Ditemukan 80 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Luh Sudemi, K. Tresna Adhi, Dyah Pradnyaparamita Duarsa
PHPMA-Vol.4/No.2
Denpasar : Universitas Udayana, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Inna Apriantini; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Artha Prabawa, Rahmadewi
Abstrak:
Pernikahan usia dini masih tergolong tinggi di Indonesia. Penurunan angka pernikahan usia dini di Indonesia tergolong lambat.. Pernikahan dini adalah salah satu bentuk dari pelanggaran hak dari anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat factor determinan yang menyebabkan terjadinya pernikahan usia dini di Indonesia menggunakan data SDKI 2017. Penelitian ini disusun berdasarkan data sekunder dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017. Sampel ini digunakan untuk mendapatkan gambaran usia kawin pertama pada rentang usia 15-25 tahun dengan status responden menikah pada penelitian. Analisis data yang dilakukan adalah dengan menganalisis data SDKI 2017 dengan Analisa Univariate dan Analisa Bivariate (Potong Lintang). Gambaran persentase pernikahan dini di Indonesia pada Usia 15-25 tahun lebih banyak wanita yang menikah dini yaitu sebanyak 65,1 persen.sedangkan untuk wanita yang tidak menikah dini hanya sebesar 34,9 persen. Factor determinan terjadinya pernikahan dini dari hasil penelitian ini adalah Pendidikan, tempat tinggal, status ekonomi, penggunaan majalah/koran, penggunaan radio, dan penggunaan internet.
Kata kunci: early marriage, adolsencent, child, marriage
Early marriage is still relatively high in Indonesia. The decline in the number of early marriage in Indonesia is relatively slow. Early marriage is one form of violation of the rights of children. This study aims to look at the determinants that cause early marriage in Indonesia using the 2017 IDHS data. This study was compiled based on secondary data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). This sample was used to obtain an overview of the age of first marriage in the age range 15-25 years with the status of respondents married in the study. Data analysis was performed by analyzing 2017 IDHS data with Univariate Analysis and Bivariate Analysis (CrossCutting). The percentage of early marriages in Indonesia at the age of 15-25 years is more women who marry early, which is as much as 65.1 percent. While for women who are not married early is only 34.9 percent. The determinants of early marriage from the results of this study are education, residence, economic status, magazine / newspaper use, radio use, and internet use.
Key words: early marriage, adolsencent, child, marriage
Read More
Kata kunci: early marriage, adolsencent, child, marriage
Early marriage is still relatively high in Indonesia. The decline in the number of early marriage in Indonesia is relatively slow. Early marriage is one form of violation of the rights of children. This study aims to look at the determinants that cause early marriage in Indonesia using the 2017 IDHS data. This study was compiled based on secondary data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). This sample was used to obtain an overview of the age of first marriage in the age range 15-25 years with the status of respondents married in the study. Data analysis was performed by analyzing 2017 IDHS data with Univariate Analysis and Bivariate Analysis (CrossCutting). The percentage of early marriages in Indonesia at the age of 15-25 years is more women who marry early, which is as much as 65.1 percent. While for women who are not married early is only 34.9 percent. The determinants of early marriage from the results of this study are education, residence, economic status, magazine / newspaper use, radio use, and internet use.
Key words: early marriage, adolsencent, child, marriage
S-10446
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rosakawati; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Pujiyanto; Vetty Yulianty Permanasari, Astrid Saraswaty Dewi, Tuan Juniar Situmorang
Abstrak:
Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, institusi rumah sakit harus menyediakan sarana dan prasarana serta standar pelayanan yang memperhatikan quality assurance bagi para pemberi asuhan kesehatan dalam memberikan pelayanan yang profesional yang berpusat pada pasien. Rumah sakit harus memiliki kebijakan, pedoman dan panduan serta standar prosedur dengan mengedepankan keselamatan pasien sebagai fokus dalam setiap jenis pelayanan yang diberikan. Standar nasional akreditasi rumah sakit (SNARS) edisi 1 merupakan standar akreditasi baru yang bersifat nasional dan diberlakukan secara nasional di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa Implementasi Early Warning System di Rumah Sakit Mandaya Penelitian kualitatif ini dilakukan pada bulan Januari - April 2018. Lokasi penelitian dilakukan di Departemen Rawat Inap RS Mandaya Karawang. Sumber datang diperoleh melalui wawancara kepada 31 informan yang terdiri dari direktur, dokter jaga, perawat penanggung jawab shift dan perawat pelaksana serta clinical nurse educator dan data rekam medis pasien rawat inap bulan januari 2018 mengenai kelengkapan pengisian formulir Catatan Observasi. Implementasi Early Warning System dilaksanakan dengan baik pada awalnya namun terdapat inkonsistensi dalam proses pelaksanaannya sehingga angka kejadian code blue tidak menurun pada bulan januari 2018. Perawat dengan masa kerja yang minim masih harus terus diberikan pelatihan-pelatihan oleh bagian diklat keperawatan dan menuntut observasi yang lebih ketat baik dalam tindakan keperawatan maupun dalam pendokumentasian. Selain itu tidak ada reward dan punishment yang jelas bagi staf klinis sehingga perlu menjadi perhatian penting bagi manajemen rumah sakit untuk peningkatan kelengkapan rekam medis. Profesi pemberi asuhan (PPA) wajib melengkapi dokumen rekam medis pasien dengan tepat dan benar sesuai dengan tindakan yang sudah dilakukan. Pengisian rekam medis pasien langsung dilakukan segera setelah melakukan tindakan agar tidak terlupakan dalam mencatat. Melengkapi sarana dan prasarana merupakan salah satu hal yang menunjang implementasi berjalan dengan baik
n order to provide healthcare services to the public, hospital institutions must be provide facilities and infrastructure also service standards that pay attention to quality assurance for health providers in providing patient-centered professional services. The organization should have policies, guidelines and guidelines as well as standard procedures by prioritizing patient safety as a focus in each type of service provided. The national standard of hospital accreditation (SNARS) edition 1 is a new national accreditation standard and applied nationally in Indonesia. This study aims to analyze the Implementation of Early Warning System at Mandaya Hospital This qualitative study was conducted in January - April 2018. The location of the research was conducted at the Department of Inpatient RS Mandaya Karawang. Sources came through interviews with 31 informants consisting of directors, physicians, shift nurses and implementing nurses as well as clinical nurse educators and medical records data of inpatients in January 2018 on completeness of the form of Observation Notes. Implementation of the Early Warning System is well implemented initially but there is inconsistency in the implementation process so that code blue incidence rate does not decrease in January 2018. Nurses with minimal working period still have to continue to be given training by nursing department and demands more rigorous observation both in nursing actions and in documentation. In addition there is no clear rewards and punishment for clinical staff so it is necessary to be of paramount concern for hospital management to improve the completeness of the medical record. The Professional Caregiver (PPA) is required to complete the patient's medical record documents correctly in accordance to the action that have been done. Filling patient medical record should immediately done after taking action so that nothing is forgotten in the recording. Completing facilities and infrastructure is one of the things that support the implementation goes well.
Read More
n order to provide healthcare services to the public, hospital institutions must be provide facilities and infrastructure also service standards that pay attention to quality assurance for health providers in providing patient-centered professional services. The organization should have policies, guidelines and guidelines as well as standard procedures by prioritizing patient safety as a focus in each type of service provided. The national standard of hospital accreditation (SNARS) edition 1 is a new national accreditation standard and applied nationally in Indonesia. This study aims to analyze the Implementation of Early Warning System at Mandaya Hospital This qualitative study was conducted in January - April 2018. The location of the research was conducted at the Department of Inpatient RS Mandaya Karawang. Sources came through interviews with 31 informants consisting of directors, physicians, shift nurses and implementing nurses as well as clinical nurse educators and medical records data of inpatients in January 2018 on completeness of the form of Observation Notes. Implementation of the Early Warning System is well implemented initially but there is inconsistency in the implementation process so that code blue incidence rate does not decrease in January 2018. Nurses with minimal working period still have to continue to be given training by nursing department and demands more rigorous observation both in nursing actions and in documentation. In addition there is no clear rewards and punishment for clinical staff so it is necessary to be of paramount concern for hospital management to improve the completeness of the medical record. The Professional Caregiver (PPA) is required to complete the patient's medical record documents correctly in accordance to the action that have been done. Filling patient medical record should immediately done after taking action so that nothing is forgotten in the recording. Completing facilities and infrastructure is one of the things that support the implementation goes well.
B-2108
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Risa Morina; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Eli Zabet
S-6831
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Cati Martiyana, Mohamad Samsudin
MGMI Vol.6, No.1
Magelang : Balitbang GAKI Kemenkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dayati; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Eni Gustina
S-6536
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nuswil Bernolian; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Purnawan Junadi, Jaslis Iljas, Baharudin; Heriyadi
Abstrak:
Latar Belakang: Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah proses alami yang memberi kesempatan bayi untuk mencari dan mengisap air susu ibu sendiri, dalam satu jam pertama pada awal kehidupannya. Pelaksanaan program IMD merupakan tanggung jawab semua praktisi kesehatan, mulai dari lingkup pelaksana dan manajerial rumah sakit.
Tujuan: Mengevaluasi pelaksanaan IMD di RSMH dan faktor-faktor yang mem, pengaruhinya.
Metode: Penelitian berdesain cross sectional dengan subjek penelitian ibu bersalin dan tenaga kesehatan di Bagian Kebidanan RSMH. Subjek dipilih secara purposive sampling. Data sekunder diperoleh dari kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya.
Hasil: Selama periode November-Desember 2016, terdapat 19 (51,3%) pasien pascamelahirkan yang melakukan IMD dan 18 (48,6%) pasien tidak melakukan IMD. Terdapat perbedaan bermakna pada metode persalinan, dimana persalinan perabdominam mayoritas didapat pada kelompok yang tidak melakukan IMD (p = 0,003). Penelitian ini melibatkan 43 responden pelaksana (bidan dan dokter), serta 12 responden manajerial. Kondisi medis pasien yang tidak memungkinkan IMD, tidak terlaksananya IMD pada pasien pascaseksio sesaria, dukungan dan sosialisasi rumah sakit kurang mengenai IMD, serta pengetahuan ibu rendah merupakan keluhan responden pelaksana. Penelitian ini menemukan adanya disintegrasi antara pihak manajerial dan pelaksana sehingga menimbulkan ketidakjelasan pada pelaksanaan IMD. Simpulan: Peluang terlaksana atau tidaknya IMD dipengaruhi oleh kondisi medis ibu dan janin, metode persalinan, pengenalan dan dukungan rumah sakit terhadap IMD, sosialisasi kebijakan IMD, tingkat pengetahuan ibu. Tantangan melakukan IMD adalah belum ada kebijakan melakukan IMD di ruang operasi, kondisi medis ibu sering tidak memungkinkan IMD, ketidakseragaman pengetahuan manajer terkait IMD, rendahnya sosialisasi peraturan pelaksanaan IMD, ada disintegrasi antara pihak manajerial dan pelaksana, dan tidak adanya pengawasan IMD di lapangan. Kata kunci: inisiasi menyusu dini, evaluasi pelaksanaan IMD.
Read More
Tujuan: Mengevaluasi pelaksanaan IMD di RSMH dan faktor-faktor yang mem, pengaruhinya.
Metode: Penelitian berdesain cross sectional dengan subjek penelitian ibu bersalin dan tenaga kesehatan di Bagian Kebidanan RSMH. Subjek dipilih secara purposive sampling. Data sekunder diperoleh dari kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya.
Hasil: Selama periode November-Desember 2016, terdapat 19 (51,3%) pasien pascamelahirkan yang melakukan IMD dan 18 (48,6%) pasien tidak melakukan IMD. Terdapat perbedaan bermakna pada metode persalinan, dimana persalinan perabdominam mayoritas didapat pada kelompok yang tidak melakukan IMD (p = 0,003). Penelitian ini melibatkan 43 responden pelaksana (bidan dan dokter), serta 12 responden manajerial. Kondisi medis pasien yang tidak memungkinkan IMD, tidak terlaksananya IMD pada pasien pascaseksio sesaria, dukungan dan sosialisasi rumah sakit kurang mengenai IMD, serta pengetahuan ibu rendah merupakan keluhan responden pelaksana. Penelitian ini menemukan adanya disintegrasi antara pihak manajerial dan pelaksana sehingga menimbulkan ketidakjelasan pada pelaksanaan IMD. Simpulan: Peluang terlaksana atau tidaknya IMD dipengaruhi oleh kondisi medis ibu dan janin, metode persalinan, pengenalan dan dukungan rumah sakit terhadap IMD, sosialisasi kebijakan IMD, tingkat pengetahuan ibu. Tantangan melakukan IMD adalah belum ada kebijakan melakukan IMD di ruang operasi, kondisi medis ibu sering tidak memungkinkan IMD, ketidakseragaman pengetahuan manajer terkait IMD, rendahnya sosialisasi peraturan pelaksanaan IMD, ada disintegrasi antara pihak manajerial dan pelaksana, dan tidak adanya pengawasan IMD di lapangan. Kata kunci: inisiasi menyusu dini, evaluasi pelaksanaan IMD.
B-1833
Depok : American Public Health Association, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hilma Fitria Nur Faiz; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Sri Mulyani, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Pelayanan rumah sakit masih menghadapi tantangan dalam mendeteksi secara dini penurunan kondisi klinis pasien yang berisiko menimbulkan kegawatan dan mengancam keselamatan pasien. Early Warning System (EWS) dikembangkan sebagai alat bantu klinis berbasis skor fisiologis untuk mendukung deteksi dini dan respons klinis yang tepat waktu. RS Roemani Muhammadiyah Semarang telah mengimplementasikan EWS sejak tahun 2022, namun kejadian Code Blue dan angka kematian pasien rawat inap masih menunjukkan pola fluktuatif dan belum menurun secara konsisten. Selain itu, evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan EWS belum pernah dilakukan, sehingga terdapat kesenjangan antara kebijakan, implementasi, dan luaran keselamatan pasien. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang dianalisis menggunakan kerangka struktur–proses–outcome. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) terhadap tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam implementasi EWS, dengan pemilihan informan secara purposive. Selain itu, dilakukan telaah dokumen terhadap rekam medis, formulir EWS, laporan kejadian Code Blue, serta dokumen kebijakan dan prosedur rumah sakit untuk menilai aspek struktur dan proses implementasi EWS serta luaran keselamatan pasien. Penelitian dilaksanakan di RS Roemani Muhammadiyah pada November–Desember 2025. Analisis data dilakukan secara tematik melalui proses pengodean, pengelompokan tema, dan interpretasi, dengan penerapan triangulasi sumber dan metode untuk menjaga keabsahan data. Hasil: Implementasi EWS belum berjalan optimal. Pada aspek struktur, dukungan kepemimpinan dan mekanisme pendukung klinis telah tersedia, namun masih terdapat keterbatasan pada kesiapan sistem dan sumber daya dalam mendukung pelaksanaan EWS secara konsisten. Pada aspek proses, kepatuhan terhadap dokumentasi dan eskalasi klinis masih bervariasi, serta komunikasi antarprofesi berbasis skor EWS belum terstandar dan masih bergantung pada inisiatif individu. Pada aspek outcome, kejadian Code Blue masih terjadi secara fluktuatif meskipun EWS telah diterapkan, disertai angka kematian pasien rawat inap yang belum menunjukkan penurunan yang konsisten. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara implementasi EWS dan luaran keselamatan pasien. Kesimpulan: EWS di RS Roemani Muhammadiyah Semarang belum sepenuhnya berfungsi sebagai sistem deteksi dini yang efektif dalam mencegah kejadian Code Blue. Permasalahan utama tidak hanya terletak pada kepatuhan individu, tetapi juga pada aspek sistemik, termasuk tata kelola klinis, integrasi sistem, dan budaya komunikasi berbasis skor. Diperlukan pendekatan berpikir sistem yang menekankan penguatan struktur, standardisasi proses, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan pasien.
Background: Hospitals continue to face challenges in the early detection of clinical deterioration that may lead to acute emergencies and threaten patient safety. The Early Warning System (EWS) was developed as a physiology-based scoring tool to support early detection and timely clinical responses. RS Roemani Muhammadiyah has implemented EWS since 2022; however, Code Blue events and in-hospital mortality rates remain fluctuating and have not shown a consistent decline. Moreover, a comprehensive evaluation of EWS implementation has not yet been conducted, resulting in a gap between policy, practice, and patient safety outcomes. Methods: This study employed a qualitative case study design analyzed using the structure–process–outcome framework. Data were collected through in-depth interviews and focus group discussions (FGDs) with healthcare professionals directly involved in EWS implementation, selected purposively. Document reviews of medical records, EWS forms, Code Blue reports, and hospital policies and procedures were also conducted to assess structural and process aspects as well as patient safety outcomes. The study was conducted at RS Roemani Muhammadiyah from November to December 2025. Data were analyzed thematically through coding, theme development, and interpretation, with source and method triangulation applied to ensure trustworthiness. Results: EWS implementation was not yet optimal. In terms of structure, leadership support and basic clinical support mechanisms were in place; however, limitations remained in system readiness and resource capacity to ensure consistent implementation. Regarding process, compliance with documentation and clinical escalation varied, and interprofessional communication based on EWS scores was not standardized and often relied on individual initiative. In terms of outcomes, Code Blue events continued to occur in a fluctuating pattern despite EWS implementation, accompanied by in-hospital mortality rates that did not demonstrate a consistent decline. These findings indicate a gap between EWS implementation and patient safety outcomes. Conclusion: EWS at RS Roemani Muhammadiyah Semarang has not yet functioned optimally as an effective early detection system to prevent Code Blue events. The challenges identified are not limited to individual compliance but reflect broader systemic issues, including clinical governance, system integration, and a culture of score-based communication. A systems-thinking approach that emphasizes structural strengthening, process standardization, and continuous monitoring and evaluation is required to enhance patient safety.
B-2572
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Retno Wulandari; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Dewi Susanna, Lestari Kusuma Wardhani, Fachrudin Ali Achmad, Zakianis
T-4048
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Natalya Angela; Pembimbing :Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Ede Surya Darmawan, Supriyantoro, Hariyadi Wibowo
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas early warning score terhadap kejadian henti jantung pasien di instalasi rawat inap rumah sakit tingkat IV TNI AD dr.Bratanata Jambi Tahun 2019. Penelitian dilaksanakan di bulan Desember 2018 sampai April 2019 di instalasi rawat inap dengan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik untuk memperoleh data adalah dengan wawancara mendalam, telaah dokumen, dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan adanya kejadian yang tidak diharapkan berupa kejadian henti jantung mengarahkan kepada penerapan early warning score yang belum optimal. Ketidakpatuhan terhadap pengisian, pengkajian, dan pengaktifan protokol early warning score di lapangan antara lain dipengaruhi oleh maldistribusi perawat, beban kerja perawat yang tidak sesuai dengan kompetesinya, pengetahuan perawat, dan komunikasi antara perawat dengan dokter. Hambatan penerapan EWS di lapangan antara lain ketidaksesuaian jumlah perawat berbanding dengan pasien, beban kerja perawat di luar pelayanan kesehatan, dan kurangnya pengetahuan dari staf mengenai penurunan kondisi klinis pasien. Hal ini bermuara kepada standar operasional prosedur yang belum lengkap dan penyusunan pola ketenagaan yang masih belum efektif dan efisien, juga monitoring-evaluasi dan pelatihan berkesinambungan yang belum berjalan dengan baik sehingga implementasi early warning score tidak optimal. Rekruitmen pegawai sesuai dengan kompetensi dan profesionalitas, pembuatan kebijakan yang menggabungkan pola kebijakan top-down dan bottom-up, pengaturan ulang penempatan sumber daya perawat, pendidikan dan pelatihan berkelanjutan merupakan upaya yang dapat meningkatkan keberhasilan implementasi early warning score.
Read More
B-2081
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
