More
S-10900
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Najmi Tanziila; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mila Tejamaya, Nia Dwi Handayani
Abstrak: Dari hasil rekap kasus di PT X, ditemukan 164 kasus terkait K3 dan dikerucutkan menjadi 110 kasus near miss, unsafe act, dan unsafe condition. Setiap kasus ini dikelompokan sesuai kesamaan risiko kemudian 10 kelompok near miss akan dinilai risikonya secara kualitatif dan semi kuantitatif. Temuan dari penilaian risiko kualitatif adalah terdapat 7 keterkaitan kasus near misses dengan unsafe act & unsafe condition sedangkan dari penilaian risiko semi kuantitatif dapat digambarkan 10 risk ranking kasus near misses. Dari penilaian basic risk level hingga recommended risk level ditemukan penurunan risiko yang selanjutnya digambarkan menggunakan penilaian efektivitas existing program (50% - 93%) dan recommended program (50% - 97,8%) Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa perlu terdapat perbaikan Aplikasi Near Miss, edukasi dan sosialisasi kasus terkait K3 untuk pekerja PT X, serta level risiko near miss dapat diturunkan dengan hasil rekomendasi pengendalian risiko.
Read More
S-11476
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Puji Wahyuni; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Reggy Stephanus Sobari, Fachrudin Ali
T-4224
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Isa; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Nia Dwi Handayani
Abstrak:
Manajemen risiko merupakan serangkaian kegiatan terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan risiko di suatu organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran implementasi manajemen risiko pada pekerja line outer tube casting (OTC). Penelitian ini menggunakan studi deskriptif analitik dan pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi langsung pada line OTC. Idealnya penetapan konteks manajemen risiko dilakukan berdasarkan lima konteks, yaitu konteks strategis, konteks organisasi, konteks kegiatan, kriteria manajemen risiko, dan struktur kebijakan. PT X baru menetapkan konteks organisasi pada pelaksanaannya karena manajemen risiko yang dijalankan oleh PT X berdasarkan klausul enam (perencanaan) dan delapan (operasi) pada Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dari ISO 45001:2018. Secara teknis pelaksanaan manajemen risiko perlu dilakukan berdasarkan standar yang berlaku untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal salah satu standar yang dapat digunakan ialah ISO 31000:2018 yang memuat terkait manajemen risiko secara komprehensif dan terintegrasi.

Risk management is a series of coordinated activities to direct and control risk in an organization. This study aims to see an overview of the implementation of risk management for line workersouter tube casting (OTC). This study used a descriptive analytic study and data collection was carried out through interviews and direct observation on lineOTC. Ideally, risk management context is determined based on five contexts, namely strategic context, organizational context, activity context, risk management criteria, and policy structure. PT X has just set an organizational context for its implementation because the risk management carried out by PT X is based on clauses six (planning) and eight (operations) of the Occupational Health and Safety Management System (SMK3) from ISO 45001:2018. Technically the implementation of risk management needs to be carried out based on applicable standards to obtain more optimal results. One of the standards that can be used is ISO 31000:2018 which contains risk management in a comprehensive and integrated manner.
Read More
S-11369
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive