Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Polma Erik Astrada; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Krisna Bangun
Abstrak: Aktifitas kerja di PT XYZ Indonesia dapat menyebabkan kecelakaan kerja dan faktor manusia yang mendominasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab dan karakteristik dari kegagalan manusia. Metode penelitian ini adalah pengisian kuesioner dan wawancara mendalam dengan mengadopsi swiss cheese model. Karakteristik human failure yang terjadi di PT XYZ Indonesia tahun 2015 adalah knowledge based error sebesar 43,53%, rule based error sebesar 28,82%, slip sebesar 12,94%, lapse sebesar 8,82% dan violation sebesar 5,88%. Kondisi laten merupakan hal yang mempengaruhi terjadinya human failure di tempat kerja. Pengawasan yang tidak efektif dan manajemen pemeliharaan yang kurang menjadi faktor terbesar dalam terjadinya human failure. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa karyawan cenderung belum mendapatkan informasi yang tepat mengenai prosedur dan standar yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan kerja dan organisasi. Pengembangan organisasi yang berfokus pada pengembangan manusia perlu dilakukan. Kata Kunci : Human Failure, Error, Kesalahan, Faktor lingkungan kerja, Faktor organisasi.
Read More
S-8735
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Rinaldo; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Lucky Bindri Soegito, Sari Tua Roy Nababan
Abstrak:
Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja dan orang lain yang ada di tempat kerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Gangguan pendengaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup individu. Beberapa faktor individu, lingkungan kerja, dan pekerjaan menjadi penyebab terjadinya gangguan pendengaran termasuk pada industri perkeretaapian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya gangguan pendengaran pada karyawan UPT N Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Responden pada penelitian ini sebanyak 185 orang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prevalensi gangguan pendengaran pada karyawan UPT N tahun 2024 sebesar 20,5%. Selanjutnya disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara usia (p=0,010), jenis kelamin (p=0,026), kebiasaan merokok (p=0,011), riwayat kesehatan hipertensi (p=0,014), paparan kebisingan (p=0,029), getaran (p=0,003), dan penggunaan APD (p=0,009) dengan terjadinya gangguan pendengaran pada karyawan UPT N tahun 2024. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan agar dilakukan pengendalian faktor risiko di UPT N untuk mengurangi potensi risiko terjadinya gangguan pendengaran pada karyawan.

Occupational health efforts aim to protect workers and others in the workplace so that they can live healthy lives free from health problems and adverse effects caused by work. Hearing loss is one of the health problems that has a significant impact on the quality of life of individuals. Several individual, work environment and work factors cause hearing loss, including in the railway industry. This study aims to analyze the factors associated with the occurrence of hearing loss among UPT N employees in 2024. This study uses a quantitative design with a cross-sectional approach. The respondents in this study were 185 people according to the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the prevalence of hearing loss among UPT N employees in 2024 was 20.5%. It was also concluded that there was an association between age (p=0.010), gender (p=0.026), smoking habits (p=0.011), history of hypertension (p=0.014), noise exposure (p=0.029), vibration (p=0.003) and use of PPE (p=0.009) with the occurrence of hearing loss among UPT N employees in 2024. Based on the results of this study, it is hoped that risk factor control will be implemented at UPT N to reduce the potential risk of hearing loss among employees.
Read More
T-7232
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luis Yulia; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwadni, Ridwan Zahdi Sjaaf, Erdy Techrisna
T-3701
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shalman Hafizh Aulia; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Yovsyah, Indri Hapsari Susilowati, Surya Mahendra
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh pekerja, termasuk pekerja di UPT Balai Yasa Tegal yang bertugas melakukan perbaikan dan perawatan gerbong kereta. Kelelahan kerja apabila dibiarkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja di UPT Balai Yasa Tegal. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor risiko individu (usia, kuantitas tidur, kualitas tidur), faktor risiko pekerjaan (beban kerja, jenis pekerjaan, manajemen perusahaan), dan faktor risiko lingkungan kerja (suhu, pencahayaan, kebisingan). Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan desain studi cross-sectional terhadap 80 pekerja di UPT Balai Yasa Tegal sebagai responden. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi kuesioner karakteristik individu dan pekerjaan, SSRT, PSQI, NASA-TLX, persepsi terhadap manajemen, dan persepsi terhadap lingkungan kerja. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa terdapat 58 pekerja (72,5%) yang mengalami kelelahan kerja ringan dan 22 pekerja (27,5%) yang mengalami kelelahan kerja sedang. Hasil analisis inferensial dengan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur (p-value=0,003 ; OR=8,125), beban kerja (p-value=0,00 ; OR=15,217), suhu (p-value=0,003 ; OR=6,333), pencahayaan (p-value=0,000 ; OR=10,938), dan kebisingan (p-value=0002, ; OR=5,940) dengan tingkat kelelahan kerja pada pekerja di UPT Balai Yasa Tegal

Work fatigue is one of the health problems often experienced by workers, including UPT Balai Yasa Tegal workers who are tasked with repairing and maintaining railroad cars. If left unchecked, work fatigue can increase the risk of work accidents and work-related diseases. This research was conducted to analyze risk factors related to work fatigue in workers at UPT Balai Yasa Tegal. The risk factors studied included individual risk factors (age, sleep quantity, sleep quality), Work-related risk factors (workload, type of work, company management), and work environment risk factors (temperature, lighting, noise). The research was conducted using quantitative methods and cross-sectional study design on 80 workers at UPT Balai Yasa Tegal as respondents. The research instruments used include individual and job characteristics questionnaires, SSRT, PSQI, NASA-TLX, perceptions of management, and perceptions of the work environment. The results of the descriptive analysis showed that there were 58 workers (72.5%) who experienced mild work fatigue and 22 workers (27.5%) who experienced moderate work fatigue. The results of inferential analysis using the chi-square test show that there is a significant relationship between sleep quality (p-value=0.003 ; OR=8.125), workload (p-value=0.00 ; OR=15.217), temperature (p-value =0.003 ; OR=6.333), lighting (p-value=0.000 ; OR=10.938), and noise (p-value=0002, ; OR=5.940) with work fatigue.
Read More
S-11709
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Labibah Saraswati; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Syifa Rindani Rachmawati
Abstrak:
PT X merupakan perusahaan distribusi dan manufaktur bahan kimia dengan mayoritas pekerja berada di kantor pusat Jakarta, mencakup Bagian Corporate maupun Bagian Distribution. Aktivitas harian pekerja didominasi oleh tugas administratif dan manajerial berbasis komputer dengan durasi penggunaan perangkat digital yang panjang, tuntutan akurasi data, serta pemenuhan target operasional dan pengawasan anak perusahaan. Kombinasi antara paparan layar yang intensif dan beban kerja kognitif tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan penglihatan terkait penggunaan visual display terminal (VDT). Sementara itu, program kesehatan kerja yang tersedia saat ini masih berfokus pada pemeriksaan visus mata dan belum menjangkau gejala Computer Vision Syndrome (CVS) secara spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian CVS pada pekerja kantor pusat PT X tahun 2026. Penelitian observasional ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan 140 pekerja kantor pusat PT X sebagai responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner CVS-Q yang disebarkan secara daring untuk mengukur gejala CVS, serta dilengkapi dengan pengukuran intensitas pencahayaan setempat. Uji chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel individu, perangkat komputer, dan lingkungan kerja dengan kejadian CVS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 60 pekerja (42,9%) mengalami CVS, sedangkan 80 pekerja (57,1%) tidak menunjukkan gejala. Keluhan yang paling banyak dilaporkan adalah mata kering (52,1%), diikuti sakit kepala (47,1%), mata kabur (45,0%), mata berair (43,6%), dan gatal pada mata (38,5%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa kelainan refraksi (p=0,009), durasi penggunaan komputer (p=0,010), dan posisi monitor (p=0,033) berhubungan signifikan dengan kejadian CVS. Di antara ketiga faktor tersebut, kelainan refraksi yang tidak dikoreksi memiliki hubungan terkuat dengan keluhan CVS. Sementara itu, faktor jenis kelamin, penggunaan alat bantu penglihatan, pola istirahat mata, jarak pandang ke layar, dan intensitas pencahayaan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan CVS pada pekerja kantor tidak hanya bergantung pada perbaikan ergonomi, melainkan dikombinasikan dengan deteksi dini kelainan refraksi. Pendekatan ini dapat menjadi dasar bagi PT X dalam mengembangkan kebijakan kesehatan mata pekerja, khususnya pada populasi dengan tuntutan administratif dan pengawasan operasional yang tinggi.

PT X is a chemical manufacturing and distribution company with the majority of its employees based at the Jakarta head office, spanning both the Corporate and Distribution divisions. Daily operations are dominated by computer-based administrative and managerial tasks involving prolonged digital device use, high data accuracy demands, and responsibility for meeting operational targets as well as overseeing subsidiary entities. This combination of intensive screen exposure and cognitive workload potentially increases the risk of visual display terminal (VDT)-related visual disturbances. Meanwhile, the current occupational health program remains limited to structural visual acuity examinations and has not specifically addressed Computer Vision Syndrome (CVS) symptoms. This study aims to analyze the risk factors associated with CVS occurrence among head-office workers at PT X in 2026. This observational study adopted a cross-sectional design involving 140 head-office workers at PT X as respondents. Data were collected using the online CVS-Q questionnaire to measure CVS symptoms, complemented by local lighting intensity measurements. The Chi-square test was performed to analyze the associations of individual, computer-device, and work-environment variables with CVS occurrence. The results revealed that 60 workers (42.9%) experienced CVS, while 80 workers (57.1%) were asymptomatic. The most frequently reported complaints were dry eyes (52.1%), followed by headache (47.1%), blurred vision (45.0%), watery eyes (43.6%), and itchy eyes (38.5%). Bivariate analysis showed that refractive error (p=0.009), duration of computer use (p=0.010), and monitor position (p=0.033) were significantly associated with CVS. Among these three factors, uncorrected refractive error demonstrated the strongest association with CVS complaints. Conversely, sex, use of visual aids, eye-rest patterns, viewing distance, and lighting intensity showed no significant association. Therefore, CVS prevention strategies among office workers should not rely solely on ergonomic improvements but must be integrated with the early detection of refractive disorders. This comprehensive approach can serve as a foundation for PT X to develop employee eye-health policies, particularly for a workforce with demanding administrative and operational oversight duties.
Read More
S-12469
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive